Kamis, 24 April 2014

Menyeberang ke Liukang (end)

Mesin sampan – bapak pemilik perahu menyebutnya demikian - menderu diantara deburan ombak yang menyertai perjalanan kami. Semburat matahari yang baru sebagian, kami memulai sedikit perjalanan menyeberang laut pagi itu. Masih pukul enam lewat.

Sedang ngobrol dengan Bapak Pemilik Sampan. (Foto: Imam)
Agak takut, saya duduk di tengah sampan. Sampan kecil ini hanya bisa memuat maksimal 5 orang. Terakhir kali naik perahu kecil seperti ini ketika saya duduk di bangku SD. Yang dilalui pun hanya sungai yang lebarnya tak lebih dari 100 meter, memisahkan dua desa di kampung halaman kedua orang tua di Jawa.

Kak Paddo, begitu saya dan teman-teman lain memanggilnya, tak ingin frame kameranya dihalangi, maka saya memilih duduk di tengah sampan, tepat di belakangnya. Sesekali menemani dan bertanya beberapa hal kepada Bapak Pemilik Sampan.

“Saya tidak begitu sering membawa orang-orang kesini. Karena saya niatnya tadi mau kesini untuk memancing, mencari ikan. Tapi tiba-tiba teman tadi menawari untuk mengantarkan pengunjung, jadi saya terima saja sebentar,” akunya.

Kami mencapai Pulau Liukang Loe dalam waktu 20-25 menit.

Masih pagi, orang-orang masih memilih mendekap mimpi di rumahnya. Hasil motretnya saja yang agak terang.
(Foto: Imam)
Sampan hanya berhenti sebentar di depan pantai Liukang yang sangat sepi. Sama di Pantai Bira, pasir putih sepanjang mata memandang. Sayangnya sepi pengunjung. Para penduduk yang mendiami pulau mungkin sudah terlalu bosan memandangi laut. Sementara para pengunjung dari luar Pulau Liukang, khususnya di Pantai Bira sana (seperti kami), hanya sesekali menyempatkan diri bertandang.

“Mau turun, Pak?” tanya Bapak Pemilik Sampan kepada kami.

“Mm…tidak usah deh, Pak. Kita coba cari spot yang menarik saja menurut Bapak. Kalau bisa yang katanya ada karang-karang begitu buat dipotret,” sergah Kak Paddo. Sejak awal, ia memang berniat mencari pemandangan yang menarik, bukan untuk bertamasya.

Bapak pemilik sampan hanya menurunkan kecepatan sampannya seiring deru mesinnya yang kian melemah. Kami lenjut menyusuri laut lewat pinggiran pantai dan tebing. Pelan.

Ujung pulau ada disana. (Foto: Imam)
Ada rumah di tengah laut. Rumah atau restoran ya? (foto: Imam)

“Di pulau ini (Liukang) ada berapa banyak orang yang tinggal?” tanya saya.

“Ada dua dusun yang bermukim disini. Tapi, masih belum semua pulau terjamah. Bahkan di pinggir-pinggir pulau,” tunjuknya ke arah bukit, “biasanya banyak ditemukan ular-ular besar.” Apa yang disampaikannya justru membuat saya bergidik ngeri.

Dari kejauhan, di seberang pulau, saya bisa melihat beberapa boat yang berhenti agak ke tengah laut. Memang, sebenarnya Pulau Liukang Loe merupakan lokasi yang kerap kali dimanfaatkan sebagai titik snorkeling maupun diving. Sebelum menjejakkan kaki di Pantai Bira, ada toko yang memang khusus menyediakan penyewaan alat-alat snorkeling.

Kalau waktu lebih banyak, juga biaya, tentu saya sangat ingin pula menikmati keindahan bawah laut seperti mereka. Sayangnya, saya hanya menemani seorang senior yang ingin memotret. Aji mumpung. Ya sudah, kapan-kapanlah ketika saya punya waktu, laut Indonesia akan saya jelajahi. Eh, pulau-pulaunya juga tak ketinggalan lah. :D

Mungkin, atas alasan “luas” orang-orang senang memandangi laut. Secara umum, orang-orang senang memandangi sesuatu yang lapang. Harapannya, hati pun bisa ikut lapang. Laut. Langit. Cakrawala tak berujung. Galaksi. Hujan tak terhitung. Dan banyak hal yang tak terkira. Dengan begitu, setiap hati yang terluka dan kecewa bisa menuangkan beban dan keburukan pada beragam hal yang maha luas itu.

Di ujung pulau, ternyata kami tak menemukan spot menarik yang kami inginkan. Bapak Pemilik Perahu membawa kami ke ujung satunya lagi. Berbalik arah.

“Disini, kalau lagi surut, bagus pemandangannya. Gua-gua kecil itu malah bisa dimasuki,” tuturnya lagi sambil menunjukkan lubang yang dipenuhi air di bawah tebing pulau.

Memang, bahkan dari sampan pun, kami bisa melihat laut lepas yang berwarna-warni. Hijau, biru, bening, bercampur baur dan terkadang memisahkan diri di titik tertentu di tengah laut.

Beningnya mendamaikan..... (Foto: Imam)
Ah, kami tak menemukan apa yang kami cari. Kami hanya disuguhi pemandangan beningnya air laut yang ada di dasar sampan. Tempat ini memang layak untuk dijelajahi alam bawah lautnya.

Ternyata bapak pemilik sampan merupakan petualang yang tangguh. Sebagai orang Selayar, ia  bercerita telah mengelilingi setengah dari Indonesia. dari Makassar, Kupang, NTT, Bali, hingga Australia. Ia mengelilinginya dengan berbekal perahu untuk menangkap ikan. Pedoman dalam menentukan arah perjalanannya hanyalah kompas, peta, dan laut.

Saya jadi iri mendengar ia, yang hanya orang biasa, mampu melakukan perjalanan menjelajah lautan Indonesia seperti itu. Seandainya bapak itu bisa menuangkannya dalam tulisan, mungkin sudah banyak pelajaran yang bisa didapat dari sana ya?

“Kalaupun kita kesasar, ya kita tentukan lagi arah tujuan kita yang benar,” ceritanya sambil menyibukkan diri mengisi bahan bakar sampannya di pinggiran tebing pulau.

Tapi, tetap saja, kami lagi tak menemukan pemandangan menarik (bagi Kak Paddo). Ternyata spot yang dimaksudkan kawannya bukan di pulau itu, melainkan di sebelah Pantai Bira yang dijuluki Bara. Kata penduduk sekitar, tempat itu memang memiliki panorama yang menarik. Namun, jalan kesana rusak, dan sulit dilalui kendaraan.

“Pulau Betan lebih bagus malah. Tapi, jauh dan ombaknya agak tinggi,” ujar pemilik perahu lainnya. Hm…bisalah menjadi referensi penjelajahan kami berikutnya.

Relax di tengah laut. (Foto: Imam)
Buat saya, menyeberangi laut saja sudah membuat jiwa petualangan saya memuncak. Sampan kecil itu terombang-ambing oleh ombak yang nyaris serata permukaan perahu. Meski tak pandai berenang, saya memilih duduk di buritan sampan. Sepanjang perjalanan terpukau melihat ombak-ombak yang menggulung menghempas sisi perahu. Sesekali berteriak untuk mencairkan suasana.

Saya semakin senang mengunjungi tempat-tempat baru. Bertemu orang-orang baru. Belajar banyak hal baru. Kelak, berharap bisa mewujudkan keinginan untuk menjelajahi banyak tempat dan bisa menceritakannya lebih keren dibandingkan sekarang. (*)


--Imam Rahmanto-- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar