Rabu, 19 Maret 2014

Dokter

Saya baru teringat, dalam perjalanan melewati masa sekolah, saya dulu berkeinginan menjadi seorang dokter. Setelah dipikir-pikir, bukan sebenar-benarnya cita-cita yang saya idam-idamkan sih. Meskipun di masa kecil dulu saya justru bercita-cita sebagai polisi. Melintasnya waktu, “kehebatan” polisi dalam benak saya sebagai seorang anak kecil lamat-lamat terhapus dan tergantikan dengan realitas yang ada. Apalagi masa-masa sekolah dulu, saya dikenal sebagai anak dengan tubuh “imut-imut”nya. Huahahaha…

Beranjak menjalani masa sekolah yang lebih tinggi, SMP dan SMA, saya akhirnya mematok (atau dipatok) untuk menjadi seorang dokter.

“Biasanya kalau anak seperti Imam, mendaftar di jurusan Kedokteran saja,” obrol-obrol ringan tetangga dengan bapak atau ibu saya kerap kali.

“Kamu mendaftar di jurusan Kedokteran saja ya?” ajak banyak guru di sekolah. Mungkin dalam benak mereka, setiap anak-anak yang berprestasi sudah sewajibnya masuk jurusan-jurusan favorit di kampus-kampus elit.

Karena belum tahu banyak tentang kehidupan kampus, saya mengiyakan saja tawaran dan usulan yang diberikan guru-guru di sekolah. Apalagi, saya juga belum banyak tahu passion seperti apa yang bakal saya jalani dan geluti.

Akan tetapi, ternyata dunia telah berkonspirasi dengan begitu manisnya hingga mengubah jalur hidup saya ke arah sini. Ketika saya tak lulus di jalur “bebas tes” untuk masuk perguruan tinggi di jurusan yang mendapat julukan “jurusan sejuta umat” itu, saya juga tak lulus di tes tertulis bersaing dengan ribuan calon mahasiswa lainnya. Hanya saja, Tuhan membuka kesempatan “perjalanan” saya, lulus di pilihan kedua dalam ujian tertulis itu. Sempat, saya agak kecewa dengan hasil yang telah saya dapatkan itu. Namun melihat perjuangan teman-teman lain yang hingga menghabiskan waktu dan tenaga di bimbingan-bimbingan belajar ternama, saya jadi bersyukur karena “masih” bisa lulus dan mengenyam pendidikan di kampus sekarang.

Manusia memang tidak akan pernah bersyukur jika selalu melihat segala hal yang ada di atasnya. Melihat ke bawah adalah cara sederhana untuk bersyukur setiap waktu.

#Sebenarnya sih, ada banyak juga orang yang pastinya bernasip serupa dengan saya ya?

Nah, mengakhiri #7days7posts, saya ingin berandai-andai bilamana lulus di jurusan yang kini sudah tidak begitu menarik di benak saya itu.

Tidak tahu seperti apa saya sekarang kalau saja saya dulu lulus di jurusan yang diidam-idamkan banyak orang itu. Mungkin, saya tak lagi bisa meluangkan waktu barang beraktivitas selain kegiatan akademik. Setiap ahri saya hanya akan belajar, belajar, dan belajar. Buku-buku tebal tentang anatomi dan semacamnya bertumpuk tinggi di kamar saya. Saban hari saya mungkin harus menghafalnya, agar tidak ketinggalan dengan teman-teman “pintar” lainnya.

Saya jadi mengingat-ingat seorang kakak dari teman saya. Ketika dulu saya menginap di rumah kostnya, kesempatan untuk menemani kami sekadar ngobrol atau urusan lainnya sama sekali tidak ada. Ia sibuk sendiri dengan buku tebal dan hafalannya. Saya jadi agak risih dengan jurusan itu kalau mengingat-ingat bakal jadi orang anti-sosial. 

Kemungkinannya, saya juga tidak akan bertemu dengan passion saya sekarang: menulis. Saya tidak akan memiliki banyak teman seperti sekarang. Pastinya, #Ben10 tidak ada. Apa yang saya jalani sekarang, segala kerumitan dan kebahagiaannya, tentunya akan menjadi hal berbeda kalau saya harus benar-benar lulus di jurusan calon dokter itu. Yah, meskipun terkadang muncul suara-suara lain dalam kepala saya, “jangan-jangan kehidupan saya disana lebih baik ketimbang sekarang.” Tak ada yang menjamin.

Saya selalu percaya, Tuhan mengabulkan doa kita lewat hal-hal yang diberikan-Nya sebagai sesuatu yang kita butuhkan. Semau apapun kita terhadap sesuatu, kalau Tuhan tidak mau, ya tidak akan mungkin bisa terwujud. Akan tetapi, Tuhan selalu tahu yang terbaik bagi kita.

Semenjak saya mendapatkan pengalaman di lembaga jurnalistik yang membesarkan saya sekarang, saya jadi tahu seperti apa rasanya menikmati hidup. Saya jadi tahu juga seperti apa rumitnya pikiran-pikiran. Rumitnya berkeluh kesah. Saya lantas tidak pernah menginginkan lagi jurusan yang pernah terpatok di kepala saya itu. Sejelas-jelas tidak ada penyesalan.

Kini, setiap ada adik-adik yang mengidamkan jurusan itu, terkadang saya agak prihatin. Sebagian besar dari mereka nampaknya hanya menjadi korban “obrol-obrol” tetangga di kampung. Mungkin, jauh dalam lubuk hati, mereka punya cita-cita yang jauh lebih baik, yang jauh lebih membuat mereka bahagia. Hanya saja, pengaruh orang tua dan lingkungan terkadang membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangan orang tentang dokter adalah profesi paling “mulia” sudah terlanjur melekat dan sulit diubah. Kita anak muda akan selalu dianggap anak kecil oleh para orang tua. Ada pandangan yang mesti diubah dan diluruskan.

Nah, seandainya menjadi dokter, saya bukan siapa-siapa. Saya lebih suka menjadi seperti sekarang, karena #Menjadi jurnalis itu hebat!


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Ah, setelah kita besar, rasanya jurusan yang dulu jadi impian sejuta bocah, enggak banyak istimewanya kok :D

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Benar, kan. Lagian, beranjak dewasa kita mulai memikirkan pekerjaan yang memang sesuai dengan passion yang kita lakoni. :D

    BalasHapus