Senin, 28 April 2014

Surat Tak Berpulang Kepada Yang Berpulang

April 28, 2014
Apa kabarmu disana, Kek? Maaf, sampai surat yang takkan pernah kau balas pun aku masih menanyakan kabarmu. Hehe, aku terbiasa menuliskan surat dengan bertanya kabar lebih dahulu. Itu yang diajarkan guru bahasa Indonesiaku dulu. Ku lupa namanya. Padahal jelas-jelas engkau sudah bahagia berada di sisi-Nya. Malah, mungkin saja kau justru berharap dikirimkan doa dalam lantunan surah Yasin. Sepaket dengan kerinduanku.

Sudah, Kek. Sudah. Satu, dua, tiga, hingga hari peringatan (tahlilan) kemarin, Sabtu malam, aku selalu membacakan Yasin buatmu. Aku tulus meniatkannya untukmu. Kalau saja amalan-amalan atas bacaan itu serupa serbuk-serbuk cahaya mikroskopis yang kian berlipat jumlahnya, maka malam itu juga, ketika kulantunkan suara yang tak bisa melagu ini, ia akan menyerbu sejarak triliunan tahun cahaya, melintas gerbang dimensi padamu. Tatkala ia sampai padamu, maka ia akan berpijar, memudar, mengitarimu menyerupa sayap yang semoga membawamu terbang ke tempat nun tinggi. Allah menyertaimu.

Kakek…

Ah, sesakit-sakitnya hatiku, hati ayah jauh lebih sakit. Ibu pasti juga begitu. Dari ujung telepon yang menghubungkanku dengannya tentang kabarmu kemarin, air matanya jatuh menetes. Ribuan mil aku terpisah jaraknya dengan ayah, namun benar kutahu ia membasahi pelupuk matanya. Kurasakan parau suaranya, menyingkirkan segenap egonya sebagai lelaki, terisak menyesalkan keadaanmu. Ia seharusnya bisa mengunjungimu di tanah kelahiran disana, kalau saja kecelakaan nyaris setahun silam tak merenggut setengah bagian sel saraf di tubuhnya.

“Jadi laki-laki tidak boleh menangis,” masih teringat jelas pesan ayah dalam setiap perjalanan dan kesakitan hidupku. 

Namun, cobaan (atau entah kutukan) yang bertubi-tubi menimpa keluarga kami, semakin melapangkan ayah. Ia yang dulunya keras, kini berganti banyak merenungkan keadaan dan nasibnya. Mendengar kabar dirimu yang tempo hari kritis dibawa ke rumah sakit, ayah semakin banyak menyesalkan nasibnya. Lewat gelombang telepon yang menghubungkan kami, ayah banyak terisak sembari bercerita dan meminta padaku menanyakan sendiri kabar pada keluarga di Jawa sana.

Ya, kabar tentang dirimu yang dibawa ke rumah sakit kala itu menyebar begitu cepat dalam sepersekian detik menyeberangi laut yang memisahkan kediaman kita. Semua keluarga disana mengabari ayah dan ibu, tanpa tedeng aling-aling, tanpa meminta silakan. Tapi, bukannya kuasa Allah memang selalu tak butuh persetujuan manusia? Itulah sebabnya Tuhan menganjurkan kita untuk selalu berdoa.

Ibu, ingin sekali pulang menemuimu yang sedang kritis menanti perawatan dokter. Namun, ia tak sanggup meninggalkan ayah yang juga sudah beberapa bulan belakangan ini mengidap “Paraplegia”. Itu nama penyakit yang kutemukan lewat tontonan reality show di televisi kemarin. Kalaupun ibu ingin nekat pulang menemuimu, ia juga takkan sanggup bepergian sendirian.

Aku? Ayah mewanti-wanti tentang kuliahku. Padahal waktu itu, aku sudah menepiskan segala pikiran di luar keluargaku. Aku berpikir, dalam seminggu atau dua minggu, tak apa meninggalkan kampus dan segala kesibukanku. Melemparkan jauh prioritasku. Biarlah untuk yang satu ini, aku akan penuhi.

Namun, engkau tahu, Kek? Ayah melarangku. Masih dalam suara terpukulnya, ia menyuruhku untuk berpikir matang-matang. Mungkin pikiran sepihakku seperti dulu, tak ingin lagi ia temui dan rasakan. Aku juga tak ingin lagi…

Kakek,…

Hanya berselang sehari telepon ayah menyesalkan keadaanmu, ia menelepon lagi. Kali ini ia benar-benar terpukul. Engkau berpulang…

. . . . . . . . . .

Aku terdiam mendengarkan ayah. Entah harus seperti apa aku berekspresi menghalau beragam cobaan (atau entah kutukan) yang menimpa keluargaku. 

. . . . . . . . . . 

Kakek, sejujurnya kita belum banyak berkenalan. Aku dan kau bertemu hanya dalam momen liburan semasa sekolahku dulu. Itupun tidak rutin setiap tahun. “Kalau ada uang saja kita baru pulang,” jawab ayah setiap kutanyai mengapa tak setiap liburan kami mengunjungi keluarga di Jawa. 

Oiya, aku ingat, sekali waktu kami pernah mengunjungimu semasa kuliah dulu. Akh, tetap saja, desa dan orang-orang disana masih terasa asing bagiku. Dari kecil hingga dewasa, orang-orang hanya mengenalku lewat sambarannya, 

"Oh, itu cucunya Mbah Bien,” atau kalau bukan, 

“Oh, itu anaknya Suwarji.” 

Karena, memang, meski ayah dan ibu atau bahkan semua keluarga kita berasal dari sana, aku toh tetap lahir di tanah Sulawesi, dan terpaksa menjalani hidup dengan sebagian besar orang-orang pribumi "Duri".

Tentang engkau, yang terekam jelas dalam memoriku hanya;

mengenai kakekku yang selalu kutinggali rumahnya. Kakek, yang selalu kata ayah, tak tahu mengoperasikan alat-alat elektronik seperti televisi ataupun DVD player. Kakek, yang kata ibu, tak punya seorang keturunan. Hanya ibu jualah yang menarik perhatian kakek dan nenek untuk diangkat sebagai anak. Kakekku, yang setiap pulang dari bersawah selalu membawakan mangga, srikaya, ataupun makanan lainnya, untukku atau adikku yang kepanasan di rumah. Tentang kakekku, yang tahu sedikit-sedikit berbahasa Indonesia, dan lebih menikmati menonton televisi siaran lokal berbahasa daerah. Ketimbang nenek, yang sama sekali tak paham berujar Indonesia. Kalau menonton tivi, ia hanya menikmati gambar-gambarnya yang bergerak tanpa mempedulikan ucapan para pemainnya.

Lamat-lamat, aku mengingat samar-samar, tentang dirimu.

Yang menggendong anak kecil menembus luapan banjir Bengawan Solo. Di sekeliling, hanya rendaman air nyaris setinggi pinggang orang dewasa. Daun-daun bambudan batang pisang mengapung. Sesekali kau bertahan pada sisi perahu yang melintas dan orang-orangnya berteriak memanggil siapa saja yang masih terjebak banjir. Sembari berjalan tertahan oleh air, kau bercerita banyak hal. Namun, seperti slow motion, hanya gerakan bibirmu yang terekam dalam kepala anak itu.

Anak itu, hanya mengingat secuil itu. 

Anak itu, mungkin aku.

Akh, kakek yang semoga tersenyum dalam linangan masanya…

Aku mengingatmu, tak semeriah mengingat seseorang di kepalaku. Setiap waktu, nyaris saja orang itu memenuhi rongga memoriku. Meski aku berusaha menepis, dan berjalan melupakannya. Kakek, seandainya aku masih bisa menemuimu, berkunjung ke desa, berbincang denganmu, akan kuceritakan semuanya. Mungkin tak semenarik engkau bertemu nenek, yang entah engkau dijodohkan atau menjodohkan. Tapi, aku hanya butuh tempat berbagi denganmu. Karena kutahu, engkau takkan bercerita pada siapapun jua. Karena kutahu, engkau lebih banyak tidak akan mengerti pembicaraan kita. ^_^.

Kakek, aku mendoakanmu. Selalu. Kelak, secepatnya, aku akan mengunjungi kediaman simbolismu sekarang. Sejatinya, kau sudah berada di dimensi lainnya, bukan? Aku juga merindukan udara-udara ramah pedesaan, yang sejauh mata memandang hanya sawah, dan orang-orangannya yang nampak. Aku juga merindukan dielu-elukan, “Itu anaknya Suwarji,” hmm…meskipun agak was-was juga dengan pertanyaan, “Sudah selesai kuliah, belum?”

Tapi, tunggulah, Kek. Di balik cita-citaku untuk mengunjungi banyak tempat, aku takkan lupa mengunjungi desaku. Salam dan peluk keluarga, hangat, kerinduan. 

Kakek yang berbahagia…

Yang Kuasa, selalu menyertakan doa anak-anakmu padamu. Tak putus-putusnya, seperti untaian makhluk Amuba yang ketika dipotong akan membelah lebih banyak. Seperti kataku tadi, merupa menjadi partikel kosmik tak terjamah yang mengitari sepanjang penungguanmu di dimensi lain sana. Kalau kau butuh sayap, serupa malaikat, ia akan menempel di pundakmu, di punggungmu, dan mengantarknmu ke tempat yang lebih tinggi. 

Partikel cahaya Ilahi itu, merupa lagi ketika cambuk penghukuman akan menyentuh kulit legammu. Berubah bentuk, melingkupimu, membakar habis, menyucikan setiap hempasan yang akan menerpamu, seperti atmosfer yang melindungi bumi dari meteor-meteor kecil.

Ketika kau kesepian, ia akan merupa lagi. Melantunkan syair Al-Quran yang didengungkan untukmu. Di dunia ini, meski suara yang dikirimkan untukmu pas-pasan, namun dimensimu punya cara untuk menyaringnya menjadi kemerduan tiada banding. Kau tak lagi kesepian.

Kakekku yang tak mampu kugapai…

Aku ingin mendoakanmu. Doa itu, semoga dikekalkan Sang Pencipta dalam ejawantah penyadaran benakku, untuk mulai berbuat dan bertanggung jawab terhadap keluarga, seperti engkau dan ayah…


--Imam Rahmanto--



#kepada kakek yang berpulang ketika orang ramai mengelu-elukan Kartini, dan segala Kartononya, 21 April.

Kamis, 24 April 2014

Menyeberang ke Liukang (end)

April 24, 2014
Mesin sampan – bapak pemilik perahu menyebutnya demikian - menderu diantara deburan ombak yang menyertai perjalanan kami. Semburat matahari yang baru sebagian, kami memulai sedikit perjalanan menyeberang laut pagi itu. Masih pukul enam lewat.

Sedang ngobrol dengan Bapak Pemilik Sampan. (Foto: Imam)
Agak takut, saya duduk di tengah sampan. Sampan kecil ini hanya bisa memuat maksimal 5 orang. Terakhir kali naik perahu kecil seperti ini ketika saya duduk di bangku SD. Yang dilalui pun hanya sungai yang lebarnya tak lebih dari 100 meter, memisahkan dua desa di kampung halaman kedua orang tua di Jawa.

Kak Paddo, begitu saya dan teman-teman lain memanggilnya, tak ingin frame kameranya dihalangi, maka saya memilih duduk di tengah sampan, tepat di belakangnya. Sesekali menemani dan bertanya beberapa hal kepada Bapak Pemilik Sampan.

“Saya tidak begitu sering membawa orang-orang kesini. Karena saya niatnya tadi mau kesini untuk memancing, mencari ikan. Tapi tiba-tiba teman tadi menawari untuk mengantarkan pengunjung, jadi saya terima saja sebentar,” akunya.

Kami mencapai Pulau Liukang Loe dalam waktu 20-25 menit.

Masih pagi, orang-orang masih memilih mendekap mimpi di rumahnya. Hasil motretnya saja yang agak terang.
(Foto: Imam)
Sampan hanya berhenti sebentar di depan pantai Liukang yang sangat sepi. Sama di Pantai Bira, pasir putih sepanjang mata memandang. Sayangnya sepi pengunjung. Para penduduk yang mendiami pulau mungkin sudah terlalu bosan memandangi laut. Sementara para pengunjung dari luar Pulau Liukang, khususnya di Pantai Bira sana (seperti kami), hanya sesekali menyempatkan diri bertandang.

“Mau turun, Pak?” tanya Bapak Pemilik Sampan kepada kami.

“Mm…tidak usah deh, Pak. Kita coba cari spot yang menarik saja menurut Bapak. Kalau bisa yang katanya ada karang-karang begitu buat dipotret,” sergah Kak Paddo. Sejak awal, ia memang berniat mencari pemandangan yang menarik, bukan untuk bertamasya.

Bapak pemilik sampan hanya menurunkan kecepatan sampannya seiring deru mesinnya yang kian melemah. Kami lenjut menyusuri laut lewat pinggiran pantai dan tebing. Pelan.

Ujung pulau ada disana. (Foto: Imam)
Ada rumah di tengah laut. Rumah atau restoran ya? (foto: Imam)

“Di pulau ini (Liukang) ada berapa banyak orang yang tinggal?” tanya saya.

“Ada dua dusun yang bermukim disini. Tapi, masih belum semua pulau terjamah. Bahkan di pinggir-pinggir pulau,” tunjuknya ke arah bukit, “biasanya banyak ditemukan ular-ular besar.” Apa yang disampaikannya justru membuat saya bergidik ngeri.

Dari kejauhan, di seberang pulau, saya bisa melihat beberapa boat yang berhenti agak ke tengah laut. Memang, sebenarnya Pulau Liukang Loe merupakan lokasi yang kerap kali dimanfaatkan sebagai titik snorkeling maupun diving. Sebelum menjejakkan kaki di Pantai Bira, ada toko yang memang khusus menyediakan penyewaan alat-alat snorkeling.

Kalau waktu lebih banyak, juga biaya, tentu saya sangat ingin pula menikmati keindahan bawah laut seperti mereka. Sayangnya, saya hanya menemani seorang senior yang ingin memotret. Aji mumpung. Ya sudah, kapan-kapanlah ketika saya punya waktu, laut Indonesia akan saya jelajahi. Eh, pulau-pulaunya juga tak ketinggalan lah. :D

Mungkin, atas alasan “luas” orang-orang senang memandangi laut. Secara umum, orang-orang senang memandangi sesuatu yang lapang. Harapannya, hati pun bisa ikut lapang. Laut. Langit. Cakrawala tak berujung. Galaksi. Hujan tak terhitung. Dan banyak hal yang tak terkira. Dengan begitu, setiap hati yang terluka dan kecewa bisa menuangkan beban dan keburukan pada beragam hal yang maha luas itu.

Di ujung pulau, ternyata kami tak menemukan spot menarik yang kami inginkan. Bapak Pemilik Perahu membawa kami ke ujung satunya lagi. Berbalik arah.

“Disini, kalau lagi surut, bagus pemandangannya. Gua-gua kecil itu malah bisa dimasuki,” tuturnya lagi sambil menunjukkan lubang yang dipenuhi air di bawah tebing pulau.

Memang, bahkan dari sampan pun, kami bisa melihat laut lepas yang berwarna-warni. Hijau, biru, bening, bercampur baur dan terkadang memisahkan diri di titik tertentu di tengah laut.

Beningnya mendamaikan..... (Foto: Imam)
Ah, kami tak menemukan apa yang kami cari. Kami hanya disuguhi pemandangan beningnya air laut yang ada di dasar sampan. Tempat ini memang layak untuk dijelajahi alam bawah lautnya.

Ternyata bapak pemilik sampan merupakan petualang yang tangguh. Sebagai orang Selayar, ia  bercerita telah mengelilingi setengah dari Indonesia. dari Makassar, Kupang, NTT, Bali, hingga Australia. Ia mengelilinginya dengan berbekal perahu untuk menangkap ikan. Pedoman dalam menentukan arah perjalanannya hanyalah kompas, peta, dan laut.

Saya jadi iri mendengar ia, yang hanya orang biasa, mampu melakukan perjalanan menjelajah lautan Indonesia seperti itu. Seandainya bapak itu bisa menuangkannya dalam tulisan, mungkin sudah banyak pelajaran yang bisa didapat dari sana ya?

“Kalaupun kita kesasar, ya kita tentukan lagi arah tujuan kita yang benar,” ceritanya sambil menyibukkan diri mengisi bahan bakar sampannya di pinggiran tebing pulau.

Tapi, tetap saja, kami lagi tak menemukan pemandangan menarik (bagi Kak Paddo). Ternyata spot yang dimaksudkan kawannya bukan di pulau itu, melainkan di sebelah Pantai Bira yang dijuluki Bara. Kata penduduk sekitar, tempat itu memang memiliki panorama yang menarik. Namun, jalan kesana rusak, dan sulit dilalui kendaraan.

“Pulau Betan lebih bagus malah. Tapi, jauh dan ombaknya agak tinggi,” ujar pemilik perahu lainnya. Hm…bisalah menjadi referensi penjelajahan kami berikutnya.

Relax di tengah laut. (Foto: Imam)
Buat saya, menyeberangi laut saja sudah membuat jiwa petualangan saya memuncak. Sampan kecil itu terombang-ambing oleh ombak yang nyaris serata permukaan perahu. Meski tak pandai berenang, saya memilih duduk di buritan sampan. Sepanjang perjalanan terpukau melihat ombak-ombak yang menggulung menghempas sisi perahu. Sesekali berteriak untuk mencairkan suasana.

Saya semakin senang mengunjungi tempat-tempat baru. Bertemu orang-orang baru. Belajar banyak hal baru. Kelak, berharap bisa mewujudkan keinginan untuk menjelajahi banyak tempat dan bisa menceritakannya lebih keren dibandingkan sekarang. (*)


--Imam Rahmanto-- 

Minggu, 20 April 2014

Menyeberang ke Liukang (part 1)

April 20, 2014
Menjelajahlah, karena dunia tak sebatas cerita daun kelor saja.

Lagi, saya menapakkan kaki di Pantai Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba. Saya mendapatkan kesempatan untuk liburan bersama teman-teman redaksi lembaga pers saya, LPPM Profesi. Sedikit menghilangkan penat dari rutinitas-rutinitas yang memompa otak.

Kata teman, ini sebagai acara pembubaran panitia kegiatan yang telah kami selesaikan nyaris sebulan kemarin. Saya yang sebetulnya sudah merencanakan ingin coming home, selepas terbitnya tabloid kami, mengecek kondisi orang tua saya di rumah, harus menundanya untuk sementara waktu.

“Ayolah. Untuk kali ini saja. Minggu depan kau boleh pulang. Tapi untuk ini, kau harus ikut,” paksa teman saya.

Oke. Saya berpikir.

Pulang, tidak, pulang, tidak, pulang, tidak….

Oke. Saya ikut.

Sekali waktu, saya harus memandang luasnya lautan, yang mampu menampung apa saja. Yah, apa saja.

Bukan kali pertama bagi saya menjejakkan kaki di Pantai pasir putih ini. Pantai yang terkenal se-nusantara karena pasirnya yang putih dan halus ini menjadi salah satu destinasi paling menarik bagi wisatawan domestik maupun luar negeri. Sepanjang penginapan disini (cottage ataupun villa), kita bisa menemukan bule berlalu lalang sambil menenteng kamera. Tak berbeda dengan setahun yang lalu ketika saya mengunjunginya pula.

Kalau diingat-ingat, ini adalah yang ketiga kalinya saya ke Tanjung Bira. Sebenarnya tidak ada salahnya menyegarkan mata dengan pemandangan lautnya yang biru kehijau-hijauan. Apalagi melepas penat dari rutinitas redaksi yang sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Sekadar berlari-larian, membuat istana pasir, berenang dan tenggelam, jalan di dalam air, cukup untuk menggantikan beberapa alinea keburukan di kepala saya. Hanya saja, atas nama pengalaman, saya lebih penasaran dengan tempat-tempat menarik yang sama sekali belum pernah saya jejaki. Saya ingin mengabadikannya!

Tuhan bekerja dari cara kita melafalkan doa kepada-Nya, bukan seberapa sering kita melafalkannya. Dan saya semakin percaya bahwa rezeki itu datangnya selalu pagi hari.

Masih pagi benar ketika teman-teman sudah terlelap lantaran menghabiskan waktu semalaman untuk training tentang jurnalistik. Kedatangan kami di penginapan, malam hari, langsung disambut dengan menggelar “klinik” jurnalistik. Sedikit sesi pelatihan tersebut memang dikhususkan bagi magang maupun pengelola yang hadir dalam iming-iming acara pembubaran. Selain untuk mengakrabkan diri diantara pengelola, hal tersebut demi mempersiapkan kaderisasi di kepengelolaan berikutnya. Saya, sendiri, memilih untuk terlelap beberapa jam menjelang acara tersebut selesai.

Hanya ada beberapa teman lainnya, yang merupakan senior (sebagiannya #Ben10) di lembaga pers kami, sudah terjaga di pagi itu. Sembari membersihkan muka dan menunaikan kewajiban Muslim, saya mengikutkan diri dalam rombongan mereka (hanya 6 orang sih) yang bergegas ke arah pantai menyambut pagi. Saya butuh pemandangan yang menenteramkan.

“Eh, Dhin, sebentar kau tidak usah ikut menceburkan diri ke laut ya?” tutur salah seorang Kanda senior saya.

“Kenapa memang, Kak?” tanya teman saya itu penasaran.

“Kasihan nanti air lautnya, langsung berubah warna kalau kau nyebur juga,” candanya yang kemudian disambut gelak tawa kami di pagi itu. Hahaha…teman saya itu hanya bisa bermuka manyun mendengar guyonan itu.

“Mau jalan-jalan ke pulau seberang?” tanya salah seorang penduduk di Tanjung Bira ketika kami tiba di pinggir pantai.

Ia, hanya salah satu dari puluhan penduduk lainnya yang menawarkan jasa perahu untuk sampai di pulau seberang. Orang-orang disana menyebutnya Pulau Liukang Loe. Dari Pantai Tanjung Bira, lekukan perbukitan maupun bayangan pulaunya sudah nampak jelas terlihat. Tentu saja, pulau yang berdiam sendirian di tengah laut itu cukup membuat penasaran bagi setiap orang yang pertama kalinya berkunjung ke Tanjung Bira. Termasuk saya yang hanya bisa memandangnya lepas. Akh, saya harus berhemat untuk alasan lain.

“Berapa, Daeng, kalau kesana?” salah seorang dari kami balik bertanya pada tawarannya itu.

“Cuma 300 ribu untuk 10 orang,” jawabnya cekatan. Kalau dihitung-hitung, kita membayar 30 ribu per orangnya. Namun, total penumpang yang diangkut harus mencapai 10 orang dulu, baru sang pemilik perahu mau mengantarkan siapa saja ke pulau itu. Sekali lagi, saya mesti berhemat. 

Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tarif yang dipatok untuk fasilitas Banana Boat disepanjang pantai itu. Kalau untuk “pisang” berkecepatan tinggi itu, para penjaja jasa memasang tariff 20 ribu per orangnya, untuk beberapa kali putaran di lepas pantai.

“Oke, Daeng. Kalau untuk dua orang berapa? Apa tidak bisa ya?” salah seorang kakak senior saya mengobrol lebih lanjut.

Saya hanya menemaninya, sembari memandang sepanjang pantai yang sudah dinikmati banyak orang. Anak kecil yang berlari-lari sendirian.Ada yang dikejar-kejar ibunya. Anak kecil yang membangun istana pasirnya. Mm…saya melihatnya hanya sebatas gundukan pasir berbentuk tabung? Pasangan muda-mudi yang berjalan beriringan, tentu, membicarakan banyak hal menarik diantara mereka. Pasangan suami-istri (yang mungkin) sedang menikmati masa honey moon-nya. Beberapa orang yang juga menenteng kamera sambil menyorotkannya ke berbeagai arah. Tak ketinggalan, para selfier dengan tongkat narsisnya masing-masing. Ramai. Termasuk dengan beberapa orang yang menawarkan tumpangan perahu maupun boat-nya.

“Bisa dengan 100 ribu untuk dua orang. Tapi tidak dengan perahu saya. Disana ada sampan kecil. Mungkin bisa dengannya saja, Pak,” lamat-lamat saya kembali ke arah perbincangan dua orang di samping saya. Hahaha…ada panggilan “Pak” yang menyemat di belakangnya. Saya sendiri merasa risih ketika dipanggil dengan julukan seperti itu oleh orang yang tak dikenal. -_-

Harga itu sebenarnya tergolong mahal untuk kami yang ingin ke pulau seberang. Akan tetapi, atas nama kegemarannya pada fotografi, kakak senior saya itu bela-belain membayar mahal untuk menemukan spot menarik yang bisa ditangkap lensa kameranya. Di ujung sana, di Pulau Liukang Loe.

Bapak pemilik perahu itu kemudian mengantarkan kami kepada salah seorang temannya. Seperti yang dikatakannya, temannya itu punya sampan yang bisa dipakai ke pulau seberang. Bapak muda berambut gondrong itu mengiyakan tawaran temannya dan mengajak kami untuk “lepas landas”.

“Mau ikut?” tanyanya kepada saya. Wah, tentu saja saya mau ikut!

Kami tinggal berdua karena teman-teman lainnya, 4 orang perempuan (Dhiny, Jane, Ana, Kak Parni) + 1 orang laki-laki (Alam), sudah melenggang untuk berfoto-foto ria di pinggiran arus laut itu. Mereka lebih tertarik untuk menghabiskan memory kamera dengan wajah-wajah ceria mereka. Selain karena kakak senior saya cuma menawari kursi kosong untuk kami. Hehehe…

Untuk sesaat, saya merasa di atas angin menemukan destinasi yang belum pernah saya kunjungi. Great!

Oke, we ready to go! :D (Foto: Imam)


--Imam Rahmanto--

Senin, 14 April 2014

Ada Kertas Dimana-mana

April 14, 2014
Ini tabloid kami! Edisi 178. (Foto: Imam)
Lega juga rasanya ketika tanggung jawab bisa ditunaikan, meskipun hanya untuk sementara. Masih ada banyak tanggungan lagi yang mesti diselesaikan; termasuk 3 tabloid dalam rentang 2 bulan masa akhir jabatan disini, lembaga pers yang menggembleng saya. 

Kata orang, perwajahan untuk sampul tabloid kami hari ini keren. Saya akui, memang keren. Terima kasih buat Kasdar yang bertahan menerima omelan saya. :) Meski sederhana dan tak muluk-muluk, ada something different yang saya lihat melalui sampul yang digarapnya dalam beberapa jam.

“Coba dicek, Kak. Apakah sudah begitu?” kirimnya bersamaan dengan attachment berupa file sampul .pdf via facebook-nya.

Ia mengirimkannya di saat saya sedang menjalani rapat bersama beberapa teman pimpinan lain, karena memang tak sempat mengawasinya hingga isi tabloid benar-benar rampung. Beberapa jam menjelang “naik cetak”, teman-teman memanggil saya untuk mengikuti rapat. Olehnya itu, tersisa sampul, semalam, saya mempercayakan padanya.

Ada kalanya kita harus belajar mempercayai orang lain, tanpa banyak memperhitungkan hal yang muluk-muluk. Sesederhana berpikir. Berpikir sederhana saja.

“Keren!” sesaat setelah saya memperlihatkannya kepada teman-teman lainnya. Gambar yang dipasangkannya sebagai sampul memang tepat mewakili judul yang diusulkan oleh ktua umum kami. Diam atau Bungkam? Yah, meskipun saya mendapat beberapa kasak-kusuk hari ini yang mempertanyakan perbedaan kedua kata itu. Namun bagi saya, ada perbedaan “makna” dalam kedua kata itu.

Terlepas dari itu, banyak lah komentar yang menilai sampul kami mulai agak “dewasa”. Hm…

Oke.

Biasa aja.

Tidak banyak yang berbeda.

Yess! Akhirnya dibilang keren.

Horee!

Cukup. ehem..

Seperti itulah hasil pekerjaan di atas kertas. Kertas.

Eh, itu nama kucing di redaksi kami. Iya, Kertas. Selepas rapat triwulan III (pertanggungjawaban) seminggu lalu, seekor kucing hadir di tengah-tengah kami. Pagi-pagi sekali ketika saya melihatnya menggeliat diantara teman-teman yang sedang tertidur pulas. Saya sempat mengabaikannya karena mengira ia hanya kucing biasa seperti kucing-kucing lainnya yang kerap mondar-mandir-keluar-masuk redaksi saban hari.

Berwarna putih polos. Hanya ujung ekornya yang berbelang hitam. Masih kecil. Lucu. Lugu.

Nah, itu dia kucingnya sedang dimandikan dengan "semena-mena". (Foto: Imam)
Beberapa jam berikutnya tibalah pada acara memandikan kucing itu. Saking antusiasnya mereka menemukan keluarga baru (yang telah lama terpisah). Teman-teman saya yang “sayang binatang” memandikannya dengan penuh cinta. Mereka memandikannya pakai Rinso cair! Gara-gara itu, seorang teman nun jauh di kota lain berkomentar.

“Kata temenku yang suka kucing, kucing sekecil itu belum boleh dimandikan. Katanya bisa kena flu kucing,lalu mati,” Aduh. Mana kita tahu.

Kertas sedang bermain-main kertas. Ehm, itu kertas pembung-
kus tabloid yang tiba pagi ini. (Foto: Imam)
Beruntung, sampai detik ini, kucing itu baik-baik saja. Malah, gara-gara dimandikan begitu, Kertas jadi lebih akrab dengan crew redaksi. Mungkin sudah terjalin semacam “chemistry” gitu. Hahaha….

Oh ya, tentang nama itu, saya menamainya “sewenang-wenang”.

“Itu namanya Kertas,” ujar saya pada setiap orang yang menanyakan namanya.

Sambil mengerutkan kening, seorang lainnya berkata, “Bukan. Namanya Putih. Kemarin sudah dibaptis.” Seorang teman perempuan tak mau kalah dalam urusan memberikan nama.

“Pokoknya namanya Kertas. Daripada saya kasih nama Laput atau Lapsus atau Wansus,” saya memaksakan. Asal tahu saja, istilah yang saya sebutkan itu merupakan nama-nama rubrik yang ada dalam tabloid terbitan kami. Saking beratnya kepala jelang deadline, saya memilih kata-kata yang ada kaitannya dengan tabloid ataupun redaksi. Ya sudah, namanya ya Kertas. Titik.

“Sudah, sudah. Kalian boleh menamakan apa saja sesuka kalian. Yang penting saya dikasih makan. Disayang-sayang, tidur bareng,” begitu kata Kertas dengan ketusnya.

Hari ini, saya baru tahu kalau Kertas berjenis kelamin perempuan. Agak kesal juga sewaktu seorang teman lelaki nyeletuk menamainya dengan nama seseorang yang sering diledekkannya. Kapan-kapan saya harus menceburkan kepalanya ke laut. -_-“

Kertas.

***

Di atas kertas, hari ini juga anak-anak sezaman berjuang. Beberapa langkah lagi, mereka akan melepas masa-masa sekolah menengah mereka. Label remaja yang disandangnya akan terlepas seiring dengan perjalanan waktu yang mereka ciptakan sendiri. Lewat ujian nasional hari ini, lewat bulatan-bulatan di kertas jawabannya, nasib mereka beberapa tahun ke depan ditentukan. Lulus atau tidak lulus.

Yah, dari tahun saya sekolah dulu, ujian nasional memang selalu menjadi momok bagi setiap siswa tingkat akhir. Menjelang UN, mendadak banyak teman-teman saya yang menjadi “religius”. Saban hari mereka berdoa. Saban sepertiga malam mereka memanjatkan doa selepas tahajjud. Pun, dikirimi sms-sms mitos yang berkaitan dengan kelulusan, mereka bakal “patuh” untuk mengiriminya ke banyak orang.

Pernah mendapati, bukan? Sms yang ujung-ujungnya berbunyi “kirimkan sms ini ke sepuluh (atau seratus) temanmu yang lainnya. Kalau tidak, kamu tidak akan lulus ujian nasional.” Di zaman modern seperti ini, masih banyak saja teman-teman saya yang mempercayainya dan bergegas mengirimkannya. Dan di zaman semakin modern, modusnya juga berubah. Kini memanfaatkan broadcast BBM, yang kini banyak dimiliki anak-anak gaul zaman sekarang.

Entah seperti apa pikiran pemerintah pusat yang masih mempertahankan UN untuk penentu kelulusan jenjang akhir. Padahal, bukan menjadi rahasia lagi kalau UN dijalani dengan banyak kecurangan. Setiap orang berpura-pura menutup mata. Diam atau Bungkam.

Semasa sekolah dulu, saya kerap kali dijadikan “ujung tombak” ujian. Kami belajar bagaimana caranya “menyontek” yang baik dan benar. Karena saya orangnya “sombong” perihal menyontek, maka jadilah saya yang dicontek. Buat saya, hal tersebut tidak masalah, selama bukan saya yang menyontek pekerjaan orang lain. Serius. Bahkan jawaban yang disediakan oleh guru-guru saya di waktu itu, sebagai “kebutuhan primer”,  hanya saya serahkan kepada teman-teman lainnya. Saya memilih mengerjakan ujian saya sendiri. Ckck…sombong.

Dari UN, kami belajar banyak trik menyontek. Di SD, bagaimana cara saya berpura-pura sakit perut agar bisa memberikan jawaban kepada teman di kelas lainnya di WC. Bagaimana cara memilih mistar yang baik sebagai media contekan untuk teman-teman lainnya. Mistar yang baik adalah mistar yang tidak transparan, sehingga bisa ditempelkan kertas kosong sebagai media coretan jawabannya. Di SMP, bagaimana cara memanfaatkan bagian-bagian tubuh sebagai opsi jawaban pada lembar UN. Bagaimana cara berpura-pura menjatuhkan pulpen sembari mengambil jawaban yang dilemparkan ke bawah meja. Di SMA, bagaimana cara memanfaatkan handphone yang masih barang langka kala itu.

“Kamu besok bawa handphone ya?” tanya seorang teman menjelang ujian di sekolah dulu.

“Ah, malas ah. Selama ujian, saya ndak mau bawa,” saya menolak ajakan teman untuk berbuat curang dengan alat komunikasi itu. Bukan karena saya ingin “jujur”, melainkan handphone yang saya miliki kala itu adalah handphone yang “berat”, yang hanya bisa dibawa-bawa di dalam tas. Dikantongi, justru membuat celana menggelembung saking besarnya. Hahaha…

Menyandang label “siswa”, sudah lama tak lagi saya rasakan. Saya tak tahu lagi bagaimana euforia deg-degan menjelang dimulainya, hingga deg-degan lagi menjelang pengumuman kelulusannya. Di akhirnya pun, ada tangis air mata, haru atau kesedihan yang menyertai tiap penghujung pengumumannya. Ada doa yang senantiasa mengiringinya. Yah, kita nantikan saja pengumuman kelulusan ujian hari ini.

Siapapun seharusnya menyadari, kita hanya sampai pada usaha semaksimal mungkin, dan biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya.

Selamat menempuh Ujian Nasional, teman!


--Imam Rahmanto-- 

Sabtu, 12 April 2014

11# Refleksi

April 12, 2014
Refleksi. Kita bercermin. Melihat ke dalam. Berbicara dengan bayangan. Kita tahu.

Refleksi. Deja vu. Kita melihat ada kita pada orang lain. 

Ada banyak refleksi di dunia ini. Nyata. Secara umum, disebutkan ajang evaluasi diri. Melihat hal-hal yang kita anggap pantas untuk diperbaiki dan diperbaharui. Refleksi, yang secara luas kita maksudkan untuk menilai.

Saya ingin mempersempit kondensasi itu. Refleksi. Bercermin. Melihat hal yang serupa. Nyatanya bukan.

Saya menyebutnya, semi déjà vu. Déjà vu, sesuatu terjadi, seolah-olah kita sendiri pernah mengalaminya, baik dalam mimpi maupun di kenyataan. Kita dibawa memasuki fase time warp.

Lorong waktu. Past reflection.

(Sumber: devianart.com)
Tentang kita yang menemukan orang lain adalah diri kita. Dia yang merupakan cerminan diri kita di masa lalu ataupun masa sekarang. Mirip. Tentang kita yang mendapati diri sedang bercermin pada masa silam.

Kalian percaya? Saya percaya, di suatu waktu dan di suatu tempat tempat di belahan muka bumi ini, ada seseorang yang merupakan “refleksi” diri kita seutuhnya.

“Tapi, cermin kan membalikkan semuanya? Kanan jadi kiri. Kiri jadi kanan. Apakah tidak mungkin sifat kita juga berbalik pada refleksi itu?”

Baik. Saya hanya mengambil sisi esensi saja pada konsep “pencerminan” itu. Secara utuh, ia tetap ia. Saya tetap saya. Mereka tetap mereka. Karena sejatinya, memang manusia diciptakan unik oleh Tuhan. Kembaran sekalipun, punya sisi yang berbeda dalam proses kehidupannya. Refleksi.

Setiap generasi punya refleksinya masing-masing. Mungkin, atas dasar itu pulalah muncul konsep reinkarnasi. Saya senang mencontoh-contoh past reflection itu. Sama halnya ketika saya mencocokkan teman-teman (junior) kuliah dengan teman-teman sekelas saya dulu. Yah, teman-teman sekelas saya dulu sudah banyak yang meninggalkan kampus, dan tak kembali lagi. Sebagiannya mungkin melanjutkan S2. Saya menemukan beberapa teman-teman “baru” saya itu adalah penjelmaan past reflection dari teman-teman saya terdahulu. Segi penampilan maupun tingkah laku.

Bahkan melihat seorang anak kecil atau remaja, dengan tingkah lakunya sekilas sudah membawa saya mencocok-cocokkan kemiripan tingkah lakunya dengan saya (yang remaja). Terkadang saya menganggap dirnya adalah diri saya di masa generasinya.

“Ia mirip denganmu,” kata seorang teman suatu ketika tak lama ini ia melihat orang yang dianggapnya sama dengan saya. Saya hanya menampiknya, berusaha mengelak. Apanya yang mirip? Saya ini orangnya hiperaktif. Dan dia, agak pemalu dan pendiam, nampaknya. Dia cukup cakep, saya tak cukup cakep.

“Dia kayak kau,” seseorang lainnya lagi menimpali di waktu berbeda. Saya menemukannya lagi.

Semakin ke arah sini, perlahan saya menyadari sesuatu. Ada yang berbeda dari seseorang yang mereka tunjukkan itu. Namun, saya mengakui, memang ada yang sama.

Yah, beberapa minggu belakangan pun, saya baru menyadari menemukan past reflection saya. Seorang teman, atau mungkin adik, yang juga aktif di lembaga pers yang sama. Ia belum menggenapkan dirinya setahun menggeluti dunia pers kampus kami.

Saya menemukan banyak diri saya di dalamnya. Tentang ia yang juga berasal dari jurusan yang sama dengan saya. Tentang ia yang menggenapi setiap perasaannya dengan menulis. Tentang ia yang suka membaca buku. Tentang ia yang ternyata aktif pula di Laboratorium komputer jurusan saya. Tentang ia yang suka menyendiri, hingga berjalan menyusuri lengang lamunannya di keramaian kota. Tentang ia yang menyukai pula dalam diam. Akh, seandainya ia tahu sejatinya urusan perasaan tidak hanya persoalan memendam saja.

Bukan kebetulan semata jika ia akhirnya bertemu saya di lembaga pers kini. Bukan kebetulan semata ketika  ia akhirnya lebih nyaman dengan “keluarga”nya disini. Menemukan sesuatu yang dianggapnya lebih tepat urusan cocok dan kebebasan. Urusan laboratorium dan isinya? Ia nampaknya menjadi “buronan” juga disana, mengingatkan masa-masa saya pula disana.

Beberapa hal itu, nampaknya menjelaskan tentang mengapa saya begitu dekat dengannya. Saya begitu suka menimpalinya. Ada beberapa hal di masa silam yang ingin saya perbaiki. lewatnya. Jikalau ia memang past reflection dari saya, maka saya ingin ia melalui kehidupannya dengan baik, lebih baik ketimbang saya. Memperbaiki sesuatu yang telah saya rusak di masa perjalanan saya.

Tapi percayalah. Seburuk apapun perjalanan hidup saya, saya memilih untuk tetap menjadi seperti ini. Tuhan sudah merencanakan segala hal yang saya butuhkan.  

Beberapa hari yang lalu pun, seorang yang saya kenal, belum genap setahun pula, mengungkapkan tentang dirinya yang mendapati teman saya sebagai orang yang “mirip” dengannya. Past reflection-nya.

“Seolah-olah ia bisa menembus kepala saya, dan memahami isinya,” tuturnya antusias. Yah, mereka memang mirip satu sama lain. Mereka perempuan, dan ada yang tak bisa dimengerti oleh laki-laki. 

Bagi (teori) saya, setiap orang di dunia ini punya past reflection-nya. Semacam reinkarnasi hidup. Ketika kita menemukannya, kita bisa memutuskan untuk menuntunnya sebagai bentuk kepedulian. Atau hanya memandanginya, seolah menyaksikan film tentang diri kita yang diadaptasi ke layar kaca.

Baiklah. Siapapun, selamat menemukan diri kita di dimensi past reflection. Déjà vu. Karena manusia senang dengan mencocok-cocokkan.

***

Pagi yang cukup terang. Hujan beberapa hari kemarin, seperti membawa kota ini pada musim hujannya kembali. Sementara kita bingung, ini musim penghujan atau musim kemarau. Jawaban alternatifnya, pancaroba. Langit sedang ababil.

Pikiran saya pun terkadang tak luput dari ababilisme-nya. Kadang-kadang menyeruak emosi yang ingin meluluhlantakkan setiap orang yang tidak menjalankan instruksi dengan. Kadang-kadang melunak kepada siapa saja. Saya berpikir, bagaimana pula ketika seandainya saya bisa bertransformasi seperti Hulk ketika pikiran saya sedang kalut. 

Rutinitas yang padat membawa kepala saya sempoyongan untuk beberapa saat. Banyak yang ingin saya penuhi beberapa hari terakhir, namun terkendala pada “tahanan” kepala saya. Bahkan untuk seminggu belakangan, saya tidak pulang-pulang ke rumah kost saya. Saya jadi khawatir dengan pakaian yang menumpuk di baskom. 

Sedikit lagi. Sedikit lagi saya harus menyelesaikan perkerjaan ini. Usainya, saya ingin sejenak bersantai, berelaksasi barang sehari, atau mengunjungi ayah dan ibu nun jauh disana. Pemilu kemarin saya tak pulang untuk memilih, meskipun nama saya tertera disana sebagai seorang pemilih.

Mendadak, saya begitu iri membayangkan sebuah keluarga atau dua sejoli yang hidup harmonis. Mereka saling melengkapi dan menyemangati. Di kala salah seorang kelelahan, satu lainnya lagi menenangkan meski sekadar melempar senyuman sembari berujar, “Semua akan baik-baik saja, Sayang.” 

Hm…betapa mendamaikan senyum itu...


--Imam Rahmanto--

Rabu, 09 April 2014

Titik Nol

April 09, 2014
“Ini bukan tentang menghapus apa yang pernah kita lalui. Ini tentang membuat kenangan baru. Yang membahagiakan, yang menyedihkan, yang manapun itu, asal bersama orang yang tepat. Bagi kami, perempuan, bagi sayalah setidaknya, tidak menjadi yang pertama pun tak mengapa. Asal, kamu punya cukup kekuatan untuk sampai di akhir”

Potongan itu, dituliskan seorang teman di blognya dan selanjutnya ditautkan pada saya. Akh, dia selalu tahu apa yang sedang berlaku pada saya. Bahkan untuk beberapa hari belakangan ini.

Saya sejatinya membenarkan apa yang dituliskannya. Dari sudut pandangnya sebagai seorang perempuan, saya melihatnya punya kesamaan dengan seseorang yang selalu tertanam di kepala saya. Sama-sama memiliki masa lalu. Meskipun, teman saya itu telah jauh kehilangan masa lalunya dan tak mungkin dikembalikan lagi, kecuali dalam bunga tidurnya sendiri. Wajar jikalau ia merasa perlu menyampaikan apa yang dirasakannya.

Mengenai orang yang dicintainya itu, saya baru mengetahuinya beberapa minggu lalu, hasil dari obrol-obrol ringan bersama sahabatnya, dan teman-teman “kepo” saya lainnya. Pantas, raut mata teman saya itu jika diselami tidak jauh berbeda dengan seseorang yang baru saya kenal nyaris setahun belakangan ini.

Sejujurnya, saya tak pernah berharap mampu menghapuskan ingatan-ingatan seseorang dari kepalanya. Saya bukan seorang paranormal atau seorang pakar hipnotis yang bisa sesukanya memasuki alam bawah sadar mereka. Saya juga bukan seorang penjahat yang kerap kali memaksakan keinginannya. Seusil-usilnya, saya tidak pernah ingin berlaku jahat. Hanya saja, nampaknya saya tak cukup kuat untuk menerima kenyataan bahwa tak mampu berdamai dengan sisi diri saya yang lainya. Sisi lelaki yang ingin memiliki perempuannya, seutuhnya. Apalagi, kali pertama saya dibuat selalu memutar ulang rekaman disc tentang seseorang di kepala saya.

Ah, sudahlah.

"Biar sepeda berjalan, kita harus terus mengayuhnya agar seimbang. Rodanya pasti berputar."

Gara-gara mendalami kisah saya, seorang teman lainnya lagi nampaknya akan terjangkiti "virus" serupa, katanya.

"Kak Imam menulari anak-anak," tukas seorang teman perempuan tadi.

Hah? Maksudnya? Lha, ini kok kayak saya lagi diomeli ya? 

Kalau soal go-blog bareng, beberapa hari terakhir memang saya sedang menularkannya kepada crew-crew redaksi. Perlahan, saya senang melihat teman-teman satu sama lain mulai bersaing memperlihatkan "rumah"nya di dunia maya. Satu-dua orang mengajak memperbarui tampilan "rumah"nya. Satu-dua orang meminta ngerecokin di sela-sela begadangnya. Akhirnya, mereka tak jadi gelandangan lagi di dunia yang penuh keluh kesah ini. Selamat.

"Coba lihat gelagatnya. Kayaknya ia tak mau lagi menunggu "imajiner"nya deh. Kayaknya dia bakal galau juga," ujar teman saya di lain kesempatan menerangkan maksud "omelan"nya pada saya.

Lha, memang dari awal dia sudah galau, kan? -_-"

Sudahlah. Biarkan saja kehidupan membimbingnya. Sebaik-baiknya manusia belajar adalah dari pengalamannya.

Saya sebenarnya ingin memulai sesuatu yang baru. Menumpuk kenangan baru. Perihal sesuatu yang lama, memang menyebalkan. Namun, kata orang-orang nun jauh di desa, segala sesuatu yang berlaku instan tidaklah baik. Dan di kota nyaris segalanya berlaku instan. 

Mengisi gelas dengan Cappuccino yang nikmat pun butuh waktu. Tak instan. Oh ya, saya menemukan tempat baru menikmati minuman campuran sepertiga espresso itu. Selain murah, minuman itu benar-benar murni disajikan ala cafe, ala barista. Beberapa hari belakangan, saya dan beberapa orang teman lainnya sering menghabiskan waktu disana. Hm, tempat yang damai sekaligus menenangkan.

Nah, ketika saya memutuskan untuk memulai kembali, baru. Saya akan membayangkan lagi dilemparkan ke titik nol. Time warp. Anggap saja dia tak pernah tahu tentang saya yang menyukainya. Anggap saja wajar ia tak menghiraukan setiap usaha diam-diam saya padanya. Anggap saja ia memang tak pernah mengharapkan kehadiran saya. Toh, seorang lelaki, pada awal memperjuangkan perempuannya, ia selalu bertaruh tentang hati perempuannya, bukan? Apakah ia menyukai saya atau tidak? Apakah saya cuma ge-er saja? Pikiran-pikiran itu yang akan menghantui kepala setiap lelaki. Hingga akhirnya ia akan melihat hasilnya sendiri. Menuai atas pertaruhan yang dengan berani dilakukan.

Toh, kamu sudah sepantasnya berusaha. Tapi tak sepatutnya memaksa-Ku mengabulkan. Aku yang menentukan hasilnya, baik ataukah buruk untukmu,” kata Tuhan.

***

Padahal saya telah merencanakan banyak hal selepas Pleno kemarin, tiga hari yang lalu. Saya berpikir, adalah baik ketika ternyata Dewan Redaksi memutuskan rolling bagi jabatan saya yang seharusnya dianggap krusial. Memahami kinerja saya, beberapa orang tentunya melihat ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Apalagi beberapa teman lainnya nampaknya paham dan menyadari tentang pikiran-pikiran yang sedang banyak menggelayut di benak saya semenjak mengemban jabatan itu. Mengingat alasan mereka pernah membenamkan saya kembali dalam kesibukan-kesibukan seperti ini demi memperbaiki sistem yang pernah rusak.

Akan tetapi, di luar dugaan saya, pertanggungjawaban itu justru berlangsung "baik-baik" saja. Harapan saya justru menguap sia-sia. Malah, "baik-baik" itu yang membuat saya banyak menduga-duga tentang kemungkinan yang tidak pernah saya harapkan di kemudian hari. Ck...


--Imam Rahmanto--



Ps: Saya menuliskan ini pun di tengah-tengah "mencuri waktu" karena sesak di kepala yang butuh dituliskan. Menulis untuk memahami.



Sabtu, 05 April 2014

10# Mepet

April 05, 2014
Beberapa hal nampaknya terlewat dari jauh, dari sini. Ingatan saya mendadak menyeruak tatkala melihat video yangdibagikan di jejaring sosial. Lucu. Keren.

Oiya, apa kabar?

Ketika saya memikirkan seseorang, entah kenapa tiba-tiba saya teringat kalian. Wajah-wajah menyebalkan kalian, yang justru membuat saya betah berlama-lama. Beruntung, lewat video yang kalian bagikan, saya jadi bisa menikmati wajah kalian meskipun tidak secara langsung. Kapan-kapan kalian semua harus muncul satu per satu di dalam video. Biar saya bisa menikmati setiap jengkal raut kekonyolan kalian. :P

Akan tetapi, bukan kontennya yang menurut saya keren ya. Melainkan keberanian kalian mengekspresikan diri di depan kamera dan melakukan hal-hal konyol di luar kebiasaan kalian. Seandainya saya punya jempol di seluruh tangan, boleh lah saya bagikan untuk kalian, kelas Aljabar! Hahaha…. *saya menunggu juga dari kelas Einstein nih....


Karena kalian selalu ingin terkenal, maka saya menautkan video kalian di “rumah” saya.

Serius. Saya yang menyaksikan video ini sambil tertawa-tawa sendirian. Seorang teman di belakang saya sempat berhenti sebentar sekadar menngok apa yang membuat saya tertawa. Mungkin dia agak heran, sebenarnya apa yang membuat saya lewat video yang menurutnya tak berkualitas tinggi itu. Padahal, teman saya tak tahu bahwa kalian telah membentuk puzzle dalam kehidupan saya. Wajar saja jika saya tersenyum-senyum hingga tertawa-tawa sendiri melihat tingkah konyol kalian yang kentara "banget" dibuat-buat.

Satu kelebihan buat kalian, efek video dan pengeditan yang dikerjakan dalam video ini cukup baik. Siapa yang mengerjakannya? Apalagi pembukaan videonya. Kerennn.

Agak lucu saja melihat keempat teman lelaki di kelas kalian harus "dijajah" untuk berlakon sedemikian rupa. Nampaknya, karena jumlah mereka yang minoritas menjadikan mereka tidak berkutik dan angkat tangan menghadapi kaum Hawa di kelas Aljabar. Hahaha... saya masih ingat bagaimana berkuasanya kaum perempuan di kelas kalian. Bahkan suara lengkingan perempuan disana bisa berlipat-lipat kenaikan nadanya dibanding suara Baso. Ckck...

"Iya, Kak. Kami merasa tidak kuat di kelas itu. Kami hampir setiap hari kayak disiksa sama perempuan-perempuannya," curhat salah seorang teman lelaki kalian suatu waktu di jejaring sosial. Hm...ini gejala "suami-suami takut istri" nih.

Lihat saja, wajah Maman sampai dipermak seperti perempuan. Penampilannya nyaris membuat perut saya agak mulas. Ditambah dengan gaya-gaya sok jagoannya Baso dan Fadel. Ckck…semakin membuat saya harus menahan tawa saya malam-malam. Ada juga si Anca yang tiba-tiba jadi detektif "aspal". Hahaha...

Pegang-pegang tangan Fadel dengan Maman agak bikin saya merinding loh. Ckckck...

Kalian tahu film Frozen? Saya baru-baru disodori oleh seorang teman saya. Film animasi yang bercerita tentang seorang putri kerajaan, Elsa, yang dianugerahi kekuatan “musim dingin”. Ia bisa membekukan apa saja yang disentuhnya. Bahkan semakin dewasa, kekuatannya semakin mencapai klimaksnya hingga bisa menciptakan cuaca beku sepanjang hari.

Kekuatan yang tak bisa dikendalikannya itu tanpa disengaja membekukan hati adiknya sendiri. Satu-satunya cara untuk mengembalikannya tubuh adiknya yang nyaris membeku adalah ciuman dari cinta sejatinya. Namun, tidak seperti film-film animasi “putri” kebanyakan, cinta sejati yang dimaksud ternyata bukan dari laki-laki yang dekat dengannya. Lantas, siapa yang kemudian mengembalikan tubuh bekunya menjadi normal kembali? Ya ditonton saja deh biar penasarannya terjawab… :P

Saya sarankan, jangan terlalu banyak nonton film drama Korea ya. :P Film-film itu hanya akan merusak imajinasi kalian terhadap kehidupan sebenarnya. Terkadang, kisah hidup kenyataan tidak semanis di dalam film-film. 

Akh, saya mulai ngomong terlalu jauh lagi…

Di video kedua, saya agak kaget juga ada acara Fashion Show yang diadakannya di dalam kelas. Hahaha...ditambah, modelnya ternyata Ade, Hera, dan si Sipit. Saya paling suka adegan ketika bumi berguncang karena si Ade melompat kegirangan. Ckck...

Maklum sih, meski dibuat dengan terburu-buru a.k.a mepet waktu, namun hasilnya cukup lucu juga. Mungkin, kalau kalian benar-benar mempersiapkan semuanya denan maksimal, tentu hasilnya akan lebih bagus lagi. Kapan-kapan saya siap kok dijadikan pemeran tamu (guest star). Hehe...




Mengingat kata "mepet" itu, akhirnya saya kepikiran dengan penyelesaian studi saya yang hingga kini masih mengambang. Mepet. Untuk bisa mencapai target yang saya tanamkan, nampaknya saya juga harus bekerja seperti cara kalian, The Mepet Project. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya. I wish... Come on, try to break impossibility!

Apa kalian tahu, sekarang saya seharusnya sudah mulai mengerjakan skripsi saya? Pasti tahu. Namun, ada hal-hal yang harus saya penuhi dulu sembari tetap memikirkannya selalu. Akh, terkadang saya memang butuh alarm. Dulu, saya sudah sering cerita di kelas, bukan? Di samping menjalankan tugas mahasiswa, saya juga masih harus bergulat dengan "berita". Sebelum itu berakhir, pikiran saya masih bisa bercabang-cabang. Apalagi dijejali pula dengan pikiran-pikiran lain di luar itu. Hm...agak rumit juga sih.  #ini kok malah jadi curhat ya? -__-

Tapi setidaknya kalian berhasil memecah sedikit kepenatan saya. Cukup melihat wajah unyu-unyu kalian, itu saja sudah bisa membuat saya tersenyum-senyum sendiri dan sedikit melupakan beberapa hal.

Saya selalu ingin bertemu kalian. Kelak terwujud kok. Yakinkan saja. Kuatkan diri. Terus belajar. Tuhan selalu mengabulkan doa-doa yang baik. Doakan saya juga ya!

Salam Smada Smart! ^_^.v


#100dayS
--Imam Rahmanto--

Rabu, 02 April 2014

You're The Reason

April 02, 2014
Apa kabar hati yang sedang menunggu?

Kau begitu sabar menunggu. Kau berdoa pada Tuhanmu, agar harapan itu terwujud. Pangeranmu itu, pikirmu, akan datang padamu suatu ketika yang lama tak diketahui. Tuhan mengabulkan doa setiap hamba-Nya, yang selalu percaya Tuhan selalu memberikan kebaikan atas kehidupan yang menyertai mereka.

Aku hanya benci melihatmu menunggu, sendirian…

Aku pertama kali mengenalmu lewat tatapan di balik jeruji itu. Lamat-lamat aku mencoba menepisnya. Aku tak pernah percaya tentang keakuan yang mampu menaklukkan hati orang lain. Bahkan untuk menaklukkan hatiku sendiri saja aku ketakutan setengah mati. Hanya saja, ada sinar di bilik matamu yang menarik batinku ke dalam duniamu. Yah, dunia yang banyak kau rahasiakan dari siapa saja. 

Kalau dipaksa mengingatnya, aku hanya tertawa-tawa kecil. Kau yang selalu menganggapku menyebalkan, bahkan jauh sebelum aku bertemu denganmu. Aku yang suka mengganggumu dengan sedikit gurauanku. Aku yang kemudian suka meliihat cemberut wajahmu dibuat-buat. Kau tahu, ketika kau kesal, kau saat itu benar-benar memurnikan perasaanmu. Kau benar-benar terlepas dari dramatisir perasaan menunggu seseorang. 

“Pabal,” aku senang kau menyebutku demikian. Mungkin, bagiku, sedikit istimewa ketika seseorang menyematkan julukannya pada kita. Dulu, aku menganggapnya simbol kedekatan kita. Sebagaimana aku yang selalu menyebutmu anak kecil. 

“Kenapa selalu menyebutku anak kecil?”

Pernah kusampaikan, kau akan selalu menjadi anak kecil ketika mengharapkan sesuatu yang sebenarnya tak dihadiahkan padamu. Anak kecil itu, ketika meminta sesuatu, ia bersikeras ingin memilikinya. Ia merengek. Merajuk. Ngambek. Harapannya, ibu atau ayahnya akan kasihan melihatnya dan mengabulkan keinginannya itu. Apa kau tidak pernah merasainya?

Aku benci melihatmu demikian. Hanya saja, kini, semakin aku menikam perasaanku padamu, benih-benihnya justru bertebaran di setiap rindu yang tak tersirami. Aku mencoba menanam benci. Ia justru mati sebelum menyentuh permukaan.

Hei, kau yang selalu terpikir otak senggangku…

Aku terpinggirkan oleh hatimu.  

Aku tak seperti orang yang kau tunggu, yang paham agama setinggi langit. Orang yang punya banyak dalil tentang hidup-mati, rezeki, atau bahkan jodoh. Bukannya kau juga sedang mendalami ilmu agama? Mungkin, ketika ia menjadi jodohmu, kau bisa berbahagia pula dengannya. Seperti yang kau idamkan.

Aku juga berbeda dengannya yang sudah menyelesaikan pendidikan di tanah rantau. Gelarnya mungkin membanggakan. Sedangkan aku? Menyusun beberapa kata dalam sebuah kalimat yang disebut skripsi saja masih harus meminta dukungan dari banyak orang. Aku hanya pandai melukiskan target tanpa tahu batas kanvas yang kumiliki. 

Aku memilih menjadi orang yang berbeda dengannya, sebenarnya. Agar kau tahu, aku tak ingin seperti dirinya. Aku tak ingin kau menunggu, maka kuminta pendapatmu tentangku. Aku tak menuntut jadi kekasihmu, seperti penjagaan atas dirimu dan trauma yang kau dengungkan. Hanya sedikit penegasan yang keluar dari bibir mungilmu. Agar aku bisa mematutkan hati untukmu, selamanya, hanya satu hati. Tersenyumlah untukku, sedikit saja. –Akh, percuma. Toh, aku hanya bisa merasai senyummu lewat imajinasi semu -  

Aku tahu bahwa kau tak pernah menganggapku spesial, (akh, aku terlalu jauh mengira), ketika kau selalu merasa terusik dengan ledekan orang lain. Berbeda halnya dengan aku yang menikmatinya karena bisa melihat wajah kaku lucumu yang seringkali tersipu malu. 

Mungkin aku hanya sekadar tempat berkirim pesan-pesan singkat, seperti kau yang senang berkirim surat padanya. Seberapa menyenangkan pertemuan itu, kau tak pernah merasainya. Apa kau tahu, seberapa banyak tulisan yang mampu kuretas, tidak sebanyak ungkapan kata yang disampaikan hatiku sekadar melihat binar wajahmu. Terkhusus, menatap gemas lengkung bibirmu yang simetris maupun tak simetris. Lantaran diamnya aku yang memandangmu sejatinya membahasakan lebih banyak ketimbang tulisan-tulisanku yang tak bertuan.

Wahai hati yang kuingin tak menangis dalam diam…

Aku sungguh selalu berharap menemukan orang tempatku berbagi suka maupun duka. Tempatku bisa berbagi cerita. Tempatku bisa melepaskan penat. Tempatku bisa menceritakan segala hal tak penting di dunia ini, seperti “Aku baru saja bertemu dengan teman lama yang tak aku ingat namanya lagi loh,” atau mungkin berujar, “Semalam aku bermimpi, tentangmu.” 

Namun…aku mendapati kau yang menyembunyikan banyak hal. Hm...seberapa kerasnya kehidupanku sebagai seorang penggali berita, aku memutuskan untuk tetap mendiamkan bilik khusus dalam pikiranmu yang tak mau kau bagikan denganku. Kau berhak, karena memang tak mempercayaiku. 

Aku pernah bermimpi tentangmu. Mimpi yang pernah kuceritakan padamu.

“Mungkin saja ia orang yang akan mengajakmu berdamai dalam pelarianmu,” ujar salah seorang teman ketika kuceritakan padanya perihal mimpiku dan dirimu. 

Memang benar, kau menjadi alasanku pulang pada mereka, keluargaku. Keluarga yang kini harus benar-benar kuhargai. Keluarga yang kini harus benar-benar kupikirkan kelangsungannya. 

Aku belum pernah bercerita banyak hal kepada orang lain selain padamu. Aku belum pernah mengharap terlalu banyak kecuali darimu. Aku belum pernah berubah terlalu banyak kecuali karenamu. Karena alasanku, satu-satunya kau, aku percaya.


"I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
and the reason is you"

Kau suka mendengarkan lagu, kan? Barusan kau menemukan potongan lirik dari Hoobastank - The Reason. Mungkin kau tertarik mendengarkannya? Temanku pernah bilang, ketika senang, kita mendengarkan lagu. Namun ketika sedih, kita memahami lirik.

Kamulah alasan aku bisa melanjutkan ketertundaanku. Kita pernah berjanji, bukan? Akh, lagi, aku baru sadar, janji yang hanya kubangun dalam imajinasi saja. Kamulah alasan aku bisa menemukan jalan pulang ke keluargaku. Kamulah alasan aku harus selalu percaya. Kamulah alasan aku menemukan banyak hal. Seketika kamu menghilang? Tak usah khawatir, aku masih menyimpan sisanya yang bisa kugunakan sewaktu-waktu.

Aku merindukan…

Akhirnya, aku tahu. Alasan sesungguhnya tak pernah menembus benteng pertahananan yang kau ciptakan bertahun-tahun lamanya. Bukan karena kau masih mengharap kosong pada orang yang kau tunggu itu, melainkan kau memutuskan diriku bukan orang yang tepat bagimu. Sehingga, kelak tiba masanya kau mampu merelakan orang yang kau tunggu, aku tetap bukan alasanmu untuk tetap mengembangkan senyum manismu. 


--Imam Rahmanto--