Jumat, 16 Mei 2014

Menyepi ke Pulau Antah Berantah

Malam ini, langit tak begitu gemerlap memamerkan bintangnya. Kalau tak berkeberatan, jumlah bintang di atas sana masih bisa dihitung dengan jari. Hanya saja, temaram cahaya bulan (nyaris) purnama di atas kepala sejenak menghapuskan kekecewaan karena tak bertemu bintang. 

Sunyi, bulan itu tak bersuara. Dipandang sekalipun, ia hanya merekah dengan cahayanya. "Ini belum purnama, bukan?" Ya, mungkin, esok baru purnama. Diserahkannya kepada ombak setiap rima kata yang ingin disampaikannya kepada kami. Ombak yang memecah di tepi pantai, beberapa meter di ujung kaki, menyampaikan teratur dengan berdebur. Yah, kami. Sekelompok anak muda yang menjauh dari hingar-bingar kota, nun jauh melintas laut, ke suatu pulau yang tak dikenal dan tak dihuni banyak orang. Yah, kami, yang memilih tidur beralaskan pasir dan beratapkan langit malam. Sleep under sky.

***

Pagi masih belum beranjak. Hanya saja, redaksi, tidak biasanya, sudah ramai oleh teman-teman lainnya. Beberapa barang bawaan seperti tas punggung (back pack) dan kantong-kantong plastik disandarkan. Untuk sesaat, saya tak perlu pula basa-basi bertanya. 

Beberapa hari kemarin, bahkan jauh sebelum acara kepanitiaan kami (Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut - silakan googling saja) berlangsung, seorang teman sudah mengajak untuk nge-trip

"Bagaimana kalau kita bersepuluh jalan-jalan? Saya punya rekomendasi, namanya Pulau Lanjukang," ajaknya. 

Bagi saya, menarik juga. Saya belum pernah "jalan-jalan" melintas pulau. Saya hanya sering mendengar nama "pulau" dari teman-teman lain. Ada Pulau Samalona, ada Pulau Kodingareng Keke, Pulau Kapoposang, Pulau Badik, bla-bla-bla. Dan menurut saya, tempat-tempat yang berlabel "pulau" nampaknya menjadi tempat yang unik buat dikunjungi.

"Masing-masing kita cuma membayar..." ah, yang seperti ini yang kemudian menggalaukan saya. 

Sebagus dan seindah apapun suatu tempat, kalau harus ditebus dengan biaya, maaf saja, tidak bisa. Biarpun ada kata "cuma" yang mendahului bilangan rupiahnya. Untuk beberapa minggu belakangan ini saya harus banyak berhemat. paradoks. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja, kita harus banyak-banyak puasa. Hahaha....

Pun, jauh hari saat itu juga, saya membatalkan rencana maha-indah itu. Saya tak ingin muluk-muluk lagi mengharapkan ikut serta. Ya nasib. 

Teman-teman sudah ribut di luar redaksi. Saya memilih tenggelam dalam "rumah" di dunia maya. Sesekali, teman yang lain bertanya, "Ikut tidak?" Dengan senyum "paksa-mode-on", saya menjawabnya singkat, "Tidak." Lagipula, rencana yang awalnya hanya mengikutsertakan #Ben10 bergeser jauh dengan mengikutnya banyak teman-teman lain. 

Di tengah-tengah meramainya para peserta-ke-Pulau-Lanjukang, seorang teman lainnya menawari saya untuk ikut. Tapi, sama saja. Saya menolaknya halus. Tapi (juga), ia memaksa saya untuk ikut, dibiayai olehnya. Pasalnya, ia yang sebelumnya sudah memastikan untuk ikut, justru tidak ikut pada hari H. Katanya, ada pertemuan mendadak dengan klien-nya. Tahulah, teman saya yang satu ini seorang businessman, yang punya impian bisa keluar negeri. 

Masih dengan kegiatan saya mengetik sana-sini, saya berpikir. Meragu. Pergi. Tidak. Pergi. Tidak. Pergi. Tidak. Di samping itu, saya punya satu mata kuliah yang mesti saya hadiri. Mata kuliah yang menjadi penampilan perdana kelompok presentasi saya. Mata kuliah yang juga sudah tiga kali absen tertera di nama saya. Mata kuliah yang, ck.......

"Saya ikut!"

Beberapa menit menjelang keberangkatan, akhirnya saya memutuskan ikut. Bekal yang mesti disiapkan, saya bawa seadanya saja. Time to go!

Di atas kapal kita mengapung-apung. (Foto: Iyan)

***

(Foto: Iyan)
Pernah dengar nama-nama pulau destinasi wisata di kota Makassar? Ternyata, saya baru tahu, Makassar tidak hanya soal Pulau Samalona saja. Masih banyak pulau-pulau lainnya yang tersebar di seberang lautannya. Sembari tetap mengawasi ujung perahunya, seorang pemuda menyebutkan satu persatu nama pulau di seberang yang saya tunjuk dari di tengah laut. Ketika diminta, ia pun akan menyebutkan pulau-pulau mana saja yang "keren" dijadikan destinasi wisata.

Kami memulai perjalanan siang itu dengan menumpang perahu panjang di Pelabuhan Paotere Makassar, yang telah dipesan sehari sebelumnya. Perahu kayu yang berdaya tampung hingga 30-an orang itu dilengkapi dua mesin. Deru mesinnya terdengar jelas saat sudah menjauh dari pelabuhan, bahu-membahu bergerung di tengah tenangnya laut ujung kota Makassar.  

Setelah 3 jam perjalanan kami mengapung-apung di tengah laut, dan mampir sebentar di Pulau Badik, hanya untuk menurunkan barang salah seorang penumpang, kami tiba di Pulau Lanjukang, eh Pulau Lanyukang, (atau Pulau Lanjukang?) Pasalnya, menurut papan teritorial wilayah Pemerintah Kota Makassar yang dipasang disana, pulau itu dituliskan dengan nama Pulau Lanyukang. Tapi, orang-oran justru menyebutnya Pulau Lanjukang. Mungkin seperti nama "Yogyakarta" yang kemudian lebih banyak dilafalkan "Jogjakarta".

Welcome to Lanjukang (or Lanyukang) Island. (Foto: Iyan)

Nama Lanjukang, konon berasal dari kata "Lanjutkan", lantaran pulau yang hanya seluas kira-kira 6 hektar ini kerap kali dijadikan tempat persinggahan nelayan-nelayan yang sedang melaut. Entah itu keperluan mandi, maupun sekadar tidur siang. 

Pulau ini merupakan batas terluar dari kota Makassar, karena masih tercatat sebagai salah satu wilayah di Kec. Ujung Tanah. Jaraknya sendiri, berdasarkan referensi lain yang saya dapat, berkisar 40 km.

"Ini sudah ujungnya Makassar. Kalau kalian terus lagi kesana, memang masih ada pulau yang akan didapat," tutur Pak Hasan, salah seorang penduduk pertama yang bermukim di pulau itu, "Tapi waktu tempuhnya sekitar 7-8 jam. Dan itu sudah termasuk dalam wilayah Kabupaten Pangkep."

Pak Hasan merupakan salah seorang tokoh masyarakat (atau justru satu-satunya) yang menghuni pulau tersebut. Dari penuturannya, hanya ada 15 kepala keluarga yang bermukim disana. Kalau disebutkan, hampir 50-an orang, dengan anak-anak yang tidak mencapai 20 orang. Dan, asal tahu saja, nyaris semuanya masih punya hubungan keluarga yang tidak terpaut jauh. Mereka semua berprofesi sebagai nelayan.

Wajar saja jika fasilitas-fasilitas umum, seperti sekolah, air bersih ataupun fasilitas kesehatan masih belum dibangun di Pulau Lanjukang. Selain rumah-rumah penduduk, satu-satunya fasilitas umum yang saya dapati hanya Mushalla, Mushalla Darussalam.  

Air bersih, kata Hasan, penduduk membelinya langsung di kota Makassar. Penerangan, hanya berasal dari solar system yang merupakan bantuan langsung dari pemerintah pusatSementara untuk keperluan listrik, warga urunan membelikan bahan bakar generator (genset) sehingga penduduk bisa menikmati acara-acara hiburan di televisi.  

"Disini, kalau malam, kita sudah bisa nonton tivi. Itu menjadi satu-satunya hiburan kami. Kalau hasil jualan ikan lagi banyak, kita bisa kumpul-kumpul uang beli solar banyak. Jadi bisa nonton sampai jam-jam 1. Tapi kalau sedikit ji, cuma bisa nonton sampai jam 10. Saya suka nonton acara-acara KDI," cerita seorang warga perempuan yang umurnya mencapai 65 tahun,saat menemani kami di tengah dusun.

Kedua penduduk lokal ini kok agak mirip teman saya ya?? -_-? (Foto: Febriawan)

Berbeda jauh dengan pulau di seberangnya, Pulau Langkai dan Pulau Lumu-lumu, menurut Hasan, disana sudah tersedia listrik dari PLN. Oleh karena itu, pusat kegiatan sosial, baik pasar, sekolah, maupun puskesmas (hingga acara-acara perkawinan yang memanggil artis kota) sudah ramai menyentuh sendi kehidupan disana. Hanya saja, waktu tempuhnya mencapai 1-1,5 jam dengan menumpang perahu atau sampan sewaan. Kebetulan, ketika kami tiba di Lanjukang, suasana dusun sepi. Menurut Hasan, sebagian besar warga sedang menghadiri acara perkawinan di pulau seberang.

"Kalau ada acara-acara undangan, kita biasanya baru kesana. Untuk sekolah, anak-anak kebanyakan disekolahkan disini, di salah satu rumah dengan pengajar dari warga sendiri," tutur Hasan, laki-laki yang keluarganya asli dari Pangkep. 

"Yang penting, mereka bisa membaca dan berhitung. Itu saja sudah cukup," tambahnya lagi. Sementara, benak saya berputar, bahwa pendidikan tidak sebatas calistung (baca, tulis, dan berhitung) saja. 

"Kelak, Pak, kalau bisa anak-anaknya disekolahkan. Siapa tahu bisa mengubah kondisi pulau ini, lebih baik," tutur saya di dalam hati, yang ternyata kelak tersampaikan di malam perbincangan kami di tepi pantai.

Terlepas dari itu, penduduk di pulau ini cukup ramah. Mereka sudah terbiasa kedatangan "tamu", baik yang sekadar berlibur hingga urusan penelitian. Bahkan, tak jarang para turis asing sesekali bertandang ke pulau yang mirip tak berpenghuni ini. Kalau pernah nonton film "Pulau Hantu", agak-agak mirip seperti itu. 

Karena masih belum terjamah akan kepentingan komersial, maka pulau ini memang menjadi objek paling menarik untuk dikunjungi. Menepi ke Pulau Lanjukang = menyepi dari hingar bingar kota. Satu hal lagi, di Pulau Lanjukang, jangan berharap bisa menemukan jaringan telepon seluler. :D

#...to be continued

Di tengah pemukiman nge-selfie borongan. Ya sudahlah. (Foto: Febriawan)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar