Selasa, 26 Agustus 2014

17# Wisuda

Agustus 26, 2014
Maaf. Judul di atas bukanlah untuk menggambarkan kelulusan saya. Yah, seperti yang sebelum-sebelumnya, saya masih saja berkutat dengan tahap awal penyelesaian kuliah. Di Kartu Rencana Studi (KRS) – yang baru hari ini saya acc-kan – sudah resmi terpampang dua mata kuliah wajib semester akhir; proposal penelitian dan skripsi. Ckck...baru segitu udah bangga banget ya? -_-

“Bagaimana? Sudah ada perkembangan skripsinya?” pertanyaan yang seringkali saya dapati dari teman-teman seangkatan maupun adik-adik junior saya.

“Sudah dong!” jawab saya bangga.

“Wow! Jadi, tinggal ujian proposal, dong?”

“Hm…tidak begitu juga,”

“Lha kok???”

“Baru juga sampul proposalnya yang jadi,”

#gubrakk!!!

Setidaknya, saya sudah mulai memaksa diri saya sendiri. Judul dan pembimbing sudah oke, kok. :D. Sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti. Alon-alon asal kelakon. Pun, beberapa pekerjaan di luar penyelesaian skripsi, saya (berpikir) tanggalkan sementara. Kalau diri sendiri tak bisa memaksa, maka orang lain seharusnya bisa menjadi titik pertolongan. Saya mengaplikasikannya pula pada diri sendiri, dengan menarik banyak support dari teman-teman sekampus, meskipun terkadang malah jadi bahan ledekan. Yo wis lah, itu pertanda mereka masih sayang dengan saya. #ceilahh

Sumber: Kartun Ngampus
Esok hari, teman-teman saya akan merayakan kemenangannya menaklukkan belantara kampus. D-i-w-i-s-u-d-a. Ergh, saya sebenarnya agak malas nge-bold tulisannya. Dicoret aja kali ya??

Mereka lah yang telah melalui belantara kampus. Telah berjalan lebih dahulu di depan. Sebagian dari mereka melalui jalan setapak yang sudah saban hari dilalui orang-orang pada umumnya. Ada pula yang melalui jalan hasil temuannya sendiri. Ada yang melalui jalan dengan memanfaatkan juru kunci belantara. Tak ketinggalan mereka yang ngos-ngosan mencari jalan setapak setelah tersuruk kesana-kemari oleh semak-belukar. Namun seperti apapun bentuk jalan yang mereka lalui, setidaknya mereka telah sampai pada tujuan akhir yang mereka inginkan. Yah, melampaui...

Sejujurnya, saya iri dengan keberhasilan teman-teman yang mencapai gelar kesarjanaannya. Terlepas apakah siap lulus atau tidak, mereka sudah menunjukkan bahwa mereka "mau" lulus, khususnya untuk kedua orang tua. Sebagaimana orang tua yang sangat menginginkan melihat anak-anaknya lulus dengan membawa gelar pendidikannya ke kampung halaman. Betapa mengharu-birunya orang tua melihat anaknya berdiri berjejer dengan mahasiswa lainnya yang memakai toga sambil menghadap rektor beserta dewan guru besar.

Perasaan iri itu adalah hal yang tak bisa dipungkiri. Lumrah. Namun, tak perlu pula diperluas dalam pengertian negatif. Sebagai seorang mahasiswa yang juga sama-sama mengenyam pendidikan di tahun yang sama, di satu sisi, tentu saja saya merasa “kalah”. Tak perlu lah saya mencari pembenaran atas “kekalahan” itu. Sementara di sisi lainnya, ada terselip perasaan “menang” jika memikirkan teman-teman yang akan memakai ijazahnya itu untuk berseliweran mencari kerja, dengan peluh bersusah payah.

FYI, bagi saya, ada tiga muara yang akan dihadapi mahasiswa selepas kuliahnya; kasur, karir, atau studi. Akh, tanpa perlu saya jelaskan, orang-orang juga akan mengerti arah dari ketiga istilah itu. Kalau tidak dari ketiganya, ya pastilah masuk dalam kategori nganggur. :P

Untuk kalian yang akan diwisuda esok hari, saya mengucapkan selamat. Happy graduation! Kalian mesti berbangga atas hal yang telah diraih selama menjalani kuliah. Ilmu. Pengalaman. Teman. Perjalanan. Kisah. Semua terekam jelas dalam memori yang akan kalian bawa hingga uzur kelak.

Seperti apapun rencana, target, impian, dan cita-cita kalian selepas menanggalkan toga nanti, jangan tanggalkan pula idealisme kalian sebagai mahasiswa. Tak perlu menambah-nambahi beban rakyat Indonesia. Seharusnya kita yang telah melalui proses pendidikan terus berupaya membangun Indonesia lebih baik. #tsaahh


Lulus kuliah itu….

Ibarat hendak berpindah dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Kita baru bisa memindahkan barang-barangnya ketika sudah menemukan rumah baru yang sudah tepat dan pasti dihuni. Kalau belum, ya sebaiknya barang-barangnya disimpan dulu di rumah lama sembari mencari-cari rumah yang tepat untuk ditinggali kelak. Tidak lucu kan ketika kita sudah sibuk memindahkan barang sementara belum menemukan rumah baru yang hendak dihuni?

Tak jauh berbeda dengan kehidupan kampus. Karena kuliah adalah langkah awal untuk mencapai dunia kerja, maka sudah seharusnya setiap mahasiswa menyiapkan “bekal”nya masing-masing sebelum melulusi studinya. Sebaiknya telah menyiapkan planning yang apik sebelum lulus. Alangkah beruntungnya mereka yang sudah memperoleh pekerjaan sebelum meninggalkan kampus. Seolah-olah, mereka memang sudah menemukan “rumah baru” untuk segera menjadi tempat dipindahkannya “barang-barang” dari rumah yang lama.

Nah, sudahkah kita menemukan rumah baru itu? Saya, sudah.


--Imam Rahmanto--



PS: Sesaat saya sempat mengalami writer’s block. Apa itu? Itu loh, sejenis makanan instan yang dimasak pake air mendidih. #apasih? Haha…hanya sedikit kendala yang membuat kepala “buntu ide” ketika menulis. Tapi, saya selalu berpikir bahwa ide bukan untuk dicari, melainkan diciptakan lewat proses menulis itu sendiri. Seperti kata film yang pernah saya tonton, “Finding Forrester”,


"You write your first draft with your heart and you rewrite with your head. The first key to writing is to write. Not to think!"

Senin, 18 Agustus 2014

16# Menulis yang Berbukit-bukit

Agustus 18, 2014
Skripsi oh skripsi. Beberapa hari ini saya sudah mulai berkejaran dengan tuntutannya. Apalagi di pembukaan tahun akademik yang baru. Seperti seminggu yang lalu, saya baru saja menyelesaikan proses pengisian Kartu Rencana Studi a.k.a KRS yang menyisakan dua mata kuliah wajib: Proposal Penelitian dan Skripsi. Di kampus pun, tak jarang saya harus bertemu dengan salah seorang teman untuk sekadar memperbantukan proposal penelitian saya.

Sebelum lebaran Idul Fitri tempo hari, dua orang (dari 11 orang teman sekelas yang belum lulus) baru saja meneguk gelar sarjananya. Kemungkinan, untuk prosesi wisuda bulan ini, mereka akan turut serta. Hal ini tentu saja semakin mengurangi populasi teman-teman sekelas saya yang belum menyelesaikan kuliahnya. Eits, jangan salah dulu. Kebanyakan teman-teman yang belum selesai ini justru adalah orang-orang yang berprestasi di kelas kami. 

Kini, tersisa 9 orang saja, termasuk saya. :(

Rasa-rasanya, melihat fenomena itu, saya jadi kepengen mebentuk forum resmi diantara teman-teman yang belum menyelesaikan kuliahnya, namun sudah dalam tahap penyelesaian skripsi. Sungguh keinginan yang mulia, bukan? Kelak, di forum itu, kami akan bertemu sembari ngopi dan membahas perkembangan skripsi masing-masing. Memberi dorongan kepada yang belum selesai. Sekaligus memberikan bantuan kepada yang memiliki kesulitan. Wow, betul-betul keinginan yang mulia! Haha… #miris

Agak sulit juga sih menyelesaikan tulisan yang ilmiah-pake-banget. Rasanya seperti mendaki bukit per bukit. Bagaimana tidak, dalam kehidupan jurnalistik saya sehari-hari, kami tidak begitu ditekankan harus menulis ilmiah, seperti unit kegiatan mahasiswa “sebelah” yang memang lebih fokus pada penelitian ilmiah. Selain itu, tulisan-tulisan yang saya dalami kebanyakan bergaya “lepas”, tidak begitu terikat dengan aturan baku. Ya, seperti di “rumah” ini. Jadi, kaidah-kaidah keilmuan-pake-banget-nya tidak seintim karya tulis ilmiah. Saya mending disuruh nulis berita 3 halaman penuh, ketimbang menulis latar-belakang proposal saya meski satu halaman.

Kalau diandaikan ya, perbedaan mendasar antara tulisan jurnalistik, ilmiah, hingga fiksi itu seperti berikut. Karya tulis ilmiah yang semacam jurnal itu bahasanya cenderung ilmiah-pake-banget. Sementara untuk tulisan fiksi, bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa populer (non-ilmiah). Jadi, secara umum jenis tulisan ada dua; tulisan ilmiah dan non-ilmiah.

Nah, tulisan jurnalistik menjadi penengah antara keduanya. Sebagian elemen penulisan jurnalistik itu ada yang condong ke arah penulisan ilmiah, ada pula yang condong ke arah penulisan non-ilmiah (fiksi). Secara garis besarnya, keduanya dirangkum oleh tulisan bergaya jurnalistik.

Wajar ketika insan jurnalistik lebih cenderung disebut sebagai orang-orang yang memang banyak tahu, meskipun sedikit.

"Apa perbedaan antara profesor dengan wartawan?"

"Profesor, sedikit tahu tapi banyak. Sementara wartawan, dituntut untuk banyak tahu meskipun sedikit."

Tulisan jurnalistik harus mengambil titik tengah antara fiksi dan karya tulis ilmiah. Tidak ilmiah-banget dan tidak fiksi-banget. Oleh karena itu, menulis ala jurnalis memang cukup menyenangkan. Terbiasa melaporkan kejadian, ataupun kronologis, melatih kita untuk mampu menulis narasi. Selain itu, karena harus berdasarkan fakta, maka diperlukan pula proses wawancara ataupun observasi lapangan. Merdekalah jurnalisme!

Di akhir masa kuliah saya ini, saya alhasil menemui pula keruwetan memikirkan tulisan-tulisan ilmiah itu. Untuk lebih mudahnya, kata teman-teman sih, “copy-paste” saja. Tapi, perkara menyalin seperti itu bukan menjadi gaya saya. #jiahh.

Oiya, saya juga nyaris dibuat kaget dengan peraturan baru yang dikeluarkan Kemendikbud terkait kuliah maksimal yang kini dibatasi hanya hingga 5 tahun saja. Alamak! Di tahun ini, kuliah saya sudah mencapai tahun kelima! Saya jadi dibuat bingung sendiri. Beruntung, peraturan tersebut tidak berlaku surut. Dengan kata lain baru mulai diberlakukan untuk maba angkatan 2014. Syukurlah. #sembari mengelus dada

Sebenarnya, saya juga sudah menargetkan untuk selesai kuliah di akhir tahun ini. Apalagi kuliah saya tersisa dua (wajib) itu. Saya tak ingin lagi berlama-lama di kampus tanpa berbuat apa-apa. Dunia di luar cukup luas untuk dijelajahi. Dikarenakan sudah punya tujuan yang paten selepas kuliah, maka saya sudah siap menamatkan kependidikan sarjana saya. Bravo!

***

Tadi sore, saya dan beberapa orang teman mengunjungi bukit di pinggiran Kabupaten Sungguminasa. Namanya Bukit Manggarupi, sesuai dengan nama dusunnya. Setelah beberapa kali meminta seorang teman menunjukkan jalannya, saya baru bisa menyambanginya kemarin. Dan tanpa dinyana, rute menuju bukit itu ternyata adalah jalan sehari-hari saya ketika hendak mengajar les privat 2 tahun silam. Tentu saja, saya langsung hafal rutenya.

Pemandangannya cukup menjanjikan. Terkhusus bagi orang-orang yang ingin mendramatisir kegalauannya. Ada area nan luas di kaki langit sana yang bisa menjadi pijakan mata untuk memandang. Batu-batu besar juga tersebar berselang-seling dengan rerumputan kering di kaki bukit. Kelak, ketika ingin berteriak lantang membuang kerumitan isi kepala disana, bisa mencari tempat yang agak sunyi. Bukit itu juga menjadi tempat melepas penat beberapa orang yang bermukim di sekitar wilayah sana.

Berbekal kamera milik teman - yang beberapa hari ini menemani proses peliputan saya - kami sekadar melepas kegembiraan di bukit itu. Anggap saja ikut merayakan sedikit gegap gempita Kemerdekaan RI ke-69, selain dari membuang kekecewaan atas pekerjaan saya.

Beberapa momen foto memang sengaja saya jejalkan untuk bisa diabadikan dalam dinding “rumah” ini.

Untuk menyendiri, banyak tempat yang bisa dijadikan pilihan.
Di sebelah timur ada perkampungan dan danau kecil, yang kayaknya keren juga.
Sedikit-sedikit, senja mulai datang.
Mereka yang berusaha membunuh waktu.
Di sela-sela reranting yang meranggaskan daunnya.
Di atas perkampungan itu, ada senja yang menguning.
Disini juga.
Saya paling suka mentari senja yang membulat sempurna ini.
Dan akan terbenam melintasi awan-awan yang berarak.
Tidak tahu siapa. Sejoli yang juga menikmati nuansa. Saya, hanya mengambil titik untuk dijurus kamera. 


--Imam Rahmanto-- 

Jumat, 15 Agustus 2014

Sahabat Itu "Menjengkelkan"

Agustus 15, 2014


*Play that sound...

Karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, maka kehadiran teman adalah hal paling mendasar bagi kita. Kita berteman, kita saling mengasihi. Siapa pun sebenarnya tak ingin hidup sendiri. Bukankah sendirian itu hanya membuat kita melesak jauh ke bawah permukaan sosial?

Saya tertawa saja melihat kelakuan adik-adik saya yang sedang ribut tentang pertemanannya, beberapa malam lalu. Sesekali sih saya mengompori. Salah satu dari mereka meng-update status BBM tentang kekecewaannya karena tidak diajak makan “tengah malam”. Ketika teman-temannya belum setengah jalan ke tujuan dan kembali mengajaknya, ia sudah keburu ngambek dan tidak berminat lagi untuk ikut. Mengalirlah kalimat-kalimat “kekecewaan” di profil BBM-nya. Dibalas pula yang lainnya.

Hahaha…saya santai saja dengan “perseteruan” kecil mereka. Bahkan saya lebih senang mengomporinya. Mereka punya pertemanan sendiri, yang tak perlu pula saya campuri. Mereka tahu bagaimana menyelesaikan masalah masing-masing dengan metode pertemanan yang mereka sanggupi. Dan dasarnya mereka memang hanya bercanda.  

Sumber: googling
Mungkin, menjalin sebuah persahabatan seyogyanya memang harus demikian. Setiap permasalahan memang harus diselesaikan dengan cara-cara sederhana. Bahkan kalau bisa, mengambil titik yang lucu dari perseteruan itu. Setiap hal selalu punya sisi lain untuk ditertawakan. 

Saya begitu senang dengan tingkah laku anak kecil. Di waktu-waktu mereka sedang berseteru sama lain, mereka bahkan bisa berkelahi, bergumul hingga menangis meraung-raung. Namun sebagaimana polosnya anak kecil, permusuhan itu hanya berlangsung smeentara. Biasanya, diperantarai orang yang lebih tua, anak-anak kecil yang bermusuhan dipaksa berdamai dengan jabat tangan. Sembari tersenyum paksa malu-malu, mereka toh pada akhirnya akan berbaikan juga. Anak-anak akan bermain seperti biasa, melupakan semuanya. Masalah yang menjadi perseteruan mereka akan menguap begitu saja.

“Saya paling suka mendengar curhatan anak kecil, seumuran SD itu loh,” seorang kakak perempuan yang bekerja di salah satu bimbingan belajar menyampaikannya sesaat kami nongkrong di coffeeshop.

“Bagaimana ya? Anak-anak itu begitu polos. Natural. Jadi apa yang mereka sampaikan dan lakukan itu benar-benar jujur, dari hati,” lanjutnya lagi sembari tertawa. Ia mengaku kerap kali menjadi lahan curhatan anak-anak yang mengikuti bimbingan belajar di tempatnya bekerja. Dari anak SD, sampai anak SMA. Hanya saja, curhatan anak-anak itu seputar kisah asmara yang sebenarnya masih belum pantas untuk sepantaran mereka. -_- *sirik

Beberapa hal itu menjelaskan kenapa saya begitu menyukai anak kecil, yang jujur, polos, blak-blakan, dan tidak terkesan jaim seperti orang dewasa kebanyakan. Pun, dalam beberapa kesempatan, saya senang menjadi anak kecil. 

Mencontoh anak kecil, pasang-surut yang namanya persahabatan harus disikapi sewajarnya. Segala bentuk ocehan, cemoohan, gangguan, dan lainnya jika sudah berada dalam lingkaran “persahabatan” akan berbeda auranya dari pertemanan biasa. Justru, katanya, sahabat yang sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya tidak akan merasa tersinggung dengan ledekan yang dialamatkan sahabat lainnya. Berbeda kondisinya jika kita diledek oleh teman biasa.

“Dasar kau buaya!”

“Dasar kau cicak!” balas yang lainnya.

“Ah, kau lebih jelek dari saya. Kau cuma tahi kukuku saja,”

“Kau cuma tahinya tahi kukuku,” hahaha…

Ledekan-ledekan semacam itu yang justru mengundang tawa sudah biasa saya dengarkan dalam persahabatan yang telah kami bangun. Yah, kami, yang menyebut diri sebagai #Ben10, bersepuluh disatukan dalam satu atap lembaga jurnalistik kampus. Namun sudah nyaris tiga minggu ini kami sedang tidak akur dengan salah seorang sahabat perempuan. Entahlah, duduk perkaranya dimulai dari mana. Entahlah, ulah siapa yang menjadi titik tolak semua kesalahan, hingga kami harus kena bombe’ all in one!

Sumber: google.com
Yang namanya sahabat, tentu sudah mengenal seluk beluk sahabat lainnya. Mulai dari karakternya, makanan kesukaannya, pakaiannya, hingga kisah asmaranya. Tak ada lagi keraguan di dalamnya. Saling menerima seperti apapun kondisinya. Setiap persahabatan itu saling mengisi, ya, mengisi kekurangan masing-masing. Berbual rasanya ketika kita menginginkan sahabat yang selalu ada dan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan pasangan, sudah sewajarnya kita menerima apa adanya.

Pernah menonton film “The Fault in Our Star”? Sebenarnya sih film romantis, tentang pasangan yang mengidap kanker. Tapi, sisi menariknya juga saya temukan lewat pertemanan Augustus Waters dengan si buta Isaac. Selayaknya seorang sahabat, tak ada lagi kecanggungan dalam interaksi keduanya. Baik kata-kata sopan maupun tak sopan, mengalir apa adanya. Tanpa ditutup-tutupi. Termasuk untuk menanggapinya tak perlu selalu dalam pandangan yang negatif. :D

Sudah tak diragukan lagi seberapa kenal kami dengan raut wajah-bangun-tidur setiap orang. Seperti apa muka-muka yang masih penuh dengan debu, masih terlipat-lipat, dan masih jelek. Pakaian yang dikenakan sehari-hari pun sudah dihafal mati. Kalau ada yang mengenakan pakaian baru bakal ketahuan. Makanan yang digemari, tak salah tebak lagi. Sampai pada kisah asmara, yang seharusnya menjadi privasi, dikupas tuntas oleh yang namanya sahabat. Saking kepo-nya. Nyatanya, sedalam dan seintim itu yang namanya sahabat ingin mengenal satu sama lain.

Saya pernah menjadi korban keisengan kalian, sahabat-sahabat saya. Akh, masih ingat, ketika kalian iseng mengulik kehidupan pribadi saya, yang kala itu sedang dekat dengan seorang perempuan yang…ehem…manis. Mungkin atas dasar kepedulian sahabat (yang berlebihan), kalian antusias menjahilinya. Apalagi, di mata kalian, saya selalu identik dengan orang yang masih “hijau” dalam perkara asmara. Menurut kalian, tentang menyukai seorang perempuan adalah hal yang langka bagi seorang Imam.

Saya sebenarnya tak ingin tinggal diam melihat kalian, sahabat-sahabat saya melancarkan keisengannya. Apalagi saya tahu betul bagaimana track record kita selama menjahili teman-teman lainnya. Hancur. Alhasil,  alih-alih dengan tujuan “mengenal”, kalian justru sampai dicap “kejam” olehnya. Dan tahu tidak, seberapa keras pun saya mencoba membela kalian, ia tetap tak pernah berkeinginan mengenal kalian. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ck…padahal kalian adalah sahabat-sahabat saya yang unik dan (menjengkelkan) ya? -_-

Akan tetapi, di balik kekonyolan itu, saya selalu percaya, hanyalah sebentuk kasih sayang yang ingin ditunjukkan seorang sahabat. Meski cara yang dilakukannya “tak biasa”, namun sejauh mengenal karakter masing-masing, selalu ada pemakluman di dalamnya.

Sejak dulu, kami menyimpan impian masing-masing. Kami punya banyak harapan atas hidup “kita” yang akan berjalan di kemudian hari. Cerita-cerita yang seharusnya bisa dibagikan saat kami berkumpul bersama kembali. Tidak hanya kisah asmara yang selalu jadi kasak-kusuk gosip. Pengalaman-pengalaman menakjubkan atas hidup yang biasa-biasa saja. Bukankah 10 superhero punya karakter yang unik atas transformasi Ben Tennyson?

Minus satu orang. Haha...kebetulan orangnya juga lagi merantau ke Jawa.


--Imam Rahmanto--


NB: tulisan yang dibuat sebagai wujud kegelisahan atas kerenggangan yang sementara menjajal saya dan teman-teman. Tingkah kanak-kanak kami justru menjerumuskan seorang teman semakin jauh dan menjauh dari lingkaran kami. Sigh…sebenarnya niat kami baik, hanya caranya saja yang mungkin agak kasar dan kekanak-kanakan. Tak bisakah berbaikan saja, tanpa mengedepankan malu-malu dan ego diri? 



Senin, 04 Agustus 2014

Teori dan Praktek

Agustus 04, 2014
Seperti biasa, pagi masih diselimuti hawa dinginnya. Ini masih pukul 7, namun aktivitas di perkampungan ini sudah menggeliat. Anak-anak sekolah berlau-lalang hendak melaksanakan kewajiban masa mudanya. Mobil ataupun motor turut menyela momen-momen pergi-ke-sekolah itu.

Sembari duduk-duduk di beranda, tentu saja dengan segelas cappuccino, saya mengamati. Kabut-kabut yang mulai melebur perlahan, hendak bertukar peran dengan matahari condong memanas. Hanya saja, saya memperkirakan, cuaca tidak akan secerah biasanya. Langit tertutup awan-awan putih menggumpal. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi mendung yang mencurahkan hujan, seperti kemarin.

Menuliskan ini, saya bersiap kembali. Momen libur lebaran nyaris berakhir. Sebenarnya sudah berakhir sejak beberapa hari yang lalu, namun saya saja yang menambah-nambahinya. Kapan lagi coba? hehe… Kesibukan di kota pun sudah membuka sapaannya sejak kemarin. Beberapa teman saya bahkan sudah kembali tepat arus balik, Sabtu-Minggu, kemarin. Yah, gampang ditebak dengan beragamnya update status di jejaring sosial. Tersisa saya dan beberapa orang yang masih nyaman saja mereka satu-satu kenangan yang menggumpal dan bebal di kepala.

#Saya mencopot earphone di telinga saya.

Sederhana. Saya menggantikan pendengaran dengan bunyi-bunyian yang sesungguhnya. Suara-suara membahana pagi lebih nyaman didengar seperti ini. Lebih alami dan mendamaikan, untuk sementara.

Suara ayam bersahutan membangunkan pemiliknya. Mobil-mobil yang melintas dan berpapasan dengan motor, menyuarakan klaksonnya. Terkadang suara motor lebih mendominasi ketika berpapasan dengan motor yang knalpotnya dimodifikasi. Arus sungai kecil di depan rumah, yang tak henti-hentinya mengalir hingga ke muaranya. Tetangga yang sedang menyapu halaman. Anak-anak kecil yang bergantian mengadu pada orang tuanya. Kernet-kernet mobil yang berlomba-lomba memanggil para penumpangnya.

#Saya menggapai gelas yang masih berisi setengah cappuccino.

Banyak hal yang banyak dipertaruhkan dalam hidup ini demi mencapai dan menggapai jalan yang diimpikan. Kalau orang berharapnya jalan yang dilaluinya itu lurus-lurus saja, namun Tuhan menunjukkan jalan berkelok agar kita memperoleh banyak pengalaman di dalamnya.

Semalam, kami baru saja mengunjungi seorang guru. Lama tak berjumpa. Seorang guru, yang telah banyak menginspirasi murid-murid lainnya. Bahkan saya mengadaptasi sedikitnya impiannya yang tertunda. Yah, terkait passion saya dalam menulis ini. Guru yang lebih banyak menyibukkan diri demi mengembangkan sekolah kami. Guru yang lebih banyak mengajarkan kami arti dari kerja keras.

Serius loh. Selama menjalani kepengurusan di lembaga sekolah dulu, kami banyak dibelajarkan tentang kerja keras. Bagaimana menjalankan kekompakan. Dari merencanakan kegiatan, hingga melaksanakannya. Salah satu kegiatan besar kami, dulu, saya sampai harus bermandikan omelan dan cercaan untuk pertama kalinya. #ngelus dada

“Haha…asalkan jangan cuma itunya saja yang diingat,” ujar Bunda, begitu sapaan akrab kami buatnya.

Tenang saja, Bunda. Saya hanya mengingat bagian itu sebagai bagian uniknya. Untuk hal-hal besarnya, seperti sekarang ini, apa yang telah tercapai dan dipelajari dalam hidup ini, semua berdasar dari pengalaman masa SMA itu, kan? Termasuk segala mimpi-mimpi yang saya rancang hingga kini. ;)

Saya percaya, setiap orang membangun pengalamannya masing-masing dari apa yang telah dilaluinya. Kesalahan hanyalah serupa cara yang benar untuk belajar. Tanpa berbuat salah, orang takkan pernah belajar.

Tak ubahnya dalam menjalani hidup, setiap orang harus menerapkan apa yang telah didapatkannya. Ilmu, pengalaman, keterampilan. Semuanya harus dijalankan sinergi agar mencapai hasil yang optimal.

“Ilmu yang diperoleh sejatinya tidak akan banyak diterapkan di dunia nyata. Padahal yang dibutuhkan dalam dunia nyata itu adalah keterampilan. Skill.”

Saya membenarkan perkataan Bunda.

“Perihal hidup adalah mempraktekkan. Hidup tak butuh orang-orang yang pandai. Hidup membutuhkan orang-orang yang terampil dan kreatif.”

Saya mengangguk. Benar yang dikatakannya.

Banyak dari teman-teman saya yang pada akhirnya hanya berlabuh di penyelesaian kuliahnya. Bagi mereka yang hanya berdiam diri, tidak mencoba berpikir kreatif, tidak akan banyak mendapatkan apa. Tuhan juga tahu siapa-siapa saja hamba-Nya yang akan dibantu. Tuhan punya parameter (pengukur) tersendiri, sejauh mana manusia-Nya sudah berusaha keras. Keajaiban = tekad + usaha keras + doa. Kalau sebatas harapan-harapan yang digantungkan tanpa usaha nyata (dan keras), sama halnya dengan “mengemis” pada Tuhan. Sementara Tuhan sendiri tak suka dengan kata “mengemis”.

Hm..pulang ke kampung, nyatanya tidak semata-mata menenggelamkan kami dalam “kengerian-ditanyakan-kapan-selesai-kuliahnya”. Toh, dari beberapa perjalanan kami, saya masih banyak menemukan teman-teman yang nganggur. Akh, padahal periode kelulusan mereka, jauh melampaui saya. Dan semalam, saya harus menawarkan sedikit bantuan kecil, sesekali diwarnai canda. ;)

#akh, cappuccino saya sudah sampai di tegukan terakhir.

Terampil. Terampil. Terampil. Kreatif.

Yah, ingatlah. Hidup tak membutuhkan kita yang hanya mengandalkan ilmu saja. Setiap orang harus bersaing dengan keterampilan yang mereka miliki. Kita butuh hal-hal demikian, selain tetap menyisipkan idealisme di dalamnya.

“Iya, pastilah. Semoga ketika kalian mencapai apa yang kalian impikan, Kalian masih dengan semangat dan idealisme yang kalian junjung,” tutur Bunda.

“Iyalah, Bunda,” balas teman saya, yang bercita-cita memasuki sistem pemerintahan. Aroma-aroma politisi. Sebelumnya sih sempat berdebat tentang idealisme dan tetek bengeknya yang akan luntur ketika terjadi tarik-menarik dalam sistem. Pokoknya seperti itulah. 

***

Sembari menunggu jemputan dari seorang teman, saya masih duduk di depan beranda ini. Sesekali menengok ayah atau ibu yang membutuhkan bantuan kecil. Jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat beberapa menit. Saya harus bersiap-siap kembali ke Makassar.

Yah, saya akan kembali ke peraduan di kota. Sekembalinya saya dari sana, lagi, saya berharap akan membawa lebih banyak cerita dan pengalaman yang bisa dibagikan. Termasuk “kelulusan” yang sudah lama diidam-idamkan orang tua. #just believe it

*teman saya sudah menjemput, sekarang.

Ps: Maaf, Ayah. Saya membiarkanmu menyiramkan banyak omongan selama beberapa hari ini. Saya mendiamkannya. Beberapa hal, salah kau persepsikan. Dan ketika tiba waktunya, saya akan menyodorkan usaha saya, dan berkata “Inilah yang selama ini saya sembunyikan.”


--Imam Rahmanto--  

Minggu, 03 Agustus 2014

Berpindah adalah Perihal Melibas Masa Lalu

Agustus 03, 2014
Hingga kini, masih disini, di tempat saya selalu menjemput kenangan.

Selain ingin menunggu kepulangan seorang guru (andalan) sekolah kami dari kampung halaman, saya juga memutuskan menetap lebih lama sekadar mengembalikan hawa keberadaan saya di rumah. Hm…meskipun pada kenyataannya saya lebih banyak menghabiskan waktu berkeliling di luar rumah.

Takkala minggu depan paki  balik, Kak. Yah, kapan lagi lama-lama di kampung sama keluargae,” pesan seorang teman lewat messenger-nya.

Benar. Butuh waktu agak lama agar saya benar-benar kembali memperbaiki hubungan dengan keluarga. Dulu, nyaris setahun saya “menghilang” dari peredaran kehidupan keluarga. Bahkan, nyaris pula memutus komunikasi dengan teman-teman lama. Dan namanya perjalanan hidup, sudah seharusnya membelajarkan. Minimal, lebih baik dari sebelumnya. I got it!

Yah, selama menghabiskan waktu di kampung, kita tak akan pernah kehabisan kenangan. Menjemput kenangan. Dari pintu ke pintu. Dari mulut yang terbuka dan mengatup.


Tahu tidak, kenapa kita dianjurkan untuk merantau? Untuk mengubah hidupnya, setiap orang harus berani merantau, keluar dari kampung halamannya. Karena kampung halaman adalah ladang kenangan. Orang yang hanya berada di kampungnya, akan banyak mengaitkan segala hal dengan masa lalunya. Cenderung bakal susah move on. Sementara mereka yang merantau, keluar dari ladang kenangan, akan memulai dari awal dan membentuk kenangan-kenangan baru yang merupa jadi masa depan di tempat yang baru.

Kalau dianalogikan dengan asmara, ya miriplah dengan stay on dan move on. Orang yang senantiasa teringat masa lalunya, akan kesulitan memperoleh masa depan. Berdiam diri di tempat yang sama hanya akan mendramatisir kita untuk mengingat-ingat yang telah lalu dan menyesakkan dada. Nah, bergerak, berpindah, melompat, berlari adalah hal terbaik untuk merancang masa depan. Tentu saja, lebih baik. Dalam Islam pun kita dianjurkan untuk berpindah lewat kata “hijrah”, kan?

You can't have a better tomorrow if you don't stop thinking about yesterday,

Kampung halaman, serupa ladang kenangan, yang takkan tuntas dilibas waktu.

Menjemput kenangan itu…

Dalam dua-tiga hari libur lebaran ini, saya dan seorang teman menjemput kenangan lewat teman-teman lama. Beberapa dari mereka adalah teman-teman yang memang aktif di lembaga sekolah, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Darinya, kami banyak menghidupkan “file-file” di kepala kami yang telah lama tertimbun “sampah-sampah” rutinitas.

“Itu dulu yang acara……….”

“Iya, dulu waktu itu, kita…..”

"Kalau tidak salah si A dan si B dulu...." -__- ada juga aroma-aroma GOSIP yang mulai diobrolkan. Haha...

"Katanya si C sudah anu ya?"

"Anaknya si Bapak X sudah...... "

"Jadi, kapan selesai kuliahnya?" #jlebb banget kan ini?

....dan masih banyak lagi.

Betapa menyenangkannya melintas “mesin waktu”, meskipun waktu sendiri takkan pernah cukup mengabadikan setiap momen pertemuan. Kita hanya berharap punya mantra sihir Harry Potter; Arresto Momentum…


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 02 Agustus 2014

Kunjungan dan Pertemuan

Agustus 02, 2014
Belajen - Kalosi – Cakke – Cece – Sudu – Matua – Wai Butu – Pana – Salubarani – Sangtempe

Nah, garis besarnya, rute seperti itulah yang saya lakoni di momen lebaran di kampung. Sudah saya katakan, bukan? Selagi di kampung, mari jalan-jalan. Bersama seorang teman, saya berkunjung door to door ke rumah teman-teman lain yang masih lekang di kepala. Mulai dari teman saya. Teman dari teman saya. Hingga teman-dari-teman-dari-teman-saya. Bingung, kan? Lah, saya juga agak bingung mutar2 di kampung.

Bagi orang-orang yang berdomisili di Enrekang, khususnya di daerah Duri, pasti mengenal beberapa dari tempat-tempat yang saya sebutkan tadi. Tempat-tempat, yang sebagian besar berada tepat di sisi jalan poros Makassar – Tator. Termasuk, Salubarani dan Tator, yang menurut teman saya, sudah termasuk dalam wilayah perbatasan kabupaten Toraja.

Saya agak menyesal tak punya kamera sekadar mengabadikan beberapa tempat yang saya rindukan di kampung ini. Melintasi jalanannya saja, lereng-lereng gunungnya sudah nampak begitu indah. Bagi orang-orang yang “gila-selfie”, pasti sudah ratusan frame yang bisa dihasilkan dari kampung sini.

Sembari menikmati momennya, saya ngikut dengan teman saya itu. Oke, namanya Taufik Hasyim. Ia ngebet banget untuk disebutkan namanya disini. Rute terdekat, hingga rute terjauh sekalipun. Saya justru berharap bisa sampai ke Tana Toraja, dan sedikit menikmati petualangan disana. Oiya, tanggal 11-13 nanti ada festival budaya disana. Pokoknya, kemana sms atau Ping! membawa kami, kesanalah motor kami menderu. Hahaha….

Dari pertemuan rumah ke rumah itu, saya menyadari bahwa sebuah hubungan memang sejatinya harus dijalin lewat pertemuan. Bukan sekadar berkirim-sapa lewat sms atau telepon. Dengan bertemu, berbagi cerita, saling menertawakan, diam menyimak, tatap mata, kedekatan akan jalin-menjalin begitu eratnya.

Akh, bahkan sekadar diamnya orang yang bertemu itu sudah menyiratkan banyak bahasa.

Nah, lebaran ini nyatanya memang diajarkan buat kita umat Islam saling menumbuhkan kekeluargaan lewat silaturahmi. Silaturahmi itu bertemu, tidak sekadar broadcast pesan “maaf” ke semua orang. Berkunjung, berjabat tangan, sembari meluangkan sedikit waktu untuk mengobrol segala hal. Kalau bisa sembari menyeruput cappuccino.

“Di hari lebaran begini, ya minumannya ya seperti ini,” tutur teman dengan segelas minuman dingin di tangannya. Biasalah, produk minuman berkarbonasi. -_-

Lewat pertemuan, hubungan antar satu sama lain bisa semakin erat. Sungguh ironi kiranya kala mengharapkan sebuah hubungan bisa terjalin tanpa ada tatap mata atau sekadar ucap lisan yang dibangun di dalamnya. Semakin akrab, semakin banyak pula tawa-tawa yang hendak ditularkan.

Hendaknya, kita tak terlena dengan perkembangan teknologi yang berusaha memecah seutuhnya silaturahmi. Tanpa perlu jauh-jauh bergerak, kita dimanjakan dengan fasilitas berkirim pesan secara instan. Padahal, bertemu dan mengobrol dengan teman-teman itu jauh lebih menyenangkan ketimbang hanya memasang emoticon.

Beberapa orang yang sempat menjadi destinasi lebaran kami, bukanlah orang-orang yang selama ini saya kenal di bangku-bangku kuliah. Beberapa diantaranya malah sebatas kenalan teman saya. Yang lainnya lagi, teman sekelas teman saya. Sisanya, ya, tentu kenalan saya, dan teman-teman dari lembaga sekolah, OSIS. Namun, dengan berkunjung atau menjalin lisan dengan mereka, saya merasakan nilai-nilai persahabatan yang cukup erat. Ada juga loh percakapan yang berlangsung selayaknya detak jam dinding yang bergerak perlahan. Heningnya lebih banyak ketimbang bicaranya. Hahaha…

“Langit malam disini serupa kain hitam yang dibentangkan dan ditaburi sinar-sinar kecil yang merupa gugusan samar-samar. Bonusnya, semalam, dengan bulan sabit yang bersinar tanpa malu-malu,” Saya suka memandangi langit malam disini...

“Besok, kemana lagi?” pertanyaan yang nyaris terulang setiap mengakhiri pertemuan.

"Oke, nanti saya Ping!" *sementara jaringan internet suka timbul-tenggelam


--Imam Rahmanto--

Jumat, 01 Agustus 2014

Success or Not (yet)?

Agustus 01, 2014
“Hei, apa kabar?”

Pertanyaan yang lumrah disampaikan ketika bertemu teman-teman lama. Apalagi kalau masih di kampung. Pertanyaan lanjutan pun tak ada habisnya. Sampai pada poin-poin mengulas masa-masa dulu, hingga tiba pada pertanyaan,”

“Apa kesibukanmu sekarang?” dengan kata lain, perihal pekerjaan atau profesi.

Saya, hingga kini masih berkutat dengan dunia perkuliahan. Di saat teman-teman seumuran saya sudah memboyong gelar sarjana ke kampungnyaa masing-masing, atau bahkan ada yang sudah bekerja seadanya, saya masih saja berada pada level “anak kuliahan”. Sejauh ini, saya masih sementara menyelesaikan tugas akhir yang baru di-acc-kan sekira tiga dua bulan lalu.

Wajarlah kalau orang-orang di kampung lantas menanyakan pertanyaan pamungkas, “Sudah selesai atau belum?”. Algoritma pertanyaan semacam itu terus berputar di kepala saya. Bagi kebanyakan orang di kampung, pertanda sukses stadium awal adalah lulus kuliah. Yeah, lulus kuliah. Tak peduli sehabis kuliah mau ngapain. Pokoknya, selesai kuliah dulu lah. Kalau ternyata jawaban yang diberikan adalah “Belum”, maka tidak akan berlanjut ke pertanyaan berikutnya seperti, “Apami mukerja?”

Namun, beberapa teman lainnya di kampung juga masih ada yang belum menyelesaikan kuliahnya. Saling bertukar cerita, mereka pun ternyata orang-orang yang punya kegiatan lain di luar sekadar ngampus saja.

“Masa bodoh kalau orang mau bilang apa. Yang penting kuliah ki bukan sekadar kuliah saja. Ada beberapa prioritas lain, kan? Yang ternyata akan sangat menjanjikan selepas kuliah ta nanti,” kata salah seorang teman.

Benar. Bagaimana pun, sulit mengubah paradigma yang berkembang di masyarakat. Yang kita lakukan cukup dengan berlalu saja, sebagaimana “Anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Tak perlu mempedulikan desas-desus yang berkembang di tengah masyarakat. Pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah dengan membuktikan bahwa kita pun mampu sukses, dalam taraf pengertian yang lebih baik. Dan bukan dalam kungkungan paraadigma di tengah masyarakat yang sudah kuat mengakar.

Setiap orang punya cita-cita, target, impian, yang digantungkannya tinggi-tinggi. (Sumber: google.com)

Hm…sukses ya? Sukses dalam definisi kepala setiap orang itu berbeda-beda. Apalagi dengan kepala yang sudah menyimpan puluhan, ratusan, bahkan ribuan impian yang siap dicapai.

“Wee…sukses mi tawwa saya lihat inie,” beberapa teman punya komentar yang beragam.

Seperti biasalah, bertemu dengan teman-teman menuntut kita untuk bercerita banyak hal, termasuk perbandingan-perbandingan yang dianggap kesuksesan itu.

Sukses apanya ya? Dari sisi studi? Belum layak.  Dari sisi proporsi tubuh? Sangat belum menampakkan hasilnya. Karena, mitosnya, orang-orang yang sejahtera itu bisa dilihat dari kurus-gemuknya badan. Semakin gemuk, katanya sih semakin sejahtera. Apalagi kalau yang gemuk itu adalah badan bagian depan, alias perut. Hahaha…tapi, jangan percaya sepenuhnya. -_-“ Saya justru tidak pernah bisa menggemukkan badan, meski berusaha makan sebanyak apapun.

Lantas, dari sisi pekerjaan? Hm...saya malah ragu, orang-orang di kampung mengerti tentang ruang lingkup pekerjaan sebagai jurnalis. Dari sisi gaji atau penghasilan? Nah, sebagian besar orang di kampung pada kenyataannya masih mengukur kesuksesan dari materi yang didapatkan (bahkan dipamerkan, biasanya dengan rumah mewah). Tak heran, pekerjaan polisi, tentara, dokter, atau PNS masih menempati posisi pertama dalam Hall of Fame sebagai profesi terbaik (orang di kampung). Jangan heran loh ya kalau berprofesi pada peringkat itu, maka untuk melamar anak gadis seseorang itu amat sangatlah mudah.

“Makanya saya mau cari perempuan yang orang Jawa,” tutur seorang teman saya, Taufik. Satu orang ini yang menjadi partner kekonyolan anjangsana selama lebaran.

“Benar juga sih. Bagus itu, tidak perlu panai' tinggi, apalagi titel borjuis,” saya membenarkan ucapannya.

“Iya, seperti kakakku. Menikah ki dengan orang Jawa. Acaranya sederhana sekali ji. Kayak cuma menikah ji di rumah,”

“Kayaknya panai’nya juga ndak tinggi ji deh,” lanjut saya lagi. Hahahaha… 

Setahu saya, turun-temurun, gadis Jawa itu memang terkenal dengan keramahan sekaligus sikap penerimaannya. Kalau kata keluarga saya, nrimo. Apapun pekerjaan suami, mereka rela menemaninya. Duh, romantisnya. Memang sih, seharusnya istri itu lah yang menjadi pemicu kesuksesan suami. Ada kan pepatah yang bilang, “Di balik laki-laki yang sukses, ada perempuan yang selalu berperan.” Jadi, perempuan tidak sekadar menikmati kesuksesan dini seorang laki-laki.

Saya menyukai lirik lagu dari Wali – Yang Penting Halal, tepat pada bagian seorang perempuan yang menyanyikannya,

“Walaupun abang tak punya uang, diriku akan tetap sayang. Yang penting abang selamat di jalan, itu cukup untukku, Sayang.”

Sebagaimana perumpamaan demikian, sukses itu punya pengertian yang relatif. Secara mendasar, sukses berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Sementara setiap orang punya keinginan yang berbeda-beda, kan? Jadi, tak usah mengukur sepatu sendiri di kaki orang lain deh. Cukup gapai saja apa yang diimpikan, diinginkan. Dan merasa bahagialah atas apa yang dicapai dan dimiliki itu. Melihat ke atas, kepada orang lain, cukup dijadikan modal melaju untuk berbuat lebih baik. Untuk bersyukur, kita perlu melihat ke bawah.

Beda kepala, beda keinginan, beda target, beda impian, beda pula kesuksesan yang ingin diraih. Kali saja, ketika saya yang ingin menyukseskan diri dengan mengelilingi dan menjelajahi banyak tempat, teman saya justru sibuk menyukseskan diri dengan mengumpulkan banyak uang. Ingat loh ya, tak semuanya bisa diukur dengan uang, meskipun uang juga sangat dibutuhkan. Atau sukses bisa juga berarti teman-teman saya yang sibuk jadi tim sukses, akhirnya sukses menyukseskan orang lain.

Akan tetapi, seperti kata teman saya, tak usah mempedulikan “desas-desus” orang di kampung. Jalani saja sesuatu yang paling baik demi mencapai impian dan target yang dipatok. Kalau bisa, setinggi-tingginya. Toh, pada akhirnya, orang-orang hanya ingin melihat hasilnya saja.

"Kalau kau mau hidup untuk cari nama di hadapan orang-orang, maka kau tak perlu jadi 'orang',"

Nah, di momen “pulang kampung” lebaran ini, ketika bertemu dengan teman-teman lama itulah, secara tak langsung kita membuat pemeringkatan acak atas kesuksesan-kesuksesan di dalam kepala. Perbandingan-perbandingan dilakukan. Secara tak langsung, ada persaingan yang kemudian tercipta. Meski berkelakar, perbandingan itu terus mengakar dan membuat kita banyak berpikir,

“Sudah sejauh mana saya mencapai kesuksesan sendiri?” 


--Imam Rahmanto--