Senin, 28 April 2014

Surat Tak Berpulang Kepada Yang Berpulang

Apa kabarmu disana, Kek? Maaf, sampai surat yang takkan pernah kau balas pun aku masih menanyakan kabarmu. Hehe, aku terbiasa menuliskan surat dengan bertanya kabar lebih dahulu. Itu yang diajarkan guru bahasa Indonesiaku dulu. Ku lupa namanya. Padahal jelas-jelas engkau sudah bahagia berada di sisi-Nya. Malah, mungkin saja kau justru berharap dikirimkan doa dalam lantunan surah Yasin. Sepaket dengan kerinduanku.

Sudah, Kek. Sudah. Satu, dua, tiga, hingga hari peringatan (tahlilan) kemarin, Sabtu malam, aku selalu membacakan Yasin buatmu. Aku tulus meniatkannya untukmu. Kalau saja amalan-amalan atas bacaan itu serupa serbuk-serbuk cahaya mikroskopis yang kian berlipat jumlahnya, maka malam itu juga, ketika kulantunkan suara yang tak bisa melagu ini, ia akan menyerbu sejarak triliunan tahun cahaya, melintas gerbang dimensi padamu. Tatkala ia sampai padamu, maka ia akan berpijar, memudar, mengitarimu menyerupa sayap yang semoga membawamu terbang ke tempat nun tinggi. Allah menyertaimu.

Kakek…

Ah, sesakit-sakitnya hatiku, hati ayah jauh lebih sakit. Ibu pasti juga begitu. Dari ujung telepon yang menghubungkanku dengannya tentang kabarmu kemarin, air matanya jatuh menetes. Ribuan mil aku terpisah jaraknya dengan ayah, namun benar kutahu ia membasahi pelupuk matanya. Kurasakan parau suaranya, menyingkirkan segenap egonya sebagai lelaki, terisak menyesalkan keadaanmu. Ia seharusnya bisa mengunjungimu di tanah kelahiran disana, kalau saja kecelakaan nyaris setahun silam tak merenggut setengah bagian sel saraf di tubuhnya.

“Jadi laki-laki tidak boleh menangis,” masih teringat jelas pesan ayah dalam setiap perjalanan dan kesakitan hidupku. 

Namun, cobaan (atau entah kutukan) yang bertubi-tubi menimpa keluarga kami, semakin melapangkan ayah. Ia yang dulunya keras, kini berganti banyak merenungkan keadaan dan nasibnya. Mendengar kabar dirimu yang tempo hari kritis dibawa ke rumah sakit, ayah semakin banyak menyesalkan nasibnya. Lewat gelombang telepon yang menghubungkan kami, ayah banyak terisak sembari bercerita dan meminta padaku menanyakan sendiri kabar pada keluarga di Jawa sana.

Ya, kabar tentang dirimu yang dibawa ke rumah sakit kala itu menyebar begitu cepat dalam sepersekian detik menyeberangi laut yang memisahkan kediaman kita. Semua keluarga disana mengabari ayah dan ibu, tanpa tedeng aling-aling, tanpa meminta silakan. Tapi, bukannya kuasa Allah memang selalu tak butuh persetujuan manusia? Itulah sebabnya Tuhan menganjurkan kita untuk selalu berdoa.

Ibu, ingin sekali pulang menemuimu yang sedang kritis menanti perawatan dokter. Namun, ia tak sanggup meninggalkan ayah yang juga sudah beberapa bulan belakangan ini mengidap “Paraplegia”. Itu nama penyakit yang kutemukan lewat tontonan reality show di televisi kemarin. Kalaupun ibu ingin nekat pulang menemuimu, ia juga takkan sanggup bepergian sendirian.

Aku? Ayah mewanti-wanti tentang kuliahku. Padahal waktu itu, aku sudah menepiskan segala pikiran di luar keluargaku. Aku berpikir, dalam seminggu atau dua minggu, tak apa meninggalkan kampus dan segala kesibukanku. Melemparkan jauh prioritasku. Biarlah untuk yang satu ini, aku akan penuhi.

Namun, engkau tahu, Kek? Ayah melarangku. Masih dalam suara terpukulnya, ia menyuruhku untuk berpikir matang-matang. Mungkin pikiran sepihakku seperti dulu, tak ingin lagi ia temui dan rasakan. Aku juga tak ingin lagi…

Kakek,…

Hanya berselang sehari telepon ayah menyesalkan keadaanmu, ia menelepon lagi. Kali ini ia benar-benar terpukul. Engkau berpulang…

. . . . . . . . . .

Aku terdiam mendengarkan ayah. Entah harus seperti apa aku berekspresi menghalau beragam cobaan (atau entah kutukan) yang menimpa keluargaku. 

. . . . . . . . . . 

Kakek, sejujurnya kita belum banyak berkenalan. Aku dan kau bertemu hanya dalam momen liburan semasa sekolahku dulu. Itupun tidak rutin setiap tahun. “Kalau ada uang saja kita baru pulang,” jawab ayah setiap kutanyai mengapa tak setiap liburan kami mengunjungi keluarga di Jawa. 

Oiya, aku ingat, sekali waktu kami pernah mengunjungimu semasa kuliah dulu. Akh, tetap saja, desa dan orang-orang disana masih terasa asing bagiku. Dari kecil hingga dewasa, orang-orang hanya mengenalku lewat sambarannya, 

"Oh, itu cucunya Mbah Bien,” atau kalau bukan, 

“Oh, itu anaknya Suwarji.” 

Karena, memang, meski ayah dan ibu atau bahkan semua keluarga kita berasal dari sana, aku toh tetap lahir di tanah Sulawesi, dan terpaksa menjalani hidup dengan sebagian besar orang-orang pribumi "Duri".

Tentang engkau, yang terekam jelas dalam memoriku hanya;

mengenai kakekku yang selalu kutinggali rumahnya. Kakek, yang selalu kata ayah, tak tahu mengoperasikan alat-alat elektronik seperti televisi ataupun DVD player. Kakek, yang kata ibu, tak punya seorang keturunan. Hanya ibu jualah yang menarik perhatian kakek dan nenek untuk diangkat sebagai anak. Kakekku, yang setiap pulang dari bersawah selalu membawakan mangga, srikaya, ataupun makanan lainnya, untukku atau adikku yang kepanasan di rumah. Tentang kakekku, yang tahu sedikit-sedikit berbahasa Indonesia, dan lebih menikmati menonton televisi siaran lokal berbahasa daerah. Ketimbang nenek, yang sama sekali tak paham berujar Indonesia. Kalau menonton tivi, ia hanya menikmati gambar-gambarnya yang bergerak tanpa mempedulikan ucapan para pemainnya.

Lamat-lamat, aku mengingat samar-samar, tentang dirimu.

Yang menggendong anak kecil menembus luapan banjir Bengawan Solo. Di sekeliling, hanya rendaman air nyaris setinggi pinggang orang dewasa. Daun-daun bambudan batang pisang mengapung. Sesekali kau bertahan pada sisi perahu yang melintas dan orang-orangnya berteriak memanggil siapa saja yang masih terjebak banjir. Sembari berjalan tertahan oleh air, kau bercerita banyak hal. Namun, seperti slow motion, hanya gerakan bibirmu yang terekam dalam kepala anak itu.

Anak itu, hanya mengingat secuil itu. 

Anak itu, mungkin aku.

Akh, kakek yang semoga tersenyum dalam linangan masanya…

Aku mengingatmu, tak semeriah mengingat seseorang di kepalaku. Setiap waktu, nyaris saja orang itu memenuhi rongga memoriku. Meski aku berusaha menepis, dan berjalan melupakannya. Kakek, seandainya aku masih bisa menemuimu, berkunjung ke desa, berbincang denganmu, akan kuceritakan semuanya. Mungkin tak semenarik engkau bertemu nenek, yang entah engkau dijodohkan atau menjodohkan. Tapi, aku hanya butuh tempat berbagi denganmu. Karena kutahu, engkau takkan bercerita pada siapapun jua. Karena kutahu, engkau lebih banyak tidak akan mengerti pembicaraan kita. ^_^.

Kakek, aku mendoakanmu. Selalu. Kelak, secepatnya, aku akan mengunjungi kediaman simbolismu sekarang. Sejatinya, kau sudah berada di dimensi lainnya, bukan? Aku juga merindukan udara-udara ramah pedesaan, yang sejauh mata memandang hanya sawah, dan orang-orangannya yang nampak. Aku juga merindukan dielu-elukan, “Itu anaknya Suwarji,” hmm…meskipun agak was-was juga dengan pertanyaan, “Sudah selesai kuliah, belum?”

Tapi, tunggulah, Kek. Di balik cita-citaku untuk mengunjungi banyak tempat, aku takkan lupa mengunjungi desaku. Salam dan peluk keluarga, hangat, kerinduan. 

Kakek yang berbahagia…

Yang Kuasa, selalu menyertakan doa anak-anakmu padamu. Tak putus-putusnya, seperti untaian makhluk Amuba yang ketika dipotong akan membelah lebih banyak. Seperti kataku tadi, merupa menjadi partikel kosmik tak terjamah yang mengitari sepanjang penungguanmu di dimensi lain sana. Kalau kau butuh sayap, serupa malaikat, ia akan menempel di pundakmu, di punggungmu, dan mengantarknmu ke tempat yang lebih tinggi. 

Partikel cahaya Ilahi itu, merupa lagi ketika cambuk penghukuman akan menyentuh kulit legammu. Berubah bentuk, melingkupimu, membakar habis, menyucikan setiap hempasan yang akan menerpamu, seperti atmosfer yang melindungi bumi dari meteor-meteor kecil.

Ketika kau kesepian, ia akan merupa lagi. Melantunkan syair Al-Quran yang didengungkan untukmu. Di dunia ini, meski suara yang dikirimkan untukmu pas-pasan, namun dimensimu punya cara untuk menyaringnya menjadi kemerduan tiada banding. Kau tak lagi kesepian.

Kakekku yang tak mampu kugapai…

Aku ingin mendoakanmu. Doa itu, semoga dikekalkan Sang Pencipta dalam ejawantah penyadaran benakku, untuk mulai berbuat dan bertanggung jawab terhadap keluarga, seperti engkau dan ayah…


--Imam Rahmanto--



#kepada kakek yang berpulang ketika orang ramai mengelu-elukan Kartini, dan segala Kartononya, 21 April.

4 komentar:

  1. turut berduka cita kak :')
    jangan pernah menganggap ini musibah bagi keluarga, tak ada yang menginginkan hal paling memilukan terjadi dalam hidup seseorang, ingat ALLAH selalu ada dalam hati ummat nya memperingatinya melalui peristiwa yg terkdag diluar nalar kita, tapi ia hanya menuntut hambanya lebih dekat lagi kepadanya memberitahukan bahwa segalanya berada dibawah kuasanya ...:')

    BalasHapus
  2. Surely. :)
    Tapi, btw, nulis kata ganti Tuhan itu kayaknya mesti pake huruf kapital deh. :P

    BalasHapus
  3. @Dwiyana Arifin Juga kata2 "ummat Nya", "Ia", "hambaNya", "kepadaNya" kan? :)

    BalasHapus