Minggu, 05 Januari 2014

Pulang…

Kemarin. Hujan. Ia menemani perjalanan pulang saya. Ah, bukan. Lebih tepatnya, perjalanan “balik” ke redaksi. Karena dari arah yang sebaliknya, saya benar-benar baru saja pulang ke rumah. Benar-benar pulang ke rumah yang telah lama saya rindukan. Rumah, bukanlah tempat kita berteduh dari panasnya matahari, berlindung dari guyuran hujan. Melainkan, rumah adalah tempat kita menemukan keluarga.

“Seperti apapun kesalahanmu, keluargamu masih tetap menyayangimu. Orang tua, sekejam apapun itu, tidak akan pernah benar-benar membenci anaknya,” Akh, kata-kata itu serasa menampar kesadaran saya.

Saya menyadari segala kilas masa lalu itu. Entah bagaimana caranya, kilasan itu bagaikan film yang tiba-tiba terputar ulang di otak saya. Mengingatkan saya tentang kejadian-kejadian lampau yang sejatinya ingin saya lupakan. Akh, seiring tamparan yang mendarat di muka saya, menggenapkan orang-orang yang jengkel dengan sikap bodoh saya. Bukankah saya senantiasa menyampaikan ke adik-adik saya agar tidak selalu berpikir negatif terhadap sesuatu yang menimpanya? Dan saya, 6 bulan lalu nyaris benar-benar menjadi orang paling bodoh.

“Bagaimana mungkin tidak tega. Kalau seperti itu, artinya sudah tega. Sedikitnya, kasihanlah pada ibu atau ayahmu,” Saya banyak memikirkan kata-kata itu. Perkataan, yang mungkin menjadi kata terakhirnya buat saya. Entahlah. Nampaknya, saya memang tidak akan pernah benar-benar mampu mengobati luka seorang perempuan yang terikat dengan masa lalunya.

Biarlah untuk sementara waktu. Saya akan mengobati luka saya sendiri terlebih dulu. Pikiran saya dipenuhi “obsesi” untuk memperbaiki segalanya. Saya sepertinya ingin menjadi pribadi yang dulu. Dalam hati, saya bertekad untuk menyelesaikan segala beban-beban saya. Selagi tekad itu masih ada, maka saya harus benar-benar menyelesaikan segalanya. Memperbaiki segalanya.

Kemarin. Sebelum hujan. Saya tak pernah merencanakan adegan itu berlalu. Saya tak pernah menginginkan ceramah-ceramah dari ayah memenuhi kepala saya yang sudah terlanjur berat dengan permasalahan redaksi. Saya tak pernah memikirkan seperti apa cemoohan yang akan saya dapatkan. Saya hanya ingin menutupi tangisan adik saya yang selalu diperdengarkannya lewat saluran telepon. “Kak….kesini. Saya kangen….” katanya.

Akan tetapi, tangisan itu adalah tangisan yang menular. Air mata itu berpilin dan berputar memenuhi rongga udara diantara saya, ibu, adik, dan ayah saya. Menyatu. Dan meledak sejauh kami bisa menatap satu sama lain. Dan kemarin, saya menemukan rumah saya kembali. Saya pulang…

Saya membiarkan diri saya tenggelam dalam kata-kata seorang ayah yang kecewa dengan anaknya. Tangan yang mungkin sudah keriput itu, tak pernah saya tahan untuk mendarat di pipi saya. Bahkan, sebelum kemarin, saya sejatinya sudah siap untuk segala hal yang mungkin jauh lebih buruk.

Perihal meminta maaf dan memaafkan, tak pernah bisa dipisah begitu saja. Mereka terjalin utuh, membentuk suatu keikhlasan.

Kemarin. Setelah hujan. Saya menyadari segala hal yang telah saya lalui. Kini, saya kembali belajar. Mungkin, Tuhan yang mengajarkan saya. Sejatinya, keluarga adalah tempat kita kembali. Sesayang-sayangnya kita pada orang lain, tak ada yang melebihi cinta kasih dua orang tua yang telah merawat kita. Kesalahan mereka, mungkin hanyalah bentuk kekhilafan. Kesalahan kita, senantiasa ada jalan bagi mereka untuk memperbaikinya.

“Marah, bukan berarti orang tua membenci anaknya. Justru marah itu yang membangun kepedulian orang tua pada anaknya,”

Seringkali, tak berbeda, saya mengungkapkannya kepada adik-adik saya di redaksi. Kenyataannya, saya tidak benar-benar memahaminya. Bukan contoh kakak yang baik. Saya benar-benar telah bersikap bodoh selang 6 bulan ini. Egois. Untuk itu, saya hanya bisa berharap, orang-orang yang pernah marah atas sikap kekanak-kanakan saya mengulurkan tangannya. Lebar, membuka tangannya, dan berkata, “Semua baik-baik saja. Tak perlu khawatir,” sembari meloloskan maaf dalam hatinya.  

Yah, terpenting, saya telah kembali. Kembali pada orang-orang yang selalu menjadi tempat saya kembali. Rumah. Rumah. Rumah. Saya merindukannya…


--Imam Rahmanto--

Ps: Namanya keluarga, selalu ada tempat kembali 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar