Jumat, 06 Desember 2013

Bersabar, Keep Going

(Sumber: google.com)
Kemarin. Pagi. Saya terbangun dengan pikiran yang agak kalut. Bagaimana tidak, saya harus menemui perwakilan Polda di kantornya yang jaraknya sangat jauh dari redaksi saya. Sementara pukul 09.00 saya harus mengikuti perkuliahan, yang jikalau saya tak mengikutinya, kemungkinan besar “rapor merah” menanti saya.

Sejujurnya, absen saya pada mata kuliah yang bersangkutan sudah mencapai batas maksimumnya. Dosennya pun agak ketat dalam pemberian nilai mata kuliah. Keajaiban bagi saya seandainya bisa lolos dengan nilai “tidak-mengulang” pada mata kuliah itu, semester ini. Come on, miracle always mode on!

Dasar saya lebih menyukai petualangan dan tantangan, saya lebih memilih berangkat meliput ketimbang kuliah di pagi itu. Padahal, “undian” presentasi saya keluar tepat hari itu. Di samping itu, saya telah janjian dengan Kabid Penmas Humas Polda Sulselbar, maka saya kepalang tanggung untuk menemuinya. Sudahlah, soal kuliah akan saya perhitungkan setelah tugas dan tanggung jawab saya rampung.

Tidak mudah menghimpun informasi dari pihak berwajib seperti kepolisian. Pasalnya, mereka cenderung tertutup terhadap orang-orang yang belum dikenalnya untuk memberikan informasi. Bahkan untuk seorang wartawan sekalipun harus beberapa kali bolak-balik dipimpong hanya untuk memperoleh informasi yang sebenarnya tidak penting-penting amat.

“Maaf, saya tidak bisa mengeluarkan informasi langsung. Lalu lintas informasi harus melalui Humas,” tutur ornag-orang yang berada di bagian Krimsus Subdit III yang megurusi masalah Tipikor (Tindak Pidana Korupsi). Baik anggota maupun pimpinannya menolak meskipun saya telah mengeluarkan segala jurus bujuk-rayu.

“Waduh, data-datanya belum sampai disini. Kalau memang sudah pemeriksaan, pasti sudah ada berkasnya yang disampaikan kesini,” ujar staff Humasnya lagi. Maklum, pimpinan Humasnya tidak ada di tempat karena sedang menjalani pendidikan di Jakarta, kalau tak salah.

“Katanya belum ada, Pak. Saya sudah dari bawah,” saya berusaha sedikit memelas dengan harapan bisa diberi keluwesan untuk bertanya lebih banyak. Tetap saja, mereka enggan memberikan informasi. Nampaknya para polisi sudah diberi pelatihan khusus buat “mengunci” mulutnya.

Pun, sehari sebelumnya saya dibuat terlunta-lunta menunggu oleh pihak kepolisian tersebut. Saya bersama salah seorang wartawan Celebes TV yang menunggu sejak pagi tidak diberikan informasi apapun terkait kasus yang sementara kami dalami. Sedikit paksaan hanya bisa mengalirkan nama-nama orang yang diperiksa. Kami hanya mendapatkan itu. Selebihnya, saya berusaha sendiri dengan mengendap-endap dan mencuri-curi pandang. Hahaha…

Dari cara itu, nyatanya bisa menemukan fakta baru terkait kasus yang berlangsung di kampus saya. Tak banyak sih, tapi cukuplah untuk menjadi informasi awal buat ”menggoyang” para pejabat-pejabat yang terlibat kasus tersebut. #sok

Ada pula sebenarnya orang-orang di kepolisian yang cukup welcome dengan kehadiran wartawan. Mereka tanpa berat hati memberikan informasi yang memang dibutuhkan si wartawan.

Saya menemukan seorang lelaki paruh baya yang juga merupakan staff Humas di kantor Polda Sulselbar itu. Saya yang pertama kali hanya duduk-duduk “menyusun rencana” disapanya.

“Mau cari siapa?” tanyanya yang melihat gelagat saya hendak masuk ke kantor Humas.

“Mm…Pak Humas-nya ada ya, Pak?” saya balik bertanya.

“Hm..beliau lagi di Jakarta,” ucapnya dengan anda sedikit kecewa.

“Kalau begitu, boleh tahu, yang berwenang selain Pak Kepala Humas untuk memberikan informasi terkait kasus yang sedang diselidiki di kampus saya siapa ya?” cecar saya kemudian.

“Oiya, coba tanya Pak Siswo. Dia Kabid Humas bagian Penerangan Masyarakat. Dia yang mewakili sementara,” jawabnya, yang kemudian dilanjutkan dengan pertukaran nomor handphone pada saya.

Tanpa perlu bersusah payah, saya bisa mendapatkan akses untuk lebih jauh menggali informasi itu. Meskipun staff itu bukan narasumber yang hendak kita gali informasinya, namun informasi awal bisa kita pelajari lewat orang-orang tak penting seperti itu. Terkadang, bantuan mereka cukup berarti untuk menuntun kita ke langkah selanjutnya.

Beruntung, Kabid Humas itu adalah tipe orang yang terbuka pula dengan wartawan. Meskipun via telepon, ia tak masalah berbicara panjang lebar. Bahkan, ia sempat memberikan saya informasi-informasi off the record untuk menjadi bahan pertimbangan investigasi saya. Ckckck…

Dan hari berikutnyalah saya bermaksud menemuinya, dengan meninggalkan satu mata kuliah saya. Sungguh miris. Padahal sesampai di kantornya pun saya tidak menemukannya. Menurut staffnya, ia sedang menghadiri acara yang dihelat di salah satu hotel Makassar.

“Ah, kalau saya tidak menemuinya, berarti sia-sia mata kuliah yang telah saya korbankan hari ini,” pikir saya.

Dengan sedikit memaksa hati, maka saya bersama seorang teman saya melaju untuk menyusul Bapak Kabid Humas itu ke lokasi acaranya. Tekad ternyata mampu membuktikan segalanya. Kami akhirnya berhasil menemuinya setelah sempat berputar-putar dan hendak “menyusup” ke sebuah acara dialog besar di hotel tersebut.

***

Sejujurnya, ada banyak hal yang berseliweran di kepala saya pagi itu. Semuanya bertumpuk menjadi satu. Saya tidak tahu lagi persoalan mana yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Pikiran saya menumbuhkan cabang-cabangnya. Tak ayal, saya bahkan sempat berpikiran untuk mengibarkan “bendera putih” saja.

Yah, bendera putih pertanda menyerah atas pertarungan saya sendiri. Akan tetapi, prinsip saya yang harus menyelesaikan apapun yang saya mulai memaksa pikiran saya untuk terus berjalan. Layaknya membaca buku, saya harus menyelesaikannya. Pikiran saya memaksa sekujur tubuh saya untuk bergerak. Saya dipaksa untuk bergerak dan melakukan sesuatu.

Sebagai seorang pimpinan, mengeluh menjadi hal yang semestinya tabu. Jikalaupun saya harus mengeluh, saya cukup mengeluh kepada seseorang saja. Sejatinya, keluhan-keluhan yang kita lontarkan mencerminkan pribadi kita yang rapuh. Kita tak kuat, dan kita ingin dikasihani. Tentu saja, kalau saya mengeluh, mereka tidak akan memiliki figur seorang pelindung lagi. Saya tidak perlu memperlihatkan betapa lemahnya saya. Saya ingin mereka tetap bisa berlindung pada kuatnya saya di mata mereka.

Keluh kesah bisa saja muncul dari kejenuhan terhadap sesuatu. Bisa saja hal itu muncul karena kita tidak begitu menikmatinya. Bersabar saja menerimanya, tidak semata-mata tidak berbuat apa-apa terhadap apapun yang terjadi. Saya lebih menyukai mencari hal-hal baru untuk membunuh kejenuhan itu. Untuk itu, tantangan-tantangan baru siap menjadi “guru” kita menemukan hal-hal baru, seharusnya.

Dan saya menemukan hal-hal baru itu dengan meluaskan “area jajahan” liputan berita saya. Hahaha

Seorang teman beberapa kali merasa terpuruk dengan keadaannya sekarang. Menurutnya, ia tak mampu lagi mempertahankan dirinya di lembaga yang sebenarnya dicintainya itu. Ia sedikit lagi akan mengangkat “bendera putihnya”. Bersiap dengan segala kemungkinan yang tak ingin ia hadapi.


Terkadang kita tak pernah sadar, ketika seseorang memutuskan untuk menyerah, sementara ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan tujuan akhirnya.  

Bagi saya, menyerah sama halnya dengan tidak berbuat apa-apa lagi. Kita selalu mendengarkan bahwa Tuhan tak akan pernah memberikan cobaan bagi hambaNya melebihi batas kemampuan hambaNya. Oleh karena itu, yakinkan saja bahwa sebenarnya kita masih kuat.  

Bukannya seorang wartawan itu selalu dipacu untuk bersabar dan tak mudah menyerah - demi menemui narasumber?

Seperti halnya ketika saya berjam-jam lamanya menunggu narasumber. Yang dibutuhkan hanya kesabaran. Meski membosankan, namun saya berharap bisa menyelesaikannya. Meski terkadang saya tak mendapatkan keterangan apa-apa, namun itu membelajarkan. Setidaknya kita sudah berusaha. Dan percayalah, Tuhan tidak pernah sia-sia menilai dan mengkonversikan setiap usaha keras hambaNya. :)




--Imam Rahmanto--.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar