Sabtu, 05 Juli 2014

"Proposal"

Untuk minggu ini, saya sedang menyukai sebuah lagu yang tanpa sengaja saya temukan di soundcloud. Memang, kata teman, lagu ini adalah lagu lama. Tapi, apa yang ditimbulkan lewat mendengarkan lagu ini merupakan hal baru bagi saya. Batin saya tergelitik dan membuat saya tersenyum (cengar-cengir) sendiri. Di akhir, terkadang akan menimbulkan efek *menghembuskan napas panjang*. #glekk

Lagunya berjudul "Marry Your Daughter". Penyanyinya, kalau tak salah, Brian McKnight. Dari judulnya saja, kita sudah bisa menebak arah lagu ini, tentu tak jauh dari; menikahi seorang gadis. Tapi.. tapi, liriknya yang sederhana dan mengalir santun apa adanya justru membuat saya trenyuh dan tersenyam-senyum sendiri, sembari membayangkan bahwa si lelaki adalah saya, kelak, ketika mendengarnya.



Untuk versi videonya di youtube, klik disini.

Sir, I'm a bit nervous 'bout being here today 
Tuan, aku agak grogi berada disini hari ini
Still not real sure what I'm going to say 
Masih tak yakin apa yang akan kuucapkan
So bare with me please if I take up too much of your time
Maka bersabarlah jika nanti aku menghabiskan terlalu banyak waktu Anda

See in this box is a ring for your oldest
Lihatlah, di kotak ini ada satu cincin untuk putri tertua Anda
She's my everything and all that I know is
Dia segalanya bagiku dan yang kutahu
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Aku akan sangat lega jika tahu bahwa kami punya pandangan sama
Very soon I'm hoping that I...
Sesegera mungkin aku berharap....

Can marry your daughter, and make her my wife
Bisa menikahi putri Anda, dan menjadikannya istriku
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
Kuingin dia menjadi satu-satunya gadis yang kucinta selama sisa hidupku
And give her the best of me 'till the day that I die, 
Dan memberinya yang terbaik dari hingga saat aku mati

I'm gonna marry your princess, and make her my queen
Aku akan menikahi putri Anda, dan menjadikannya ratuku
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
Dia akan menjadi pengantin tercantik yang pernah ada
Can't wait to smile, when she walks down the aisle
Tak sabar lagi untuk tersenyum kala dia berjalan menyusuri lorong
On the arm of her father
Sembari menggandeng ayahnya
On the day that I marry your daughter
Di hari dimana aku menikahi putri Anda

She's been hearing for steps, since the day that we met
Dia telah mendengar langkah-langkah sejak hari kami bertemu
(I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)
(Aku takut berpikir apa yang akan terjadi jika ia pergi)
So don't you ever worry about me ever treating her bad
Maka jangan khawatir tentang aku yang akan melakukan hal buruk padanya

I've got most of my vows done so far 
Sejauh ini aku selalu memenuhi janjiku
(So bring on the better or worse)
(Maka bawalah pada bagian lebih baik atau buruk)
And tell death do us part
Dan katakan kematian memisahkan kita
There's no doubt in my mind
Tak ada keraguan dalam benakku
It's time, I'm ready to start
Inilah saatnya. Aku siap memulai
I swear to you with all of my heart...
Aku bersumpah pada Anda dengan sepenuh hatiku...

The first time I saw her
Pertama kali kulihat dia
I swear I knew that I say I do
Aku bersumpah aku tahu bahwa aku kan bilang bersedia

***

Sumber: googling

Siapapun lelaki, tentu ingin seperti itu. Hanya, terkadang kita harus menunggu waktu yang tepat (sembari menyiapkan perbekalan). Jangan-jangan, ketika mengajukan "proposal" semacam itu kepada ayah si gadis, kita justru ditanya balik, "Seberapa mampu kamu membahagiakan anak saya?"

Kalau pertanyaan semacam itu, nampaknya ada banyak jawaban yang bisa dipertimbangkan argumentasinya. Dari yang biasa-biasa saja, hingga pernyataan yang di-puitisasi. Kalau nekat, bisa juga dengan menyanyi di depan ayahnya... Pertanyaan tersebut mendasar, yang mungkin hanya butuh sedikit ketegasan dari si laki-laki, tanpa perlu penegasan macam-macam lainnya.

Akan tetapi, kalau pertanyaannya sudah lebih spesifik, menjurus, "Apa yang kau punya untuk anak saya?" atau "Apa pekerjaanmu?" atau "Berapa gajimu?", atau sampai pada pertanyaan yang lebih menohok, "Kamu punya mahar berapa untuk menikahi putri saya?" sembari sang ayah merincikan "harga-penebusan" untuk anaknya. #telan ludah sendiri

Apa mungkin ya, suatu hari kelak, peraturan pemerintah ataupun adat ataupun lainnya, cukup mematok pernikahan dengan mahar; Seperangkat Alat Shalat, dibayar tunai?! tak perlu ditambahi macam-macam dengan seperangkat kendaraan mewah, sepetak sawah, hingga segepok uang tunai. 

Tentang pernikahan, tak semudah orang membahasakan 'suka-sama-suka'. Tak segampang memadu janji 'asalkan-kau-cinta'. Tak segombal layar tivi yang selalu berucap 'hanya berbekal cinta' untuk bisa menikahi gadis pujaannya. Bahkan tak seindah yang selalu dibayangkan perempuan di luar sana, bahwa ia akan menunggu, dan laki-laki (yang katanya didamba dan dipujanya) akan datang melamarnya.

Perihal bertemu dengan keluarga dan membuat komitmen itu yang harus dipikirkan matang-matang, bersama, karena bakal dipikul berat-berat di kemudian hari. Bahkan, perihal "hope to marry her" belum tentu berbuah persetujuan, sekalipun dari si gadis sendiri. 

Seandainya saja ada banyak perempuan yang dengan mudahnya mampu mengucap,

"Tak perlu berpikir tentang pekerjaan atau kehidupan kita kelak, asalkan aku bisa selalu mendampingimu dalam susah ataupun senang,"

dan menentang banyak syarat yang diajukan ayah dan ibunya (yang memberatkan), maka betapa bahagianya hidup lelaki. Sungguh, kata-kata itu layaknya air es yang menyirami keragu-raguan di hati setiap laki-laki.

Tunggu, pada kenyataannya itu juga belum cukup! Persetujuan dan komitmen yang dibuat dengan si gadis tak selalu cukup untuk mengajukan "proposal". Karena kalaupun ada, orang tua si gadis lah yang akan menuntut dan (lagi-lagi) akan menghujani lelaki dengan pertanyaan tadi. Ck...sungguh kehidupan tak lurus-lurus amat. Disadari atau tidak, memang, tuntutan orang tua itu memang demi melihat anaknya berbahagia. Padahal, rasa sayang orang tua terkadang amat berlebihan hingga melewati batas standar yang diinginkan anaknya sendiri. Bukannya yang berlebihan memang selalu tak baik ya?

Hm...lirik lagu itu pas memprediksikan apa yang akan dialami seorang lelaki. Mengajukan "proposal" hidup kepada ayah si gadis pujaannya. Entah ditolak atau diterima. Kok, keinget sama proposal skripsi, ya? -_-"

Untuk seluruh lelaki di dunia, mari mendambakan kisah yang sederhana nan bermakna. Menyatukan hati amat dekat namun tak bersyarat muluk. Mempersiapkan bekal, yang tentunya butuh waktu, entah seberapa lama. Hm...kita menginginkan yang sederhana. Sesederhana kita mengucap,

"Om, saya ingin melamar anak Anda, bolehkah?"

(bahasanya agak norak? Ya iyalah! Masa iya kita mau mengajukan lamaran dengan bahasa Inggris, seperti lagu tadi? Bayangkan coba... -_-,)


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Waw, Imam, ternyata lagu ini toh yang bisa bikin kamu nulis sedalem ini, hahaha. Selain lewat soundcloud, kamu juga bisa sering dengerin lagu itu di indomar*t loh. Soalnya Indomar*t di sini sering muter lagu itu, hehe :D

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Hahaha...
    Perasaan biasa aja deh, nggak dalem2 amat. -__- Eh, tapi ada banyak lagu2 kerena lainnya juga loh, tapi yang bikin saya agak tergelitik yaaa ini. :D

    BalasHapus