Jumat, 27 Juni 2014

(se)Mula...

“Waktu, takkan pernah bisa terhenti, atau bahkan terulang. Kita harus mensyukuri itu. Kita hanya manusia. Kita takkan pernah bisa kembali ke masa-masa yang kita inginkan, dan mengulangnya sekali lagi. Akan tetapi, bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada manusia. Justru Tuhan mewujudkan kasih sayangnya dengan memberikan “mesin waktu” terbaik untuk manusia. Setiap manusia sejatinya memiliki mesin waktunya sendiri-sendiri, yakni memory…”

Pagi ini saya terbangun lebih cepat dari biasanya. Nampaknya, selepas tuntutan yang menekan kepala dalam rentang setahun, pikiran terasa ringan. Senin, kemarin, saya mengakhiri masa kepengelolaan saya di lembaga kuli tinta yang telah menempa saya nyaris 4 tahun lamanya. Kenyataannya bahwa saya tak lagi harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugas jabatan di profesi. Tersisa, laporan pertanggungjawaban yang mesti dilengkapi sebagai syarat diterimanya pekerjaan kami selama satu periode.

Akh, mengingat momen pertanggungjawaban kemarin, kami harus melewati perasaan “deg-degan”, h2c (harap-harap cemas), nyaris tak dianggap lagi sebagai “orang yang bekerja keras”. Beruntung, keajaiban berpihak pada kami. Yeah, benar-benar keajaiban. Keajaiban. 

Hei, apa kabar kalian? Tak usah takut dan khawatir. Saya benar-benar menanyakan kabar kalian. Bukan lagi alih pertanyaan kabar untuk berita atau liputan, seperti yang selama ini dicemaskan ketika nama saya berkedap-kedip di layar ponsel kalian. Hahahaha…., tenang, sembari mencicipi dunia luar yang lebih baru, saya masih merindukan momen “mengingatkan” dan proses menagih berita itu. 

Setelah momen pertanggungjawaban” terlama” kemarin, kita masing-masing bersyukur. Ada air mata yang tertahan. Ada pula yang tak mampu membendung lelehan kebahagiaannya, membiarkannya menderas di pipi. Berpelukan satu sama lain. Antara perasaan ingin melepaskan, sekaligus rasa ingin memiliki. Terkadang dua hal itu, menunjukkan sesuatu yang kontradiktif. Namun, sejatinya kedua hal itu menyatu demi menggenapi perasaan menyayangi orang lain. 

Tahukah kalian? Ada kekosongan yang tercipta selepas menanggalkan beban dan tanggung jawab itu. Kami tak lagi dihujani tuntutan-tuntutan yang saban hari memenuhi kepala. Tak ada lagi kekhawatiran atas setiap langkah yang diperbuat. Langkah kami, bukan lagi untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri. 

Tetapi, meninggalkan kalian berarti menggenapkan segala hal yang kami wariskan. Seyogyanya, ada kebaikan yang terselip di setiap perjalanan yang bisa kami ajarkan untuk masa mendatang. Kami berharap saja, di segala keburukan-keburukan yang dirongrong para “critician” kemarin ada tersisa kebaikan yang akan menuntun kalian tanpa perlu berpegang lama-lama pada kami.

Saya sedari menginap di rumah salah seorang teman yang selama ini sudah saya anggap sebagai kerabat sendiri. Bagaimanapun juga, rumahnya menjadi tempat berlindung dari masa-masa “pelarian” saya dulu. Selain karena ia adalah teman sekelas di jurusan, keluarganya juga berasal dari “darah” yang sama dengan saya; Jawa. Selama dua-tiga kali lebaran, saya selalu bersama mereka. Saya teringat, jelang sehari-dua hari ke depan, kita akan berpuasa Ramadhan. Semoga keberkahan melingkupi setiap ibadah yang akan ditunaikan.

Seharian kemarin, saya juga baru menyelesaikan tugas baru. Kini, dengan nuansa yang lebih baru. Dengan tekanan yang lebih baru. Dengan orang-orang yang juga lebih baru. Orang-orang yang lebih dewasa (sekaligus lebih tua). Saya tak lagi sekadar menjelajahi kampus. Saya baru sadar, ternyata tak banyak yang tahu tentang pekerjaan baru itu. Saya memperolehnya jauh sebelum menyelesaikan masa tugas saya di Profesi. Yah, jauh hari saya sudah harus memikirkan bagaimana cara melanjutkan hidup tanpa menyela kekosongan diantara proses transisi itu, di samping saya mesti bersegera memenuhi kebutuhan hidup.

Sedari dulu, saya memang menyadari, apa yang saya temukan di lembaga jurnalistik ini tak akan sia-sia. Saya orangnya peragu, namun tak pernah tergugu untuk mencoba.

Bagi kalian yang masih bertahan dan diamanahi jabatan baru, tentu tidak akan mudah menerimanya. Saya tahu bagaimana rasanya meragukan diri sendiri atas tanggung jawab yang diberikan. Selalu ada pertanyaan “Kenapa saya?” atau pernyataan-pernyataan “Saya tak mau” mengawali tanggung jawab yang diberikan. Saya amat jarang menemukan beban jabatan diserahkan tanpa proses penolakan si empunya.

Saya pun demikian, dulu.

Akan tetapi, percayalah. Tidak ada yang sia-sia dan percuma untuk dijalani. Kita ibaratkan saja begini; tanggung jawab yang kemudian dibebankan kepada kalian bukanlah atas campur tangan siapa-siapa. Melainkan jalan baru yang digariskan Tuhan untuk kalian tempuh. Salah satu jalan percabangan yang sengaja dipilihkan Tuhan untuk ditempuh, demi mengutip pelajarannya. Everything happens for a reason. #just believe it!

Agak lebay ya?? Haha… 

Akh, biasanya memang tingkat pesimistis itu cenderung melemahkan semua bentuk motivasi yang diberikan, meskipun belakangan kalian baru akan menyadarinya (atau tersadarkan). 

Betapa menyenangkannya bisa menyelesaikan deadline di media massa umum yang kini menjadi tempat belajar yang baru. Kalau sebelumnya, saya yang selalu menuntut orang-orang dalam proses peliputan di kampus, kini gentian saya yang dituntut untuk menyelesaikan liputan ini-liputan itu. Tapi, tetap menyenangkan. Ada detak napas dan tekanan yang diburu saat menyelesaikan berita di kala deadline! Ada kepercayaan baru yang dipertaruhkan.

“Betapa menyenangkannya menjadi seorang reporter. Hanya reporter. Kita hanya menerima tugas, meliput, wawancara, setor berita, finish! Bandingkan dengan tugas pimpinan yang lebih dari itu, masih harus menebar lebih banyak lagi kepercayaannya,” saya pernah berpikir demikian ketika menghadapi teman-teman di kala masih harus menanggung tanggung jawab pimpinan.

Nah, di media umum, saya beralih menjadi apa yang saya nikmati. Menerima atau mengusulkan liputan. Meliput. Wawancara. Menulis berita. Setor berita. Finish. Selanjutnya berpikir liputan lainnya. Huwah, betapa melegakannya menyetor berita yang diselesaikan dengan sepenuh hati. That’s the point!

Mengerjakan apapun selama dilakukan sepenuh hati, bakal membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Bukankah Tuhan memang selalu memberikan segala hal yang seyogyanya dibutuhkan manusia? Hanya saja, manusia terkadang seperti “anak kecil yang sakit, dan meminta pada ibunya untuk dibelikan eskrim”.

Saya, bukanlah kakak (baca: teman) yang baik. Segala hal yang dipercayakan pada saya tak selalu bisa diselesaikan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, saya belajar dari kesalahan itu. Sebagaimana wajarnya setiap orang berbuat salah. Ingatlah, tiada komputer tanpa operating system-nya (pepatah“tiada gading yang tak retak” sudah ketinggalan zaman). Oleh karena itu, jalani saja setiap hal baru dengan lapang dada. “Learning by doing”.  

Hm…kini beberapa hal sangat menyenangkan untuk dikerjakan. Hal-hal yang selama ini ingin saya lakukan nampaknya akan diwujudkan satu persatu. Ada kesibukan-kesibukan baru yang akan menyambut dengan tangan terbuka.

Dunia yang lebih luas, adalah dunia yang menjanjikan tantangan baru. Berharap saja, jalur-jalur ini menjadi lalu lintas kehidupan yang akan membawa pada mimpi-mimpi saya kelak. (*)



--Imam Rahmanto-- 


NB: Selamat menyambut bulan Ramadhan. Mari berpuasa! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar