Sabtu, 18 Januari 2014

Pa'e dan Anak Lelakinya

Usai menyelesaikan urusan “periklanan” di salah satu sektor kampus, saya memutuskan untuk memperbaiki sedikit kendala pada satu mata kuliah saya. Sebagai orang yang terancam-bakal-error-karena-tidak-ikut-ujian-final, saya harus bernegosiasi dengan dosen bersangkutan. Meskipun kemungkinan untuk berhasil hanya 5 persen. Karena asal tahu saja, dosennya agak arogan dan selalu ingin menang sendiri. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali, kan?

Hanya saja, lama saya menunggu, ditemani seorang teman berbincang lama di kampus tentang krispi (jangan dibaca: skripsi), saya harus meninggalkan dosen itu sesaat beberapa menit saya mendapatinya di lantai dua jurusan saya. Sebenarnya sih sudah di depan mata, dan sedikit lagi saya menyapanya. Akan tetapi, telepon berdering mengisyaratkan untuk menundanya. Dari ibu.

“Katanya kemarin mau kesini,” ujar Ibu saya di seberang sana. Akh ibu, saya selalu merindukan sambal pecel buatanmu.  

“Iya, Ma’e. Habis ini, di kampus, saya langsung kesana,” saya memang menjanjikan untuk mengunjungi ayah dan ibu di hari Jumat ini. Sebelumnya, beberapa jadwal ditambah cuaca yang ababil membuat saya agak sulit meluangkan waktu untuk keluarga, yang sudah nyaris enam bulan lamanya saya tinggalkan. Secara harfiah, benar-benar “meninggalkan”.

Hm, sedikitnya saya mencoba untuk lebih menurut pada orang tua. Enam bulan lamanya saya meninggalkan rumah. Enam bulan itu pula saya banyak menemukan “kebetulan-kebetulan” yang kemudian membawa saya untuk banyak belajar tentang keluarga. Enam bulan lamanya saya harus mengubur paksa kerinduan itu. Menikamnya tanpa ragu setiap kali ia berbenih ke permukaan. Enam bulan itu pula, saya nampaknya menjadi orang paling jahat.

Nampaknya saya memang harus menunda negosiasi kali ini. Besok, lusa, atau Senin mungkin bisa sedikit luangkan waktu untuk hal itu. Panggilan kerinduan dari ujung telepon telah menggema, dan saya adalah orang yang berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalunya.

Jadwal kunjungan saya memang tidaklah tetap. Hanya mematok jadwal tiap minggu untuk membesuk ayah saya yang sudah sakit sejak lama. Yah, saya bodoh telah meninggalkannya saat-saat ia sebenarnya membutuhkan dukungan moril dari anaknya. Ibu saya, dengan setia menungguinya, merawatnya. Sesekali, ia meminta saya untuk menebus obat yang memang sulit didapatkan di sekitar rumah Paklik saya.

Saya belajar untuk lebih lapang. Nampaknya, saya mulai belajar melepas kebencian itu. Perlahan, saya menerima diri saya kembali. Saya tak lagi menampik tentang hakikat keluarga. Sebagaimana saya tahu, betapa berharganya keluarga sebagai tempat kita kembali.

Saya menemukan angin segar ketika menemani ayah yang berusaha menahan panas yang menjalar di seluruh saraf-saraf punggungnya. Meskipun diawali dengan “wejangan-wejangan” panjang seperti biasanya, ada sesuatu yang baru saya temukan kali ini.

Apa yang saya dapati bukan sekadar cerita-ceritanya perihal filosofi wayang Jawa, khususnya tokoh Punakawan Semar yang selalu menunjuk dan menginjak bola dunia. Bukan kelucuan tentang kisah cinta ayah yang tak jarang digoda oleh wanita-wanita lain meskipun telah beristrikan ibu saya. Bukan tentang kakak sepupu saya yang ternyata salah memilih jodohnya, dan harus berakhir dengan perceraian. Bukan pula tentang kisah kakek saya, yang baru saya tahu, merupakan tokoh terpandang di kampungnya dan memiliki keris sakti yang diwariskan turun-temurun kepada anak-anaknya. Malah, konon kabarnya keris itu, oleh orang yang terpilih bisa berdiri sendiri dengan berpangkal pada ujung lancipnya.

Akh, itu hanya kisah-kisah sampingan yang membuat saya tertarik dan akhirnya tidak bosan menemani ayah bercerita panjang lebar.  Saya menemukan esensi sebenarnya dari kisah-kisah yang disampaikan oleh ayah saya; kedekatan.

Mungkin, tanpa disadari, ikatan batin sebagai ayah dan anak perlahan terjalin lewat cengkerama seperti itu. Meski ayah saya tidak bisa leluasa bergerak, namun ia masih bisa bercerita. Perhatian saya akhirnya teralih pada setiap cerita yang dilantunkannya. Saya seperti anak kecil yang sumringah didongengkan sebelum tidur.

“Kau tahu mengapa saya memasang lukisan Semar di rumah? Itu ada filosofinya. Pewayangan adalah soal filosofinya, bukan tentang kisah atau tokohnya. Sebagaimana para wali menyebarkan ajaran Islam dengan memanfaatkan media hiburan seperti wayang itu, mereka menyisipkan unsur-unsur Ketuhanan di dalamnya,”

“Pandawa yang selalu berlima. Maknanya adalah rukun Islam. Siapa yang senantiasa menegakkannya, ia akan selamat. Olehnya itu, Pandawa selalu menang dalam kisah Pewayangan,”


“Ada pula Punakawan yang selalu menyertai Pandawa; Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar, yang selalu digambarkan menunjuk, artinya syahadat. Digambarkan selalu di atas bola dunia, karena meniscayakan Islam melingkupi seluruh dunia,” jelas ayah saya. Untuk Petruk dan Gareng, saya mengenalnya dari komik-komik aspal yang biasa saya koleksi ketika menginjak bangku sekolah dasar dulu.

Saya hanya terdiam mendengar kisah ayah saya. Sejujurnya, saya tidak banyak tahu tentang hal-hal tersebut. Yang saya ketahui, di Jawa memang setiap anak dididik dengan pengetahuan agama yang mendalam meski tidak melalui pesantren, hanya sekadar TPA biasa. Apalagi zaman ayah saya (hingga kini), ada banyak kisah yang selalu dihubungkan dengan sejarah Islam oleh para ustadz-ustadznya. Betapa kentalnya adat keagamaan (Islam) orang-orang disana.

Kedekatan dari cerita-cerita seperti inilah yang benar-benar membuat saya terhibur sekaligus tersadar. Seandainya sejak dulu saya membangun kedekatan seperti ini…

“Mbahmu itu, punya keris yang diakui kedigdayaannya. Sepeninggalnya, ketika Pakdemu (kakak ayah) mengambil dan menyimpan untuk dirinya sendiri, katanya keris itu tidak mau. Makanya dikembalikan ke rumah Mbahmu. Tapi, entah kenapa, malah mau ngikut sama Pa’e,"

"Karena Pa’e tidak mau percaya sama begituan, meskipun dulu pernah melihat kesaktiannya bisa berdiri sendiri, maka Pa’e tidak mau membawanya. Masih tersimpan di rumah kakekmu,” kisah ayah saya agak mistis.

Padahal, menurut penuturan ayah saya, kakaknya adalah anak kesayangan kakek saya. Sementara ayah sendiri kerap kali membuat kakek saya naik pitam akibat ulah semasa kecilnya. “Pa’e ini bahkan sering diburu-buru pakai kayu oleh mbahmu dulu kalau nentang keinginannya,”  lanjutnya.

Saya diam saja mendengarkan penjelasan-penjelasannya. Saya baru menemukan suasana baru atas hubungan saya dengan ayah saya. Keakraban. Saya menikmatinya. Saya merasainya. Tidak seperti ketika saya hanya bisa terdiam mendengarkan teri-teori “wejangan” dari ayah, yang menurut saya sudah saya terapkan dalam kehidupan saya. Terkadang, hanya demi menjaga perasaannya, saya tidak ingin menyanggah nasehatnya.

Untuk kali ini, saya benar-benar tidak ingin memutus pembicaraannya. Ada nuansa-nuansa berbeda dalam kisah-kisah yang diceritakannya. Seperti seorang ayah yang mendongengkan untuk anaknya. Bedanya, kisah-kisah yang disampaikannya berasal dari pengalaman pribadinya. Nampaknya, hal-hal demikian yang saya rindukan. Bukan tentang nasehat, teori, dan lainnya. Melainkan cara ayah saya, meski tidak disadarinya, mengakrabkan diri dengan anak lelakinya. Dalam hati, saya tidak perlu menggerutu. Dalam benak, saya tidak butuh memutar kepala. Hanya butuh sedikit penerimaan atas wawasan-wawasan baru tentang ayah saya. Karena saya, anak lelakinya.

"Mbahmu dulu, sebenarnya banyak mengajarkan tentang hidup, pelajaran hidup. Mungkin, sedikitnya seperti itu yang saya mau ajarkan buat kamu, nak," hm...kenapa tiba-tiba rantai "belajar hidup" saya tersambung demikian misteriusnya?

Sejujurnya, saya banyak belajar tentang keluarga beberapa minggu terakhir ini. Tidak lagi mengabaikannya. Berusaha menyayangi dengan setulus hati dan meluangkan waktu untuk ayah dan ibu saya. Saya belajar untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan lalu. Saya hanya orang bodoh yang terlalu emosional terhadap ketidaklapangan hati saya. Saya menyadarinya. Dan berusaha memperbaikinya…

"Lihat, kan. Pa'mu tidak butuh apa-apa darimu. Dia cuma senang kalau kau bertanya kabarnya, paling tidak telepon atau sms. Kalaupun kau datang kemari, itu sudah membikinnya senang. Seandainya kau tidak ada jadi temannya mengobrol, sedari tadi ia sudah merasai seluruh saraf tubuhnya panas bukan main. Beruntung, Pa'mu sedikit melupakan sakitnya karena mengobrol begitu," tutur ibu saya. Akh ibu, sepolos-polosnya, kau masih tetap menjadi pendamping setia pa'e...


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar