Rabu, 02 April 2014

You're The Reason

Apa kabar hati yang sedang menunggu?

Kau begitu sabar menunggu. Kau berdoa pada Tuhanmu, agar harapan itu terwujud. Pangeranmu itu, pikirmu, akan datang padamu suatu ketika yang lama tak diketahui. Tuhan mengabulkan doa setiap hamba-Nya, yang selalu percaya Tuhan selalu memberikan kebaikan atas kehidupan yang menyertai mereka.

Aku hanya benci melihatmu menunggu, sendirian…

Aku pertama kali mengenalmu lewat tatapan di balik jeruji itu. Lamat-lamat aku mencoba menepisnya. Aku tak pernah percaya tentang keakuan yang mampu menaklukkan hati orang lain. Bahkan untuk menaklukkan hatiku sendiri saja aku ketakutan setengah mati. Hanya saja, ada sinar di bilik matamu yang menarik batinku ke dalam duniamu. Yah, dunia yang banyak kau rahasiakan dari siapa saja. 

Kalau dipaksa mengingatnya, aku hanya tertawa-tawa kecil. Kau yang selalu menganggapku menyebalkan, bahkan jauh sebelum aku bertemu denganmu. Aku yang suka mengganggumu dengan sedikit gurauanku. Aku yang kemudian suka meliihat cemberut wajahmu dibuat-buat. Kau tahu, ketika kau kesal, kau saat itu benar-benar memurnikan perasaanmu. Kau benar-benar terlepas dari dramatisir perasaan menunggu seseorang. 

“Pabal,” aku senang kau menyebutku demikian. Mungkin, bagiku, sedikit istimewa ketika seseorang menyematkan julukannya pada kita. Dulu, aku menganggapnya simbol kedekatan kita. Sebagaimana aku yang selalu menyebutmu anak kecil. 

“Kenapa selalu menyebutku anak kecil?”

Pernah kusampaikan, kau akan selalu menjadi anak kecil ketika mengharapkan sesuatu yang sebenarnya tak dihadiahkan padamu. Anak kecil itu, ketika meminta sesuatu, ia bersikeras ingin memilikinya. Ia merengek. Merajuk. Ngambek. Harapannya, ibu atau ayahnya akan kasihan melihatnya dan mengabulkan keinginannya itu. Apa kau tidak pernah merasainya?

Aku benci melihatmu demikian. Hanya saja, kini, semakin aku menikam perasaanku padamu, benih-benihnya justru bertebaran di setiap rindu yang tak tersirami. Aku mencoba menanam benci. Ia justru mati sebelum menyentuh permukaan.

Hei, kau yang selalu terpikir otak senggangku…

Aku terpinggirkan oleh hatimu.  

Aku tak seperti orang yang kau tunggu, yang paham agama setinggi langit. Orang yang punya banyak dalil tentang hidup-mati, rezeki, atau bahkan jodoh. Bukannya kau juga sedang mendalami ilmu agama? Mungkin, ketika ia menjadi jodohmu, kau bisa berbahagia pula dengannya. Seperti yang kau idamkan.

Aku juga berbeda dengannya yang sudah menyelesaikan pendidikan di tanah rantau. Gelarnya mungkin membanggakan. Sedangkan aku? Menyusun beberapa kata dalam sebuah kalimat yang disebut skripsi saja masih harus meminta dukungan dari banyak orang. Aku hanya pandai melukiskan target tanpa tahu batas kanvas yang kumiliki. 

Aku memilih menjadi orang yang berbeda dengannya, sebenarnya. Agar kau tahu, aku tak ingin seperti dirinya. Aku tak ingin kau menunggu, maka kuminta pendapatmu tentangku. Aku tak menuntut jadi kekasihmu, seperti penjagaan atas dirimu dan trauma yang kau dengungkan. Hanya sedikit penegasan yang keluar dari bibir mungilmu. Agar aku bisa mematutkan hati untukmu, selamanya, hanya satu hati. Tersenyumlah untukku, sedikit saja. –Akh, percuma. Toh, aku hanya bisa merasai senyummu lewat imajinasi semu -  

Aku tahu bahwa kau tak pernah menganggapku spesial, (akh, aku terlalu jauh mengira), ketika kau selalu merasa terusik dengan ledekan orang lain. Berbeda halnya dengan aku yang menikmatinya karena bisa melihat wajah kaku lucumu yang seringkali tersipu malu. 

Mungkin aku hanya sekadar tempat berkirim pesan-pesan singkat, seperti kau yang senang berkirim surat padanya. Seberapa menyenangkan pertemuan itu, kau tak pernah merasainya. Apa kau tahu, seberapa banyak tulisan yang mampu kuretas, tidak sebanyak ungkapan kata yang disampaikan hatiku sekadar melihat binar wajahmu. Terkhusus, menatap gemas lengkung bibirmu yang simetris maupun tak simetris. Lantaran diamnya aku yang memandangmu sejatinya membahasakan lebih banyak ketimbang tulisan-tulisanku yang tak bertuan.

Wahai hati yang kuingin tak menangis dalam diam…

Aku sungguh selalu berharap menemukan orang tempatku berbagi suka maupun duka. Tempatku bisa berbagi cerita. Tempatku bisa melepaskan penat. Tempatku bisa menceritakan segala hal tak penting di dunia ini, seperti “Aku baru saja bertemu dengan teman lama yang tak aku ingat namanya lagi loh,” atau mungkin berujar, “Semalam aku bermimpi, tentangmu.” 

Namun…aku mendapati kau yang menyembunyikan banyak hal. Hm...seberapa kerasnya kehidupanku sebagai seorang penggali berita, aku memutuskan untuk tetap mendiamkan bilik khusus dalam pikiranmu yang tak mau kau bagikan denganku. Kau berhak, karena memang tak mempercayaiku. 

Aku pernah bermimpi tentangmu. Mimpi yang pernah kuceritakan padamu.

“Mungkin saja ia orang yang akan mengajakmu berdamai dalam pelarianmu,” ujar salah seorang teman ketika kuceritakan padanya perihal mimpiku dan dirimu. 

Memang benar, kau menjadi alasanku pulang pada mereka, keluargaku. Keluarga yang kini harus benar-benar kuhargai. Keluarga yang kini harus benar-benar kupikirkan kelangsungannya. 

Aku belum pernah bercerita banyak hal kepada orang lain selain padamu. Aku belum pernah mengharap terlalu banyak kecuali darimu. Aku belum pernah berubah terlalu banyak kecuali karenamu. Karena alasanku, satu-satunya kau, aku percaya.


"I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
and the reason is you"

Kau suka mendengarkan lagu, kan? Barusan kau menemukan potongan lirik dari Hoobastank - The Reason. Mungkin kau tertarik mendengarkannya? Temanku pernah bilang, ketika senang, kita mendengarkan lagu. Namun ketika sedih, kita memahami lirik.

Kamulah alasan aku bisa melanjutkan ketertundaanku. Kita pernah berjanji, bukan? Akh, lagi, aku baru sadar, janji yang hanya kubangun dalam imajinasi saja. Kamulah alasan aku bisa menemukan jalan pulang ke keluargaku. Kamulah alasan aku harus selalu percaya. Kamulah alasan aku menemukan banyak hal. Seketika kamu menghilang? Tak usah khawatir, aku masih menyimpan sisanya yang bisa kugunakan sewaktu-waktu.

Aku merindukan…

Akhirnya, aku tahu. Alasan sesungguhnya tak pernah menembus benteng pertahananan yang kau ciptakan bertahun-tahun lamanya. Bukan karena kau masih mengharap kosong pada orang yang kau tunggu itu, melainkan kau memutuskan diriku bukan orang yang tepat bagimu. Sehingga, kelak tiba masanya kau mampu merelakan orang yang kau tunggu, aku tetap bukan alasanmu untuk tetap mengembangkan senyum manismu. 


--Imam Rahmanto--


2 komentar:

  1. Untuk sementara waktu saja, kak, tidak ingin menunggu lebih banyak lagi? Seperti saya, seperti pula yang dimaksud di atas? ;)

    BalasHapus
  2. @Awal Hidayat Menunggu?? Akh, saya benci mendengar kata itu.... :)

    BalasHapus