Selasa, 10 Desember 2013

Melarikan yang Dibutuhkan

Sumber: John Kenn, arts
Saya memandangi kursi-kursi yang basah itu itu. Bekas hujan semalam, atau dini hari. Entahlah, saya terlelap dan berhasil dininabobokan oleh hawa dingin yang ditebarkannya. Apalagi sedikit rutinitas saya menerbitkan tabloid sejenak bisa bernapas lega.

Tanah-tanah basah. Langit masih berawan, mendung. Matahari tidak bersinar begitu terang. Daun-daun yang menggelantung di atas pohon beradu berat dengan air-air bekas hujan yang siap menetes kapanpun. Digoyang sedikit, “hujan kecil” di sekeliling pohon akan membasahi koran yang pagi ini datang sesuai jadwalnya. “Untung saja para loper koran itu tidak salah lempar hingga jatuh di atas permukaan tanah yang basah,” pikir saya.

Saya menyukai suasana-suasana seperti ini. Layaknya bumi yang habis dimandikan. Semuanya basah. Lembab. Dingin. Menyegarkan. Mendamaikan. Menenangkan. Apalagi di waktu orang-orang masih bergelung di selimutnya. Hanya suara: saya, Tuhan, dan satu-dua kendaraan yang kebetulan melintas pagi ini. (oh, bukan kebetulan, namun mereka memang menyiapkan diri untuk mengejar rezekinya pagi ini. Ingat, tidak ada yang namanya kebetulan!)

Saya begitu menyukai pagi. Apalagi dengan pagi yang diwarnai rinai-rinai hujan. Saya lebih suka duduk di teras rumah dan bisa menyaksikan dan merasakannya langsung dibanding mengintipnya dari balik jendela kaca. Kelak, saya mendambakan rumah dengan halaman yang luas, bernuansa alami, rindang, dan memiliki gazebo di halamannya, untuk sesekali menikmati hujan dengan segelas cappuccino panas.

#Ok, sampai disini, saya sudah menyeruput dua gelas cappuccino

Seberapa banyak kita telah “melarikan diri”? Seberapa jauh kita mampu “melarikan diri”? Seberapa lama kita mampu bertahan “melarikan diri”? Dan pada akhirnya, apakah “melarikan diri” itu telah mampu menyelesaiakan titik tolak permasalahan kita? Saya pikir, jawabannya tidak.

Sebenarnya, seperti apapun bentuk melarikan diri kita, tentu fokus utama penyebabnya adalah satu, yakni masalah. Secara awam, masalah adalah segala hal yang berlaku di luar harapan idealis dan kehendak kita.

Dalam menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa dan sedikitnya pewarta kampus, saya telah banyak menemui orang-orang yang ragu dengan dirinya sendiri. Berpikir pesimis tentang dirinya sendiri.

Saya pun tak jarang berpikir hal demikian tentang diri saya. Saya menyalahkan diri sendiri, pesimis, dan tak melakukan apa-apa, dan menunjukkan pada orang lain bahwa “diam” adalah “marah” saya. Padahal, tanpa saya sadari, dengan bersikap demikian, masalah yang mengungkung saya bukannya teratasi. Justru situasinya akan bertambah rumit. Karena orang lain tidak bakal tahu “apa yang saya inginkan” dari mereka. Saya mulai belajar, mengungkapkan segala perasaan secara jujur kepada orang lain…
Dalam banyak perjalanan keseharian, saya mempelajari banyak hal. Dari orang lain, atau dari diri sendiri.

“Maaf, memang saya tidak dibutuhkan, bukan?” suatu waktu saya pernah mendengar kata-kata itu.

Sejatinya, kita dibutuhkan atau tidak, bukan mereka yang menentukan. Akan tetapi, sikap dan pandangan kita yang seharusnya membuat mereka membutuhkan kita. Jangan menunggu bahwa kita dibutuhkan, barulah kita akan merasa bangga. Sebaiknya, berbanggalah ketika kita punya inisiatif untuk berbuat dan menunjukkan bahwa kita memang benar-benar dibutuhkan.

“Saya mengibarkan bendera merah putih saja. Saya tidak kuat lagi,” di lain waktu oleh orang yang berbeda.

Tunggu, saya menghela napas dulu… Ketika besarnya beban yang menghimpit saya diakumulasikan di otak dan pikiran di dalam kepala saya kemudian menghasilkan ekivalensi kerumitan masalah yang saya hadapi (ini juga bahasanya ribet dan rumit), sempat membuat saya juga ingin “turun” saja. Akan tetapi, saya berpikir, bahwa masih banyak orang-orang di sekitar saya yang bisa mengulurkan tangannya. Memberikan bantuan. Dengan kita mengutarakan perasaan, bercerita, berbagi masalah, terkadang bisa meringankan beban, ya kan ya?

Karena pada prinsipnya, apa yang kita anggap berat itu sejatinya hanya berlangsung di kepala. Padahal jika diakumulasikan dan dikalkulasikan dengan tepat di luar kepala, semuanya terasa fine-fine saja. Hanya memang, tidak semua orang punya keberanian untuk menghadapi ketakutannya sendiri.

#Keberanian terbesar adalah menghadapi ketakutan itu sendiri, kan?

Menurut saya, kedewasaan itu diukur dari cara bertindak kita dalam menyelesaikan permasalahan. Mereka yang suka menonton film kartun, membaca komik, bermain bersama anak-anak, suka makan es krim, tidak mengindikasikan bahwa mereka adalah anak kecil. Cara bertindaklah yang membuat orang semakin dewasa. Pengalaman seringkali mengajarkannya. Karena, pengalaman bukanlah sesuatu yang terjadi pada kita. Melainkan pengalaman adalah apa yang kita lakukan terhadap sesuatu yang terjadi pada kita itu.

#Ribet? Jangan dihafal, cukup disimak dan dipahami. Hahaha...

Ternyata, “melarikan diri” bukan penyelesaian yang baik. Hampir enam bulan belakangan saya berusaha mencari jawaban itu. Sejujurnya, saya juga sampai saat ini sedang melarikan diri dari keluarga. Apa yang selama ini saya harapkan berbanding terbalik dengan kenyataannya. Parahnya, saya benar-benar meninggalkan semuanya ketika saya seharusnya benar-benar dibutuhkan mereka.

Entah kebetulan atau kebenaran, namun Tuhan sedikit demi sedikit memperlihatkan jalanNya. Saya yakin, Ia memberikan petunjukNya dengan cara-cara elegan. Mengarahkan saya pada beberapa kejadian-kejadian yang akan menguliti pemikiran saya. Memperlihatkan betapa hidup itu bukan hanya tentang keinginan saya. Bukan tentang Tuhan meng-IYA-kan setiap doa-doa yang saya panjatkan lima waktu sehari. Akan tetapi hidup itu adalah tentang menerima apa yang kita miliki sekarang. Tentang Tuhan yang memberikan apa yang kita butuhkan sekarang, untuk belajar.

“Ma, ma, belikan eskrim itu, dong!” rengek seorang anak kecil yang digandeng ibunya di suatu pusat perbelanjaan. Ibunya hanya menggeleng sembari berujar menenangkan anaknya.

“Tidak boleh, Sayang. Sakit amandelmu nanti tambah parah.”

Hanya saja, si anak dengan polosnya tetap merengek tanpa tahu bahwa sakitnya itu sudah sangat parah dan beberapa kali harus berobat ke rumah sakit.

Mungkin, memang sudah saatnya saya kembali…

Terkadang, “melarikan diri” memang bisa dilakukan sebatas untuk merenungkan apa yang kita perbuat. Tidak elok rasanya jika kita menyelesaikan masalah dengan melarikan diri, dengan maksud melupakannya. Meskipun lupa persoalan waktu, karena waktu bisa menjadi obat yang baik untuk melupakan. Namun pikiran bisa menjadi waktu yang lebih cepat ketimbang waktu itu sendiri. Karena memory, sang mesin waktu di kepala kita, dikendalikan oleh kita sendiri.

Dan tahukah kita, bahwa marah seseorang kepada kita adalah bentuk kepedulian orang itu? Menegur, mengkritik, mitosnya adalah karena orang itu sayang kepada kita. Sebagian besar hal itu benar, karena memang itulah bentuk kepeduliannya kepada kita. Orang itu menginginkan kita menjadi baik, meskipun dalam taraf penilaiannya yang terkadang tidak bisa pula dibenarkan seutuhnya.

Namun, bayangkan saja bila kita tak lagi diurusi, tak lagi ditanyakan kabarnya, atau tak lagi dipandang di setiap kesempatan. Lebih menyakitkan, bukan? Seperti hantu di tengah kerumunan, merasa sepi di tengah keramaian….

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar