Kamis, 29 Mei 2014

Do You Hate Me?

Mei 29, 2014
Pagi ini, seperti biasa, saya terbangun menjelang pukul setengah-sembilan. Saya memutuskan terlelap empat jam sebelumnya, setelah mengerjakan layouting tabloid. Sebenarnya bukan tugas saya lagi melakukan hal demikian. Akan tetapi, tidak ada lagi orang-orang yang cukup peduli selain saya sendiri yang merasa bertanggung jawab penuh terhadap produk di divisi saya. Yah, untuk satu hal ini, terkadang saya selalu merasa sendirian. Bukan secara harfiah, melainkan tenggelam dalam prosesnya yang ditinggalkan.

Saya benci dengan orang-orang yang kerjanya justru mengganggu pekerjaan saya. Kerja keras, saya sudah mengusahakan mati-matian untuk menyelesaikan tabloid, mereka justru menjadi benalu (menghalangi) dengan menonton film-film tak penting di komputer - yang seharusnya saya gunakan untuk bekerja. Yah, lagi-lagi pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas orang lain. Atas nama “membantu”, terkadang kita tak tahu lagi mana batasan profesional. Atas nama “membantu”, orang-orang terkadang akan banyak menuntut. Bagaimana saya bisa mengerjakannya ketika dihalangi kepentingan-tak-penting seperti itu? Damn! Shit! 

Apa mereka tidak tahu apa yang sedang saya pikul? Apa mereka tidak sadar bahwa saya sedang mengerjakan hal-hal yang mereka sendiri selalu sarankan dengan angkuhnya di setiap evaluasi? Bullshit! Menjadi seorang kakak seharusnya memberikan contoh yang baik bagi adik-adiknya. Kekurangan perhatian jangan menjadi alasan bawah sadarnya untuk mencari perhatian dengan cara seperti itu.

“Kapan terbit?” pertanyaan yang seumur hidup saya paling benci untuk saat ini. Saya lebih membencinya ketimbang seseorang yang bertanya, “Kapan wisuda?” Apalagi kebanyakan terlontar dari teman-teman yang sebenarnya sadar tugas dan tanggung jawabnya masih menjadi tunggakan di dalam tabloid-kapan-terbit itu. Apa mereka ada niat membantu? Kalau seandainya saya jawab, “Tabloid baru terbit tahun depan.”, Selamat!! lantas apakah mereka akan ikut menunda tanggung jawabnya? Damn!

Sadar tidak ya, terbitnya tabloid itu atas tanggung jawab kalian, atas berita-berita yang seharusnya kalian selesaikan tepat waktu. Saya benci saja ketika orang-orang “di atas sana” menyalahkan saya atas segala hal yang berlaku tentang tabloid. Karena sejujurnya, kesalahan terbesar ada pada orang-orang yang selalu menunda-nunda deadline-nya, mencoba membenarkan setiap alasan yang masuk akal baginya. Hanya saja, saya akan merasa menjadi orang paling gagal ketika harus menyalahkan kalian di depan hidung orang-orang “di atas sana”. 

Itulah sebabnya, terkadang saya sangat sulit mempercayai orang lain. Orang-orang yang diberikan kepercayaan terkadang hanya menganggap enteng rasa-percaya itu. Lantas menepisnya begitu saja. Apa yang dipercayakan, tak dipikul seberat apa yang mempercayakan. Apa segalanya bisa berlangsung seimbang dan harmonis? Seberat-beratnya beban saya disini, adalah soal mempercayai atau mempercayakan. Oleh karena itu, saya benci (dan tak mau lagi) dengan bebasnya mengobral kepercayaan di kemudian hari.

Seandainya saya punya Kage Bunshin no Jutsu-nya Naruto, saya lebih memilih mengerjakan semuanya sendirian.

Sudahlah, saya hanya butuh menuangkan segala kejengkelan, kekecewaan, kemarahan, dan saya tahu, saya punya “rumah” yang lebih baik untuk kembali. Saya ingin bergelung saja disini. Menutup pintu rapat-rapat. Tidur seharian disini tanpa memikirkan apa-apa. Melupakan semuanya. Saya ingin punya orang di "rumah" ini memeluk saya, menenangkan layaknya ibu disana yang senantiasa mengkhawatirkan saya. Akh, ayah yang juga masih butuh setiap jengkal bantuan saya. Hanya gara-gara ini, saya harus menahan diri tak pulang ke rumah... Sial! Sementara mereka tak pernah memahami seperti apa kehidupan saya sekarang!

Ini “rumah” saya. Camkan, saya bukan orang yang selalu “baik” seperti yang selalu tercitrakan. It's me!

And shit everything! Damn!! 


--Imam Rahmanto--

Selasa, 27 Mei 2014

"Merasa" dari Kacamata Berbeda

Mei 27, 2014
Judul Buku  : Antologi Rasa 339 mg
Penulis        : Ika Natassa
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2011, Cetakan ke-9 (2013)
Tebal Buku : 344 halaman

Dua sampul Antologi Rasa, dalam edisi yang berbeda. (Sumber: google.com)

Antologi Rasa. Baru membaca judul bukunya, banyak orang yang akan menyangka bahwa buku satu ini seperti kebanyakan buku lainnya yang dilabeli dengan "antologi". Yah, semacam buku kumpulan (cerpen, puisi, esai, dan sebagainya). Saya pun sejujurnya pertama kali menatapnya di rak-rak toko buku menganggapnya demikian.

Di toko buku, saya paling identik dengan buku satu ini. Sampulnya yang putih polos, dan seolah-olah menunjukkan resep obat dokter (dosis dan peringatan), membuatnya lekat dalam ingatan saya. Tapi, dasar mahasiswa, saya hanya bisa lewat saja diantara sehimpitan buku lainnya yang menyalak-nyalak. "Hei, hei! Aku disini! Pilih aku! Lihat sampulku! Aku ditulis oleh penulis terkenal!" begitu hidupnya setiap buku dalam imajinasi saya.

Hingga tibalah ketika salah seorang teman saya "memamerkannya" di redaksi, membacanya. Saya merasa beruntung punya banyak teman yang gemar membaca. Mereka punya cukup banyak koleksi buku. Darinya, saya bisa leluasa meminjam tanpa perlu mendaftarkan diri layaknya di perpustakaan resmi. Darinya pula, saya bisa tahu apakah buku yang dibacanya itu "recommended" atau "no". Pokoknya, sebaik atau seburuk apapun teman yang kita miliki, teman dalah aset paling berharga.

Oke, singkirkan pikiran yang menganggap buku ini sebagai sekadar buku-kumpulan-entah -apalah. Karena, ternyata buku ini adalah novel tulen. Karena, baru membaca pembukanya....dan saya tersenyum-senyum sendiri. Saya menyukai buku ini!

"As we grow up, we learn that even one person that wasn't supposed to ever let us down, probably will. You'll have your heart broken and you'll break others' hearts. You'll fight with your best friends or maybe even fall in love them, and you'll cry because time is flying by.

So take lots of pictures, laugh a lot, forgive freely, and love like you've never been hurt. Life comes with no guarantees, no time outs, no second chances. You just have to life to the fullest, tell someone what they mean to you, speak out, dance in the pouring rain, hold someone's hand, comfort a friend in need, fall aslepp watching the sun come up, stay up late, and smile until your face hurts.

Don't be afraid to take chances or fall in love and most of all, LIVE IN THE MOMENT because every second you spend angry or upset is a second of happiness you can never get back."

Itu baru pembuka atau halaman ucapan terima kasih penulisnya, Ika Natassa. Akan tetapi, halaman itu pulalah yang kemudian mengajak saya untuk lebih menyelami keseluruhan isi novel. Setiap halaman dan babnya, membuat saya penasaran dan membawa saya untuk terus menyelesaikan isi novel.

Ceritanya sebenarnya hanya berputar pada kisah asmara orang-orang kosmopolitan. Benih-benih asmara yang tumbuh diantara keempat orang sahabat; Haris, Keara, Ruly, dan Denise, yang tak bermuara ujungnya. Haris, seorang player, yang sudah banyak menaklukkan wanita, memendam perasaan pada Keara. Hanya saja, Keara juga seorang player seperti halnya Haris justru tertambat hatinya pada Ruly, lelaki baik-baik yang tidak suka hidup hedon. Akan tetapi, Ruly malah memendam perasaannya juga pada Denise yang sudah bersuamikan orang lain. Beuhh, betapa tahannya mereka menantikan orang yang sama sekali tak menyadari keberadaannya.

Klise, sebenarnya. Namun Ika mampu mengubahnya menjadi cerita dengan alur menarik. Salah satunya, seperti yang ditawarkan dalam novel ini, ia menceritakan beberapa alur cerita melalui sudut pandang setiap tokoh. Dengan demikian, kita bisa melihat perangai-perangai yang tersirat dari gaya bertutur tokoh melalui sudut pandangnya. Seandainya kita menonton film, seolah-olah kita berpindah otomatis dari channel satu ke channel lain. Bagi saya, novel ini menawarkan konsep membangun konflik dengan cara berbeda. Semakin kita tahu cara berpikir masing-masing tokoh, melalui kacamatanya, semakin dalam kita akan dibuat tenggelam dalam setiap perasaan tokohnya. Saya sesekali dibuat greget oleh tokoh-tokoh yang memendam perasaannya.

Serius. Meskipun sebagian orang malah mengkategorikan novel ini sebagai teenlit, namun alurnya benar-benar sulit ditebak. Gara-gara penasaran, saya harus menyelesaikan secepatnya, yang ternyata bikin nyesek juga, ending-nya agak "menggantung". But, it's still ok. Karena ending-nya ternyata tidak bisa kita tebak pula sebagaimana novel picisan lainnya, yang selalu happily ever after. But this novel, truly "out of the comfort zone"! Kalau saja novel ini punya kelanjutan kisah, di novel berikutnya, saya mau the first recommendation deh untuk membacanya.

Shit. Gara-gara baca novel ini pula, saya jadi sering berbicara (sendiri) dengan Bahasa Inggris. Speak English, please! Bagaimana tidak, dari awal sampai akhir novel, kita banyak disuguhi percakapan tokohnya, yang memang golongan orang-orang "atas", dengan bahasa Internasional itu. Apalagi si tokoh utama, Keara, yang bisa digolongkan sebagai perempuan-perempuan sosialita "berkelas". Tapi, ternyata ia diam-diam kepincut juga dengan Ruly, sahabatnya yang pernah didapatinya shalat Subuh di ruang tamunya usai mengantarkan dirinya dan Haris pulang karena mabuk berat.


"All you'll know for sure is the more she makes you suffer, the more you find you love her."

So, saya sebenarnya tidak merekomendasikan novel ini bagi orang-orang yang tidak begitu paham dengan percakapan bahasa Inggris. Sebagaimana yang dikatakan teman saya, yang justru meminjamkan novelnya pada saya,

"Kalau ada bahasa Inggrisnya, dan panjang, saya langsung lompati saja," akunya. Saya jadi bingung, bagaimana caranya dia mengerti keseluruhan isi novel ini?

Dan, gara-gara novel ini pula, saya jadi kenal dengan salah satu penyanyi, John Mayer. Saya mencoba searching beberapa lagunya, dan ternyata keren juga. Coba yang Heart of Life. :) or one of them, just play below of my posting.

"Isn't there a period in your life where you feel that every song written in the universe is about you?"

Salah satu kelebihan novel ini juga menuliskan setiap judul babnya dengan bahasa latin. Saya jadi punya jadi perbendaharaan kata baru.

- Tempus fugit, non autem memoria - Time flies, but not memory

- Eram quod es, eris quod sum - I was what you are, you will be what I am

- Omnia causa fiunt - Everything happens for a reason

- Amare et sapere vix deo conceditur - Even a God finds it hard to love and be wise at the same time

Finally, saya benar-benar suka novel ini. Bahasanya ringan (dan biaya membacanya juga ringan #ehh). Di sela-sela padatnya tekanan deadline, ya membaca novel adalah salah satu hiburan bagi saya. Sebaik-baik tempat melarikan diri, "an escape way", adalah dengan membaca novel. Ada dunia lain disana yang tak pernah kita kunjungi di dunia nyata. Tidak menutup kemungkinan, dari membaca itu pula kita akan menemukan dunia baru yang hendak kita jelajahi. Bukankah sejak sekolah kita diajarkan bahwa buku adalah "window of world" - jendela dunia ya? #tuh kan, bahasa-bahasa saya sekarang agak-agak gaul Inggris gimana gitu. 


"What if in the person you love, you find a best friend of a lover?"

"...in the end, you gotta pick your happiness. Satu hal yang bukan cuma bisa bikin lo bahagia, dan kalau satu hal itu nggak ada, hal-hal lain yang ada di hidup lo nggak ada artinya."


--Imam Rahmanto--



Minggu, 25 Mei 2014

Secarik Harta...

Mei 25, 2014
Orang paling miskin, katanya, bukanlah orang-orang yang tak memiliki harta atau materi apapun dalam hidupnya. Melanikan mereka yang sama sekali tak punya impian maupun sekadar bercita-cita. Antara cita-cita dan impian, saya pernah menyebutkan bedanya, kan? 

Terkadang ketika dalam keadaan agak sulit dan over-thinking, tanpa sengaja melihat beberapa coretan tangan (adik-adik saya) ini, saya kemudian tersadar dan berpikir, "Saya masih belum banyak melakukan apa-apa."

Pun, dalam banyak pertanyaan "kapan" kalian, saya tak pernah bisa menjawab yang pasti. Saya merindukan kalian. Ciyus. Atas alasan itu pula saya masih menyimpan carikan kertas yang dulu agak ogah-ogahan dikorbankan dari buku kesayangan kalian. :D. 

Saya juga baru-baru ini kembali bernostalgia dengan tulisan tangan. Saya menuliskan surat untuk orang yang saya tak kenal sama sekali, tanpa berharap memperoleh kiriman balik darinya. Toh, saya hanya ingin mengirim saja. Mengirim saja. Yah.

Selain itu, bukannya kalian akan berpisah ke kelas yang berbeda-beda, bukan? Nah, biarkan saja listing di bawah ini menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang menunjukkan bahwa kalian "pernah-sekelas."

Manusia terlalu banyak mengeluh dalam hidup. Kita merasa telah melakukan banyak hal dan berharap mendapatkan hasil yang besar pula. Sementara, kita seharusnya sadar dan menerima bahwa tak semua usaha yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang pantas pula. Ketika kita mengharapkan sesuatu dan berekspektasi terlalu besar pula, maka sebaiknya kita bersiap atas kemungkinan paling buruk dari tak mendapatkan apa-apa. Itulah mengapa setiap rencana selalu dilabeli huruf A, B, atau C. 

Oleh karena itu, untuk kalian yang pernah saya minta menuliskan cita-cita dan impiannya di secarik kertas, tiba saatnya saya akan menunjukkannya. Semoga, kelak, ketika kalian berusaha atas cita-cita dan impian itu, kalian tak lupa menyisipkan sikap "ikhlas" untuk kemungkinan-kemungkinan yang tak kalian sukai. Semoga, ada orang lain yang dengan senang hati membuka tangannya demi mewujudnyatakan cita-cita ataupun impian kalian. Karena meskipun kita dilahirkan sendiri, dan kelak akan dikuburkan sendiri, namun hidup seharusnya mengajarkan kita untuk tak menghadapinya sendiri.

Saya sengaja tak menyebutkan nama, kok. Biarlah kalian yang merefleksikan "nomor" kalian masing-masing. Maaf pula karena saya hanya menyimpan satu kelas ini. Kebalikannya, kelas yang satunya lagi, saya hanya menyimpan olok-olokan dan harapan yang dilayangkan buat saya, di akhir perjumpaan. Tapi itu sudah membuat saya tersenyum-senyum sendiri, kok. :)

#1
Cita-cita: Guru
Alasan: Ingin meneruskan perjuangan bapak
Impian: Ingin mempunyai kakak

#2
Cita-cita: Investor, Guru, Dokter = hanya ingin sendiri
Impian: Ingin menjadi penemu yang sangat hebat dan terkenal

#3
Cita-cita: Dokter
Alasan: Ingin mengobati orang yang sakit
Impian: Apabila menjadi wanita yang sukses, insya Allah ingin menaikkan orang tua ke tanah suci

#4
Cita-cita: Saya ingin jadi "AHLI HUKUM", karena mauka mencoba hal baru
Impian: 1) Naik haji sama keluarga, 2) Pergi ke Paris, 3) Akrab sama Kak *********h (kelas ******)

#5
Cita-cita: Dokter
Alasan: Ingin mengobati orang-orang sakit, terutama orang yang kurang mampu
Impian: Ingin ketemu sama idola saya (Super Junior), ingin keliling dunia dan menetap si Seoul, Korsel, dan terakhir ingin membahagiakan orang tua, menaikkan haji. Insya Allah.

#6
Cita-cita: Inspektor Farmasi Biokimia pertanian dan perikanan
Alasan: karena sebagai negara agraris dan saya sebagai warga negara Indonesia, maka saya bertekad memberdayakan potensi sumber daya alam Indonesia yang kaya akan sumber alam. Contohnya karet dapat diolah sendiri oleh Indonesia tanpa tangan negara asing.
Impian: Ingin melihat orang tua dan warga negara Indonesia tersenyum dalam bidang ekonomi pertanian dan perikanan dalam pengolahan sumber daya alamnya

#7
Cita-cita: Dokter
Alasan: Karena ingin menyelamatkan orang
Impian: 1) Mencapai cita-cita, 2) Nonton GG Tour

#8
Cita-cita: Saya mau jadi pembaca berita di tv
Alasan: Karena menurut saya pembaca berita itu profesi yang menyenangkan
Impian: 1) Saya ingin pergi jalan-jalan keliling dunia bersama keluarga saya dan menonton GG Tour di Seoul, 2) Tinggal di rumah yang mewah bersama keluarga (juga)

#9
Cita-cita: Dokter spesialis dalam
Alasan: Karena saya ingin mengobati orang sakit dan ingin membantu masyarakat yang tidak mampu
Impian: Ingin menjadi seorang wanita sukses dan ingin membahagiakan kedua orang tua saya. Itu jhy saya dech

#10
Cita-cita: Dokter
Alasan: Karena disuruh ortu sama mau membantu orang sakit sama memperbaiki masa depan, hahaha XD
Impian: 1) Mauka pergi umroh sama ortu :3, 2) Mauka akrab sama kakak kelas yang kumaui :3, 3) Mauka ketemu sama idolaku yaitu SMARTIST, 4) Mauka lulus dengan nilai baik, 5) Mauka dapat peringkat yang baik, 6) Mauka dikenal banyak orang, 7) Masih banyaaak tapi ndatau apa lagi --" -_- -,-

#11
Cita-cita: Jujur kak tidak punyaka' cita-cita. cita-cita kecilku banyak sekali kak. Waktu kecil mau skalika jadi Austronaut. Alasannya panjang. Tapi lucunya tidak pernahka mau jadi dokter. Sekarang kayak mauka jadi psikiater. Mauka tolong orang untuk merasakan "hidup". Mauka juga jadi penulis, musisi juga.
Impian: Selalu bahagia

#12
Cita-cita: Bidan
Alasan: Sesuai dengan keinginan orang tua
Impian: Jadi atlet bulutangkis. Alasannya karena jadi atlet bulutangkis dapay mengharumkan nama negara/ bangsa di mata dunia terus bisaki' juga keliling dunia

#13
Cita-cita: Ingin jadi dokter atau bidan/ perawat yang berhubungan dengan kesehatan
Alasan: karena suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan dan mengobati orang lain untuk membantu sesama yang membutuhkan. Insya Allah! :)
Impian: 1) Ingin membahagiakan orang tua dan bisa berkeliling dunia bersama ortu dan hidup sukses di masa depan. Amiin. 2) Ingin pergi lomba Biologi internasional di luar negeri.

#14
Cita-cita: Guru
Alasan: karena saya ingin mencerdaskan generasi muda RI :)
Impian: 1) Ingin menjadikan negara Indonesia menajdi negara seperti negara magic, kayak sekolahnya Harry Potter gitu :D *Gilaaaa.... tapi Aamiin ya Allah :), 2) Ingin ketemu sama Allah SWT, nabi, dan para malaikat Allah, 3) Ingin berlibur ke luar angkasa, 4) ingin mengelilingi dunia, 5) Dan masih banyak lagi :) :D

#15
Cita-cita: 1) Menteri Ekonomi, 2) Penulis
Alasan: 1) Ingin memperbaiki perekonomian Indonesia, 2) Saya ingin menjadi penulis karena saya ingin dikenang lewat tulisan saya.
Impian: 1) saya ingin mendaki hingga puncak gunung Mahameru, 2) Saya ingin menjadi seorang penulis besar yang menginspirasi banyak orang, 3) Ingin menghabiskan malam di kota romantis (Paris), 4) Saya ingin membeli salah satu pulau, dimana pulau tersebut hanya ada, saya, dan keluarga besar saya kelak

#16
Cita-cita: Saya ingin jadi guru atau direktur keuangan
Alasan: Guru, karena guru adalah pekerjaan mulia. Direktur keuangan, karena saya ingin menjadi orang yang sukses dan membanggakan orang tua.
Impian: 1) Saya ingin ke tanah suci Mekkah bersama keluarga dengan hasil jerih payah saya, 2) Saya ingin membuat masjid, 3) Saya ingin ke Paris, 4) Saya ingin seperti B.J Habibie

#17
Cita-cita: Pegawai Negeri Sipil
Alasan: Ingin berkarier di bidang politik dan mengikuti jejak orang tua saya yang cukup sukses di bidangnya.
Impian: Jika sukses nanti, saya ingin selalu membahagiakan orang tua saya karena hanya orang tua saya yang selalu menjadi motivator saya untuk sukses dan selalu bermimpi untuk bisa selalu keluar negeri untuk sekolah disana/ mencari ilmu disana.

#18
Cita-cita: Ingin jadi dokter
Alasan: karena keinginan sendiri mau jadi dokter dan disuruh juga sama orang tua.
Impian: keliling dunia, ingin ketemu artis Rihanna

#19
Cita-cita: Orang sukses
Alasan: Bosan jadi orang biasa-biasa saja
Impian: Keliling dunia
Alasan: Ingin merasakan indahnya hidup di negara lain.

#20
Cita-cita: 1) Pramugari, karena bisa keliling-keliling dunia, dan menurut saya itu menarik, 2) Guru, karena kemauan orang tua. Tapi kusuka ji juga. :) Kalau bisa jadi guru Bahasa Inggris *Amin 0:)
Impian: Bisa ke Korea Selatan terus menikah dengan orang Korea atau warga keturunan Korea *Jiaahhaha :) terus punya keluarga kecil yang bahagia. Aamiieen...

#21
Cita-cita: Dosen
Alasan: Karena ayah seorang guru, maka saya sebagai anak ingin lebih dari ayah. lebih tepatnya jadi dosen. =)
Impian: 1) Membahagiakan kedua orang tua, 2) Meraih hatinya si Dia :P, 3) Ingin ke suatu tempat berair yang belum pernah saya datangi.

#22
Cita-cita: Psikolog. Karena saya senang mengenali dan mengetahui karakter setiap orang. Sebab, setiap manusia itu mempunyai karakter yang berbeda-beda yang membuat setiap orang itu menjadi unik.
Impian: 1) Saya bermimpi suatu saat saya dikagumi dan dibanggakan oleh seluruh orang yang ada di dunia ini, 2) membawa semua orang yang saya sayangi terutama kedua orang tua saya pergi keliling dunia (mengunjungi semua tempat-tempat terindah di dunia), 3) Membangun menara terindah, tertinggi, termegah dan terelit di dunia.

#23
Cita-cita: Dokter
Alasan: Cita-cita dari kecil dan juga kemauan orang tua. Dan juga ingin membantu mesyarakat yang kurang mampu dalam pengobatan.
Impian: 1) Diner sama Iqbaal Dhiafakhri, 2) Tinggal di Paris.

#24
Cita-cita: Dokter Spesialis Anak *hohohohoho :D
Alasan: Menjadi dokter, menolong sesama, terutama di kalangan anak-anak karena pekerjaan mulia menjadi kaki tangan Allah O:)
Impian: 1) Mau bertemu dengan Super Junior *o*, 2) Menjadi pacarnya Kak xxx :D (Aminnn), 3) Menjadi warga negara Korea setelah kuliah S2, 4) Menaikkan Haji orang tua beserta keluarga, 5) Ingin mendapatkan juara 1 Biologi tingkat nasional, 6) Pengen punya adik kandung -_-


Nah, ketika kalian telah menuliskannya, secara sadar kalian telah berusaha menanamkannya di alam bawah sadar. Apa yang kalian tulis, adalah sebentuk doa di masa mendatang. Selamat menempuh jalan hidup masing-masing. #just believe it!


--Imam Rahmanto--

Minggu, 18 Mei 2014

Menyelam di Kedalaman Laut dan Langit Lanjukang

Mei 18, 2014
*kelanjutan dari postingan sebelumnya

This island so wonderful. (Foto: Jane)
Dalam beberapa kesempatan, saya kerap kali dipertemukan dengan air laut. Sebut saja pantai. Padahal saya sendiri tak mahir berenang seperti kebanyakan orang. Saya cukup pandai berenang, kalau saja ada yang namanya “gaya batu”, benar-benar secara denotasinya. Kalaupun saya bisa menembus bibir pantai sampai beberapa meter ke tengah laut, semata-mata karena kaki saya masih menjejak permukaan bumi. Batas permukaan air masih bisa dikompromikan selama tidak melewati garis ubun-ubun kepala. Tentu saja dengan pengawasan diri yang ekstra hati-hati.

Ini teman saya, si Cambang sedang memamerkan keahlian
menyelamnya dengan alat pinjaman. #ehh (Foto: anonymous)
Hal itu yang kemudian mendorong saya untuk menyempatkan diri selalu berlatih renang di sela-sela menikmati suasana pantai yang berlatar romantis, senja maupun pagi hari, dimana saja.

Kalau saja saya berperan sebagai orang ketiga, mungkin akan lucu melihat tingkah saya sendiri saat mengayunkan tangan bergantian dan menggerak-gerakkan kaki di atas permukaan air laut. Alih-alih berenang maju, proses “mengapung” itu justru terlihat seperti orang yang sedang meronta-ronta. Statis. Tak bergerak kemana-mana.

“Untuk sementara, saya sudah mahir mengapung (sambil meronta-ronta),” ujar saya menghibur diri.

***

Pertama kali memasuki Pulau Lanjukang, kita akan dibuat terpana oleh beningnya laut yang berpendar tosca membaurkan birunya langit. Cahaya terik yang menyambut kedatangan kami memantulkan titik-titik pantulan halus dari permukaan laut, mengitari pulau. Sejauh mata memandang, warna birulah yang mendominasi pemandangan di Pulau Lanjukang.

Menghabiskan senja, menjadi satu hal wajib bagi setiap liburan yang berlatar pantai ataupun laut lepas. Tentu saja, dengan demikian gambaran sunset yang indah sudah menggantung di kepala.

Luas Pulau Lanjukang yang tidak lebih luas dibanding area kampus saya di Parangtambung memudahkan kami dalam menjangkau setiap bagian pulau. Tidak butuh waktu sejam untuk bisa menjelajahi garis pinggir pantai yang mengitari pulau.

Duh, mesranya mereka berdua. (Foto:
Nurlaela)
“Di pinggir pulau sana, ada mercusuar. Tapi kayaknya lampunya sudah tidak menyala lagi. Di sampingnya ada kuburan. Disanalah kami memakamkan penduduk yang tinggal di pulau ini,” jelas seorang wanita tua agak horor.

Sepanjang saya menikmati keindahan pulau, saya belum sempat berjumpa dengan mercusuar yang dimaksudkan. Namun beberapa teman saya yang berinisiatif keliling pulau, sudah sempat berfoto di mercusuar itu. Saya justru bercerita horor, menakuti teman-teman lainnya terkait mercusuar itu. Hahaha…

Nah, kala ingin menikmati sunset, tinggal menantikannya saja di bagian belakang pulau. Tidak butuh waktu semenit untuk kesana.

Sebaliknya, kala ingin menikmati sunrise, tinggal menantikannya di bagian depan pulau. Bahkan jika beruntung, kita bisa membandingkan segaris matahari yang sedang terbit malu-malu di ufuk timur dengan bulan purnama yang masih membekas wujudnya di langit barat. Saya sudah menyaksikannya...

***

Sembari menanti pergantian waktu, siang ke malam, saya dan teman-teman menghabiskan waktu di pinggir pantai (belakang pulau). Beberapa orang membawa peralatan snorkeling, lengkap dengan “kaki katak”nya atau yang biasa disebut Fin. Tak lain, tujuan mereka memang ingin memeriksa keindahan bawah laut Pulau Lanjukang.

Kelelahan “mengapung-meronta-meronta” di tengah laut, saya turut bergabung dengan teman-teman yang menyelupkan kepalanya ke laut. Salah seorang teman meminjamkan perlengkapan snorkeling-nya.

Damai ya... (Foto: Jane)
Berbeda dengan bayangan saya sebelumnya, Pulau Lanjukang tidak begitu banyak menyimpan eksotisme pemandangan alam bawah laut. Lautnya, hanya menyimpan terumbu karang dengan jenis yang nyaris seragam, meski cukup banyak dengan ikan-ikan yang menghiasnya. Namun, itu sudah cukup membuat saya berlama-lama menyelam menyaksikan keindahan bawah laut, hingga tak sadar matahari telah tenggelam.

“Disini, kayaknya tidak begitu bagus terumbu karangnya,” ujar salah seorang teman saya.

“Mungkin besok pagi, di depan sana, jauh lebih bagus,” terkanya lagi. Saya hanya mengiyakan saja, sok mengerti. Mana saya tahu pemandangan alam bawah laut yang sesuai dengan standarisasi prosedur “bagus”. -_-“

*** 

Panass, panass!! (Foto: Febriawan)
Malam beranjak dengan segala konsekuensinya. Kami yang berlibur di pulau tanpa listrik, harus rela berdamai dengan kegelapan yang menyita. Lampu handphone menjadi alternatif penerangan. Api-api yang membara pada kompor “batu” setidaknya memberikan cahaya yang nyaris sama. Di samping itu, ternyata alam nampaknya bersahabat dengan kedatangan kami. Bulan-nyaris-purnama dengan senang hati membagikan sinarnya yang temaram, menyatu dengan nuansa-nuansa romantisme pulau. Duh...

“Kalau jauh, trus hasilnya juga sama-sama di pantai, ya ndak perlu jauh-jauh ke pulau seberang lah,” tutur seorang teman saya suatu waktu, sebelum berangkat ke pulau.

Saya, yang sempat mendengarnya menyela, “Bukan soal pantai atau jauh atau yang lainnya. Melainkan, bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana menciptakan suasana menikmati langit malam, sembari berbaring di atas pasir di antara gemuruh deburan ombak pantai.” Padahal, waktu itu, saya sendiri belum memutuskan untuk ikut serta.

Dan apa yang saya idamkan tersebut akhirnya terwujud. Seperti yang saya impikan, saya benar-benar menghabiskan malam disana secara alami. Meskipun sebagian teman memilih tidur di dalam tenda, saya menggelar tikar beberapa meter dari garis ombak yang menyapu pantai. Demi meramaikan suasana, saya dan teman lainnya menyertakan api unggun. Akh, suasananya semakin romantis. Ada bulan-nyaris-purnama di atas sana yang memantulkan sepotong wajah. Sayang, bintang-bintang yang seharusnya mengiringi temaram bulan tak ramai muncul malam itu. Padahal, langit sedang cerah-cerahnya.

Ini bulan malam itu. (Foto: Febriawan)
Sleep under sky. Saya begitu menikmatinya. Tenggelam dalam momen-momen indah itu, di tengah panggilan alam. Diantara sunyinya pulau, hanya menyuarakan deburan ombak. Teratur, setiap beberapa detik, ombak menyuarakan koor-nya. Di atas pasir, saya, berbaring tenang, menyesap angin dari laut, menatap langit yang tak kehabisan cahaya malamnya. Sungguh, saya menikmati suasana santai di pantai malam itu. Really like it!

Kalau-kalau kobaran api unggun siap meredup,  saya berjalan sendirian mencari kayu-kayu kering di sepanjang pantai. Kalau beruntung, satu-dua teman saya yang masih terjaga menemani sembari mengobrol ringan di pinggiran pantai. Kalau pernah berpikir tentang hantu di pulau-pulau sepi,layaknya di film-film horor,lupakan! Itu. Hanya. Film.

“Selepas dari Profesi, mau kemana?” pertanyaan yang mengawali bayangan masa depan dari seorang teman yang menemani bercengkerama malam itu. Mata kami tak lepas menatap langit, berbaring di atas pasir beralaskan tikar.

Kawan, jawaban atas pertanyaan itu akan panjaaaang sekali. Sekali saja, saya sudah punya daftar rincian hidup yang akan saya jalani di tahun ini maupun di tahun-tahun mendatang. Saya punya. Rinci. Hanya saja, sebentar saja, saya ingin menyimpannya dulu hingga sebulan ke depan kita benar-benar sampai di dunia yang sebenarnya.

“Mengikuti passion,” lirih saya.

Hingga pagi menjelang, saya harus berterima kasih kepada waktu. Ia menjaga saya agar tetap terpana menyaksikan alamnya. Ada matahari di ufuk timur, yang meski terhalang awan, semburatnya menggoreskan kedamaian di tepi pulau tak bertuan ini.

Menanti pagi. (Foto: Febriawan)

***

Teman-teman yang lain melanjutkan snorkeling di depan pulau. Kata mereka, ada beberapa pemandangan yang indah buat dinikmati di bawah laut, tidak jauh dari garis pantai. Saya, hanya berjalan menuruti arah kemauan, meniti setiap jejak garis ombak. Dengaan harapan, saya bisa menemukan kerang, biota laut, atau apa saja yang terdampar dan bisa menjadi buah tangan.

(Foto: Dhiny)
Yeah!! Akhirnya sampai! Halahh...ada jablay lagi lari di sebelah kiri. :P (Foto: Dhiny)

Pagi itu damai. Damai. Sangat damai.

Berteriaklah sepuasnya jikalau ingin melepaskan penat di kepala dan hati. Pulau itu, di sekelilingnya ada laut, yang bisa menyerap segala aura kegundahanmu.

Next time, see yaa, Lanjukang!


--Imam Rahmanto--

Jumat, 16 Mei 2014

Menyepi ke Pulau Antah Berantah

Mei 16, 2014
Malam ini, langit tak begitu gemerlap memamerkan bintangnya. Kalau tak berkeberatan, jumlah bintang di atas sana masih bisa dihitung dengan jari. Hanya saja, temaram cahaya bulan (nyaris) purnama di atas kepala sejenak menghapuskan kekecewaan karena tak bertemu bintang. 

Sunyi, bulan itu tak bersuara. Dipandang sekalipun, ia hanya merekah dengan cahayanya. "Ini belum purnama, bukan?" Ya, mungkin, esok baru purnama. Diserahkannya kepada ombak setiap rima kata yang ingin disampaikannya kepada kami. Ombak yang memecah di tepi pantai, beberapa meter di ujung kaki, menyampaikan teratur dengan berdebur. Yah, kami. Sekelompok anak muda yang menjauh dari hingar-bingar kota, nun jauh melintas laut, ke suatu pulau yang tak dikenal dan tak dihuni banyak orang. Yah, kami, yang memilih tidur beralaskan pasir dan beratapkan langit malam. Sleep under sky.

***

Pagi masih belum beranjak. Hanya saja, redaksi, tidak biasanya, sudah ramai oleh teman-teman lainnya. Beberapa barang bawaan seperti tas punggung (back pack) dan kantong-kantong plastik disandarkan. Untuk sesaat, saya tak perlu pula basa-basi bertanya. 

Beberapa hari kemarin, bahkan jauh sebelum acara kepanitiaan kami (Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut - silakan googling saja) berlangsung, seorang teman sudah mengajak untuk nge-trip

"Bagaimana kalau kita bersepuluh jalan-jalan? Saya punya rekomendasi, namanya Pulau Lanjukang," ajaknya. 

Bagi saya, menarik juga. Saya belum pernah "jalan-jalan" melintas pulau. Saya hanya sering mendengar nama "pulau" dari teman-teman lain. Ada Pulau Samalona, ada Pulau Kodingareng Keke, Pulau Kapoposang, Pulau Badik, bla-bla-bla. Dan menurut saya, tempat-tempat yang berlabel "pulau" nampaknya menjadi tempat yang unik buat dikunjungi.

"Masing-masing kita cuma membayar..." ah, yang seperti ini yang kemudian menggalaukan saya. 

Sebagus dan seindah apapun suatu tempat, kalau harus ditebus dengan biaya, maaf saja, tidak bisa. Biarpun ada kata "cuma" yang mendahului bilangan rupiahnya. Untuk beberapa minggu belakangan ini saya harus banyak berhemat. paradoks. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja, kita harus banyak-banyak puasa. Hahaha....

Pun, jauh hari saat itu juga, saya membatalkan rencana maha-indah itu. Saya tak ingin muluk-muluk lagi mengharapkan ikut serta. Ya nasib. 

Teman-teman sudah ribut di luar redaksi. Saya memilih tenggelam dalam "rumah" di dunia maya. Sesekali, teman yang lain bertanya, "Ikut tidak?" Dengan senyum "paksa-mode-on", saya menjawabnya singkat, "Tidak." Lagipula, rencana yang awalnya hanya mengikutsertakan #Ben10 bergeser jauh dengan mengikutnya banyak teman-teman lain. 

Di tengah-tengah meramainya para peserta-ke-Pulau-Lanjukang, seorang teman lainnya menawari saya untuk ikut. Tapi, sama saja. Saya menolaknya halus. Tapi (juga), ia memaksa saya untuk ikut, dibiayai olehnya. Pasalnya, ia yang sebelumnya sudah memastikan untuk ikut, justru tidak ikut pada hari H. Katanya, ada pertemuan mendadak dengan klien-nya. Tahulah, teman saya yang satu ini seorang businessman, yang punya impian bisa keluar negeri. 

Masih dengan kegiatan saya mengetik sana-sini, saya berpikir. Meragu. Pergi. Tidak. Pergi. Tidak. Pergi. Tidak. Di samping itu, saya punya satu mata kuliah yang mesti saya hadiri. Mata kuliah yang menjadi penampilan perdana kelompok presentasi saya. Mata kuliah yang juga sudah tiga kali absen tertera di nama saya. Mata kuliah yang, ck.......

"Saya ikut!"

Beberapa menit menjelang keberangkatan, akhirnya saya memutuskan ikut. Bekal yang mesti disiapkan, saya bawa seadanya saja. Time to go!

Di atas kapal kita mengapung-apung. (Foto: Iyan)

***

(Foto: Iyan)
Pernah dengar nama-nama pulau destinasi wisata di kota Makassar? Ternyata, saya baru tahu, Makassar tidak hanya soal Pulau Samalona saja. Masih banyak pulau-pulau lainnya yang tersebar di seberang lautannya. Sembari tetap mengawasi ujung perahunya, seorang pemuda menyebutkan satu persatu nama pulau di seberang yang saya tunjuk dari di tengah laut. Ketika diminta, ia pun akan menyebutkan pulau-pulau mana saja yang "keren" dijadikan destinasi wisata.

Kami memulai perjalanan siang itu dengan menumpang perahu panjang di Pelabuhan Paotere Makassar, yang telah dipesan sehari sebelumnya. Perahu kayu yang berdaya tampung hingga 30-an orang itu dilengkapi dua mesin. Deru mesinnya terdengar jelas saat sudah menjauh dari pelabuhan, bahu-membahu bergerung di tengah tenangnya laut ujung kota Makassar.  

Setelah 3 jam perjalanan kami mengapung-apung di tengah laut, dan mampir sebentar di Pulau Badik, hanya untuk menurunkan barang salah seorang penumpang, kami tiba di Pulau Lanjukang, eh Pulau Lanyukang, (atau Pulau Lanjukang?) Pasalnya, menurut papan teritorial wilayah Pemerintah Kota Makassar yang dipasang disana, pulau itu dituliskan dengan nama Pulau Lanyukang. Tapi, orang-oran justru menyebutnya Pulau Lanjukang. Mungkin seperti nama "Yogyakarta" yang kemudian lebih banyak dilafalkan "Jogjakarta".

Welcome to Lanjukang (or Lanyukang) Island. (Foto: Iyan)

Nama Lanjukang, konon berasal dari kata "Lanjutkan", lantaran pulau yang hanya seluas kira-kira 6 hektar ini kerap kali dijadikan tempat persinggahan nelayan-nelayan yang sedang melaut. Entah itu keperluan mandi, maupun sekadar tidur siang. 

Pulau ini merupakan batas terluar dari kota Makassar, karena masih tercatat sebagai salah satu wilayah di Kec. Ujung Tanah. Jaraknya sendiri, berdasarkan referensi lain yang saya dapat, berkisar 40 km.

"Ini sudah ujungnya Makassar. Kalau kalian terus lagi kesana, memang masih ada pulau yang akan didapat," tutur Pak Hasan, salah seorang penduduk pertama yang bermukim di pulau itu, "Tapi waktu tempuhnya sekitar 7-8 jam. Dan itu sudah termasuk dalam wilayah Kabupaten Pangkep."

Pak Hasan merupakan salah seorang tokoh masyarakat (atau justru satu-satunya) yang menghuni pulau tersebut. Dari penuturannya, hanya ada 15 kepala keluarga yang bermukim disana. Kalau disebutkan, hampir 50-an orang, dengan anak-anak yang tidak mencapai 20 orang. Dan, asal tahu saja, nyaris semuanya masih punya hubungan keluarga yang tidak terpaut jauh. Mereka semua berprofesi sebagai nelayan.

Wajar saja jika fasilitas-fasilitas umum, seperti sekolah, air bersih ataupun fasilitas kesehatan masih belum dibangun di Pulau Lanjukang. Selain rumah-rumah penduduk, satu-satunya fasilitas umum yang saya dapati hanya Mushalla, Mushalla Darussalam.  

Air bersih, kata Hasan, penduduk membelinya langsung di kota Makassar. Penerangan, hanya berasal dari solar system yang merupakan bantuan langsung dari pemerintah pusatSementara untuk keperluan listrik, warga urunan membelikan bahan bakar generator (genset) sehingga penduduk bisa menikmati acara-acara hiburan di televisi.  

"Disini, kalau malam, kita sudah bisa nonton tivi. Itu menjadi satu-satunya hiburan kami. Kalau hasil jualan ikan lagi banyak, kita bisa kumpul-kumpul uang beli solar banyak. Jadi bisa nonton sampai jam-jam 1. Tapi kalau sedikit ji, cuma bisa nonton sampai jam 10. Saya suka nonton acara-acara KDI," cerita seorang warga perempuan yang umurnya mencapai 65 tahun,saat menemani kami di tengah dusun.

Kedua penduduk lokal ini kok agak mirip teman saya ya?? -_-? (Foto: Febriawan)

Berbeda jauh dengan pulau di seberangnya, Pulau Langkai dan Pulau Lumu-lumu, menurut Hasan, disana sudah tersedia listrik dari PLN. Oleh karena itu, pusat kegiatan sosial, baik pasar, sekolah, maupun puskesmas (hingga acara-acara perkawinan yang memanggil artis kota) sudah ramai menyentuh sendi kehidupan disana. Hanya saja, waktu tempuhnya mencapai 1-1,5 jam dengan menumpang perahu atau sampan sewaan. Kebetulan, ketika kami tiba di Lanjukang, suasana dusun sepi. Menurut Hasan, sebagian besar warga sedang menghadiri acara perkawinan di pulau seberang.

"Kalau ada acara-acara undangan, kita biasanya baru kesana. Untuk sekolah, anak-anak kebanyakan disekolahkan disini, di salah satu rumah dengan pengajar dari warga sendiri," tutur Hasan, laki-laki yang keluarganya asli dari Pangkep. 

"Yang penting, mereka bisa membaca dan berhitung. Itu saja sudah cukup," tambahnya lagi. Sementara, benak saya berputar, bahwa pendidikan tidak sebatas calistung (baca, tulis, dan berhitung) saja. 

"Kelak, Pak, kalau bisa anak-anaknya disekolahkan. Siapa tahu bisa mengubah kondisi pulau ini, lebih baik," tutur saya di dalam hati, yang ternyata kelak tersampaikan di malam perbincangan kami di tepi pantai.

Terlepas dari itu, penduduk di pulau ini cukup ramah. Mereka sudah terbiasa kedatangan "tamu", baik yang sekadar berlibur hingga urusan penelitian. Bahkan, tak jarang para turis asing sesekali bertandang ke pulau yang mirip tak berpenghuni ini. Kalau pernah nonton film "Pulau Hantu", agak-agak mirip seperti itu. 

Karena masih belum terjamah akan kepentingan komersial, maka pulau ini memang menjadi objek paling menarik untuk dikunjungi. Menepi ke Pulau Lanjukang = menyepi dari hingar bingar kota. Satu hal lagi, di Pulau Lanjukang, jangan berharap bisa menemukan jaringan telepon seluler. :D

#...to be continued

Di tengah pemukiman nge-selfie borongan. Ya sudahlah. (Foto: Febriawan)


--Imam Rahmanto--

Rabu, 14 Mei 2014

Not "Shift + Delete"

Mei 14, 2014
Seorang teman pernah bertanya, “Bagaimana caranya untuk cepat melupakan?”

Entah atas dasar apa ia bertanya hal seperti itu pada saya. Mungkin, ia melihat hal yang terjadi padanya sama dengan yang ia tahu terjadi pada saya. Padahal, beda. Amat berbeda. Tahu, dimana letak perbedaannya?

Baiklah, mari saya sampaikan padamu, kawan.

Sebenarnya, tak ada yang tahu secara pasti konsep melupakan. Bagaimana cara melupakan. Setiap orang telah dianugerahi Tuhan sebentuk memori (ingatan) yang tak bisa dilampaui oleh peralatan secanggih apapun. Komputer, sedinamis apapun mengikuti perkembangan zaman, yakin saja, takkan mampu menyamai konsep ingatan yang telah ditanamkan Tuhan bagi manusia-Nya.

Oke, komputer yang menggunakan dasar logika matematika, hanya sebatas meniru “penyimpanan data” yang dimiliki otak manusia. Mungkin, kelak akan ditemukan peralatan yang mampu melampaui kepintaran manusia. Kita juga tak perlu menampiknya. Pemrosesan datanya bahkan lebih cepat ketimbang kemampuan otak manusia dalam mencerna informasi yang diterimanya. Namun, sekali lagi, takkan ada yang mampu menyamai konsep ingatan yang dibangun sedemikian rupa dalam otak kita.

Otak kita memang mampu mengingat banyak hal. Tapi, tentu saja tak mampu serta merta menghapusnya sesuai dengan selera kita, atau bahkan mood kita. Mengapa? Agar kita mampu mengambil pelajaran atas segal hal yang disimpan di dalam sana, baik atau buruk.

Memori yang kita miliki pun tidak hanya berdasar pada bilangan biner 0 atau 1, yang hanya mengandalkan rumus dan logika. Manusia berpikir, tidak-pernah-tidak selalu memperturutkan emosinya. Apakah itu buruk? Tidak. Justru hal itulah yang membedakan kita dengan “alat”. Kita tak sama dengan komputer. Oleh karena itu, secanggih apapun alat yang diciptakan manusia dalam rangka meniru cara kerja otak kita, takkan se-emosional manusia dalam memproses informasi. Saya yakin takkan ada yang mampu menciptakan emosi atau perasaan yang memang dibawa sejak lahir oleh manusia.

Nah, kawan, sekuat apapun kita menghapus suatu “ingatan” dalam batok kepala, takkan semudah menekan Shift + delete di keyboard perangkat komputer. Untuk itulah, Tuhan mengajarkan kita konsep bersyukur. Berdamai dengan keadaan. Merelakan. Menerima apa adanya. Nrimo.

Saya mempelajari, tak ada gunanya melupakan. Jauh zaman, Tuhan telah menganugerahkan memori bagi kita, sebagai alat untuk melompat dari masa ke masa. Memori, menyimpan segala kenangan layaknya kotak pandora. Kenangan baik. Kenangan buruk. Terlepas dari itu, kenapa manusia tidak bisa hanya menganggapnya sederhana saja?  Cukup kenangan. Tanpa embel-embel “baik” atau “buruk” di belakangnya. Terkadang, kita yang melabelinya, kita pula yang tersuruk di dalamnya.

Yang kita butuhkan, cukup menerima saja setiap ingatan yang menumpuk di kepala. Berkepala dingin, memilahnya satu-satu. Berdamai dengan ingatan-ingatan yang kita anggap buruk di kepala kita. Layaknya suatu trauma, semakin kita berusaha melupakan sesuatu, justru kita semakin terpaut padanya.

"Anda tahu kan, bagaimana cara alam bawah sadar kita menghadapi trauma?" lanjut Hawkeye jenaka.
"Kalau kita punya trauma, atau konflik yang belum tuntas, maka batin bawah sadar kita akan terus memunculkan situasi dimana kita jadi terus berhadapan dengan trauma dan konflik tersebut. Hingga mereka diselesaikan." –Supernova#4 Partikel, Dee—

Nah, suatu cerita, saya pernah berusaha melupakan seseorang. Saya mempelajari, ternyata ada dua alasan untuk seseorang “menjauh”. Menjauh karena ingin dilupakan. Menjauh karena ingin melupakan. Saya termasuk dalam kategori yang kedua. Agak-agak kacau-galau gimana gitu, kan? Hahaha….maaf, tapi itu hanya berlangsung untuk sementara kok. Tuhan selalu menyediakan cara untuk lebih baik. Life, move us forward.

Seperti  yang saya sampaikan, kita cukup berbeda. Saya, sudah berkali-kali mengungkapkan apa yang terlintas di kepala saya pada seseorang itu. Tapi, berkali-kali pula ia menanggapinya “biasa”. Nah, di saat itu, saya tahu untuk “menjauh” saja.

Bagaimanapun, laki-laki seperti kita, yang berpikir dominan logika pun, butuh sebentuk kejelasan. Tapi, katamu selalu, kau rela menunggu sedikit lebih lama lagi. Akh, saya jadi bingung, kau sebenarnya menunggunya, atau menunggu dirimu sendiri? Pikirkanlah baik-baik konsep “menunggu” itu.

Awalnya, saya merasa mampu membunuh semua “ingatan” itu. Awalnya, saya benar-benar teralihkan. Akan tetapi, pada akhirnya saya baru tahu, pengaruh dari berusaha-keras-melupakan itu justru menelikung saya. Ia hanya sebentuk dosis jangka pendek. Sama halnya dengan “drug” yang hanya memberikan kesenangan jangka pendek, bukan kesenangan jangka panjang. Nah, di saat itulah saya kembali. Memutuskan untuk berdamai saja dengan satu sisi diri saya yang lainnya. Be grateful, karena seburuk apapun ingatan yang hinggap di kepala kita, itu menjadi anugerah yang dihadiahkan Tuhan sebagai potongan puzzle yang akan membentuk hidup kita seutuhnya. Nrimo wae.

Seperti ituah, kawan. Kenapa mesti bersusah payah memupuskan ingatan kita? Kalau kita bisa berdamai saja. Dan…kenapa mesti memendam ketika kita mampu menyampaikan? ;)


***

Maaf, saya harus menyelesaikan tulisan ini karena terburu-buru berangkat pelabuhan. Kami berencana one days traveling ke Pulau Lanjukang. Pun, saya baru saja memutuskan ikut beberapa menit yang lalu, di tengah kegiatan saya menuliskan ini. Gara-garanya, saya harus ketinggalan satu mata kuliah lagi hari ini. Ya sudahlah. :) 

Besok saya lanjutkan lagi...



--Imam Rahmanto--

Senin, 05 Mei 2014

Keluarga itu...

Mei 05, 2014
"Tuliskan satu kata yang bagi kalian menggambarkan Profesi," pertanyaan yang mengawali malam kami di Tanjung Bira, Bulukumba.

"Satu kata saja," tekan senior saya lagi.

Berlanjut, di udara yang menyamarkan bisik-bisik hujan, setiap orang menuliskan kata yang dianggapnya tepat menggambarkan Profesi. Tak ketinggalan, saya yang kala itu nyaris melabuhkan diri ke alam mimpi, turut dipanggil untuk ikut serta. "Ah, mengganggu saja," gerutu saya dalam hati. Lantas tulis saja, tanpa berpikir lama. Usainya, ternyata setiap orang diminta mengemukakan alasan atas pilihan (kata) itu.

Apa yang terlintas dalam benak saya kala menuliskan satu kata di atas carikan kertas itu ternyata tidak jauh berbeda dengan 4 orang teman lainnya, yang menuliskan hal serupa. Sedikitnya, apa yang ingin saya sampaikan pun sudah jauh terangkum dalam penjelasan mereka. Sedikit-sedikit, saya memperbaiki perasaan yang tadi sudah nyaris menyeberang ke alam mimpi.

Nah, mari saya sampaikan sejauh mana kata "keluarga" terbayang, melintas tiba-tiba, tanpa permisi menari di atas carikan kertas saya.

***

Mengapa?

Hm, saya bingung harus menyebut alasannya. Kata orang, untuk beberapa hal memang tak butuh penjelasan. Ada beberapa hal yang sulit dijelaskan melalui kata-kata. Namun, bagi saya, setiap pertanyaan itu harus menemukan jawabannya.

"...Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu." --Partikel, Dee--
Saya menemukan esensi "keluarga" itu disini, di lembaga jurnalistik yang dibenci (tapi disayang) oleh birokrasi kampus saya. Ini sudah tahun keempat saya mencicipi rasanya. Bagaimana menjadi seorang pewarta kampus yang bagi sebagian orang selalu kelihatan "sok sibuk". Padahal kami memang benar-benar menenggelamkan diri dalam tiap liputan yang ditugaskan. Setiap hari. Yah, asal tahu saja, setiap hari!

Mereka, orang-orang yang selama 4 tahun belakangan ini menjadi teman hidup saya, dalam suka maupun duka (serius loh), bersama-sama belajar tentang kedekatan sebagai keluarga. We are family. Bentuk ikatan yang mengukuhkan itu hadir dari keberagaman yang dibangun. Kami bukanlah orang-orang yang sama, hanya sekadar dibentuk atas dasar senasib. 

Ah ya, tempat ini pulalah yang menjadi ujung pelarian saya dari keluarga yang sebenarnya setahun silam. Yah, saya kelak menyadari bahwa "melarikan diri" bukan satu-satunya jalan penyelesaian masalah. Hanya menumpuknya, yang bisa jadi akan meledak suatu waktu dengan dosis yang tak bisa ditampung lagi. Orang tua, selamanya akan tetap menjadi orang tua, yang menyayangi dan menantikan kehadiran anak-anaknya.

Sejalan itu, saya menemukan tempat untuk pulang.

Dalam masa itu, saya banyak belajar hal-hal yang sebenarnya menggugah hati saya. Entah seperti apa Tuhan merencanakan "kebetulan" bagi saya. Karena tempat ini menjadi satu-satunya rumah saya, saya nampaknya tahu betul bagaimana rasanya memiliki keluarga.

“Losing family obligues us to find our family. Not always the family that is our blood, but the family that can become our blood.” --Finding Forrester, Movie--


Ibu Inga menatapku, mencari sesuatu yang perlu ia konfirmasi. "Saya percaya, rumah itu ditemukan di dalam," katanya lembut sambil menempelkan tangannya di dada. "Kalau di dalam damai, semua tempat bisa jadi rumah kita." --Partikel, Dee--

Hm, betapa kami tahu seperti apa resiko menjadi seorang pewarta itu. Menunggu. Ditolak narasumber. Dicaci narasumber. Dicibir orang-orang kampus. Diburu deadline. Sampai pimpinan redaksi dan dewan senior sendiri ikutan mencaci. Kita didik di atas tekanan seperti itu.

Bersyukurlah bagi teman-teman yang hingga hari ini masih tetap mempertahankan dirinya. Di tengah momen-momen “diomeli” itu, kita masih tetap berusaha keras memenuhi tugas yang diberikan. Tanggung jawab, meski berat, kita memilih untuk menyelesaikannya. Di titik jenuh, masing-masing akan saling menguatkan. Sewajarnya. Saling melempar senyum. Saling mengingatkan. Karena kita adalah keluarga. Bukannya keluarga tak boleh kehilangan salah satu anggotanya? Bukannya keluarga tak boleh saling mendiamkan begitu lama? Maka berjuanglah tersenyum hingga titik tinta terakhir.

Kadangkala, saya berpikir, andai saja setahun lalu saya bisa "dilepaskan" saja, mungkin kini saya sudah berkarir menyelesaikan kuliah sembari memilah-milah pekerjaan yang cocok. Namun, Tuhan merencanakan hal lain. Beberapa hal masih butuh diselesaikan. Beberapa nama masih butuh menjadi mozaik hidup saya. Sama halnya dengan kuliah yang mengulang, saya semakin memperbanyak teman-teman di sekitar saya.

***

Selamat Milad ke-38 untuk lembaga yang selama ini menggembleng saya dan kawan-kawan. Mengajarkan seberapa besar kita harus mengorbankan ego demi menjatuhkan kepercayaan yang baik kepada orang lain. Mengajarkan cara mengesampingkan urusan diri. Mengajarkan sejauh mana kita harus berjalan pelan-pelan atau bergesa-gesa. Dan, tentu saja, tak terkecuali di luar pengalaman yang dibagikannya tentang "menulis-untuk-membekukan-masa-lampau" dan membagikannya.


Duh, tak usah mencari saya di dalam foto ini. Saya tak ada di sesi pemotretan itu. :( (Foto: Sofyan)



#harlah38
--Imam Rahmanto--