Senin, 20 Januari 2014

Mencintai dan Memahami Butuh Waktu

Januari 20, 2014
(Sumber: google.com)
Apa yang kita ketahui tentang cinta? Setidaknya ketika kita mengajukan pertanyaan itu kepada setiap orang di dunia, tentu jawabannya akan berbeda-beda. Setiap orang punya pandangannya tentang rasa itu. Setiap orang punya nilai tentang rasa itu, yang dipengaruhi oleh segala hal yang pernah ditelikungnya.

#saya numpang tersenyum dan menghela napas sebentar

Saya mempelajari tentang perasaan itu tempo hari, dari ayah dan ibu saya. Sesuatu yang dari dulu menjadi pangkal kebencian terhadap ayah saya, perlahan memudar. Sementara saya mati-matian ingin menghapuskannya, namun ibu saya justru menerimanya. Bahkan hingga kini, ia dengan setia merawat ayah yang tak bisa lagi menggerakkan setengah sel saraf tubuhnya. Sungguh, melihat hal demikian, perlahan saya harus melepaskan onak itu dalam kepala saya.

Mungkin, seperti itulah cinta yang digariskan untuk kedua orang tua saya, eh secara umum semua orang tua di dunia ini. Komitmen terpatri dalam benak setiap pasangan. Bagaimanapun kehidupan yang akan dijalani, keduanya sudah berkomitmen (dalam hati masing-masing) untuk mempertahankan keluarga yang bahagia, utuh, dan membuah-hatikan keturunannya.

Mazmur dan ibunya. 
Pernah menyaksikan film Di Timur Matahari? Salah satu cuplikan filmnya benar-benar menggugah saya. Kemiripan dengan apa yang kerap saya alami dalam kehidupan keluarga saya membuatnya mengambil sedikit tempat dalam memory.

“Kenapa ibu tidak membalas?” tanya seorang anak bernama Mazmur ketika melihat ibunya menangis sendirian di dalam rumah usai dipukuli suaminya.

“Kasih itu tidak boleh membalas,” jawab ibunya perlahan sembari membelai Mazmur. "Laki-laki tidak boleh pukul perempuan. Perempuan juga tidak boleh pukul laki-laki, Mazmur."

“Tuhan bilang, perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Jadi kalau laki-laki sama perempuan baku pukul, itu sama saja kau sakiti diri sendiri,” tutur lembut ibunya.

Di tengah-tengah film, akibat konflik antar suku disana, ayah Mazmur meninggal. Sebegitu cintanya Ibu Mazmur kepada suaminya, ia sampai rela memotong salah satu jarinya (sesuai adat suku Dani di Papua). Jarinya, sebagai bukti kecintaannya terhadap suaminya, tanpa memandang kesalahan-kesalahan lalu.

Setiap orang punya pemahamannya masing-masing. Setiap orang punya kisahnya masing-masing.

Yah, karena komitmen dan masih dilandasi rasa sayang itulah sepertinya yang membuat ibu saya tetap meluangkan jiwa-raga untuk ayah saya. Sedikitpun ia tidak pernah memikirkan lelah yang menempanya. Mengeluh pun enggan. Kenangan-kenangan buruk masa lalu nampaknya tidak pernah dipendam ibu saya di dalam hatinya. Saya tidak butuh mengingat-ingat masa lalumu, karena saya ingin hidup denganmu yang sekarang dan yang akan datang.

Pun sebaliknya dengan ayah saya. Menurut apa yang diceritakannya (dan dibenarkan ibu), berkali-kali ayah pernah dekat dengan beberapa perempuan lain ketika sudah menikah dengan ibu. Hanya saja, ayah masih tetap kekeuh tidak ingin meninggalkan ibu.

“Begini-begini, banyak loh dulu yang kesemsem sama bapakmu. Cuman, saya masih pikir Ma’mu. Biar Ma’mu orangnya begitu, polos, tapi saya masih menerima apa adanya,” tutur ayah saya setengah bercanda. Mendengarnya, saya tersenyum sebentar. Saya teringat dengan sikap-sikap ibu yang dianggap ayah kurang baik.

Secara tersirat, sebenarnya ayah menyampaikan tentang prinsip penerimaan. Bahwa sejatinya kesempurnaan itu ketika seseorang mampu menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Saling melengkapi. Saling mengingatkan. Saling memuliakan.

Tentu saja, proses yang dijalani kedua orang tua saya menuju tahap hubungan yang matang ini bukanlah waktu yang singkat seperti zaman modern kini. Yah, meskipun alkisah keduanya menikah di waktu yang belia. Namun mencapai tangga kematangan itu butuh proses yang lamaaa sekali.

Karena sejatinya jodoh memang harus ditemukan, bukannya ditunggu, maka butuh waktu untuk mencarinya. Tidak sebentar loh menciptakan hubungan yang dewasa. Malah, hubungan yang lekat hanya dibangun dari pondasi yang kuat. Tidak asal jadi saja. Kita butuh waktu untuk tahu lebih banyak tentang perasaan pasangan masing-masing. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga setahun lamanya, maybe.

Perjalanan yang dimulai dengan lapang akan menghasilkan hubungan yang matang. Dari sekian banyak teman saya, mereka yang berpacaran hanya dari kenalan seminggu atau sebulan saja tidak bakal bertahan lama. Sebaliknya, teman saya yang berpacaran dari proses pedekate yang lama, bisa bertahan sampai hari ini. Hm…bahkan nampaknya beberapa teman saya tinggal menunggu selesai kuliah saja untuk naik pelaminan. Hahaha…

Pa’e dulu ya begitu. Suka sama Ma’mu waktunya lama. Kalau ada waktu ya ngapel, dijamu sama radio yang gedenya segini,” cerita ayah saya sambil mengukurkan kedua tangannya dan melirik pada ibu. Kisahnya puluhan tahun berselang sebelum saya hadir menjadi anak pertamanya.

Tentang kakak sepupu saya, yang gagal di kehidupan rumah tangganya, dianggap hal yang wajar oleh ayah. Lebih dari setahun silam saya terakhir kali bertemu dengan sepupu yang tiga tahun lebih tua dari saya itu. Ia belum pernah menceritakan sedikitpun perihal kekasihnya, bahkan teman dekatnya sekalipun. Eh, baru saja saya mendengar kembali kabar tentangnya, ia malah sudah bercerai. Ckckck….

“Ya begitu itu, karena sudah dirasa cocok Cakmu dan dianggap baik oleh Pakdemu, makanya langsung dinikahkan. Cakmu nurut wae. Apalagi yang wanitanya juga seorang biduan. Padahal baru dua minggu loh dia kenalan,” kisah ayah saya geleng-geleng kepala.

Kedua orang tua saya pun mengaku pernah dijenguk oleh kakak sepupu saya itu ketika dirawat di RS Wahidin, sekira dua-tiga bulan lalu. Ia yang waktu itu masih langgeng bersama istrinya datang langsung dari Jawa hanya untuk melihat keadaan ayah saya. Akh, saya tiba-tiba kembali dibalut perasaan bersalah…. Hanya berselang minggu, kabar tentang perceraiannya tiba di telinga ayah saya.

“Salah Cakmu sendiri tah. Masa’ iya ngenal perempuan itu cuma dua minggu saja? Memangnya untuk tahu luar-dalamnya bisa sesingkat itu?” ujar ayah saya. Setahu saya, ayah memang dekat pula dengan kakak sepupu saya yang satu itu. Bahkan, bisa dikatakan, kakak sepupu saya itu lebih nurut ke ayah dibanding ke Pakde.

Hm, apa yang dikatakan ayah memang benar. Mengenal seseorang itu tidak seperti membeli barang dagangan di pasar, yang cukup menawar sebentar lalu dibeli sesuai dengan kecocokannya. Jodoh adalah persoalan seumur hidup, maka perlu dipikirkan matang-matang. Need time to know. Need time to love.

Setiap orang hidup digariskan untuk menemukan jodohnya. Entah seperti apa pertemuannya. Romantis. Menyenangkan. Menyebalkan. Memuakkan. Dikenalkan teman. Entah seperti apa proses yang bakal dijalaninya. Saling menyukai diam-diam. Saling memusuhi. Atau biasa-biasa saja. Hingga sampai di kehidupan rumah tangga, yang tersisa adalah mempertahankannya. Memegang teguh komitmen masing-masing. Komitmen untuk berkeluarga utuh.

“Namanya jodoh ya memang begitu. Setiap orang harus saling menerima apa yang dimiliki pasangannya. Kalau punya kriteria, ya silakan dicari pada pasangannya. Kalau ndak nemu, ya cari lagi. Tapi jangan harap bakal nemu semua kriteria yang diharapkan. Jodoh itu, asal kriterianya sudah cocok, emm… minimal 80 persen lah sudah cukup. Sisanya tinggal saling melengkapi dan memperbaiki,” pesan ayah saya.

So sweet banget sih nih gambar.... -_-" (Sumber: google.com)
***


Hei, yang selalu keras kepala...

Aku menemukanmu dalam keadaan telah tersimpul oleh tawamu. Tak pernah sedikit pun aku mengasihani jalur air matamu. Bukan karena engkau menangis maka aku menyayangimu melebihi ketakutanku sendiri. Melainkan, karena aku menyayangimu, maka takkan kubiarkan engkau menangis.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 18 Januari 2014

Pa'e dan Anak Lelakinya

Januari 18, 2014
Usai menyelesaikan urusan “periklanan” di salah satu sektor kampus, saya memutuskan untuk memperbaiki sedikit kendala pada satu mata kuliah saya. Sebagai orang yang terancam-bakal-error-karena-tidak-ikut-ujian-final, saya harus bernegosiasi dengan dosen bersangkutan. Meskipun kemungkinan untuk berhasil hanya 5 persen. Karena asal tahu saja, dosennya agak arogan dan selalu ingin menang sendiri. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali, kan?

Hanya saja, lama saya menunggu, ditemani seorang teman berbincang lama di kampus tentang krispi (jangan dibaca: skripsi), saya harus meninggalkan dosen itu sesaat beberapa menit saya mendapatinya di lantai dua jurusan saya. Sebenarnya sih sudah di depan mata, dan sedikit lagi saya menyapanya. Akan tetapi, telepon berdering mengisyaratkan untuk menundanya. Dari ibu.

“Katanya kemarin mau kesini,” ujar Ibu saya di seberang sana. Akh ibu, saya selalu merindukan sambal pecel buatanmu.  

“Iya, Ma’e. Habis ini, di kampus, saya langsung kesana,” saya memang menjanjikan untuk mengunjungi ayah dan ibu di hari Jumat ini. Sebelumnya, beberapa jadwal ditambah cuaca yang ababil membuat saya agak sulit meluangkan waktu untuk keluarga, yang sudah nyaris enam bulan lamanya saya tinggalkan. Secara harfiah, benar-benar “meninggalkan”.

Hm, sedikitnya saya mencoba untuk lebih menurut pada orang tua. Enam bulan lamanya saya meninggalkan rumah. Enam bulan itu pula saya banyak menemukan “kebetulan-kebetulan” yang kemudian membawa saya untuk banyak belajar tentang keluarga. Enam bulan lamanya saya harus mengubur paksa kerinduan itu. Menikamnya tanpa ragu setiap kali ia berbenih ke permukaan. Enam bulan itu pula, saya nampaknya menjadi orang paling jahat.

Nampaknya saya memang harus menunda negosiasi kali ini. Besok, lusa, atau Senin mungkin bisa sedikit luangkan waktu untuk hal itu. Panggilan kerinduan dari ujung telepon telah menggema, dan saya adalah orang yang berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalunya.

Jadwal kunjungan saya memang tidaklah tetap. Hanya mematok jadwal tiap minggu untuk membesuk ayah saya yang sudah sakit sejak lama. Yah, saya bodoh telah meninggalkannya saat-saat ia sebenarnya membutuhkan dukungan moril dari anaknya. Ibu saya, dengan setia menungguinya, merawatnya. Sesekali, ia meminta saya untuk menebus obat yang memang sulit didapatkan di sekitar rumah Paklik saya.

Saya belajar untuk lebih lapang. Nampaknya, saya mulai belajar melepas kebencian itu. Perlahan, saya menerima diri saya kembali. Saya tak lagi menampik tentang hakikat keluarga. Sebagaimana saya tahu, betapa berharganya keluarga sebagai tempat kita kembali.

Saya menemukan angin segar ketika menemani ayah yang berusaha menahan panas yang menjalar di seluruh saraf-saraf punggungnya. Meskipun diawali dengan “wejangan-wejangan” panjang seperti biasanya, ada sesuatu yang baru saya temukan kali ini.

Apa yang saya dapati bukan sekadar cerita-ceritanya perihal filosofi wayang Jawa, khususnya tokoh Punakawan Semar yang selalu menunjuk dan menginjak bola dunia. Bukan kelucuan tentang kisah cinta ayah yang tak jarang digoda oleh wanita-wanita lain meskipun telah beristrikan ibu saya. Bukan tentang kakak sepupu saya yang ternyata salah memilih jodohnya, dan harus berakhir dengan perceraian. Bukan pula tentang kisah kakek saya, yang baru saya tahu, merupakan tokoh terpandang di kampungnya dan memiliki keris sakti yang diwariskan turun-temurun kepada anak-anaknya. Malah, konon kabarnya keris itu, oleh orang yang terpilih bisa berdiri sendiri dengan berpangkal pada ujung lancipnya.

Akh, itu hanya kisah-kisah sampingan yang membuat saya tertarik dan akhirnya tidak bosan menemani ayah bercerita panjang lebar.  Saya menemukan esensi sebenarnya dari kisah-kisah yang disampaikan oleh ayah saya; kedekatan.

Mungkin, tanpa disadari, ikatan batin sebagai ayah dan anak perlahan terjalin lewat cengkerama seperti itu. Meski ayah saya tidak bisa leluasa bergerak, namun ia masih bisa bercerita. Perhatian saya akhirnya teralih pada setiap cerita yang dilantunkannya. Saya seperti anak kecil yang sumringah didongengkan sebelum tidur.

“Kau tahu mengapa saya memasang lukisan Semar di rumah? Itu ada filosofinya. Pewayangan adalah soal filosofinya, bukan tentang kisah atau tokohnya. Sebagaimana para wali menyebarkan ajaran Islam dengan memanfaatkan media hiburan seperti wayang itu, mereka menyisipkan unsur-unsur Ketuhanan di dalamnya,”

“Pandawa yang selalu berlima. Maknanya adalah rukun Islam. Siapa yang senantiasa menegakkannya, ia akan selamat. Olehnya itu, Pandawa selalu menang dalam kisah Pewayangan,”


“Ada pula Punakawan yang selalu menyertai Pandawa; Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar, yang selalu digambarkan menunjuk, artinya syahadat. Digambarkan selalu di atas bola dunia, karena meniscayakan Islam melingkupi seluruh dunia,” jelas ayah saya. Untuk Petruk dan Gareng, saya mengenalnya dari komik-komik aspal yang biasa saya koleksi ketika menginjak bangku sekolah dasar dulu.

Saya hanya terdiam mendengar kisah ayah saya. Sejujurnya, saya tidak banyak tahu tentang hal-hal tersebut. Yang saya ketahui, di Jawa memang setiap anak dididik dengan pengetahuan agama yang mendalam meski tidak melalui pesantren, hanya sekadar TPA biasa. Apalagi zaman ayah saya (hingga kini), ada banyak kisah yang selalu dihubungkan dengan sejarah Islam oleh para ustadz-ustadznya. Betapa kentalnya adat keagamaan (Islam) orang-orang disana.

Kedekatan dari cerita-cerita seperti inilah yang benar-benar membuat saya terhibur sekaligus tersadar. Seandainya sejak dulu saya membangun kedekatan seperti ini…

“Mbahmu itu, punya keris yang diakui kedigdayaannya. Sepeninggalnya, ketika Pakdemu (kakak ayah) mengambil dan menyimpan untuk dirinya sendiri, katanya keris itu tidak mau. Makanya dikembalikan ke rumah Mbahmu. Tapi, entah kenapa, malah mau ngikut sama Pa’e,"

"Karena Pa’e tidak mau percaya sama begituan, meskipun dulu pernah melihat kesaktiannya bisa berdiri sendiri, maka Pa’e tidak mau membawanya. Masih tersimpan di rumah kakekmu,” kisah ayah saya agak mistis.

Padahal, menurut penuturan ayah saya, kakaknya adalah anak kesayangan kakek saya. Sementara ayah sendiri kerap kali membuat kakek saya naik pitam akibat ulah semasa kecilnya. “Pa’e ini bahkan sering diburu-buru pakai kayu oleh mbahmu dulu kalau nentang keinginannya,”  lanjutnya.

Saya diam saja mendengarkan penjelasan-penjelasannya. Saya baru menemukan suasana baru atas hubungan saya dengan ayah saya. Keakraban. Saya menikmatinya. Saya merasainya. Tidak seperti ketika saya hanya bisa terdiam mendengarkan teri-teori “wejangan” dari ayah, yang menurut saya sudah saya terapkan dalam kehidupan saya. Terkadang, hanya demi menjaga perasaannya, saya tidak ingin menyanggah nasehatnya.

Untuk kali ini, saya benar-benar tidak ingin memutus pembicaraannya. Ada nuansa-nuansa berbeda dalam kisah-kisah yang diceritakannya. Seperti seorang ayah yang mendongengkan untuk anaknya. Bedanya, kisah-kisah yang disampaikannya berasal dari pengalaman pribadinya. Nampaknya, hal-hal demikian yang saya rindukan. Bukan tentang nasehat, teori, dan lainnya. Melainkan cara ayah saya, meski tidak disadarinya, mengakrabkan diri dengan anak lelakinya. Dalam hati, saya tidak perlu menggerutu. Dalam benak, saya tidak butuh memutar kepala. Hanya butuh sedikit penerimaan atas wawasan-wawasan baru tentang ayah saya. Karena saya, anak lelakinya.

"Mbahmu dulu, sebenarnya banyak mengajarkan tentang hidup, pelajaran hidup. Mungkin, sedikitnya seperti itu yang saya mau ajarkan buat kamu, nak," hm...kenapa tiba-tiba rantai "belajar hidup" saya tersambung demikian misteriusnya?

Sejujurnya, saya banyak belajar tentang keluarga beberapa minggu terakhir ini. Tidak lagi mengabaikannya. Berusaha menyayangi dengan setulus hati dan meluangkan waktu untuk ayah dan ibu saya. Saya belajar untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan lalu. Saya hanya orang bodoh yang terlalu emosional terhadap ketidaklapangan hati saya. Saya menyadarinya. Dan berusaha memperbaikinya…

"Lihat, kan. Pa'mu tidak butuh apa-apa darimu. Dia cuma senang kalau kau bertanya kabarnya, paling tidak telepon atau sms. Kalaupun kau datang kemari, itu sudah membikinnya senang. Seandainya kau tidak ada jadi temannya mengobrol, sedari tadi ia sudah merasai seluruh saraf tubuhnya panas bukan main. Beruntung, Pa'mu sedikit melupakan sakitnya karena mengobrol begitu," tutur ibu saya. Akh ibu, sepolos-polosnya, kau masih tetap menjadi pendamping setia pa'e...


--Imam Rahmanto--

Kamis, 16 Januari 2014

Keep Trying

Januari 16, 2014
Bulan bersinar bulat. Tepat malam ini bulan purnama menggantung di ujung langit sana. Menurut berita yang tadi sempat saya baca, purnama malam ini merupakan purnama “langka”. Muncul sekali dalam berpuluh-puluh tahun dan disebut mini moon, karena letaknya yang mencapai titik terjauh dari bumi. Mm…saya berpikir, berdasarkan perhitungan kalender Masehi dan kalender Hijriah, cukup masuk akal juga. Karena antara kedua kalender itu purnama jatuh di penanggalan yang sama, tanggal 15.

Beruntung, saya tadi sempat menyaksikannya sebelum mendung menyergap dan mencurahkan hujan berkalanya. Mungkin, dini hari nanti bakal hujan lagi, tepat ketika semua orang sudah kembali ke peraduannya masing-masing.

Oiya, tadi pagi juga saya sempat dikejutkan oleh angin kencang yang nyaris menerbangkan atap rumah tetangga kami. Bahkan, di atas atapnya, tersangkut atap lain yang entah darimana angin menerbangkannya. Beberapa orang yang lewat di depan rumah berhenti sejenak untuk menyimak atap seng yang cukup lebar itu.

Beberapa hari belakangan saya lebih sering bertemu dengan teman-teman lama saya. Teman-teman masa sekolah dulu. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tentu, bukan saya yang menyapa duluan. Saya masih terlalu minder untuk bisa menyapa mereka yang kini sudah bertitel atau sekadar siap bertitel sarjana. Sedangkan saya? Masih cukup jauh di tahun ini meskipun saya menargetkannya lebih awal.

“Apa kabar?” Kerap kali pertanyaan yang sama, dari orang-orang yang berbeda.

“Baik. Selalu bersemangat,” jawab saya, diselingi dengan emoticon tertawa lebar. Karena, pada dasarnya, saya lebih suka memperturutkan tindakan untuk kemudian perasaan yang akan mengikutinya. Senyum dulu, bahagianya nanti pasti akan nyangkut kok.

Lantas, pertanyaan selanjutnya yang paling saya tidak gemari, “Sudah wisuda?” dan pertanyaan lain sejenisnya. #euhh.  Apa bisa ya “label” seorang Imam Rahmanto yang selama ini di-laminating di kepala mereka digantikan saja dengan Imam yang “biasa-biasa” saja?

Saya masih harus menyelesaikan tanggung jawab disini, lembaga yang membesarkan saya. Sejak dulu, saya berprinsip, menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Selain itu, beranjak dewasa, tanggung jawab dalam keluarga pun perlahan berubah arah. Lebih cepat dari seharusnya. Nampaknya, “tulang punggung” akan beralih lebih cepat. Tak perlu menghitung hari lagi, saya sudah harus bersiap atas kemungkinan itu.

“Ini sudah tidak bisa seperti sedia kala lagi, nak,”

Seperti kata dokter, kehidupan ayah tidak akan berlangsung “biasa-biasa” lagi. Seperti kata ibu, saya adalah anak tertua yang sudah sepantasnya menjalankan tanggung jawabnya. Seperti kata adik perempuan saya, saya adalah kakak yang selalu dibanggakannya. *menghela napas

Sejujurnya, mata kuliah yang seharusnya saya programkan hanya satu, eh dua saja. Sisanya, saya cukup mengajukan judul untuk skripsi saja. Hanya saja, menyelingi proses itu, masih ada banyak hal yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu.

Akh, saya lantas berpikir, seperti apa kuliah saya selanjutnya? Di luar sana, teman-teman saya sudah mencapai gelar yang begitu dibanggakannya. Mm…atau entahlah, mungkin gelar yang lebih dibanggakan oleh orang tua mereka ketimbang diri mereka sendiri. Mereka berbondong-bondong sudah mulai berburu di medan kerja. Bersaing satu sama lain. Atau bahkan sudah ada sebagian dari mereka yang menghasilkan pendapatan yang lumayan jumlahnya. Darinya, mereka berusaha untuk membagi penghasilan dengan keluarga yang telah membesarkan mereka. Dan mungkin, sebagiannya lagi telah mengalihkan penghasilan itu untuk istri maupun orang terkasih mereka. Saya sendiri pun berharap bisa demikian…

Meskipun tertatih-tatih, saya mulai belajar untuk mengerjakan semuanya sedikit demi sedikit. Kuliah, bagaimanapun, selalu saya jalankan. Pengajuan judul, ah, tidak usah dipertanyakan lagi, seseorang yang tersayang selalu mendorong (atau mengompori) saya. Terima kasih untuk cerewetnya. Dan selanjutnya, saya hanya harus memperoleh pekerjaan yang memang tepat untuk saya, tidak menyita banyak waktu dan bisa dikerjakan dimana saja, serta menghasilkan pendapatan yang lumayan pula. Emang ada ya???

Bagaimanapun tujuan yang ingin saya capai, segalanya sudah ditentukan Tuhan. Setidaknya, cukup going to the extra miles saja. Apalagi, selepas kuliah nanti, saya juga akan sampai pada titik itu. Keep trying and praying... 

Nah, cappuccino terakhir ini menjadi penanda bahwa sudah saatnya saya tidur. Terlelap. Semoga dalam mimpi nanti, saya menemukan (atau dipertemukan) jawabannya….

Oh ya, saya juga harus tidur karena sebelumnya minta dibangunkan oleh”nya”. Semoga...


--Imam Rahmanto--

Selasa, 14 Januari 2014

Hidup adalah Berpindah

Januari 14, 2014
Sumber: google.com
Kemarin, saya baru saja menyelesaikan satu film yang diangkat dari buku, Manusia Setengah Salmon. Film komedi sih, tapi saya selalu merasa tertarik menonton film yang diangkat dari sebuah buku. Saya menontonnya sendirian sambil sesekali tertawa dan tersenyum sendiri. Tertawa karena kelucuan, dan tersenyum karena membenarkan pesan yang ingin disampaikan pemeran utama sekaligus penulis bukunya, Raditya Dika.

Saya sebenarnya agak trauma dengan film-film Raditya Dika, setelah kecewa dengan hasil garapan Fajar Nugros di film Cinta Brontosaurusnya. Akan tetapi, saya paksakan saja untuk menonton film yang satu ini. Lagipula, menontonnya juga tidak pakai ongkos, kok. Hehe…

Film yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari film Cinta Brontosaurus ini mengisahkan tentang “perpindahan”. Mulai dari Radit yang harus berpindah dari mantannya, Jessica (pacar Radit di film sebelumnya) ke seseorang yang ternyata merupakan teman masa sekolahnya di SMP, Patricia.

Di tengah-tengah ia menjalani hubungan dengan Patricia, ia masih teringat-ingat dengan kenangannya bersama Jessica. Ia masih belum bisa lepas dari Jessica. Sementara, ia sendiri tahu bahwa mantannya itu telah punya pacar baru. Karenanya, Patricia nyaris menjauh dari kehidupan Radit.

Seiring dengan perpindahan Radit itu, keluarganya juga sedang sibuk mencari rumah baru. Radit yang awalnya betah dan merasa nyaman dengan rumah lamanya, terpaksa harus menerima kemauan orang tuanya itu. Selain dituntut untuk memenuhi deadline buku barunya, ia juga harus memenuhi saran editornya agar memperoleh ide baru lewat suasana yang baru dengan pindahan rumahnya.

Adiknya yang juga sebentar lagi akan beranjak dari SD ke SMP. Setiap malam, Edgar harus mempersiapkan diri untuk Ujian Nasionalnya. Termasuk mempersiapkan catatan contekan untuk ujian. Hahaha…sampai-sampai ia membuat presentasi “Cara Mencontek yang Baik dan Benar, by Edgar” di laptopnya.

Ini nih karyanya Edgar. :D

Akan tetapi, saya juga paling senang dengan kata-kata si kecil Edgar di  tugas pidato untuk perpisahan sekolahnya. “Awalnya memang susah, tapi perpindahan pasti ada terus. Saya sudah siap untuk pindah. Pindah sekolah. Pindah teman. Karena saya yakin, ada yang lebih baik di tempat yang lebih baru.”

Tampang Radit ketika mendengarkan tugas pidato yang dibacakan Edgar. Daleem banget. 

Semua hal baru yang dialami oleh Radit masih terasa asing baginya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, ia harus beradaptasi dan belajar menerima yang terbaik baginya. Seiring waktu ia sadar, seperti ikan salmon, ia harus berpindah ke tempat-tempat yang baru.

“Kalau kita mau pindah ke tempat yang baru, kita juga harus siap untuk meninggalkan yang lama,” pesan Ibu Radit sesaat mereka berkemas-kemas barang di rumah yang lama. Hm…film komedi ini, selalu berputar tentang perpindahan.

Yah, dalam film itu segala yang berusaha disampaikan oleh Radit adalah tentang perpindahan. Dan untuk menerima perpindahan-perpindahan itu, kita harus belajar menerima. Melapangkan dada. Seburuk apapun masalah yang akan menerpa kita dalam proses perpindahan itu, tidak akan terasa berat selama kita mampu melapangkan dada.

“Perpindahan adalah bagian dari kehidupan kita sebagai manusia. Dan kita akan selalu terjebak diantara perpindahan-perpindahan ini.”

“Seperti untuk pindah dari satu peran ke peran yang lain. Kalau dulu orang tua yang ngejagain kita, sekarang kita yang ngejagain mereka. Pindah kebiasaan, seperti mencoba untuk lebih jujur kepada orang lain, dan belajar sama-sama dari situ. Juga untuk pindah dari apa yang kita pikir kurang baik buat kita, menjadi yang terbaik buat semuanya."

“Karena dalam hidup kita akan selalu berpindah. Yang kita bisa lakukan adalah mencari kebahagian diantara semua perpindahan ini,”

Lantas, kenapa judulnya Manusia Setengah Salmon? Radit mengambil dasar ikan Salmon, yang menurut kepercayaan, akan selalu kembali ke tempat dilahirkannya. Ikan ini berkembang biak dengan cara bermigrasi ke lautan. Bahkan dalam proses perjalanannya berkembang biak itu, tak jarang mereka harus terseleksi oleh alam. Like that.

Hm..sejauh ini, saya menganggap film ini lebih baik ketimbang film Raditya Dika sebelumnya. Ceritanya cukup menarik, meskipun ada ucapan-ucapan yang terkadang kesannya dipaksakan (demi memenuhi pesan utama dalam filmnya). Selain itu, menjadi pengisi waktu senggang saya pula ketika pagi itu baru bangun dari 12 jam istirahat sehabis pleno. Haha…

Selanjutnya, saya penasaran dengan film Cinta Dalam Kardus ….


--Imam Rahmanto-- 

Senin, 13 Januari 2014

Lapang

Januari 13, 2014
Pagi ini saya bangun pukul 6. Di luar sana masih gelap.Mungkin sisa-sisa hujan semalam.  Semalam, samar-samar saya mendengarkan gemericik hujan. Deras. Amat deras. Pantas saja jikalau saya terlelap begitu lama. 12 jam! Aduh! Saya lalai lagi menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Astaghfirullah!

Kemarin, saya bersama teman-teman pewarta kampus lainnya baru saja menyelesaikan laporan pertanggungjawaban yang digelar tiap triwulannya. Rapat yang merupakan evaluasi kinerja tiap tiga bulan. Rapat untuk perbaikan-perbaikan yang akan datang. Perbincangan sekaligus perdebatan alot yang menyita waktu hingga semalaman tanpa lelap. Secara kasarnya sih, momen untuk kena cerca dan marah. Haha..

Bagaimanapun juga, beberapa tahun mengalami hal serupa, saya belajar untuk legowo. Seburuk apapun hasil kerja yang menjadi penilaian bagi kinerja kami, saya cukup menganggapnya sebagai suatu pelajaran. Sakit hati? Ah, itu hanya akan menambah beban pikiran. Memperkeruh suasana hati. Cukup menghadapinya dengan anggukan dan senyuman (jika dibutuhkan). Just so simple. :)

Yah, adalah manusiawi ketika kita sakit hati. Menangis juga adalah hal manusiawi. Sekejam-kejamnya seorang manusia, ia juga masih mempunyai air mata yang siap menetes kapanpun ia bertemu dengan hal yang paling ditakutkannya.

“Jangan lihat. Saya malu dilihat menangis,” ujar salah seorang teman perempuan saya usai ia “dihakimi” dalam pertanggungjawabannya.

Saya hanya tertawa melihatnya. Sekilas, tetap memandanginya sampai ia kesal sendiri. “Saya cuma penasaran saja mau lihat kau menangis,” tutur saya selanjutnya. Haha…di tengah-tengah penghakiman kami, saya bersyukur masih bisa tertawa-tawa lepas seperti itu.

Meski usaha yang dilakukan telah maksimal, belum tentu akan membuahkan hasil yang maksimal pula. Terkadang, usaha kita tidak begitu dihargai. Namun, bukankah apa yang kita kerjakan untuk orang lain memang sudah seharusnya dinilai orang lain? Baik atau buruk penilaiannya, kita cukup menerimanya saja dengan lapang dada. Tak perlu merasa sakit hati.

***

Saya jadi ingat cerita tentang seorang pertapa bijak yang didatangi oleh orang yang kesal karena kehidupannya selalu dirundung masalah. Ia lantas bertanya, “Wahai pertapa yang bertuah pengalaman, tolonglah aku. Hidupku penuh dengan kemalangan. Saban hari saya selalu dirundung masalah.”

Pertapa itu balik bertanya, “Apa yang bisa dibantukan oleh diriku yang sudah renta ini wahai anak muda?”

“Mohon petunjukmu, apa yang bisa kulakukan untuk mengatasi setiap permasalahanku? Apa kau punya obat untuk membuatku lupa setiap masalah itu datang?” tanya pemuda asing itu lagi.

Pertapa itu hanya tersenyum. Ia lantas mengajak si pemuda ke sebuah danau yang terletak tak jauh dari rumahnya. Di tangan kirinya, ia menggenggam sejumput garam. Di tangan satunya lagi, ia membawa gelas berisi air. Dicampurkannya garam itu ke dalam gelas yang berisi air. Diaduk hingga larut.

“Sekarang, coba kau minum air ini,” pinta pertapa ke pemuda itu. Tanpa banyak tanya meskipun terhean-heran ia meminum air itu. Namun, baru beberapa teguk, ia memuntahkannya.

“Wahai pertapa, tidakkah kau tahu sendiri bahwa air yang kau berikan ini rasanya asin?” gerutu si pemuda.

Tanpa mempedulikan kekesalan si pemuda, pertapa itu kemudian mengambil garam dan mencampurkannya ke dalam air danau. Setelah mengaduk-aduknya sebentar, ia lantas menciduk airnya dengan gelas yang tadi. Diberikannya gelas berisi air danau itu kepada si pemuda.  “Nah, minumlah.”

Masih agak ragu-ragu, kemudian pemuda itu meminum air sampai tegukan terakhir.

“Bagaimana rasa air itu?” tanya pertapa.

“Biasa-biasa saja. Pastinya, air ini tidak asin seperti air yang pertama kali kau berikan wahai pertapa,” ujar pemuda itu jujur.

“Seperti itulah seharusnya kau memandangi hidup ini. Untuk semua permasalahanmua, tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Bahkan jikalau ada obat untuk membuat kita lupa kepada segala pelik kehidupan kita, itu hanya berlangsung sementara. Kita harus mensyukuri diberikan ingatan yang bisa membuat kita belajar.

Seperti air tadi, adalah wadah hati untuk permasalahanmu, garam. Segelas air itu berasa asin karena dicampurkan garam. Namun air danau yang dicampurkan garam pada jumlah yang sama, tidak akan terasa asin sama sekali. Kalau kau senantiasa melapangkan hati, maka kesusahan apapun yang menimpamu, akan kau anggap biasa-biasa saja. Bahkan, setidaknya kau bisa menjemput pelajaran berharga dari sana,” tutur pertapa yang kemudian meninggalkan pemuda itu sendirian di tepi danau.

***

Seperti danau itu, hati pun harus dilapangkan untuk mempersiapkan diri, belajar menerima, terhadap segala hal-hal baru yang akan mengganggu perjalanan hidup kita. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Belajar dari Takut

Januari 13, 2014

Sumber: google.com
Saya menemukan permainan baru dan unik untuk handphone. Sebenarnya, bukan permainan baru. Hanya saja, saya baru menemukan kesenangan (sekaligus pengisi waktu senggang) memainkannya. Saya terinspirasi dari handphone kepunyaan adik saya. Saya mendapati permainan itu satu-satunya pada handphone lawas milik adik saya.

"Ini nama permainannya apa ya?" pikir saya. Pada perangkat adik saya, hanya tertulis "puzzle". Sembari browsing di GooglePlay dengan kata kunci tersebut, saya memilah satu-satu nominasi yang muncul. Saya bermaksud menginstalnya pula di perangkat saya. Aha!! Dan saya menemukannya, puzzle slider.

Sejak dulu saya mengenal permainan ini, tidak pernah sekalipun saya berhasil menyelesaikannya. Bersusah payah, tidak selesai. Saya bingung bagaimana cara memindahkan puzzle yang benar hingga akhirnya trauma sendiri dengan salah satu permainan ini. Saya jadi malas sendiri memainkannya, karena tidak mengerti cara menyelesaikannya.

Namun, setelah menguji kembali "ketakutan" saya itu, ternyata hal yang saya takutkan tidak benar-benar menakutkan. Sejatinya, saya diterkam ketakutan itu karena tidak mencoba. Takut mencoba. Tapi setelah mencoba, nyatanya saya bisa menyelesaikannya, meski awalnya butuh waktu lama untuk menyelesaikan puzzle seutuhnya. Toh, saya ketagihan memainkannya.

Hal tersebut tidak jauh berbeda ketika saya masih memainkan rubiks. Hampir dua tahun lalu, mainan kubus itu booming di kalangan teman-teman kuliah saya. Awalnya, sebelum dicoba, terlihat sulit. Akan tetapi, setelah dicoba dan mempelajarinya langkahnya, semua kelihatan lebih mudah.

Yah, apa yang kita takutkan terkadang memang tidak beralasan. Kerap kali seseorang takut pada suatu hal yang belum pernah dihadapinya hanya gara-gara membayangkannya berlebihan atau mendengarkannya dari orang lain. Padahal, mencobanya saja belum. Alih-alih merasa berani, kita malah kalah sebelum berperang.

Sejujurnya, ada banyak hal yang terjadi demikian dalam hidup saya. Saya terlalu melebih-lebihkan ketakutan yang nmenyergap saya. Menganggap segala sesuatunya tidak mungkin. Memustahilkan setiap keberanian yang berusaha dimunculkan. Padahal, saya belum mencoba melakukannya. Sementara, apa kita tahu, bahwa keberanian seebnarnya hanya dibutuhkan untuk menghadapi ketakutan-ketakutan dari dalam diri kita.

Baru-baru ini, saya menonton film Bollywood di tivi, yang juga film lama, Kabhi Kushi Kabhi Gham. Film ini mengingatkan saya pada kisah saya sendiri. Entah kenapa, saya agak terhanyut menontonnya...
Oleh karena itu, saya berusaha untuk memperbaiki diri. Tak lagi menyusun ketakutan-ketakutan itu dalam pikiran saya. Kalau perlu enyah saja dari pikiran saya. Setiap hal yang terjadi cukup dijadikan saja pelajaran, bukan momok. Takut adalah manusiawi, namun menghadapinya adalah pilihan pasti.

Tidak pantaslah kita merasa takut terhadap hal-hal yang belum pernah sama sekali dicoba. Dicoba dulu, baru takut. Kalaupun hasilnya benar-benar membuat kita takut, maka dicoba lagi. Mungkin, butuh sesuatu untuk dipelajari agar ketakutan kita itu lenyap. Bukanlah pemenang mereka yang tidak takut terhadap apapun, melainkan mereka yang bisa menghadapi ketakutannya sendiri.



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 11 Januari 2014

Sepuluh yang Berulang (Tahun)

Januari 11, 2014

Yeah! Akhirnya beban di kepala saya sudah bisa sedikit terlepas. Tabloid telah terbit. Tersisa, mempertanggungjawabkannya dalam rapat triwulan hari ini. Fiuuh…

SEPULUH = SATU
Beberapa orang pernah bilang bahwa angka sepuluh adalah angka yang sempurna. Meskipun sebenarnya di dunia ini tidak ada yang sempurna, ya itu menurut sebagian orang lainnya. Tapi bagiku kalian sudah cukup sempurna untuk menjadi teman terbaikku selama ini. Kita mungkin tidak pernah berpikir sebelumnya, bagaimana Tuhan mempertemukan kita, membuat kita akhirnya menjadi angka yang 'sempurna', dan mungkin juga kita belum pernah berpikir sebelumnya betapa angka Sepuluh itu justru membuat kita menjadi 'Satu'.
Berawal dari Sepuluh, akan tetap Sepuluh, dan kita menjadi Satu...
*Friendship Everlasting.   - By Andini “Dhiny” Ristyaningrum

“Aduh, kenapa ya status teman-teman kita akhir-akhir ini lebay,” canda salah seorang teman saya, Fajrianto “Iyan” Jalil.

Beberapa hari terakhir, usai kami merayakan ulang tahun salah seorang teman, beragam status bermunculan di beranda facebook. Lucu. Pokoknya perihal persahabatan 10 orang (yang menamakan dirinya Ben10). Ulang tahun salah satu diantara kami nampaknya menjadi pemicu status-status melankolis itu bermunculan satu persatu. Hahaha

#sebenarnya beberapa hari yang lalu saya ingin menuliskan sedikit “kerisauan” ini. Hanya saja, deadline tabloid yang menekan kepala saya setiap waktu mengharuskan saya untuk mengerjakan prioritas-prioritas tertentu lebih dahulu. Namun, kenyataannya, bagaimanapun padatnya pekerjaan, nampaknya akan selalu ada waktu buat teman… :)

Saya pun membenarkan apa yang dikatakan Iyan. Adalah hal yang wajar meskipun saya sendiri sangat-amat jarang menulis postingan status di akun jejaring sosial milik saya. Akan tetapi, saya mengerti kok apa yang mereka rasakan. Kurang-lebih (pasti pas) kami membentuk ikatan perasaan yang sama.

Mendadak, teman-teman saya berubah menjadi orang-orang “romantis”. Mereka berlomba-lomba menulis sesuatu yang menggambarkan perasaan mereka tentang kami. Baik status maupun note fb. Tidak heran, beberapa hari setelah surprise untuk teman saya, Sutrisno "Cinno" Zulkifli, berpuluh-puluh notifikasi muncul setiap saya membuka akun.

Kamu biru, aku ungu. Kau tak paksa aku biru, aku tak paksa kamu ungu. Kamu coba pahami ungu, aku coba pahami biru. Kamu mencintai ungu, tanpa menjadi ungu. Aku mencintai biru, tanpa menjadi biru.
Kamu kopi, aku susu. Kamu tak marahiku karena ku tak cecap kopimu. Aku tak cerewetimu tuk hisap manis susuku. Tetapi, kedua cangkir kita bersandingan. Menghias sebuah meja bertaplak ungu dan biru. Tatap mata kita berbagi rindu.
Lalu, suatu saat kamu tuangkan sedikit kopimu di susuku. Lalu suatu saat, aku tuangkan sedikit susuku di kopimu. Kita cecap bersama. Dan tertawa bahagia. Selanjutnya, kau tetap kopi. Kopi yang sesekali mencecap susu. Selanjutnya, aku tetap susu. Susu yang sesekali menyeduh kopi.
Kamu punya hati yang lain, kupunya hati yang lain. Tapi kita sisakan ruang di hati. Kamu taruh hatiku di hatimu, aku taruh hatimu di hatiku. Kita saling membagi ruang hati, tanpa menyingkirkan hati-hati lain yang telah bertengger di dada kita. Kita tetap membuka ruang untuk hati yang lain. Tanpa saling cemburu.
Kamu bahagia tatkala aku bahagia dengan belahan hatiku yang lain. Aku bahagia ketika kau bahagia bersama belahan hatimu yang lain. Tetapi hati kita selalu bertemu, dan berpadu. Menyatu.
Aku, kau, dan sekuntum persahabatan… afifa afra  - by Sudarmi "Amy"

“Kok kita jadi lebay begini ya??” tutur Iyan lagi. Hahaha….saya dan ia hanya bisa tertawa menyaksikan tingkah-polah teman-teman kami di jejaring sosial. Setidaknya, kami merasa lucu. Kami merasa terhibur. Kami merasa rindu akan momen-momen yang dulu pernah membuat kami selalu bersama.

Yah, kemungkinan memang, kami merindukan momen-momen ketika masih berjuang sama-sama di lembaga yang membesarkan kami. Kami yang bersepuluh, yang dijuluki sepihak oleh Dini sebagai Ben10. Ini juga acra kartun favorit saya dulu. Hehehe…dan kini, yang tersisa adalah saya dan Cinno yang masih saja (dibetahkan) menuntun adik-adik kami ke arah jalan yang benar. *sadaaap

Bahkan Ical yang memang dari sononya tipe-tipe cowok romantis - maklum pacarannya sudah berpuluh-puluh tahun, kami tinggal menanti waktu menikahnya saja. haha... - tak tanggung-tanggung membuat desain, yang menurut saya, agak hancur,


Kemudian Rukmana "Ana" Mansyur bilang ini lewat facebook-nya,

“suka banget kata2 hasil ngutipx Ichal, "kalian itu sahabat terjelek, tercerewet, terhancur, dan ter-ter lainnya yg pernah aku temui, tapi seandainya waktu bisa terulang, aku akan tetap memilih bersahabat dengan kalian"
benar2 menyentuh


lantas kita masing-masing kena tag darinya, di samping foto-foto ultah yang gencar diupload oleh Fahrizal “Ical” Syam. *geleng2 kepala

Saya tidak ingat lagi kapan kami mulai merasakan keakraban seperti itu. Ketika pertama kami bersaing dengan puluhan magang Profesi lainnya untuk bertahan, kami tidak akan pernah menyangka bisa bertemu dalam keakraban utuh seperti ini. Bahkan hanya untuk melirik-lirik dan memastikan salah satu diantara kami akan berteman baik bukanlah hak “prerogatif” kami. Tuhan senantiasa mengatur setiap perjalanan kita. Merangkaikan setiap kejadian yang akhirnya menyisakan kami bersepuluh. Yah, nampaknya tanpa sepengetahuan kami, Tuhan telah berencana. Terperinci. dan memberikan surprise-Nya.

Kalau boleh sedikit membuat mata saya berkaca-kaca, yang menurut teman saya agak lebay, betapa berharganya nilai-nilai kedekatan kami dulu, yang ternyata baru bisa kami rasakan sekarang. Sejujurnya, nilai itu baru benar-benar meresap sekarang ketika kami telah nyaris kehilangannya. Bukan kehilangan secara harfiah, melainkan kami telah berpisah dan sibuk pada aktivitas baru masing-masing. Kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kita kehilangannya, it’s right!

Ketika kami menjalani masa-masa sulit di lembaga kuli tinta itu dulu, saya yakin, kepala hanya terasa dibebani oleh tugas-tugas yang menumpuk. Kami terkadang mengeluh untuk suatu pekerjaan yang seharusnya bisa kami kerjakan bersama-sama. Kami terkadang saling menyalahkan satu sama lain. Mencibir mereka yang menurut pemahaman kami bertolak belakang. Tak jarang pula kami menjadi pembangkang bagi senior-senior yang seharusnya menjadi pengarah kami. Tak henti-hentinya, yang namanya “kesulitan” selalu mendominasi pergulatan kami, Ben10 di masa-masa dulu. Satu, dua, tiga waktu kami terkadang harus mengulurkan tangan dan “memohon-mohon” kepada masing-masing dari kami agar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Betapa saya harus tersenyum-senyum sendiri memutar ulang “memory disk” itu di kepala saya…

Saya sendiri menyadari, ketika kami masih merasakan kebersamaan di lembaga itu, setiap waktu adalah pekerjaan. Setiap detik adalah waktu untuk berpikir. Betapa saya dulu mengecam teman-teman yang tidak menggunakan waktunya untuk mengerjakan tanggung jawab yang diembannya. Kami nyaris membiarkan struktur “sepuluh” kami harus berakhir. Hal-hal demikian tentu saja nyaris membuat kami terpecah. Memikirkan kebersamaan? Terkadang itu hanya menjadi selingan di kala kita masih punya surplus waktu.

Masa-masa sulit itu, seperti peluru, seketika berakhir… Bukankah kita baru bisa merasakan manisnya gula ketika punya pembanding makanan-makanan yang pahit? Tanpa pahit, asin, asam, pedas, kita tidak akan tahu manis itu sendiri.

Nah, selepas mereka (terkecuali kami dua orang) melenggang lulus dari tanggung jawabnya disini, nampaknya kami baru merasakan berharganya kedekatan kami. Setiap orang, memiliki waktunya masing-masing. Mereka meluangkan barang sejenak, sedetik, hingga sejam hanya untuk bertatap muka, berbagi tawa dan keceriaan. Lihatlah, bagaimana kami “rame sendiri” merayakan ulang tahun setiap teman kami. Bagaimana kami hanya bersepuluh, atau malah kurang dari itu, menyiapkan surprise-surprise kecil untuk salah satu dari kami. Tentu saja, dengan harapan bakal dapat traktir makan coto gratis. Hahaha…

"semua terasa sempurna bersama kalian
always ben10 :*" By "status" Ana


“Lain kali, tidak usah pake kue lagi ya hadiah ultahnya. Bosan…” kata Iyan sesaat sebelum kami membawakan surprise terencana untuk Cinno.

“Iya, kapan-kapan kita pake traktir nonton di bioskop saja ya?” saya memotongnya. Ditambah lagi, kalau menyiapkan kue ultah, terkadang ada “rentenir” yang akan menagih uang pembelian kue itu. Biasalah, Dini bakal tak bosan-bosannya “memalak” kami setiap bertemu. 

Malah, dulu, teman kami Ical, justru tidak tahu kalau uang yang dipakainya menyumbang kue ultah justru dihadiahkan kembali padanya. Ia tidak menyangka, uang yang disumbangkannya untuk surprise ulang tahun salah seorang teman waktu itu akan dipakai juga untuk ulang tahunnya yang telah lewat beberapa hari. Hahaha….kami tertawa saja melihat mukanya yang melongo.

Benar. Ketika kami tak lagi merasakan pekerjaan-pekerjaan yang memberatkan kepala dulu, kami merindukannya. Merindukan saat-saat yang bisa membuat kami duduk bersama lagi. Bercerita banyak hal. Memutar ulang kenangan-kenangan yang sebelumnya pahit, namun membuat tertawa jika diceritakan. Semua beban terkadang lepas begitu saja. tak ada lagi alasan untuk “malu-malu” merayakan hal demikian.

Meski masing-masing telah dewasa, namun berkumpul bersama akan membawa kami pada masa-masa “anak kecil”. Satu sama lain, kami saling mengerti. Satu sama lain, kami tetap terbuka. Adalah kami yang sebenarnya ketika kami bertemu satu sama lain. Sederhana. Jelek. Anak kecil. Nangis. Jorok. Kalem. Genit. Amburadul. Ngejek. Tertawa. Mengeluh. Kurang ajar. Simple. Semuanya tidak disembunyikan, kok. ^_^.

“Imam itu, dia sudah tidak sendiri lagi,” Aduh, si cengeng Dhiny sudah mulai membuka kartu.

“Masa iya? Wahh…pasti anak SMA ya? Mana? Tidak ada buktinya,” nah, nah, Iyan “Kadal” sudah berbicara mengobok-obok. Anak SMA??? Tebakan yang amburadul…-__-..

“Hah? Ckck….saya prihatin. Trus, temanmu yang kemarin itu mau kau apakan?” Ini si Asri “cambang” suka banget melihat saya dikerjai. Awas loh ya, saya cabut cambangnya…

“Tidak ada, tidak ada. Saya setia sama kesendirian saya, kok,” potong saya cepat. Saya mendelik ke arah Dini, dengan ancaman “tidak-bakal-dapat-jatah-es-krim-goreng-lagi-loh”. Sialnya, ia justru berpura-pura melihat ke arah lain.

Nah, lihatlah, ketika kau sendiri masih merasa malu untuk menyebutkan namamu (atau hadir) di depan mereka, teman-teman saya, maka saya akan berbesar hati untuk menyimpannya dalam waktu yang kau tentukan sendiri. :)

Meski masing-masing telah berkutat dengan kesibukannya, kami masih mengejar impian. Setiap orang berharap untuk bisa meraih impiannya. Kelak, ketika kami berkumpul lagi dalam suasana-suasana seperti ini, kami bisa bercerita dan memutar kembali kenangan-kenangan yang nyaris terhapus dalam memory kami. Eh, tidak! Kenangan itu tidak akan terhapus. Seperti kata Dini, everlasting, forever…

“Eh, tapi....ini kue ultahnya, tidak akan ditagihkan ke kita lagi, kan?”



--Imam Rahmanto--


Posted via Blogaway

Minggu, 05 Januari 2014

Pulang…

Januari 05, 2014
Kemarin. Hujan. Ia menemani perjalanan pulang saya. Ah, bukan. Lebih tepatnya, perjalanan “balik” ke redaksi. Karena dari arah yang sebaliknya, saya benar-benar baru saja pulang ke rumah. Benar-benar pulang ke rumah yang telah lama saya rindukan. Rumah, bukanlah tempat kita berteduh dari panasnya matahari, berlindung dari guyuran hujan. Melainkan, rumah adalah tempat kita menemukan keluarga.

“Seperti apapun kesalahanmu, keluargamu masih tetap menyayangimu. Orang tua, sekejam apapun itu, tidak akan pernah benar-benar membenci anaknya,” Akh, kata-kata itu serasa menampar kesadaran saya.

Saya menyadari segala kilas masa lalu itu. Entah bagaimana caranya, kilasan itu bagaikan film yang tiba-tiba terputar ulang di otak saya. Mengingatkan saya tentang kejadian-kejadian lampau yang sejatinya ingin saya lupakan. Akh, seiring tamparan yang mendarat di muka saya, menggenapkan orang-orang yang jengkel dengan sikap bodoh saya. Bukankah saya senantiasa menyampaikan ke adik-adik saya agar tidak selalu berpikir negatif terhadap sesuatu yang menimpanya? Dan saya, 6 bulan lalu nyaris benar-benar menjadi orang paling bodoh.

“Bagaimana mungkin tidak tega. Kalau seperti itu, artinya sudah tega. Sedikitnya, kasihanlah pada ibu atau ayahmu,” Saya banyak memikirkan kata-kata itu. Perkataan, yang mungkin menjadi kata terakhirnya buat saya. Entahlah. Nampaknya, saya memang tidak akan pernah benar-benar mampu mengobati luka seorang perempuan yang terikat dengan masa lalunya.

Biarlah untuk sementara waktu. Saya akan mengobati luka saya sendiri terlebih dulu. Pikiran saya dipenuhi “obsesi” untuk memperbaiki segalanya. Saya sepertinya ingin menjadi pribadi yang dulu. Dalam hati, saya bertekad untuk menyelesaikan segala beban-beban saya. Selagi tekad itu masih ada, maka saya harus benar-benar menyelesaikan segalanya. Memperbaiki segalanya.

Kemarin. Sebelum hujan. Saya tak pernah merencanakan adegan itu berlalu. Saya tak pernah menginginkan ceramah-ceramah dari ayah memenuhi kepala saya yang sudah terlanjur berat dengan permasalahan redaksi. Saya tak pernah memikirkan seperti apa cemoohan yang akan saya dapatkan. Saya hanya ingin menutupi tangisan adik saya yang selalu diperdengarkannya lewat saluran telepon. “Kak….kesini. Saya kangen….” katanya.

Akan tetapi, tangisan itu adalah tangisan yang menular. Air mata itu berpilin dan berputar memenuhi rongga udara diantara saya, ibu, adik, dan ayah saya. Menyatu. Dan meledak sejauh kami bisa menatap satu sama lain. Dan kemarin, saya menemukan rumah saya kembali. Saya pulang…

Saya membiarkan diri saya tenggelam dalam kata-kata seorang ayah yang kecewa dengan anaknya. Tangan yang mungkin sudah keriput itu, tak pernah saya tahan untuk mendarat di pipi saya. Bahkan, sebelum kemarin, saya sejatinya sudah siap untuk segala hal yang mungkin jauh lebih buruk.

Perihal meminta maaf dan memaafkan, tak pernah bisa dipisah begitu saja. Mereka terjalin utuh, membentuk suatu keikhlasan.

Kemarin. Setelah hujan. Saya menyadari segala hal yang telah saya lalui. Kini, saya kembali belajar. Mungkin, Tuhan yang mengajarkan saya. Sejatinya, keluarga adalah tempat kita kembali. Sesayang-sayangnya kita pada orang lain, tak ada yang melebihi cinta kasih dua orang tua yang telah merawat kita. Kesalahan mereka, mungkin hanyalah bentuk kekhilafan. Kesalahan kita, senantiasa ada jalan bagi mereka untuk memperbaikinya.

“Marah, bukan berarti orang tua membenci anaknya. Justru marah itu yang membangun kepedulian orang tua pada anaknya,”

Seringkali, tak berbeda, saya mengungkapkannya kepada adik-adik saya di redaksi. Kenyataannya, saya tidak benar-benar memahaminya. Bukan contoh kakak yang baik. Saya benar-benar telah bersikap bodoh selang 6 bulan ini. Egois. Untuk itu, saya hanya bisa berharap, orang-orang yang pernah marah atas sikap kekanak-kanakan saya mengulurkan tangannya. Lebar, membuka tangannya, dan berkata, “Semua baik-baik saja. Tak perlu khawatir,” sembari meloloskan maaf dalam hatinya.  

Yah, terpenting, saya telah kembali. Kembali pada orang-orang yang selalu menjadi tempat saya kembali. Rumah. Rumah. Rumah. Saya merindukannya…


--Imam Rahmanto--

Ps: Namanya keluarga, selalu ada tempat kembali