Jumat, 27 Juni 2014

(se)Mula...

Juni 27, 2014
“Waktu, takkan pernah bisa terhenti, atau bahkan terulang. Kita harus mensyukuri itu. Kita hanya manusia. Kita takkan pernah bisa kembali ke masa-masa yang kita inginkan, dan mengulangnya sekali lagi. Akan tetapi, bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada manusia. Justru Tuhan mewujudkan kasih sayangnya dengan memberikan “mesin waktu” terbaik untuk manusia. Setiap manusia sejatinya memiliki mesin waktunya sendiri-sendiri, yakni memory…”

Pagi ini saya terbangun lebih cepat dari biasanya. Nampaknya, selepas tuntutan yang menekan kepala dalam rentang setahun, pikiran terasa ringan. Senin, kemarin, saya mengakhiri masa kepengelolaan saya di lembaga kuli tinta yang telah menempa saya nyaris 4 tahun lamanya. Kenyataannya bahwa saya tak lagi harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugas jabatan di profesi. Tersisa, laporan pertanggungjawaban yang mesti dilengkapi sebagai syarat diterimanya pekerjaan kami selama satu periode.

Akh, mengingat momen pertanggungjawaban kemarin, kami harus melewati perasaan “deg-degan”, h2c (harap-harap cemas), nyaris tak dianggap lagi sebagai “orang yang bekerja keras”. Beruntung, keajaiban berpihak pada kami. Yeah, benar-benar keajaiban. Keajaiban. 

Hei, apa kabar kalian? Tak usah takut dan khawatir. Saya benar-benar menanyakan kabar kalian. Bukan lagi alih pertanyaan kabar untuk berita atau liputan, seperti yang selama ini dicemaskan ketika nama saya berkedap-kedip di layar ponsel kalian. Hahahaha…., tenang, sembari mencicipi dunia luar yang lebih baru, saya masih merindukan momen “mengingatkan” dan proses menagih berita itu. 

Setelah momen pertanggungjawaban” terlama” kemarin, kita masing-masing bersyukur. Ada air mata yang tertahan. Ada pula yang tak mampu membendung lelehan kebahagiaannya, membiarkannya menderas di pipi. Berpelukan satu sama lain. Antara perasaan ingin melepaskan, sekaligus rasa ingin memiliki. Terkadang dua hal itu, menunjukkan sesuatu yang kontradiktif. Namun, sejatinya kedua hal itu menyatu demi menggenapi perasaan menyayangi orang lain. 

Tahukah kalian? Ada kekosongan yang tercipta selepas menanggalkan beban dan tanggung jawab itu. Kami tak lagi dihujani tuntutan-tuntutan yang saban hari memenuhi kepala. Tak ada lagi kekhawatiran atas setiap langkah yang diperbuat. Langkah kami, bukan lagi untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri. 

Tetapi, meninggalkan kalian berarti menggenapkan segala hal yang kami wariskan. Seyogyanya, ada kebaikan yang terselip di setiap perjalanan yang bisa kami ajarkan untuk masa mendatang. Kami berharap saja, di segala keburukan-keburukan yang dirongrong para “critician” kemarin ada tersisa kebaikan yang akan menuntun kalian tanpa perlu berpegang lama-lama pada kami.

Saya sedari menginap di rumah salah seorang teman yang selama ini sudah saya anggap sebagai kerabat sendiri. Bagaimanapun juga, rumahnya menjadi tempat berlindung dari masa-masa “pelarian” saya dulu. Selain karena ia adalah teman sekelas di jurusan, keluarganya juga berasal dari “darah” yang sama dengan saya; Jawa. Selama dua-tiga kali lebaran, saya selalu bersama mereka. Saya teringat, jelang sehari-dua hari ke depan, kita akan berpuasa Ramadhan. Semoga keberkahan melingkupi setiap ibadah yang akan ditunaikan.

Seharian kemarin, saya juga baru menyelesaikan tugas baru. Kini, dengan nuansa yang lebih baru. Dengan tekanan yang lebih baru. Dengan orang-orang yang juga lebih baru. Orang-orang yang lebih dewasa (sekaligus lebih tua). Saya tak lagi sekadar menjelajahi kampus. Saya baru sadar, ternyata tak banyak yang tahu tentang pekerjaan baru itu. Saya memperolehnya jauh sebelum menyelesaikan masa tugas saya di Profesi. Yah, jauh hari saya sudah harus memikirkan bagaimana cara melanjutkan hidup tanpa menyela kekosongan diantara proses transisi itu, di samping saya mesti bersegera memenuhi kebutuhan hidup.

Sedari dulu, saya memang menyadari, apa yang saya temukan di lembaga jurnalistik ini tak akan sia-sia. Saya orangnya peragu, namun tak pernah tergugu untuk mencoba.

Bagi kalian yang masih bertahan dan diamanahi jabatan baru, tentu tidak akan mudah menerimanya. Saya tahu bagaimana rasanya meragukan diri sendiri atas tanggung jawab yang diberikan. Selalu ada pertanyaan “Kenapa saya?” atau pernyataan-pernyataan “Saya tak mau” mengawali tanggung jawab yang diberikan. Saya amat jarang menemukan beban jabatan diserahkan tanpa proses penolakan si empunya.

Saya pun demikian, dulu.

Akan tetapi, percayalah. Tidak ada yang sia-sia dan percuma untuk dijalani. Kita ibaratkan saja begini; tanggung jawab yang kemudian dibebankan kepada kalian bukanlah atas campur tangan siapa-siapa. Melainkan jalan baru yang digariskan Tuhan untuk kalian tempuh. Salah satu jalan percabangan yang sengaja dipilihkan Tuhan untuk ditempuh, demi mengutip pelajarannya. Everything happens for a reason. #just believe it!

Agak lebay ya?? Haha… 

Akh, biasanya memang tingkat pesimistis itu cenderung melemahkan semua bentuk motivasi yang diberikan, meskipun belakangan kalian baru akan menyadarinya (atau tersadarkan). 

Betapa menyenangkannya bisa menyelesaikan deadline di media massa umum yang kini menjadi tempat belajar yang baru. Kalau sebelumnya, saya yang selalu menuntut orang-orang dalam proses peliputan di kampus, kini gentian saya yang dituntut untuk menyelesaikan liputan ini-liputan itu. Tapi, tetap menyenangkan. Ada detak napas dan tekanan yang diburu saat menyelesaikan berita di kala deadline! Ada kepercayaan baru yang dipertaruhkan.

“Betapa menyenangkannya menjadi seorang reporter. Hanya reporter. Kita hanya menerima tugas, meliput, wawancara, setor berita, finish! Bandingkan dengan tugas pimpinan yang lebih dari itu, masih harus menebar lebih banyak lagi kepercayaannya,” saya pernah berpikir demikian ketika menghadapi teman-teman di kala masih harus menanggung tanggung jawab pimpinan.

Nah, di media umum, saya beralih menjadi apa yang saya nikmati. Menerima atau mengusulkan liputan. Meliput. Wawancara. Menulis berita. Setor berita. Finish. Selanjutnya berpikir liputan lainnya. Huwah, betapa melegakannya menyetor berita yang diselesaikan dengan sepenuh hati. That’s the point!

Mengerjakan apapun selama dilakukan sepenuh hati, bakal membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Bukankah Tuhan memang selalu memberikan segala hal yang seyogyanya dibutuhkan manusia? Hanya saja, manusia terkadang seperti “anak kecil yang sakit, dan meminta pada ibunya untuk dibelikan eskrim”.

Saya, bukanlah kakak (baca: teman) yang baik. Segala hal yang dipercayakan pada saya tak selalu bisa diselesaikan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, saya belajar dari kesalahan itu. Sebagaimana wajarnya setiap orang berbuat salah. Ingatlah, tiada komputer tanpa operating system-nya (pepatah“tiada gading yang tak retak” sudah ketinggalan zaman). Oleh karena itu, jalani saja setiap hal baru dengan lapang dada. “Learning by doing”.  

Hm…kini beberapa hal sangat menyenangkan untuk dikerjakan. Hal-hal yang selama ini ingin saya lakukan nampaknya akan diwujudkan satu persatu. Ada kesibukan-kesibukan baru yang akan menyambut dengan tangan terbuka.

Dunia yang lebih luas, adalah dunia yang menjanjikan tantangan baru. Berharap saja, jalur-jalur ini menjadi lalu lintas kehidupan yang akan membawa pada mimpi-mimpi saya kelak. (*)



--Imam Rahmanto-- 


NB: Selamat menyambut bulan Ramadhan. Mari berpuasa! ^_^

Jumat, 20 Juni 2014

13# Selamat, Banyak Hal...

Juni 20, 2014
Selamat! Engkau bertambah usia lagi, 5 hari yang lalu. Maaf, telat memberikan salam kemenangan buatmu. Hehehe….kau tahu sendiri kan bagaimana padatnya menyita waktumu sendiri untuk banyak hal yang ssementara mengejarmu belakangan ini? You call it "deadline". Dan bagaimana hal-hal itu menjadi hadiah tersendiri buatmu.

Kepengurusan saya di lembaga yang hampir 4 tahun mendidik saya akan berakhir dalam 3 hari lagi. Entah apakah akan berakhir buruk atau happy ending. Saya hanya berusaha mengakhiri apa yang telah saya mulai. Finishing my job. Selanjutnya, saya hanya harus mencemplungkan ke dunia yang lebih luas lagi dan membutuhkan keprofesionalan lebih tinggi. Yeah!

“My head’s under water. But I’m breathing fine” by John Legend, All of me

Rasa-rasanya, saya seperti baru saja terbebas dari menenggelam kepala ke dalam air. Kepala saya tenggelam begitu lama, sehingga tak punya lagi kesempatan utuk bernapas. Saban hari, segala hal yang terjadi di sekitar saya hanya bisa dilihat lewat kepala yang ada di dalam air itu. Sesekali memang bisa mengambil napas ke udara, namun tak begitu lama. Dan akhirnya, saya benar-benar bisa bernapas tanpa perlu masuk lagi ke dalam air itu.

Sejak dulu, ada banyak hal yang saya ingin lakukan, andai saja, andai saja. Bukan tak bisa melakukannya, melainkan saya harus menghargai setiap usaha kecil orang lain. Saya dibelajarkan untuk menjadi orang yang tidak mementingkan urusan sendiri. Ada banyak harapan yang terhubung di setiap perjalanan kami. Dan tentu saja, saya tak ingin memutus hal itu.

Untuk menjadi seorang pemimpin, kita memang harus benar-benar menyisihkan segala kepentingan pribadi. Layaknya orang tua kepada anaknya, di atas segalanya, ia harus mengayomi dan melindungi. Saya teringat dengan ucapan salah seorang narasumber saya,

“Untuk menyayangi orang lain, tidak mesti dengan memimpinnya. Akan tetapi, kita tidak bisa memimpin orang lain jika tidak menyayangi orang yang kita pimpin itu,”

Saya terngiang kata-katanya sesaat menuliskan laporan pertanggungjawaban terakhir saya, kemarin.

Pada dasarnya, untuk memimpin orang lain, kita harus menyayangi setiap orang yang dipimpin. Tak peduli seberapa menyebalkan mereka terhadap kita. Toh, beban terbesar seorang pemimpin bukan pada tanggung jawab yang akan diembannya, melainkan pada setiap kepercayaan yang akan diberikannya pada orang lain, ada harapan yang terselip satu-satu.

15 Juni...

Yah, itu hari kelahiran saya. Saya mendapatkan hadiah dari Tuhan untuk memasuki fase kehidupan yang lebih baru. Tepat di hari itu, ada banyak deadline pula yang segera susul-menyusul mengejar saya.

Saya mengingatnya sebagai hari Minggu. Hari dimana seharusnya setiap orang istirahat manis di kediamannya masing-masing. Saya justru berjibaku dengan deadline baru dari liputan yang lebih luas. Untuk pertama kalinya, saya menajdi bagian dari media massa, tidak lagi pada scoop lingkungan kampus saja. Kau tahu apa kesenangan menjadi seorang jurnalis? Kita menemukan banyak hal baru dalam kehidupan, yang akan menambah jumlah sel-sel saraf yang menghubungkan neuron di dalam otak. Scientific based.

Saya mengingatnya sebagai hari pertama saya bekerja secara lebih profesional. Ada dua pekerjaan sebenarnya yang kemudian dihadiahkan Tuhan. Memang ya, Tuhan selalu memenuhi kita degan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan. Berhentilah merengek. Bukankah itu sungguh manis? Menjelang akhir kepengurusan saya di lembaga kuli tinta ini, akhirnya saya bisa membuka celah untuk segera (tenggelam) lagi menyibukkan diri. I'm breathing fine... Saya butuh menghidupi diri sendiri dan keluarga…

“Bagaimana dengan skripsimu?” tanya seorang teman di kampus suatu ketika.

Tenang saja. Saya tak pernah melupakannya. Bahkan, saya akan tetap berusaha menyelesaikannya untuk destinasi Agustus ini. Di saat seorang teman (seperjuangan) saya sudah menyerah dan memilih untuk mengejar destinasi Desember, saya masih menyelip harapan pada Agustus mendatang. Setidaknya, saya tetap maju di saat orang-orang sudah mulai menyerah. Kita terkadang tak pernah menyadari bahwa kita sudah begitu dekat dengan keberhasilan di saat kita berhenti di tengah jalan.

Semalam, saya menonton film X-Men: Days of Future Past dan memperoleh sedikit kutipan menarik,

"Just because someone stumbles, loses their way, it doesn't mean they're lost forever. Sometimes we all need a little help."

Hanya karena seseorang tersandung kehilangan arah, bukan berarti dia tersesat selamanya. Terkadang kita semua membutuhkan sedikit bantuan. Oleh karena itu, mari menemukan jalan yang baik, dan terus berjalan ke arah yang seharusnya.

Pagi ini begitu ramah membangunkan saya. Namun, tak terlalu suka sinar yang ditawarkannya pagi ini. Terang. Cukup menyilaukan. Saya lebih senang dengan pagi yang malu-malu menyembulkan kepalanya di balik awan-awan berarak. Bahkan, lebih menyenangkan kalau pagi menyiramkan hujannya. Rerintik. Romantis.

Saya merindukan setiap sudut “rumah” ini…



--Imam Rahmanto--


Ps: Untuk memperingati hari istimewa "15/06", saya mengirimkan postingan surat untuk saya sendiri 2 tahun mendatang. Postingan itu, kelak, akan terjadwal dan terposting otomatis pada hari kelahiran saya. #letter to the future

Rabu, 11 Juni 2014

Menjadi Penenang(?)

Juni 11, 2014
Saya tersenyum saja melihat seorang teman sedang sibuk mengetikkan jalinan huruf di notebook yang saya pinjamkan. Beberapa menit sebelumnya, ia terlihat bingung dan nyaris putus asa mencari inspirasi atas apa yang mesti dituliskannya, sesuai orderan. Di sebelahnya lagi, teman lainnya, sembari berharap-sangat-berharap-sangat-berharap mengarahkan (atau mengiyakan saja?) apa yang mesti dituliskan lewat secarik kertas digital Microsoft Word yang akan dibuat menyerupai surat itu.

Hm…kalau dipikir-pikir, kami serupa “relawan tim sukses” dari teman yang sedang kasmaran itu, dibayar dengan segelas cappuccino dan kentang goreng di suatu kafe langganan. Saya, sebagai designer dan teman yang satu lagi sebagai ghostwriter-nya. Tak diragukan lagi, usulan kado yang akan diberikan kepada teman perempuannya itu adalah dari kami. Jrengg!!

“Ah, kasih dia sesuatu yang unik, yang tidak terpikirkan oleh semua orang, bahkan oleh pacarnya,” saran kami. “Kalau hadiah material kan sudah biasa. Tinggal beli di toko, langsung beres. Lebih keren lagi kalau hadiahnya itu hasil karyamu sendiri yang tidak bakalan ditemukan di toko manapun,” tambah kami lagi. Semoga saja bukan saran yang sesat.

Maklum, teman saya satu itu sedang kasmaran. Namun menurut pengakuannya, ia tak banyak berharap kepada perempuan yang akan dihadiahinya kado ulang tahun. Ia justru menekankan status “adik” pada perempuan yang sangat spesial itu.

“Ia sudah punya pacar,” tuturnya sembari tersenyum-senyum polos.

Padahal, jauh dari tingkah yang ditunjukkannya, ia memperlakukan perempuan yang terpaut satu tahun lebih muda darinya itu jauh dari sekadar hubungan “adik”. Kalau ada martabak biasa, spesial, istimewa, komplit,  silakan misalkan saja dengan memilih jenis martabak paling mahal.

Saya sendiri tak habis pikir, betapa tahannya ia memasung perasaan suka seperti itu, meskipun secara terang-terangan perempuan itu juga suka padanya. Bahkan dengan tetap membiarkan perempuan yang disukainya itu beberapa kali berganti pasangan. “Asalkan saya bisa selalu dekat dengannya. Dan mungkin menjadi sandarannya ketika ia merasa susah,” saya membayangkan ia akan berkata demikian. Selayaknya obat, yang dicari ketika dibutuhkan.

“Deh, sakit juga ketika saya dimintai pendapat tentang kado apa yang paling bagus untuk pacarnya,” katanya agak sewot. Pacar dari “adik”nya itu juga berulang tahun di bulan yang sama (kalau tidak salah). Ya ampun, pasti sakitlah!

Sebenarnya, saya pun pernah merasainya. Rasionalnya, seperti apapun bentuk hubungannya, asalkan bisa selalu dekat dan bersamanya, seperti kata teman saya tadi. Namun, jauh di dalam hati, kita tetap berharap hal yang pasti adanya. Kita sengaja menunggu, bersabar, menjadi orang yang selalu ada buatnya sembari tetap berharap ada titik kelak untuk menyusupkan kita, membalikkan keadaan. Sementara kita tak pernah sadar diam-diam telah menyakiti diri sendiri.

Ada mitos yang mengungkapkan: Kalau laki-laki membuat wanita tertawa, berarti wanita itu menyukainya. Kalau laki-laki membuat wanita menangis, berarti wanita itu mencintainya. Hm, saya tidak begitu mempercayainya. Tidak semua perempuan menangis karena menyayangi orang yang membuatnya menangis. Seringkali rasa penyesalan bercampur kasihan kepada orang lain lah yang membuat perempuan menangis. Kami, lelaki takkan pernah betul-betul tahu seperti apa "rasa" perempuan itu, sementara mereka "memaksa" selalu ingin dimenegrti. Paradoks.

Beruntung, teman saya itu punya perawakan yang cukup mendukung untuk menarik hati seorang perempuan. Semisal buku, sampulnya sih sudah oke. Ia tak perlu banyak berpikir untuk bisa menemukan seorang kekasih. Bukannya sebagian besar orang menilai atas dasar pandangan mata? Sigh. Namun kenyataannya ia memilih untuk tetap “dekat” dengan “adik”nya itu, sembari memupuk harapannya tipis-tipis. Hm, saya doakan semoga kesabarannya membuahkan hasil, tak menyerupai kesabaran yang dulu menelan saya sendiri.

Malam itu, kami menyelesaikan “misi” untuk teman yang sangat bersemangat itu. Kalau saya yang biasanya suka usil mengganggu teman-teman yang sedang “pedekate” atau bahkan sudah jadian, untuk kali ini, entah atas alasan apa saya terdorong untuk membantunya. Saya terlalu banyak mengganggu orang lain, hingga hal yang sama berbalik pula pada saya. Karma, mungkin. Olehnya itu, sedikitnya saya berusaha menanam karma baik hari ini.



 
--Imam Rahmanto--

Minggu, 08 Juni 2014

Berjalan dan Berpetualanglah

Juni 08, 2014
Sumber: inalicious.wordpress.com
Sudah sejak lama buku Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan karya Agustinus Wibowo ada di tangan saya. Hasil minjam-nodong milik teman. Saya sampai harus mengulangi bacaan yang belum setengahnya selang dua minggu kemudian saya "menelantarkan" buku ini. Hanya saja, (mungkin) saya tidak terpikir untuk menghabiskan buku yang berjumlah 556 halaman itu. Kalau novel sih tidak apa-apa karena saya justru terbawa dalam penampilan gambar bergerak dalam imajinasi saya yang dibumbui klimaks-antiklimaksnya. Belum lagi, di awal-awal saya membaca buku ini, bahasanya agak lugas dan tegas. Jelas-jelas menunjukkan bahwa buku ini adalah buku non-fiksi. Kalau diibaratkan menonton film, kita akan disuguhi "film dokumenter" sepanjang membaca buku ini.

Berbekal label "recommended" yang saya sematkan otomatis di pikiran, saya memaksakan diri untuk membacanya. Sebaik-baik penulis adalah pembaca beragam literasi dan referensi. Meskipun tebalnya tidak mampu dilahap hanya dalam sekali duduk, namun naskah yang dilengkapi beberapa foto dari penulis sendiri sudah cukup menyibakkan rasa "malas-membaca".

Buku ini mengisahkan tentang perjalanan sang penulis sendiri. Perjalanan mengelilingi dunia untuk sampai ke Afrika Selatan. Perjalanannya dalam melewati berbagai rintangan di kehidupan nyata dan menuai makna atas setiap perjalanannya. Perjalanan yang akan membawanya pada kesadaran sebagai seorang makhluk Tuhan.

Bermula, isinya memang agak monoton. Caranya bercerita yang tidak tanggung-tanggung layaknya sebuah jurnal perjalanan. Langsung tanpa banyak basa-basi. Bahkan, untuk menyediakan kutipan maupun paragraf baru atas setiap kutipan percakapan tak akan ditemui di sebagian besar halaman bukunya. Wajar ketika membacanya, saya menganggap buku ini agak berat dan padat. Yah, untuk orang-orang yang lebih suka membaca novel-novel bertemakan "cinta", saya kira buku ini kurang tepat untuk dibaca.

Mungkin, karena latar belakangnya yang pernah menjadi jurnalis untuk kantor berita di Afganistan, Agustinus memiliki karakter bercerita demikian. Namun, untuk penggambaran dan deskripsi yang dituangkannya lewat tulisan ini, membawa kita pada dunia lain genre tulisan feature alias soft news. 

Kisah Agustinus dibuka dengan kedatangannya di Indonesia, sepulangnya dari perjalanan panjang menjelajah negeri. Ibunya mengidap penyakit kanker. Saat ditemui pun sudah dalam keadaan sangat lemah, dan sekarat. Demi berbakti dan menemani masa-masa terakhir ibunya, ia menunda untuk sementara perjalanannya yang belum mencapai tujuan akhirnya di Afrika Selatan. Apalagi ia yang telah jauh dari rumah selama beberapa tahun dan hanya berbagi kabar dengan keluarganya lewat email atau telepon.

Sembari menunggui ibunya, ia membacakan kisah perjalanannya sendiri dalam catatan yang diberi judul Safarnama. 

Selang beberapa halaman, kita akan dibawa melintas waktu. Masa kini - masa ia menunggui ibunya yang sedang terbaring lemah, dan masa lalu - masa ia melakukan perjalanan melintas Tibet, Nepal, India, Pakistan, hingga Afganistan. Kedua masa dibuat penulisnya saling berhubungan. Di tengah perjalanannya menaklukkan wilayah yang dilaluinya, ada pelajaran yang selalu bisa dimaknai. Pelajaran yang dikaitkan penulis secara metafora lewat interaksi dengan ibunya, meskipun secara faktual tak berhubungan langsung. Namun Agustinus mampu menghubungkan sinkronitas kedua masa yang dituangkannya dalam cerita itu. Keren!


“Kita melakukan perjalanan demi mencari sesuatu yang tak ada dalam kehidupan kita yang sesungguhnya. Itulah sebabnya, jenis perjalanan yang disukai banyak orang adalah time-travel, perjalanan menembus waktu.”__hal. 176__

Dalam buku ini, kita akan menyelami kehidupan penulis selama menapaki selangkah demi selangkah daerah tujuannya. Di setiap negara, apakah Tibet, Nepal, India, Pakistan, hingga Afganistan, punya cerita masing-masing dengan pemaknaan yang berbeda-beda. Kita akan dibawa pada penyelaman hidup tentang politik, pendidikan, ideologi, bahkan sampai pada pemahaman agama. Sementara Agustinus sendiri bukan berasal dari agama yang banyak dianut negara-negara yang dilaluinya, Pakistan atau Afganistan.

Kalaulah memang Tuhan yang menciptakan agama, mengapa justru manusia saling bunuh atas nama-Nya? Mengapa sejarah agama-agama malah penuh dengan halaman hitam perang dan tragedi? __hal. 458__

Saya paling suka kisah perjalanan Agustinus ketika sempat menetap dan menjadi relawan di Pakistan, khususnya di kota yang tak nyaris selama dua bulan lamanya tidak diterpa cahaya matahari. Kehidupan Muslim di Pakistan mengajarkannya betapa ramah penduduk disana memperlakukannya sebagai tamu. Di tengah bencana gempa yang selalu siap melanda sekalipun, ia selalu menemukan kehangatan dan senyum dari para penduduknya.

Tentu kita bertanya, mengapa mereka masih bertahan di tempat seperti ini? Bahkan Noorkhan yang punya rumah mewah di Karachi pun tetap pulang kesini. Pasti ada hal luar biasa tentang sebuah kampung halaman. Majid bilang, “Hidup di tempat seperti ini memang sulit. Tapi kesulitan itu bukan untuk dihindari, apalagi disinilah rumah kami.” __hal. 324__

“Tapi kita tidak bisa terus terpaku pada masa lalu, bukan? Hidup harus terus berjalan!” Mubasshar berucap yakin, “Itu artinya bangkit dari kehancuran. Kita tidak bisa terus-menerus memandang diri sebagai korban, karena kita adalah subjek yang bisa menentukan nasib sendiri. Tak ada guna menyesali nasib, menyalahkan bencana. Masa lalu adalah sejarah, tetapi hari ini adalah kenyataan. Kita tak bisa mengubah sejarah, tapi kita bisa berjuang untuk mengubah takdir hari esok.” __hal. 356-357__

Di Pakistan pula, dikisahkan penulis,  kita akan menemukan fakta-fakta yang cukup mencengangkan tentang negara muslim di luar sana. Ada banyak sejarah peradaban yang diajarkan penulis lewat cerita-ceritanya. Asalkan saja tidak bosan membacanya.

Selepas dari Pakistan, ia menetap di Afganistan untuk sementara. Pasalnya, di perjalanan sebelumnya, ia banyak mendapati pencopetan, perampokan, penodongan atau kejahatan-kejahatan lain. Seakan-akan ia memang menjadi mangsa empuk bagi para pelaku kejahatan terhadap orang-orang asing di negeri asing. Di dalam bukunya ini pun tak lepas kita akan mendapati pengalaman penulis ketika kehilangan uang, surat-surat berharganya, hingga dompetnya sekaligus.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan yang bisa membiayainya kembali melanjutkan perjalanan. Keberuntungan berpihak padanya. Ia menjadi seorang fotografer di sebuah kantor berita di Afganistan, yang tugasnya sehari-hari harus berhadapan dengan nyawa ratusan orang. Afganistan adalah negara perang. Negara dimana suara bom sudah menjadi hal biasa lazimnya kokok ayam.

Tak masalah seberapa lambat kau berjalan, yang penting jangan sampai kau berhenti. Cita-cita yang tak tergapai memang akan membawa penyesalan, tapi penyesalan itu justru lebih menyiksa kalau kau sudah menyerah sebelum kalah. __hal. 473__

Sungguh, membaca buku ini memberikan kita pemahaman (sekaligus pengalaman) baru tentang dunia di luar sana. Apalagi untuk orang-orang yang juga punya impian sama, menjadi backpacker layaknya Agustinus, mengelilingi banyak tempat di dunia ini. Dunia tak selebar daun kelor, kan? Ternyata masih ada tempat di luar sana yang tak seperti kita bayangkan, hasil suguhan layar kaca.

Bagi saya, buku ini cukup menarik. Cara penulis dalam menuangkan kisah perjalanannya agak berbeda dengan genre travel writing lainnya. Kalau penulis-penulis lainnya lebih banyak menawarkan how-to dalam mengelilingi dunia atau minimal menjelajah tempat ala backpacker, traveler, atau turis, Agustinus justru memberikan pelajaran di setiap perjalanannya. Setiap tempat punya cerita. Namun tidak setiap orang memetik makna dari sana. 

Tentu saja, buku tebal ini tidak sia-sia saya habiskan dalam tiga hari belakangan. Saya terpuaskan membaca sampai akhir. Next, saya tertarik untuk membaca buku pertama dan kedua Agustinus Wibowo yang juga bercerita tentang perjalanan; Selimut Debu dan Garis Batas. 

NB: Selimut Debu, tentang perjalanannya di Afganistan selama menjadi jurnalis perang, dan Garis Batas, tentang perjalanannya di negara-negara Tajikiztan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan.


Memang dalam realita hidup, selalu ada yang terpaksa dikorbankan, perjalanan yang harus dihentikan, impian yang harus dilepaskan. __hal. 470__

Fragmen memori adalah kisah-kisah yang campur aduk, kebetulan yang tak terduga, penderitaan yang tak henti-henti, kejadian-kejadian yang kelihatannya tak penting dan tak nyambung. Tapi sesungguhnya setiap fragmen adalah kepingan berharga dalam perjalanan menyusuri kehidupan. __hal. 525__

Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang. __hal. 531__




--Imam Rahmanto--

Selasa, 03 Juni 2014

Hidup yang Mempertemukan

Juni 03, 2014
“Hidup akan memisahkan kita, namun kita yang akan menghidupkan pertemuan itu”

Sore baru saja beranjak. Lamat-lamat, cahaya matahari di beranda kafe mulai berganti dan memudar. Bayang-bayang senja yang tadinya memanjang perlahan meninggalkan tuannya. Lampu-lampu neon dinyalakan. Orang-orang datang dan silih berganti pergi meninggalkan duduknya. Keenam lelaki itu juga hendak beranjak. Bermaksud meninggalkan beranda dan mengisi sofa empuk yang lebih nyaman di dalam kafe.

Ramai, mereka memperbincangkan banyak hal. Riuh memperkarakan segala sesuatu. Bersahut-sahutan tak ingin kalah memperdengarkan cerita-ceriita yang sebenarnya konyol dan tak masuk hitungan. Bergantian mengadili setiap orang dengan kisah-kisah masa lalunya. Yeah, memorizing. Mereka mengobrol lepas. Tak peduli pengunjung lain di kafe. Mengulas kisah, sembari mengulumm senyum. Betapa merindunya setiap lelaki di malam itu.

***

Hanya gara-gara salah seorang teman, Halim, mengirimkan pesan singkat keberadaannya di kampus, saya memaksakan diri untuk ke kampus meskipun tak ada kuliah. Sedikit-sedikit saya mencoba untuk memaksa diri. Apalagi satu hal ini berkaitan dengan tugas akhir saya sebagai seorang mahasiswa. Mungkin saja ia bisa membantu, secara tak langsung.

“Namanya malas harus diperangi, bukan? Nah, saban hari saya memaksa dan menekan kemauan saya. Paling tidak, kita memaksa diri tanpa perlu merasa terpaksa,” ujar saya sok bijak, tersirat.

Tak lain untuk mendorongnya melakukan hal serupa. Soalnya teman saya yang satu ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game ketimbang mempercepat proses penelitiannya, yang di-PK alias Peninjauan Kembali, alias diulang atas instruksi dosen pembimbingnya.

“Orang mau lulus memang agak sulit,” sambar teman yang lainnya, Kama, salah seorang mantan Ketua UKM KSR di kampus saya. Yaah, kita sama-sama tahu kok. -_-

Bersama seorang lagi teman lainnya, Aan, kami menghabiskan 7 jam menemani Halim di ruangan Peer Group-nya. Sedikit-sedikit, sembari mengkonsultasikan alur pengurusan judul tugas akhir saya. Tanpa diduga pula, ketika sedang duduk-duduk di depan jurusan dan mengobrol dengan salah seorang adik kelas, saya berpapasan dengan dosen penasehat akademik. Agak ragu-ragu memandang wajah saya, ia langsung berujar, “Kamu yang kemarin sms untuk ketemu konsultasikan judul, kan?”

“Eh, eh, iya, Bu,” jawab saya gelagapan. Tak menyangka bakal dikenali. Bahkan, belakangan saya ketahui, ia juga tahu kalau saya aktif di salah satu lembaga pers kampus. Maklum ketika ia langsung menyetujui judul saya yang lebih banyak menekankan pada aspek pengumpulan data melalui proses survei dan wawancara. Luckily.

Nah, saya selalu percaya bahwa keajaiban itu nyata. Sebentuk konspirasi kosmik atas tekad atau kemauan kuat yang ditanamkan di kepala setiap orang di bumi.

Pun, kosmik berkonspirasi merencanakan sebentuk pertemuan bagi anak-anak Pend. Matematika 09, di tengah kesibukan dan kehidupan masing-masing.

“Ayo, yang baru pulang kampung traktir dong,” todong Kama ketika di tengah jalan kami dihentikan salah seorang teman kami, Ilham yang baru saja datang menjelang “tutup kampus”.

Dengan sedikit permintaan dari kami, dengan tawaran tempat yang sudah tidak asing lagi bagi saya, dengan sedikit “kecerewetan” bergaya sales promotion, tanpa muka-muka memelas dan bersalah, jadilah pertemuan itu tanpa terencana. Sedikit bantuan teknologi handphone, terhubunglah setiap titik yang terpisah sore itu.

***

Para lajang menanti lajang-lajang lainnya berdatangan
ya? (Foto: Kama)
Pertemuan yang tidak memperbolehkan berlama-lama memegang gadget itu sungguh di luar dugaan. Saya hanya berusaha mencari hiburan atas penatnya kepala beberapa hari terakhir. Mengalihkan sedikit perhatian. Nyatanya, Tuhan mempertemukan saya dengan teman-teman yang telah lama hanya bergaung kabarnya, tanpa pernah saling memandang wajah.

Saya masih ingat dengan awal mula kami mengenal satu sama lain di dunia kampus. Disatukan oleh perasaan senasib di kampung orang, sekelas, dan sepenanggungan dari tatapan mengancam para senior. Saya ingat, di angkatan saya pula terakhir kalinya diberlakukan Orientasi Pengenalan Kampus alias OSPEK.

Betapa mengisi waktu kesendirian bagi kami dengan mengunjungi masing-masing kost. Nyaris setiap minggu selalu ada acara kecil-kecilan yang membawa kami dalam nuansa kebersamaan. Kalau tidak secara menyeluruh, terkadang khusus bagi kalangan lelaki saja. Tahu sendirilah, lelaki ketemu lelaki, kebanyakan juga membicarakan teman perempuan. Mungkin, sudah jadi kebiasaan pula, seorang mahasiswa di awal tahun kuliahnya menyukai teman kelasnya.

Ada yang lagi korek upil. (Foto: Imam)
“Yah, dulu kan tanggal 10 bulan 10 itu siapa yang prakarsa? Terus waktu ngumpul-ngumpul di kost, kita semua dipaksa untuk mengakui siapa saja yang sedang diincar, dengan alasan biar tak ada yang saling tumpang-tindih,” seru salah seorang teman, antusias mengingatkan sembari menunjuk-nunjuk konyol ke teman lain. Beruntung saya tidak termasuk menjadi korban di masa itu.  -_-

“Ah, dulu juga itu ada yang menyesal gara-gara bergerak bawah tanah tapi dilambung temannya sendiri, kan?” sambar teman yang lainnya. Teman saya yang dimaksud hanya bisa tersenyum-senyum kecut.

Sedikit-sedikit, tawa memecah. Sekali-dua kali, pembicaraan teralihkan ke setiap pengunjung lainnya di kafe. Bahkan, salah seorang gadis (dari kejauhan)  berjilbab orange menjadi bahan kekonyolan kami. Setiap dari kami menawarkan nama yang kira-kira menjadi nama dari gadis itu. Meskipun pada akhirnya tak ada yang berani unjuk kebolehan menanyakan nama gadis, yang belakangan kami tahu sudah menginjak kepala tiga. Haha...

Everything is change. Saya kerap mendengarnya. Pada dasarnya, pepatah itu benar bagi saya. Setiap orang akan berubah. Fisik. Mental. Pemikiran. Penghidupan. Pembawaan. Kepercayaan. Tindakan. Potensi. Kesabaran. Menuju satu titik; pendewasaan.

Sifat saya kekanak-kanakan? Saya lebih senang mengakuinya demikian. Terkadang menjadi dewasa itu menyesakkan dan memikul beban yang sangat berat. Dan orang-orang yang menganggap dirinya dewasa di luar sana cenderung lebih banyak membuat masalah. Dewasa itu soal berbuat banyak dan berguna bagi orang lain, bukan tentang pembawaan.

Malam itu, saya melihat teman-teman saya telah banyak berubah, namun lebih baik. Setiap orang memegang impiannya masing-masing. Ada yang telah menyelesaikan kuliahnya namun belum memutuskan bekerja penuh ataupun lanjut studi. Ada yang sudah punya pekerjaan menjanjikan namun belum menyelesaikan kuliah. Ada yang sudah menjadi mahasiswa S2. Tapi, lebih banyak dari kami yang masih menunggu masa-masa kelulusan sarjana. Seperti halnya saya yang masih berkutat pada proposal tugas akhir.

Tak ada yang tak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Segala hal harus bergerak untuk mencapai kematangan. Partikel sekalipun harus menyesuaikan ruang dimana ia berada. Kalau kata teknologi; bergerak dinamis. Setiap orang harus bergerak ke arah yang lebih baik. Memperbaiki diri. Mempelajari lebih banyak hal (dan mengajarkan lebih banyak). Menyusun rencana, perlahan, sekaligus menyisihkan waktu demi mewujudkannya.

Segala hal akan berubah. Setiap orang akan beranjak dengan kebaikannya masing-masing. Tak ubahnya kami, di titik pertemuan itu, kami masih terhubung...

Yah, inilah para mahasiswa bersama non-mahasiswa. (Foto: junior yang ditindas)

--Imam Rahmanto--

Ps: terima kasih atas konspirasi kosmik unik malam itu. Di balik kekonyolan cerita dan tawa yang meledak-ledak bergantian, saya menyimpan banyak hal. Membersihkan sampah-sampah di kepala, sembari mengingat-ingat masa silam, bahwa tak ada seorang pun yang digariskan sendiri.

Saking menikmatinya, hingga saya baru sadar ketika tiba di depan redaksi, bahwa saya malam itu seharusnya mengikuti Rapat Laporan Pertanggungjawaban yang sementara berlangsung.
 

Senin, 02 Juni 2014

12# Escape

Juni 02, 2014

(Sumber: google.com)
Seharian, saya banyak menghabiskan waktu sendiri. Sebenarnya, tidak sepenuhnya sendirian karena jelas-jelas berada di kamar salah seorang teman saya. Hanya saja, teman saya yang satu ini – meski kami berasal dari sekolah yang sama – tak bisa diajak curhat. Akh, benar, saya butuh orang-orang yang bisa dengan tersenyum mendengar setiap “sampah” di kepala saya. Sigh. Saya, yang kerjanya mendengarkan orang lain mengeluh, menarik orang lain dari lubangnya sendiri, sekali waktu juga butuh ditarik nampaknya.

Sudahlah, tak penting juga. Saya hanya merasa kecewa. Just disappointed to disappeared. Saya bukan orang-orang yang senang menyalahi janjinya, namun orang-orang membuat saya menyalahi janji saya sendiri. Saya benci hal itu. Bagaimanapun, saya hanya butuh tempat untuk melarikan seluruh “sampah” di kepala saya. A place to escape. A way to escape. Alhasil, sudah hampir belasan film saya tamatkan.

Kau tahu cara terbaik untuk pergi dari dunia ini? Dengan membaca buku, atau menonton film.

Saya ingat dengan “tugas akhir” saya. Oke, oke, kita akan menyebutnya lagi “skripsi”. Saya punya deadline pribadi untuk menyelesaikannya. Beruntung, seorang teman mengingatkan dengan caranya sendiri. Sejauh ini, saya sudah punya “judul” (tapi belum dikonsultasikan dengan pembimbing. Hehe…) Judul yang terpikir setelah seorang teman “menjebak” saya untuk menemaninya ke perpustakaan jurusan. Haha… Disanalah kami berdiskusi tentang judul yang tepat bagi “skripsi” saya. Eurekaa

“Secepatnya dieksekusi!” pesannya selalu. Duh, teman satu ini memaksa dengan caranya sendiri. 

Pun, ia selalu menagih janji untuk bersama-sama backpacking ke kampung halaman masing-masing. Sejauh ini saya hanya mendengar orang-orang di luar sana melakukan perjalanan ke tempat-tempat wisata atau tempat-tempat yang belum mereka kunjungi. Sekali-kali, kenapa tidak mencoba melakukan perjalanan ke rumah sendiri? :D

“Kan sudah sering pulang kampung?” tanyanya suatu waktu ketika sama-sama merencanakan perjalanan di waktu-waktu menganggurnya selepas kuliah. 

“Bukan esensi “sudah-sering-pulang”nya. Melainkan bagaimana kita menempuh jalan pulang dengan cara-cara tak biasa. Dengan cara yang tidak pernah terlintas di kepala kita untuk lakukan. Meskipun jaraknya dekat, hanya 8 jam perjalanan dengan mobil, tapi apa kira-kira kita bisa bertahan tanpa mengandalkan kendaraan yang biasanya kita tumpangi? Ala-ala backpacking, friend!” ujar saya bersemangat, yang hanya ditanggapinya dengan mengangguk-angguk.

Kelak, saya ingin merasakan esensi perjalanan itu. Saya yakin, setiap perjalanan akan mengajarkan kita proses untuk hidup. Seperti kata seorang teman, travels heal you!

"I don't want to survive! I wanna life!
--by Film, Wall E--

Ucapan kapten ketika dipaksa untuk bertahan dalam kenyamanannya di atas kapal. Robot Auto tak menginginkan manusia kembali ke bumi, setelah ditemukannya tanaman yang bisa hidup dan mengembalikan kehidupan di bumi. Orang-orang telah lama dibuai oleh kecanggihan teknologi dan hidup di atas angkasa hingga tak pernah lagi mengenal buminya. Mereka hidup tapi tak hidup.

“Everything that kills me makes me feel alive”
“Everything that drawns me makes me wanna fly”
--One Republic, Counting Stars--

Kenyataannya, teman saya yang satu ini termakan omongan saya, dan setiap minggu bahkan setiap hari menagih perkembangan skripsi saya. Ckck…susah juga punya puluhan pembimbing. #ehh
Saya hanya menargetkan akan menyelesaikan kehidupan anak-kuliahan saya di tahun ini. Dunia sana, masih banyak hal yang perlu dijelajahi. Terlalu banyak menghabiskan waktu disini, akan semakin mengurangi jatah saya untuk mengelilingi banya tempat. Saya sudah cukup banyak mengelilingi kampus. Sudah saatnya saya berpikir untuk bekerja dan hidup secara profesional. 

"Banyak daun, tapi satu pohon"
Apa artinya?
Kami semua individu tapi kami masih terhubung
Mungkin kau terhubung, tapi aku sendirian
Tak ada orang yang sendirian.
--by Film, Epic--

Saya menyadarinya. Tak ada seorang pun yang hidup atau bahkan menginginkan sendirian. Manusia memang individu yang diciptakan sebagai makhluk sosial. Dengan demikian, seterpuruk apapun setiap orang atas masalah yang tengah dihadapinya, ia seharusnya punya tangan-tangan yang siap membantunya. Kesendirian, hanyalah bentuk ekspresi dari perasaan manusia, bukan bentuk kehidupan manusia. Menyendiri, boleh saja. Tapi sendirian, itu yang tak dibenarkan.

“Jika kau begitu ingin pulang, kenapa tadinya kau pergi?”
--by Film, Epic--


--Imam Rahmanto--