Senin, 14 April 2014

Ada Kertas Dimana-mana

Ini tabloid kami! Edisi 178. (Foto: Imam)
Lega juga rasanya ketika tanggung jawab bisa ditunaikan, meskipun hanya untuk sementara. Masih ada banyak tanggungan lagi yang mesti diselesaikan; termasuk 3 tabloid dalam rentang 2 bulan masa akhir jabatan disini, lembaga pers yang menggembleng saya. 

Kata orang, perwajahan untuk sampul tabloid kami hari ini keren. Saya akui, memang keren. Terima kasih buat Kasdar yang bertahan menerima omelan saya. :) Meski sederhana dan tak muluk-muluk, ada something different yang saya lihat melalui sampul yang digarapnya dalam beberapa jam.

“Coba dicek, Kak. Apakah sudah begitu?” kirimnya bersamaan dengan attachment berupa file sampul .pdf via facebook-nya.

Ia mengirimkannya di saat saya sedang menjalani rapat bersama beberapa teman pimpinan lain, karena memang tak sempat mengawasinya hingga isi tabloid benar-benar rampung. Beberapa jam menjelang “naik cetak”, teman-teman memanggil saya untuk mengikuti rapat. Olehnya itu, tersisa sampul, semalam, saya mempercayakan padanya.

Ada kalanya kita harus belajar mempercayai orang lain, tanpa banyak memperhitungkan hal yang muluk-muluk. Sesederhana berpikir. Berpikir sederhana saja.

“Keren!” sesaat setelah saya memperlihatkannya kepada teman-teman lainnya. Gambar yang dipasangkannya sebagai sampul memang tepat mewakili judul yang diusulkan oleh ktua umum kami. Diam atau Bungkam? Yah, meskipun saya mendapat beberapa kasak-kusuk hari ini yang mempertanyakan perbedaan kedua kata itu. Namun bagi saya, ada perbedaan “makna” dalam kedua kata itu.

Terlepas dari itu, banyak lah komentar yang menilai sampul kami mulai agak “dewasa”. Hm…

Oke.

Biasa aja.

Tidak banyak yang berbeda.

Yess! Akhirnya dibilang keren.

Horee!

Cukup. ehem..

Seperti itulah hasil pekerjaan di atas kertas. Kertas.

Eh, itu nama kucing di redaksi kami. Iya, Kertas. Selepas rapat triwulan III (pertanggungjawaban) seminggu lalu, seekor kucing hadir di tengah-tengah kami. Pagi-pagi sekali ketika saya melihatnya menggeliat diantara teman-teman yang sedang tertidur pulas. Saya sempat mengabaikannya karena mengira ia hanya kucing biasa seperti kucing-kucing lainnya yang kerap mondar-mandir-keluar-masuk redaksi saban hari.

Berwarna putih polos. Hanya ujung ekornya yang berbelang hitam. Masih kecil. Lucu. Lugu.

Nah, itu dia kucingnya sedang dimandikan dengan "semena-mena". (Foto: Imam)
Beberapa jam berikutnya tibalah pada acara memandikan kucing itu. Saking antusiasnya mereka menemukan keluarga baru (yang telah lama terpisah). Teman-teman saya yang “sayang binatang” memandikannya dengan penuh cinta. Mereka memandikannya pakai Rinso cair! Gara-gara itu, seorang teman nun jauh di kota lain berkomentar.

“Kata temenku yang suka kucing, kucing sekecil itu belum boleh dimandikan. Katanya bisa kena flu kucing,lalu mati,” Aduh. Mana kita tahu.

Kertas sedang bermain-main kertas. Ehm, itu kertas pembung-
kus tabloid yang tiba pagi ini. (Foto: Imam)
Beruntung, sampai detik ini, kucing itu baik-baik saja. Malah, gara-gara dimandikan begitu, Kertas jadi lebih akrab dengan crew redaksi. Mungkin sudah terjalin semacam “chemistry” gitu. Hahaha….

Oh ya, tentang nama itu, saya menamainya “sewenang-wenang”.

“Itu namanya Kertas,” ujar saya pada setiap orang yang menanyakan namanya.

Sambil mengerutkan kening, seorang lainnya berkata, “Bukan. Namanya Putih. Kemarin sudah dibaptis.” Seorang teman perempuan tak mau kalah dalam urusan memberikan nama.

“Pokoknya namanya Kertas. Daripada saya kasih nama Laput atau Lapsus atau Wansus,” saya memaksakan. Asal tahu saja, istilah yang saya sebutkan itu merupakan nama-nama rubrik yang ada dalam tabloid terbitan kami. Saking beratnya kepala jelang deadline, saya memilih kata-kata yang ada kaitannya dengan tabloid ataupun redaksi. Ya sudah, namanya ya Kertas. Titik.

“Sudah, sudah. Kalian boleh menamakan apa saja sesuka kalian. Yang penting saya dikasih makan. Disayang-sayang, tidur bareng,” begitu kata Kertas dengan ketusnya.

Hari ini, saya baru tahu kalau Kertas berjenis kelamin perempuan. Agak kesal juga sewaktu seorang teman lelaki nyeletuk menamainya dengan nama seseorang yang sering diledekkannya. Kapan-kapan saya harus menceburkan kepalanya ke laut. -_-“

Kertas.

***

Di atas kertas, hari ini juga anak-anak sezaman berjuang. Beberapa langkah lagi, mereka akan melepas masa-masa sekolah menengah mereka. Label remaja yang disandangnya akan terlepas seiring dengan perjalanan waktu yang mereka ciptakan sendiri. Lewat ujian nasional hari ini, lewat bulatan-bulatan di kertas jawabannya, nasib mereka beberapa tahun ke depan ditentukan. Lulus atau tidak lulus.

Yah, dari tahun saya sekolah dulu, ujian nasional memang selalu menjadi momok bagi setiap siswa tingkat akhir. Menjelang UN, mendadak banyak teman-teman saya yang menjadi “religius”. Saban hari mereka berdoa. Saban sepertiga malam mereka memanjatkan doa selepas tahajjud. Pun, dikirimi sms-sms mitos yang berkaitan dengan kelulusan, mereka bakal “patuh” untuk mengiriminya ke banyak orang.

Pernah mendapati, bukan? Sms yang ujung-ujungnya berbunyi “kirimkan sms ini ke sepuluh (atau seratus) temanmu yang lainnya. Kalau tidak, kamu tidak akan lulus ujian nasional.” Di zaman modern seperti ini, masih banyak saja teman-teman saya yang mempercayainya dan bergegas mengirimkannya. Dan di zaman semakin modern, modusnya juga berubah. Kini memanfaatkan broadcast BBM, yang kini banyak dimiliki anak-anak gaul zaman sekarang.

Entah seperti apa pikiran pemerintah pusat yang masih mempertahankan UN untuk penentu kelulusan jenjang akhir. Padahal, bukan menjadi rahasia lagi kalau UN dijalani dengan banyak kecurangan. Setiap orang berpura-pura menutup mata. Diam atau Bungkam.

Semasa sekolah dulu, saya kerap kali dijadikan “ujung tombak” ujian. Kami belajar bagaimana caranya “menyontek” yang baik dan benar. Karena saya orangnya “sombong” perihal menyontek, maka jadilah saya yang dicontek. Buat saya, hal tersebut tidak masalah, selama bukan saya yang menyontek pekerjaan orang lain. Serius. Bahkan jawaban yang disediakan oleh guru-guru saya di waktu itu, sebagai “kebutuhan primer”,  hanya saya serahkan kepada teman-teman lainnya. Saya memilih mengerjakan ujian saya sendiri. Ckck…sombong.

Dari UN, kami belajar banyak trik menyontek. Di SD, bagaimana cara saya berpura-pura sakit perut agar bisa memberikan jawaban kepada teman di kelas lainnya di WC. Bagaimana cara memilih mistar yang baik sebagai media contekan untuk teman-teman lainnya. Mistar yang baik adalah mistar yang tidak transparan, sehingga bisa ditempelkan kertas kosong sebagai media coretan jawabannya. Di SMP, bagaimana cara memanfaatkan bagian-bagian tubuh sebagai opsi jawaban pada lembar UN. Bagaimana cara berpura-pura menjatuhkan pulpen sembari mengambil jawaban yang dilemparkan ke bawah meja. Di SMA, bagaimana cara memanfaatkan handphone yang masih barang langka kala itu.

“Kamu besok bawa handphone ya?” tanya seorang teman menjelang ujian di sekolah dulu.

“Ah, malas ah. Selama ujian, saya ndak mau bawa,” saya menolak ajakan teman untuk berbuat curang dengan alat komunikasi itu. Bukan karena saya ingin “jujur”, melainkan handphone yang saya miliki kala itu adalah handphone yang “berat”, yang hanya bisa dibawa-bawa di dalam tas. Dikantongi, justru membuat celana menggelembung saking besarnya. Hahaha…

Menyandang label “siswa”, sudah lama tak lagi saya rasakan. Saya tak tahu lagi bagaimana euforia deg-degan menjelang dimulainya, hingga deg-degan lagi menjelang pengumuman kelulusannya. Di akhirnya pun, ada tangis air mata, haru atau kesedihan yang menyertai tiap penghujung pengumumannya. Ada doa yang senantiasa mengiringinya. Yah, kita nantikan saja pengumuman kelulusan ujian hari ini.

Siapapun seharusnya menyadari, kita hanya sampai pada usaha semaksimal mungkin, dan biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya.

Selamat menempuh Ujian Nasional, teman!


--Imam Rahmanto-- 

6 komentar:

  1. selamat untuk tabloid edisi 178,, keren! untuk editornya semakin matang yaa kak kasdar selamat menikmati hasil buah tangannya, saya menanti karya keren selanjutnya ^^

    yaa lucu juga kucingnya diberi nama kertas cocok dengan bulunya yg putih bersih, oia aneh sih klo kucingnya di kasi nama laput atau lipsus -_-
    saya penasaran dengan rumah redaksi teman2 di profesi... kapan2 saya mampir kesana ^^...

    BalasHapus
  2. @Dwiyana Arifin Hahaha....Tak usah sungkan-sungkan berkunjung ke rumah kami. *Apalagi kalau dengan seperangkat kue bolunya... #ehh

    BalasHapus
  3. kode keras hahaha... sipp mau bolu masak, goreng atau bakar ? :D *lol

    BalasHapus
  4. @Dwiyana Arifin Ya Bolu Basah juga ndak apa2. Ndak usah terlalu mewah..... :P *Ditunggu*

    BalasHapus
  5. Selamat Profesi, atas tabloid barunya. Dan emang sih Mam, sampulnya keren!!!
    Oiya, rasanya aku kenal dengan komentar temanmu yang-ada-nun-jauh-di-kota-lain itu yak? Tapiii.. Setelah tahu Kertas dimandikan pakai detergen, kayaknya temenmu dan temannya temenmu itu bakal lebih shock deh :o

    BalasHapus
  6. @Dian Kurniati Hahahahaha....udah kagak lagi kok. :D

    BalasHapus