Kamis, 20 Februari 2014

5# Kelewat Banyak, Kebiasaan

Lama juga tidak mengisi “rumah” saya. Entah seperti apa rasanya ketika membiarkan “rumah” ini kosong meski barang seminggu. Tapi, eh, itu seminggu lama loh ya? Saya rindu mengisinya, dengan segala hal, apapun. Saya rindu memenuhinya dengan tulisan-tulisan “tak penting” saya. Sebagaimana saya selalu merindukan seseorang. Hahahaha… -_-"

Seharusnya, sejak seminggu lalu saya mencatatkan segala usaha menuju penyusunan krispi (jangan dibaca: skripsi).

Apa kabar krispi saya?? Hm..hem…hmm…di kampus, saya banyak berbincang dengan teman-teman “seangkatan”. Saya menerima banyak masukan, banyak saran, banyak bimbingan. Tersisa, hanya menerapkannya saja. Lain waktu saya ceritakan. Going to 100 days, I hope…

Seharusnya ini adalah catatan ke-16 saya. Seharusnya saya sudah punya banyak tulisan dalam seminggu terakhir. Seharusnya saya tidak membiarkan “rumah” ini dipenuhi debu-debu maya. Seharusnya saya bisa meluangkan waktu barang sejam atau dua jam saja. dan masih banyak “seharusnya-seharusnya” yang lain.

Baru sadar, ternyata saya telah melewatkan begitu banyak hal. Memfokuskan pikiran pada satu tujuan memang cukup melelahkan (dan membuat kita kurang makan). Membulatkan pikiran pada segala tunggakan tabloid yang akan terbit pagi ini sedikit membuat saya melupakan banyak hal. Saya harus mengkambinghitamkannya atas kelalaian saya menulis setiap catatan yang perlu diabadikan meskipun saya tak sepantasnya mengatakan hal itu.

“Terkadang sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik,” kata seorang teman pada suatu waktu.

Saya juga mendapati status di jejaring sosial seorang teman, yang memilih menyerah, hanya karena tidak ingin memaksakan sedikit “peruntungannya” di tujuan hidupnya.

Pesan ibuku : Jangan paksakan dirimu kalo memang tidak bisa, nak. Dan ini yang sedang sedang saya lakukan : tidak ingin memaksa.

“Saya ingin menjadi seorang penulis,” ungkapnya di lain waktu. Seorang perempuan yang secara fisik memang agak kelihatan lemah. Namun, secara kepribadian, saya melihat ada harapan yang selalu terpancar dari titik matanya.

Percayalah, bahwa terkadang memaksakan memang tidak baik. Namun kerap kali ada banyak hal baik yang pantas untuk dipaksakan. ^_^.

Sesuatu yang dipaksakan, secara berkala dikerjakan dan dilakukan terus-menerus, perlahan akan menjadi kebiasaan pula. Hal-hal baik memang pada dasarnya mesti dipaksakan. Kalau ibu tidak memaksakan diri untuk kehidupan baru atas bayinya, kita tidak akan mungkin lahir di dunia ini. Kalau ayah tidak memaksakan diri untuk bekerja keras demi menafkahi ibu dan anaknya yang baru lahir, kita tidak akan bisa berdiri tanpa tumpu seperti ini. Kalau ayah dan ibu tidak memaksakan shalat pada saya, maka saya tidak akan menjadikannya kebiasaan hingga saat ini. Kalau kita tidak memaksakan diri untuk mandiri di tengah perjuangan menyelesaikan jenjang akademik, sampai kapan kita akan “ditimang” ayah dan ibu?

Dan, kalau saja saya tidak memaksakan diri untuk kelangsungan tabloid maupun penerbitan lainnya di lembaga jurnalistik “tercinta”, segala berita yang terhimpun di dalamnya mungkin hanya akan menjadi konsumsi pribadi kami.

Karena kerap kali hal-hal baik itu mesti dibiasakan, ditanam dengan sedikit keterpaksaan.… 

Saya telah menemukan banyak orang dengan keputusasaan yang sama. Sebagian besar tersuruk dan tak bisa melangkah lagi. Sesekali, orang tua menelikung keinginannya dari berbagai sisi. Namun, tidak lebih banyak mereka yang akhirnya berhasil melepas belenggu itu, berdamai dengan keadaan.

Sejujurnya, saya juga banyak memaksakan diri ketika menjalani tugas-tugas liputan saya. Ada suatu waktu saya akan kehilangan mood sekadar untuk bergerak. Bahkan untuk berkeliaran di titik-titik liputan pun saya agak enggan. Akan tetapi, saya belajar, sesuatu yang baik itu memang mesti dipaksakan.

Saya memulai hari dengan memaksakan diri. Menarik lengan saya sendiri. Memukul pikiran untuk keluar dari zona nyamannya. Mengenyahkan segala rencana yang sejak awal tersusun rapi. Adakalanya kita memang butuh spontanitas sebagai seorang “otak kanan”. Alhasil, saya terkadang bertemu dengan teman-teman lain atau kondisi yang menebarkan semangat untuk tetap bergerak. Yah, setiap senyum, bahkan tawa, menular lebih capat dibanding penyakit manapun. Saya mempercayai itu.

Pernahkah kita menyadari bahwa banyak hal dalam kehidupan kita hingga kini berlangsung dan ada, karena keterpaksaan?

****

Pagi ini, bersama salah seorang teman, saya menikmati pagi. Sembari membaca buku, ia mmenyeruput Cappuccino, seperti saya menawarkannya. Hanya saja, takaran untuk se-sachet Cappuccino-nya tidak sesuai dengan porsinya.

“Pasti tidak ada rasanya,” Saya menodongnya ketika mendapati ia dengan gelasnya yang berisi penuh Cappuccino.

“Ada kok,” paksanya. Saya mengangguk saja sembari tersenyum tipis. Hahaha…cobalah, gelas mug seukuran itu tidak tepat diisi dengan seduhan penuh. Setengah saja, cukup.

Dan atas nama memaksakan diri itu, kini saya terpaksa menulis. Hahahaha…..it’s Okey… Saya menyayangi “rumah” ini hingga tak ingin meninggalkannya kosong. Selain itu, untuk menjadi penulis yang baik harus terbiasa menulis, bukan? Salam penulis yang memaksakan diri!


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Hayooo, mau mengendalikan atau dikendalikan mood?

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Kadang2 harus rela dikendalikan mood juga sih... _ _" *efek orang jatuh cinta.

    BalasHapus