Rabu, 09 April 2014

Titik Nol

“Ini bukan tentang menghapus apa yang pernah kita lalui. Ini tentang membuat kenangan baru. Yang membahagiakan, yang menyedihkan, yang manapun itu, asal bersama orang yang tepat. Bagi kami, perempuan, bagi sayalah setidaknya, tidak menjadi yang pertama pun tak mengapa. Asal, kamu punya cukup kekuatan untuk sampai di akhir”

Potongan itu, dituliskan seorang teman di blognya dan selanjutnya ditautkan pada saya. Akh, dia selalu tahu apa yang sedang berlaku pada saya. Bahkan untuk beberapa hari belakangan ini.

Saya sejatinya membenarkan apa yang dituliskannya. Dari sudut pandangnya sebagai seorang perempuan, saya melihatnya punya kesamaan dengan seseorang yang selalu tertanam di kepala saya. Sama-sama memiliki masa lalu. Meskipun, teman saya itu telah jauh kehilangan masa lalunya dan tak mungkin dikembalikan lagi, kecuali dalam bunga tidurnya sendiri. Wajar jikalau ia merasa perlu menyampaikan apa yang dirasakannya.

Mengenai orang yang dicintainya itu, saya baru mengetahuinya beberapa minggu lalu, hasil dari obrol-obrol ringan bersama sahabatnya, dan teman-teman “kepo” saya lainnya. Pantas, raut mata teman saya itu jika diselami tidak jauh berbeda dengan seseorang yang baru saya kenal nyaris setahun belakangan ini.

Sejujurnya, saya tak pernah berharap mampu menghapuskan ingatan-ingatan seseorang dari kepalanya. Saya bukan seorang paranormal atau seorang pakar hipnotis yang bisa sesukanya memasuki alam bawah sadar mereka. Saya juga bukan seorang penjahat yang kerap kali memaksakan keinginannya. Seusil-usilnya, saya tidak pernah ingin berlaku jahat. Hanya saja, nampaknya saya tak cukup kuat untuk menerima kenyataan bahwa tak mampu berdamai dengan sisi diri saya yang lainya. Sisi lelaki yang ingin memiliki perempuannya, seutuhnya. Apalagi, kali pertama saya dibuat selalu memutar ulang rekaman disc tentang seseorang di kepala saya.

Ah, sudahlah.

"Biar sepeda berjalan, kita harus terus mengayuhnya agar seimbang. Rodanya pasti berputar."

Gara-gara mendalami kisah saya, seorang teman lainnya lagi nampaknya akan terjangkiti "virus" serupa, katanya.

"Kak Imam menulari anak-anak," tukas seorang teman perempuan tadi.

Hah? Maksudnya? Lha, ini kok kayak saya lagi diomeli ya? 

Kalau soal go-blog bareng, beberapa hari terakhir memang saya sedang menularkannya kepada crew-crew redaksi. Perlahan, saya senang melihat teman-teman satu sama lain mulai bersaing memperlihatkan "rumah"nya di dunia maya. Satu-dua orang mengajak memperbarui tampilan "rumah"nya. Satu-dua orang meminta ngerecokin di sela-sela begadangnya. Akhirnya, mereka tak jadi gelandangan lagi di dunia yang penuh keluh kesah ini. Selamat.

"Coba lihat gelagatnya. Kayaknya ia tak mau lagi menunggu "imajiner"nya deh. Kayaknya dia bakal galau juga," ujar teman saya di lain kesempatan menerangkan maksud "omelan"nya pada saya.

Lha, memang dari awal dia sudah galau, kan? -_-"

Sudahlah. Biarkan saja kehidupan membimbingnya. Sebaik-baiknya manusia belajar adalah dari pengalamannya.

Saya sebenarnya ingin memulai sesuatu yang baru. Menumpuk kenangan baru. Perihal sesuatu yang lama, memang menyebalkan. Namun, kata orang-orang nun jauh di desa, segala sesuatu yang berlaku instan tidaklah baik. Dan di kota nyaris segalanya berlaku instan. 

Mengisi gelas dengan Cappuccino yang nikmat pun butuh waktu. Tak instan. Oh ya, saya menemukan tempat baru menikmati minuman campuran sepertiga espresso itu. Selain murah, minuman itu benar-benar murni disajikan ala cafe, ala barista. Beberapa hari belakangan, saya dan beberapa orang teman lainnya sering menghabiskan waktu disana. Hm, tempat yang damai sekaligus menenangkan.

Nah, ketika saya memutuskan untuk memulai kembali, baru. Saya akan membayangkan lagi dilemparkan ke titik nol. Time warp. Anggap saja dia tak pernah tahu tentang saya yang menyukainya. Anggap saja wajar ia tak menghiraukan setiap usaha diam-diam saya padanya. Anggap saja ia memang tak pernah mengharapkan kehadiran saya. Toh, seorang lelaki, pada awal memperjuangkan perempuannya, ia selalu bertaruh tentang hati perempuannya, bukan? Apakah ia menyukai saya atau tidak? Apakah saya cuma ge-er saja? Pikiran-pikiran itu yang akan menghantui kepala setiap lelaki. Hingga akhirnya ia akan melihat hasilnya sendiri. Menuai atas pertaruhan yang dengan berani dilakukan.

Toh, kamu sudah sepantasnya berusaha. Tapi tak sepatutnya memaksa-Ku mengabulkan. Aku yang menentukan hasilnya, baik ataukah buruk untukmu,” kata Tuhan.

***

Padahal saya telah merencanakan banyak hal selepas Pleno kemarin, tiga hari yang lalu. Saya berpikir, adalah baik ketika ternyata Dewan Redaksi memutuskan rolling bagi jabatan saya yang seharusnya dianggap krusial. Memahami kinerja saya, beberapa orang tentunya melihat ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Apalagi beberapa teman lainnya nampaknya paham dan menyadari tentang pikiran-pikiran yang sedang banyak menggelayut di benak saya semenjak mengemban jabatan itu. Mengingat alasan mereka pernah membenamkan saya kembali dalam kesibukan-kesibukan seperti ini demi memperbaiki sistem yang pernah rusak.

Akan tetapi, di luar dugaan saya, pertanggungjawaban itu justru berlangsung "baik-baik" saja. Harapan saya justru menguap sia-sia. Malah, "baik-baik" itu yang membuat saya banyak menduga-duga tentang kemungkinan yang tidak pernah saya harapkan di kemudian hari. Ck...


--Imam Rahmanto--



Ps: Saya menuliskan ini pun di tengah-tengah "mencuri waktu" karena sesak di kepala yang butuh dituliskan. Menulis untuk memahami.



3 komentar:

  1. HAHAHAHAHAAHAHAHA. Saya sedang di lantai atas tempat kita akhir-akhir ini biasa menyeruput sepertiga espresso itu. Sendirian, dan cukup tidak memalukan untuk tertawa lepas membaca postingan di atas. :D

    BalasHapus
  2. @Awal Hidayat Dan saya langsung tahu, tanpa menengok isi email notifikasi saya, bahwa ada seorang "fans" yang pasti lagi menengok tulisan saya.... -_-

    BalasHapus