Kamis, 13 Maret 2014

Ingatkan, Saya Alarm!

Ingatkan saya untuk menjadi orang sebaik keinginan, mencapai setiap rencana, dan berjalan di alur yang seharusnya seorang "Saya" lakukan.

Saya agak kesal dengan tingkah beberapa orang teman saya, sebenarnya. Beberapa kali short message yang saya kirimkan tidak berbalas. Telepon yang saya udarakan tidak dijawab meski sekadar "Halo". Sejak kemarin. Keadaan seperti ini yang tak pelak membuat seseorang berpikir tidak.baik dan tidak jernih. Apa saya semenakutkan itu ya, sampai-sampai beberapa tak berani menampakkan batang hidunhgnya di hadapan saya?

"Come on! Kalian sudah dewasa, dan seharusnya tahu cara menyikapi sesuatu secara dewasa. Bukan justru dengan melarikan ataupun meninggalkannya sementara waktu."

Tekanan menjelang deadline memang senantiasa terjadi. Padahal semestinya semenjak sebelum deadline menggerogoti, saya sudah bekerja layaknya tukang tagih berita, bukan? Maaf, karena saya terkadang melupakan banyak hal, beragam hal bergantian mengisi batok kepala. Setiap dari kita seharusnya memang saling mengingatkan.

Kalau sudah banyak hal yang saya lupakan, saya mendadak berharap saja bisa menjadi sebuah alarm. Alarm, ia mengingat apa saja. Sedetail mungkin, ia akan berbunyi dan mengingatkan tanpa pernah mengeluh. Ia ingat segalanya. Berhitung hari, jam, menit, dan detik, bahkan sampai jadwal yang diatur sampai tahun kesekian pasti diingatnya.

Tapi...secara tak kasat mata, bukannya saya selama ini sudah menjadi alarm bagi pewarta lainnya ya? -_-

Ingatkan saya...

Menjadi alarm nampaknya akan selalu mendengar kata-kata itu, baik yang hanya dilafalkan dalam hati maupun mereka yang melafalkannya dengan pasti.

Ingatkan saya...

Setiap orang memanfaatkannya. Setiap benda menginginkannya terpasang sebagai pelengkap. Termasuk perangkat-perangkat canggih zaman kini, butuh "pengingat" bagi tuannya.

Akh, seandainya bisa saja kita beralih menjadi alarm, sekadar mempertajam ingatan dan refleks memory. Saya tak butuh lagi perangkat "pengingat" lainnya. Saya cukup menyetelnya di kepala, sampai suatu waktu, meski telah lupa, diingatkan kembali dengan melintaskannya lewat list memory.

Menjadi alarm "hidup" seharusnya bisa mengingatkan banyak hal pula. Tentu, tidak hanya sebatas agenda-agenda kegiatan, melainkan hal-hal yang kita berharap selalu dingatkan, setiap waktu. Mungkin saja lewat menjadi "alarm" kita tak akan mengenal istilah malas lagi.

Ingatkan saya untuk belajar banyak hal.

Ingatkan saya untuk menjadi pemimpin yang baik.

Ingatkan saya untuk banyak mempercayai.

Ingtkan saya untuk berpuasa Senin-Kamis.

Ingatkan saya untuk bekerja lebih giat.

Ingatkan saya untuk tak menunda-nunda sesuatu.

Ingatkan saya untuk melunasi janji.

Ingatkan saya untuk selalu tersenyum TING!

Ingatkan saya untuk mengingat keluarga. 

Ingatkan saya untuk menyelesaikan studi.

Ingatkan saya untuk berjalan lebih banyak.

Ingatkan saya untuk selalu berterima kasih.

Ingatkan saya untuk selalu mengingatkan...

***

Saya punya alarm yang disetel sampai 5 kali dengan bunyi yang berbeda-beda di handphone. Terkadang, bunyi-bunyiannya di pagi hari menjengkelkan orang-orang yang sudah terjaga. Pemiliknya sendiri, baru bisa bangun ketika ia baru menyadari ada banyak alarm yang telah berdering di jam-jam tertentu, ketinggalan momen berbunyinya.


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Menjadi alarm, yang kerap dianggap sebagai pengganggu, yang kerap pula diabaikan, seperti saat kamu tidak mendengar teriakannya dan melanjutkan tidur? Mungkin, sebagai manusia, cepat atau lambat, kita akan jenuh menjadi "alarm". Beruntung alarm sebenarnya adalah benda mati :D

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Hahaha...esensinya kita ingin selalu diingatkan, karena kita itu pelupa.

    BalasHapus