Rabu, 12 Maret 2014

Anak Kecil yang Sederhana

Dua orang anak kecil sedang berjalan beriringan di depan saya. Berseragam merah putih. Lengkap dengan topi merahnya. Keduanya berjalan pelan sembari menyicipi makanan yang baru saja dibelinya. Satu orang memegangi lengan tangan yang lainnya. Waspada, memandang jauh ke depan.

"Disini, disini mi. Jalan pelan-pelan maki dulu biar tidak ketahuan," ujar yang satunya. Matanya tetap memandang awas jauh ke depan.

"Ah, ayo kesini. Duduk disini maki saja sebentar biar tidak diliat," ujarnya lagi setelah beberapa meter berjalan dan menemukan persimpangan lorong.

Saya mengerti, dan menahan tawa memandangi kedua anak laki-laki itu. Jauh di depan sana, kerumunan teman-temannya sedang bekerja bakti membersihkan sekolah. Satu, dua orang mengeruk-ngeruk selokan. Lainnya lagi mengangkat-angkat sampah. Beberapa guru pun kelihatan mengarahkan siswa-siswa Sekolah Dasar yang berada di seberang jalan itu.

Saya meninggalkan mereka berdua.

Pagi ini, kemarin, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke redaksi. Waktu tempuh dari kost saya hanya sekitar 20 menit. Seperti biasa, saya senang merasai setiap detik dan suasana dengan berjalan kaki. Asalkan matahari tak terik. Ada banyak momen-momen yang bisa direkam mata. Ada banyak waktu bagi kepala untuk berpikir tentang banyak hal.

Lantaran mengawasi gerak-gerik kedua anak kecil itu, saya lantas berpikir betapa menyenangkannya menjadi seorang anak kecil. Seandainya waktu bisa diputar, saya kembali ingin merasai momen-momen masa kecil dulu.

Betapa menyenangkannya menjadi anak kecil. Setiap waktu, kita bisa tertawa tanpa perlu dipahami orang dewasa. Kita tak peduli orang dewasa mau ikut menertawakannya. Selama kita bisa menikmati sesuatu dengan tertawa, ya sudah, kita akan tertawa saja. Menangis, ya menangis saja.

Saya pernah menjadi anak kecil yang cengeng. Sewaktu SD, hanya gara-gara diejek teman lain bahwa gambar jelek, saya mengancamnya dengan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Tentu saja teman saya itu langsung lari tunggang-langgang.

Kalau saya cengeng, ayah justru menyuruh saya diam. Terkadang, saya iri dengan teman-teman lainnya yang senantiasa dibela ayahnya. Saya, justru disuruh ayah untuk menghentikan tangisan saya sembari berujar, "Anak laki-laki itu tak boleh menangis. Harus kuat."

Seandainya waktu bisa diputar ulang, tanpa mesti mengulang isi kepala, sepertinya menjadi anak kecil adalah hal paling menyenangkan.

Menjadi anak-anak, membuang segala hal yang rumit-rumit di kepala kita. Masa kecil ya seharusnya menjadi masa bermain. Kita masih belum dibebani beragam tanggung jawab dan kewajiban. Yang kita tahu hanya bagaimana cara bermain secara menyenangkan.

Saya membayangkan, diri saya berlarian di tanah lapang menerbangkan layangan. Mengadu ketinggiannya dengan teman-teman lain di kaki langit. Kalau kalah, berusaha mencurangi teman lainnya. Kalau layangan putus, bersama-sama mengejarnya hingga kelelahan menghampiri. Jika sudah begity, saling menyalahkan dan bergumul. Tangis memuncak bagi yang kalah dalam perkelahian. Namun, selalu saja ada maaf yang sederhana dari senyum yang dikembangkan. Usai itu, kami lupa kalau pernah bertengkar. Tertawa lagi kita, sederhana saja.

Di sekolah, berteman dengan siapa saja. Bertengkar lagi karena hal sepele. Bahkan hanya gara-gara nama kita disandingkan dengan nama teman lawan jenis. Bersungut-sungut mengajak berkelahi. Teman-teman lainnya justru menyoraki. "Ayo, ayo!" lantas bergumul lagi. Dilerai guru. Selanjutnya, saling meminta maaf karena disuruh guru. Bersalaman. Tersenyum. Tertawa. Bermain bersama, lagi. Melupakan pertengkaran yang mungkin baru beberapa jam berlalu.

Chlid(rain). (Sumber: wallsave.com)
Akh, seandainya menjadi orang dewasa sesimpel itu. Sesimpel alasan kita ketika diomeli orang tua karena berhujan-hujanan di luar.

"Sudah berapa kali dibilangi, jangan main hujan," omel ibu, yang tentu saja belum kita pahami bentuk kekhawatirannya. Meski demikian, ia tetap menyuruh kita salin baju, melap badan kita yang hanya cengar-cengir dengan handuk.

Coba saja sekarang, kalau di usia seperti ini kita sengaja bermain hujan sambil membawa sabun mandi, apa kata orang? Saking rumitnya pikiran kita atas pikiran orang lain, ada banyak "malu" dan etika yang mesti dipatuhi. Soal tanggung jawab, kewajiban, masa depan, kebutuhan, dan semacamnya yang terkadang membuat kepala hampir meletup.

Segala hal yang dipahami anak kecil selalu dalam bentuk sederhana. Sesederhana satu-ditambah-satu-sama-dengan-dua. Sesederhana mereka menyukai suatu barang. Sesederhana anak kecil berbaikan usai bertengkar. Sesederhana mereka menari dalam hujan, dancing in the rain. Sesederhana mereka cengar-cengir jika ditanya perihal alasan sesuatu. Seharusnya, saya berpikir, setiap orang dewasa pun saling mencintai dengan sederhana pula, sesederhana mengucapkan "aku cinta kamu" saja.

Sejatinya, kita tak akan benar-benar bisa menjadi anak kecil lagi kan? Meskipun sifat dan pembawaan kita masih bisa diputar layaknya anak kecil. Terkadang, saya merasai menyenangkannya menjadi anak kecil. Tertawa dan berpikir lepas seadanya saja. Akan tetapi, di balik keinginan menjadi anak kecil, kita seharusnya sadar bahwa masa dan momen itu berputar. Waktu berjalan maju. Kalau kita pernah menjadi anak kecil dan merasa dilindungi, seiring bertambahnya usia diri, kelak kita pun harus menjadi orang dewasa yang mampu melindungi anak-anaknya, memberikan kebahagiaan di masa kecilnya.


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Jadi, apakah kita benar-benar puas dengan masa kecil kita? Apakah kita masih punya obsesi terpendam saat masa kecil yang ingin diluapkan saat dewasa?

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Kalau saya, masih banyak juga sih.... Hehehe....

    BalasHapus