Rabu, 11 Juni 2014

Menjadi Penenang(?)

Saya tersenyum saja melihat seorang teman sedang sibuk mengetikkan jalinan huruf di notebook yang saya pinjamkan. Beberapa menit sebelumnya, ia terlihat bingung dan nyaris putus asa mencari inspirasi atas apa yang mesti dituliskannya, sesuai orderan. Di sebelahnya lagi, teman lainnya, sembari berharap-sangat-berharap-sangat-berharap mengarahkan (atau mengiyakan saja?) apa yang mesti dituliskan lewat secarik kertas digital Microsoft Word yang akan dibuat menyerupai surat itu.

Hm…kalau dipikir-pikir, kami serupa “relawan tim sukses” dari teman yang sedang kasmaran itu, dibayar dengan segelas cappuccino dan kentang goreng di suatu kafe langganan. Saya, sebagai designer dan teman yang satu lagi sebagai ghostwriter-nya. Tak diragukan lagi, usulan kado yang akan diberikan kepada teman perempuannya itu adalah dari kami. Jrengg!!

“Ah, kasih dia sesuatu yang unik, yang tidak terpikirkan oleh semua orang, bahkan oleh pacarnya,” saran kami. “Kalau hadiah material kan sudah biasa. Tinggal beli di toko, langsung beres. Lebih keren lagi kalau hadiahnya itu hasil karyamu sendiri yang tidak bakalan ditemukan di toko manapun,” tambah kami lagi. Semoga saja bukan saran yang sesat.

Maklum, teman saya satu itu sedang kasmaran. Namun menurut pengakuannya, ia tak banyak berharap kepada perempuan yang akan dihadiahinya kado ulang tahun. Ia justru menekankan status “adik” pada perempuan yang sangat spesial itu.

“Ia sudah punya pacar,” tuturnya sembari tersenyum-senyum polos.

Padahal, jauh dari tingkah yang ditunjukkannya, ia memperlakukan perempuan yang terpaut satu tahun lebih muda darinya itu jauh dari sekadar hubungan “adik”. Kalau ada martabak biasa, spesial, istimewa, komplit,  silakan misalkan saja dengan memilih jenis martabak paling mahal.

Saya sendiri tak habis pikir, betapa tahannya ia memasung perasaan suka seperti itu, meskipun secara terang-terangan perempuan itu juga suka padanya. Bahkan dengan tetap membiarkan perempuan yang disukainya itu beberapa kali berganti pasangan. “Asalkan saya bisa selalu dekat dengannya. Dan mungkin menjadi sandarannya ketika ia merasa susah,” saya membayangkan ia akan berkata demikian. Selayaknya obat, yang dicari ketika dibutuhkan.

“Deh, sakit juga ketika saya dimintai pendapat tentang kado apa yang paling bagus untuk pacarnya,” katanya agak sewot. Pacar dari “adik”nya itu juga berulang tahun di bulan yang sama (kalau tidak salah). Ya ampun, pasti sakitlah!

Sebenarnya, saya pun pernah merasainya. Rasionalnya, seperti apapun bentuk hubungannya, asalkan bisa selalu dekat dan bersamanya, seperti kata teman saya tadi. Namun, jauh di dalam hati, kita tetap berharap hal yang pasti adanya. Kita sengaja menunggu, bersabar, menjadi orang yang selalu ada buatnya sembari tetap berharap ada titik kelak untuk menyusupkan kita, membalikkan keadaan. Sementara kita tak pernah sadar diam-diam telah menyakiti diri sendiri.

Ada mitos yang mengungkapkan: Kalau laki-laki membuat wanita tertawa, berarti wanita itu menyukainya. Kalau laki-laki membuat wanita menangis, berarti wanita itu mencintainya. Hm, saya tidak begitu mempercayainya. Tidak semua perempuan menangis karena menyayangi orang yang membuatnya menangis. Seringkali rasa penyesalan bercampur kasihan kepada orang lain lah yang membuat perempuan menangis. Kami, lelaki takkan pernah betul-betul tahu seperti apa "rasa" perempuan itu, sementara mereka "memaksa" selalu ingin dimenegrti. Paradoks.

Beruntung, teman saya itu punya perawakan yang cukup mendukung untuk menarik hati seorang perempuan. Semisal buku, sampulnya sih sudah oke. Ia tak perlu banyak berpikir untuk bisa menemukan seorang kekasih. Bukannya sebagian besar orang menilai atas dasar pandangan mata? Sigh. Namun kenyataannya ia memilih untuk tetap “dekat” dengan “adik”nya itu, sembari memupuk harapannya tipis-tipis. Hm, saya doakan semoga kesabarannya membuahkan hasil, tak menyerupai kesabaran yang dulu menelan saya sendiri.

Malam itu, kami menyelesaikan “misi” untuk teman yang sangat bersemangat itu. Kalau saya yang biasanya suka usil mengganggu teman-teman yang sedang “pedekate” atau bahkan sudah jadian, untuk kali ini, entah atas alasan apa saya terdorong untuk membantunya. Saya terlalu banyak mengganggu orang lain, hingga hal yang sama berbalik pula pada saya. Karma, mungkin. Olehnya itu, sedikitnya saya berusaha menanam karma baik hari ini.



 
--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar