Minggu, 16 Maret 2014

Me, The Hero!

Khayalan, imajinasi, setinggi ia membumbung memberikanmu pengharapan tiada batas.

Saya pernah kecil. Pernah berkhayal. Seringkali malah. Apalagi kehidupan masa kecil saya selalu diwarnai dengan tontonan-tontonan anak kecil yang dulu masih marak. Berbeda sekali dengan sekarang, yang hari Minggunya hanya diisi dengan tontonan acara musik tidak berguna, membodohi penonton-penontonnya. Presenternya juga rela kelihatan bodoh demi meraih segepok uang honornya.

Tidak ada lagi film Chibi Maruko-chan, P-Man, Ninja Hattori, Digimon, Crayon Shincan, Power Ranger, Inuyasha, Beyblade, Let’s and Go (Tamiya), Ranma ½, Crush Gear, Gundam, One Piece,  dan semacamnya. Kini kita lebih sering menyaksikan goyangan-goyangan di atas panggung ketimbang film-fil animasi keluaran Jepang itu. Anak-anak zaman kini diajar untuk lebih cepat dewasa. Dewasa prematur atau istilah kerennya, dewasa “karbitan”.

Coba saja tanyakan kepada anak-anak kecil zaman sekarang, judul lagu apa yang mereka tahu? Siapa artis yang mereka tahu? Jawabannya memang beragam, tapi genre-nya tetap sama; lagu orang gede.


Anak zaman sekarang tidak tahu lagu-lagu anak kecil. Ckck...

Oiya, saya bukannya mau berbicara tentang film-film kartun itu. Hanya saja, dimandikan dengan film-film semacam itu membuat saya banyak berkhayal. Saya banyak berimajinasi tentang menjadi superhero. Ya, Superhero. :D Kadang-kadang menjadi Power Ranger, Ultraman, X-Men, Batman, Superman, Spiderman. Haha…

Kadang, di masa kecil, di masa-masa pengkhayalan akut, saya sangat keras berpikir,

“Kenapa orang-orang yang punya kemampuan khusus seperti itu selalu berpikir untuk tidak diketahui identitasnya? Seperti kebanyakan Superheroes, mereka selalu menutupi identitas mereka dengan topeng. Padahal kan enak punya kekuatan begituan.”

Saya kerap kali berkhayal tentang seseorang yang punya kelebihan, kekuatan super. Layaknya para mutan di X-Men. Seakan-akan bertanya pada diri sendiri, kekuatan seperti apa yang saya inginkan jika Tuhan menganugerahkan kekuatan seperti itu kepada saya? Kala itu, saya akan menjawab dengan lantangnya; kekuatan telekinesis. Sejauh ini, saya belum tahu nama apa yang hendak disematkan pada saya yang berkekuatan super memindahkan barang tanpa perlu menyentuhnya itu. Saya juga tidak tahu kostum seperti apa yang seharusnya saya kenakan biar kelihatan keren. Wow!

Bagi yang belum tahu seperti apa kekuatan telekinesis itu, coba nonton serial film Heroes. Ada 4 season. Namun, menurut kabar yang saya dapatkan, Heroes 2 akan muncul juga. Di dalamnya, ada tokoh antagonis Sylar yang memiliki kemampuan original; memperbaiki barang-barang rusak. Akan tetapi, karena haus akan kekuatan, maka ia membunuh satu persatu orang dengan kemampuan khusus, dan memeriksa mekanisme kerja kekuatannya lewat memotong batok kepala orang yang diincarnya.

Kekuatan pertama yang ia dapatkan adalah kekuatan telekinesis. Bahkan dalam beberapa kesempatan melawan tokoh protagonis, Peter, ia kerap kali menggunakan kekuatan telekinesisnya itu. Menggantung orang di langit-langit ruangan. Mementalkan lawannya. Menempelkan orang lain ke dinding. Hingga memotong batok kepala orang.

Atau tokoh Jean di film X-Men, yang mempunyai kekuatan super telekinesis. Magneto, iron telekinesis, saja kewalahan olehnya.

Telekinesis or pshycokinesis is the power to move something by thinking about it without the application of physical force

(Sumber: googling)
Nah, saya selalu berkhayal suatu waktu tiba-tiba saja punya kekuatan super itu. Atau di lain kesempatan, ketika tokoh jahat datang, di sekolah, saya menjadi lakon pemberani yang menantang kekejaman mereka, meskipun tanpa kekuatan apapun. Akan tetapi, di tengah kekalahan saya melawan musuh-musuh berkekuatan super juga, mendadak sebuah cahaya sepaket dengan halilintar menyambar saya dan memberikan kekuatan yang tanpa sadar saya gunakan saat itu juga.

Dalam kehidupan imajinasi saya itu, ternyata ada beberapa orang pula yang memiliki kemampuan khusus seperti saya. Ada yang mampu mewujudkan api. Ada yang mampu mengendalikan air dimana saja. Ada yang mampu berlari dengan kekuatan super cepat. Ada yang hanya bisa terbang. Ada yang mampu menyerap kekuatan binatang, dan menggunakannya berkali-kali lipat dibanding kekuatan hewan aslinya. Ada yang mampu mengeluarkan sinar laser dari matanya. Ada yang mampu menyembuhkan luka orang lain. Ada yang mampu membaca pikiran, sebagai pendeteksi pula. Ada yang mampu mewujudkan angin. Ada yang mampu mewujudkan senjata apa saja lewat benda yang disentuhnya.

Mereka, para pemilik kemampuan khusus itu, tersebar di seluruh wilayah nusantara. Setelah, pertarungan pertama itu, saya menjadi pokok perbincangan di sekolah. Namun orang-orang tidak menganggap kekuatan itu benar-benar origin dari saya. Pasalnya, di tengah pertarungan itu, saya tidak nampak seperti biasanya. Layaknya Super Saiya, rambut saya berdiri. Di sekeliling saya muncul gelombang-gelombang kekuatan. Selepas pertarungan, saya pun tak sadarkan diri.

Karena merasa ada yang telah berubah pada diri saya, maka saya mencari tahu. Melompat ke beberapa hari berikutnya, saya terlibat pertarungan tak disengaja lagi. Saya bertemu dengan orang iseng yang menggunakan kemampuannya untuk menjahili orang lain. Ia menguasai kemampuan mengendalikan udara di sekitarnya. Saya bertarung dengannya. Saya baru menyadari ternyata da orang yang punya kekuatan seperti saya.

Meskipun kami berduel, pada akhirnya kami bekerja sama, dan ia memperkenalkan saya pada beberapa orang lainnya yang punya kemampuan khusus. Dari orang yang mampu membaca pikiran orang lain, kami mendeteksi orang-orang lainnya. Kami membentuk sebuah kekuatan lebih besar guna menumpas kejahatan dari orang-orang yang ingin menyalahgunakan kekuatan itu.

Sekilas, imajinasi saya layaknya anak-anak yang memang masih gemar menonton Power Ranger. Lah, maklum saja. Saya masih mengonsumsi film-film masa kecil. Pikiran saya memang belum waktunya berpikir hal-hal sulit. Selain itu, asumsi saya, orang yang sering berkhayal di masa kecilnya nampaknya punya kesempatan yang bagus dalam pekerjaannya di masa depan. Einstein, Bapak Fisika yang gila, menekankan bahwa

imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan,

Dan di masa-masa kecil dulu adalah gudang kita berimajinasi. Di waktu dewasa kini, adalah lahan kita untuk mewujudkannya.Orang dewasa tidak dilarang untuk berkhayal, berimajinasi. Bahkan, tak perlu heran kalau kita masih banyak menemukan orang-orang dewasa di bangku kuliah yang masih gemar menonton film kartun Naruto, One Piece, atau Bleach. Konsumsi imajinasi seperti itu, selain memperkaya ide, juga meringankan beban kepala. Bayangkan saja kalau setiap hari kita hanya disodorkan hal-hal realistis, bisa jadi orang kaku sekaku-kakunya kita. Hahaha….

Terlepas dari itu, siapapun bebas berimajinasi, mau tua, anak kecil, laki-laki, perempuan, asalkan tidak kebablasan. So, ingin jadi apa kita sewaktu kecil?

Sekarang, ketika ditanya ingin menjadi Superhero apa selain Batman, Iron Man, Superman, Spiderman, maka saya lebih memilih menjadi YOURMAN ….. ^_^.b


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar