Rabu, 14 Mei 2014

Not "Shift + Delete"

Seorang teman pernah bertanya, “Bagaimana caranya untuk cepat melupakan?”

Entah atas dasar apa ia bertanya hal seperti itu pada saya. Mungkin, ia melihat hal yang terjadi padanya sama dengan yang ia tahu terjadi pada saya. Padahal, beda. Amat berbeda. Tahu, dimana letak perbedaannya?

Baiklah, mari saya sampaikan padamu, kawan.

Sebenarnya, tak ada yang tahu secara pasti konsep melupakan. Bagaimana cara melupakan. Setiap orang telah dianugerahi Tuhan sebentuk memori (ingatan) yang tak bisa dilampaui oleh peralatan secanggih apapun. Komputer, sedinamis apapun mengikuti perkembangan zaman, yakin saja, takkan mampu menyamai konsep ingatan yang telah ditanamkan Tuhan bagi manusia-Nya.

Oke, komputer yang menggunakan dasar logika matematika, hanya sebatas meniru “penyimpanan data” yang dimiliki otak manusia. Mungkin, kelak akan ditemukan peralatan yang mampu melampaui kepintaran manusia. Kita juga tak perlu menampiknya. Pemrosesan datanya bahkan lebih cepat ketimbang kemampuan otak manusia dalam mencerna informasi yang diterimanya. Namun, sekali lagi, takkan ada yang mampu menyamai konsep ingatan yang dibangun sedemikian rupa dalam otak kita.

Otak kita memang mampu mengingat banyak hal. Tapi, tentu saja tak mampu serta merta menghapusnya sesuai dengan selera kita, atau bahkan mood kita. Mengapa? Agar kita mampu mengambil pelajaran atas segal hal yang disimpan di dalam sana, baik atau buruk.

Memori yang kita miliki pun tidak hanya berdasar pada bilangan biner 0 atau 1, yang hanya mengandalkan rumus dan logika. Manusia berpikir, tidak-pernah-tidak selalu memperturutkan emosinya. Apakah itu buruk? Tidak. Justru hal itulah yang membedakan kita dengan “alat”. Kita tak sama dengan komputer. Oleh karena itu, secanggih apapun alat yang diciptakan manusia dalam rangka meniru cara kerja otak kita, takkan se-emosional manusia dalam memproses informasi. Saya yakin takkan ada yang mampu menciptakan emosi atau perasaan yang memang dibawa sejak lahir oleh manusia.

Nah, kawan, sekuat apapun kita menghapus suatu “ingatan” dalam batok kepala, takkan semudah menekan Shift + delete di keyboard perangkat komputer. Untuk itulah, Tuhan mengajarkan kita konsep bersyukur. Berdamai dengan keadaan. Merelakan. Menerima apa adanya. Nrimo.

Saya mempelajari, tak ada gunanya melupakan. Jauh zaman, Tuhan telah menganugerahkan memori bagi kita, sebagai alat untuk melompat dari masa ke masa. Memori, menyimpan segala kenangan layaknya kotak pandora. Kenangan baik. Kenangan buruk. Terlepas dari itu, kenapa manusia tidak bisa hanya menganggapnya sederhana saja?  Cukup kenangan. Tanpa embel-embel “baik” atau “buruk” di belakangnya. Terkadang, kita yang melabelinya, kita pula yang tersuruk di dalamnya.

Yang kita butuhkan, cukup menerima saja setiap ingatan yang menumpuk di kepala. Berkepala dingin, memilahnya satu-satu. Berdamai dengan ingatan-ingatan yang kita anggap buruk di kepala kita. Layaknya suatu trauma, semakin kita berusaha melupakan sesuatu, justru kita semakin terpaut padanya.

"Anda tahu kan, bagaimana cara alam bawah sadar kita menghadapi trauma?" lanjut Hawkeye jenaka.
"Kalau kita punya trauma, atau konflik yang belum tuntas, maka batin bawah sadar kita akan terus memunculkan situasi dimana kita jadi terus berhadapan dengan trauma dan konflik tersebut. Hingga mereka diselesaikan." –Supernova#4 Partikel, Dee—

Nah, suatu cerita, saya pernah berusaha melupakan seseorang. Saya mempelajari, ternyata ada dua alasan untuk seseorang “menjauh”. Menjauh karena ingin dilupakan. Menjauh karena ingin melupakan. Saya termasuk dalam kategori yang kedua. Agak-agak kacau-galau gimana gitu, kan? Hahaha….maaf, tapi itu hanya berlangsung untuk sementara kok. Tuhan selalu menyediakan cara untuk lebih baik. Life, move us forward.

Seperti  yang saya sampaikan, kita cukup berbeda. Saya, sudah berkali-kali mengungkapkan apa yang terlintas di kepala saya pada seseorang itu. Tapi, berkali-kali pula ia menanggapinya “biasa”. Nah, di saat itu, saya tahu untuk “menjauh” saja.

Bagaimanapun, laki-laki seperti kita, yang berpikir dominan logika pun, butuh sebentuk kejelasan. Tapi, katamu selalu, kau rela menunggu sedikit lebih lama lagi. Akh, saya jadi bingung, kau sebenarnya menunggunya, atau menunggu dirimu sendiri? Pikirkanlah baik-baik konsep “menunggu” itu.

Awalnya, saya merasa mampu membunuh semua “ingatan” itu. Awalnya, saya benar-benar teralihkan. Akan tetapi, pada akhirnya saya baru tahu, pengaruh dari berusaha-keras-melupakan itu justru menelikung saya. Ia hanya sebentuk dosis jangka pendek. Sama halnya dengan “drug” yang hanya memberikan kesenangan jangka pendek, bukan kesenangan jangka panjang. Nah, di saat itulah saya kembali. Memutuskan untuk berdamai saja dengan satu sisi diri saya yang lainnya. Be grateful, karena seburuk apapun ingatan yang hinggap di kepala kita, itu menjadi anugerah yang dihadiahkan Tuhan sebagai potongan puzzle yang akan membentuk hidup kita seutuhnya. Nrimo wae.

Seperti ituah, kawan. Kenapa mesti bersusah payah memupuskan ingatan kita? Kalau kita bisa berdamai saja. Dan…kenapa mesti memendam ketika kita mampu menyampaikan? ;)


***

Maaf, saya harus menyelesaikan tulisan ini karena terburu-buru berangkat pelabuhan. Kami berencana one days traveling ke Pulau Lanjukang. Pun, saya baru saja memutuskan ikut beberapa menit yang lalu, di tengah kegiatan saya menuliskan ini. Gara-garanya, saya harus ketinggalan satu mata kuliah lagi hari ini. Ya sudahlah. :) 

Besok saya lanjutkan lagi...



--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. "Dan…kenapa mesti memendam ketika kita mampu menyampaikan?" .... #tersinggungmaksimal.

    :D

    BalasHapus