Jumat, 20 Juni 2014

13# Selamat, Banyak Hal...

Selamat! Engkau bertambah usia lagi, 5 hari yang lalu. Maaf, telat memberikan salam kemenangan buatmu. Hehehe….kau tahu sendiri kan bagaimana padatnya menyita waktumu sendiri untuk banyak hal yang ssementara mengejarmu belakangan ini? You call it "deadline". Dan bagaimana hal-hal itu menjadi hadiah tersendiri buatmu.

Kepengurusan saya di lembaga yang hampir 4 tahun mendidik saya akan berakhir dalam 3 hari lagi. Entah apakah akan berakhir buruk atau happy ending. Saya hanya berusaha mengakhiri apa yang telah saya mulai. Finishing my job. Selanjutnya, saya hanya harus mencemplungkan ke dunia yang lebih luas lagi dan membutuhkan keprofesionalan lebih tinggi. Yeah!

“My head’s under water. But I’m breathing fine” by John Legend, All of me

Rasa-rasanya, saya seperti baru saja terbebas dari menenggelam kepala ke dalam air. Kepala saya tenggelam begitu lama, sehingga tak punya lagi kesempatan utuk bernapas. Saban hari, segala hal yang terjadi di sekitar saya hanya bisa dilihat lewat kepala yang ada di dalam air itu. Sesekali memang bisa mengambil napas ke udara, namun tak begitu lama. Dan akhirnya, saya benar-benar bisa bernapas tanpa perlu masuk lagi ke dalam air itu.

Sejak dulu, ada banyak hal yang saya ingin lakukan, andai saja, andai saja. Bukan tak bisa melakukannya, melainkan saya harus menghargai setiap usaha kecil orang lain. Saya dibelajarkan untuk menjadi orang yang tidak mementingkan urusan sendiri. Ada banyak harapan yang terhubung di setiap perjalanan kami. Dan tentu saja, saya tak ingin memutus hal itu.

Untuk menjadi seorang pemimpin, kita memang harus benar-benar menyisihkan segala kepentingan pribadi. Layaknya orang tua kepada anaknya, di atas segalanya, ia harus mengayomi dan melindungi. Saya teringat dengan ucapan salah seorang narasumber saya,

“Untuk menyayangi orang lain, tidak mesti dengan memimpinnya. Akan tetapi, kita tidak bisa memimpin orang lain jika tidak menyayangi orang yang kita pimpin itu,”

Saya terngiang kata-katanya sesaat menuliskan laporan pertanggungjawaban terakhir saya, kemarin.

Pada dasarnya, untuk memimpin orang lain, kita harus menyayangi setiap orang yang dipimpin. Tak peduli seberapa menyebalkan mereka terhadap kita. Toh, beban terbesar seorang pemimpin bukan pada tanggung jawab yang akan diembannya, melainkan pada setiap kepercayaan yang akan diberikannya pada orang lain, ada harapan yang terselip satu-satu.

15 Juni...

Yah, itu hari kelahiran saya. Saya mendapatkan hadiah dari Tuhan untuk memasuki fase kehidupan yang lebih baru. Tepat di hari itu, ada banyak deadline pula yang segera susul-menyusul mengejar saya.

Saya mengingatnya sebagai hari Minggu. Hari dimana seharusnya setiap orang istirahat manis di kediamannya masing-masing. Saya justru berjibaku dengan deadline baru dari liputan yang lebih luas. Untuk pertama kalinya, saya menajdi bagian dari media massa, tidak lagi pada scoop lingkungan kampus saja. Kau tahu apa kesenangan menjadi seorang jurnalis? Kita menemukan banyak hal baru dalam kehidupan, yang akan menambah jumlah sel-sel saraf yang menghubungkan neuron di dalam otak. Scientific based.

Saya mengingatnya sebagai hari pertama saya bekerja secara lebih profesional. Ada dua pekerjaan sebenarnya yang kemudian dihadiahkan Tuhan. Memang ya, Tuhan selalu memenuhi kita degan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan. Berhentilah merengek. Bukankah itu sungguh manis? Menjelang akhir kepengurusan saya di lembaga kuli tinta ini, akhirnya saya bisa membuka celah untuk segera (tenggelam) lagi menyibukkan diri. I'm breathing fine... Saya butuh menghidupi diri sendiri dan keluarga…

“Bagaimana dengan skripsimu?” tanya seorang teman di kampus suatu ketika.

Tenang saja. Saya tak pernah melupakannya. Bahkan, saya akan tetap berusaha menyelesaikannya untuk destinasi Agustus ini. Di saat seorang teman (seperjuangan) saya sudah menyerah dan memilih untuk mengejar destinasi Desember, saya masih menyelip harapan pada Agustus mendatang. Setidaknya, saya tetap maju di saat orang-orang sudah mulai menyerah. Kita terkadang tak pernah menyadari bahwa kita sudah begitu dekat dengan keberhasilan di saat kita berhenti di tengah jalan.

Semalam, saya menonton film X-Men: Days of Future Past dan memperoleh sedikit kutipan menarik,

"Just because someone stumbles, loses their way, it doesn't mean they're lost forever. Sometimes we all need a little help."

Hanya karena seseorang tersandung kehilangan arah, bukan berarti dia tersesat selamanya. Terkadang kita semua membutuhkan sedikit bantuan. Oleh karena itu, mari menemukan jalan yang baik, dan terus berjalan ke arah yang seharusnya.

Pagi ini begitu ramah membangunkan saya. Namun, tak terlalu suka sinar yang ditawarkannya pagi ini. Terang. Cukup menyilaukan. Saya lebih senang dengan pagi yang malu-malu menyembulkan kepalanya di balik awan-awan berarak. Bahkan, lebih menyenangkan kalau pagi menyiramkan hujannya. Rerintik. Romantis.

Saya merindukan setiap sudut “rumah” ini…



--Imam Rahmanto--


Ps: Untuk memperingati hari istimewa "15/06", saya mengirimkan postingan surat untuk saya sendiri 2 tahun mendatang. Postingan itu, kelak, akan terjadwal dan terposting otomatis pada hari kelahiran saya. #letter to the future

Tidak ada komentar:

Posting Komentar