Selasa, 14 Januari 2014

Hidup adalah Berpindah

Sumber: google.com
Kemarin, saya baru saja menyelesaikan satu film yang diangkat dari buku, Manusia Setengah Salmon. Film komedi sih, tapi saya selalu merasa tertarik menonton film yang diangkat dari sebuah buku. Saya menontonnya sendirian sambil sesekali tertawa dan tersenyum sendiri. Tertawa karena kelucuan, dan tersenyum karena membenarkan pesan yang ingin disampaikan pemeran utama sekaligus penulis bukunya, Raditya Dika.

Saya sebenarnya agak trauma dengan film-film Raditya Dika, setelah kecewa dengan hasil garapan Fajar Nugros di film Cinta Brontosaurusnya. Akan tetapi, saya paksakan saja untuk menonton film yang satu ini. Lagipula, menontonnya juga tidak pakai ongkos, kok. Hehe…

Film yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari film Cinta Brontosaurus ini mengisahkan tentang “perpindahan”. Mulai dari Radit yang harus berpindah dari mantannya, Jessica (pacar Radit di film sebelumnya) ke seseorang yang ternyata merupakan teman masa sekolahnya di SMP, Patricia.

Di tengah-tengah ia menjalani hubungan dengan Patricia, ia masih teringat-ingat dengan kenangannya bersama Jessica. Ia masih belum bisa lepas dari Jessica. Sementara, ia sendiri tahu bahwa mantannya itu telah punya pacar baru. Karenanya, Patricia nyaris menjauh dari kehidupan Radit.

Seiring dengan perpindahan Radit itu, keluarganya juga sedang sibuk mencari rumah baru. Radit yang awalnya betah dan merasa nyaman dengan rumah lamanya, terpaksa harus menerima kemauan orang tuanya itu. Selain dituntut untuk memenuhi deadline buku barunya, ia juga harus memenuhi saran editornya agar memperoleh ide baru lewat suasana yang baru dengan pindahan rumahnya.

Adiknya yang juga sebentar lagi akan beranjak dari SD ke SMP. Setiap malam, Edgar harus mempersiapkan diri untuk Ujian Nasionalnya. Termasuk mempersiapkan catatan contekan untuk ujian. Hahaha…sampai-sampai ia membuat presentasi “Cara Mencontek yang Baik dan Benar, by Edgar” di laptopnya.

Ini nih karyanya Edgar. :D

Akan tetapi, saya juga paling senang dengan kata-kata si kecil Edgar di  tugas pidato untuk perpisahan sekolahnya. “Awalnya memang susah, tapi perpindahan pasti ada terus. Saya sudah siap untuk pindah. Pindah sekolah. Pindah teman. Karena saya yakin, ada yang lebih baik di tempat yang lebih baru.”

Tampang Radit ketika mendengarkan tugas pidato yang dibacakan Edgar. Daleem banget. 

Semua hal baru yang dialami oleh Radit masih terasa asing baginya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, ia harus beradaptasi dan belajar menerima yang terbaik baginya. Seiring waktu ia sadar, seperti ikan salmon, ia harus berpindah ke tempat-tempat yang baru.

“Kalau kita mau pindah ke tempat yang baru, kita juga harus siap untuk meninggalkan yang lama,” pesan Ibu Radit sesaat mereka berkemas-kemas barang di rumah yang lama. Hm…film komedi ini, selalu berputar tentang perpindahan.

Yah, dalam film itu segala yang berusaha disampaikan oleh Radit adalah tentang perpindahan. Dan untuk menerima perpindahan-perpindahan itu, kita harus belajar menerima. Melapangkan dada. Seburuk apapun masalah yang akan menerpa kita dalam proses perpindahan itu, tidak akan terasa berat selama kita mampu melapangkan dada.

“Perpindahan adalah bagian dari kehidupan kita sebagai manusia. Dan kita akan selalu terjebak diantara perpindahan-perpindahan ini.”

“Seperti untuk pindah dari satu peran ke peran yang lain. Kalau dulu orang tua yang ngejagain kita, sekarang kita yang ngejagain mereka. Pindah kebiasaan, seperti mencoba untuk lebih jujur kepada orang lain, dan belajar sama-sama dari situ. Juga untuk pindah dari apa yang kita pikir kurang baik buat kita, menjadi yang terbaik buat semuanya."

“Karena dalam hidup kita akan selalu berpindah. Yang kita bisa lakukan adalah mencari kebahagian diantara semua perpindahan ini,”

Lantas, kenapa judulnya Manusia Setengah Salmon? Radit mengambil dasar ikan Salmon, yang menurut kepercayaan, akan selalu kembali ke tempat dilahirkannya. Ikan ini berkembang biak dengan cara bermigrasi ke lautan. Bahkan dalam proses perjalanannya berkembang biak itu, tak jarang mereka harus terseleksi oleh alam. Like that.

Hm..sejauh ini, saya menganggap film ini lebih baik ketimbang film Raditya Dika sebelumnya. Ceritanya cukup menarik, meskipun ada ucapan-ucapan yang terkadang kesannya dipaksakan (demi memenuhi pesan utama dalam filmnya). Selain itu, menjadi pengisi waktu senggang saya pula ketika pagi itu baru bangun dari 12 jam istirahat sehabis pleno. Haha…

Selanjutnya, saya penasaran dengan film Cinta Dalam Kardus ….


--Imam Rahmanto-- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar