Sabtu, 12 April 2014

11# Refleksi

Refleksi. Kita bercermin. Melihat ke dalam. Berbicara dengan bayangan. Kita tahu.

Refleksi. Deja vu. Kita melihat ada kita pada orang lain. 

Ada banyak refleksi di dunia ini. Nyata. Secara umum, disebutkan ajang evaluasi diri. Melihat hal-hal yang kita anggap pantas untuk diperbaiki dan diperbaharui. Refleksi, yang secara luas kita maksudkan untuk menilai.

Saya ingin mempersempit kondensasi itu. Refleksi. Bercermin. Melihat hal yang serupa. Nyatanya bukan.

Saya menyebutnya, semi déjà vu. Déjà vu, sesuatu terjadi, seolah-olah kita sendiri pernah mengalaminya, baik dalam mimpi maupun di kenyataan. Kita dibawa memasuki fase time warp.

Lorong waktu. Past reflection.

(Sumber: devianart.com)
Tentang kita yang menemukan orang lain adalah diri kita. Dia yang merupakan cerminan diri kita di masa lalu ataupun masa sekarang. Mirip. Tentang kita yang mendapati diri sedang bercermin pada masa silam.

Kalian percaya? Saya percaya, di suatu waktu dan di suatu tempat tempat di belahan muka bumi ini, ada seseorang yang merupakan “refleksi” diri kita seutuhnya.

“Tapi, cermin kan membalikkan semuanya? Kanan jadi kiri. Kiri jadi kanan. Apakah tidak mungkin sifat kita juga berbalik pada refleksi itu?”

Baik. Saya hanya mengambil sisi esensi saja pada konsep “pencerminan” itu. Secara utuh, ia tetap ia. Saya tetap saya. Mereka tetap mereka. Karena sejatinya, memang manusia diciptakan unik oleh Tuhan. Kembaran sekalipun, punya sisi yang berbeda dalam proses kehidupannya. Refleksi.

Setiap generasi punya refleksinya masing-masing. Mungkin, atas dasar itu pulalah muncul konsep reinkarnasi. Saya senang mencontoh-contoh past reflection itu. Sama halnya ketika saya mencocokkan teman-teman (junior) kuliah dengan teman-teman sekelas saya dulu. Yah, teman-teman sekelas saya dulu sudah banyak yang meninggalkan kampus, dan tak kembali lagi. Sebagiannya mungkin melanjutkan S2. Saya menemukan beberapa teman-teman “baru” saya itu adalah penjelmaan past reflection dari teman-teman saya terdahulu. Segi penampilan maupun tingkah laku.

Bahkan melihat seorang anak kecil atau remaja, dengan tingkah lakunya sekilas sudah membawa saya mencocok-cocokkan kemiripan tingkah lakunya dengan saya (yang remaja). Terkadang saya menganggap dirnya adalah diri saya di masa generasinya.

“Ia mirip denganmu,” kata seorang teman suatu ketika tak lama ini ia melihat orang yang dianggapnya sama dengan saya. Saya hanya menampiknya, berusaha mengelak. Apanya yang mirip? Saya ini orangnya hiperaktif. Dan dia, agak pemalu dan pendiam, nampaknya. Dia cukup cakep, saya tak cukup cakep.

“Dia kayak kau,” seseorang lainnya lagi menimpali di waktu berbeda. Saya menemukannya lagi.

Semakin ke arah sini, perlahan saya menyadari sesuatu. Ada yang berbeda dari seseorang yang mereka tunjukkan itu. Namun, saya mengakui, memang ada yang sama.

Yah, beberapa minggu belakangan pun, saya baru menyadari menemukan past reflection saya. Seorang teman, atau mungkin adik, yang juga aktif di lembaga pers yang sama. Ia belum menggenapkan dirinya setahun menggeluti dunia pers kampus kami.

Saya menemukan banyak diri saya di dalamnya. Tentang ia yang juga berasal dari jurusan yang sama dengan saya. Tentang ia yang menggenapi setiap perasaannya dengan menulis. Tentang ia yang suka membaca buku. Tentang ia yang ternyata aktif pula di Laboratorium komputer jurusan saya. Tentang ia yang suka menyendiri, hingga berjalan menyusuri lengang lamunannya di keramaian kota. Tentang ia yang menyukai pula dalam diam. Akh, seandainya ia tahu sejatinya urusan perasaan tidak hanya persoalan memendam saja.

Bukan kebetulan semata jika ia akhirnya bertemu saya di lembaga pers kini. Bukan kebetulan semata ketika  ia akhirnya lebih nyaman dengan “keluarga”nya disini. Menemukan sesuatu yang dianggapnya lebih tepat urusan cocok dan kebebasan. Urusan laboratorium dan isinya? Ia nampaknya menjadi “buronan” juga disana, mengingatkan masa-masa saya pula disana.

Beberapa hal itu, nampaknya menjelaskan tentang mengapa saya begitu dekat dengannya. Saya begitu suka menimpalinya. Ada beberapa hal di masa silam yang ingin saya perbaiki. lewatnya. Jikalau ia memang past reflection dari saya, maka saya ingin ia melalui kehidupannya dengan baik, lebih baik ketimbang saya. Memperbaiki sesuatu yang telah saya rusak di masa perjalanan saya.

Tapi percayalah. Seburuk apapun perjalanan hidup saya, saya memilih untuk tetap menjadi seperti ini. Tuhan sudah merencanakan segala hal yang saya butuhkan.  

Beberapa hari yang lalu pun, seorang yang saya kenal, belum genap setahun pula, mengungkapkan tentang dirinya yang mendapati teman saya sebagai orang yang “mirip” dengannya. Past reflection-nya.

“Seolah-olah ia bisa menembus kepala saya, dan memahami isinya,” tuturnya antusias. Yah, mereka memang mirip satu sama lain. Mereka perempuan, dan ada yang tak bisa dimengerti oleh laki-laki. 

Bagi (teori) saya, setiap orang di dunia ini punya past reflection-nya. Semacam reinkarnasi hidup. Ketika kita menemukannya, kita bisa memutuskan untuk menuntunnya sebagai bentuk kepedulian. Atau hanya memandanginya, seolah menyaksikan film tentang diri kita yang diadaptasi ke layar kaca.

Baiklah. Siapapun, selamat menemukan diri kita di dimensi past reflection. Déjà vu. Karena manusia senang dengan mencocok-cocokkan.

***

Pagi yang cukup terang. Hujan beberapa hari kemarin, seperti membawa kota ini pada musim hujannya kembali. Sementara kita bingung, ini musim penghujan atau musim kemarau. Jawaban alternatifnya, pancaroba. Langit sedang ababil.

Pikiran saya pun terkadang tak luput dari ababilisme-nya. Kadang-kadang menyeruak emosi yang ingin meluluhlantakkan setiap orang yang tidak menjalankan instruksi dengan. Kadang-kadang melunak kepada siapa saja. Saya berpikir, bagaimana pula ketika seandainya saya bisa bertransformasi seperti Hulk ketika pikiran saya sedang kalut. 

Rutinitas yang padat membawa kepala saya sempoyongan untuk beberapa saat. Banyak yang ingin saya penuhi beberapa hari terakhir, namun terkendala pada “tahanan” kepala saya. Bahkan untuk seminggu belakangan, saya tidak pulang-pulang ke rumah kost saya. Saya jadi khawatir dengan pakaian yang menumpuk di baskom. 

Sedikit lagi. Sedikit lagi saya harus menyelesaikan perkerjaan ini. Usainya, saya ingin sejenak bersantai, berelaksasi barang sehari, atau mengunjungi ayah dan ibu nun jauh disana. Pemilu kemarin saya tak pulang untuk memilih, meskipun nama saya tertera disana sebagai seorang pemilih.

Mendadak, saya begitu iri membayangkan sebuah keluarga atau dua sejoli yang hidup harmonis. Mereka saling melengkapi dan menyemangati. Di kala salah seorang kelelahan, satu lainnya lagi menenangkan meski sekadar melempar senyuman sembari berujar, “Semua akan baik-baik saja, Sayang.” 

Hm…betapa mendamaikan senyum itu...


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Okay, saya ge-er maksimal. Perbaikilah saya kalau begitu. #iniserius ;)

    BalasHapus
  2. Hahaha....mulailah dengan tidak menyimpan semuanya sendiri. Ada banyak teman2 di sekitar kita yang welcome.... :D

    BalasHapus