Selasa, 18 Maret 2014

(Tak) Menjadi Seperti Ayah

Hei, Dian, Dewie, Ai... Biar #7days7posts kita sudah berakhir, saya masih merasa berhutang 2 postingan di kepala. Saya tak ingin konsep di kepala ini hanya mengendap untuk berlalu lantas terlupakan. Sungguh sayang, bukan? Oleh karena itu, ketimbang melesap saja di kepala, maka saya tuangkan seperlunya lewat tulisan-tulisan ini. Di samping, saya pun tipe-tipe orang yang akan menyelesaikan apa yang mesti saya selesaikan. Menyelesaikan setiap janji yang pernah hinggap di kelingking saya. ;) Cekidot.

Apa yang akan kita ketahui dari dunia ini? Apa saja yang hendak diberitahu oleh dunia dan ingin kita ketahui.

Siapapun pernah menyadari bahwa kehidupannya sekarang adalah bentuk refleksi dari kehidupan kedua orang tuanya dulu. Dalam darah kita masing-masing, selalu ada elemen-elemen yang berasal dari ayah atau ibu kita. Baik berwujud maupun abstrak. Rambut. Hidung. Kulit. Bibir. Sikap. Perilaku. Kebiasaan. Pembawaan.

Saya banyak mempelajarinya. Heh, apalagi setelah melewati sedikit "pembangkangan" yang membuat saya menyadari hakikat sebagai seorang anak. Sesalah apapun orang tua, ada celah diantaranya yang menginginkan kita berbuat benar. Caranya saja yang terkadang salah, bukan esensinya.

Sebagai seorang lelaki, tentu saja kelak saya akan menjadi seorang ayah juga. Mempelajari hal-hal yang pernah diajarkan ayah, membuang keburukan yang diturunkan adalah cara menjadi ayah yang baik.

Your father...... (Sumber: google.com)
Kelak, saya adalah seorang ayah yang tak ingin membunuh diri dengan merokok. Pun, di tengah keluarga, saya tidak akan membiarkan siapapun merokok sebebasnya. Rumah saya adalah rumah tanpa asap rokok, alami, dan bernuansa terbuka dinaungi rerindang pepohonan di halaman rumah. Soal merokok itu, saya mempelajarinya dari seorang ayah yang perokok, yang sewaktu kecil saya setiap hari disuruhnya membeli sebungkus rokok.

"Belikan Pa'e rokok," suruh ayah saya kerap kali. Saya senang saja karena bakal mendapat uang tip dari hasil beli rokok itu, barang seribu atau dua ribu rupiah. Tapi, semakin saya dewasa, saya menyadari, ada pengaruh psikologis fan kesehatan pada setiap orang yang mencandui rokok.

Kelak, saya akan memenuhi rumah saya dengan bacaan-bacaan untuk anak-anak saya. Sedari kecil saya ingin membiasakan mereka membaca. Mungkin, di rumah akan ada perpustakaan kecil yang penuh dengan buku-buku menarik. Cerita bergambar. Novel. Komik. Motivasi. Islami. Terkecuali buku pelajaran. Itu 10 persen saja. Haha.. Siapa saja boleh berkunjung ke rumah sekadar untuk membaca.

Ayah saya, agak risih sebenarnya melihat kebiasaan membaca saya. Ia berpikir, orang yang menghabiskan waktunya hanya membaca tidak akan banyak mendapat pengalaman real atas hidupnya. Bacaan hanya teori. Beraktivitas di luar adalah sebenar prakteknya.

"Membaca terus. Mending kau kerja sesuatu yang berguna," ujarnya. Padahal, tanpa ayah tahu, saya sedang memandang dan mengunjungi dunia lewat membaca.

Karena berharap menjadi seorang ayah yang juga penulis, maka saya akan mendukung minat baca anak-anak saya. Keluarga saya adalah pembaca pertama saya. Oiya, saya juga akan menekankan mereka untuk gemar menulis. Mengabadikan setiap momen kehidupan mereka dalam tulisan. Tidak melulu facebook, twitter, atau sosmed.

Kelak, saya juga akan selalu mendongengkan anak-anak saya sebelum tidur. Perlahan memberikan karakter dan pembelajaran lewat cerita-cerita fiksi saya. Hingga suatu kali ketika mereka merindukan saya yang sedang sibuk menyelesaikan urusan jurnalistik, mereka akan bertanya, "Ayah, kapan lagi ada waktunya buat bercerita sebelum tidur? Kami kangen cerita-ceritanya ayah.

(Sumber: cokesbury.com)
Dari hubungan demikian, saya berharap bisa membangun kedekatan dengan anak-anak saya. Tanpa dinding. Tanpa jarak. Bahkan, anak saya bebas curhat tentang orang yang disukainya.

Setiap pekan, saya ingin membagi waktu dengan keluarga saya. Sekadar memilah quality time dengan istri dan anak-anak saya. Setidaknya, sembari menertawakan diri dan kelucuan anak-akan saya. Tak lupa istri saya akan menghidangkan makanan-makanan buatannya dengan segelas Cappuccino buat saya. Mm...anak-anak saya juga boleh menyukai Cappuccino seperti halnya saya.

Kelak, saya akan menjadi ayah yang menyayangi istrinya. Ayah yang mempercayai keteguhan hati ibu dari anak-anaknya. Sedikitpun, saya tak ingin melintaskan di benak saya untuk menyakiti hati wanita kesayangan saya. Apalagi sampai memukulnya. Cukuplah saya yang merasakan bagaimana sedihnya semasa kecil melihat orang tua kerap bertengkar. Bagaimana seorang ayah kerap menampar istrinya. Bagaimana ayah kerap memukul dan memaki istrinya. Kelak, semoga perempuan yang menyayangi saya juga bisa selalu menjaga hatinya seberapa sering pun saya berbuat salah.

Saya ingin menjaga anak-anak saya agar tidak merasai perpisahan kedua orang tuanya. Tidak merasai doa-doa untuk kedua orang tuanya yang dipanjatkan dengan air mata, "Tuhan, jangan biarkan ayah dan ibuku berpisah, ya Tuhan."

Hm...saya ingin menjadi ayah yang baik. Intinya menjadi ayah yang baik, jikalau Tuhan menggenapkan waktu dan kesehatan untuk dijalani...

#karena setiap laki-laki akan menjadi seorang ayah.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar