Minggu, 28 September 2014

Disinilah Kami Berulah...

September 28, 2014
#Lanjutan dari postingan sebelumnya; Di Sinilah kami Bermula…

Adalah hal wajar ketika seorang mahasiswa menimbang-nimbang jadwal kuliahnya untuk bisa mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan kurun empat hari. Dimulai Kamis, berakhir Minggu. Terlebih, tidak semua dosen punya kebijakan tertentu atas mahasiswa yang meninggalkan kuliahnya demi mengikuti kegiatan organisasi. Sebagian besar dosen justru agak antipati terhadap mahasiswa-mahasiswa yang menekuni dunia organisasi. Hati-hati.

Akan tetapi, disinilah pilihan itu mesti ditentukan!

Status sebagai mahasiswa bukan lagi status remaja abal-abal. Setiap orang bebas menentukan pilihannya sendiri atas apa yang akan ia jalani. Mahasiswa, erat kaitannya dengan kedewasaan. Ya, kedewasaan untuk menentukan pilihan…

Bagi saya, meninggalkan satu-dua mata kuliah, tak apa-apa. Padahal saya sebenarnya sudah galau setengah akut dengan salah satu mata kuliah yang dosennya benar-benar killer. Paling tidak, absen saya di salah satu mata kuliah, apapun, tidak mencapai batas “awas”. Lagipula, kesempatan untuk mereguk ilmu dan pengalaman jurnalistik hanya datang di kesempatan ini. Tahun esok, saya sudah mencapai “semester tua” untuk bisa mengawali partisipasi di lembaga atau organisasi manapun.

Sebenarnya, saya kekeuh pula ingin bergabung di Profesi, dulu, karena diam-diam menyukai seorang teman kelas yang sudah lebih dulu bergabung di lembaga kuli tinta itu. Atas ajakannya, saya tertarik untuk bergabung pula. Apalagi ketika ia mengajak, “Ayo, ikut!”, sembari mengulas senyum manisnya. Manis sekali. *Mendadak, slow-motion-around-us.

Yah, meskipun suka, saya tak cukup berani untuk bilang “suka”. Saya termasuk seorang “pemendam” sejati kala itu. Hahaha…. Dan kelak, saya tidak begitu peduli lagi dengannya. Pun kelak, Tuhan ternyata akan mempertemukan saya dengan seseorang yang ternyata benar-benar mampu menggugah perasaan saya untuk sekadar berani berucap, “Saya menyayangimu.” #cut, cut!! Fokus, woi! Fokus!!

#Pelatihan Jurnalistik Dimulai

Sungguh, saya benar-benar menikmatinya. Diantara teman sekelas lainnya, cuma saya yang berminat untuk mengikuti pelatihan jurnalistik lingkup universitas. Meskipun teman lain yang berasal dari jurusan Matematika juga ada yang ikut. Menjadi “satu-satunya” terasa sangat asing, namun menyenangkan. Betapa berharganya menemukan banyak banyak teman-teman baru, yang berasal dari 9 koloni fakultas.

(Dok. Profesi)
Saya jadi banyak menemukan karakter-karakter baru. Diawali senyum malu-malu. Diam-diam mengamati yang lainnya. Sedikit mengamati dan menilai dari pandangan pertama. Oh, seandainya saya percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, saya akan jatuh cinta pada setiap orang yang saya kenal.

“Hai, nama saya……..”

“Oh, saya……”

Dilanjutkan dengan jabat tangan dan senyum keramahan. Terkadang, pembicaraan akan berlanjut pula pada sudut pertanyaan, “Dari jurusan mana?”, “Prodi apa?”, “Kenal dengan si A?”, hingga pada gurauan “Anak yang di sebelah sana cantik ya?” Hahaha….

Hiruk pikuk peserta yang tidak mencapai 100 orang itu memenuhi ruangan di lantai 3 gedung rektorat UNM. Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di pusat kampus saya ini. Oh ya, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan tersebut dibuat seramping mungkin dengan alasan efisiensi penerimaan materi diklat. Lagipula, menurut teman saya, sebanyak apapun jumlah mahasiswa yang mengikuti diklat jurnalistik hanya akan menyisakan belasan jurnalis-jurnalis kampus militan.

Cukup menyenangkan menjelajahi materi dari pakar-pakar jurnalistik. Beragam pengalaman disampaikan sesuai dengan temanya masing-masing. Ada yang menggebu-gebu. Ada pula yang mendayu-dayu. Tak dipungkiri pula, ada juga segelintir pemateri yang membuat mata saya kejap-kejap karena mengantuk.

“Para wartawan itu tak pernah berhenti berpikir. Mereka  pun harus skeptis dan kritis atas segala kejadian. Setiap ide dan kejadian yang diliputnya mesti dituangkan dalam sebuah naskah berita.”

“Berita itu memiliki unsur 5W + 1H. What, Who, Where, When, Why, dan How.”

“Seorang jurnalis itu harus menghormati kode etik jurnalistik yang ia emban. Segala jenis pemberian dari narasumber, mesti dikesampingkan demi profesionalismenya,”

“Jadi jurnalis itu enak. Kita jadi punya kartu-bebas-kemana-saja.”

“Tahu apa perbedaan antara wartawan dan ilmuwan? Kalau ilmuwan, sedikit tahu tapi banyak. Kalau wartawan, banyak tahu, tapi sedikit,”

Akan tetapi, hal paling menyenangkan tiba di saat kami diajak berkeliling dan berkunjung ke beberapa media ternama di kota Makassar. Seumur-umur, saya baru pertama kalinya menyaksikan proses kerja sebuah media massa. Mulai dari proses layouting hingga proses pencetakan yang meibatkan mesin-mesin besar dan gelondongan kertas raksasa.

Yeah, seperti inilah keberuntungan itu.
(Dok. Profesi)

Tentu, perjalanan itu tak hanya dinikmati ala kadarnya. Di kunjungan media tersebut, kami diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan para pakar media. Menimba ilmu dari sana. Tak terkecuali dengan reporter-reporter yang sedang mengetik berita, para onliner yang setiap saat memantau perkembangan update berita, ataupun layouter yang sedang sibuk menyusun dan mendesain perwajahan surat kabar. Merekalah manusia-manusia Deadline! Keren!

Yah, tak lupa pula diantara kerumunan kami itu diselingi jepretan kamera dengan berbagai blitz-nya. Bagi yang beruntung - dengan wajah cukup menjual – ia akan nongol di media bersangkutan keesokan harinya.

Perjalanan kami dalam pelatihan excited itu belum berakhir. Kunjungan media hanyalah proses perkenalan akan kerja-kerja media yang sesungguhnya, dari mencari berita hingga memproduksinya ke khalayak luas. Selanjutnya, pengalaman lebih mendebarkan menanti kami.

Proses mencari berita tak semudah membalikkan telapak tangan. Saya justru merasainya sebagai pengalaman menantang di hari terakhir. Dan kami akan diterjunkan ke lapangan, layaknya para pencari berita. Tapi dalam situasi dan kondisi yang berbeda; tengah malam. Ada gemerlap kehidupan kota di pinggiran sana yang mengancam birahi untuk tetap waspada. Kehidupan kota yang pulas di siang hari, namun bergeliat di malam hari.…

This is we are, in #DJMTD2010. And me? Tak perlu dicari deh. Huahaha... (Dok. Profesi).

***

“Wartawan tak mengenal istilah libur. Jadi, bagi kalian yang hanya ingin bersantai saja dan hanya mengejar gaya-gayaan, maka dari sekarang berhenti saja!” pesan salah seorang jurnalis yang memberi arahan sekaligus wejangannya di redaksi.

Ya, saya memahaminya di kemudian hari. Bahwa passion di bidang jurnalistik benar-benar menguras tenaga dan perasaan.

Di saat teman-teman lainnya bisa bersantai di senggang kuliah, kami harus berkejaran dengan tenggat deadline demi memenuhi satu angle berita. Di saat teman-teman lain bisa menonton film kesayangan sepuasnya, kami harus berdiam di depan komputer kesayangan untuk mengetik satu-dua berita. Tak jarang harus menerima cibiran atau makian redaktur. Di saat jantung teman-teman lainnya berdegup tak menentu karena nge-date dengan gebetan-nya, kami justru berkenalan dengan pejabat-pejabat kampus yang tak jarang mengintimidasi dan mengundang jantung berdetak lebih kencang.

Namun...

Ketika teman-teman lain bisa lulus dengan nilai akademik sempurna, saya yakin, kami bisa bersaing di lapangan profesional dengan nilai sosialisasi dan skill lebih sempurna. :)

***

Berlanjut ke:
3. Dimana Deadline Dimulai

--Imam Rahmanto--

Kamis, 25 September 2014

Dari Sinilah Kami Bermula...

September 25, 2014
Jelang dua minggu lagi, event Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) dilangsungkan. Jelang pula, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di kampus Orange tersebut akan menemukan bibit-bibit barunya. Seperti halnya saya, dulu…

Pikiran di kepala mendadak terputar, berpilin, dan berganti sisi. Seperti kaset tape recorder yang hanya menyediakan pita cokelat selama sejam . Kini sisi “today” beralih kepada sisi “yesterday”. 

Saya sedang mengunjungi masa lalu. Awal segala kehidupan dan perjalanan saya sekarang.

***

Memasuki masa-masa kuliah, bagi saya, adalah hal yang menyenangkan. Amat menyenangkan malah. Meskipun target utama saya bukan di jurusan Matematika, namun betapa menyenangkannya menapaki fase kedewasaan, dimana kita tak dianggap lagi sebagai anak kecil.

Saya tak lagi harus memakai seragam jika ingin belajar di kampus. Tak ada lagi aturan-aturan pokok yang terkadang mengekang kebebasan sebagai anak muda di dunia kampus. Di dunia perkuliahan pun, kemandirian secara perlahan akan dipelajari sendiri. Tak ada lagi “keluar-jam-segini’ atau “pulang-jam-segini” harus melalui izin orang tua. Tak ada lagi orang tua yang membangunkan pagi-pagi sekali setiap hari, untuk memaksa ke sekolah. Tak ada lagi ibu yang memasakkan masakan setiap tiga kali sehari.

Yang paling menyenangkan, ketika kami berkenalan satu sama lain sebagai teman-teman baru. Apalagi jika berkenalan dengan teman perempuan yang parasnya cantik. Manis. Serasa panah asmara Dewa Amor ditembakkan dalam jarak dekat. Sangat dekat. Hingga tak ada kesempatan untuk berkedip. Aih, asmara remaja nyaris dewasa. Kelak, saya tak heran lagi jika menemukan mahasiswa-mahasiswa baru “berjodoh” dengan teman kelasnya di tahun pertama kuliahnya.

Sebenar-benarnya kedewasaan, dipelajari ketika kita telah jauh dari pengawasan orang tua. Bagaimana kita mengurus diri sendiri, hingga bersosialisasi dengan orang-orang yang akan kita kenal di kemudian hari.

Saya, di masa-masa masih "cute" dan labil bersama dengan teman-teman laki-laki, sekelas. (dk. pribadi)

Tapi…

Percaya atau tidak, menjalani masa-masa kuliah sebatas itu hanya akan membawa pada kejenuhan. Istilah kerennya, mahasiswa Kupu-kupu alias Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang. Saya pun merasakannya. Demi waktu, saya dan mahasiswa lainnya dipaksa untuk menjadi seorang introvert sekaligus anti-sosial. Kampus, pada hakikatnya, lebih banyak menciptakan orang-orang pandai ketimbang orang-orang cerdas.

Tak heran, ketika memasuki semester awal tahun pertama, saya berusaha mencari “pelarian” lain atas kejenuhan belajar di kampus. Apa tidak bosan hanya dicekoki dengan teori-teori-teori-teori-teori dalam perkuliahan? Sebagai orang yang pernah bergelut di dunia organisasi, saya memilih untuk berpartisipasi dalam salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di kampus.

Ihwal kegemaran dalam dunia menulis, saya manfaatkan untuk ikut dalam perekrutan anggota salah satu lembaga penelitian di kampus. Menurut sosialisasi “door to door”nya sih, di dalam kelas saya, lembaga itu menampung mahasiswa-mahasiswa yang punya kegemaran (atau bakat) dalam bidang tulis-menulis. Saban kegiatannya selalu bersentuhan dengan tulis-menulis. Apalagi, menurut beberapa senior saya di jurusan, UKM tersebut selalu menorehkan prestasi bagi kampus. Wajar kalau anggotanya berjubel dan selalu diberi kesempatan untuk bersosialisasi kepada kami, para anak-anak baru.

“Saya juga mau ikut. Saya ingin berprestasi seperti mereka,” gumam saya dalam hati. Maklum, saya selalu terdominasi prestasi semenjak sekolah.

Pun, ada beberapa orang teman saya yang tergiur untuk ikutan. Jadinya, saya merasa “tidak-sendiri-saja” kalau memutuskan untuk bergabung. Bagi mahasiswa baru seperti kami, melakukan sesuatu secara berkelompok (atau bergerombol) menjadi hal yang “wajib”. Kami masih tervaksinasi virus “senasib-sepenanggungan” di kampung orang. Mulai dari memprogram mata kuliah (sama-sama), sampai piknik (sama-sama).

Berselang minggu selama proses perekrutannya, nyatanya saya tidak menemukan chemistry-nya. Diskusi berjalan dari fakultas ke fakultas, tetap menyisakan “kekosongan” di hati. #ehh

Saya baru menyadari, menulis ilmiah bukanlah passion saya. Saya tidak begitu menyukai hal-hal yang sangat terikat dan sistematis. Bayangkan saja, di kampus, kami sudah dijejali dosen dengan laporan dengan latar belakang, rumusan masalah, landasan teori, dsb, yang menghasilkan sebagian copy-paste  karya ilmiah, dan lagi, saya harus mengerjakannya di luar waktu kuliah. #akh!!

Mencari aktivitas tambahan di luar kuliah, semestinya yang tidak membawa-bawa perkara “tetek-bengek-kuliah” lagi.

Saya berhenti di tengah jalan, melanjutkan rutinitas kuliah, yang membosankan.


#Setahun kemudian…

Saya menemukan yang telah lama terabaikan. Dulu, sebelum menasbihkan diri untuk mengikuti perekrutan unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang penelitian itu, salah satu UKM lainnya sempat terlintas di pikiran untuk menjadi pilihan. “Ekskul” pers mahasiswa yang bergerak di bidang kepenulisan, namun dalam genre yang berbeda. Yah, kelak saya benar-benar mengetahui perbedaannya di ujung kelopak mata para dosen dan pejabat kampus.

Akan tetapi, persoalan keuangan sempat mengganjal kala itu. Saya masih ingat betul, kontribusi yang ditawarkan untuk mengikuti diklat lembaga pers tersebut, cukup mahal; Rp 50 ribu. Jangan salah. Uang sebegitu, bagi saya sebagai anak baru di kota Makassar, cukup besar. Apalagi saya masih mengandalkan kiriman dari orang tua. Wajar ketika ada “ekskul” lain yang – saya kira bergerak dalam genre sama - menawarkan perekrutan dengan kontribusi lebih murah. Saya tergiur.

(Foto: ImamR)
Dimulailah di tahun kedua, saya benar-benar mengitikadkan diri mencoba dunia pers mahasiswa. Sebagaimana yang saya yakini, menulis berita adalah perkara “kebebasan”. Saya dibuai angin segar atas chemistry sebagai seorang pewarta kampus. Menulis adalah perkara membekukan momen. Dan ada banyak momen yang diabadikan lewat tulisan maupun foto seorang jurnalis.

Kalau karya ilmiah menekankan pada fakta, penulisan cerita menekankan pada fiksi, maka jurnalistik menekankan pada fakta yang diramu menjadi sebuah cerita menarik. Esensinya, kaidah penulisan jurnalistik berada di antara keduanya, sekaligus menyatukan keduanya. Finally, I got it!

Kaidah jurnalistik membawa dan meyakinkan saya pada kebenaran mengungkapkan fakta berdasarkan data, wawancara, maupun observasi lapangan. Sebagaimana para wartawan itu – yang saya lihat di baliho besar terpampang di depan kampus – adalah orang-orang yang banyak bergerak di lapangan. Setiap hari, mereka berkenalan dengan orang-orang baru, pejabat-pejabat kampus, melintasi setiap fakultas, dan menuliskannya. Kalau beruntung, berkenalan pula dengan calon jodoh. #ehh 

Saya bahkan membayangkan berada sebagai aktor pada salah satu momennya.

Saya sedang berlari-lari kecil mengejar narasumber demi satu tulisan yang telah memasuki tenggat deadline!. Kartu pers bergelantungan di leher. Di tangan kiri ada blocknote untuk mencatat history percakapan. Sedangkan tangan satunya lagi sibuk mencoret-coret dengan alat tulis seadanya. Tentu saja, masih dengan narasumber yang harus diiringi langkahnya sembari menanyakan poin-poin pertanyaan seperlunya. Sementara di kiri-kanan saya, pewarta lain sedang sibuk melakukan hal serupa, diiringi letupan-letupan cahaya blitz kamera fotografer.

Akh, saya begitu menginginkan adegan memacu adrenalin itu!

Seorang teman perempuan sekelas, yang tahun sebelumnya lebih memilih bergabung dengan lembaga pers itu, menjadi jembatan untuk mengenal pers mahasiswa lebih jauh. Terlebih lagi, saya dan dia merangkap sebagai seorang asisten yang sama di laboratorium komputer di jurusan Matematika. Selain karena ajakannya, saya juga mengaskan bergabung karena….emm….emm… agak susah membahasakannya.

Dari sana, dari pandangan ke baliho yang memuat wajah-wajah yang saling tegur-sapa di kemudian hari, langkah saya menapaki dunia jurnalistik bermula…

(Foto: ImamR)



Berlanjut ke:
2. Disinilah Kami Berulah
3. Dimana Deadline Dimulai


--Imam Rahmanto--

Rabu, 24 September 2014

19# Kebut Saja

September 24, 2014
Sudah nyaris dua minggu saya tak berkunjung sembari “meneguk cappuccino” di “rumah” ini. Perasaan saya rasanya diliputi kegelisahan jikalau sekali saja, dalam seminggu, tak pulang ke tempat ini. Sebagai tempat pulang, “rumah” memang menawarkan banyak kerinduan. Ketenangan. Kedamaian.

Sebelum mengisinya lagi, saya harus membenahi sudut-sudut “rumah”. Membersihkannya. Menambahinya perabot-perabot baru. Saya kok jadi kepengen tidur.

Hm…memang sih beragam kesibukan dan pikiran membelit di kepala. Termasuk, deadline tugas akhir kuliah yang seminggu belakangan ini harus dikebut. Padahal, tak jarang ada beberapa ide pula yang tetiba melintas di kepala, berharap sekecil apapun disetor ke “rumah” ini. Efek sok-tak-punya-waktu.

Beruntung, saya telah menyelesaikan proposal penelitian yang menjadi awal penyelesaian tugas akhir kuliah. Sesuai target, minggu ini saya sedang menyelesaikan proses konsultasinya. Kedua pembimbing sudah saya hampiri untuk proses tersebut. Hanya saja, agak kurang seru menurut saya. Pasalnya, keduanya nampak tidak begitu banyak mencoret-coret print-out proposal saya. Saya berharap mendapatkan banyak perbaikan. Pembimbing pertama justru hanya menekankan pada “ruh” proposal saja.

“Soal tata penulisan dan skemanya, tidak perlu saya perbaiki. Saya cuma butuh kita diskusi soal ruh penelitianmu. Intinya adalah isinya. Itu saja,” tuturnya. Ia malah siap kapan saja meng-acc-kan proposal yang baru minggu kemarin saya garap.

Bagi sebagain orang, semakin cepat proses accepted proposal oleh pembimbing, maka semakin baik. Saya cuma khawatir, jalan menuju ujian proposal terlalu mudah. Jangan-jangan, saya mesti bersiap-siap "dibantai" di ruang ujian oleh para penguji, yang hingga kini saya belum tahu siapa orangnya. Dari pembicaraan dengan teman-teman, kami sangat menghindari salah seorang dosen “killer” untuk menjadi penguji dalam ujian nanti.

Proses kebut-kebutan ini, sungguh di luar dugaan. Saya butuh pembimbing lainnya untuk mengecek kebenaran karya-tulis-ilmiah-menjemukan itu. Seperti halnya beberapa orang teman, yang akhir-akhir ini saya todong untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang didapatinya dalam karya-tulis-ilmiah-menjemukan itu. Tak perlu heran ketika saya menyebutkan jumlah pembimbing: ada banyak. Hahaha…

Tahu tidak, melalui urusan tugas akhir ini, saya semakin percaya bahwa tekad atau kemauan keras itu memang selalu membuahkan proses yang baik. Dalam perjalanannya, saya banyak memperoleh bantuan “tak kasat mata”. Bisa dibilang, keajaiban kecil. Anggap saja seperti itu. Disadari atau tidak, manusia memang sejatinya selalu menjadi musabab atas keajaiban-keajaiban yang ada. Oleh karena itu, untuk siapa saja yang merasa “tak-mungkin” atas segala hal, selalu ada celah “pasti-bisa” di dalamnya. Bukannya Tuhan sudah menegaskan dalam ayat-Nya, “Bersama kesulitan, selalu ada kemudahan”? 

Di samping urusan tugas akhir, saya masih ingat, ada urusan lain yang mesti diselesaikan dan dipenuhi. Ini urusan hidup. Dan juga urusan masa depan. Bagaimanapun, saya tak ingin berakhir kuliah seperti teman-teman lainnya, yang hanya menyandang status kelulusannya, dan masih bingung mencari “arah”. Luntang-lantung tak tentu melangkah kemana. 

Untuk saat ini, mereka cukup beruntung. Atas keputusan pemerintah memalui beberapa kementeriannya, mereka bisa sedikit bernapas lega. Pemerintah sedang membuka peluang untuk menjadi pegawainya a.k.a Pe-en-es. Entah kenapa, saya justru tidak begitu tertarik menjadi bagian dari itu. I am not a mainstream.

Urusan pekerjaan, ya selalu menjadi tolok ukur bagaimana menghargai hidup. Kata orang tua, kita takkan pernah tahu rasanya hidup sebelum kita mampu menghidupi diri sendiri maupun orang lain. Simpelnya, cari uang sendiri. Ugh, saya sudah paham rasanya, sedikit. Lebih jauh, tentu saja untuk menikahi seorang gadis, kita butuh penghasilan yang memadai. #ehh??

“Dan kau bekerja keras bukanlah untukku, tapi menunjukkan pada ayahku, bahwa putrinya berada dalam perlindungan pria tepat yang bertanggung jawab atas hidupnya.”

Hadduh, apaan ini? Ngelantur ya?

Pokoknya, sebulan ke depan, saya akan menenggelamkan diri dalam beberapa kesibukan. Saya butuh “obat bius” itu. Untuk sementara, proses tugas akhir yang sedang berjalan, lancar-lancar saja kok. Nothing to worried. Hanya soal penundaan-penundaan pribadi saja yang terkadang masih mencemari usaha itu.

Karenanya, terima kasih bagi siapa saja yang telah memanjatkan doanya dalam urusan ini. Diam-diam atau terang-terangan. Secara langsung maupun tak langsung. Karena tak ada doa yang dipanjatkan, menguap sia-sia. Semoga doa itu masih terus menggema di sekeliling saya hingga prosesnya berakhir. Tengkyu.



--Imam Rahmanto-- 


Ps: Saya kini punya barang ke(saya)ngan tambahan. Seminggu yang lalu, saya memperoleh hadiah jam tangan dari seseorang, yang juga baru saya kenal sebulan belakangan ini. Ia, bukan orang istimewa. Pemberiannya itu justru mungkin hanya sebatas balas budi untuk secuil bantuan yang saya berikan.

Jumat, 12 September 2014

18# Auto-Imun-Skripsi

September 12, 2014
"Bagaimana skripsimu?" 

"Kapan wisuda?"

Biassaa.... Saya sudah "kebal" dengan pertanyaan-pertanyaan demikian. Kepala saya secara otomatis sudah membentuk "sistem imunnya" sendiri. Sudah terlalu banyak dicekoki dengan virus "skripsi", maka otak di kepala saya menjalankan fungsi pertahanan sebagaimana mestinya. Kekebalan emosi pun meningkat drastis. 

Momok? Sudahlah. Saya tak peduli lagi. Ketika pertanyaan diajukan, maka jawaban cukup dilontarkan. Sederhana. Sesederhana melebarkan bibir ketika tersenyum. Dan lagi, selalu menghindar atas pertanyaan seperti itu hanya akan menjerumuskan pada penjara diri sendiri. 

Melawan ketakutan, itu yang terpenting. Setiap masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Yang namanya masalah, tidak akan berhenti ketika dihindari. Not to escape. Just face it! Lha wong pertanyaannya cukup dijawab saja, susah amat!

Yah, meski tak dipungkiri, mengurus tugas akhir kuliah itu sebenarnya bukan perkara mudah. Butuh sedikit kesabaran dan keuletan. Serius!

Saya juga butuh sedikit kepercayaan... Sebagaimana saya tahu betapa menyakitkan rasa tak dipercayai, saya menghindari untuk tak mempercayai orang lain. Kepercayaan yang diberikan kepada orang lain, adalah memilin harapan di kepalanya. 

Seperti halnya judul proposal saya yang akhirnya bisa di-accepted oleh kedua pembimbing, yang sudah semenjak sebulan lalu dipatok. Hanya.....saya baru memulai (memerangi kemalasan) seminggu belakangan ini. Hahahaha....

Alamat beruntung bagi saya. Pasalnya, kedua pembimbing saya merupakan dosen yang cukup "mempermudah" proses bimbingan mahasiswanya. Apalagi salah satu diantaranya merupakan orang yang sudah jauh mengenal saya ketika masih aktif di lembaga pers kampus. Tak ada proses yang mblibet. 

"Saya ingin sedikit mengubah redaksi kata.....bla...bla...bla, karena.... bla...bla...," saya menerangkan pada salah satu pembimbing yang juga merangkap sebagai Penasehat Akademik di kampus saya. Tak lupa, saya menyertakan dua judul proposal skripsi, judul before dan judul after.

"Ya, saya setuju dengan usulanmu itu. Bagus. Saya juga pernah dengar itu. Sudah bagus. Saya lebih cenderung memilih itu....," tanggapnya lugas.

Haha....tak butuh waktu lama untuk menerapkan "proses-penanaman-wacana" kepada dosen saya itu. Dengan sedikit keahlian "iseng", proses inception itu berhasil. Yeah!! Untuk sementara, saya tak perlu khawatir. Asalkan ulet dan ada kemauan, Tuhan selalu menciptakan keajaiban-Nya. 

Saya jadi ingat dengan kalimat bijak di buku-buku catatan masa sekolah dulu,

"Where there's a will, there is a way" --- dimana ada kemauan, disitu ada jalan

Setiap keinginan yang kuat selalu menemukan pintunya. 

Perkara tugas akhir mahasiswa, katanya, hanya persoalan "mampu atau tidak" "mau atau tidak". Sebobrok-bobroknya kuliah seorang mahasiswa, selama ia "mau" menyelesaikan kuliahnya, nothing impossible. 

Seperti halnya salah seorang kakak senior saya yang baru-baru ini sudah memasuki deadline drop out. Masa tujuh tahun kuliah, pada akhirnya bisa diselesaikannya dengan tersenyum lebar menenteng toga. Padahal, bagi sebagian orang yang mengenalnya, kelulusannya sungguh di luar dugaan. Tak ada satu ihwal pun yang mendukung sisi positifnya. Dan toh ia dengan mulusnya bisa selesai tepat waktu. Luar biasa!

Asalkan mau....

Asalkan ulet...

Asalkan gigih...

Asalkan pantang menyerah...

Belajar dari sana, sedikit demi sedikit, saya mulai memupus momok "skripsi" itu di kepala. Saya ingin bersahabat dengan momok itu. Membangun hubungan emosional yang mutualisme. Menghindarinya dan membangun benteng pertahanan, justru semakin memantulkan refleksi terburuk atas keinginan yang ingin dicapai. 

Minimal, saya tidak perlu mengerutkan kening ketika ada orang yang menohok dengan pertanyaan semacam itu. Setidaknya, saya menuai semangat dari orang-orang yang masih peduli pada saya karena memepertanyakannya. Kepedulian itu beragam versi.

"Bagaimana skripsimu?"

"Sudah, sudah... sudah sampai Bab II, kok," sambil melemparkan senyum. Tentu saja, senyum yang teramat tulus. :)



***

Makassar dirundung kekeringan. Saya agak prihatin dengan kondisi teman-teman saya yang beberapa hari tidak menemukan air untuk MCK. Sejak dua hari lalu, PDAM Kota Makassar menghentikan distribusi air bersihnya, dan akan berlangsung hingga Sabtu. Termasuk saya juga sih...

Di kost-kost, termasuk di pondok saya, orang berbondong-bondong mengangkat air dari sumur. Menampungnya di bak. Menghabiskannya. Mengangkat air lagi. Begitu seterusnya. Bagi yang tidak beruntung karena tak memiliki sumur, maka kost tetangga menjadi tempat menciduk air. Pun, larut malam, kegiatan "bertamu" itu tak bisa dihentikan.

Ps: "now playing" di handphone saya adalah siaran horor tengah malam salah satu radio di kota Makassar. Iya, ini Malam Jumat, Men!!


--Imam Rahmanto--

 

Selasa, 09 September 2014

Kepergian

September 09, 2014
Ada banyak “kepergian” yang saya amati seminggu belakangan ini. Tentang kepergian, selalu hal yang memilukan. Mengingatnya, selalu menyajikan ingatan-ingatan yang menyesakkan dada. Meski hanya sebuah kenangan, ia menjadi bagian dari puzzle hidup yang menghubungkan setiap orang.

Kepergian-kepergian itu menyisakan banyak pertanyaan, hingga pertentangan. Di satu sisi, setiap orang tak ingin ditinggalkan. Namun di sisi lain, apa daya, Tuhan selalu Maha Tahu atas segala kuasanya. Hanya kelahiran dan kematian yang tak bisa diketahui datangnya, menjadi rahasia Langit hingga akhir zaman.

Kepergian salah seorang kepala pejabat pemerintahan di kota ini, yang pernah menyambangi kegiatan kami. Kepergian ayah tercinta salah seorang teman SMA saya. Pun, kepergian ayah salah seorang kakak senior saya. Segalanya menggoreskan “luka” tersendiri. Apalagi kita, manusia, tahu, bahwa kepergian semacam itu tak akan pernah lagi mengembalikan wujudnya secara nyata. Berbeda halnya dalam pengertian “pergi”nya seorang kekasih yang diceritakan oleh salah seorang sahabat saya.

Baru-baru ini, saya juga menyaksikan sebuah “kepergian” dalam film Hollywood, The Amazing Spider-Man 2. Kekasih Peter Parker, yang juga merupakan superhero "manusia laba-laba", meninggal dunia lantaran kecelakaan yang dialaminya sewaktu menyelamatkan kota bersama kekasihnya. Kepergian Gwen Stacy begitu memukul mental seorang Spider-Man, yang seharusnya menjadi “harapan” orang-orang di kotanya. Hingga dua tahun lamanya, ia tak pernah lagi muncul sebagai Spider-Man. Ia terpuruk dan merasa bersalah atas kepergian orang tercintanya. Betapa penyesalan selalu menjadi bagian akhir yang tak pernah kita ketahui kapan datangnya.

Bibi May : Kau tahu, ini lucu, aku juga sedang..,..
Bibi May : Aku sedang membersihkan tempat ini, mengaturnya kembali, Dan memasukkan barang milik Paman Ben ke dalam kotak..,..
Bibi May : Anehnya, semakin berat kotaknya, semakin Bibi merasa lega.
Peter : Bibi membuang barang milik Paman?
Bibi May : Tidak...

Bibi May : Tidak, tidak. Aku tak bisa melakukannya. Ini bagian dariku. Aku hanya, menemukan tempat yang lebih baik untuk ini. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali. Dan akan kutaruh di tempat semestinya…

Betapa menyikapi sebuah kepergian membutuhkan waktu. Cukup lama. Sebagaimana yang dikatakan orang, “Waktu akan menyembuhkan luka.” Hanya saja, orang-orang tak pernah sadar bahwa kita sendiri bisa menyembuhkan lebih cepat dari waktu. Dan Bibi May sadar akan hal itu…

Kepergian, seperti apapun bentuknya, selalu menyisakan luka. Sementara kita semestinya tahu cara menyisihkan luka. Tak ada cara untuk melupakan. Bahkan semakin keras melupakan, semakin kuat pula ingatan akan datang. Satu-satunya cara, adalah merelakan. Melapangkan dada.

“Aku tahu rasanya mengucapkan selamat tinggal. Tapi kita akan membawa kenangan satu sama lain, ke dalam perjalanan hidup kita selanjutnya. Untuk mengingatkan diri kita sebenarnya, dan akan menjadi apa kita.” --Gwen Stacy, dalam pidato perpisahan sekolahnya--

Peter Parker dan Gwen Stacy.


***

Malam ini adalah purnama. Yah, purnama. Saya melihatnya tepat di atas kepala. Dari atas atap rumah, saya terbiasa memandanginya. Akh, tapi jangan pernah membayangkan saya yang sedang memikirkan dan merindukan seseorang seketika memandang bulan. Yah, meskipun bulan senang sekali meributkan kerinduan atas orang-orang yang telah pergi. Sudah lama kerinduan itu tak pernah mencapai cakrawalanya, hingga hanya melayang sebatas awang-awang.

Purnama itu… hanya terlalu indah untuk dilewatkan. Purnama itu… sama sekali tak ada kaitannya dengan manusia serigala, seperti yang selalu direpresentasikan oleh film-film luar negeri hingga mitos-mitos nenek moyang. Saya justru berpikir, cerita-cerita demikian dikembangkan dan ditanamkan untuk mencegah manusia mensyukuri setiap keajaiban alam yang berlaku. Sama halnya dengan yang membedakan antara “malam Jumat” dan “malam Minggu”. Ada isu agama yang berkembang di dalamnya.

“Itu bulan, kan?” tanya seorang teman sembari menunjuk ke arah langit siang. Ada siluet bulan yang tertinggal di siang bolong dan amat jelas tersingkap. Langit sedang cerah. Awan-awan pergi menyingkap redup sinarnya.

“Padahal saya pernah dengar, entah dimana, bahwa bulan dan matahari tidak akan pernah bertemu. Tapi, bukannya sekarang bulan sedang bertemu dengan matahari ya?” lanjutnya lagi.

“Sepertinya begitu. Mungkin, maksudnya bertemu, bersinar bersamaan. Cahaya bulan kan berasal dari matahari. Jadi, tidak mungkin bersinar bersamaan. Harus saling mengisi,” jawab saya seadanya.

“Purnama, sebentar lagi,” lirih saya.

Bulat purnama yang sempurna, merepresentasikan bulatnya mata langit di tengah kelam gulita. Dan memandangnya di tengah malam, selalu memunculkan kedamaian yang berdesir di setiap hati manusia. Bukankah setiap keindahan harus diamati dan disyukuri? Dan purnama itu hadir malam ini, tepat di atas kepala…


--Imam Rahmanto--

Selasa, 02 September 2014

Sebanding

September 02, 2014
Saya selalu percaya bahwa usaha atau kerja keras itu akan selalu membawa hasil yang terbaik. Memang, tidak selalu seperti yang diinginkan. Namun Tuhan merupakan sutradara terbaik untuk memilihkan manusia hal-hal yang menurut-Nya terbaik. Sebagaimana Tuhan Maha Melihat (nurani), maka Tuhan pun Maha Tahu.

Manusia, tak tahu apa-apa. Segala yang diketahuinya hanya berlangsung dalam bingkai penglihatan dan pengalamannya saja. Apa yang akan terjadi, manusia, kita, hanya meraba-raba. Prediksi. Memperkirakan. Hingga meramal. Sayangnya, apa yang diperkirakan senantiasa mengalahkan apa yang telah diketahui. Seolah-olah, apa yang diperkirakan itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih diketahui kebenarannya dibanding apa yang telah diketahui sebelumnya.

“Kak Imam, percaya tidak kalau usaha dan kerja keras itu membawa hasil yang lebih baik?”

Setiap usaha selalu berbanding dengan hasil yang akan didapatkan. Saya percaya hal demikian. Bahkan, baru menanamkan tekad saja, semakin kuat, - Tuhan selalu tahu dan mampu mengukur sejauh mana tekad yang dimiliki manusia – semakin besar kemungkinan untuk terciptanya keajaiban. Saya percaya hal itu. #justbelieveit

“Ndak percaya ma. Saya ndak percaya lagi sama usaha dan kerja keras untuk hasil yang baik. Yang benar itu Takdir. Berarti kata-katanya Thomas Alva Edison yang katanya – jenius adalah 1% bakat dan 99% kerja keras – itu salah.”

Pesan singkat itu datang dari salah seorang adik di sekolah menengah yang pernah menjadi tempat saya menghabiskan waktu mengabdi nyaris 3 bulan lamanya. Semenjak pertama kali mengamatinya, di sekolah, di kelasnya, saya sedikitnya tahu ada “sesuatu” yang senantiasa ia sembunyikan dari balik wajah dan kata-katanya.

Sumber gambar: googling.
Saya nyaris tertawa ketika ia mengutip quote dari sang Penemu bola lampu itu. Mungkin, Thomas merupakan salah satu ilmuwan favoritnya. Apalagi hingga kini, hasil temuannya masih digunakan turun temurun, sebagai bukti perkembangan zaman dan teknologi.

Oiya, seingat saya, kelas-kelasnya juga dinamakan sesuai dengan nama ilmuwan-ilmuwan yang ternama pada masanya. Hm..makanya wajar ia mengutip salah satu perkataan ilmuwan yang termasyhur itu.

Akan tetapi…., saya tahu, bukan itu intinya.

Apakah si ilmuwan bola lampu itu tak bercerita mengenai kegagalannya pula padamu, wahai adikku yang berkacamata? Bahwa ketika pertama kalinya si nenek moyang lampu itu menemukan bahan lampu pijar, ia telah banyak mengalami kegagalan. Menurut cerita, hingga 99 kali kegagalan. 

Anehnya, ketika ia ditanya perihal perasaannya setelah 9.955 kali gagal menemukan bola lampu, di hadapan para wartawan surat kabar di masa itu, ia justru menganggap hal itu bukanlah kegagalan. “Saya tidak pernah gagal. Saya justru berhasil menemukan 9.955 bahan yang tidak cocok dibuat lampu pijar,” katanya dengan bangga. Dengan demikian, gagal atau tidak, tergantung dari cara memandang lewat “kacamata” setiap orang, bukan?

Akh, lagi-lagi, bukan itu intinya. Bukan tentang bola lampu, kan?

Saya pikir, setiap usaha yang diwujudkan dalam kerja keras hingga doa, selalu menemukan jalannya. Cepat atau lambat. Kontan atau kredit. Instan atau bertahap. Otomatis atau manual.

Selain itu, setiap orang punya takaran usahanya masing-masing. Usaha yang dianggap “keras”, belum tentu melebihi rata-rata usaha keras orang lainnya. Atau pilihan lainnya, Tuhan justru menyimpan hasil yang akan diberikannya pada saat yang tepat kelak. Percayalah.

Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, menurut saya, ya takdir. Seperti apa tampang manusia saat lahir ke dunia. Siapa bapak-ibunya. Siapa teman-temannya. Apa yang akan dikerjakannya ketika beranjak dewasa. Dimana ia tinggal bersama jodohnya. Sebanyak apa rezeki yang dilimpahkan Tuhan padanya. Semuanya itu takdir. Selalu, bagi umat Muslim, percaya yang namanya takdir.

Meskipun setiap takdir sudah digariskan, namun Tuhan pun sudah memberikan kuasa kepada manusia untuk mampu mengubahnya. Baik jodoh, maupun rezeki, takkan datang dengan sendirinya jika kita tak mencarinya atau menjadi “sebab”nya. Saya justru tak pernah percaya sepenuhnya dengan kalimat-kalimat yang senantiasa menjadi perisai pembenaran atas usaha manusia;

“Kalau jodoh takkan kemana. Kalau sudah digariskan dengan kita, maka apapun jalannya, pasti akan bersama kita.”

Sama halnya dengan,

“Kalau rezeki takkan kemana.”  

Akh, semua itu omong kosong. Bedakan antara “pasrah” dan “tawakkal”!

Jangan menganggap bahwa takdir akan berjalan sekehendak Sang Pencipta. Sementara Tuhan sendiri sudah menggariskan manusia untuk bisa mengubah keadaannya sendiri, bukan?

“Setidaknya jangan singkirkan jauh-jauh orang yang juga mau berusaha. Kan ndak adil toh?”

Percayalah, adikku sayang. Tuhan tak pernah berdiam diri melihat hamba-Nya yang jatuh bangun mencapai setiap keinginannya. Bahkan, sekecil apapun kata hatimu, Tuhan selalu mendengarnya. Setiap usaha selalu menemukan jalannya. Sejauh mana manusia berusaha, bukan diukur dari hasil yang tampak oleh mata. Melainkan sejauh mana kedewasaan kita bertindak atas usaha itu.

Intinya, jangan berhenti berusaha. Jangan berhenti percaya pada Tuhan.

Saya paling suka dengan quote satu ini, meskipun sudah amat usang,

“Keberhasilan bukan berarti kita tak pernah gagal. Tak pernah terjatuh. Tak pernah tersungkur. Keberhasilan justru diukur dari seberapa sering kita bangkit di saat jatuh dan tersungkur itu.”

Dan setiap tekad yang diwujudkan dalam bentuk usaha keras, akan merupa menjadi keajaiban tak terkira. Jangan lupa dengan "pemanisnya"; doa. #justbelieveit []


--Imam Rahmanto--