Jumat, 15 Agustus 2014

Sahabat Itu "Menjengkelkan"



*Play that sound...

Karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, maka kehadiran teman adalah hal paling mendasar bagi kita. Kita berteman, kita saling mengasihi. Siapa pun sebenarnya tak ingin hidup sendiri. Bukankah sendirian itu hanya membuat kita melesak jauh ke bawah permukaan sosial?

Saya tertawa saja melihat kelakuan adik-adik saya yang sedang ribut tentang pertemanannya, beberapa malam lalu. Sesekali sih saya mengompori. Salah satu dari mereka meng-update status BBM tentang kekecewaannya karena tidak diajak makan “tengah malam”. Ketika teman-temannya belum setengah jalan ke tujuan dan kembali mengajaknya, ia sudah keburu ngambek dan tidak berminat lagi untuk ikut. Mengalirlah kalimat-kalimat “kekecewaan” di profil BBM-nya. Dibalas pula yang lainnya.

Hahaha…saya santai saja dengan “perseteruan” kecil mereka. Bahkan saya lebih senang mengomporinya. Mereka punya pertemanan sendiri, yang tak perlu pula saya campuri. Mereka tahu bagaimana menyelesaikan masalah masing-masing dengan metode pertemanan yang mereka sanggupi. Dan dasarnya mereka memang hanya bercanda.  

Sumber: googling
Mungkin, menjalin sebuah persahabatan seyogyanya memang harus demikian. Setiap permasalahan memang harus diselesaikan dengan cara-cara sederhana. Bahkan kalau bisa, mengambil titik yang lucu dari perseteruan itu. Setiap hal selalu punya sisi lain untuk ditertawakan. 

Saya begitu senang dengan tingkah laku anak kecil. Di waktu-waktu mereka sedang berseteru sama lain, mereka bahkan bisa berkelahi, bergumul hingga menangis meraung-raung. Namun sebagaimana polosnya anak kecil, permusuhan itu hanya berlangsung smeentara. Biasanya, diperantarai orang yang lebih tua, anak-anak kecil yang bermusuhan dipaksa berdamai dengan jabat tangan. Sembari tersenyum paksa malu-malu, mereka toh pada akhirnya akan berbaikan juga. Anak-anak akan bermain seperti biasa, melupakan semuanya. Masalah yang menjadi perseteruan mereka akan menguap begitu saja.

“Saya paling suka mendengar curhatan anak kecil, seumuran SD itu loh,” seorang kakak perempuan yang bekerja di salah satu bimbingan belajar menyampaikannya sesaat kami nongkrong di coffeeshop.

“Bagaimana ya? Anak-anak itu begitu polos. Natural. Jadi apa yang mereka sampaikan dan lakukan itu benar-benar jujur, dari hati,” lanjutnya lagi sembari tertawa. Ia mengaku kerap kali menjadi lahan curhatan anak-anak yang mengikuti bimbingan belajar di tempatnya bekerja. Dari anak SD, sampai anak SMA. Hanya saja, curhatan anak-anak itu seputar kisah asmara yang sebenarnya masih belum pantas untuk sepantaran mereka. -_- *sirik

Beberapa hal itu menjelaskan kenapa saya begitu menyukai anak kecil, yang jujur, polos, blak-blakan, dan tidak terkesan jaim seperti orang dewasa kebanyakan. Pun, dalam beberapa kesempatan, saya senang menjadi anak kecil. 

Mencontoh anak kecil, pasang-surut yang namanya persahabatan harus disikapi sewajarnya. Segala bentuk ocehan, cemoohan, gangguan, dan lainnya jika sudah berada dalam lingkaran “persahabatan” akan berbeda auranya dari pertemanan biasa. Justru, katanya, sahabat yang sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya tidak akan merasa tersinggung dengan ledekan yang dialamatkan sahabat lainnya. Berbeda kondisinya jika kita diledek oleh teman biasa.

“Dasar kau buaya!”

“Dasar kau cicak!” balas yang lainnya.

“Ah, kau lebih jelek dari saya. Kau cuma tahi kukuku saja,”

“Kau cuma tahinya tahi kukuku,” hahaha…

Ledekan-ledekan semacam itu yang justru mengundang tawa sudah biasa saya dengarkan dalam persahabatan yang telah kami bangun. Yah, kami, yang menyebut diri sebagai #Ben10, bersepuluh disatukan dalam satu atap lembaga jurnalistik kampus. Namun sudah nyaris tiga minggu ini kami sedang tidak akur dengan salah seorang sahabat perempuan. Entahlah, duduk perkaranya dimulai dari mana. Entahlah, ulah siapa yang menjadi titik tolak semua kesalahan, hingga kami harus kena bombe’ all in one!

Sumber: google.com
Yang namanya sahabat, tentu sudah mengenal seluk beluk sahabat lainnya. Mulai dari karakternya, makanan kesukaannya, pakaiannya, hingga kisah asmaranya. Tak ada lagi keraguan di dalamnya. Saling menerima seperti apapun kondisinya. Setiap persahabatan itu saling mengisi, ya, mengisi kekurangan masing-masing. Berbual rasanya ketika kita menginginkan sahabat yang selalu ada dan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan pasangan, sudah sewajarnya kita menerima apa adanya.

Pernah menonton film “The Fault in Our Star”? Sebenarnya sih film romantis, tentang pasangan yang mengidap kanker. Tapi, sisi menariknya juga saya temukan lewat pertemanan Augustus Waters dengan si buta Isaac. Selayaknya seorang sahabat, tak ada lagi kecanggungan dalam interaksi keduanya. Baik kata-kata sopan maupun tak sopan, mengalir apa adanya. Tanpa ditutup-tutupi. Termasuk untuk menanggapinya tak perlu selalu dalam pandangan yang negatif. :D

Sudah tak diragukan lagi seberapa kenal kami dengan raut wajah-bangun-tidur setiap orang. Seperti apa muka-muka yang masih penuh dengan debu, masih terlipat-lipat, dan masih jelek. Pakaian yang dikenakan sehari-hari pun sudah dihafal mati. Kalau ada yang mengenakan pakaian baru bakal ketahuan. Makanan yang digemari, tak salah tebak lagi. Sampai pada kisah asmara, yang seharusnya menjadi privasi, dikupas tuntas oleh yang namanya sahabat. Saking kepo-nya. Nyatanya, sedalam dan seintim itu yang namanya sahabat ingin mengenal satu sama lain.

Saya pernah menjadi korban keisengan kalian, sahabat-sahabat saya. Akh, masih ingat, ketika kalian iseng mengulik kehidupan pribadi saya, yang kala itu sedang dekat dengan seorang perempuan yang…ehem…manis. Mungkin atas dasar kepedulian sahabat (yang berlebihan), kalian antusias menjahilinya. Apalagi, di mata kalian, saya selalu identik dengan orang yang masih “hijau” dalam perkara asmara. Menurut kalian, tentang menyukai seorang perempuan adalah hal yang langka bagi seorang Imam.

Saya sebenarnya tak ingin tinggal diam melihat kalian, sahabat-sahabat saya melancarkan keisengannya. Apalagi saya tahu betul bagaimana track record kita selama menjahili teman-teman lainnya. Hancur. Alhasil,  alih-alih dengan tujuan “mengenal”, kalian justru sampai dicap “kejam” olehnya. Dan tahu tidak, seberapa keras pun saya mencoba membela kalian, ia tetap tak pernah berkeinginan mengenal kalian. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ck…padahal kalian adalah sahabat-sahabat saya yang unik dan (menjengkelkan) ya? -_-

Akan tetapi, di balik kekonyolan itu, saya selalu percaya, hanyalah sebentuk kasih sayang yang ingin ditunjukkan seorang sahabat. Meski cara yang dilakukannya “tak biasa”, namun sejauh mengenal karakter masing-masing, selalu ada pemakluman di dalamnya.

Sejak dulu, kami menyimpan impian masing-masing. Kami punya banyak harapan atas hidup “kita” yang akan berjalan di kemudian hari. Cerita-cerita yang seharusnya bisa dibagikan saat kami berkumpul bersama kembali. Tidak hanya kisah asmara yang selalu jadi kasak-kusuk gosip. Pengalaman-pengalaman menakjubkan atas hidup yang biasa-biasa saja. Bukankah 10 superhero punya karakter yang unik atas transformasi Ben Tennyson?

Minus satu orang. Haha...kebetulan orangnya juga lagi merantau ke Jawa.


--Imam Rahmanto--


NB: tulisan yang dibuat sebagai wujud kegelisahan atas kerenggangan yang sementara menjajal saya dan teman-teman. Tingkah kanak-kanak kami justru menjerumuskan seorang teman semakin jauh dan menjauh dari lingkaran kami. Sigh…sebenarnya niat kami baik, hanya caranya saja yang mungkin agak kasar dan kekanak-kanakan. Tak bisakah berbaikan saja, tanpa mengedepankan malu-malu dan ego diri? 



2 komentar:

  1. Oww.. Manis banget.. Eh, aku belum pernah tuh nonton The Fault in Our Star". Hm.. Jadi penasaran..

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Nonton deh ya. Tapi, buat aku sih, ceritanya agak datar gitu ya??

    BalasHapus