Minggu, 18 Mei 2014

Menyelam di Kedalaman Laut dan Langit Lanjukang

*kelanjutan dari postingan sebelumnya

This island so wonderful. (Foto: Jane)
Dalam beberapa kesempatan, saya kerap kali dipertemukan dengan air laut. Sebut saja pantai. Padahal saya sendiri tak mahir berenang seperti kebanyakan orang. Saya cukup pandai berenang, kalau saja ada yang namanya “gaya batu”, benar-benar secara denotasinya. Kalaupun saya bisa menembus bibir pantai sampai beberapa meter ke tengah laut, semata-mata karena kaki saya masih menjejak permukaan bumi. Batas permukaan air masih bisa dikompromikan selama tidak melewati garis ubun-ubun kepala. Tentu saja dengan pengawasan diri yang ekstra hati-hati.

Ini teman saya, si Cambang sedang memamerkan keahlian
menyelamnya dengan alat pinjaman. #ehh (Foto: anonymous)
Hal itu yang kemudian mendorong saya untuk menyempatkan diri selalu berlatih renang di sela-sela menikmati suasana pantai yang berlatar romantis, senja maupun pagi hari, dimana saja.

Kalau saja saya berperan sebagai orang ketiga, mungkin akan lucu melihat tingkah saya sendiri saat mengayunkan tangan bergantian dan menggerak-gerakkan kaki di atas permukaan air laut. Alih-alih berenang maju, proses “mengapung” itu justru terlihat seperti orang yang sedang meronta-ronta. Statis. Tak bergerak kemana-mana.

“Untuk sementara, saya sudah mahir mengapung (sambil meronta-ronta),” ujar saya menghibur diri.

***

Pertama kali memasuki Pulau Lanjukang, kita akan dibuat terpana oleh beningnya laut yang berpendar tosca membaurkan birunya langit. Cahaya terik yang menyambut kedatangan kami memantulkan titik-titik pantulan halus dari permukaan laut, mengitari pulau. Sejauh mata memandang, warna birulah yang mendominasi pemandangan di Pulau Lanjukang.

Menghabiskan senja, menjadi satu hal wajib bagi setiap liburan yang berlatar pantai ataupun laut lepas. Tentu saja, dengan demikian gambaran sunset yang indah sudah menggantung di kepala.

Luas Pulau Lanjukang yang tidak lebih luas dibanding area kampus saya di Parangtambung memudahkan kami dalam menjangkau setiap bagian pulau. Tidak butuh waktu sejam untuk bisa menjelajahi garis pinggir pantai yang mengitari pulau.

Duh, mesranya mereka berdua. (Foto:
Nurlaela)
“Di pinggir pulau sana, ada mercusuar. Tapi kayaknya lampunya sudah tidak menyala lagi. Di sampingnya ada kuburan. Disanalah kami memakamkan penduduk yang tinggal di pulau ini,” jelas seorang wanita tua agak horor.

Sepanjang saya menikmati keindahan pulau, saya belum sempat berjumpa dengan mercusuar yang dimaksudkan. Namun beberapa teman saya yang berinisiatif keliling pulau, sudah sempat berfoto di mercusuar itu. Saya justru bercerita horor, menakuti teman-teman lainnya terkait mercusuar itu. Hahaha…

Nah, kala ingin menikmati sunset, tinggal menantikannya saja di bagian belakang pulau. Tidak butuh waktu semenit untuk kesana.

Sebaliknya, kala ingin menikmati sunrise, tinggal menantikannya di bagian depan pulau. Bahkan jika beruntung, kita bisa membandingkan segaris matahari yang sedang terbit malu-malu di ufuk timur dengan bulan purnama yang masih membekas wujudnya di langit barat. Saya sudah menyaksikannya...

***

Sembari menanti pergantian waktu, siang ke malam, saya dan teman-teman menghabiskan waktu di pinggir pantai (belakang pulau). Beberapa orang membawa peralatan snorkeling, lengkap dengan “kaki katak”nya atau yang biasa disebut Fin. Tak lain, tujuan mereka memang ingin memeriksa keindahan bawah laut Pulau Lanjukang.

Kelelahan “mengapung-meronta-meronta” di tengah laut, saya turut bergabung dengan teman-teman yang menyelupkan kepalanya ke laut. Salah seorang teman meminjamkan perlengkapan snorkeling-nya.

Damai ya... (Foto: Jane)
Berbeda dengan bayangan saya sebelumnya, Pulau Lanjukang tidak begitu banyak menyimpan eksotisme pemandangan alam bawah laut. Lautnya, hanya menyimpan terumbu karang dengan jenis yang nyaris seragam, meski cukup banyak dengan ikan-ikan yang menghiasnya. Namun, itu sudah cukup membuat saya berlama-lama menyelam menyaksikan keindahan bawah laut, hingga tak sadar matahari telah tenggelam.

“Disini, kayaknya tidak begitu bagus terumbu karangnya,” ujar salah seorang teman saya.

“Mungkin besok pagi, di depan sana, jauh lebih bagus,” terkanya lagi. Saya hanya mengiyakan saja, sok mengerti. Mana saya tahu pemandangan alam bawah laut yang sesuai dengan standarisasi prosedur “bagus”. -_-“

*** 

Panass, panass!! (Foto: Febriawan)
Malam beranjak dengan segala konsekuensinya. Kami yang berlibur di pulau tanpa listrik, harus rela berdamai dengan kegelapan yang menyita. Lampu handphone menjadi alternatif penerangan. Api-api yang membara pada kompor “batu” setidaknya memberikan cahaya yang nyaris sama. Di samping itu, ternyata alam nampaknya bersahabat dengan kedatangan kami. Bulan-nyaris-purnama dengan senang hati membagikan sinarnya yang temaram, menyatu dengan nuansa-nuansa romantisme pulau. Duh...

“Kalau jauh, trus hasilnya juga sama-sama di pantai, ya ndak perlu jauh-jauh ke pulau seberang lah,” tutur seorang teman saya suatu waktu, sebelum berangkat ke pulau.

Saya, yang sempat mendengarnya menyela, “Bukan soal pantai atau jauh atau yang lainnya. Melainkan, bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana menciptakan suasana menikmati langit malam, sembari berbaring di atas pasir di antara gemuruh deburan ombak pantai.” Padahal, waktu itu, saya sendiri belum memutuskan untuk ikut serta.

Dan apa yang saya idamkan tersebut akhirnya terwujud. Seperti yang saya impikan, saya benar-benar menghabiskan malam disana secara alami. Meskipun sebagian teman memilih tidur di dalam tenda, saya menggelar tikar beberapa meter dari garis ombak yang menyapu pantai. Demi meramaikan suasana, saya dan teman lainnya menyertakan api unggun. Akh, suasananya semakin romantis. Ada bulan-nyaris-purnama di atas sana yang memantulkan sepotong wajah. Sayang, bintang-bintang yang seharusnya mengiringi temaram bulan tak ramai muncul malam itu. Padahal, langit sedang cerah-cerahnya.

Ini bulan malam itu. (Foto: Febriawan)
Sleep under sky. Saya begitu menikmatinya. Tenggelam dalam momen-momen indah itu, di tengah panggilan alam. Diantara sunyinya pulau, hanya menyuarakan deburan ombak. Teratur, setiap beberapa detik, ombak menyuarakan koor-nya. Di atas pasir, saya, berbaring tenang, menyesap angin dari laut, menatap langit yang tak kehabisan cahaya malamnya. Sungguh, saya menikmati suasana santai di pantai malam itu. Really like it!

Kalau-kalau kobaran api unggun siap meredup,  saya berjalan sendirian mencari kayu-kayu kering di sepanjang pantai. Kalau beruntung, satu-dua teman saya yang masih terjaga menemani sembari mengobrol ringan di pinggiran pantai. Kalau pernah berpikir tentang hantu di pulau-pulau sepi,layaknya di film-film horor,lupakan! Itu. Hanya. Film.

“Selepas dari Profesi, mau kemana?” pertanyaan yang mengawali bayangan masa depan dari seorang teman yang menemani bercengkerama malam itu. Mata kami tak lepas menatap langit, berbaring di atas pasir beralaskan tikar.

Kawan, jawaban atas pertanyaan itu akan panjaaaang sekali. Sekali saja, saya sudah punya daftar rincian hidup yang akan saya jalani di tahun ini maupun di tahun-tahun mendatang. Saya punya. Rinci. Hanya saja, sebentar saja, saya ingin menyimpannya dulu hingga sebulan ke depan kita benar-benar sampai di dunia yang sebenarnya.

“Mengikuti passion,” lirih saya.

Hingga pagi menjelang, saya harus berterima kasih kepada waktu. Ia menjaga saya agar tetap terpana menyaksikan alamnya. Ada matahari di ufuk timur, yang meski terhalang awan, semburatnya menggoreskan kedamaian di tepi pulau tak bertuan ini.

Menanti pagi. (Foto: Febriawan)

***

Teman-teman yang lain melanjutkan snorkeling di depan pulau. Kata mereka, ada beberapa pemandangan yang indah buat dinikmati di bawah laut, tidak jauh dari garis pantai. Saya, hanya berjalan menuruti arah kemauan, meniti setiap jejak garis ombak. Dengaan harapan, saya bisa menemukan kerang, biota laut, atau apa saja yang terdampar dan bisa menjadi buah tangan.

(Foto: Dhiny)
Yeah!! Akhirnya sampai! Halahh...ada jablay lagi lari di sebelah kiri. :P (Foto: Dhiny)

Pagi itu damai. Damai. Sangat damai.

Berteriaklah sepuasnya jikalau ingin melepaskan penat di kepala dan hati. Pulau itu, di sekelilingnya ada laut, yang bisa menyerap segala aura kegundahanmu.

Next time, see yaa, Lanjukang!


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Di deket Semarang nggak ada tempat beginian. Sumpah, ini keren banget. Sayang banget yak, yang bisa jauh-jauh ke sana tapi enggak bisa berenang, hahaha

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Pokoknya yang penting kerennnn. :P
    Lagian disana aku belajar berenang juga kok. :P

    BalasHapus