Kamis, 31 Juli 2014

Segalanya Nostalgia

Juli 31, 2014
Brrr….

Brrr…dinginnya minta ampun. Pernah mencoba mencelupkan tangan di air berisi bongkahan es pagi-pagi? Nah, begitu “rasa” air di kampung ini, “rumah” saya pulang melepas kerinduan. Brr…saking dinginnya, saya tak bisa tidur tanpa selubung yang menghangatkan badan. Minimal ya sarung atau selimut. Brrr

Begini saja perbandingan suhunya. Cappuccino panas yang saya seduh di pagi hari, di rumah, hanya butuh waktu 3-4 menit untuk menghangat hingga menjadi suhu normal. Sementara kalau di Makassar, cappuccino panas bisa bertahan temperaturnya 7-10 menit lamanya. Makanya, menyeruput Cappie di rumah rasanya tak cukup jika hanya segelas. Tapi, kenikmatannya sungguh terasa loh. Apalagi berhadapan dengan udara pagi yang dinginnya..brrrr...membuat badan menggigil. Hahaha…. Apasih? Ini kok jadi kagak nyambung ya analoginya? -_-

Ini penampakan pegunungan ketika melakukan perjalanan ke Enrekang "Duri". Kalau punya waktu, berliburlah
ke kampung yang telah membesarkan saya. (Sumber: detik.com)

“Jadi, kita’ asli Enrekang ya?” tanya seorang teman lewat pesan singkatnya.

“Jadi, lebarannya di Makassar atau Surabaya, Mam?” pesan yang lain menyusul dari orang yang berbeda.

Akh, terkadang saya sendiri bingung mau menyebut saya aslinya berasal dari mana. Karena kenyataannya, kedua orang tua saya adalah orang Jawa tulen. Bahkan, semua anak famili ada di Jawa. Sementara, saya lahir dan dibesarkan di lingkungan orang-orang “Duri” di pegunungan Kabupaten Enrekang.

Jadi, kampung halaman saya ada dimana? Hm…entahlah. Bagi saya, kampung halaman bukan soal dimana kita pertama kali dilahirkan ke bumi. Bukan pula soal darimana orang tua kita berasal. Melainkan, kampung halaman adalah tempat dimana kita bisa melepas kerinduan dengan kedua orang tua hingga sanak famili.

Sejujurnya, di Jawa pun saya tak banyak mengenal sanak keluarga. Bapak dan ibu yang merantau hingga tempat kami bernaung sekarang, agak sulit untuk menjadwalkan “pulang kampung” setiap tahun. Biasalah, masalah finansial. Hingga kini, saya bahkan bisa menghitung jari berapa kali kami mengunjungi kerabat di Jawa. Terakhir kali, ketika saya menginjak tahun ketiga kuliah di Makassar. Gara-gara itu, saya menargetkan kelak akan mengunjungi kakek dan nenek di Jawa dengan modal sendiri, pengalaman sendiri, nge-backpacking ria. Seru sih nampaknya..

Brr…pagi-pagi mengetik postingan begini, jari-jari tangan rasanya tak mau bersahabat. Pagi hari, udara masih dingin. Udara biasanya baru mulai menghangat di atas jam 10-an.

Saya sendiri bingung mau mengepos tulisan ini kapan dan bagaimana. Perkaranya, untuk memperoleh jaringan internet di daerah perkampungan begini cukup sulit dan agak mahal. Saban hari saya hanya bisa memanfaatkan akses internet untuk Blackberry Messenger a.k.a BBM. Bayangkan saja, kuota 10-20 MB kalau dimanfaatkan untuk mengakses browser akan ludes dalam jangka……. tak-cukup-sejam! Kalau sudah habis, tanpa disadari, ikut raib pula pulsa yang tersisa. Itu hanya untuk penggunaan mobile saja ya. Saya agak ngeri kalau mau menghitung penggunaan internet lewat komputer atau notebook. #Cari modem. Modem, mana modem??!!

Kalau sudah di kampung begini, saya jadi ingat masa-masa sekolah dulu. Masa SD, SMP, SMA, bahkan hingga taman kanak-kanaknya. Kata teman, selagi di kampung, ya dimanfaatkan saja untuk reunian. Jarang-jarang loh ya bisa pulang kampung. Pekerjaan dan kuliah di Makassar begitu menyibukkan. Betapa rutinitas mampu mengambil alih ingatan (dan hati). Obat bius paling mujarab bagi orang yang ingin menghapus ingatan. Sampai-sampai kita tak ingat lagi kapan harus berkirim kabar ke kampung halaman.

Ada banyak tempat yang bisa di-nostalgia-kan. Teman lama. Sahabat lama. Geng lama. Sekolah lama. Warung-warung lama. Bukit-bukit usang dengan pepohonan yang masih sama. Pun, udaranya tak banyak berubah. Kisah lama. Otomatis, semua berlabel “DULU”.

Oh iya, karena pulang kampung jadi trending, maka ramai-ramailah orang di media sosial pasang/ ganti/ update/ upload segala hal yang berbau kampung halaman. Tak perlu heran, biar kesulitan memperoleh sinyal, banyak pula teman-teman saya di jejaring sosial yang ramai-ramai “tanding-status” ataupun “tanding-foto” demi menampakkan bahwa, “Saya sedang bersenang-senang di kampung halaman.” Hahaha…as tradition…

Pun, saya ingin memanfaatkan momen lebaran dan liburan ini untuk mengunjungi the old puzzles in my lifes. Kalau kata teman sih, merasakan “romantisme kampung halaman”.

Kalau yang dimaksud dengan romantismenya itu adalah sehubungan asmara anak-anak ABG dulu, saya perlu mengibarkan bendera putih deh. -_-. Haha...saya tak punya rekam jejak atas hal demikian. Namun, saya menganggap romantisme itu hanya sekadar tolok ukur kedekatan dan kekeluargaan di kampung halaman saja. It’s right!

Seperti saya katakan, ingin merasakan udaranya. Menginjak tanahnya, tempat saya dulu berpijak dan berlarian. Bangunannya, tempat saya biasa melewatkan pandangan. Jalan-jalan beraspalnya, yang masih saja sama lebarnya. Hangatnya persahabatan dan kekonyolan yang dilakukan dengan teman-teman. Biasalah, anak-anak ABG di kampung tidak se”dewasa” ABG di perkotaan. Pasarnya juga, yang sudah banyak mengalami renovasi disana-sini.

Apalagi, kata Pak Bupati kemarin, pasar sentral terbesar di Kebupaten Enrekang ini akan memperoleh gelontoran dana belasan miliar. FYI, Pak bupati yang belum genap tiga bulan menjabat adalah orang asli kampung disini. Bahkan, rumahnya (yang paling besar) tak jauh dari rumah kami. hanya terpaut belasan meter. Eh, eh, anak laki-lakinya juga adalah teman sekelas saya waktu SD dulu. Entah bagaimana kabarnya sekarang.

Selagi di kampung, beruntung, seorang teman dengan senang hati rela ikut-ikutan “menjadi muda” dengan saya. Teman saya satu ini, seperti yang saya duga dari perkembangannya lewat media sosial, aktif dengan kampanye politik sebagai seorang tim sukses. Ckck… Hari-hari setelah lebaran, kami lalui dengan berkunjung kesana-kemari. Mencoba memilah, kisah-kisah mana saja yang pantas untuk dikunjungi satu per satu. Sembari menertawakan kekonyolan-keonyolan masa labil dulu. Tak lupa, tentu saja, dengan membangun dan membagi impian lewat cerita-cerita yang dipertemukan di kampung ini.

“Eh, kayak jadi anak ABG ki lagi? Yang kerjanya habis lebaran pergi mang siara (anjangsana) kemana-mana. Icip-icip sajian lebaran,”

“Hahaha…maumi diapa,”

Rasa-rasanya, ketika menginjak kampung halaman, semua ingatan kembali disentak menuju masa silam. Semua hal pasti dihubungkan dengan kepingan masa silam. Apapun yang ditemui, se-sepele apapun, nampaknya selalu memiliki benang merah untuk menyeberang ke masa lalu. Time Warp. Pernah mengalaminya, bukan? Seperti halnya ketika kita hanya melewati sebuah bangunan, jalan, atau menyaksikan pohon, lantas pikiran akan berlomba-lomba mencari ingatan akan hal itu. Sama pula halnya ketika kita hanya mendengarkan sebuah lagu, dan lagu itu terasa spesial karena memiliki kaitan erat dengan masa-masa silam.

Selagi di kampung, nikmati saja sebanyak apa nostalgia yang dibutuhkan… 

Bukannya setiap orang butuh bahan bakar untuk merancang masa depannya ya? Butuh melihat ke belakang untuk menyeberang ke depan. Layaknya pegas yang harus ditarik dulu ke belakang, agar bisa memental jauh ke depan. Pun, untuk melompat jauh ke depan, para atlet juga butuh ancang-ancang dengan mundur beberapa langkah.

“Biar mi lama-lama di kampung. Kapan lagi ki bede bisa makan banyak daging, kalau bukan lebaran? Kapan lagi ki bisa ketemu teman-teman ta dulu, kalau bukan liburan begini? Nikmati mi saja.”


Ps: Untuk sementara, kita abaikan “algoritma” pertanyaan pamungkas setiap kali menginjak kampung, seperti, “Sudah selesai kuliahnya?” Erghh… -_-“


--Imam Rahmanto-- 

Jumat, 25 Juli 2014

Mari Pulang

Juli 25, 2014
*beberapa jam sebelum mulai meninggalkan kota menuju kampung halaman domisili kedua orang tua saya.

Sepi. Redaksi yang menjadi tempat saya bernaung telah ditinggalkan para penghuninya. Satu per satu, sejak kemarin, mereka pamit pulang ke kampung halamannya masing-masing. Sebentar lagi lebaran. Tak nyaman rasanya bila di hari raya yang sekali setahun itu tidak berkumpul bersama keluarga tercinta.

Saya pun demikian…

Saya akhirnya merindukan rumah. Merindukan keluarga. Merindukan semuanya. Setiap kali menyaksikan iklan-iklan lebaran di televisi, entah kenapa saya terbawa auranya. Betapa membahagiakannya bisa berkumpul dengan keluarga besar; ayah, ibu, saudara, paman, tante, kakek, nenek sembari mencicip sajian hari raya. Tapi itu mustahil. Kami tak punya kemampuan untuk pulang ke kampung halaman ayah dan ibu di Jawa.

Tahun kemarin, saya justru melewatkan dua perayaan lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha) di kampung. Saya tak pulang. Saya menyengajainya. Bahkan untuk menelepon keluarga pun tidak. Beberapa sms dan panggilan telepon menghiasi waktu-waktu lebaran saya di kota. Ada sms makian, telepon dari nomor-nomor tak dikenal (yang saya abaikan saja), hingga permintaan untuk “kembali” pulang.

Beberapa hal yang dilalui memang patut dijadikan pelajaran, tidak sekadar kenangan indah atau pahit.

Sumber: google.com

Tiga hari lagi jelang lebaran, esok lusa, saya akan pulang…

Saya tak ingin melewatkan perayaan Idul Fitri kali ini. Saya pulang demi menepikan ego. Saya pulang menepis segala ketakpercayaan ayah. Adik saya, selalu menanti kepulangan kakaknya, meski tak menghadiahkannya apa-apa. Ia hanya mengharap seulas senyum dan sdikit perkataan menyebalkan dari kakaknya. Ibu pula yang selalu memiliki segudang harapan untuk anaknya tercinta. Seorang ibu yang tak mempelajari ilmu di sekolah, tapi ia tahu menyekolahkan anaknya lewat sekolah kehidupan.

Menjadi seorang ibu, bukan tentang seberapa banyak pendidikan atau ilmu yang didalaminya. Perasaan dan jiwa anaknya, secara tak langsung, khatam dipelajarinya lewat kandungan yang memberat 9 bulan lamanya. Menjadi seorang ibu, adalah tentang menyayangi dan mengerti anaknya hingga tulang sumsum terakhir. 

Ego apapun tentang “aku” yang ada pada diri saya, kini, harus diruntuhkan untuk sementara waktu. Entah sampai kapan. Ayah masih belum bisa berlaku apa-apa. Penyakit yang telah menggerogoti saraf dan pergerakannya setahun lalu tak kunjung mereda. Biarlah, saya mengikuti arus keinginan ayah dan ibu, sembari tetap menyelipkan selembar doa dan harapan di dalamnya.

Namun, kalau saya mengingat-ingat, di Ramadan yang nyaris berlalu ini, satu Al Quran pun luput untuk saya tamatkan. Semangat saya mandek hanya pada juz 11. Padahal, saya betapa berharapnya kembali mengulas masa sekolah saya dengan mengkhatamkannya. Dan lagi, shalat tarawih pun masih cenderung bolong-bolong. Apa, seperti ini, Tuhan akan menamatkan permintaan saya? Semoga...

Saya tetap pulang.

Saya tak peduli lagi dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan yang akan menimpa saya disana. Saya tak perlu malu lagi bertemu dengan teman-teman lama yang kini sudah “menganggur”. Toh, sekarang saya memang belum menyelesaikan studi, tapi setidaknya saya telah bekerja pula. Atau saya juga tak perlu malu bertemu dengan teman-teman yang sudah berpasangan hingga berkeluarga. Saya pernah bertemu dengan orang yang saya anggap tepat, namun yang justru tak menganggap saya tepat.

Apa kerinduan ini mencekam?

Tidak. Saya hanya ingin berkumpul dengan keluarga di hari yang fitri. Sungkem dengan orang tua yang pernah saya tinggalkan. Menghapus titik hitam yang pernah saya torehkan. Apa yang diharapkannya masih belum bisa tercapai hingga kini. Setidaknya, saya telah berusaha dan tak lagi ingin memberatkannya. Karena kerinduan yang mencekam, adalah kerinduan yang tak terbatas dan tak berbalas.

*Maafkanlah diri di hari yang fitri…


--Imam Rahmanto--

Senin, 21 Juli 2014

(Duh) Dulu, KKN itu…

Juli 21, 2014
Pagi

Akhirnya, bisa bertahan juga hingga matahari terbit, yang serupa menawarkan kerinduannya. Hm, sudah beberapa kali saya kecolongan tidur di waktu seperti ini, dan melalaikan “pagi”. Ck…saban puasa ini, pengaruh tidur selepas Subuh selalu saja menyerang. Tak pandang bulu. Tua muda. Laki-laki perempuan. Benar loh. Bahkan perempuan yang biasanya bangun lebih pagi  (dan lebih mudah) dari para lelaki, ikut terbuai dengan pesona lelap pagi. #tepok jidat

Padahal, saya merindukan pagi-pagi di bulan Ramadhan seperti ini. Saya rindu dengan jalan-jalannya. Saya rindu menghirup udaranya. Saya rindu dengan suasananya. Saya rindu mendapati anak-anak kecil, di depan rumah Pak Haji (sekaligus anak-anak tetangganya), yang sudah menunggu pagi-pagi hendak diajak jalan-jalan. Saya rindu dengan duduk-duduk, menanti pagi di loteng rumah Pak Haji, di atas menara penampungan airnya. Menyaksikan cakrawala di pelupuk atap rumah penduduk, yang gelap-menjingga-memerah-memudar-menerang hingga mencercah benderang. Sesekali mencuri pandang ke arah rumah di sebelah selatan yang hanya berjarak sepelemparan batu. Saya. Merindu…

Inilah keisengan kami lepas KKN. Entah siapa yang memulainya, tapi semuanya kena. Dan itu... awesome! *Satu-
satunya posko yang almamaternya dijadikan ladang tanda tangan. :D
Bagaimanapun, kisah-kisah di masa pengabdian saya itu sudah berakhir, nyaris setahun yang lalu. Kini, berganti dengan generasi-generasi baru. Teman-teman saya (baca: adik junior), lebih banyak bercerita tentang persiapannya menjalani kisah baru di lokasinya masing-masing. Antusias. Mereke bertanya sana-sini tentang tetek-bengek KKN. Dengan detail, dan sengaja merampas kembali “kotak hitam” saya dari ingatan. Serupa "Adam Air" yang hilang, saya telah lama menenggelamkannya. Bukan karena tak suka, tapi saya harus menerima bahwa tak semuanya harus diingat rapat-rapat. #apasih

“Apa yang dikerja kalau KKN?” seorang teman pernah bertanya. Antusias sekali.

Banyak. 

Versi Ramadhan: 
- Menanti berbuka puasa, ngabuburit ke tempat-tempat baru. Semakin jauh, semakin menarik
- Berbuka puasa rame-rame
- Main kartu
- Shalat Isya berjamaah dan tarawih di masjid lokal
- Main kartu, atau ngumpul sama teman-teman posko
- Tidur
- Sahur rame-rame
- *back to: 1
- *Bonus: Rapat seadanya - Kegiatan Ramadhan (seadanya) untuk warga sekitar; lomba dan sejenisnya – Pesantren Kilat di sekolah 

Versi non-Ramadhan:
- Makan
- Tidur
- Hang-out di tempat-tempat baru. Semakin jauh, semakin menarik
- *back to: 1
- Bonus: Rapat seadanya – Menjalankan program kerja KKN (seadanya)

Bahkan ada anekdot yang berkembang bahwa KKN itu sejatinya ajang mencari jodoh. Banyak pasangan-pasangan hidup yang berumah tangga awalnya dari petualangannya di masa-masa KKN. Hm…bagi saya, antara percaya dan tidak. Antara ada dan tiada. Itu saja.

Banyak hal yang telah saya lalui dalam menjalani masa pengabdian di tanah orang. Termasuk bagi orang-orang yang selalu ingin belajar. Sejatinya, tempat-tempat baru memang menawarkan banyak pengalaman baru. Saya takkan pernah menepisnya, jikalau di tanah orang itu saya pernah mendapatkan banyak pengalaman berharga. Bahkan, hingga kini, satu bagian dari saya masih tetap menengok ke tanah pengabdian itu.

Saya ingat…

Betapa “bandel”nya saya di KKN dulu, Pangkep. Bayangkan, saya baru tiba di lokasi KKN lepas seminggu pemberangkatan awal. Pun, setibanya disana, tidak berselang seminggu, saya kembali lagi ke Makassar. Tidak berselang seminggu, saya tiba lagi di Pangkep. Tidak sampai seminggu lagi, saya ke Makassar. Bolak-balik itu, menjadi agenda mingguan saya hingga KKN usai. Padahal, jabatan saya kala itu adalah sekretaris Kabupaten. Ckck..

Akh, se”bandel-bandel”nya saya, Tuhan masih tahu bagaimana menciptakan keajaiban bagi manusia yang mau bekerja keras. Dikarenakan seminggu awal kehadiran di posko saya belum menampakkan batang hidung, teman¬-teman nyaris mencoret nama “Imam Rahmanto” dari daftar peserta KKN. Katanya sih, di waktu kunjungan (survei) ke sekolah tempat mengajar kami, SMAN 2, yang kelak selalu menjadi tempat saya “kembali”. Beruntung, teman lainnya mencegah dengan persetujuan dari dosen pembimbing pula.

Oh iya, dua kali dosen pembimbing hadir memantau di lokasi KKN, saya juga tak pernah hadir. Dosen saya itu, salah seorang dosen di jurusan Matematika dan cukup mengenal saya, (dengan aktivitas pers kampus yang saya geluti). Duh, betapa sialnya.

Karena begitu “bandel”nya, saya pernah menerima pesan singkat dari teman posko, koodinator, yang cukup membuat saya terperanjat dan agak dongkol. Pada dasarnya mereka larut dalam ketidaktahuannya tentang apa yang saya lakoni, di luar KKN.

“Pilih Profesi atau KKN?” 

Betapa menyakitkannya ketika orang-orang hanya mengadili kita dari sudut mata apa yang nampak saja. Mereka tak pernah tahu apa yang terjadi di belakang layar. Mungkin, karena ketidaktahuan itu, mereka tak ingin turut merasakannya. Sungguh. Orang-orang takut, karena tidak tahu.

“Saya memilih keduanya. Namun, jika saya benar-benar diharuskan memilih keduanya, saya akan memilih Profesi, ketimbang memilih sesuatu yang belum jelas bagi saya. Sesuatu yang bahkan untuk mengenal saya pun, enggan. Disini, saya justru dekat, dan kalau boleh dibilang, lebih menjanjikan.”

“Tapi, ketika saya benar-benar harus memilih, saya akan tetap menjalani kuliah saya itu. Terserah apa penilaian kalian. Tak peduli seberapa banyak kalian akan mengucilkan saya. Tak peduli seberapa sinis pandangan kalian terhadap saya. Saya tak peduli. Saya akan tetap menjalankannya, sebisa mungkin, hingga berakhir.”

Entah seperti apa perasaan teman saya ketika menerima pesan "menantang" demikian. Saya benar-benar “memuncak” kala itu, dan tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi. Usai menjalankan kewajiban (pers kampus) di Makassar, saya kembali dengan perasaan “masa bodoh”, dan tentu saja tetap “tangan terbuka” berusaha menarik persahabatan dengan mereka, yang tidak percaya. Segala hal yang paling saya butuhkan, trust. #just believe me.

Tentang kesibukan di luar KKN, saya sudah menceritakannya kepada teman-teman. Beberapa dari mereka, harap maklum. Namun, lainnya lagi, tentu masih belum sepenuhnya percaya kepada saya. Perihal menjalani aktivitas di dua tempat berbeda, teramat sulit. Kalau saja saya bisa meminjam jurus Naruto, “Kage Bunshin No Jutsu!”

Saya memakluminya sebagai sesuatu yang memang akan berjalan seadanya. Di beberapa kesempatan program kerja, saya tak bisa turut hadir membantu. Di beberapa hang-out bersama, saya tak bisa ikut meramaikan. Di beberapa pertemuan atau rapat, saya tak bisa menimpali. Hh, kebencian itu, mungkin sebentuk transformasi wujud “kerinduan” mereka terhadap salah satu teman KKN di posko. Cara menyampaikannya saja yang salah, kepada saya.

Wajar ketika “hidup” disana, saya lebih banyak bergaul dengan anak-anak tetangga. Mereka anak kecil, lebih menerima orang lain apa adanya. Lebih banyak bercengkerama di depan rumah bersama Pak Haji, ngobrol ngalor-ngidul. Lebih banyak jalan-jalan (sore dan pagi) sendirian. Sekali-kali, saya ditemani anak-anak disana. Berkeliling kompleks, menyaksikan warga bermain volley. Jikalau hendak ke Makassar, saya hanya pamit kepada diri sendiri. Pun, secara tersirat, saya tak lagi (sekaligus enggan) menganggap diri sebagai sekretaris kabupaten. Saya cukup sadar diri.

Betapa saya paham betul rasanya canggung dikucilkan. Ditatapi mata-mata yang penuh keheranan, seolah-olah bertanya,

“Ini siapa? Kok baru muncul?”

Selamat datang rombongan rektor. :) (dok.)
Saya seakan teralih dari dunia KKN yang sebenarnya. Obrolan-obrolan ringan yang saya ciptakan, terkadang tersapu angin yang berhembus begitu saja.

Orang lain menganggap, saya tak benar-benar merasakan “nikmat”nya KKN. Namun saya menganggap, saya dibelajarkan untuk dewasa disana.

Mengatasi semua itu, saya melakukan segala hal yang dibutuhkan untuk betul-betul mengabdikan diri disana. Apapun pekerjaan yang diberikan, saya menerimanya dengan legowo. Asalkan tak bertabrakan satu waktu dengan kehidupan dunia pers saya. Segala tugas, dari menjadi ketua panitia, hingga pembicara di depan umum, saya lakoni. Haha…bahkan ketika rombongan Pak Rektor berkunjung ke Pangkep, supervisi KKN, tanpa meminta, saya didaulat menggantikan Koordinator Kabupaten untuk melaporkan KKN di kabupaten kami. Kesempatan yang luar biasa.

"Berjalan di luar zona nyaman lah yang membawa banyak pembelajaran. Perubahan. Kita akan paham arti kata kerja keras. Kita paham bagaimana keajaiban diciptakan. Kita akan paham bahwa dari masalah, harus dijamakkan dengan ‘menyelesaikan’ dan ‘memecahkan’”

Tempat saya tertawa lepas. Lihat saja, sandalnya keren. #ehh. Patut dicontoh. -__-". (dok.)

Satu-satunya penghiburan adalah di saat saya mengajar di kelas. Entah bagaimana caranya, murid-murid di kelas Aljabar dan Einstein bisa menjadi pengubung rasionalitas dan emosi saya kembali. Saya senang berbagi dengan mereka. Berbagi cerita. Berbagi ilmu. Berbagi kekonyolan. Berbagi tawa. Berbagi olok-olok. Berbagi gosip. Hingga berbagi rindu.

Untuk pertama kalinya pula, saya disadarkan tentang arti menyayangi oleh mereka. Saya dicerabut dari rasionalitas saya. Meskipun sekadar olok-olok, namun hal itulah yang menjadi benih sesuatu berlabel perasaan yang tumbuh hingga kini. Bahkan menjadi sedikit pemantik untuk tetap berjuang di garis batas “sinisme” saya di lokasi. Haha… :D. Sudahlah. -_-"

Saya pikir, KKN bukan lagi soal kita menikmatinya atau tidak. Sepenuhnya menikmati waktu-waktu santai disana. Tidak. Tapi, KKN justru tentang belajar mandiri, jauh dari keluarga, dan paham tentang masalah. Setiap mahasiswa diterjunkan sebaiknya tidak hanya sekadar KKN = Kuliah Kerja Nyangkul. Sejatinya, mereka harus menemukan sendiri, sesuatu yang tersirat akan pengalaman mereka di tanah orang. Kalau bisa, menjadi orang yang selalu dinantikan kehadirannya.

Rentang dua-tiga bulan menjalani masa pengabdian itu, saya melebur dengan teman-teman lainnya. Masing-masing sudah mengenal satu sama lain. Dan ketika perkenalan itu tidak hanya sebatas pandangan mata saja, pengertian yang lebih dalam akan terjalin, hingga merupa menjadi sosok perhatian. Akh, sejujurnya, saya pernah merasakannya.

Nah, seberat-beratnya SKS tanggungan mata kuliah KKN, ada prioritas yang mesti dijalani. Sebahagia-bahagianya anak-anak KKN zaman sekarang, saya hanya bisa melakukan perjalanan ke masa lampau dengan memory di kepala. Menyusuri lorong ingatan itu, sudah cukup memberikan seulas senyum di bibir saya. Untungnya, pipi tak ikut bersemu merah…


Inilah kami. Menyebut diri dengan label "Doank". Apa adanya, di tahun kemarin. Just to remember it... (dok.)


--Imam Rahmanto--

Ps: pagi masih terasa ketika saya melihat status unduhan “99 Cahaya di Langit Eropa” di layar laptop; Completed. Satunya lagi masih dalam proses mengunduh. Ready to watching!  

Selasa, 15 Juli 2014

15# Euforia Juli

Juli 15, 2014
Piala Dunia 2014 baru saja berakhir. Nyaris bersamaan dengan suksesi Pemilihan Umum Presiden republik kita tercinta. Yah, beruntung juga kedua momen besar itu segera berakhir. Bagaimana tidak, saban hari di jejaring sosial, terlihat orang-orang saling menghujat, saling mengunggulkan andalan masing-masing, saling lempar perdebatan, baik Piala Dunia maupun "Piala Presiden". Semua orang seakan-akan menjadi "full-mainstream". Ada juga tuh orang-orang yang jadi "komentator dadakan", ujug-ujug punya idola meskipun tak tahu latar belakangnya. Asalkan ikut rame-rame, katanya.

Saya bukanlah orang yang termasuk dalam golongan mainstream itu. Saya justru lebih suka jadi anti--mainstream. Yah, saya kerap kali tidak menyukai hal-hal yang disukai banyak orang. Aneh ya? It's me. Sama halnya dengan perkara "menyukai". Kalau ada seorang perempuan yang banyak ditaksir lelaki, saya cenderung lebih suka menjauh dan memilih untuk "tidak menyukainya". #ehh

Di kala orang-orang ramai berkicau, berganti status terkait Piala Dunia, saya justru tidak menikmatinya. Di kala orang ramai-ramai menonton tivi hanya demi menyaksikan tim andalannya berlaga, saya justru lebih asik menontoninya lewat twitter atau facebook. Kalau Google+ belum seramai itu. Sesekali kalau lagi bosan, saya menjelajah musik-musik keren di soundcloud.

Ditanya terkait tim andalan di piala dunia, maka hanya bisa menjawab seadanya saja. Yang terpikir hanya tim andalan yang biasanya saya pakai di game Play Station. "Inggris, Brasil, atau Argentina?" Dulu mah zaman-zamannya massih ada Crespo. Ditanya klub, pikiran saya juga menerawang hal yang sama. "Chelsea, Arsenal, atau Juventus". Tapi, Juventus nampaknya sudah mulai aus deh. Saya dulu masih semangat-semangatnya dengan Del Piero. Hahaha... sudah lama be-ge-te ya ingatan saya.

Kemarin, pas pertandingan final Piala Dunia, rencananya mau ikut menyaksikan laga terakhir antara Argentina dan Jerman. Kapan lagi coba.

"Ayo, Kak, nonton laga terakhir. Kapan lagi bisa nonton pertandingan piala dunia yang cuma sekali dalam 4 tahun. Lama loh ditunggunya," ajak salah seorang rekan saya. Mendengarnya, saya hanya senyum tak jelas.

Tapi, dorongan menonton itu ternyata tak cukup kuat. Saya justru menikmati browsing-browsing saya. Ya sudahlah. Hasil akhir pertandingan pun saya ketahui dari berita-berita online dan status-status online di dunia maya.


Berakhirnya Piala Dunia dan Pilpres, masih disambut dengan permasalahan saudara muslim kita di Palestina. Di ujung negeri sana, mereka sedang berjuang membebaskan diri dari "penjajahan" Israel. Orang-orang ramai membagikan gambar atau foto yang menyajikan kebiadaban bangsa Israel di jejaring sosial. Gambar-gambar itu.... membuat ngeri, jijik, hingga rasa simpati bercampur sekaligus. Yang saya herankan pula, masih banyak pula yang memberikan "LIKE" atas postingan itu?

Semalang-malangnya nasib bangsa saudara kita di Palestina, tidak seharusnya dikonfrontasikan dengan cara demikian. Menarik simpati dan empati orang lain tidak semestinya dengan membagikan gambar-gambar seperti itu? Saya justru menarik hipotesis, mereka yang membagikan postingan demikian justru orang-orang yang tak mengenal rasa kemanusiaan. Seenaknya saja memperlihatkan foto-foto dengan wajah tertembak, batok kepala pecah, usus terburai, kaki patah dan berdarah, puluhan jejer anak-anak yang mati. Apa mereka sendiri tidak tahu etika ya?? Pun, ini sedang bulan Ramadhan...

Di dunia tempat saya bergelut, jurnalistik, menyebarkan foto atau berita pun ada etikanya. Foto-foto yang mengerikan, yang hanya akan mengundang rasa ngeri (apalagi untuk anak-anak dan wanita) tidak akan ditampilkan. Yah, tidak akan ditampilkan, tidak peduli betapa menggugahnya kengerian itu. Bahkan, bagi kami, berita-berita yang bisa menimbulkan perdebatan dan konflik SARA amat dilarang untuk diterbitkan.

Kita semestinya tahu, semalang dan sesusah apapun bangsa Palestina, mereka tak pernah ingin merasa dikasihani. Orang-orang muslim yang kuat, tak pernah berharap belas kasihan orang lain. Namun kita, sebagai saudara semuslim, memang wajib membantu, meski tanpa diminta, meski tanpa perlu didorong dengan kengerian-kengerian itu.

Saya miris, apa memang bangsa kita memang begitu gemar menyebarkan foto-foto demikian ya? Selain gemar memamerkan foto-foto terbaiknya. Tidak hanya tentang Palestina. Di momen kampanye capres yang lalu, saya juga banyak menemukan foto-foto yang menimbulkan fitnah. Beberapa diantaranya malah terkesan memojokkan. Jauh di dalam hati, saya berpikir tentang konspirasi-konspirasi yang sebenarnya sedang berlangsung menyelubungi kita. Entahlah.

Daripada menyebarkan foto-foto yang terkesan hoax, akan lebih baik jika mereka yang memang berniat membantu, segera turun tangan. Ya, bisa pula dengan turun ke jalan, berorasi, menyerukan kebenaran. Jangan hanya sibuk browsing gambar sana-sini, share, dengan ditambahi kalimat-kalimat menggugah. Tahu tidak, justru tanpa gambar sekalipun, tulisan yang baik dan layak bisa menggugah orang lain, tanpa diminta.

"Ketika kita memang mencintai, kita dengan sukarela memberi, tanpa diminta. Apapun resikonya..."

***

Akh, saya lagi-lagi teringat dengan "tugas akhir" saya sebagai mahasiswa. Sampai saat ini, saya belum mengubeknya. Meskipun judul dan pembimbing telah di-accepted, namun proses untuk mulai menuliskan "latar belakang", "rumusan masalah", "tujuan", "landasan teori", dan semacamnya belum terlaksana. Hm...nampaknya pekerjaan memulai memang pekerjaan yang paling sulit.

"Ada yang bisa saya bantu untuk proposalnya?" beberapa permintaan serupa berulang menyambangi saya. Dorongan lainnya untuk menyegerakan proposal. Ada beberapa teman (baca: adik jurusan) yang selalu men-support untuk menyelesaikan studi. Mungkin saking bosannya melihat muka saya ya? Hahaha...

Saya sangat menghargai beberapa bantuan yang hendak ditawarkan teman-teman saya itu. Akan tetapi, saya tidak bisa menyorongkan begitu saja hal-hhal yang masih bisa saya tangani. Persoalannya hanya karena saya "belum-sempat" atau "tak-punya-waktu" atau "tak-bisa-bagi-waktu". Miris. Terkadang, pekerjaan, sesederhana apapun itu, bisa menyita waktu sebanyak (yang disengaja).

Oke, oke, secepatnya saya akan mengurusi kewajiban (mahasiswa) yang terbengkalai itu. Baiklah.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 10 Juli 2014

14# Jelang Imsak

Juli 10, 2014
Ketika menuliskan ini, saya masih terjaga. Jelang waktu sahur membangunkan orang-orang yang akan berpuasa hari ini. Dua gelas cappuccino yang masih terasa manis-pahitnya di lidah benar-benar manjur membuat mata saya tetap terbuka, tak mau menutup.

Sebenarnya hal mudah bagi saya untuk tidur dimana saja, dalam waktu kapan saja. Saya tipe orang easy-sleeping. Atau, kalau paling mentok kesulitan tidur, saya tinggal mengambil es batu dari dalam kulkas dan menyampurkannya dengan air putih lantas meneguknya. Dijamin, beberapa menit kemudian, mata saya akan sayup-sayup menutup.

Adalah perkara lain ketika saya memutuskan untuk terjaga subuh ini. Sembari menantikan waktu sahur, saya tak ingin melewatkan waktu pagi (juga). Sederhana saja, karena saya menyukainya. Sudah lama saya tak lagi bisa bangun pagi. Apalagi di bulan Ramadhan ini, godaan untuk tidur merongrong siapa saja. tidur selepas sahur atau shalat Subuh benar-benar melenakan siapa saja. Yah, memang godaan setan selalu nikmat.

Semalam, saya baru saja menyelesaikan tugas liputan yang tertunda beberapa hari. Seperti biasa, di tempat kerja baru; Koran Sindo Makassar, saya harus menyelesaikan liputan per minggunya. Ada beberapa rubrik dalam setiap edisinya yang menjadi tugas (kuasa) saya. Full one page. Semuanya berkisar pada liputan ringan alias softnews. Hah, saya harus lebih banyak memutar-mutar kata untuk jenis berita yang satu ini. 

Terlepas dari waktu peliputannya yang agak luwes, saya tetap menikmatinya. Jangka tugas per minggu cukup membantu kesibukan saya yang masih dalam proses penyelesaian kuliah; skripsi. Bisa dibayangkan, jika saya mengambil tugas peliputan harian, dengan 3-4 berita per harinya, maka kuliah saya akan semakin lama menunggak. Saya, secepatnya mesti menyelesaikan kuliah. Anak pertama, anak yang menghidupi.

“Kamu tidak perlu memikirkan soal biaya, nak. Yang penting kamu cepat selesai kuliah saja, dan segera cari kerja,” masih terngiang-ngiang wejangan ayah kala saya di rumah.

Untuk pekerjaan “kuli tinta” yang telah saya geluti nyaris sebulan ini, saya belum menyampaikannya. Kelak, saya ingin memberikan (dan membuktikan) kejutan bagi kedua orang tua saya, bahwa hidup tak sekadar menyelesaikan kuliah saja.

Saya benar-benar menikmati pekerjaan baru saya. Setiap minggunya, saya akan bertemu dengan orang-orang baru. Ditugaskan untuk liputan tertentu. Kalaupun tidak, hanya rubrik dan temanya saja yang ditentukan. Isinya, cari sendiri.

Tekanan dan tantangan untuk mencari itu yang biasanya membuat saya bersemangat. Sebagai orang yang telah lama bergelut dalam dunia jurnalistik kampus, saya harus tahu dan mampu mencari informasi sebanyak-banyaknya dari clue yang diberikan sesedikitnya. Terkadang, saya memanfaatkan fasilitas Mbah Google. Nomor-nomor telepon yang saling menghubungkan. Bertanya kesana kemari. Berkenalan. Bertemu. Melakukan proses wawancara.

Sesulit apapun jenis liputan yang ditangani, buah manisnya adalah ketika kita mampu menyelesaikannya.

Sebagai orang baru, saya dianjurkan untuk menulis berita dengan ketentuan minimal 1500 kata. Dua angle. Bayangkan, bagi kalian yang tidak tahu seberapa banyak 1500 kata itu, maka silakan menuliskan apa saja dalam 4 halaman Ms. Word (pengaturan kertas default). Sebanyak itu.

“Biar semuanya lengkap. Jadi apapun yang dibutuhkan redaktur untuk proses editing, dia bisa ketahui dari tulisan yang panjang itu,” kata salah seorang pimpinan yang kerap menjadi pencanang Rapat Perencanaan Peliputan tim kami, Edisi Minggu.

Haha…sejujurnya, untuk liputan yang biasanya hanya mencantumkan satu narasumber, saya tak pernah menuliskannya lebih dari 1500 kata. Paling mentok, saya hanya mencukupkannya pada 1300-an. Ini saja sudah sampai 3 halaman Ms. Word. Setidaknya, dari pertama kali menyetorkan berita, akhirnya berita-berita saya tak pelru lagi mengalami full-editing. Akh, namanya juga jebolan anak pers kampus. #nyombong

Beruntung (lagi), saya menyelesaikan semua tugas peliputan dengan mengandalkan motor teman, hasil minjam. Saya tak punya kendaraan. Sementara, pekerjaan seorang pewarta seperti ini tentu sangat membutuhkan mobilitas yang tinggi. Ah, teman saya memang baik hati. Tanpa banyak pertimbangan, bahkan salah seorang teman dengan sukarela menyerahkan motornya untuk dipakai beberapa minggu.

“Sambil nunggu kau punya motor,” ujarnya. Tenang saja, kawan. Saya sedang dalam proses mencari dan mengadakan kendaraan pribadi.Agak sulit sih, tapi kau berdoa saja, semoga Tuhan mengabarkan keajaiban-Nya sekali lagi. ^_^.

Nah, nampaknya waktu imsak sudah hampir tiba. Cappuccino saya masih belum habis setengahnya. Teman-teman di redaksi sedang menyaksikan laga semifinal Argentina dan Belanda. Tapi sayang, saya tak begitu suka dengan tontonan sepak bola, kecuali bermain PS. 

Beberapa jam sebelumnya, mereka ramai  memperbincangkan calon presiden Indonesia, dengan hasil Quick Count yang terpampang di layar kaca. Berdebat  menahan rasa optimis terhadap calon presiden dukungan mereka. Saya pribadi memilih Pakde Jokowi. :) Pemilu sudah berakhir, sudah saatnya kita kembali ke jalan yang “benar”.

Hari ini, saya punya rencana (wawancara) dengan narasumber yang cukup padat. Semoga, sesuai dengan jadwal yang telah saya susun, semuanya berjalan rapi. Termasuk perkuliahan. Saya harus sesekali menyambangi kampus untuk mengecek “kehidupan” saya disana. Proposal skripsi yang hingga saat ini masih kosong, baru terkumpul materinya, harus segera diselesaikan. Padahal saya punya target untuk seminar proposal bulan Ramadhan ini, biar tak banyak biaya. -_-“

“Mungkin, saya perlu menjadwalkan one day on library, kapan-kapan,” saya bergumam dalam hati. Miris melihat skripsi saya yang hingga kini masih terhenti pada nama pembimbing yang telah di-acc-kan.

Akh, beberapa hal memang tak penting untuk diceritakan. Namun disini, saya hanya ingin merekam jejak. Bercerita apa saja tanpa perlu takut tak dipedulikan. Setidaknya, “rumah” ini lah tempat saya kembali. Ia mendengarkan tanpa banyak bicara. Seperti matahari yang akan terbit pagi ini, memberi tanpa perlu diminta….


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 05 Juli 2014

"Proposal"

Juli 05, 2014
Untuk minggu ini, saya sedang menyukai sebuah lagu yang tanpa sengaja saya temukan di soundcloud. Memang, kata teman, lagu ini adalah lagu lama. Tapi, apa yang ditimbulkan lewat mendengarkan lagu ini merupakan hal baru bagi saya. Batin saya tergelitik dan membuat saya tersenyum (cengar-cengir) sendiri. Di akhir, terkadang akan menimbulkan efek *menghembuskan napas panjang*. #glekk

Lagunya berjudul "Marry Your Daughter". Penyanyinya, kalau tak salah, Brian McKnight. Dari judulnya saja, kita sudah bisa menebak arah lagu ini, tentu tak jauh dari; menikahi seorang gadis. Tapi.. tapi, liriknya yang sederhana dan mengalir santun apa adanya justru membuat saya trenyuh dan tersenyam-senyum sendiri, sembari membayangkan bahwa si lelaki adalah saya, kelak, ketika mendengarnya.



Untuk versi videonya di youtube, klik disini.

Sir, I'm a bit nervous 'bout being here today 
Tuan, aku agak grogi berada disini hari ini
Still not real sure what I'm going to say 
Masih tak yakin apa yang akan kuucapkan
So bare with me please if I take up too much of your time
Maka bersabarlah jika nanti aku menghabiskan terlalu banyak waktu Anda

See in this box is a ring for your oldest
Lihatlah, di kotak ini ada satu cincin untuk putri tertua Anda
She's my everything and all that I know is
Dia segalanya bagiku dan yang kutahu
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Aku akan sangat lega jika tahu bahwa kami punya pandangan sama
Very soon I'm hoping that I...
Sesegera mungkin aku berharap....

Can marry your daughter, and make her my wife
Bisa menikahi putri Anda, dan menjadikannya istriku
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
Kuingin dia menjadi satu-satunya gadis yang kucinta selama sisa hidupku
And give her the best of me 'till the day that I die, 
Dan memberinya yang terbaik dari hingga saat aku mati

I'm gonna marry your princess, and make her my queen
Aku akan menikahi putri Anda, dan menjadikannya ratuku
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
Dia akan menjadi pengantin tercantik yang pernah ada
Can't wait to smile, when she walks down the aisle
Tak sabar lagi untuk tersenyum kala dia berjalan menyusuri lorong
On the arm of her father
Sembari menggandeng ayahnya
On the day that I marry your daughter
Di hari dimana aku menikahi putri Anda

She's been hearing for steps, since the day that we met
Dia telah mendengar langkah-langkah sejak hari kami bertemu
(I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)
(Aku takut berpikir apa yang akan terjadi jika ia pergi)
So don't you ever worry about me ever treating her bad
Maka jangan khawatir tentang aku yang akan melakukan hal buruk padanya

I've got most of my vows done so far 
Sejauh ini aku selalu memenuhi janjiku
(So bring on the better or worse)
(Maka bawalah pada bagian lebih baik atau buruk)
And tell death do us part
Dan katakan kematian memisahkan kita
There's no doubt in my mind
Tak ada keraguan dalam benakku
It's time, I'm ready to start
Inilah saatnya. Aku siap memulai
I swear to you with all of my heart...
Aku bersumpah pada Anda dengan sepenuh hatiku...

The first time I saw her
Pertama kali kulihat dia
I swear I knew that I say I do
Aku bersumpah aku tahu bahwa aku kan bilang bersedia

***

Sumber: googling

Siapapun lelaki, tentu ingin seperti itu. Hanya, terkadang kita harus menunggu waktu yang tepat (sembari menyiapkan perbekalan). Jangan-jangan, ketika mengajukan "proposal" semacam itu kepada ayah si gadis, kita justru ditanya balik, "Seberapa mampu kamu membahagiakan anak saya?"

Kalau pertanyaan semacam itu, nampaknya ada banyak jawaban yang bisa dipertimbangkan argumentasinya. Dari yang biasa-biasa saja, hingga pernyataan yang di-puitisasi. Kalau nekat, bisa juga dengan menyanyi di depan ayahnya... Pertanyaan tersebut mendasar, yang mungkin hanya butuh sedikit ketegasan dari si laki-laki, tanpa perlu penegasan macam-macam lainnya.

Akan tetapi, kalau pertanyaannya sudah lebih spesifik, menjurus, "Apa yang kau punya untuk anak saya?" atau "Apa pekerjaanmu?" atau "Berapa gajimu?", atau sampai pada pertanyaan yang lebih menohok, "Kamu punya mahar berapa untuk menikahi putri saya?" sembari sang ayah merincikan "harga-penebusan" untuk anaknya. #telan ludah sendiri

Apa mungkin ya, suatu hari kelak, peraturan pemerintah ataupun adat ataupun lainnya, cukup mematok pernikahan dengan mahar; Seperangkat Alat Shalat, dibayar tunai?! tak perlu ditambahi macam-macam dengan seperangkat kendaraan mewah, sepetak sawah, hingga segepok uang tunai. 

Tentang pernikahan, tak semudah orang membahasakan 'suka-sama-suka'. Tak segampang memadu janji 'asalkan-kau-cinta'. Tak segombal layar tivi yang selalu berucap 'hanya berbekal cinta' untuk bisa menikahi gadis pujaannya. Bahkan tak seindah yang selalu dibayangkan perempuan di luar sana, bahwa ia akan menunggu, dan laki-laki (yang katanya didamba dan dipujanya) akan datang melamarnya.

Perihal bertemu dengan keluarga dan membuat komitmen itu yang harus dipikirkan matang-matang, bersama, karena bakal dipikul berat-berat di kemudian hari. Bahkan, perihal "hope to marry her" belum tentu berbuah persetujuan, sekalipun dari si gadis sendiri. 

Seandainya saja ada banyak perempuan yang dengan mudahnya mampu mengucap,

"Tak perlu berpikir tentang pekerjaan atau kehidupan kita kelak, asalkan aku bisa selalu mendampingimu dalam susah ataupun senang,"

dan menentang banyak syarat yang diajukan ayah dan ibunya (yang memberatkan), maka betapa bahagianya hidup lelaki. Sungguh, kata-kata itu layaknya air es yang menyirami keragu-raguan di hati setiap laki-laki.

Tunggu, pada kenyataannya itu juga belum cukup! Persetujuan dan komitmen yang dibuat dengan si gadis tak selalu cukup untuk mengajukan "proposal". Karena kalaupun ada, orang tua si gadis lah yang akan menuntut dan (lagi-lagi) akan menghujani lelaki dengan pertanyaan tadi. Ck...sungguh kehidupan tak lurus-lurus amat. Disadari atau tidak, memang, tuntutan orang tua itu memang demi melihat anaknya berbahagia. Padahal, rasa sayang orang tua terkadang amat berlebihan hingga melewati batas standar yang diinginkan anaknya sendiri. Bukannya yang berlebihan memang selalu tak baik ya?

Hm...lirik lagu itu pas memprediksikan apa yang akan dialami seorang lelaki. Mengajukan "proposal" hidup kepada ayah si gadis pujaannya. Entah ditolak atau diterima. Kok, keinget sama proposal skripsi, ya? -_-"

Untuk seluruh lelaki di dunia, mari mendambakan kisah yang sederhana nan bermakna. Menyatukan hati amat dekat namun tak bersyarat muluk. Mempersiapkan bekal, yang tentunya butuh waktu, entah seberapa lama. Hm...kita menginginkan yang sederhana. Sesederhana kita mengucap,

"Om, saya ingin melamar anak Anda, bolehkah?"

(bahasanya agak norak? Ya iyalah! Masa iya kita mau mengajukan lamaran dengan bahasa Inggris, seperti lagu tadi? Bayangkan coba... -_-,)


--Imam Rahmanto--

Jumat, 04 Juli 2014

Disconnect!

Juli 04, 2014
Saya baru saja kembali dari menikmati pagi lepas Subuh. Usai melaksanakan shalat Subuh, di bulan Ramadhan, nampaknya menjadi waktu yang sunyi senyap untuk beraktivitas. Orang-orang lebih memilih untuk kembali ke pembaringannya selepas melaksanakan shalat Subuh. Ah, tidak, bahkan ada yang langsung tertidur usai sahur. Godaan untuk tidur memang semakin melenakan di kala Ramadhan tiba.

Subuh tadi, saya menemukan video yang sangat keren. Yah, keren karena isinya benar-benar "ngena" dengan kehidupan zaman sekarang.. Salah satu hal yang juga mendorong saya untuk "go out" pagi ini adalah video ini. Kehidupan kita yang lebih banyak memanfaatkan teknologi masa kini, khususnya gadget. Lewat gadget itu mereka bersosialisasi yang bukan sebenarnya sosialisasi. It's called Social Media






The problem I have sits in the spaces between, looking into their eyes, or at a name on a screen. I took a step back and opened my eyes, I looked around and realised that this media we call social is anything but when we open our computers and it's our doors we shut.

