Jumat, 28 Maret 2014

9# Pemula

Ini sudah hari ke berapa ya? Tidak terasa hari begitu cepat berlalu... Ya sangat cepat melesat. Meninggalkan rencana-rencana yang tersusun rapi di kepala saya. Termasuk soal menyusun krispi, ah, skripsi. Yah, saya sudah  seharusnya berani menyebutnya demikian sebagaimana berani mempertaruhkan perasaan. Lamat-lamat, titik alasan atas itu pun meninggalkan saya...

Di kampus, saya banyak menemui teman-teman seangkatan yang sudah mulai menyusun penelitiannya masing-masing. Tak jarang bertemu pula dengan teman lainnya yang sudah menyelesaikan studinya. Di kampus, mereka tinggal menyelesaikan proses administrasinya saja. Dan saya? Sambil rajin-rajinnya kuliah, sejujurnya judul untuk skripsi yang saya canangkan di kepala gugur satu persatu.

"Untuk saat ini, tidak perlu judul-judul ideal seperti yang kau katakan itu. Cukup yang sederhana saja," ujar salah seorang teman yang saat ini sementara menyelesaikan proses penelitiannya.

Hm, selain simple, saya juga mesti memikirkan budget yang tepat di tengah kondisi keluarga saya sekarang, bukan?

Bertemu dengan teman-teman yang telah menyelesaikan kuliah membuat saya semakin dikejar waktu. Padahal secepat apapun kita, manusia, takkan pernah menyaingi percepatan atas alur waktu itu sendiri. Dan lagi, demi mengapresiasi, basa-basi menyampaikan selamat adalah hal lumrah, meskipun bukan teman-teman sekelas saya dulu.

"Cepat selesai karena dia sudah dapat calonnya. Tinggal tunggu menikah saja tuh dia..." guyon salah seorang teman yang masih sama nasibnya dengan saya kepada teman yang telah selesai itu.

Hm...berbahagialah ia. Seandainya menikah itu semudah di buku-buku yang saya baca; cukup kiai atau penghulu dan wali, dinikahkan di masjid, sah, mungkin sudah lama pinangan saya tertambat pada seseorang. Hanya saja, adat dan budaya serta kebiasaan mengikat kita secara tak kasat mata. Kata ibu, carilah kerja yang baik dulu, sebaik kau akan mengayomi anak gadis orang.

Teman saya itu, telah menyelesaikan studinya. Padahal saya masih mengingat bagaimana pertama kalinya saya bertemu di waktu-waktu maba dulu. Masa botak.

Nyaris setiap hari kami selalu pulang bersama. Saya yang menunjukkan jalan pulang untuknya. Kebetulan, rumah kost kami hanya berjarak satu nomor kompleks. Saya mengetahuinya dari hasil "Sok Kenal" semasa ospek dulu. Apalagi karena disatukan rasa "senasib" di kampus yang masih terasa asing bagi kami.

"Ayo, pulangnya sama-sama ya," tutur saya seolah-olah akan memimpin jalan. Padahal, belakangan kami baru tahu, jalan yang selama ini kami tempuh merupakan jalan memutar dibanding melalui jalan pintasnya. Ckck...

Saya mengilas satu-satu proses pertemuan saya dengan teman-teman dulu. Sekelas saya kebanyakan telah menyelesaikan studinya. Tersisa beberapa orang saja, yang memang tergolong aktif di lembaga kemahasiswaan kampus, masih sibuk menjalin rasa senasib-sepenanggungannya. Hm...terkadang agak sulit memang menyeimbangkan pikiran yang beragam. Saking terpilin-pilinnya, kita butuh waktu untuk menyegarkan mental, meski sekadar keluar dari rutinitas harian.

Seperti kemarin, saat saya memutuskan ikut saja dengan teman-teman untuk bersantai di Mekdi.
"Ayo, ayo. Sekali-kali bolehlah. Yang penting saya ditraktir ya..." ujar saya cengar-cengir. Toh, saya benar-benar ditraktir. Hahaha...

Karena mengajak orang yang spesial bagi saya belakangan ini sangat sulit, sesulit mengubah pola pikirnya yang mungkin masih bercabang-cabang. Padahal, saya berharap bisa menghabiskan waktu berdua, sedikit menenteramkan pikiran dan perasaan saya. Just with her. Terkadang cukup memandangi senyum dan melihatnya merajuk sedikit menyenangkan saya.

Jujur sih, makan junk-food burger adalah pengalaman pertama bagi saya. Bahkan nongkrong di Mekdi pun adalah hal langka bagi saya. Tak perlu heran ketika betapa noraknya saya (dan teman) bertanya-tanya cara makan ini, makan itu.

"Ini cara makannya pake saos atau ndak? Langsung dicelup begitu saja ya? Kapan dimakannya? Harganya berapaan sih" Pertanyaan-pertanyaan yang bakal membuat orang menepuk jidat.

Setidaknya bersantai dari sore hari hingga lepas Isya bisa sedikit melepaskan penat saya. Menghindarkan saya dari berpikir sendirian. Saya mempelajari dan mengalaminya. Sendirian, cenderung banyak menenggelamkan kita ke alam-alam dramatisasi pikiran sendiri. Kerap kali kita sulit muncul lagi ke permukaan.

Selepas itu, saya akan kembali menyibukkan diri demi membunuh kerinduan yang tak berbalik. Perihal skripsi, saya masih akan tetap mengusahakannya. Tak perlu heran menjadikanmu alasan. Apalagi target-target di kepala seharusnya mampu diselesaikan tepat waktu. Keluarga juga menginginkan hal itu.

Melihat beberapa keadaan, saya tahu orang yang ditunggunya akan kembali. Entah kembali untuknya, atau sekadar kembali. Ia punya hak untuk menentukan pilihan, seperti hati yang selalu ia simpan, jauh sebelum saya mengenalnya.


--Imam Rahmanto--

Ps: Karena tak ingin meninggalkan "rumah" ini, saya mengigau saja. Toh, apa yang saya tuliskan kini masih bisa menjadi rekaman atas jejak yang pernah saya lalui.

2 komentar:

  1. Kalau aku sih kayaknya udah terlalu jauh terseret arus melupakan skripsi.
    Eh, kayaknya aku ketinggalan banyak kabar nih. Kapan-kapan chating yoh, kamu utang banyak cerita nih, hahaha

    BalasHapus