Jumat, 28 Maret 2014

9# Pemula

Maret 28, 2014
Ini sudah hari ke berapa ya? Tidak terasa hari begitu cepat berlalu... Ya sangat cepat melesat. Meninggalkan rencana-rencana yang tersusun rapi di kepala saya. Termasuk soal menyusun krispi, ah, skripsi. Yah, saya sudah  seharusnya berani menyebutnya demikian sebagaimana berani mempertaruhkan perasaan. Lamat-lamat, titik alasan atas itu pun meninggalkan saya...

Di kampus, saya banyak menemui teman-teman seangkatan yang sudah mulai menyusun penelitiannya masing-masing. Tak jarang bertemu pula dengan teman lainnya yang sudah menyelesaikan studinya. Di kampus, mereka tinggal menyelesaikan proses administrasinya saja. Dan saya? Sambil rajin-rajinnya kuliah, sejujurnya judul untuk skripsi yang saya canangkan di kepala gugur satu persatu.

"Untuk saat ini, tidak perlu judul-judul ideal seperti yang kau katakan itu. Cukup yang sederhana saja," ujar salah seorang teman yang saat ini sementara menyelesaikan proses penelitiannya.

Hm, selain simple, saya juga mesti memikirkan budget yang tepat di tengah kondisi keluarga saya sekarang, bukan?

Bertemu dengan teman-teman yang telah menyelesaikan kuliah membuat saya semakin dikejar waktu. Padahal secepat apapun kita, manusia, takkan pernah menyaingi percepatan atas alur waktu itu sendiri. Dan lagi, demi mengapresiasi, basa-basi menyampaikan selamat adalah hal lumrah, meskipun bukan teman-teman sekelas saya dulu.

"Cepat selesai karena dia sudah dapat calonnya. Tinggal tunggu menikah saja tuh dia..." guyon salah seorang teman yang masih sama nasibnya dengan saya kepada teman yang telah selesai itu.

Hm...berbahagialah ia. Seandainya menikah itu semudah di buku-buku yang saya baca; cukup kiai atau penghulu dan wali, dinikahkan di masjid, sah, mungkin sudah lama pinangan saya tertambat pada seseorang. Hanya saja, adat dan budaya serta kebiasaan mengikat kita secara tak kasat mata. Kata ibu, carilah kerja yang baik dulu, sebaik kau akan mengayomi anak gadis orang.

Teman saya itu, telah menyelesaikan studinya. Padahal saya masih mengingat bagaimana pertama kalinya saya bertemu di waktu-waktu maba dulu. Masa botak.

Nyaris setiap hari kami selalu pulang bersama. Saya yang menunjukkan jalan pulang untuknya. Kebetulan, rumah kost kami hanya berjarak satu nomor kompleks. Saya mengetahuinya dari hasil "Sok Kenal" semasa ospek dulu. Apalagi karena disatukan rasa "senasib" di kampus yang masih terasa asing bagi kami.

"Ayo, pulangnya sama-sama ya," tutur saya seolah-olah akan memimpin jalan. Padahal, belakangan kami baru tahu, jalan yang selama ini kami tempuh merupakan jalan memutar dibanding melalui jalan pintasnya. Ckck...

Saya mengilas satu-satu proses pertemuan saya dengan teman-teman dulu. Sekelas saya kebanyakan telah menyelesaikan studinya. Tersisa beberapa orang saja, yang memang tergolong aktif di lembaga kemahasiswaan kampus, masih sibuk menjalin rasa senasib-sepenanggungannya. Hm...terkadang agak sulit memang menyeimbangkan pikiran yang beragam. Saking terpilin-pilinnya, kita butuh waktu untuk menyegarkan mental, meski sekadar keluar dari rutinitas harian.

Seperti kemarin, saat saya memutuskan ikut saja dengan teman-teman untuk bersantai di Mekdi.
"Ayo, ayo. Sekali-kali bolehlah. Yang penting saya ditraktir ya..." ujar saya cengar-cengir. Toh, saya benar-benar ditraktir. Hahaha...

Karena mengajak orang yang spesial bagi saya belakangan ini sangat sulit, sesulit mengubah pola pikirnya yang mungkin masih bercabang-cabang. Padahal, saya berharap bisa menghabiskan waktu berdua, sedikit menenteramkan pikiran dan perasaan saya. Just with her. Terkadang cukup memandangi senyum dan melihatnya merajuk sedikit menyenangkan saya.

Jujur sih, makan junk-food burger adalah pengalaman pertama bagi saya. Bahkan nongkrong di Mekdi pun adalah hal langka bagi saya. Tak perlu heran ketika betapa noraknya saya (dan teman) bertanya-tanya cara makan ini, makan itu.

"Ini cara makannya pake saos atau ndak? Langsung dicelup begitu saja ya? Kapan dimakannya? Harganya berapaan sih" Pertanyaan-pertanyaan yang bakal membuat orang menepuk jidat.

Setidaknya bersantai dari sore hari hingga lepas Isya bisa sedikit melepaskan penat saya. Menghindarkan saya dari berpikir sendirian. Saya mempelajari dan mengalaminya. Sendirian, cenderung banyak menenggelamkan kita ke alam-alam dramatisasi pikiran sendiri. Kerap kali kita sulit muncul lagi ke permukaan.

Selepas itu, saya akan kembali menyibukkan diri demi membunuh kerinduan yang tak berbalik. Perihal skripsi, saya masih akan tetap mengusahakannya. Tak perlu heran menjadikanmu alasan. Apalagi target-target di kepala seharusnya mampu diselesaikan tepat waktu. Keluarga juga menginginkan hal itu.

Melihat beberapa keadaan, saya tahu orang yang ditunggunya akan kembali. Entah kembali untuknya, atau sekadar kembali. Ia punya hak untuk menentukan pilihan, seperti hati yang selalu ia simpan, jauh sebelum saya mengenalnya.


--Imam Rahmanto--

Ps: Karena tak ingin meninggalkan "rumah" ini, saya mengigau saja. Toh, apa yang saya tuliskan kini masih bisa menjadi rekaman atas jejak yang pernah saya lalui.

Minggu, 23 Maret 2014

Jambu Biji

Maret 23, 2014
Ini masih sekitar 3 minggu-an yang lalu. Saking senang kare-
na buahnya yang matang, saya jadi lupa mengabadikannya.
(Foto: Iam)
Pagi-pagi benar ketika mata saya tiba-tiba terantuk pada buah jambu biji di sebelah rumah saya. Saya baru sadar, buahnya sudah matang dan siap dipetik. Sembari menyelesaikan wudhu dan menanamkan di kepala saya: harus-memetiknya, saya bergegas menunaikan Shalat Subuh yang ketinggalan sejam. Hahaha

Setelah menyeruput sedikit teh-sedikit-susu racikan sendiri, saya segera turun dari rumah dan memilah satu-satu sasaran jambu yang ingin saya petik.

“Jelek, Kak. Buah jambu itu ada ulatnya,” Adik perempuan saya yang baru bangun menimpali aktivitas saya  pagi itu. Ia mencuci mukanya.

Saya tidak mempedulikannya. Buah jambu sebesar dan sematang itu seharusnya sudah pantas untuk dimakan. Warna hijau mudanya menunjukkan bahwa ia siap “dikorbankan”. Akh, dasar saya memang yang lagi kurang kerjaan. 

“Ambil dari bawah saja, Kak, atau manjat sekalian,” usulnya lagi, meskipun sesekali masih tetap memperingati saya.

“Kalau yang itu besar-besar tapi banyak ulatnya. Ada tempatku disana bagus jambunya. Biar kecil tapi dijamin tidak ada ulatnya. Kemarin saya sama teman-teman panen jambu disana,” ujarnya lagi sambil ketawa-ketawa. Anak satu ini, suka nimbrung di setiap aktivitas-kurang-kerjaan saya. Namanya juga adik yang kangen dengan kakaknya. Hehe..

Saya sudah berada di atas pohon yang tingginya tidak lebih dari 4 meter. Permukaannya licin, tapi kuat menopang berat badan saya. Saya jadi ingat semasa kecil dulu. Saking kuatnya kayu pohon seperti ini, kami sering berburu kayunya yang membentuk huruf “Y” hanya untuk dibuat kerangka ketapel. 

Saya melemparkan satu-dua buah ke arah adik saya yang sudah siap menerimanya. Hap! Beberapa jambu sudah agak lunak ketika ditekan dengan ujung jari. “Ini tandanya sudah matang sekali, wajar kalau ada ulatnya,” umpat saya dalam hati.

“Awas loh, Kak, ketahuan orang yang punya,” timpalnya lagi. Semasa kecil saya juga bersama teman-teman kerap kali melempari buah mangga di kebun orang. Kalau jatuh, sudah menjadi hak milik kami. Hahaha…

Karena penasaran dengan kata adik saya, maka saya membelah salah satu jambu biji itu dengan pisau. Alamak! Benar juga kata adik saya. Beberapa jambu biji, apalagi yang sangat lunak kulitnya, digeliati ulat-ulat kecil. Saya jadi jijik memakannya. Tapi, beberapa jambu lainnya masih baik-baik saja.

***

Saya mendapati diri lagi berada di rumah. Benar-benar di rumah. Kemarin, saya memutuskan untuk sementara waktu menjenguk ayah yang masih terbaring sakit di rumah. Apalagi rutinitas bulanan menerbitkan tabloid untuk sementara sudah saya jalankan. Yah, menanti jelang terbit berikutnya…. #fiuhh

Sembari mengingat-ingat beberapa hal yang berlalu dan yang akan datang, saya duduk sendirian di depan teras rumah. Yah, seperti biasa, menikmati secangkir teh panas pagi hari. Di tempat ini, sangat sulit menemukan cappuccino, bahkan sekadar sachet-an. Sedikit berekspresi, saya memanfaatkan bahan yang ada saja; susu kaleng, teh celup, air panas. Yo wis lah…

Meskipun kehadiran saya sebentar, namun memperbaiki adalah hal utama yang ingin saya lakukan. Kepercayaan. Komunikasi. Kedekatan. Keluarga. That’s the point

Mencoba menemukan sedikit inspirasi? Bisa jadi. Merasakan hal-hal baru katanya memang bisa membuat kita menemukan banyak hal. Menurut penelitian, mencoba hal-hal baru akan memberikan satu saraf sambungan baru di saraf-saraf otak. Semakin banyak percabangan saraf di otak, orang akan semakin kreatif. Oleh karena itu, untuk menjadi orang kreatif katanya harus banyak mencoba hal-hal baru.

***

Seharian di rumah, saya juga sedikit demi sedikit harus menggantikan peran ayah. Semenjak ayah divonis dengan penyakitnya itu, saya juga harus mulai memikirkan bagaimana menjadi anak pertama yang baik. Pun, sebagai seorang laki-laki kedua setelah ayah dalam keluarga kami.

Adik perempuan saya sedang mengerjakan produksinya. Haha...wajah pelaku disamarkan atas permintaan pelaku.
(Foto: Iam)
Setiap pulang ke rumah, saya biasanya akan mencari pekerjaan-pekerjaan yang bisa menggantikan ayah. Membuat pelita untuk keperluan pekerjaan sampingan ibu saya. Pelita? Haha…sederhananya alat penerangan untuk padam listrik. Akan tetapi, untuk ibu saya, lilin atau pelita biasanya juga digunakan untuk melaminating manual (entah apa namanya) bungkusan plastik rempeyek dan kerupuk jualannya. Itu loh dengan membakar tipis-tipis tepi bungkusannya hingga melengket satu sama lain. Ada yang mau pesan? Numpang promo loh… Hahahah….. 

Taraaa!! Ini hasil "keisengan" saya.
(Foto: Iam)
Yah, pekerjaan sederhana, tapi ayah saya sudah tidak bisa mengerjakannya lagi. Biarpun bukan anak Teknik, saya mencoba bereksperimen sendiri dengan bahan-bahan yang ada. Apalagi barang-barang onderdil motor dan perangkatnya banyakdisimpan ayah saya. Selain itu, saya juga lebih tenang bekerja tanpa harus “didikte”.

Saya juga menggantikan dinding dapur yang sudah lapuk. Berbekal tripleks yang disimpan ayah, mudah saja bagi saya untuk mempermaknya. Hanya memaku beberapa sisinya dan sedikit insting tukang kayu. Haha…ini semua pekerjaan “bapak-bapak” ya? -_-

Saya hanya berharap, sehari atau dua hari menghabiskan waktu disini untuk meringankan beban ibu dan adik saya. Meskipun ujung-ujungnya, ibu atau ayah terkadang keceplosan menceritakan teman-teman sebaya saya yang kini sudah melepas status mahasiswanya.

“Si A, anaknya Haji B, katanya sudah diwisuda.”

“Itu yang temanmu, orang blablabla, katanya juga sudah diwisuda baru-baru,”

Kalau sudah begitu saya hanya bisa menjawab dengan memendam kesal, “Habis wisuda juga belum tentu dapat kerja, masih harus nyari kan mereka dulu.”

Akh, saya tiba-tiba teringat gurauan salah seorang kakak senior saya.

“Kalian kira kalau kita sudah lulus kuliah kehidupan langsung gampang ya? Langsung kerja? haha…justru mereka yang sudah lulus itu yang pusing tujuh keliling. Sebagiannya pasti melanjutkan S2 sebagai pelarian untuk sementara ketimbang harus menerima label ‘pengangguran’,” ungkapnya.

Tuhan, semoga selepas kuliah nanti saya bisa langsung memperoleh pekerjaan yang memang sesuai dengan passion saya ya.. Tapi, eh, kalau mau dikasih “rezeki” sebelum saya menyelesaikan studi, ya gak apa-apa juga. Hehe… ^_^.V

***

Adik saya kemudian menyetorkan beberapa jambu biji ukuran kecil. Hanya seukuran bola pimpong.

“Ini loh, Kak. Isinya putih, tapi sudah matang. Biar kecil-kecil juga…” Susah payah ia tadi berlari-lari ke arah belakang rumah dan mengajak anak tetangga untuk mengambil jambu biji yang ia ceritakan. Menyenangkan juga melihat adik saya tanpa malu atau segan mengajak anak tetangga yang disabilitas bermain bersamanya.

“Dijamin tidak ada ulatnya,” ujarnya lagi menemani saya pagi itu di beranda rumah. Saya mengambil jambu yang dibawanya.

Saya menikmati momen-momen seperti itu lagi. Duduk di depan teras rumah, melihat kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Tidak lantas menghitungnya satu-satu. Hanya mencermatinya. Menghabiskan waktu, merenungi banyak hal. Tentu saja, merencanakan pula sekian juta hal di kepala saya. Accepting and gratefully.


--Imam Rahmanto-- 

Rabu, 19 Maret 2014

Dokter

Maret 19, 2014
Saya baru teringat, dalam perjalanan melewati masa sekolah, saya dulu berkeinginan menjadi seorang dokter. Setelah dipikir-pikir, bukan sebenar-benarnya cita-cita yang saya idam-idamkan sih. Meskipun di masa kecil dulu saya justru bercita-cita sebagai polisi. Melintasnya waktu, “kehebatan” polisi dalam benak saya sebagai seorang anak kecil lamat-lamat terhapus dan tergantikan dengan realitas yang ada. Apalagi masa-masa sekolah dulu, saya dikenal sebagai anak dengan tubuh “imut-imut”nya. Huahahaha…

Beranjak menjalani masa sekolah yang lebih tinggi, SMP dan SMA, saya akhirnya mematok (atau dipatok) untuk menjadi seorang dokter.

“Biasanya kalau anak seperti Imam, mendaftar di jurusan Kedokteran saja,” obrol-obrol ringan tetangga dengan bapak atau ibu saya kerap kali.

“Kamu mendaftar di jurusan Kedokteran saja ya?” ajak banyak guru di sekolah. Mungkin dalam benak mereka, setiap anak-anak yang berprestasi sudah sewajibnya masuk jurusan-jurusan favorit di kampus-kampus elit.

Karena belum tahu banyak tentang kehidupan kampus, saya mengiyakan saja tawaran dan usulan yang diberikan guru-guru di sekolah. Apalagi, saya juga belum banyak tahu passion seperti apa yang bakal saya jalani dan geluti.

Akan tetapi, ternyata dunia telah berkonspirasi dengan begitu manisnya hingga mengubah jalur hidup saya ke arah sini. Ketika saya tak lulus di jalur “bebas tes” untuk masuk perguruan tinggi di jurusan yang mendapat julukan “jurusan sejuta umat” itu, saya juga tak lulus di tes tertulis bersaing dengan ribuan calon mahasiswa lainnya. Hanya saja, Tuhan membuka kesempatan “perjalanan” saya, lulus di pilihan kedua dalam ujian tertulis itu. Sempat, saya agak kecewa dengan hasil yang telah saya dapatkan itu. Namun melihat perjuangan teman-teman lain yang hingga menghabiskan waktu dan tenaga di bimbingan-bimbingan belajar ternama, saya jadi bersyukur karena “masih” bisa lulus dan mengenyam pendidikan di kampus sekarang.

Manusia memang tidak akan pernah bersyukur jika selalu melihat segala hal yang ada di atasnya. Melihat ke bawah adalah cara sederhana untuk bersyukur setiap waktu.

#Sebenarnya sih, ada banyak juga orang yang pastinya bernasip serupa dengan saya ya?

Nah, mengakhiri #7days7posts, saya ingin berandai-andai bilamana lulus di jurusan yang kini sudah tidak begitu menarik di benak saya itu.

Tidak tahu seperti apa saya sekarang kalau saja saya dulu lulus di jurusan yang diidam-idamkan banyak orang itu. Mungkin, saya tak lagi bisa meluangkan waktu barang beraktivitas selain kegiatan akademik. Setiap ahri saya hanya akan belajar, belajar, dan belajar. Buku-buku tebal tentang anatomi dan semacamnya bertumpuk tinggi di kamar saya. Saban hari saya mungkin harus menghafalnya, agar tidak ketinggalan dengan teman-teman “pintar” lainnya.

Saya jadi mengingat-ingat seorang kakak dari teman saya. Ketika dulu saya menginap di rumah kostnya, kesempatan untuk menemani kami sekadar ngobrol atau urusan lainnya sama sekali tidak ada. Ia sibuk sendiri dengan buku tebal dan hafalannya. Saya jadi agak risih dengan jurusan itu kalau mengingat-ingat bakal jadi orang anti-sosial. 

Kemungkinannya, saya juga tidak akan bertemu dengan passion saya sekarang: menulis. Saya tidak akan memiliki banyak teman seperti sekarang. Pastinya, #Ben10 tidak ada. Apa yang saya jalani sekarang, segala kerumitan dan kebahagiaannya, tentunya akan menjadi hal berbeda kalau saya harus benar-benar lulus di jurusan calon dokter itu. Yah, meskipun terkadang muncul suara-suara lain dalam kepala saya, “jangan-jangan kehidupan saya disana lebih baik ketimbang sekarang.” Tak ada yang menjamin.

Saya selalu percaya, Tuhan mengabulkan doa kita lewat hal-hal yang diberikan-Nya sebagai sesuatu yang kita butuhkan. Semau apapun kita terhadap sesuatu, kalau Tuhan tidak mau, ya tidak akan mungkin bisa terwujud. Akan tetapi, Tuhan selalu tahu yang terbaik bagi kita.

Semenjak saya mendapatkan pengalaman di lembaga jurnalistik yang membesarkan saya sekarang, saya jadi tahu seperti apa rasanya menikmati hidup. Saya jadi tahu juga seperti apa rumitnya pikiran-pikiran. Rumitnya berkeluh kesah. Saya lantas tidak pernah menginginkan lagi jurusan yang pernah terpatok di kepala saya itu. Sejelas-jelas tidak ada penyesalan.

Kini, setiap ada adik-adik yang mengidamkan jurusan itu, terkadang saya agak prihatin. Sebagian besar dari mereka nampaknya hanya menjadi korban “obrol-obrol” tetangga di kampung. Mungkin, jauh dalam lubuk hati, mereka punya cita-cita yang jauh lebih baik, yang jauh lebih membuat mereka bahagia. Hanya saja, pengaruh orang tua dan lingkungan terkadang membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangan orang tentang dokter adalah profesi paling “mulia” sudah terlanjur melekat dan sulit diubah. Kita anak muda akan selalu dianggap anak kecil oleh para orang tua. Ada pandangan yang mesti diubah dan diluruskan.

Nah, seandainya menjadi dokter, saya bukan siapa-siapa. Saya lebih suka menjadi seperti sekarang, karena #Menjadi jurnalis itu hebat!


--Imam Rahmanto--

Selasa, 18 Maret 2014

(Tak) Menjadi Seperti Ayah

Maret 18, 2014
Hei, Dian, Dewie, Ai... Biar #7days7posts kita sudah berakhir, saya masih merasa berhutang 2 postingan di kepala. Saya tak ingin konsep di kepala ini hanya mengendap untuk berlalu lantas terlupakan. Sungguh sayang, bukan? Oleh karena itu, ketimbang melesap saja di kepala, maka saya tuangkan seperlunya lewat tulisan-tulisan ini. Di samping, saya pun tipe-tipe orang yang akan menyelesaikan apa yang mesti saya selesaikan. Menyelesaikan setiap janji yang pernah hinggap di kelingking saya. ;) Cekidot.

Apa yang akan kita ketahui dari dunia ini? Apa saja yang hendak diberitahu oleh dunia dan ingin kita ketahui.

Siapapun pernah menyadari bahwa kehidupannya sekarang adalah bentuk refleksi dari kehidupan kedua orang tuanya dulu. Dalam darah kita masing-masing, selalu ada elemen-elemen yang berasal dari ayah atau ibu kita. Baik berwujud maupun abstrak. Rambut. Hidung. Kulit. Bibir. Sikap. Perilaku. Kebiasaan. Pembawaan.

Saya banyak mempelajarinya. Heh, apalagi setelah melewati sedikit "pembangkangan" yang membuat saya menyadari hakikat sebagai seorang anak. Sesalah apapun orang tua, ada celah diantaranya yang menginginkan kita berbuat benar. Caranya saja yang terkadang salah, bukan esensinya.

Sebagai seorang lelaki, tentu saja kelak saya akan menjadi seorang ayah juga. Mempelajari hal-hal yang pernah diajarkan ayah, membuang keburukan yang diturunkan adalah cara menjadi ayah yang baik.

Your father...... (Sumber: google.com)
Kelak, saya adalah seorang ayah yang tak ingin membunuh diri dengan merokok. Pun, di tengah keluarga, saya tidak akan membiarkan siapapun merokok sebebasnya. Rumah saya adalah rumah tanpa asap rokok, alami, dan bernuansa terbuka dinaungi rerindang pepohonan di halaman rumah. Soal merokok itu, saya mempelajarinya dari seorang ayah yang perokok, yang sewaktu kecil saya setiap hari disuruhnya membeli sebungkus rokok.

"Belikan Pa'e rokok," suruh ayah saya kerap kali. Saya senang saja karena bakal mendapat uang tip dari hasil beli rokok itu, barang seribu atau dua ribu rupiah. Tapi, semakin saya dewasa, saya menyadari, ada pengaruh psikologis fan kesehatan pada setiap orang yang mencandui rokok.

Kelak, saya akan memenuhi rumah saya dengan bacaan-bacaan untuk anak-anak saya. Sedari kecil saya ingin membiasakan mereka membaca. Mungkin, di rumah akan ada perpustakaan kecil yang penuh dengan buku-buku menarik. Cerita bergambar. Novel. Komik. Motivasi. Islami. Terkecuali buku pelajaran. Itu 10 persen saja. Haha.. Siapa saja boleh berkunjung ke rumah sekadar untuk membaca.

Ayah saya, agak risih sebenarnya melihat kebiasaan membaca saya. Ia berpikir, orang yang menghabiskan waktunya hanya membaca tidak akan banyak mendapat pengalaman real atas hidupnya. Bacaan hanya teori. Beraktivitas di luar adalah sebenar prakteknya.

"Membaca terus. Mending kau kerja sesuatu yang berguna," ujarnya. Padahal, tanpa ayah tahu, saya sedang memandang dan mengunjungi dunia lewat membaca.

Karena berharap menjadi seorang ayah yang juga penulis, maka saya akan mendukung minat baca anak-anak saya. Keluarga saya adalah pembaca pertama saya. Oiya, saya juga akan menekankan mereka untuk gemar menulis. Mengabadikan setiap momen kehidupan mereka dalam tulisan. Tidak melulu facebook, twitter, atau sosmed.

Kelak, saya juga akan selalu mendongengkan anak-anak saya sebelum tidur. Perlahan memberikan karakter dan pembelajaran lewat cerita-cerita fiksi saya. Hingga suatu kali ketika mereka merindukan saya yang sedang sibuk menyelesaikan urusan jurnalistik, mereka akan bertanya, "Ayah, kapan lagi ada waktunya buat bercerita sebelum tidur? Kami kangen cerita-ceritanya ayah.

(Sumber: cokesbury.com)
Dari hubungan demikian, saya berharap bisa membangun kedekatan dengan anak-anak saya. Tanpa dinding. Tanpa jarak. Bahkan, anak saya bebas curhat tentang orang yang disukainya.

Setiap pekan, saya ingin membagi waktu dengan keluarga saya. Sekadar memilah quality time dengan istri dan anak-anak saya. Setidaknya, sembari menertawakan diri dan kelucuan anak-akan saya. Tak lupa istri saya akan menghidangkan makanan-makanan buatannya dengan segelas Cappuccino buat saya. Mm...anak-anak saya juga boleh menyukai Cappuccino seperti halnya saya.

Kelak, saya akan menjadi ayah yang menyayangi istrinya. Ayah yang mempercayai keteguhan hati ibu dari anak-anaknya. Sedikitpun, saya tak ingin melintaskan di benak saya untuk menyakiti hati wanita kesayangan saya. Apalagi sampai memukulnya. Cukuplah saya yang merasakan bagaimana sedihnya semasa kecil melihat orang tua kerap bertengkar. Bagaimana seorang ayah kerap menampar istrinya. Bagaimana ayah kerap memukul dan memaki istrinya. Kelak, semoga perempuan yang menyayangi saya juga bisa selalu menjaga hatinya seberapa sering pun saya berbuat salah.

Saya ingin menjaga anak-anak saya agar tidak merasai perpisahan kedua orang tuanya. Tidak merasai doa-doa untuk kedua orang tuanya yang dipanjatkan dengan air mata, "Tuhan, jangan biarkan ayah dan ibuku berpisah, ya Tuhan."

Hm...saya ingin menjadi ayah yang baik. Intinya menjadi ayah yang baik, jikalau Tuhan menggenapkan waktu dan kesehatan untuk dijalani...

#karena setiap laki-laki akan menjadi seorang ayah.


--Imam Rahmanto--

Minggu, 16 Maret 2014

Me, The Hero!

Maret 16, 2014
Khayalan, imajinasi, setinggi ia membumbung memberikanmu pengharapan tiada batas.

Saya pernah kecil. Pernah berkhayal. Seringkali malah. Apalagi kehidupan masa kecil saya selalu diwarnai dengan tontonan-tontonan anak kecil yang dulu masih marak. Berbeda sekali dengan sekarang, yang hari Minggunya hanya diisi dengan tontonan acara musik tidak berguna, membodohi penonton-penontonnya. Presenternya juga rela kelihatan bodoh demi meraih segepok uang honornya.

Tidak ada lagi film Chibi Maruko-chan, P-Man, Ninja Hattori, Digimon, Crayon Shincan, Power Ranger, Inuyasha, Beyblade, Let’s and Go (Tamiya), Ranma ½, Crush Gear, Gundam, One Piece,  dan semacamnya. Kini kita lebih sering menyaksikan goyangan-goyangan di atas panggung ketimbang film-fil animasi keluaran Jepang itu. Anak-anak zaman kini diajar untuk lebih cepat dewasa. Dewasa prematur atau istilah kerennya, dewasa “karbitan”.

Coba saja tanyakan kepada anak-anak kecil zaman sekarang, judul lagu apa yang mereka tahu? Siapa artis yang mereka tahu? Jawabannya memang beragam, tapi genre-nya tetap sama; lagu orang gede.


Anak zaman sekarang tidak tahu lagu-lagu anak kecil. Ckck...

Oiya, saya bukannya mau berbicara tentang film-film kartun itu. Hanya saja, dimandikan dengan film-film semacam itu membuat saya banyak berkhayal. Saya banyak berimajinasi tentang menjadi superhero. Ya, Superhero. :D Kadang-kadang menjadi Power Ranger, Ultraman, X-Men, Batman, Superman, Spiderman. Haha…

Kadang, di masa kecil, di masa-masa pengkhayalan akut, saya sangat keras berpikir,

“Kenapa orang-orang yang punya kemampuan khusus seperti itu selalu berpikir untuk tidak diketahui identitasnya? Seperti kebanyakan Superheroes, mereka selalu menutupi identitas mereka dengan topeng. Padahal kan enak punya kekuatan begituan.”

Saya kerap kali berkhayal tentang seseorang yang punya kelebihan, kekuatan super. Layaknya para mutan di X-Men. Seakan-akan bertanya pada diri sendiri, kekuatan seperti apa yang saya inginkan jika Tuhan menganugerahkan kekuatan seperti itu kepada saya? Kala itu, saya akan menjawab dengan lantangnya; kekuatan telekinesis. Sejauh ini, saya belum tahu nama apa yang hendak disematkan pada saya yang berkekuatan super memindahkan barang tanpa perlu menyentuhnya itu. Saya juga tidak tahu kostum seperti apa yang seharusnya saya kenakan biar kelihatan keren. Wow!

Bagi yang belum tahu seperti apa kekuatan telekinesis itu, coba nonton serial film Heroes. Ada 4 season. Namun, menurut kabar yang saya dapatkan, Heroes 2 akan muncul juga. Di dalamnya, ada tokoh antagonis Sylar yang memiliki kemampuan original; memperbaiki barang-barang rusak. Akan tetapi, karena haus akan kekuatan, maka ia membunuh satu persatu orang dengan kemampuan khusus, dan memeriksa mekanisme kerja kekuatannya lewat memotong batok kepala orang yang diincarnya.

Kekuatan pertama yang ia dapatkan adalah kekuatan telekinesis. Bahkan dalam beberapa kesempatan melawan tokoh protagonis, Peter, ia kerap kali menggunakan kekuatan telekinesisnya itu. Menggantung orang di langit-langit ruangan. Mementalkan lawannya. Menempelkan orang lain ke dinding. Hingga memotong batok kepala orang.

Atau tokoh Jean di film X-Men, yang mempunyai kekuatan super telekinesis. Magneto, iron telekinesis, saja kewalahan olehnya.

Telekinesis or pshycokinesis is the power to move something by thinking about it without the application of physical force

(Sumber: googling)
Nah, saya selalu berkhayal suatu waktu tiba-tiba saja punya kekuatan super itu. Atau di lain kesempatan, ketika tokoh jahat datang, di sekolah, saya menjadi lakon pemberani yang menantang kekejaman mereka, meskipun tanpa kekuatan apapun. Akan tetapi, di tengah kekalahan saya melawan musuh-musuh berkekuatan super juga, mendadak sebuah cahaya sepaket dengan halilintar menyambar saya dan memberikan kekuatan yang tanpa sadar saya gunakan saat itu juga.

Dalam kehidupan imajinasi saya itu, ternyata ada beberapa orang pula yang memiliki kemampuan khusus seperti saya. Ada yang mampu mewujudkan api. Ada yang mampu mengendalikan air dimana saja. Ada yang mampu berlari dengan kekuatan super cepat. Ada yang hanya bisa terbang. Ada yang mampu menyerap kekuatan binatang, dan menggunakannya berkali-kali lipat dibanding kekuatan hewan aslinya. Ada yang mampu mengeluarkan sinar laser dari matanya. Ada yang mampu menyembuhkan luka orang lain. Ada yang mampu membaca pikiran, sebagai pendeteksi pula. Ada yang mampu mewujudkan angin. Ada yang mampu mewujudkan senjata apa saja lewat benda yang disentuhnya.

Mereka, para pemilik kemampuan khusus itu, tersebar di seluruh wilayah nusantara. Setelah, pertarungan pertama itu, saya menjadi pokok perbincangan di sekolah. Namun orang-orang tidak menganggap kekuatan itu benar-benar origin dari saya. Pasalnya, di tengah pertarungan itu, saya tidak nampak seperti biasanya. Layaknya Super Saiya, rambut saya berdiri. Di sekeliling saya muncul gelombang-gelombang kekuatan. Selepas pertarungan, saya pun tak sadarkan diri.

Karena merasa ada yang telah berubah pada diri saya, maka saya mencari tahu. Melompat ke beberapa hari berikutnya, saya terlibat pertarungan tak disengaja lagi. Saya bertemu dengan orang iseng yang menggunakan kemampuannya untuk menjahili orang lain. Ia menguasai kemampuan mengendalikan udara di sekitarnya. Saya bertarung dengannya. Saya baru menyadari ternyata da orang yang punya kekuatan seperti saya.

Meskipun kami berduel, pada akhirnya kami bekerja sama, dan ia memperkenalkan saya pada beberapa orang lainnya yang punya kemampuan khusus. Dari orang yang mampu membaca pikiran orang lain, kami mendeteksi orang-orang lainnya. Kami membentuk sebuah kekuatan lebih besar guna menumpas kejahatan dari orang-orang yang ingin menyalahgunakan kekuatan itu.

Sekilas, imajinasi saya layaknya anak-anak yang memang masih gemar menonton Power Ranger. Lah, maklum saja. Saya masih mengonsumsi film-film masa kecil. Pikiran saya memang belum waktunya berpikir hal-hal sulit. Selain itu, asumsi saya, orang yang sering berkhayal di masa kecilnya nampaknya punya kesempatan yang bagus dalam pekerjaannya di masa depan. Einstein, Bapak Fisika yang gila, menekankan bahwa

imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan,

Dan di masa-masa kecil dulu adalah gudang kita berimajinasi. Di waktu dewasa kini, adalah lahan kita untuk mewujudkannya.Orang dewasa tidak dilarang untuk berkhayal, berimajinasi. Bahkan, tak perlu heran kalau kita masih banyak menemukan orang-orang dewasa di bangku kuliah yang masih gemar menonton film kartun Naruto, One Piece, atau Bleach. Konsumsi imajinasi seperti itu, selain memperkaya ide, juga meringankan beban kepala. Bayangkan saja kalau setiap hari kita hanya disodorkan hal-hal realistis, bisa jadi orang kaku sekaku-kakunya kita. Hahaha….

Terlepas dari itu, siapapun bebas berimajinasi, mau tua, anak kecil, laki-laki, perempuan, asalkan tidak kebablasan. So, ingin jadi apa kita sewaktu kecil?

Sekarang, ketika ditanya ingin menjadi Superhero apa selain Batman, Iron Man, Superman, Spiderman, maka saya lebih memilih menjadi YOURMAN ….. ^_^.b


--Imam Rahmanto--

Kamis, 13 Maret 2014

Ingatkan, Saya Alarm!

Maret 13, 2014
Ingatkan saya untuk menjadi orang sebaik keinginan, mencapai setiap rencana, dan berjalan di alur yang seharusnya seorang "Saya" lakukan.

Saya agak kesal dengan tingkah beberapa orang teman saya, sebenarnya. Beberapa kali short message yang saya kirimkan tidak berbalas. Telepon yang saya udarakan tidak dijawab meski sekadar "Halo". Sejak kemarin. Keadaan seperti ini yang tak pelak membuat seseorang berpikir tidak.baik dan tidak jernih. Apa saya semenakutkan itu ya, sampai-sampai beberapa tak berani menampakkan batang hidunhgnya di hadapan saya?

"Come on! Kalian sudah dewasa, dan seharusnya tahu cara menyikapi sesuatu secara dewasa. Bukan justru dengan melarikan ataupun meninggalkannya sementara waktu."

Tekanan menjelang deadline memang senantiasa terjadi. Padahal semestinya semenjak sebelum deadline menggerogoti, saya sudah bekerja layaknya tukang tagih berita, bukan? Maaf, karena saya terkadang melupakan banyak hal, beragam hal bergantian mengisi batok kepala. Setiap dari kita seharusnya memang saling mengingatkan.

Kalau sudah banyak hal yang saya lupakan, saya mendadak berharap saja bisa menjadi sebuah alarm. Alarm, ia mengingat apa saja. Sedetail mungkin, ia akan berbunyi dan mengingatkan tanpa pernah mengeluh. Ia ingat segalanya. Berhitung hari, jam, menit, dan detik, bahkan sampai jadwal yang diatur sampai tahun kesekian pasti diingatnya.

Tapi...secara tak kasat mata, bukannya saya selama ini sudah menjadi alarm bagi pewarta lainnya ya? -_-

Ingatkan saya...

Menjadi alarm nampaknya akan selalu mendengar kata-kata itu, baik yang hanya dilafalkan dalam hati maupun mereka yang melafalkannya dengan pasti.

Ingatkan saya...

Setiap orang memanfaatkannya. Setiap benda menginginkannya terpasang sebagai pelengkap. Termasuk perangkat-perangkat canggih zaman kini, butuh "pengingat" bagi tuannya.

Akh, seandainya bisa saja kita beralih menjadi alarm, sekadar mempertajam ingatan dan refleks memory. Saya tak butuh lagi perangkat "pengingat" lainnya. Saya cukup menyetelnya di kepala, sampai suatu waktu, meski telah lupa, diingatkan kembali dengan melintaskannya lewat list memory.

Menjadi alarm "hidup" seharusnya bisa mengingatkan banyak hal pula. Tentu, tidak hanya sebatas agenda-agenda kegiatan, melainkan hal-hal yang kita berharap selalu dingatkan, setiap waktu. Mungkin saja lewat menjadi "alarm" kita tak akan mengenal istilah malas lagi.

Ingatkan saya untuk belajar banyak hal.

Ingatkan saya untuk menjadi pemimpin yang baik.

Ingatkan saya untuk banyak mempercayai.

Ingtkan saya untuk berpuasa Senin-Kamis.

Ingatkan saya untuk bekerja lebih giat.

Ingatkan saya untuk tak menunda-nunda sesuatu.

Ingatkan saya untuk melunasi janji.

Ingatkan saya untuk selalu tersenyum TING!

Ingatkan saya untuk mengingat keluarga. 

Ingatkan saya untuk menyelesaikan studi.

Ingatkan saya untuk berjalan lebih banyak.

Ingatkan saya untuk selalu berterima kasih.

Ingatkan saya untuk selalu mengingatkan...

***

Saya punya alarm yang disetel sampai 5 kali dengan bunyi yang berbeda-beda di handphone. Terkadang, bunyi-bunyiannya di pagi hari menjengkelkan orang-orang yang sudah terjaga. Pemiliknya sendiri, baru bisa bangun ketika ia baru menyadari ada banyak alarm yang telah berdering di jam-jam tertentu, ketinggalan momen berbunyinya.


--Imam Rahmanto--

Kelak, Berkeliling ala Backpacking

Maret 13, 2014
Karena saya senang berjalan kaki, merasai setiap momen orang-orang yang bertemu dengan saya, maka kelak saya bermimpi pula bisa mengelilingi banyak tempat dengan backpacking. Serius loh, saya paling senang berjalan kaki.

Haha...pantas saja salah seorang teman perempuan kapok ngekor menjalankan peliputan dengan saya. Bagaimana tidak, saya lebih senang mengarungi kampus dengan berjalan kaki.

"Astaga, Kak. Lihat ini kakiku masih sakit gara-gara ikut kemarin kesana kemari keliling kampus. Naik turun tangga lagi," keluhnya diselingi canda. Salah sendiri ikut saya.

Sampai seorang teman lelaki pun harus ngos-ngosan jika menemani saya berkeliling kampus demi menunaikan tugas peliputan. Meskipun tak disampaikannya, dari raut wajah dan irama napasnya sehabis naik-turun tangga ke lantai 6 Menara Pinisi tampak jelas kelelahan. Hanya karena ia bawahan dan adik junior, ia tak berani mengeluhkannya langsung.

"Capek ya?" tanya saya sedikit tersenyum mengejek.

Sambil sedikit cengengesan, ia menjawab singkat, "Iya, Kak."

"Kalau ikut saya, konsekuensi dan resikonya memang begitu. Saya memang tipe-tipe pejalan kaki," sembari menertawakan wajah kelelahannya. Sedikit-sedikit ia meminta istirahat. Hahaha...maklum, sejak kecil saya dibiasakan pulang-pergi sekolah dengan berjalan kaki. Paling jauh 2 kilometer-an.

Yah, sudah hampir setahun saya mengenal pula istilah backpacking dari dunia maya maupun cerita teman-teman saya. Bahkan, satu, dua orang teman saya yang telah menyelesaikan kuliahnya sudah lebih dulu mengunjungi banyak tempat dengan hanya bermodalkan ransel atau backpack. Saya jadi iri ketika ia berkali-kali memposting foto-fotonya di daerah destinasinya. Ada ala selfie. Ada ala skenario. Ada ala banyak. Hah??

Teman saya yang lain malah menabung cita-citanya hingga tahun depan. Lebih ekstrem, ia bahkan menasbihkan diri bakal mengunjungi separuh daratan Asia, sampai jazirah Arab. Ia, kini banyak membekali diri dengan bacaan-bacaan Traveling. Tak terlepas pula dari bekerja paruh waktu mengumpulkan sejumlah uang. Sesering mungkin ia mengecek penerbangan promo pula dari sejumlah destinasinya di luar negeri. Kalau ketemu yang cocok, langsung dipesannya meski harus menunggu hingga tahun mendatang. Luar biasa. Saya kagun dengan rencana matangnya.

Sejak lama, saya memang ingin mengunjungi banyak tempat. Merasainya satu-satu. Berharap saja ada momen-momen yang mampu dituliskan dan dibagi untuk orang lain. Karena menulis adalah pekerjaan membagikan "sesuatu" kepada orang lain. Mengabadikan. Membekukan.

"Ayo, menabung dari sekarang, supaya suatu waktu nanti kita meluangkan waktu untuk backpacking berdua saja kemana gitu. Ke Lombok, ke Bali, atau kemana saja," Saya sangat senang dan trenyuh mendengarnya. Semoga saja, janji saya (dan dia), bisa ditunaikan di waktu yang tepat.

Melakukan perjalanan ala bacpacker memang menjadi salah satu impian saya. Apalagi berdua dengan orang yang disayangi. Sejujurnya, saya memang mengidamkan seseorang yang bakal bersedia mengikuti saya kemana saja, Indonesia, maupun hingga ke luar negeri. Dalam kepala sudah saya tanamkan, mengunjungi banyak tempat sebelum menjalani kehidupan berkeluarga yang sesungguhnya bersama anak-anak kelak. Haha...entah seperti keseruan dan kekonyolan yang akan terjadi dalam setiap perjalanan, terlepas dari menguji rasa saling menjaga satu sama lain. Benar, sebagaimana saya ingin selalu berlama-lama dengannya.

(Sumber: forum.jalan2.com)
Melakukan perjalanan kecil saja sudah membuat saya menemukan banyak hal baru. Pernah suatu kali saya dan kedua orang teman saya harus mengarungi hampir setengah kota Jakarta demi menemukan lokasi keberadaan kakak senior kami. Disana, kami baru saja selesai mengikuti acara pelatihan jurnalistik Journalist Days di kampus Universitas Indonesia (UI).

Ia menunggui kami di kantornya, sebuah media, yang terletak di pusat kota. Berbekal kesotoy-an dan barang-barang bawaan (lengkap dengan koper salah seorang teman perempuan), kami menumpang kereta selama beberapa menit. Bertanya kesana kemari. Menghubungi nomor teleponnya. Menunggu. Dan akhirnya sampai di kantornya, yang ternyata tidak jauh dari Monumen Nasional (Monas). Padahal teman perempuan saya itu sudah mengeluh bukan main.

Meskipun senang mendengar cerita-cerita perjalanan orang lain, saya agak miris melihat teman-teman lainnya yang hanya ingin menikmati keseruan "jalan-jalan" lewat backpacking. Seharusnya lewat banyak pengalaman perjalanan itu, ada banyak hal pula yang pantas diceritakan. Ditulis. Dibagikan. Dibekukan. Dipelajari. Minimal, kenapa tidak dituliskan lewat blog?

Pun, keinginan utama saya kelak jika bisa mencapai perjalanan mengelilingi banyak tempat adalah menuliskannya. Saya senang menulis. Senang bercerita lewat tulisan. Alhasil, berharap suatu hari nanti menyimpan buku dengan tulisan-tulisan yang bisa diceritakan buat anak cucu saya kemudian. Lantas dengan bangga berkata: Ini ceritaku!


--Imam Rahmanto--

Rabu, 12 Maret 2014

8# Mustahil ya(?)

Maret 12, 2014

Hh.... izinkan saya membuang napas...

#menghela napas panjaaaaaaang

Seperti biasa, saya menjalankan r-u-t-i-n-i-t-a-s kuliah. Tak ada yang istimewa. Hanya karena seminggu yang lalu saya juga tidak mengikuti tiga mata kuliah saya dalam seminggu itu. Bukan tanpa alasan, tentunya. Saya harus menemani ayah yang sakit pulang ke Enrekang, tanah kelahiran yang bukan tanah kesukuan saya. (?)

Kepala agak berat juga dengan tabloid yang (lagi dan lagi) tak kunjung-kunjung terbit. Sampai-sampai pimpinan umum saya bertanya penyebabnya, saya hanya menjawab "tidak tahu".

"Apa sebenarnya penyebabnya? Sementara anak-anak, saya lihat sudah mengumpulkan ssbagian naskahnya, tapi tetap saja kesalahan yang serupa terulang terus tiap bulan," ujarnya dengan penekanan yang tentu saja dibuat agar emosinya tak meluap-luap pada saya, temannya, yang tidak begitu baik belajar menjadi seorang pemimpin. Saya tahu, ia menahan diri untuk tidak menampakkan emosinya kepada saya di depan teman-teman lain yang masih lebih muda dibanding kami berdua.

Kata seseorang, memang, terkadang ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya berharap, kelak manusia menemukan alat untuk saling memahami pikiran tanpa perlu berbicara.

Sedikit mengubah alur pikiran, mencoba menghadiri perkuliahan yang sejak awal sudah saya tekankan pada diri sendiri. Meski di tengah perkuliahan pun saya lebih memilih mengetik beberapa naskah, berita maupun cerita. Terkadang untuk meringankan pikiran kita juga bisa dengan menulis. Menulis saja. Apa saja.

"Berapa banyak keuntungan maksimum yang diperoleh jika memasukkan nilai titik ini?" lamat-lamat penjelasan dosen melintas di kepala saya. Sedikit-sedikit saya menghentikan aktivitas menulis itu ketika dosen mengarahkan pandangan pada posisi saya.

Pun, kemarin saya juga sudah sedikit melihat rak buku "pendidikan" di toko buku Gramedia. Sudah kali kedua saya mengunjungi toko buku itu. Kemarin karena "nebeng" ikut ke acara kunjungan media sekaligus inhouse training crew redaksi saya ke Prambors FM. Saya justru "melarikan diri" ke sekumpulan rak-rak buku di ujung mal sana.

Saya memeriksa kemungkinan buku yang bisa menjadi referensi jikalau telah mengerjakan bakal calon krispi saya. Ada banyak judul yang membuat kepala saya mengangguk-angguk. Sok mengerti, sotoy aja. Sesekali memeriksa cover dan isi bukunya. Yaah, tentu tidak luput dari mencermati barcode harganya. :P

Menghitung waktu yang bakal berlalu, krispi yang semula saya programkan pun masih belum menampakkan realitasnya. Judul yang saya himpun masih saja tersimpan di notes hape saya. Konsep yang dirumuskan pun masih mengepul di kepala saya. Ejawantahnya belum ada. Miris.

Menghitung hari, pun ini sudah menjadi hari ke-35 program #100dayS saya. Sementara, beriringan dengan akademik yang satu itu, saya masih harus menyelesaikan 5 tabloid yang tersisa. Satunya mudah-mudahan bisa terbit minggu ini atau minggu depan. Sampai teman saya sendiri sangsi kalau saya bisa memenuhi tunggakan tabloid itu hingga periode kepengurusan saya berakhir, pertengahan Juni nanti. Moga bukan tepat hari lahir saya ya? :D

Ayolah, saya butuh pengingat untuk segala hal dalam hidup saya. Mengingatkan krispi yang masih saya kerjakan dengan terseok-seok, tabloid apalagi. Sambil mengusahakannya tetap menopang satu sama lain, saya harus menyelesaikannya satu-satu. Seseorang mengatakan pada saya untuk menyelesaikannya satu-satu. Sebuah tulisan lainnya menganjurkan untuk tetap tersenyum dan tersenyum. Ayolah, sisa tiga bulan lagi, Mam. Kepala saya menyemagati diri sendiri.

Di balik prediksi teman-teman yang menganggap semuanya mustahil, saya harus tetap jalan. Ketimbang harus berdiam diri, berpikir banyak hal, yang membuat semuanya semakin kompleks. Contohi saja cara berpikir anak kecil. Lagipula, saya senang menantang kemustahilan itu, karena selalu percaya pada keajaiban... Mari percaya. #just believe it!

(Sumber: google.com)

#100dayS

--Imam Rahmanto--


Posted via Blogaway

Anak Kecil yang Sederhana

Maret 12, 2014
Dua orang anak kecil sedang berjalan beriringan di depan saya. Berseragam merah putih. Lengkap dengan topi merahnya. Keduanya berjalan pelan sembari menyicipi makanan yang baru saja dibelinya. Satu orang memegangi lengan tangan yang lainnya. Waspada, memandang jauh ke depan.

"Disini, disini mi. Jalan pelan-pelan maki dulu biar tidak ketahuan," ujar yang satunya. Matanya tetap memandang awas jauh ke depan.

"Ah, ayo kesini. Duduk disini maki saja sebentar biar tidak diliat," ujarnya lagi setelah beberapa meter berjalan dan menemukan persimpangan lorong.

Saya mengerti, dan menahan tawa memandangi kedua anak laki-laki itu. Jauh di depan sana, kerumunan teman-temannya sedang bekerja bakti membersihkan sekolah. Satu, dua orang mengeruk-ngeruk selokan. Lainnya lagi mengangkat-angkat sampah. Beberapa guru pun kelihatan mengarahkan siswa-siswa Sekolah Dasar yang berada di seberang jalan itu.

Saya meninggalkan mereka berdua.

Pagi ini, kemarin, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke redaksi. Waktu tempuh dari kost saya hanya sekitar 20 menit. Seperti biasa, saya senang merasai setiap detik dan suasana dengan berjalan kaki. Asalkan matahari tak terik. Ada banyak momen-momen yang bisa direkam mata. Ada banyak waktu bagi kepala untuk berpikir tentang banyak hal.

Lantaran mengawasi gerak-gerik kedua anak kecil itu, saya lantas berpikir betapa menyenangkannya menjadi seorang anak kecil. Seandainya waktu bisa diputar, saya kembali ingin merasai momen-momen masa kecil dulu.

Betapa menyenangkannya menjadi anak kecil. Setiap waktu, kita bisa tertawa tanpa perlu dipahami orang dewasa. Kita tak peduli orang dewasa mau ikut menertawakannya. Selama kita bisa menikmati sesuatu dengan tertawa, ya sudah, kita akan tertawa saja. Menangis, ya menangis saja.

Saya pernah menjadi anak kecil yang cengeng. Sewaktu SD, hanya gara-gara diejek teman lain bahwa gambar jelek, saya mengancamnya dengan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Tentu saja teman saya itu langsung lari tunggang-langgang.

Kalau saya cengeng, ayah justru menyuruh saya diam. Terkadang, saya iri dengan teman-teman lainnya yang senantiasa dibela ayahnya. Saya, justru disuruh ayah untuk menghentikan tangisan saya sembari berujar, "Anak laki-laki itu tak boleh menangis. Harus kuat."

Seandainya waktu bisa diputar ulang, tanpa mesti mengulang isi kepala, sepertinya menjadi anak kecil adalah hal paling menyenangkan.

Menjadi anak-anak, membuang segala hal yang rumit-rumit di kepala kita. Masa kecil ya seharusnya menjadi masa bermain. Kita masih belum dibebani beragam tanggung jawab dan kewajiban. Yang kita tahu hanya bagaimana cara bermain secara menyenangkan.

Saya membayangkan, diri saya berlarian di tanah lapang menerbangkan layangan. Mengadu ketinggiannya dengan teman-teman lain di kaki langit. Kalau kalah, berusaha mencurangi teman lainnya. Kalau layangan putus, bersama-sama mengejarnya hingga kelelahan menghampiri. Jika sudah begity, saling menyalahkan dan bergumul. Tangis memuncak bagi yang kalah dalam perkelahian. Namun, selalu saja ada maaf yang sederhana dari senyum yang dikembangkan. Usai itu, kami lupa kalau pernah bertengkar. Tertawa lagi kita, sederhana saja.

Di sekolah, berteman dengan siapa saja. Bertengkar lagi karena hal sepele. Bahkan hanya gara-gara nama kita disandingkan dengan nama teman lawan jenis. Bersungut-sungut mengajak berkelahi. Teman-teman lainnya justru menyoraki. "Ayo, ayo!" lantas bergumul lagi. Dilerai guru. Selanjutnya, saling meminta maaf karena disuruh guru. Bersalaman. Tersenyum. Tertawa. Bermain bersama, lagi. Melupakan pertengkaran yang mungkin baru beberapa jam berlalu.

Chlid(rain). (Sumber: wallsave.com)
Akh, seandainya menjadi orang dewasa sesimpel itu. Sesimpel alasan kita ketika diomeli orang tua karena berhujan-hujanan di luar.

"Sudah berapa kali dibilangi, jangan main hujan," omel ibu, yang tentu saja belum kita pahami bentuk kekhawatirannya. Meski demikian, ia tetap menyuruh kita salin baju, melap badan kita yang hanya cengar-cengir dengan handuk.

Coba saja sekarang, kalau di usia seperti ini kita sengaja bermain hujan sambil membawa sabun mandi, apa kata orang? Saking rumitnya pikiran kita atas pikiran orang lain, ada banyak "malu" dan etika yang mesti dipatuhi. Soal tanggung jawab, kewajiban, masa depan, kebutuhan, dan semacamnya yang terkadang membuat kepala hampir meletup.

Segala hal yang dipahami anak kecil selalu dalam bentuk sederhana. Sesederhana satu-ditambah-satu-sama-dengan-dua. Sesederhana mereka menyukai suatu barang. Sesederhana anak kecil berbaikan usai bertengkar. Sesederhana mereka menari dalam hujan, dancing in the rain. Sesederhana mereka cengar-cengir jika ditanya perihal alasan sesuatu. Seharusnya, saya berpikir, setiap orang dewasa pun saling mencintai dengan sederhana pula, sesederhana mengucapkan "aku cinta kamu" saja.

Sejatinya, kita tak akan benar-benar bisa menjadi anak kecil lagi kan? Meskipun sifat dan pembawaan kita masih bisa diputar layaknya anak kecil. Terkadang, saya merasai menyenangkannya menjadi anak kecil. Tertawa dan berpikir lepas seadanya saja. Akan tetapi, di balik keinginan menjadi anak kecil, kita seharusnya sadar bahwa masa dan momen itu berputar. Waktu berjalan maju. Kalau kita pernah menjadi anak kecil dan merasa dilindungi, seiring bertambahnya usia diri, kelak kita pun harus menjadi orang dewasa yang mampu melindungi anak-anaknya, memberikan kebahagiaan di masa kecilnya.


--Imam Rahmanto--

Selasa, 11 Maret 2014

Menjadi “Bukan Saya”

Maret 11, 2014
Maaf ya untuk Dian, Ai, dan juga Dewi. Saya baru bisa ngeposting hari ini. Hm…lagi-lagi saya harus menyingkirkan banyak hal yang berseliweran di kepala saya. It’s I am. Saya orang yang terkadang sangat rajin, tekun, pantang menyerah, hingga  tidak ingin berhenti mengerjakan sesuatu sebelum benar-benar b. Namun terkadang saya menjadi orang paling “penunda” sedunia. Apalagi ketika kepala saya sudah nyaris mencapai batas maksimumnya. Akh, karena kesalahan saya kemarin, tak ada lagi tempat untuk saya membaginya…

Eh, tapi, tapi tidak berarti saya akan berlama-lama dalam masa “pengasingan” diri itu. Saya akan tetap bersaing dengan kalian. Huahahaha…  *tunggu dulu, saya ngobrol dengan Cappie dulu ya…*slurp..

Lantas, mendadak saya berpikir bagaimana seandainya saya menjadi “bukan saya”? Karena beberapa hari belakangan pun saya memasuki fase itu. Kalau tiba waktu saya mengobral “penunda-penundaan” itu, saya memasuki fase beralih dari diri saya. Saya lebih banyak menyendiri. Serius loh. Seperti semalam, lebih dari sejam saya berkeliling sendirian di toko buku Gramedia. Sebentar saja, karena tiba-tiba kaki saya membutuhkan pertolongan pertama. Pendarahan di jempol saya tidak berhenti!!

Nyaris sejam pula saya menghabiskan waktu duduk sendirian di depan tugu besar tulisan “Mal Ratu Indah” sembari menatap kendaraan yang lalu-lalang di hadapan saya. Apa sekalian saya jadikan data untuk usulan judul krispi saya ya? Berapa jumlah mobil yang lewat dalam semenit? Berapa jumlah motor yang lewat dalam semenit? Berapa banyak pejalan kaki yang membawa anak? Berapa banyak pejalan kaki yang mengendarai mobil? Berapa banyak wanita cantik yang membawa pasangannya? Akh, saya jadi malas berhitung…

Saya yang “bukan saya”. Mungkin dalam hal tampang juga. Kalau saja wajah saya tidak jauh beda dengan Bang Anjasmara mungkin, saya tidak perlu repot-repot banyak bicara kepada wanita. Cukup mengatakan “Hai”, sedikit perbincangan, menitip nomor telepon, saya yakin banyak wanita yang akan menaruh hati pada saya. Sadaapp….. Tapi, sudahlah, saya mensyukuri diri seperti ini saja. Bersyukur dengan tahi lalat yang menjadi ciri khas “kemanisan” wajah saya. Bersyukur dengan wajah tirus karena memikirkan banyak hal. Huahahahaha…. 

Saya hanya berharap membuang sifat-sifat buruk saya dengan menjadi “bukan saya”. Banyak sifat-sifat manusia yang terhimpun semenjak ia dibesarkan dalam keluarganya, hingga harus dibawanya ketika ia memandirikan diri dari keluarganya.

Saya, yang kerap tak mempercayai orang lain, sampai harus mengerjakan semua hal sendirian.Bersikap sok jagoan. Sampai harus menyiksa diri sendiri. Sampai harus menampung lebih banyak kepercayaan orang lain, dan bersiap akan diberikan tugas-tugas yang lebih besar lagi. Padahal, sadar atau tidak, Tuhan sudah membagi “kotak” kepercayaan kita masing-masing. Setiap “kotak” itu bukannya tak terbatas, melainkan ia memiliki batas yang harus kita proporsikan sesuai dengan keperluan dan kemampuan kita.

Soal tak mempercayai itu, saya nampaknya hanya menjadikannya pelampiasan atas kehidupan saya di masa lalu. Sejujurnya, saya juga tahu bagaimana sakitnya ketika kita merasa tak dipercayai. Saya kerap kali mendapatinya dari ayah saya. Seberapa benar hal-hal yang saya kerjakan dan lakukan, ia cenderung meragukannya. Saya jadi bingung sendiri bagaimana harus memperbaiki kepercayaan ayah saya, hingga merasa tak dihargai lagi. Ia tak mempercayai saya. Hh, karena tak dipercayai itulah, saya harus menjalani kehidupan saya menjauh dari keluarga.

“Tidak dipercaya itu rasanya tidak enak,” ujar seseorang yang memantik ingatan saya belakangan.

Yah, saya pikir memang begitu. Maaf atas sikap saya yang agak berlebihan. Saya bersalah telah mengaitkan apa yang saya jalani dengan sifat yang saya dapatkan dan jiplak dari ayah saya. Saya menyesalinya. Saya hanya berharap bisa menjalaninya lagi. Saya merindukannya… 

Menjadi seorang pemimpin, saya belajar untuk banyak mempercayai. Saya diajarkan untuk tidak mengerjakan semuanya sendiri. Meski pada awalnya sulit, namun lambat laun saya menyadarinya bahwa hidup bukan selalu tentang diri sendiri. Kita hidup dalam masyarakat, dan kita hidup untuk saling mempercayai.

Saya jadi menyerahkan hal-hal yang pantas dipercayakan kepada orang lain. Saya memperbaiki manajemen diri. Meski pada awalnya bakal berantakan, namun itu konsekuensi belajar. Siapapun tidak akan pernah benar ketika ia tidak belajar, dan belajar itu sudah sewajarnya banyak salah. Selama kita tidak mengalah dan mengeluh, jalani saja dan bangun sesuatu yang lebih baik.

Dian, Ai, dan Dewi, saya untuk beberapa hari terakhir ini benar-benar ingin banyak mempercayai orang lain. Saya telah dimakan masa lalu atas ketidakpercayaan ayah saya sendiri. Haha…mungkin dalam benak kalian mendadak berpikir, oo… Imam yang konyol dan suka rame sendiri ternyata punya hubungan keluarga yang agak rumit ya? Sejujurnya, iya. Saya yang beranjak dewasa dan ayah, tidak seakrab Dian yang bisa belajar dan bermain-main catur sepuasnya dengan ayahnya. ^_^.

Soal kepercayaan itu, sekali lagi saya merasa ingin menjadi “bukan saya”. Dengan begitu, saya bisa dengan sederhana mempercayai orang lain, dan secara sederhana pula menjalin hubungan dengan orang lain. Mungkin, hingga saya benar-benar lupa bahwa “bukan saya” adalah bukan saya. Biarlah ia menyusup dalam kehidupan saya. Dan bukankah untuk hal-hal baik, mengadaptasi “bukan saya” adalah “saya” untuk sarana belajar? Sama halnya ketika kita belajar menggambar, kita mencontoh potongan gambar orang lain dulu. Kalau sudah mahir, ya cukup dengan gambar-gambar ala kita sendiri.

Menjadi “bukan saya”, saya ingin lebih banyak mempercayai orang lain…

Menjadi “bukan saya”, saya ingin lebih banyak mempercayai orang lain…

Saya ingin lebih banyak mempercayai orang lain…

Saya lebih banyak mempercayai orang lain…

Saya percaya…

Saya ingin lebih banyak mempercayai, kamu…


--Imam Rahmanto--

Rabu, 05 Maret 2014

Skenario

Maret 05, 2014
"Apa kabar?"

"Tidak perlu kau berbasa-basi menanyakan kabarku,"

"Aku tak berbasa-basi. Aku benar-benar tulus menanyakan kabarmu," potongku cepat.

Kau lantas terdiam. Lama sekali. Aku hanya bisa lepas memandangimu. Banyak hal yang telah berubah dari dirimu. Buruk. Jauh lebih buruk ketika kau masih bersamaku.

"Kau lihat sendiri kan? Bagaimana keadaanku sekarang,"

Aku hanya terdiam. Lama sekali. Dari pantulan matamu, aku masih melihat kilasan masa lalu bersamamu.

"Sebagaimana kau yang meinggalkanku. Kau meninggalkanku karena keegoisanmu. Kau hanya berpikir tentang dirimu, tanpa melihat sekelilingmu."

"Maaf...."

"Tak usahlah kau meminta maaf. Semuanya telah berlalu. Basi."

"Dulu, hampir 8 bulan lalu, ketika kau melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit itu, aku memanggilmu. Berteriak sekuat tenaga. Berharap kau satu-satunya yang mendengar suaraku.

Namun, kau telah ditutupi keegoisanmu. Kau tidak berpikir sedikitpun tentangku. Oke, tak usah tentangku. Ibumu. Kau tak berpikir bagaimana kesulitannya ketika kau pergi kan? Bagaimana kau mengawali langkah dengan berpaling dari ayahmu. Air matamu, aku tahu, menyiratkan keibaan sekaligus ketetapan hatimu. Seperti aku selalu mengetahui keras kepalanya dirimu.

Kau boleh membenci ayahmu. Tapi tidak dengan mengorbankan ibu dan adikmu."

Diam. Lagi-lagi aku hanya diam. Sejujurnya, tak ada yang bisa kuungkapkan padamu. Kata-katamu menampar kesadaranku. Membangkitkan ingatan yang telah lama ingin dimaafkan. Aku hanya menghela napas, panjang, sembari tetap bertahan memandangimu.

"Kau lihat bagaimana buruknya aku sekarang, kan?"

"Hampir 8 bulan kita tak bertemu. Keadaanku kini tak sama lagi ketika kita masih bersama. Seabai-abainya dirimu, kamu masih mau menjagaku. Kau masih mau ditemaniku. Kita, kemana-mana, selalu bersama-sama.

"Lihatlah aku sekarang. Beberapa bagian diriku tercerabut begitu saja. Aku diam, menunggu kedatanganmu. Karena aku yakin, suatu waktu Tuhan akan mempertemukanmu lagi denganku. Sekuat itu aku menunggumu. Aku menunggu. Kapan kita akan bersama lagi, menikmati pagi di tepian Pantai Losari," ia nampak sesak menyampaikan keluhnya setelah lama tak berjumpa denganku.

"Aku juga merindukan kita bersama lagi. Berlarian di tengah jalan pagi-pagi buta, demi menyaksikan keramaian pasar dadakan di Anjungan Losari itu," tuturku.

"Tapi, entahlah. Apakah kita masih akan bertemu lagi. Mungkin, ini adalah kali terakhir aku akan melakukan perjalanan jauh denganmu. Kau ingat, kan? Bagaimana pertama kalinya kita mencari jalan ke Makassar. Hampir tiap tahun kita sama-sama pulang ke rumah. Hampir tiap tahun pula aku selalu merenung bersamamu."

"Kau tahu, pertemuan kita kali ini mungkin akan jadi nuansa perpisahan," aku menukas tanpa ingin mendengar jawabanmu lagi.

"Terima kasih untuk kau yang masih mau menjaga dan bersamaku. Dan aku takkan bisa menolaknya." pasrahnya.

***

Saya mengakhiri potongan skenario di dalam imaji kepala. Di depan sana, motor yang sejak dulu menemani perjalanan saya di Makassar tergolek lemah. Ia siap dikendarai lagi. Hanya saja, kondisinya lebih buruk dibanding sebelum saya meninggalkannya dulu.

Ia kusam tak pernah dicuci. Lampu sebelah kanannya pecah. Kedua spionnya juga. Untuk menghidupkannya saja tidak butuh kunci. Cukup menyambungkan kabel yang menjorok keluar dari leher motor tersebut. Katanya, "Kuncinya hilang. Jadi dibongkar seperti itu." Sampai-sampai tidak diperlukan pula kunci untuk membuka jok bagasinya. Ckck...

Ayah saya yang belum sembuh betul memutuskan untuk pulang ke rumah. Saya, mengendarai motor, yang sejak 8 bulan lalu dititipkan di rumah kawan ayah saya itu, mengiringinya. Untuk pertama kalinya, saya bertemu dengan "Jupiter". Akan tetapi, pun kesempatan ini merupakan kebersamaan terakhir saya dengan motor keluaran tahun 2005 tersebut.

Perjalanan panjang Parepare - Enrekang kemarin nampaknya adalah penutup kebersamaan kami. Diwarnai hujan dan kilat yang sambar-menyambar.

***

"Maafkan karena kau harus berhujan-hujan denganku," ujarku di tengah perjalanan.

Kau tersenyum sembari tetap melaju menerabas genangan air di tengah jalan. "Ini bukan apa-apa. Dulu, kita sering melakukannya. Menembus hujan." ujarmu.


--Imam Rahmanto--

Menyeberang

Maret 05, 2014
Memory adalah cara kita lintas waktu ke masa lalu. Barang-barang yang masih utuh hanyalah sebagai pembangkitnya, menjembatani dunia lampau dan waktu sekarang.

Saya memandangi buku kecil, notes, di meja itu. Sampulnya yang nampak dilapisi bahan kulit dengan kancing sebagai penguncinya. Masih utuh seperti saat dulu saya memakainya. Hanya sedikit robekan kecil, mungkin ulah kecoa, di ujung kiri sampulnya. Dari dalam mencuat tulisan tangan, Pramuka Saka Bhayangkara.

Isinya tiba-tiba saja menarik memory saya ke masa lalu. Saat-saat dimana saya masih berseragam pramuka. Di waktu ketika saya berteriak lantang dengan teman-teman yang badannya jauh lebih besar daripada saya. Saya harus rela selalu dibariskan di belakang. Pramuka yang berbeda dari Pramuka biasa. Pramuka yang setiap minggu mendapat jadwal latihan dari para petugas polisi kecamatan.

Saya lupa alasan masuk dalam barisan "kemiliteran" itu dulu. Mm...mungkin karena teman saya yang mengajak, dan kelihatan keren juga. Saya paling suka dengan seragamnya yang mengenakan setelan celana panjang cokelat bersaku banyak, kiri dan kanan.

Lantas membongkar barang lainnya. Ada impuls menyenangkan mendapati barang-barang "jahiliyah" saya disana. Banyak hal bisa membuat saya tersenyum simpul, hingga tertawa sendiri. Ada lampu kamar.

Ayah adalah orang yang gemar mengoleksi barang-barang bekas. Di rumah, khususnya perkakas motor, ada banyak barang yang disimpannya. Baut, gir, lampu motor, stir motor, dinamo, hingga velg. Jika barang-barang itu ia anggap masih berguna, tak segan ia akan menyimpannya. Wajar jika ayah kerap kali menjadi montir bagi teman-teman lainnya sesama orang Jawa. Sesekali, tetangga pun ada yang meminta bantuan padanya.

Seperti halnya memodifikasi sesuatu, ayah saya sangat senang memanfaatkan barang-barang bekas tersebut ketimbang membeli bahan baru. Selain itu, dulu, ayah memang menjalani pekerjaan sebagai pengepul barang bekas. Saya jadi ingat sepeda masa kecil saya yang dibuat ayah dari sepeda bekas.

Sedikitnya, saya menyadari, ternyata kebiasaan saya menyimpan barang-barang yang masih layak pakai menurun dari kebiasaan ayah saya. Sejak kecil saya juga senang memodifikasi barang. Dari jam dinding di kamar saya yang berbahan dasar jam waker dan tutup stoples. Hingga lampu kamar saya yang bertenaga baterai.

Yah, tidak banyak hal yang bisa dibeli dengan uang. Memanfaatkan barang-barang masih layak pakai terkadang menjadi satu-satunya pilihan untuk bisa terus bersejajar dengan orang-orang lain.

***

Entah bunga melati atau bukan, yang saya temukan tumbuh
di depan halaman rumah saya. (Foto: me)
Pantas rasanya jika saya mengucapkan "apa kabar" atas banyak hal yang telah saya tinggalkan di tanah kelahiran ini. Saya benar-benar tidak tahu banyak hal yang berubah dalam masa pelarian saya.

"Anaknya Haji "ini" sudah menikah loh," ibu terkadang menyampaikan kebaruan bagi adaptasi saya.

"Itu rumahnya siapa?"

"Ohh, itu rumah anaknya bapak "ini","  saya lebih banyak bertanya hal-hal umum yang terlihat oleh mata.
Bahkan rumah besar yang kini berdiri megah menunjukkan kesenjangannya di hadapan kami, dulu belum ada.

Bukan hanya orang yang berubah, segalanya berubah. Not just people change, everything change.



--Imam Rahmanto--