Jumat, 28 Februari 2014

7# Natural Deadline

Februari 28, 2014
Kemarin.....

Tulisan ini selalu dimulai dengan kemarin ya? Hm...maklumlah. Saya terkadang menghabiskan waktu di malam hari untuk memikirkan banyak hal sampai membawanya tertidur. Dan saya lupa untuk menuliskan apa yang perlu dituliskannya di sepertiga malam terakhir. Saya baru punya kesempatan ketika pagi menjelang. Saat dimana dunia baru menjelmakan wajah baru. Keheningan.

Kerap kali menginjakkan kaki di kampus - jurusan, saya banyak mendapatkan hal-hal menarik. Saya jadi memperoleh teman-teman baru. Kenalan-kenalan baru. Serius! Ada beberapa orang, mungkin adik junior, yang menyapa dan saya tak tahu siapa mereka. Hubungan-hubungan baru. Ide-ide baru. Kepercayaan-kepercayaan baru. Pun, bantuan-bantuan baru.

Kini saya tak lagi harus kikuk hanya berbicara tentang krispi dan seluk-beluknya. karena memang, target dan arah jalan saya secepatnya akan menuju kesana. Saya tak lagi sungkan bertanya "judul" dan semacamnya kepada teman-teman lain. Sekarang, kebanyakan teman-teman di kampus merupakan angkatan-angkatan di bawah saya. Saya menyukainya lantaran mereka juga sangat reaktif dan bersemangat jika berbicara perihal krispi.

"Bagus kalau eksperimen, Kak. Maunya pembimbingnya siapa?"

atau....

"Kalau pembimbing ini, orangnya......"

Atau ketika saya meminta tolong untuk mencarikan judul, dengan sedikit sumringah mereka berujar, "Maunya yang seperti apa, Kak?"

Hahaha...saya jadi bersemangat pula melihat antusiasme mereka. Atau jangan-jangan saya secepatnya ingin diusir dari kampus ya? -_-

Yah, saya memang antusias berbicara tentang tugas akhir itu. Setiap kali bertemu teman-teman di kampus, ketika mereka menanyakannya pada saya, saya tak perlu lagi menampik. Apa adanya, saya menjawab. Apa adanya, saya bertanya kembali. Saya tak ingin lagi menjadikannya momok. Justru sebaliknya. Dengan selalu menjadikannya pokok pembahasan di tengah-tengah kampus, saya menanamkan natural deadline dalam kepala saya. Alarm!

Natural deadline, tertanam dalam alam bawah sadar. Saya mempelajari, sesuatu yang selalu dibicarakan secara berkala akan menjadi pembawaan dalam pikiran, khususnya memory kepala. Ya, mirip-miriplah dengan konsep "5cm". Menggantungkan impian dan cita-cita sejauh 5cm di depan kening. Untuk itu, kalau tak ada seseorang yang bersedia menjadi "pengingat", maka biarkan kepala saya yang menyimpan alarm, mengingatkan diri sendiri.

"Ah, bicara doang. Sampai sekarang juga gak pernah kelihatan hasilnya," ujar seseorang dengan gaya "mengompori"nya. Harusnya kan didoakan, bukan malah diremehkan. Ckck...

Tapi, sebagaimana target yang telah saya tetapkan semula, saya harus memenuhinya. Dipaksakan saja dulu, biar terbiasa. Deadline yang telah tertanam suatu waktu harus disemai. Semoga, benih yang ditanam baik adanya ya? ;)

***

"Wah, ini caranya gimana?" tanya saya. Malam ini, saya baru saja mengaktifkan Blackberry ID di gadget milik saya. Setelah lama menunggu, akhirnya aplikasi BBM untuk android dengan OS Gingerbeard keluar juga.

Hmm...sebenarnya tidak berasal dari PlayStore juga sih. salah seorang teman mengirimkannya lewat androidnya yang bertipe sama. Secara manual, saya menginstalnya lewat file *.apk yang diberikannya. Berhasil!

"Ping!!"
#100dayS


--Imam Rahmanto--

Selasa, 25 Februari 2014

6# Berbalik

Februari 25, 2014
Yesterday is Monday! But that's not Monster Day!
Itu kuliah kali ketiga saya untuk mata kuliah Metode Numerik. Dosen pengampunya merupakan Ketua Jurusan saya sendiri. Kalau diterawang, masa depan saya disini (semoga) akan baik-baik saja. I wish it...

Di sela-sela waktu menanti dosen yang kerap kali datang belakangan, saya agak banyak merenung. Saya, satu-satunya mahasiswa "termuda" yang datang di awal waktu. Saya belajar untuk memperbaiki segalanya. Mungkin kembali menjadi mahasiswa rajin di awal kuliah dulu.

Saya cukup tersentak dengan kenyataan bahwa saya nyaris bernasib sama dengan mahasiswa-mahasiswa senior yang juga dulu mengikut kuliah di kelas kami. Saya, angkatan 2009, kala itu masih kuliah beraturan dengan teman-teman seangkatan saya. Yang kala itu masih menjadi mahasiswa yang lugu-lugunya sering menghabiskan waktu bersama teman-teman sekelas. Agak aneh rasanya melihat mahasiswa senior yang mengulang mata kuliah berada di tengah-tengah kami yang kala itu masih muda.

Dalam hati, saya tak rajang mencibir. Mungkin, hanya karena merasa diri paling pandai, sehingga menganggap remeh kakak-kakak senior yang mengulang mata kuliahnya. Biasanya, mereka yang mengulang mata kuliahnya berada jauh dua angkatan di atas kami. Alhasil, saya bertanya-tanya dalam hati, kok bisa ya mereka?

Hm...secara tak langsung, Tuhan mendengar "doa" itu. Tuhan membalikkannya, tanpa saya ketahui, untuk saya. Mungkin Tuhan berkata, "Nah, seperti ini mereka yang mengulang mata kuliahnya." dan saya hanya bisa menghela napas...

Beberapa kali saya menjalani perkuliahan dengan mahasiswa-mahasiswa junior, saya menyadari bahwa ada hal-hal yang harus selalu kita jaga. Tidak semua senior yang memutuskan untuk kuliah bersama mahasiswa-mahasiswa lebih muda darinya disebabkan faktor kemalasan. Sebagian kesibukan di luar kampus, sebagian lagi menjalaninya sebagai bukan-kuliah-ulangan.

Selama menjalani perkuliahan dengan teman-teman, saya jadi tahu rasanya bagaimana menjadi mahasiswa angkatan tua diantara mahasiswa-mahasiswa muda. Bagaimana rasanya nama kita tercantum di posisi top-header absensi mata kuliah. Bagaimana rasanya sebagian mahasiswa juga memandang sebelah mata. Bagaimana rasanya harus selalu agresif. Bagaimana rasanya kembali muda....

Meskipun demikian, saya cukup menikmatinya. Sebelum menyelesaikan krispi saya, ada banyak hubungan yang mesti terjalin. Di kalangan mereka, saya juga cukup dikenal. (Ya iyalah, mahasiswa senior sekelas). Hahaha.... Tapi, saya memang tetap yang tercerewet jika bergabung dengan mereka. Masih ada ya, seperti itu??

Tuhan memilihkan saya sedikit waktu untuk menambah kawan, kenalan, dan persinggahan. Saya pun menjadi selalu merasa muda ketika bertemu teman-teman lama. Mereka, teman-teman seangkatan saya, sebagian besar sudah menjalani kehidupannya di luar kampus. Entahlah, seperti apa kehidupan yang mereka jalani. Kebanyakan dari mereka memang menargetkan untuk menjadi pengajar. Sebagiannya, yang tersisa hitungan jari, masih menempuh pendidikan akhir disini. Yah, semoga ini benar-benar semester terakhir buat saya. :)

Di samping itu, filosofi padi itu memang harus benar-benar dipakai. Hal paling remeh pun jangan sekali-kali diabaikan. Di dunia ini berlaku hukum sebab-akibat. 

Beranjak dari kuliah nanti, saya punya banyak hal yang mesti dirumuskan. Dicapai. Dibagikan. Mimpi. Pengalaman. Menjelajah. Achievement. Menetapkan pasangan. Keluarga. Tentu saja, masing-masing "tema" memiliki cabang yang terus saja "berbuah".

Teruntuk "anak kecil" yang pernah menganggap dirinya tak pernah masuk dalam cita-cita dan masa depan saya, tak perlu risau, karena sejak mula kau telah bertahta di dalamnya. Sejatinya, tinggal menanti waktu saja, sembari tetap bersabar, bersama, mendewasakan diri...


#100dayS
--Imam Rahmanto--

Minggu, 23 Februari 2014

Apa Kalian Merindukan?

Februari 23, 2014
“Apa kabar?”

Sejalin surat memang selalu diawali dengan kalimat sapaan itu, bukan? Atau memang sedari kecil kami diajarkan menulis surat dengan kalimat sapaan itu ya? Oleh karenanya tertanam hingga kini model surat seperti itu. Yah, sebagaimana generasi kami selalu diajarkan menggambar dengan pola yang sama; gunung, matahari, jalanan, dan persawahan. Itu-itu saja.

Tapi, serius, saya ingin tahu kabar kalian disana. Berapa lama kita tak bertemu? Sebulan? Dua bulan? Tiga bulan? Ah, tak terhitung  saya yang menenggelamkan diri dalam rutinitas-rutinitas seorang mahasiswa. Maafkan saya yang tiap waktu hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian dengan ungkapan “tidak tahu”.

“Kapan lagi ke Pangkep, Kak?”

“Kak jalan-jalan lagi ke Pangkep nah, Kak?”

Dan beberapa pernyataan lain yang bakal berujung pada pertanyaan-pertanyaan serupa.

Yah, saya sendiri harus berpikir keras seperti apa harus memecahkan kerinduan untuk melihat tawa kalian lagi. Ah ya, saya ingat tawa yang kalian kembangkan di kelas setiap kali saya harus mengajar. Tawa penerimaan kalian setiap kali saya hanya bermodalkan sandal(?) membagi cerita-cerita (ma'do) untuk kalian. Bahkan, tawa yang kalian alamatkan pada seseorang yang hingga kini masih dekat di hati saya. Apa kalian ingat bagaimana bersemu wajahnya kala itu? Akh, saya ketinggalan momen itu, dan sekali waktu saya ingin melihat wajahnya merona, membekukannya.

Semoga apa yang pernah kalian doakan pada kami bisa dirapalkan malaikat dan dikirimkan kepada sang Pencipta. Yang tersisa, menanti tanda tangan Sang Pencipta jika tiba waktunya. ;)

Akankah kalian menganggap momen yang kita lalui adalah yang paling menyenangkan?

Saya ingat, betapa kalian membanding-bandingkan kami dengan mahasiswa-mahasiswa yang menggantikan peran kami disana. Betapa kalian mengeluh dan berharap bertemu kami kembali. Mm….entah seberapa banyak kalian merindukan kami. Tapi biarkan saja rindu yang berat ini kami tanggung untuk kalian. Kalian, belajarlah yang giat. Tak usah memikirkan rindu yang masih belum sampai waktunya itu.

Saya suka ketika kalian bercerita banyak hal kepada saya. Rasa-rasanya saya kembali dan hadir menyaksikan kalian dari dekat. Sebagaimana kalian bercerita tentang mahasiswa yang melanjutkan PPL kami disana. Kalian bercerita banyak tentang se-menyebalkan-nya mereka.

“Mereka menyebalkan. Tidak mau kompromi. Kalau di dalam kelas, ya kita cuma bisa diaaam saja,” curhat beberapa orang dari kalian yang selalu antusias menyampaikan selentingan kabar maya untuk saya di percakapan jejaring sosial.

Ada ketua kelas Cipul yang lucu dan selalu dikerjai teman-
temannya.
Hahaha….saya membayangkan, bagaimana diamnya si Ayu di Kelas Einstein (Bewohner!) yang biasanya ngoceh sana-sini, bahkan dulu sampai merampok posisi duduk teman kelasnya di depan ketika saya mengajar. Sayangnya, ia hanya ingin serius melihat (saya) dan tertidur, bukannya menyimak atau belajar. Ckck….malah saya juga mendengar Ayu sudah enggan duduk di depan lagi ya?

Saya membayangkan pula bagaimana diamnya si Ade di Kelas Aljabar (Alvalor!) yang terkenal dengan suara cemprengnya. Semoga dengan suara itu ia bisa meraih impiannya, minimal mendirikan sekolah, katanya. Mungkin, ketika disuruh untuk diam oleh kakak-kakak itu, mukanya ditekuk saja, dilipat-lipat, diam, puasa bicara. Hahaha…

Betapa hebatnya mereka membuat kalian semua terdiam. Psst! Jujur, saya tidak bisa loh hanya untuk membuat kalian diam. Untuk marah kepada kalian saja, tak pernah sampai hati. Setiap kali saya harus jengkel dan marah kepada kalian, saya hanya bisa diam dan memasang tampang menyeramkan. Toh, ketika saya memasang muka itu, kalian malah tertawa. Meskipun saya merasa tersanjung dengan tawa kalian. Artinya, saya memang orang terlucu di dunia. :D

“Kak Imam kalau marah mukanya tidak meyakinkan,” sambil diringi derai tawa dari teman-teman lainnya.

Sungguh, saya merasa ruangan di dalam kelas kalian menjadi ruang saya melepaskan penat. Apa kalian tahu, betapa saya dulu menginginkan KKN saya berakhir dengan cepat? Saya sungguh dibuat kebingungan dan kelimpungan harus bolak-balik Makassar-Pangkep. Saya punya kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa sekaligus pewarta kampus. Bahkan, hanya gara-gara saya jarang terlihat di posko, teman-teman begitu mengabaikan saya.

Hanya saja, saya selalu berprinsip untuk menyelesaikan setiap apapun yang telah saya mulai. Oleh karena itu, bagaimanapun tak mengenakkannya atmosfer yang pernah saya rasakan, saya menjalaninya. Di akhir, saya menemukan kedekatan dengan mereka. Namun, kelas kalian selalu menjadi penghibur dan penyemangat bagi kehidupan saya disana. Jadi, kalian kini tahu kan kenapa saya begitu menghargai kalian? Karena kalian menghargai keberadaan saya, dan menganggap saya ada.

Ketika seseorang merasa dihargai, maka keberadaannya selalu dinanti. 

Itu masa yang telah berlalu. Sekarang saya menantikan waktu bertemu dengan kalian. Terakhir kali saya mendengar kabar, kalian akan mengadakan pentas seni di sekolah ya? Wah, keren juga kalian. Seumur-umur, saya belum pernah menggelar pentas seni di sekolah saya dulu. Kalian hebat. Dan itulah yang saya suka dari kalian. Saya juga ingin menunaikan janji dari beberapa orang diantara kalian ketika kelak kita bertemu, sekadar mendendangkan sebait lagu. Sekolah kalian masih seumur jagung, tapi prestasi-prestasi yang ditorehkan sudah sepanjang jalan. Great!

“Saya masih belum tahu kapan bisa meluangkan waktu sekadar bertemu dengan kalian,” jawab saya selalu.

Meskipun mengawali tahun baru kemarin saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan para “kurcaci” Einstein, namun hanya sebentar dan diiringi derai hujan. Akh, saya sudah jauh-jauh, kalian tidak banyak datang. Padahal, saya berniat untuk memberikan sedikit kejutan untuk kalian. Lha kok, justru saya-nya yang terkejut dengan kekosongan kalian? Ckck….

Ah, tapi sudahlah. Lain waktu saya ingin melihat keramaian seperti dulu saat saya mengajar kalian. Ada senyum malu-malu, senyum-tawa lebar, tawa melengking, teriakan huuu!, rahasia-rahasia kecil, janji-janji bersama, impian yang disembunyikan, cerita hantu di kelas, traktiran yang tertunda, dan tentu saja, rindu yang dipendam dalam diam.

Saya tetap seperti yang kalian kenal dulu. Saya masih merindukan kalian meski tak pandai menebar rindu. Saya masih ingin melihat wajah “menyebalkan” kalian. Tetap menghargai setiap kebersamaan yang kalian hadiahkan untuk saya. Bagi saya, kalian sudah menjadi puzzle kecil dalam hidup saya. Ada mata rantai yang mengaitkan kalian dengan kehidupan saya. Tunggu saja, saya percaya, akan bertemu lagi dengan kalian, “Einstein yang mempelajari rumus Aljabar”. #just believe it

Maka biarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada yang mampu menghentikannya kecuali Sang Pencipta. Manusia, hanya bisa meng-capture dalam tulisan dan kenangannya. Sembari waktu terus berjalan bergerak beraturan, maka kita harus memanfaatkan setiap momen yang dihadiahkan Tuhan tanpa kita ketahui.

Ada kalian, Aljabar Alvalor!
Juga Einstein Bewohner!
Ps: Saya, sebenarnya sangat menginginkan kalian menulis. Apa saja. Karena dengan menulis, kalian membekukan ingatan kalian, untuk saya dan siapa saja yang membacanya. Dengan menulis, ada banyak hal yang tak pernah terlintas di dalam benak kalian mendadak ingin dituangkan. Karenanya, menulis bisa menyemai suka dan mengobati luka.


--Imam Rahmanto--

Skor Tertinggi Game Sederhana

Februari 23, 2014
Kata orang, game satu ini mengesalkan. Kata orang, game ini agak sulit ditaklukkan. Kata orang, game ini lagi booming. Kata orang lagi, belum genap semua orang memainkannya, game ini sudah ditarik dari peredaran oleh penciptanya, Dong Nguyen.

Dua hari sebelum ditariknya Flappy Bird dari peredarannya, saya baru saja mengunduhnya karena didorong oleh rasa penasaran saya. Bayangkan saja, hampir semua media online memberitakan tentang game yang melejit bak roket itu, mengalahkan permainan-permainan mobile lainnya. Saya juga kerap mendapati ulasan teman-teman lain di jejaring sosial tentang game sederhana itu, khususnya tentang kekesalan mereka. Hahaa…

“Pinjam dulu dong hapemu. Saya mau main burung,” Tak jarang saya mendapati teman-teman berujar agak nyeleneh tentang game ini. Hahahaha….ini apa maksudnya?

“Burungnya, kalau disentuh, naik. Kalau tidak disentuh, turun,” isttilah lainnya lagi yang berkembang di kalangan kami. Hahaha

(Sumber: Google Play)
Permainannya cukup sederhana, hanya dengan menyentuh layar touchscreen gadget (tap) dan mempertahankan agar “si burung” yang nampaknya baru belajar terbang itu tidak menabrak pipa-pipa hijau di sepanjang perjalanannya. Pipa hijau itu, banyak diperbincangkan di dunia maya, sangat mirip dengan properti pada game besutan Nintendo yang dulu semasa kecil menjadi kegemaran saya, Super Mario. Bahkan, katanya, latar belakang Flappy Bird pun dibuat mirip dengan Super Mario. Makanya beberapa pihak menganggap game itu hasil plagiat.

Ulasan tentang game itu bisa dibaca disini atau media-media lainnya. Banyak kok.

Taraaaa!
Hingga hari ini saya baru bisa mencapai best score 225. Itu pun sudah paling tinggi di kalangan teman-teman saya. Eh, jangan salah loh ya. Saya tidak memainkannya sepanjang hari, sepanjang waktu. Saya memainkannya sesekali saja, dan karena saya punya bakat jenius memainkan game. Huahahaha….

Sepeninggal Flappy Bird dari Google Store, permainan serupa bermunculan. Kini, yang terpopuler adalah Clumsy Bird dengan tema permainan yang sama, meskipun tampilannya jauh lebih menarik. Karakter yang digunakan pun lebih condong mirip karakter pada Angry Bird. Untuk game yang satu ini, lagi-lagi saya baru mencapi skor tertinggi 203. Huahahaha….

Yah, penting tidak pentingnya game itu, saya hanya menjadikannya pengisi waktu luang. Sekadar penghibur juga di kala waktu senggang dan pikiran sementara ruwet. Terkadang saya senang memainkan game, karena bisa melupakan banyak hal dan memacu kita untuk berkompetisi dan sekali-kali menantang diri sendiri. Seperti Flappy Bird dan Clumsy Bird, yang hanya mematok pada tantangan “skor tertinggi”, kita dipacu untuk lebih baik dari sebelumnya. Kita dituntut untuk bisa mengalahkan diri sendiri.

“Sampai berapa memangnya skor tertinggi permainan burung-burung itu?” tanya teman saya yang tak kunjung-kunjung sampai pada bestscore.

Sepengetahuan saya, skor tertinggi yang dipatok untuk permainan ini nampaknya tidak terbatas. Di Youtube, saya menemukan para pemain yang bisa mencapai skor 1000 lebih-sedikit. Oiya, ada pula plesetan permainan ini, dimana ketika mencapai skor 999, “si burung kecil” akan bertemu dengan Mario Bros dan bertarung dengannya. Sementara saya sendiri belum sampai sejauh itu.

Saya juga hanya ingin mengabadikan kesenangan saya di “rumah” ini. Karena “rumah” adalah tempat saya kembali, merenung, berpikir, dan belajar berbahagia…


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 22 Februari 2014

"Nyantai" Bareng Sheila On 7

Februari 22, 2014
Bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang pewarta kampus tergantung dari bagaimana kita berinteraksi di kampus. Yah, kita akan menjalani berbagai fenomena liputan yang melibatkan elemen-elemen kampus dan berbicara soal kampus saja. Kalaupun liputan kita berekspansi hingga keluar wilayah, masih saja kita dihadapkan pada persoalan-persoalan dalam lingkup kampus sendiri.

“Keterampilan kita membawa peristiwa atau fenomena di luar kampus, bahkan yang bertaraf nasional dihubungkan dengan fenomena-fenomena di kampus sendiri,” Saya selalu mendengarnya dari petuah para senior di lembaga jurnalistik kami. dan memang dalam waktu bertumbuh yang tidak sebentar, kami diajarkan untuk tetap meng-upgrade pikiran dengan hal-hal baru.

Tak jarang, dalam setiap perjalanan, menuju apapun, kita akan menemui titik kejenuhan. Dalam Matematika, kalau tidak salah, ia disebut sebagai titik optimum dalam penggambaran sebagai grafik sebuah kurva, baik titik maksimum maupun titik minimum. Dalam Bahasa Indonesia, segi penceritaan, ia disebut sebagai titik klimaks. 

Garis yang membentuk kurva itu hanya melalui satu titik puncak saja. Selepas itu, ia akan kembali seperti biasa, namun tidak lagi pada posisi semula. Tentu dalam posisi yang lebih baik ketimbang sebelumnya.

Selalu saja, untuk menghadapi kejenuhan beragam caranya. Dan saya melakukannya dengan sekali-kali mencoba hal-hal baru, termasuk sedikit mencoba menjadi wartawan infotainment. Huahahaha... Tapi, tidak lantas saya menuliskannya dan benar-benar berubah menjadi salah satu wartawan yang paling intens bertemu dengan artis itu. Saya hanya mengambil kesempatan bisa bertemu dengan salah satu band artis kesukaan saya. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Sheila On 7. Salah satu band asal Yogyakarta itu baru-baru saja manggung di Makassar. Yah, seperti sudah kebiasaan, artis-artis yang akan menggelar pertunjukan tentunya menggelar konferensi pers terlebih dahulu dengan para pewarta media. Entah itu sehari sebelumnya, atau beberapa jam sebelumnya. Dan waktu-waktu seperti itulah kesempatan para wartawan untuk menggali informasi sekaligus bertemu dengan idola-idola layar kaca tersebut. Yah, artis-artis itu besar dan tersohor karena pengaruh televisi yang menggurita. Tapi seingat saya semasa kecil, band satu ini besar karena lagu-lagunya yang berantai lewat radio.

Bermodal kenekatan dan sedikit kedekatan dengan beberapa media di Makassar, saya diajak oleh seorang senior untuk mengikuti konferensi persnya yang digelar di Hotel Clarion. Interested! Saya memang lama menunggu bisa bertemu dengan band satu itu. Selain karena sudah kebiasaan saya sejak dulu mengoleksi suara-suara artis untuk keperluan pembuatan spot id radio kampus kami, saya juga butuh sedikit refresh dari rutinitas penerbitan tabloid. #fiuhh

“Dari media mana?” tanya salah seorang di meja registrasi, sembari mengecek kertas di tangannya yang berisi banyak nama media di Makassar. Tentunya, tidak ada nama Profesi di dalamnya. Jlebb.

Setelah lama menunggu, nyaris sejam, saya dan seorang teman beserta wartawan-wartawan lain baru diizinkan untuk mengecek kehadiran. Personil-personil Sheila On 7 juga baru saja masuk ke dalam ruangan konferensi pers.

Saya tentu saja agak grogi (dan ketakutan). Saya mengira para wartawan hanya datang saja dan mengisi langsung form registrasi tanpa dicek nama medianya di meja registrasi. Ternyata saya salah mengira. Sambil menghimpun kenekatan, saya sebut saja nama media saya, yang tentunya tanpa embel-embel universitas di dalamnya.

Dalam hati, saya berharap tak ada satu pun orang yang mengenali media yang saya sebutkan tadi. Kalau saja ada yang kenal, tiba-tiba ia berteriak, “Wah, itu media kampus Universitas Negeri Makassar!” dan kemudian saya dilarang untuk ikut Press Conference itu, bisa kecele juga. Saya mencoba memasang tampang meyakinkan saja bahwa itu media-yang-memang-ada dan memasang wajah flat “jangan-lihat-saya”.

“Boleh masuk, tapi cuma satu saja yang dizinkan ya,” katanya lagi setelah memeriksa list di tangannya dan tidak menemukan nama Profesi di dalamnya. Itupun dilakukannya setelah sedikit kebingungan mengulang-ulang nama Profesi. Hanya satu Press ID yang diserahkan kepada kami. Deg-degan saya pun agak mereda.

Meskipun demikian, saya tetap mengajak teman saya yang bertugas motret untuk ikut ke dalam ruangan. Dan ternyata, bisa kok, karena tidak kedapatan juga diantara wartawan-wartawan lain yang masuk ke dalam ruangan secara berbarengan. :D

Tidak cukup banyak wartawan yang hadir dalam konferensi pers yang digelar bersama Ninety Nine Entertainment sebagai Event Organizer-nya dan manajemen Hotel Clarion sebagai tempat pelaksanaan konser SO7 itu. Saya melihat kursi-kursi yang cukup lowong disana. Tapi saya menikmati pula kelowongan yang sedikitnya bisa memberikan keleluasaan buat merasai setiap inci kesenangan berhadapan langsung dengan band semasa kecil saya itu.

Duta dan Brian dalam konferensi persnya. Btw, yang kena blur itu saya loh.... -__-" (Foto: Kasdar-Profesi)

“Pastinya kita akan menyanyikan single terbaru kita juga dalam konser nanti malam. Bocoran judulnya, Canggung,” ungkap Duta mewakili teman-temannya. Saya mencatat beberapa hasil konferensi pers itu ala-ala wartawan infotainment-gosip-murahan profesional.

Duta mengungkapkan, ada dua single terbaru yang akan dinyanyikan. Namun, ditanya terkait album terbarunya, Duta sendiri belum bisa memastikan tahun ini akan keluar atau tidak. Saya menebak, seperti band-band kebanyakan, mereka mungkin masih sementara mencari label rekaman yang akan menggawangi mereka. Karena sepengakuan band berusia 18 tahun itu, mereka sudah mempersiapkan 10 lagu untuk album terbaru mereka.

“Apa di album terbaru itu nanti, termasuk di single, masih bercerita seputar cinta?” tanya salah seorang wartawan perempuan dari Tribun Timur.

“Kita masih bercerita tentang cinta, persahabatan, dan nyaris seperti lagu-lagu sebelumnya. Tapi meskipun temanya tetap sama, kita mencoba hal-hal baru, seperti di single terbaru kami. Lagu-lagunya masih kebanyakan ciptaan Eros,” sedikit hal yang bisa saya rekam dalam ingatan saya.

Saya ingat, masa-masa ketika saya masih sering mendengar lagu-lagu mereka. Radio RRI. Kami masih belum memiliki televisi yang kala itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Saya pun kerap kali menumpang menonton di tetangga kalau hari Minggu tiba. Biasa, film anak-anak yang masih bertebaran di hari minggu. Kalau sekarang mah, acara TV di hari minggu membuat anak-anak dewasa sebelum waktunya. Prematur.

Lagu-lagu seperti Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki, JAP, Dan, Perhatikan Rani seringkali diputar bersaing dengan lagu-lagu milik Dewa 19. Namun, karena bernuansa anak muda, saya lebih condong ke band gokil satu itu. Lagipula lagu-lagu yang dibawakannya kala itu enak didengar dan mudah diingat.

Serius loh, mereka benar-benar lucu. Di sela-sela konferensi pers saja mereka masih sempat-sempatnya guyon satu sama lain. Brian yang memakaikan kacamata ke Eros. Duta yang berlelucon di sela-sela jawabannya ke media. Adam yang dengan gaya pendiamnya sekali-kali nyyeletuk. Eros yang berujar, “Kok pertanyaannya dikit banget. Nambah lagi dong.” Tetap saja, bagi saya, mereka band yang terbilang sangat ramah.

Beberapa kali mengejar artis-artis yang datang ke Makassar, saya kerap dibuat jengkel dengan kesombongan mereka. Ada yang merasa sok eksklusif. Ada yang pelit bicara. Ada yang pengamanannya sangat ketat. Dan lain hal lagi yang membuat saya harus antipati kepada mereka. Keramahan mereka di layar kaca tidak seperti pada kenyataannya.

Apa yang saya temui lewat sedikit permintaan dan interaksi dengan Duta membuat saya semakin yakin kalau band yang kini beranggotakan 4 orang itu benar-benar ramah. Untuk memperoleh suara Duta sebagai spot id radio kampus kami saja tidak begitu menyulitkan. Tidak ada pengamanan ketat. Santai. Saya yang kemudian mengikutinya hingga lobi hotel pun masih sempat meminta ucapannya untuk persiapan hari ulang tahun Profesi. Hanya saja……..

“Waduh, kenapa videonya terpotong-potong?”

“Saya juga tidak tahu kenapa. Kameranya ketika merekam, berhenti otomatis. Baru beberapa detik, berhenti,” ujar teman saya. Bahkan ada frame yang hilang.

Argh! Padahal saya sudah bersemangat pula menahan-nahan Sheila On 7 demi rekaman itu. Padahal kelucuan mereka berempat di video itu sudah terekam begitu jelas. Padahal nama Profesi Universitas Negeri Makassar juga sudah disebutkannya dengan begitu gamblangnya. Padahal mereka sudah dua kali pengambilan gambar dalam video itu. Sialnya, kamera yang digunakan ternyata telah full memory video-video kemarin yang lupa dipindahkan atau dihapus. Damn.

***
Sedikit bocoran, yang di tengah itu adalah personil baru Sheila On 7, tugasnya megang kipas kalau lagi
manggung. (Foto: Kasdar-Profesi)
“Dari Universitas Negeri Makassar kan?” salah seorang wartawan menanyai saya usai melakukan registrasi dan duduk-duduk di luar ruangan konferensi pers. Saya belakangan mengetahui ia berasal dari Harian Rakyat Sulsel. Saya tak mengira ada orang yang akan mengenal Profesi.

“Banyak juga ya mahasiswa-mahasiswa UNM itu yang pandai menulis. Saya sering baca tulisan-tulisannya itu di Profesi, yang online, kajian-kajian isunya bagus dan menarik. Saya suka,” ungkapnya. “Apalagi yang tentang korupsi itu, biasa malah dijadikan referensi media luar kampus,” lanjutnya lagi.

Mendadak saya bisa sedikit berbangga dan tak perlu malu-malu mengakuinya. Di luar kenyataan yang saya ketahui, lembaga jurnalistik yang selama ini menggembleng saya ternyata sudah banyak dikenal medi-media umum. Mungkin, banyak senior-senior yang berkiprah dan namanya besar di media-media bersangkutan, menjadi salah satu faktor pendukung. I proud it.

Terlepas dari itu, saya cukup senang bisa merasakan kembali sensasi bersentuhan dengan dunia luar. Bisa melihat dan mengenal dunia kerja secara profesional. Dunia itu yang mebuat kita berpikir bahwa, dunia ternyata tak hanya selebar daun kelor saja. Di balik luasnya lingkungan yang selalu menjadi comfort zone saya, ternyata masih ada banyak dunia-dunia asing dan menarik untuk dijelajahi. Saya sering merasakannya ketika sedikit melepas diri dari rutinitas yang terkadang membuat kepala saya nyaris pecah dan berantakan.

Dunia itu tak akan pernah terbuka ketika kita sendiri memutuskan masih tetap berada pada zona nyaman. Itulah gunanya out of the box, untuk mencari hal-hal baru. Ketika kita mampu bertahan sedikit saja darii titik-titik klimaks kejenuhan, terkadang kita akan menemukan antiklimaksnya, yang membangun semangat kita kembali. #just believe it

Melihat tawamu | Mendengar senandungmu | Terlihat jelas dimataku | Warna - warna indahmu

Menatap langkahmu | Meratapi kisah hidupmu | Terlihat jelas bahwa hatimu | Anugerah terindah yang pernah kumiliki


--Imam Rahmanto--

Kamis, 20 Februari 2014

5# Kelewat Banyak, Kebiasaan

Februari 20, 2014
Lama juga tidak mengisi “rumah” saya. Entah seperti apa rasanya ketika membiarkan “rumah” ini kosong meski barang seminggu. Tapi, eh, itu seminggu lama loh ya? Saya rindu mengisinya, dengan segala hal, apapun. Saya rindu memenuhinya dengan tulisan-tulisan “tak penting” saya. Sebagaimana saya selalu merindukan seseorang. Hahahaha… -_-"

Seharusnya, sejak seminggu lalu saya mencatatkan segala usaha menuju penyusunan krispi (jangan dibaca: skripsi).

Apa kabar krispi saya?? Hm..hem…hmm…di kampus, saya banyak berbincang dengan teman-teman “seangkatan”. Saya menerima banyak masukan, banyak saran, banyak bimbingan. Tersisa, hanya menerapkannya saja. Lain waktu saya ceritakan. Going to 100 days, I hope…

Seharusnya ini adalah catatan ke-16 saya. Seharusnya saya sudah punya banyak tulisan dalam seminggu terakhir. Seharusnya saya tidak membiarkan “rumah” ini dipenuhi debu-debu maya. Seharusnya saya bisa meluangkan waktu barang sejam atau dua jam saja. dan masih banyak “seharusnya-seharusnya” yang lain.

Baru sadar, ternyata saya telah melewatkan begitu banyak hal. Memfokuskan pikiran pada satu tujuan memang cukup melelahkan (dan membuat kita kurang makan). Membulatkan pikiran pada segala tunggakan tabloid yang akan terbit pagi ini sedikit membuat saya melupakan banyak hal. Saya harus mengkambinghitamkannya atas kelalaian saya menulis setiap catatan yang perlu diabadikan meskipun saya tak sepantasnya mengatakan hal itu.

“Terkadang sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik,” kata seorang teman pada suatu waktu.

Saya juga mendapati status di jejaring sosial seorang teman, yang memilih menyerah, hanya karena tidak ingin memaksakan sedikit “peruntungannya” di tujuan hidupnya.

Pesan ibuku : Jangan paksakan dirimu kalo memang tidak bisa, nak. Dan ini yang sedang sedang saya lakukan : tidak ingin memaksa.

“Saya ingin menjadi seorang penulis,” ungkapnya di lain waktu. Seorang perempuan yang secara fisik memang agak kelihatan lemah. Namun, secara kepribadian, saya melihat ada harapan yang selalu terpancar dari titik matanya.

Percayalah, bahwa terkadang memaksakan memang tidak baik. Namun kerap kali ada banyak hal baik yang pantas untuk dipaksakan. ^_^.

Sesuatu yang dipaksakan, secara berkala dikerjakan dan dilakukan terus-menerus, perlahan akan menjadi kebiasaan pula. Hal-hal baik memang pada dasarnya mesti dipaksakan. Kalau ibu tidak memaksakan diri untuk kehidupan baru atas bayinya, kita tidak akan mungkin lahir di dunia ini. Kalau ayah tidak memaksakan diri untuk bekerja keras demi menafkahi ibu dan anaknya yang baru lahir, kita tidak akan bisa berdiri tanpa tumpu seperti ini. Kalau ayah dan ibu tidak memaksakan shalat pada saya, maka saya tidak akan menjadikannya kebiasaan hingga saat ini. Kalau kita tidak memaksakan diri untuk mandiri di tengah perjuangan menyelesaikan jenjang akademik, sampai kapan kita akan “ditimang” ayah dan ibu?

Dan, kalau saja saya tidak memaksakan diri untuk kelangsungan tabloid maupun penerbitan lainnya di lembaga jurnalistik “tercinta”, segala berita yang terhimpun di dalamnya mungkin hanya akan menjadi konsumsi pribadi kami.

Karena kerap kali hal-hal baik itu mesti dibiasakan, ditanam dengan sedikit keterpaksaan.… 

Saya telah menemukan banyak orang dengan keputusasaan yang sama. Sebagian besar tersuruk dan tak bisa melangkah lagi. Sesekali, orang tua menelikung keinginannya dari berbagai sisi. Namun, tidak lebih banyak mereka yang akhirnya berhasil melepas belenggu itu, berdamai dengan keadaan.

Sejujurnya, saya juga banyak memaksakan diri ketika menjalani tugas-tugas liputan saya. Ada suatu waktu saya akan kehilangan mood sekadar untuk bergerak. Bahkan untuk berkeliaran di titik-titik liputan pun saya agak enggan. Akan tetapi, saya belajar, sesuatu yang baik itu memang mesti dipaksakan.

Saya memulai hari dengan memaksakan diri. Menarik lengan saya sendiri. Memukul pikiran untuk keluar dari zona nyamannya. Mengenyahkan segala rencana yang sejak awal tersusun rapi. Adakalanya kita memang butuh spontanitas sebagai seorang “otak kanan”. Alhasil, saya terkadang bertemu dengan teman-teman lain atau kondisi yang menebarkan semangat untuk tetap bergerak. Yah, setiap senyum, bahkan tawa, menular lebih capat dibanding penyakit manapun. Saya mempercayai itu.

Pernahkah kita menyadari bahwa banyak hal dalam kehidupan kita hingga kini berlangsung dan ada, karena keterpaksaan?

****

Pagi ini, bersama salah seorang teman, saya menikmati pagi. Sembari membaca buku, ia mmenyeruput Cappuccino, seperti saya menawarkannya. Hanya saja, takaran untuk se-sachet Cappuccino-nya tidak sesuai dengan porsinya.

“Pasti tidak ada rasanya,” Saya menodongnya ketika mendapati ia dengan gelasnya yang berisi penuh Cappuccino.

“Ada kok,” paksanya. Saya mengangguk saja sembari tersenyum tipis. Hahaha…cobalah, gelas mug seukuran itu tidak tepat diisi dengan seduhan penuh. Setengah saja, cukup.

Dan atas nama memaksakan diri itu, kini saya terpaksa menulis. Hahahaha…..it’s Okey… Saya menyayangi “rumah” ini hingga tak ingin meninggalkannya kosong. Selain itu, untuk menjadi penulis yang baik harus terbiasa menulis, bukan? Salam penulis yang memaksakan diri!


--Imam Rahmanto--

Selasa, 11 Februari 2014

4# DJAa 2014, Behind The Scene

Februari 11, 2014
"DJAa!"

"Be Creative, beeee Natural!" sorak para pelajar membahana menjawab seruan yang diprovokasikan panitia Diklat Jurnalistik Abu-abu. Ingat ya, seruannya didengungkan dengan gaya anak muda, dan tangan dilambai-lambai.

Para pelajar bersatu dalam momen pelatihan jurnalistik yang digelar selama 5 hari oleh LPPM Profesi UNM, 5-9 Februari. Lembaga yang telah lama berkiprah di dunia jurnalistik kampus. Lembaga yang benar-benar mengukur daya tahan dan militansi seorang jurnalis kampus seperti kami. Yeah!!

Meskipun saya sebenarnya sudah tak banyak lagi berpartisipasi sebagai kepanitiaan inti dalam mengelola kegiatan itu, namun sebagai Penanggung Jawab, saya juga sudah seharusnya bertanggung jawab atas kegiatan itu. Memberikan dorongan bagi mereka yang cenderung melipat mukanya. Membantu sedikit pekerjaan bagi mereka yang kesulitan menyelesaikannya. Dan tentu saja, di luar itu, saya harus menyelesaikan tunggakan tabloid yang kian mendera alam pikiran saya, tanpa harus banyak menambah keruwetan pikiran mereka para panitia.

Sketsa-sketsa pemateri DJAa 2014. Wah, saya juga berharap bisa jadi salah satunya sih... :/ (Foto: Profesi)
***

#1
Menyambut kedatangan para peserta dari berbagai daerah, tim panitia sudah mempersiapkan diri di lingkungan Wisma SLB, yang akan menjadi lokasi inti pelaksanaan DJAa.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang memanfaatkan area LPMP sebagai lokasi acara. Letak LPMP yang persis di pinggir jalan protokol mempermudah akses para peserta yang belum tahu betul lokasi kegiatan mereka. Sementara wisma SLB, para peserta masih harus menyusuri lorong yang menghubungkannya dengan jalan raya. Otomatis, lokasinya agak sepi, dan menurut sebagian peserta, menyenangkan.

"Pasti supaya kita memperoleh materi lebih khusuk ya?" komentar beberapa peserta.

Entahlah. Tapi, saya sendiri baru pertama kalinya menginjakkan kaki di wisma "luar biasa" itu. Saban hari, saya menemukan anak disabilitas yang menghiasi wajahnya dengan senyum penasaran kepada kami, orang-orang asing yang memasuki wilayahnya. Semoga, kami tak pernah mengganggunya.

Biar begitu, sejujurnya, keadaan para anak disabilitas itu sungguh jauh dari perkiraan saya. Kenyataannya, mereka masih tetap beraktivitas seperti orang-orang normal pada umumnya. Mereka masih bersekolah. Mereka masih bermain. Pun, mereka mengendarai motor layaknya anak-anak "nakal" di luar sana. We are same.

"Seharusnya kita seperti mereka, yang senantiasa tersenyum lepas ketika bertemu dengan orang-orang yang bahkan belum dikenalnya"

"Wajar. Mereka kan tidak banyak pikiran, makanya bisa sering-sering tersenyum," seorang teman saya menyanggah.

Bukan esensinya kita membandingkan apa yang memenuhi kepala kita dengan mereka. Sejatinya, kita sama di hadapan Tuhan. Yang terpenting adalah kita juga mampu berpikir layaknya mereka ketika kepala kita terasa terbebani. Keep it simple!


Warna-warni pohon celoteh. (Foto:
Rajab-Profesi)
Mengawali hari-hari yang bakal panjang di benak kepanitiaan, saya sudah menemukan ada banyak wajah-wajah yang tersisih. Terlipat. Murung. Berat. Mengeluh. Semuanya yang berakhir dengan air mata, biasanya. Apalagi di kepanitiaan kali ini, mereka yang menduduki tahta koordinator dan panitia inti dikenal dengan para angkatan "Air Mata". Hohoho.... :P

Sembari datang untuk mengisi perut, saya hanya bisa mentransferkan sedikit semangat buat mereka. Pengalaman saya, mereka tidak mempan dengan hal-hal demikian yang berbau menyemangati. Toh, yang mereka butuhkan hanyalah pelajaran yang datang dari diri sendiri, semacam "penemuan terbimbing". #mengutip salah satu metode pembelajaran dalam mata kuliah Microteaching saya.

Para peserta datang bersama rombongan yang satu-dua menyertakan guru pendamping. Untuk menyambut "tamu", maka tugas panitia lah mengiringi kedatangan mereka. Tak jarang bakal ditemukan panitia yang dengan "senang hati" mengangkut barang peserta DJAa. Tapi, benar-benar bahagia ketika mereka melayani peserta yang bening-bening mukanya.

Hari pertama, interaksi peserta dan panitia dimulai secara resmi dari technical meeting di aula utama. Dalam acara non-resmi itu peserta dijadwalkan berkenalan dan memperkenalkan masing-masing sekolahnya. Di samping itu, mereka juga mempresentasikan makanan khas yang dibawa dari daerahnya masing-masing.

Secara langsung, panitia didampingi oleh steering yang menjadi "bos" utama kepanitiaan. Sebagian dari steering itu merupakan teman-teman seangkatan saya di Profesi, dijuluki #Ben10, yang telah menyelesaikan jabatannya. Hanya tersisa 2 orang #Ben10, saya dan Pemimpin Umum, yang masih "betah" di bawah atap lembaga jurnalistik ini. Momen DJAa ini sekaligus menjadi momen bagi saya dan teman-teman untuk berkumpul kembali. It's our moment! Be crazy!

#2
Sebagai penanggung jawab, saya tidak punya kewajiban sebanyak dan seruwet panitia inti. Hanya pada tataran mengawasi. Tiap generasi punya masanya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk sementara menyelesaikan sendiri "masalah" saya. Ada banyak tunggakan tabloid yang mesti dikerjakan. Biar kepanitiaan berlangsung, liputan mesti rampung. Saya "berkeliaran" sendirian di kampus siang itu.
Dalam acara pembukaan DJAa, rektor UNM menyempatkan diri untuk berbagi "semangatnya" kepada peserta DJAa. Rektor dijadwalkan pula membuka kegiatan yang bakal berlangsung hingga hari Minggu itu. Lewat sambutan "renyah"nya, rektor menegaskan,

"Sampai hari ini, saya belum pernah tidak menghadiri acara DJAa yang dilaksanakan oleh Profesi,"

Semakin menghapus kekhawatiran saya beberapa hari sebelumnya. Kami belum memastikan rektor bisa datang atau tidak. Mungkin, itu pun baru dikonfirmasikan jelang hari pelaksanaan. Namun, itu membuktikan bahwa rektor benar-benar menjadi satu keluarga dengan lembaga kami.

"Saya baru pertama kalinya ini lihat rektornya UNM dari dekat," aku seorang siswa pada saya. Saya hanya menjawabnya dengan tersenyum-senyum. Tanpa diberikan penjelasan pun mereka sudah menyaksikannya secara langsung.

Ini loh Pak rektor kita, lagi tanda tangani deklarasi. (Foto:
Rajab-Profesi)
Mungkin, ada banyak penerimaan materi bagi peserta yang saya tinggalkan. Panitia-panitia dengan sigap mengiringi setiap acara yang dilangsungkan. Bahkan, dari sisi penyediaan konsumsi, saya mengacungi jempol buat panitianya. Setiap waktu, menu makanannya bervariasi. Ini pula yang membuat saya betah menghabiskan makanan disana, apa saja. Hahaha...

Belum lama kegiatan sementara berlangsung, panitia-panitia yang tumbang sudah bisa dihitung jari. Salah satu panitia perempuan yang mengeluhkan perutnya sakit mendadak dilarikan ke rumah sakit, sehari sebelumnya.

Berlanjut di hari berikutnya ketika salah satu panitia inti mengeluhkan hal yang nyaris sama. Ia memang punya penyakit maag, yang bisa dikatakan cukup akut. Sedikit saja telat waktu makan, penyakitnya akan kambuh. Ditambah lagi dengan kondisi tubuh dan pikiran yang membebaninya untuk bekerja keras. Beruntung, ia tidak harus dilarikan ke rumah sakit. Cukup diistirahatkan di kamar panitia.

Akan tetapi, di balik kesulitan, selalu ada kemudahan. Tepat hari itu, sesungguhnya hari membahagiakan baginya. Meskipun ia terbaring lemah di kamar panitia, namun teman-temannya sesama panitia memberikan sedikit kejutan untuk hari lahirnya. Kue tart hijau diboyong panitia di malam hari untuk dihadiahkan kepadanya. Selamat ulang tahun... ;)

"Kenapa kuenya warna begitu, bukannya pink?" kesal salah satu temannya. Maklum, yang sedang berulang tahun adalah maniak warna pink.

"Saya juga tidak tahu. Yang dipesan memang warna pink, tapi tidak tahu kenapa yang datang malah warna hijau," jawab panitia lainnya. Dalam hati, saya hanya bisa tertawa.

#3
Pagi hari, panitia kena tilang. Entah bagaimana caranya mereka bisa meloloskan diri.

Lagi, panitia lainnya di malam hari harus tumbang. Kali ini, panitia laki-laki. Di tengah-tengah breafing malam, seorang panitia agak ketakutan dan melaporkan bahwa temannya itu terjatuh pingsan.

Malam-malam lagi breafing. Yang berdiri itu adalah ibu-ibu tukang bersih-bersih ya... (Foto:Rajab-Profesi)

#4
"Wah, saya cuma kelelahan saja, Kak. Saya cuma ketiduran disitu," dalih panitia yang sempat pingsan.

"Mana mungkin ketiduran? Saya lihat tergeletak di depan pintu disitu. Saya bangunkan tidak mau bangun," celetuk temannya lagi. "Terpaksa saya panggil kakak-kakak."

Hahaha...saya tidak menyangka, ada banyak panitia yang bertumbangan. Seperti pagi ketika saya baru bangun, saya sudah menemukan seorang panitia harus didiamkan panitia lainnya karena menangis. Saya tidak tahu karena apa. Hanya saya tak ingin saja ikut campur atas masalah mereka. Dengan membiarkan mereka menghadapi dan menyelesaikan masalahnya, mereka akan belajar untuk dewasa. Ketika kalian memutuskan untuk mengemban tanggung jawab, kalian seharusnya sadar dan bersiap atas  segala resiko yang akan menghampiri.

Menjelang sore hari, panitia berbenah untuk pindah lokasi acara. Selanjutnya,widyawisata di Benteng Sombaopu. Disanalah acara akan berlangsung lebih akrab dan tidak membosankan. Mading-mading yang dilombakan akan dipresentasikan.

#5
"Apa yang kalian pikirkan dan nilai tentang teman kalian, yang namanya tercantum pada kertas itu, tuliskan!" tutur saya mengiringi para peserta menikmati paginya. Saya sedikit betah "bermain" dengan para peserta.

Pagi itu memang dimulai dengan permainan kecil untuk mengukur sejauh mana para peserta mengenal teman-temannya. Mereka harus menuliskan unek-unek, sifat, penilaian, atau apapun deskripsinya atas nama teman-teman yang sampai di tangan mereka. Hingga rolling selesai, ada beragam penilaian karakter yang dimunculkan. Saya suka memainkan permainan itu karena memunculkan tawa-tawa lepas dari para peserta.


Tuh, mereka tertawa membaca "karakter" teman-temannya. (Foto:Awal-Profesi)
Setiap dari kita punya karakter. Baik atau buruk. Orang lain yang menilainya.

"Orangnya pake poni lempar,"

Saya tertawa membaca salah satu tulisan yang ditujukan untuk salah seorang peserta. Untuk peserta yang dianggap primadona, saya membaca ada banyak hal-hal baik yang dituliskan. Tak jarang kata-kata "merayu" dituliskan peserta.

"Bisa minta nama facebook ta?" Lumrah.

Lepas "bermain", peserta sudah harus mengikuti prosesi perpisahan dengan teman-teman lainnya. Mereka dikumpulkan di aula "luar". Panitia ikut bergabung. Penutupan.

***

Selamat Hari Pers Sedunia! (Foto: Rajab-Profesi)
Acara diklat jurnalistik yang menghimpun 70-an peserta itu telah berakhir. Tepat bersamaan pula ketika dilepaskannya balon untuk memperingati Hari Pers Nasional, 9 Februari, secara simbolis. Balon-balon itu hijau, mengingatkan saya pada seseorang yang maniak warna hijau.

Sebelum itu, pengumuman hasil lomba telah dibacakan. Pesan sekaligus nasehat telah disampaikan. Perkenalan (ledekan) panitia telah dilontarkan. Salam perpisahan hangat telah disampaikan. Semangat telah dibagikan. Foto sudah dijepret. Nomor telepon belum dibagikan.

Tersisa, tawa-tawa yang mulai mereda. Agak sunyi. Sesekali hanya mengembangkan senyum. Satu-dua bersapa nama dan kontak. Bersalaman. Berpelukan. Lainnya diam. Diam yang menyimpan banyak harapan. Diam yang memendam bertumpuk kelelahan.

Akan tetapi, saya yakin, ada banyak cerita yang telah dibekukan dalam kepala setiap peserta untuk diingatnya kembali ketika merindu, tentang DJAa, tentang teman-temannya, tentang panitianya. Yakin, ada banyak panitia "muda" yang bermodus pada pesertanya. Pondasi awal yang mengenalkan mereka pada dunia jurnalistik, semoga rindu itu tak berbatas waktu... Sampai jumpa di lain kesempatan!

Dari kiri namanya, Fatin, Imam, Reno, (lupa). Keempat anak itu adalah anak-anak kecil yang berbahagia. Lihatlah
mukanya.  ^_^. (Foto: rajab-Profesi)


#100dayS
--Imam Rahmanto--

Minggu, 09 Februari 2014

Loving is Giving

Februari 09, 2014
Saya tidak begitu banyak tahu tentang hal ini; cinta. Berbicara tentang ini, seakan-akan mengarahkan kita pada praktisnya, pacaran. Sementara persoalan ini bukan sebatas pada pacaran saja, kan?

Saya pernah menyukai seseorang di masa sekolah dulu. Namun tak pernah saya utarakan. Saya tidak pernah berniat untuk pacaran di masa SMA dulu meskipun teman-teman beramai-ramai bercerita tentang pacarnya. Hahaha....mungkin karena saya juga tidak punya banyak hal untuk dibanggakan. Bahkan, hingga kini saya belum pernah sekalipun berpacaran. #bangga-dikit-lah

Saya sendiri heran dengan anak-anak SMA zaman sekarang, yang begitu mudahnya mengumbar-umbar perasaan suka menjadi cinta. Hanya berpikir tentang tren dan pasaran. Tanpa tahu membedakan mana yang sekadar suka, mana benar mencinta. Saya? Cukup berusaha menepatkan diri untuk seseorang, satu saja, hingga akhir.

Namun, jangan salah memahami bahwa saya belum pernah mencintai seseorang. Sejujurnya, ada beberapa orang yang pernah saya cintai diam-diam. Dan, cinta dalam diam itu menyakitkan dan menyakiti. Belajar dari hal itu, ketika menemukan seseorang yang benar-benar tepat menurut saya, maka tak ada alasan lagi untuk takut mengutarakan. Kecuali, takut kehilangannya.

"Kenapa sama sekali tak ingin jadi teman?" tanya seseorang "itu" suatu ketika, kerap kali.

Mm...seperti yang saya sendiri tak mengerti, seperti apa dan untuk apa? Entahlah. Saya hanya merasa tepat saja dan berusaha bersabar. Friends are special, but more than it is unthinkable... Jikalau tak mampu memikulnya, saya akan percaya saja. Saya tak ingin lagi menjadi orang yang hanya mengunci dirinya dalam diam. Meskipun tak jarang kita hanya dianggap sebatas persinggahan sementara, sebatas pengobat masa lalu.

Seperti kata seorang teman yang membuat saya ingin melempar kepalanya. Meski saya benci pula mengakuinya.

"Deh, Imam punya seseorang yang disukainya. Cuma, sayangnya, dia kayaknya cuma jadi 'pelarian' saja," ledeknya kerap kali diiringi tawa usil teman-teman lainnya. Damn.

Ia banyak tahu karena stalking semenjak "berteman" dengan teman saya "itu". Ia suka membuat saya salah tingkah dengan rasa penasarannya itu. Pasalnya, ada unsur balas dendam di setiap keusilannya pada saya. Dan saya hanya bisa ragu antara keinginan bilang YA atau TIDAK. Mungkin, saya harus menanyakan langsung kepada orangnya.

Tapi, entah mengapa, saya tetap "keras kepala" mempertahankan kebodohan itu. Menganggapnya angin lalu. Biarlah. Saya terlalu lama jadi orang pintar, dan sesekali ingin menjadi orang bodoh.

Cinta adalah tentang memberi. Ketika kita telah mampu memberikan sesuatu tanpa pernah diminta, maka kita mencintai. Ketika seseorang selalu memberikan sesuatu kepada kita tanpa pernah diminta, maka kita dicintai. Cinta adalah tentang kerelaan memberi tanpa diminta. 

Haha....sejujurnya, saya baru menyadari hal itu ketika seorang teman perempuan lainnya dengan terbuka bercerita tentang pengalamannya (serupa). Kami berbagi, dan tiba-tiba mampu membuka konsekuensi logis saya. Saya jadi tahu bagaimana cara berpikir"nya" dari membandingkan dengan cerita teman perempuan saya. Jauh, saya tidak bermaksud membandingkan. Hanya saja, beberapa fakta mendukung akal otak kiri saya itu.

"Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya." Perahu Kertas


Mendadak saya diingatkan pada salah satu film yang diangkat dari novel terlaris karya Dewi "Dee" Lestari. Pernah membacanya? Bahwasanya "cinta itu dipilih, bukan memilih." Saya tidak begitu paham maknanya. Hanya memetik darinya, tentang memberi tanpa pernah diminta.

Akh, saya tidak pernah banyak tahu tentang cinta. Sebagaimana tidak tahunya saya dengan perasaan perempuan. Saya hanya berusaha mempertahankan apa yang saya miliki. Mengungkapkan kejujuran secara terbuka. Melindungi sesuatu yang pantas dilindungi. Memperjuangkan sesuatu yang patut diberanikan. Dan menyayangi...

Hingga batas waktu yang tak ditentukan, kita mesti bersabar. Sebenar-benarnya, saya baru mendapati diri dengan keberanian yang dipertaruhkan. Karena hidup adalah tentang menetapkan keputusan dan mempertahankan secara berani...

***

"Seorang penulis mencintai lewat tulisannya. Tulisan adalah bagian dari jiwa seorang penulis. Ketika seseorang menjadi bagian dari tulisan seorang penulis, maka ia telah menjadi bagian dari jiwa penulis itu sendiri. Terkadang hanya orang-orang yang dihargai dan dicintai yang bisa menjadi bagian dari rima seorang penulis."

#memeriahkan bulan Februari, yang katanya, penuh dengan kasih sayang


--Imam Rahmanto--

Kamis, 06 Februari 2014

3# Take and Gift

Februari 06, 2014
Ada-ada saja ulah pemerintah. Beragam program yang diterapkannya untuk menyejahterakan kehidupan rakyat kecil ternyata masih harus mematok banyak syarat. Semisal iklan komersial di televisi, yang menjanjikan hadiah-hadiah besar, namun di ujung hurufnya mencantumkan tanda (*). Artinya, “syarat dan ketentuan berlaku”.

Saya masih harus menyambangi kantor BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) untuk memperjelas informasi yang diinginkan ayah saya. Seminggu sebelumnya, saya telah menyelesaikan “instruksi” ayah untuk mendaftarkannya sebagai pemegang kartu BPJS. Harapnya sih, kartu tersebut dapat mengakomodasi biaya-biaya pengobatan ayah saya di rumah sakit. Bahkan, sejujurnya, dalam pikiran saya sudah berseliweran bahwa kartu ini semacam kartu bebas berobat dimana saja rumah sakit milik pemerintah. Memang seperti itu imbauan yang saya dengarkan di bagian informasi BPJS beberapa hari sebelumnya.

Namun, lain di kata, kartu tersebut hanya berfungsi pada puskesmas maupun rumah sakit terdekat yang terletak di wilayah rumah asal. Karena KTP yang didaftarkan ayah saya adalah berstatus warga Enrekang, maka puskesmas yang terdaftar pun merupakan puskesmas terdekat yang berada sekitar 1 km dari rumah.

“Iya, hanya berlaku di puskesmas yang terdaftar saat membuat kartu. Jadi, kalau mau berobat ke puskesmas itu. Kalaupun mau berobat di tempat lain, harus dapat rujukan dari puskesmas bersangkutan,” tutur pria yang menjadi objek pertanyaan saya.

Kalau seperti ini, apa gunanya bayar premi tiap bulan. Toh, rumah sakitnya terbatas pada daerah yang lebih dekat saja. Begitu pikir ayah ketika saya menyampaikannya.

Dan saya masih harus memenuhi permintaan ayah saya.

***

This child, i think.... (Sumber: google.com)
Di tengah keramaian teman-teman lembaga jurnalistik mempersiapkan acara Diklat Jurnalistik, saya harus pandai-pandai mencuri waktu sekadar menyambangi kedua orang tua saya. Perlahan, saya harus kembali menemukan “jalan pulang”. Dalam kunjungan yang kesekian kalinya, saya mendadak mempelajari sesuatu tentang ayah dan ibu. Atau mungkin justru perihal semua orang tua di dunia ini.

“Mau tidak dengan celana ini?” Ibu menunjukkan celana ayah yang lama tidak pernah dikenakannya. Bahkan ayah terancam tidak akan pernah bisa mengenakannya lagi. Saya mencobanya.

“Tuh, pas! Ambillah,” seru ibu.

Saya menyadari, betapa orang tua selalu menyayangi anaknya. Tak peduli seberapa bersalahnya seorang anak. Karena lama tak berjumpa, terkadang orang tua saya juga selalu ingin membagi kehidupannya. Memberikan segala hal yang bsia dimilikinya hanya untuk membuat kita senang, atau bahkan tertawa. Bahkan, tanpa diminta pun, orang tua akan dengan sabarnya menawarkannya pada kita. Ia meminta diberi kesempatan memberikan apa yang dimilikinya kepada anaknya.

Di lain kesempatan, ayah maupun ibu kerap kali menawarkan hal serupa. Tidak bosan-bosannya.

“Kamu punya jaket, ndak? Kamu suka yang seperti ini? Atau nanti kita sama-sama cari disana,” Ibu memegangi jaket yang dimilikinya.Karena berbahan jeans, saya sempat menelitinya. Memang, dari dulu saya mengidam-idamkan jaket berbahan jeans seperti itu. Sayangnya, milik ibu saya khusus untuk perempuan. Mungkin, karena melihat ketertarikan saya, ia dan juga ayah lantas menawari saya. Akh, untuk saat ini, saya akan menahan diri untuk tidak banyak meminta.

Ra usah, Ma’. Saya sudah punya banyak jaket,” ujar saya sedikit berbohong.

Tidak peduli seberapa sulitnya keadaan yang dijalani kedua orang tua, mereka masih saja memikirkan anaknya. Mungkin, seperti itulah sejatinya perasaan sayang. Ketika seseorang senantiasa “memberi” tanpa pernah diminta.

Kita bisa memberi tanpa sedikitpun rasa sayang. Namun kita tidak mungkin bisa menyayangi orang lain tanpa sedikitpun keinginan untuk memberi, apapun.

Untuk itu, saya harus memenuhi setiap permintaan mereka. Sesekali, saya berjanji akan memberikan sesuatu bagi mereka. Sesuatu yang tidak pernah mereka minta. Sesuatu yang tidak sekadar materi. Karena sesuatu itu, tak bisa diwujudkan dalam bentuk riil semata. Kasih sayang.

“Kau benar-benar ikhlas kalau motormu dijual untuk persediaan biaya pengobatan Pa’e?” sekali lagi, ayah mendadak bertanya padahal saya berkali-kali telah mengiyakan permintaannya. Saya tahu, ia masih sayang-sayang menjual motor yang pernah dibelikannya untuk anak lelakinya.

Dengan mantap, tanpa ragu-ragu, saya cukup mengiyakannya. Saya tak punya alasan lagi untuk tetap mempertahankan barang yang sudah lebih dari enam bulan lamanya saya tinggalkan. Bukankah lebih baik memang jika digunakan untuk “menambal” kebutuhan ayah saya. Saya percaya, kelak saya akan mendapatkan barang yang jauh lebih baik dibandingnya. Tentu, tanpa menyusahkan orang tua lagi. Sekarang pun saya sementara merencanakannya. Karena kata teman saya, setiap orang itu sudah ada rezekinya masing-masing. #just believe it!

Semoga Tuhan memudahkan jalan penyelesaian studi saya, berbekal doa ayah, doa ibu, doa adik saya, doa yang lainnya… ^_^.


#100dayS
--Imam Rahmanto--

Rabu, 05 Februari 2014

2# Hanya Menikmati

Februari 05, 2014
Saya terbangun dengan perasaan agak kesal. Semalam, bukannya menyelesaikan proses editing artikel berita yang menunggak beberapa hari ini, saya justru tertidur sebelum waktunya-benar-benar-tidur. #argh
Untuk itu, saya menghabiskan waktu setengah hari hanya untuk editing berita yang belum terkumpulkan seluruhnya. Urusan mata kuliah yang diprogramkan, saya telah menuntaskannya kemarin. Tersisa menunggu jadwal kuliah yang mungkin akan keluar pekan depannya. Semangat kuliahnya!

Untuk sepekan ini pula, nampaknya saya harus bekerja "sendiri". Saya tidak tega harus menambah beban rekan-rekan saya yang sementara melangsungkan acara diklat jurnalistik abu-abu, khusus pelajar. Saya yang bertanggung jawab pula di dalamnya, sedikit-sedikit harus mampu mencuri waktu, menuntaskan tunggakan demi tunggakan. Mengejar ketertinggalan.

Sambil berpikir sedikit-sedikit tentang skripsi, saya akan menundanya untuk hari ini. Kepanitiaan sedang berlangsung. Deadline sedang mengejar.

Sudahlah, sembari menanti jadwal kuliah ditelurkan, saya akan mengurus tabloid dan "keluarga" saya terlebih dahulu.

***

Ada wajah-wajah sumringah. Ada wajah-wajah yang ditekuk dan tak menampakkan sebaris pun giginya. Ada wajah-wajah yang mengumpat. Ada wajah-wajah yang menahan amarah. Dan ada yang tak berekspresi sama sekali. Hanya sedikit yang menikmati segala hal yang dijalaninya, setidaknya tersenyum-senyum, dalam kepanitiaan ini, Diklat Jurnalistik Abu-abu.

Empat tahun bergelut di dalam lembaga jurnalistik ini, saya memaklumi muka-muka demikian. Saya pernah mengalaminya. Bagaimana saya bersama teman-teman lain mempertaruhkan segala prioritas lain demi berlangsungnya acara. Bagaimana saya terkadang harus berkonflik dengan teman-teman lainnya. Pikiran-pikiran lelah kerap meloloskan segala persepsi buruk yang ingin kita bangun di atas permukaan mata. Saya memakluminya. Mereka, panitia-panitia yang tak lebih adalah adik-adik saya, juga manusia biasa.

"Senyum dulu, dong," goda saya kepada salah seorang teman perempuan yang sedari tadi menekuk mukanya. Saya "menggondol" sandalnya. Ia memaksa saya mengembalikannya.

"Mbok ya, muka jangan ditekuk-tekuk begitu tah. Hahaha...! Nanti saya tidak bakal kembalikan loh," goda saya lagi. Mukanya semakin ditekuk, dan sungguh membuat mood-nya kian memburuk. Kalau kata cerita, perasaan buruk yang semakin didramatisir hanya akan menenggelamkan perasaan.

Saya pun harus belajar lebih banyak melapangkan diri. Tahu tidak, saya benci mendramatisir perasaan sendiri karena sudah cukup banyak mengalami mudaratnya, bertaruh dengan perasaan sendiri, karena belum mampu memenangkannya.

Untuk hari pertama, memang banyak konflik yang akan berlangsung. Sedikit, tapi membekas. Namun, seperti kata pepatah, memulai adalah pekerjaan tersulit. Ketika kita sudah mampu memulai, maka setengah pekerjaan sudah selesai. #just believe it!

Sembari "mengganggu" teman-teman yang sedang istirahat sejenak selepas pekerjaannya, saya mengacak-acak kamera yang tergeletak. Menyetelnya. Memutarnya. Mengatur timer untuk 10 second. Suara jepret disertai suara timer berhitung mundur. Satu-dua kilatan blitz memberikan sinyal untuk berhenti berpose di depan backdrop. Momen dibekukan.

"Saya juga, saya juga ikut!" beberapa suara menyeru. Hahaha....bolehlah melepas penat sementara waktu. Amnesia temporer untuk skripsi. Senyum, itu akan menular.


Cheese!! (Foto by: timer)


#100dayS
--Imam Rahmanto--

1# Memulai Akhir

Februari 05, 2014
Saya hampir lupa ingin menuliskan apa. Seharusnya saya menuliskan ini kemarin, sebelum kepala saya benar-benar melupakan segalanya. Hanya saja, banyak hal yang harus dipikirkan dalam rentang waktu lama ini. Maklum, penulis amatir selalu menyalahkan keadaan sekitarnya; waktu, kondisi, mood, kesibukan, dan sebagainya. Ok, saya akan belajar menjadi penulis yang baik, bahwa menulis adalah candu yang selalu merindu.

Saya mengawali target #100days di tulisan ini. Jika seseorang bertanya-tanya tentang apa #100days itu, dengan malu-malu dan optimis saya akan menjawab, "Skripsi!" Saya bertekad memenuhinya dan melampaui setiap ekspektasi imposible.

Terkadang kita memang butuh membagi tujuan dan mimpi kita dengan orang lain. Selain untuk mencemooh, mereka bisa menjadi "alarm warning" buat kita.

Kemarin, saya mengawalinya dengan memberanikan diri mencantumkan mata kuliah akhir yang bakal saya jalani; skripsi. Saya tidak peduli lagi jikalau saya bisa atau tidak menjalaninya di tengah rutinitas tiga mata kuliah lainnya yang masih harus diprogramkan. Pun, di tengah rutinitas peliputan sekaligus penerbitan tabloid tiap bulannya. Pun, di waktu-waktu kepanitiaan yang menghimpit seluruh akal dan perasaan. Pun, diantara pikiran yang senantiasa melayang untuk mencari pekerjaan yang memberikan penghasilan bulanan. Termasuk pula, menyambangi dan merawat kedua orang tua atas penebusan "dosa" saya.

Saya benci menyebutnya kesibukan. Hanya saja, saya tak tahu ingin menyebut apa deretan aktif yang senantiasa menyergap kepala saya. Dan atas itu, saya bertaruh, menyelesaikan studi di akhir waktu, semoga Agustus, tepat ketika saya mencukupkan pengalaman di lembaga jurnalistik yang membesarkan saya. Karena saya selalu percaya keajaiban atas tekad yang membulat.

Sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit...

Kemarin, saya harus bolak-balik mengurus Kartu Rencana Studi (KRS) yang sehari sebelumnya sempat tertunda. Pasalnya, akses KRS online untuk server kampus saya ngadat jika dibuka siang hari. Mau tak mau, saya membukanya di malam hari. Menyimpannya, lantas mencetaknya keesokan harinya.

"Enak PA (Penasehat Akademik)-nya. Setiap hari juga kelihatan di kampus. Tidak ribet minta tanda tangannya," tutur beberapa teman saya.

Yah, nyaris terulang tiap tahun keluhan yang sama. Beberapa teman yang harus bersusah payah menemukan (mencari) penasehat akademiknya masing-masing. Malah, sebagian dari mereka ada yang harus bolak-balik ke rumah PA. Masih untung kalau langsung ketemu dan tidak disuruh lagi datang keesokan harinya.

Sebenarnya, tahun akademik sekarang tidak lagi mewajibkan penggunaan KRS yang masih harus ditandatangani oleh dosen. Namun, sistem online yang diterapkan kampus mengancam kedekatan penasehat dan mahasiswa secara personal. Kalau sistem online benar-benar seutuhnya diterapkan, tidak bakal ada lagi mahasiswa yang repot-repot menemui dan konsultasi dengan penasehat akademiknya. Paling banter, dosen kenal mahasiswanya lewat kuliah dan konsultasi skripsi saja.

Dengan mudahnya saya menjumpai PA di kampus. Tidak butuh waktu lama, KRS saya ditandatangani. Berbincang sebentar mengenai skripsi, saya lantas melenggang menyetornya ke jurusan.

Agak lama saya sengaja berlalu lalang di sekitar jurusan saya. Lama. Sesekali berbincang dengan teman seangkatan yang juga mengurus KRSnya. Di kesempatan lainnya bercengkerama dengan adik-adik kampus yang masih kenal dengan saya. Bukan main, di kampus kini sudah banyak bertebaran mahasiswa-mahasiswa baru yang tidak saya kenal sama sekali.

Saya sengaja menghabiskan waktu yang lamaaaa disana. Ada nuansa-nuansa silam yang ingin saya petik dan anyam kembali. Merasai kondisi kampus yang tampaknya sebentar lagi akan saya tinggalkan. Hm, semoga... Membiasakan diri, itu kuncinya.

"Kapan selesai?"

Hahaha...nampaknya saya mulai memantapkan diri bisa menjawab pertanyaan itu. :) Meski sebagian orang tak percaya dan meragukannya, menganggapnya gurauan semata, namun jauh dalam lubuk hati, saya punya tekad. Mari bertaruh saja, it's a gambling, not a kidding.

Setelah merasai "aroma" jurusan beberapa jam lamanya, saya harus kembali mengatur isi kepala untuk manajemen jurnalistik deadline.


#100daySkripsi
--Imam Rahmanto--

Sabtu, 01 Februari 2014

Sambil Jalan, Sambil Belajar

Februari 01, 2014
Ada orang-orang yang takut dengan hal-hal baru. Ada orang-orang yang tak ingin melangkah meninggalkan zona nyamannya. Ada orang-orang yang hanya berusaha menerka-nerka tanpa berani mencoba. Ada orang-orang yang begitu lama mempersiapkan diri, berharap segalanya lebih mudah ketika ia sudah mahir dan mengasainya. Sementara mereka tak pernah sadar betapa pengalaman belajar itu adalah proses yang dijalaninya.

"Saya pelajari dulu, baru nanti buka usahanya," ujar seseorang.

Betapa seseorang tidak menyadari bahwa menjalankan suatu pekerjaan-pekerjaan kreatif di masa sekarang itu tidak butuh diawali dulu dengan belajar, melainkan dijalani sembari belajar. Ya, jalani saja, lantas belajar segala hal yang dibutuhkan selama menjalaninya!

Saya banyak menemukan, para pemenang di luar sana memulai pekerjaannya dengan modal nekat saja. Keterampilan? Mereka bahkan tidak memilikinya sama sekali. Hanya saja, mereka melihat sedikit peluang di dalamnya dan memberanikan diri mencoba menjalaninya. Urusan belajar keterampilan yang dibutuhkan, mereka memegang prinsip sambil menyelam minum air. Alhasil, mereka memperoleh keterampilan yang memang dibutuhkan.

"Saya tidak bisa. Saya tidak tahu melakukannya,"

Mereka mempelajarinya ketika mereka berani menjalaninya. Dalam proses perjalanan itulah mereka memaksakan diri untuk belajar tentang suatu hal yang ingin mereka bangun. Mungkin itu yang dinamakan belajar autodidak. Tidak heran ketika di luar sana banyak orang-orang yang memiliki keahlian di luar dari pendidikan yang selama ini mereka tempuh.

Dalam lembaga yang saya jalani pun berlaku demikian. Untuk menguasai sesuatu, kita harus berani mengerjakannya terlebih dahulu. Kita punya keterampilan di bidang itu atau tidak, adalah urusan belakangan. Yang terpenting adalah tekad dan kemauan. Bahkan kerap kali bukan kemauan sendiri melainkan dipaksa untuk mengembannya.

"Kau, jadi layouter," ujug-ujug ditunjuk langsung. "Waduh, saya tidak tahu apa-apa," jawabnya.

"Saya mau buka usaha pembuatan website, tapi saya cuma tahu sedikit," ujar orang lainnya lagi.

Gambling saja! Mencoba bertaruh. Eits, bukan taruhan yang diharamkan. Maksudnya, bertaruh dengan diri sendiri, melawan ketakutan-ketakutan dalam diri.

Selama ada kemauan, Tuhan akan selalu membukakan jalan. Toh, keterampilan itu pada akhirnya akan kita peroleh dalam perjalanan menyelesaikan pekerjaan itu.

Memang sih, resiko kesalahan dalam menjalani pekerjaan itu memang teramat tinggi. Namun, percaya saja, kesalahan itu lamat-lamat akan menghilang seiring kita gigih mempelajarinya. Bukankah sama halnya dengan Thomas Alfa Edison yang harus berkali-kali melakukan kesalahan sebelum akhirnya menemukan lampu pijar? Lantas, kenapa mesti takut? Orang-orang cenderung selalu mendramatisir rasa takutnya terhadap hal-hal baru yang sama sekali belum dicobanya.

Kebanyakan orang-orang gagal bukan karena mereka tidak bisa melakukan yang terbaik. Mereka gagal karena tidak berani mencoba dan berhenti berusaha. Keep trying!

Jadi, ingat, untuk menjalani pekerjaan tertentu, kita sejatinya tidak butuh keterampilan cukup banyak. Segalanya cukup diawali dengan niat, tekad, dan usaha keras.

"Belajar dulu, baru mengerjakannya," -- SALAH

"Kerjakan saja, sembari mempelajarinya," -- BENAR


--Imam Rahmanto--

Bi(a)sakan Diri

Februari 01, 2014
Selamat pagi!

Yah, tidak peduli kapan saya menuliskan postingan ini, sejatinya waktu masih pagi. Untuk beberapa bulan ini, kondisi yang terlihat selalu nampak pagi. Langit di atas kota saban hari tertutup awan gelap, menghalangi sinar matahari untuk berbagi panasnya. Kalau tiba waktunya, garis-garis hujan akan berkejaran turun menghunjam atap-atap bangunan. Sesekali, disertai angin kencang yang siap menerbangkan dahan-dahan lemah di atas pohon. Namun berkali-kali menggenangi jalan-jalan besar di kota.

Lazimnya pula, kondisi di luar turut mempengaruhi mood seseorang. Yah, seperti saya. Tak jarang, hanya gara-gara hujan yang tak kunjung mereda, saya malas untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan. Belum lagi dengan beberapa urusan yang sejatinya harus mendapatkan penanganan segera. Ditambah dengan kewajiban saya untuk memperbaiki hubungan keluarga yang agak merapuh.

Akan tetapi, bagaimanapun kondisinya, saya juga terbiasa untuk memaksakan diri. Karena saya percaya dari pemantik berupa “terpaksa” itu, lamat-lamat saya akan menemukan kerelaan untuk mengerjakannya. Yah, kerap kali saya menemukan hal serupa demikian.

Hm…akhirnya saya bisa lagi mengisi “rumah” ini. Saya sempat melupakannya, meski sebenarnya masih tetap berkutat dengan “rumah” milik orang lain. Namun saya memutuskan, sebelum saya kehilangan lebih banyak ingatan di kepala, tidak ada salahnya jika saya membekukannya sedari sekarang. Seperti hari-hari kemarin ketika saya bermaksud menuliskan kejadian-kejadian dalam tulisan, menunda-nundanya membuat saya banyak lupa. Saya tidak ingat lagi hendak menuliskan apa. Sebelum lupa, tuliskan! 

Sedikit memaksakan diri untuk segala proses liputan yang sementara berujung pada deadline. Yah, terkadang saya menemukan diri tidak bisa kemana-mana. Selain cuaca yang senantiasa mengubek-ubek mood, mobilisasi pun agak terbatas. Sebagai pimpinan yang baik, saya seyogyanya memberikan contoh yang baik pula. Oleh karena itu, sejelek apapun kondisi pikiran yang sementara berputar di kepala, saya memaksakan diri untuk berjalan lebih jauh dan bertemu lebih banyak orang mapun narasumber. Terbukti, banyak hal yang segera menular di tengah perjalanan saya memaksakan diri.

Cerita-cerita sesama pewarta. Senyum dan tawa yang menular secepat kilatan cahaya. Percayalah, senyum itu bisa menular lebih cepat ketimbang penyakit menular manapun. Hingga semangat yang mencuat setelah melihat teman-teman lain yang berkejaran dengan liputannya masing-masing. Yeah, saya belajar untuk tidak dipengaruhi oleh mood, melainkan kita sendiri yang menciptakan mood yang diperlukan. 

Menjelang petang, sambil berkeliling dan mengecek keadaan di seputar gedung kebanggaan kampus, saya memutuskan untuk menunaikan shalat Ashar yang hanya menyisakan tidak lebih dari satu jam lagi. Saya baru saja dari menyambangi gedung rektorat yang telah lama ditinggalkan para penghuninya, rektor dan jajarannya. Bersantai dan berbincang sebentar dengan salah satu staf kampus yang lama tidak saya jumpai.

“Semester berapa?” tanya seseorang sembari menyalami saya. Ia memang lebih dulu shalat di mushalla kecil di lantai 2 Pinisi dan saya belakangan mengikutinya sebagai makmum. Waduh! Ternyata ada yang bertanya “semester” pada saya.

“Mm…semester 8,” ujar saya asal sembari mengembangkan senyum. Gubrak!! Yah, beruntung wajah saya masih mendukung dianggap sebagai mahasiswa muda. Hahaha…dampak kebanyakan ngumpul dan kuliah dengan mahasiswa-mahasiswa lebih muda. :P

“Jurusan apa?”

“Tinggal dimana? Ngekos atau tinggal bersama orang tua?”

“Asal darimana?”

Saya menjawab semua pertanyaan itu seadanya tanpa balik bertanya seperti biasanya (saya). Saya agak malas menimpali percakapan itu. Pasalnya, saya agak khawatir gejala perbincangan tersebut bakal menjebak saya dalam penawaran Multi Level Marketing (MLM). Hahaha….

Selebihnya, karena saya tidak banyak bicara, mahasiswa yang mengaku angkatan 2012 itu berlalu dan berpisah dengan saya. Hm…padahal saya justru menyangka dia adalah salah satu pegawai atau staf di kampus saya. Ckckck….

Atas dasar apapun, semangat tidak bisa muncul menyesuaikan dengan kondisi. Sejatinya, kita memang harus sedikit memaksakannya. Seperti halnya ketika kita kecil dipaksa untuk shalat lima waktu. Meski ogah-ogahan, lambat laun kita akan belajar untuk terbiasa dan membiasakan. Beranjak dewasa, sebagian dari kita mulai menjalankan kewajiban muslim itu dengan sukarela. Bahkan mulai menyerukannya pula pada orang lain.

Bahkan untuk urusan menulis pun kita harus memaksakan diri agar bisa…

Surely! Saya juga memaksakan untuk menjalankan proses akhir dari studi saya. Sebentar lagi, jika saya mampu belajar dan terus menyesuaikan diri, maka saya akan segera menapaki dunia luar, yang tentunya lebih menjanjikan banyak pengalaman “liar” lainnya.

Bagi siapa saja yang sedang tak bersemangat hari ini, ayo, ayo, ayo memaksakan diri!!



--Imam Rahmanto--