Senin, 18 Agustus 2014

16# Menulis yang Berbukit-bukit

Skripsi oh skripsi. Beberapa hari ini saya sudah mulai berkejaran dengan tuntutannya. Apalagi di pembukaan tahun akademik yang baru. Seperti seminggu yang lalu, saya baru saja menyelesaikan proses pengisian Kartu Rencana Studi a.k.a KRS yang menyisakan dua mata kuliah wajib: Proposal Penelitian dan Skripsi. Di kampus pun, tak jarang saya harus bertemu dengan salah seorang teman untuk sekadar memperbantukan proposal penelitian saya.

Sebelum lebaran Idul Fitri tempo hari, dua orang (dari 11 orang teman sekelas yang belum lulus) baru saja meneguk gelar sarjananya. Kemungkinan, untuk prosesi wisuda bulan ini, mereka akan turut serta. Hal ini tentu saja semakin mengurangi populasi teman-teman sekelas saya yang belum menyelesaikan kuliahnya. Eits, jangan salah dulu. Kebanyakan teman-teman yang belum selesai ini justru adalah orang-orang yang berprestasi di kelas kami. 

Kini, tersisa 9 orang saja, termasuk saya. :(

Rasa-rasanya, melihat fenomena itu, saya jadi kepengen mebentuk forum resmi diantara teman-teman yang belum menyelesaikan kuliahnya, namun sudah dalam tahap penyelesaian skripsi. Sungguh keinginan yang mulia, bukan? Kelak, di forum itu, kami akan bertemu sembari ngopi dan membahas perkembangan skripsi masing-masing. Memberi dorongan kepada yang belum selesai. Sekaligus memberikan bantuan kepada yang memiliki kesulitan. Wow, betul-betul keinginan yang mulia! Haha… #miris

Agak sulit juga sih menyelesaikan tulisan yang ilmiah-pake-banget. Rasanya seperti mendaki bukit per bukit. Bagaimana tidak, dalam kehidupan jurnalistik saya sehari-hari, kami tidak begitu ditekankan harus menulis ilmiah, seperti unit kegiatan mahasiswa “sebelah” yang memang lebih fokus pada penelitian ilmiah. Selain itu, tulisan-tulisan yang saya dalami kebanyakan bergaya “lepas”, tidak begitu terikat dengan aturan baku. Ya, seperti di “rumah” ini. Jadi, kaidah-kaidah keilmuan-pake-banget-nya tidak seintim karya tulis ilmiah. Saya mending disuruh nulis berita 3 halaman penuh, ketimbang menulis latar-belakang proposal saya meski satu halaman.

Kalau diandaikan ya, perbedaan mendasar antara tulisan jurnalistik, ilmiah, hingga fiksi itu seperti berikut. Karya tulis ilmiah yang semacam jurnal itu bahasanya cenderung ilmiah-pake-banget. Sementara untuk tulisan fiksi, bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa populer (non-ilmiah). Jadi, secara umum jenis tulisan ada dua; tulisan ilmiah dan non-ilmiah.

Nah, tulisan jurnalistik menjadi penengah antara keduanya. Sebagian elemen penulisan jurnalistik itu ada yang condong ke arah penulisan ilmiah, ada pula yang condong ke arah penulisan non-ilmiah (fiksi). Secara garis besarnya, keduanya dirangkum oleh tulisan bergaya jurnalistik.

Wajar ketika insan jurnalistik lebih cenderung disebut sebagai orang-orang yang memang banyak tahu, meskipun sedikit.

"Apa perbedaan antara profesor dengan wartawan?"

"Profesor, sedikit tahu tapi banyak. Sementara wartawan, dituntut untuk banyak tahu meskipun sedikit."

Tulisan jurnalistik harus mengambil titik tengah antara fiksi dan karya tulis ilmiah. Tidak ilmiah-banget dan tidak fiksi-banget. Oleh karena itu, menulis ala jurnalis memang cukup menyenangkan. Terbiasa melaporkan kejadian, ataupun kronologis, melatih kita untuk mampu menulis narasi. Selain itu, karena harus berdasarkan fakta, maka diperlukan pula proses wawancara ataupun observasi lapangan. Merdekalah jurnalisme!

Di akhir masa kuliah saya ini, saya alhasil menemui pula keruwetan memikirkan tulisan-tulisan ilmiah itu. Untuk lebih mudahnya, kata teman-teman sih, “copy-paste” saja. Tapi, perkara menyalin seperti itu bukan menjadi gaya saya. #jiahh.

Oiya, saya juga nyaris dibuat kaget dengan peraturan baru yang dikeluarkan Kemendikbud terkait kuliah maksimal yang kini dibatasi hanya hingga 5 tahun saja. Alamak! Di tahun ini, kuliah saya sudah mencapai tahun kelima! Saya jadi dibuat bingung sendiri. Beruntung, peraturan tersebut tidak berlaku surut. Dengan kata lain baru mulai diberlakukan untuk maba angkatan 2014. Syukurlah. #sembari mengelus dada

Sebenarnya, saya juga sudah menargetkan untuk selesai kuliah di akhir tahun ini. Apalagi kuliah saya tersisa dua (wajib) itu. Saya tak ingin lagi berlama-lama di kampus tanpa berbuat apa-apa. Dunia di luar cukup luas untuk dijelajahi. Dikarenakan sudah punya tujuan yang paten selepas kuliah, maka saya sudah siap menamatkan kependidikan sarjana saya. Bravo!

***

Tadi sore, saya dan beberapa orang teman mengunjungi bukit di pinggiran Kabupaten Sungguminasa. Namanya Bukit Manggarupi, sesuai dengan nama dusunnya. Setelah beberapa kali meminta seorang teman menunjukkan jalannya, saya baru bisa menyambanginya kemarin. Dan tanpa dinyana, rute menuju bukit itu ternyata adalah jalan sehari-hari saya ketika hendak mengajar les privat 2 tahun silam. Tentu saja, saya langsung hafal rutenya.

Pemandangannya cukup menjanjikan. Terkhusus bagi orang-orang yang ingin mendramatisir kegalauannya. Ada area nan luas di kaki langit sana yang bisa menjadi pijakan mata untuk memandang. Batu-batu besar juga tersebar berselang-seling dengan rerumputan kering di kaki bukit. Kelak, ketika ingin berteriak lantang membuang kerumitan isi kepala disana, bisa mencari tempat yang agak sunyi. Bukit itu juga menjadi tempat melepas penat beberapa orang yang bermukim di sekitar wilayah sana.

Berbekal kamera milik teman - yang beberapa hari ini menemani proses peliputan saya - kami sekadar melepas kegembiraan di bukit itu. Anggap saja ikut merayakan sedikit gegap gempita Kemerdekaan RI ke-69, selain dari membuang kekecewaan atas pekerjaan saya.

Beberapa momen foto memang sengaja saya jejalkan untuk bisa diabadikan dalam dinding “rumah” ini.

Untuk menyendiri, banyak tempat yang bisa dijadikan pilihan.
Di sebelah timur ada perkampungan dan danau kecil, yang kayaknya keren juga.
Sedikit-sedikit, senja mulai datang.
Mereka yang berusaha membunuh waktu.
Di sela-sela reranting yang meranggaskan daunnya.
Di atas perkampungan itu, ada senja yang menguning.
Disini juga.
Saya paling suka mentari senja yang membulat sempurna ini.
Dan akan terbenam melintasi awan-awan yang berarak.
Tidak tahu siapa. Sejoli yang juga menikmati nuansa. Saya, hanya mengambil titik untuk dijurus kamera. 


--Imam Rahmanto-- 

2 komentar:

  1. Fotonya bagus.. Dan ya, skripsi. Aku juga menderita kalau disuruh nulis ilmiah begitu.. :(

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Iya dong, fotonya itu diambil pake lensa tele. Hihihi....

    BalasHapus