Zaman berlimpah teknologi ini, siapa lagi yang tak mengenal jejaring sosial di dunia maya? Facebook? Twitter? Youtube? Path? BBM? Whatsapp? Baik tua, maupun muda, semua berbondong-bondong tak ingin ketinggalan memiliki akun jejaringg sosial. Memperbanyak teman, yang maya. 

Kehidupan kita tak jauh dari dunia maya. Bangun tidur, cek notifikasi. Beraktivitas, update status. Hendak makan, mengabadikan foto. Mengalami hari yang buruk, update status, lagi. Bahkan segala aktivitas yang terkait dengan dunia maya itu, kita bawa-bawa ke ranah sosial dengan orang lain. Lihat saja ketika orang-orang bertemu satu sama lain, duduk berhadapan, kepala mereka justru lebih banyak tertunduk mengamati "kehidupan lain" di balik gadget. 

Berkumpul di kafe, kita justru lebih banyak berharap menikmati dunia maya lewat laptop maupun gadget yang dibawa. Saya merasa beruntung, ketika suatu kali bertemu dengan teman-teman seangkatan jurusan, dan memutuskan "ngopi" di suatu kafe. Kami menerapkan aturan; tak boleh ada yang sibuk dengan hape ataupun laptopnya. Karena pertemuan kami adalah perihal yang langka, maka kami ingin berbuat banyak dengan menciptakan quality time. Dan, betapa menyenangkannya bisa tertawa-tawa, berinteraksi, tanpa diganggu "dunia lain" di balik layar kami.

A world self-interest, self-image, self-promotion, where we all share our best bits but leave out the emotion.

We're at our most happy with an experience we share, but is it the same if no one is there? Be there for your friends and they'll be there too, but no one will be if a group message will do.

Dan...ternyata langit begitu indah jika dipandangi langsung di pagi hari. Jalan-jalan di perkotaan begitu lengang di bulan Ramadhan. Di beberapa masjid, anak-anak kecil ribut melantunkan ayat-ayat suci Quran. Di tempat lainnya, anak-anak sibuk saling melemparkan petasan sebesar kayu korek api. Di jalan-jalan juga, anak-anak berkeliaran mengendarai motor, hanya dengan berpakaian sarung dan peci. Menandakan, mereka baru saja pulang dari masjid.

When I was child, I'd never be home. I'd be out with my friends on our bikes we would roam. I'd wear holes in my trainers and grazes up my knees. We'd build our own clubhouse, high up in the trees.

Dulu, di bulan Ramadhan, kami anak-anak kecil paling suka berkumpul-kumpul lepas Subuh. usai melaksanakan Shalat Subuh, kami berdiskusi, hendak-kemana-kita atau mana-si-A-mana-si-B. Anak-anak perempuan, masih dengan mengenakan mukena-nya, berjalan bergerombol di sisian jalan menuju arah yang sama dengan kebanyakan anak lainnya. Anak-anak yang sedikit beruntung kehidupannya, menggunakan motor, berboncengan, sambil ugal-ugalan menyela anak lainnya.

Siang hari, kami juga tak hanya berdiam diri di rumah. Zaman hape belum bertebaran. Lagi, kami berencana. Di bulan Ramadhan, layangan dan mercon (kalau di daerah, namanya baraccungi) adalah permainan yang paling banyak digandrungi. Saban sore kami berlarian di pematang sawah menerbangkan layangan hingga membumbung ke angkasa. Kalau bosan, kami memutuskan benangnya, dan mengejarnya hingga tak bisa dicapai lagi.

Tentu, hal semacam itu sudah jarang kita temukan dewasa ini. Apalagi di daerah hiruk-pikuk perkotaan, yang hanya mengenal siapa-kamu-siapa-saya. Setiap rumah dibatasi pagar yang nyaris tak bisa memperlihatkan siapa pemilik rumah. Tetangga belum tentu saling mengenal satu sama lain. Akh, kata orang Makassar, "kehidupang nga".

Karena tak ingin hanya tinggal di rumah, memandangi layar laptop, saya memutuskan untuk keluar pagi ini. Sudah lama, beberapa bulan, saya tidak pernah menikmati pagi seperti ini. Padahal, saya begitu menyukai aroma udara pagi. Hawa yang tak begitu menusuk, tapi menenangkan. Kendaraan-kendaraan yang masih kosong, belum sesak penumpang yang bergelut dengan rutinitas. Kampus yang sepi. Toko-toko di depannya yang masih tutup. Halte yang masih kosong. Matahari yang masih hangat.

Bersama seorang teman, yang ingin pulang ke kost-nya, saya berjalan pagi ini. Sembari mengantarkan, saya mengamati kiri-kanan satu per satu. Bercerita. Mengobrol sepanjang jalan. Bukankah interaksi seperti itu yang benar-benar nyata? 

The time you take in all you're made just by giving life attention and how you're glad you didn't waste it by looking down at some invention.

Seperti yang dikatakan di akhir video itu, "Give people your love don't give them your "like". Disconnect from the need to be heard and defined. Go out into the world, leave distractions behind!"

Nah, saatnya untuk benar-benar menikmati hidup yang sebenarnya. Luangkan waktu bersama teman, keluarga, di luar sana, bukan di "dunia maya". Seberapa banyaknya teman di dunia maya, sungguh, betapa menyenangkannya berteman di dunia nyata.

Sedikitnya, saya akan menargetkan di bulan Ramadhan ini, semoga bisa selalu menikmati pagi seperti ini. Jalan kemana pun, menatap apapun. (*)


--Imam Rahmanto--

Selasa, 01 Juli 2014

Arresto Momentum

Juli 01, 2014


Ini kami. Yah, kami para pewarta kampus yang telah menggenapkan masa kepengelolaannya, setahun. Cukup setahun. Tak seorang pun berpikir untuk lama-lama mengemban "beban" yang begitu berat.

Ah, tidak. Hanya sebagian yang telah dinyatakan masa "pensiun"nya. Beberapa diantaranya adalah saya, dan jejeran teman lain yang ada di depan sana.

Kami menyelesaikannya. Entah baik atau buruk, bergantung pada penilaian orang di luar sana. Setidaknya, kami menjalankannya sungguh-sungguh. Sungguh, saya serius.

Foto itu, mungkin salah satu cara kami, manusia, untuk membekukan waktu. Seperti mantera sihir dalam kisah Harry Potter, Arresto Momentum, untuk memperlambat gerakan waktu. 

Setiap orang ingin membekukan momen yang dikehendakinya. Setiap orang punya momen paling dicintainya. Setiap orang berharap punya cara untuk mengabadikan segala hal yang dinikmatinya. Sementara tanpa kita sadariTuhan telah memberikannya dalam bentuk "memory". 

Akh, memory! Hal di dalamnya yang tak pernah mampu kita hapuskan secara manual. Segala yang terekam berjalan otomatis, tanpa kita sangka-sangka. Bahkan untuk melupakan sesuatu, kita cukup membiarkannya saja, tanpa perlu bermaksud menghapusnya. Rumit.

Kami, telah selesai. Bersama-sama mengukirkan kisah perjalanan di memory masing-masing. Ada perjalanan yang usai, ada perjalanan yang berlanjut. Sebagaimana perpisahan selalu bertumpu pada pertemuan.

Arresto Momentum!




--Imam Rahmanto--