Selasa, 03 Juni 2014

Hidup yang Mempertemukan

“Hidup akan memisahkan kita, namun kita yang akan menghidupkan pertemuan itu”

Sore baru saja beranjak. Lamat-lamat, cahaya matahari di beranda kafe mulai berganti dan memudar. Bayang-bayang senja yang tadinya memanjang perlahan meninggalkan tuannya. Lampu-lampu neon dinyalakan. Orang-orang datang dan silih berganti pergi meninggalkan duduknya. Keenam lelaki itu juga hendak beranjak. Bermaksud meninggalkan beranda dan mengisi sofa empuk yang lebih nyaman di dalam kafe.

Ramai, mereka memperbincangkan banyak hal. Riuh memperkarakan segala sesuatu. Bersahut-sahutan tak ingin kalah memperdengarkan cerita-ceriita yang sebenarnya konyol dan tak masuk hitungan. Bergantian mengadili setiap orang dengan kisah-kisah masa lalunya. Yeah, memorizing. Mereka mengobrol lepas. Tak peduli pengunjung lain di kafe. Mengulas kisah, sembari mengulumm senyum. Betapa merindunya setiap lelaki di malam itu.

***

Hanya gara-gara salah seorang teman, Halim, mengirimkan pesan singkat keberadaannya di kampus, saya memaksakan diri untuk ke kampus meskipun tak ada kuliah. Sedikit-sedikit saya mencoba untuk memaksa diri. Apalagi satu hal ini berkaitan dengan tugas akhir saya sebagai seorang mahasiswa. Mungkin saja ia bisa membantu, secara tak langsung.

“Namanya malas harus diperangi, bukan? Nah, saban hari saya memaksa dan menekan kemauan saya. Paling tidak, kita memaksa diri tanpa perlu merasa terpaksa,” ujar saya sok bijak, tersirat.

Tak lain untuk mendorongnya melakukan hal serupa. Soalnya teman saya yang satu ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game ketimbang mempercepat proses penelitiannya, yang di-PK alias Peninjauan Kembali, alias diulang atas instruksi dosen pembimbingnya.

“Orang mau lulus memang agak sulit,” sambar teman yang lainnya, Kama, salah seorang mantan Ketua UKM KSR di kampus saya. Yaah, kita sama-sama tahu kok. -_-

Bersama seorang lagi teman lainnya, Aan, kami menghabiskan 7 jam menemani Halim di ruangan Peer Group-nya. Sedikit-sedikit, sembari mengkonsultasikan alur pengurusan judul tugas akhir saya. Tanpa diduga pula, ketika sedang duduk-duduk di depan jurusan dan mengobrol dengan salah seorang adik kelas, saya berpapasan dengan dosen penasehat akademik. Agak ragu-ragu memandang wajah saya, ia langsung berujar, “Kamu yang kemarin sms untuk ketemu konsultasikan judul, kan?”

“Eh, eh, iya, Bu,” jawab saya gelagapan. Tak menyangka bakal dikenali. Bahkan, belakangan saya ketahui, ia juga tahu kalau saya aktif di salah satu lembaga pers kampus. Maklum ketika ia langsung menyetujui judul saya yang lebih banyak menekankan pada aspek pengumpulan data melalui proses survei dan wawancara. Luckily.

Nah, saya selalu percaya bahwa keajaiban itu nyata. Sebentuk konspirasi kosmik atas tekad atau kemauan kuat yang ditanamkan di kepala setiap orang di bumi.

Pun, kosmik berkonspirasi merencanakan sebentuk pertemuan bagi anak-anak Pend. Matematika 09, di tengah kesibukan dan kehidupan masing-masing.

“Ayo, yang baru pulang kampung traktir dong,” todong Kama ketika di tengah jalan kami dihentikan salah seorang teman kami, Ilham yang baru saja datang menjelang “tutup kampus”.

Dengan sedikit permintaan dari kami, dengan tawaran tempat yang sudah tidak asing lagi bagi saya, dengan sedikit “kecerewetan” bergaya sales promotion, tanpa muka-muka memelas dan bersalah, jadilah pertemuan itu tanpa terencana. Sedikit bantuan teknologi handphone, terhubunglah setiap titik yang terpisah sore itu.

***

Para lajang menanti lajang-lajang lainnya berdatangan
ya? (Foto: Kama)
Pertemuan yang tidak memperbolehkan berlama-lama memegang gadget itu sungguh di luar dugaan. Saya hanya berusaha mencari hiburan atas penatnya kepala beberapa hari terakhir. Mengalihkan sedikit perhatian. Nyatanya, Tuhan mempertemukan saya dengan teman-teman yang telah lama hanya bergaung kabarnya, tanpa pernah saling memandang wajah.

Saya masih ingat dengan awal mula kami mengenal satu sama lain di dunia kampus. Disatukan oleh perasaan senasib di kampung orang, sekelas, dan sepenanggungan dari tatapan mengancam para senior. Saya ingat, di angkatan saya pula terakhir kalinya diberlakukan Orientasi Pengenalan Kampus alias OSPEK.

Betapa mengisi waktu kesendirian bagi kami dengan mengunjungi masing-masing kost. Nyaris setiap minggu selalu ada acara kecil-kecilan yang membawa kami dalam nuansa kebersamaan. Kalau tidak secara menyeluruh, terkadang khusus bagi kalangan lelaki saja. Tahu sendirilah, lelaki ketemu lelaki, kebanyakan juga membicarakan teman perempuan. Mungkin, sudah jadi kebiasaan pula, seorang mahasiswa di awal tahun kuliahnya menyukai teman kelasnya.

Ada yang lagi korek upil. (Foto: Imam)
“Yah, dulu kan tanggal 10 bulan 10 itu siapa yang prakarsa? Terus waktu ngumpul-ngumpul di kost, kita semua dipaksa untuk mengakui siapa saja yang sedang diincar, dengan alasan biar tak ada yang saling tumpang-tindih,” seru salah seorang teman, antusias mengingatkan sembari menunjuk-nunjuk konyol ke teman lain. Beruntung saya tidak termasuk menjadi korban di masa itu.  -_-

“Ah, dulu juga itu ada yang menyesal gara-gara bergerak bawah tanah tapi dilambung temannya sendiri, kan?” sambar teman yang lainnya. Teman saya yang dimaksud hanya bisa tersenyum-senyum kecut.

Sedikit-sedikit, tawa memecah. Sekali-dua kali, pembicaraan teralihkan ke setiap pengunjung lainnya di kafe. Bahkan, salah seorang gadis (dari kejauhan)  berjilbab orange menjadi bahan kekonyolan kami. Setiap dari kami menawarkan nama yang kira-kira menjadi nama dari gadis itu. Meskipun pada akhirnya tak ada yang berani unjuk kebolehan menanyakan nama gadis, yang belakangan kami tahu sudah menginjak kepala tiga. Haha...

Everything is change. Saya kerap mendengarnya. Pada dasarnya, pepatah itu benar bagi saya. Setiap orang akan berubah. Fisik. Mental. Pemikiran. Penghidupan. Pembawaan. Kepercayaan. Tindakan. Potensi. Kesabaran. Menuju satu titik; pendewasaan.

Sifat saya kekanak-kanakan? Saya lebih senang mengakuinya demikian. Terkadang menjadi dewasa itu menyesakkan dan memikul beban yang sangat berat. Dan orang-orang yang menganggap dirinya dewasa di luar sana cenderung lebih banyak membuat masalah. Dewasa itu soal berbuat banyak dan berguna bagi orang lain, bukan tentang pembawaan.

Malam itu, saya melihat teman-teman saya telah banyak berubah, namun lebih baik. Setiap orang memegang impiannya masing-masing. Ada yang telah menyelesaikan kuliahnya namun belum memutuskan bekerja penuh ataupun lanjut studi. Ada yang sudah punya pekerjaan menjanjikan namun belum menyelesaikan kuliah. Ada yang sudah menjadi mahasiswa S2. Tapi, lebih banyak dari kami yang masih menunggu masa-masa kelulusan sarjana. Seperti halnya saya yang masih berkutat pada proposal tugas akhir.

Tak ada yang tak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Segala hal harus bergerak untuk mencapai kematangan. Partikel sekalipun harus menyesuaikan ruang dimana ia berada. Kalau kata teknologi; bergerak dinamis. Setiap orang harus bergerak ke arah yang lebih baik. Memperbaiki diri. Mempelajari lebih banyak hal (dan mengajarkan lebih banyak). Menyusun rencana, perlahan, sekaligus menyisihkan waktu demi mewujudkannya.

Segala hal akan berubah. Setiap orang akan beranjak dengan kebaikannya masing-masing. Tak ubahnya kami, di titik pertemuan itu, kami masih terhubung...

Yah, inilah para mahasiswa bersama non-mahasiswa. (Foto: junior yang ditindas)

--Imam Rahmanto--

Ps: terima kasih atas konspirasi kosmik unik malam itu. Di balik kekonyolan cerita dan tawa yang meledak-ledak bergantian, saya menyimpan banyak hal. Membersihkan sampah-sampah di kepala, sembari mengingat-ingat masa silam, bahwa tak ada seorang pun yang digariskan sendiri.

Saking menikmatinya, hingga saya baru sadar ketika tiba di depan redaksi, bahwa saya malam itu seharusnya mengikuti Rapat Laporan Pertanggungjawaban yang sementara berlangsung.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar