Selasa, 31 Desember 2013

Diary Bersejarah yang Diabadikan

Desember 31, 2013
Sumber: goodreads.com
Sembari menanti deadline yang tak kunjung diselesaikan oleh teman-teman saya, argh!! rasanya saya ingin menjitak kepala mereka satu persatu, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku pinjaman saya. Salah satunya, Dear Kitty.

Dear Kitty. Novel yang menjadi rekomendasi bacaan dalam film Freedom Writer. Buku karangan Anne Frank ini, merupakan kisah nyatanya sendiri bersama keluarganya yang bersembunyi dari kejaran tentara Nazi. Mereka bersembunyi pada ruangan rahasia di rumah yang menjadi perkantoran selama 2 tahun.

Setelah beberapa kali mengalami pengubahan judul, mungkin yang beredar di Indonesia memang “Dear Kitty”, Anne Frank dikenal khalayak. Catatan hariannya ini dicetak dalam 32 bahasa. Dan menjadi catatan penting sejarah penjajahan Nazi di Jerman dalam kepemimpinan beringas Hitler. Meskipun tak lagi hidup, ia beruntung bisa meninggalkan catatan hariannya ini untuk diabadikan menjadi buku. Penulis selalu hidup dalam setiap tulisannya. 

Dalam “catatan harian” ini, bisa dilihat sosok Anne Frank yang cerdas di usianya yang belum mencapai 16 tahun. Bagaimana tidak, dalam persembunyiannya pula ia dilengkapi dengan buku-buku tentang filsafat, mitologi Yunani, dan buku-buku sejarah lainnya. Setiap hari dalam masa persembunyiannya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya membaca buku itu. Bahkan, ia juga suka membaca majalah seni yang menjadikannya “hafal mati” seniman-seniman pada masa itu.

Sejujurnya, “novel” ini tidak begitu banyak membetot perhatian saya. Isinya yang cenderung tentang pengalaman sehari-hari penulisnya ketika menjalani masa-masa “persembunyiannya” tidak memberikan banyak efek klimaks bagi saya sebagai pembacanya. Entahlah. Apakah karena saya yang memang kurang peka, atau memang karena novel ini hanyalah tuangan langsung dari sebuah diary.

Alur yang terpatri dalam benak saya juga tidak tersusun secara rapi, meskipun tanggalnya disusun berurut. Karena buku ini berbeda dengan novel pada umumnya yang menghimpun cerita berkelanjutan di tiap halamannya. Dalam diary ini, penulis hanya berkisah tentang hari-hari yang dilaluinya. Bukan kebetulan ketika hal yang satu berkelanjutan dengan hal lainnya hanya karena memang terjadi dalam hidup penulis sendiri. Jadi, saya merasa ada cerita-cerita yang berkisah terpisah dari konteks buku ini.

Meskipun agak mengecewakan, saya cukup excited untuk membaca buku ini. Wawasan sejarah saya bertambah sedikit demi sedikit. Di samping itu, saya menyukai quote-quote-nya ini:

“Kemalasan memang menarik, tapi bekerja memberikan kepuasan.”

“Hati yang tenang membuat seseorang kuat.”

“Aku bisa melupakan apa saja dengan menulis, kepedihan lenyap, nyaliku menitis.”

“Bagaimana aku bisa membuatnya mengerti bahwa yang tampak mudah dan menarik itu akan menyeretnya ke kedalaman, kedalaman, yang sama sekali tidak memberikan kenyamanan, tanpa teman dan tanpa keindahan, kedalaman tempat seseorang nyaris mustahil untuk membangkitkan dirinya dari sana?”

“Orang yang punya agama seharusnya bersyukur karena tidak semua orang memiliki anugerah keyakinan terhadap hal-hal surgawi. Kau bahkan tidak perlu takut terhadap hukuman setelah kematian; api penyucian, neraka, dan surge merupakan hal yang tidak bisa diterima oleh banyak orang, tetapi tetap saja sebuah agama; tidak penting yang mana, tapi agama menjaga seseorang berada di jalan yang benar. Bukan karena takut terhadap Tuhan melainkan menjunjung tinggi kehormatan dan hati nurani seseorang.”

Di samping memberikan saya pemahaman menarik tentang sejarah, buku ini juga ditulis oleh Anne Frank yang sejak dalam “persembunyiannya” bercita-cita menjadi seorang penulis dan jurnalis.

“…akan bisakah aku menulis sesuatu yang besar, akankah aku menjadi jurnalis atau penulis? Kuharap begitu, oh, aku sangat berharap begitu, karena aku bisa menangkap kembali semuanya saat menulis, pikiran, idealism, dan fantasiku.”
Buku harian asli Anne Frank. (google.com)


--Imam Rahmanto--  

Rabu, 25 Desember 2013

Resolusi, Tetapkan Target!

Desember 25, 2013

Ya, beberapa hari terakhir saya mulai menyusun kembali keping-keping kehidupan saya yang terserak. Saya ingin memulai siklus baru yang disiplin. Namun, tentu saja, tidak membosankan. Hm… dengan menetapkan target-target kecil terlebih dahulu ah….

Kenapa harus menetapkan yang kecil-kecil kalau bisa yang lebih besar? Saya belajar, tidak terlalu muluk-muluk dalam menetapkan sesuatu. Ini hanya soal pembiasaan. Alah bisa karena terbiasa. Penting untuk belajar berdiri sebelum berjalan. Penting untuk belajar berjalan sebelum berlari. Meskipun sebenarnya ada orang-orang yang pandai mengendarai motor tanpa perlu belajar mengendarai sepeda. #gubrak!

Nyoret ndiri....

Nah, saya bisa memulainya dari diri sendiri...

Sedikitnya saya sudah harus rutin mengikuti mata kuliah saya yang barang tentu menjadi kewajiban akademik. Dua mata kuliah yang tersisa di semester ini harus benar-benar saya penuhi untuk bisa menyelesaikan studi. Tetapkan target? Saya menetapkan, setiap menghadiri perkuliahan, sedikitnya saya harus berbicara atau mengeluarkan pendapat. Kalau bisa, sedapat mungkin menarik perhatian dosen pengampu kuliah. Hahahaha

“Semoga lulus dengan nilai yang baik ya, Kak!”

Kemarin saya membaca kembali salah satu ucapan perpisahan yang dituliskan di selembar kertas oleh murid-murid PPL saya. Sampai hari ini, saya masih menyimpan kertas-kertas itu. Diantaranya, mungkin menjadi doa untuk saya, meskipun agak ngaco. Dan saya terpacu dengan ucapan singkat itu. Semangat!

Sebagai pewarta, saya juga harus memenuhi kewajiban untuk menjalankan proses peliputan. Meskpun sejatinya saya tidak perlu lagi turun ke lapangan, namun memberikan teladan yang baik adalah perlu. Saya juga ingin bersaing dengan teman-teman lainnya, di samping saya harus memenuhi tuntutan untuk berkembang setiap harinya.

Tetapkan target? Setiap harinya, di waktu berjalan, saya harus bertemu minimal satu orang narasumber untuk kepentingan apapun itu. Kami, para pewarta kampus terbiasa untuk mengolah isu atau berita lewat pertemuan dan perbincangan dengan narasumber-narasumber yang hadir di sekeliling kami. Selain menambah khasanah wawasan kami terkait isu seputar kampus, kami juga bisa mengembangkan relasi maupun pertemanan lewat pertemuan-pertemuan itu.

Untuk memenuhinya pun, saya tidak jarang berputar-putar, keluar-masuk, tak tentu arah di rektorat maupun gedung baru kampus saya. Berinteraksi dengan banyak orang, dari kalangan pegawai rendahan maupun pejabat kelas atas. Tahu tidak, itu salah satu bagian kesenangan lain dari menggeluti dunia jurnalistik.

“Ada berapa banyak beritamu?” Saya terkadang bersaing dengan teman lainnya persoalan kuantitas berita. Sebenarnya sih bisa dijadikan ajang “keren-kerenan” pula. Hahaha….

Sembari tetap membiasakan diri dalam menulis, saya nampaknya harus benar-benar bertekad untuk melampaui siapa saja dalam produksi beritanya. Lagi-lagi harus menjadi contoh yang baik. Tetapkan target? Saya menetapkan, menulis paling sedikit dua online news setiap minggunya. Selain itu, menjadi kewajiban saya pula untuk memenuhi target di media cetak yang kami hasilkan. Di samping tanggung jawab jabatan, saya harus menetaskan dua berita cetak setiap terbitan tabloid per bulannya.

Seperti apa keajaiban itu? Saya percaya, keajaiban adalah wujud dari tekad yang membara…

Titik. Itu hanya sebagian dari target-target yang berseliweran di kepala saya. Masih ada banyak hal lain lagi. Sejatinya, saya sudah berusaha menetapkannya untuk diri sendiri. Untuk memulainya, sebenarnya perkara mudah. Hanya mempertahankannya itu yang jauh lebih sulit. Sedikit demi sedikit. Cita-cita. Impian. Kuliah. Menulis. Meliput. Hubungan dengan orang lain. Kehidupan dengan keluarga. Ah ya, saya juga ingin menargetkan segera bertemu dengan mereka…… :’(

Saya akan memulainya sedikit demi sedikit. Kalau terpenuhi, ya bisa ditingkatkan ke level berikutnya. Saya belajar, hal-hal kecil yang didisiplinkan lebih baik ketimbang hal-hal besar yang dilakukan sesekali. Bukankah Rasulullah SAW juga bersabda:

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit."

Baiklah. Deklarasi target itu bisa dimulai dari sekarang. Target-target itu harus terpenuhi hingga masa penyelesaiannya. Cayoo! Mari dimulai dari sekarang!

“Eh, eh, di luar masih hujan. Kayaknya dimulai besok saja deh…” :Dv


--Imam Rahmanto--

Ps: Saya hampir lupa untuk menetapkan pula menulis di “rumah” ini paling sedikit satu hal bebas setiap minggunya. ^_^.

Senin, 23 Desember 2013

Padamu Berkejaran di Bulan ini

Desember 23, 2013
Desember ini, orang-orang berbicara tentangmu. Menggerutu tentangmu.  Berharap kau tak menghalang-halangi keinginan mereka. Berdoa tanpa kau tahu untuk kepergianmu. "Tidak bisa melakukan apa-apa." Karena orang-orang sekaligus membencimu.

Desember ini, orang-orang berbicara tentangmu. Menyuarakan kesedihannya. Memetik satu-satu puzzle masa silamnya. Menata kembali kehidupan di waktu masih berteman dan menari-nari denganmu. "Ada damai yang menenangkan." Mereka suka. Dan orang lainnya memutuskan menyukaimu.

Lihatlah, Desember ini, orang-orang membicarakanmu! Di sosial media, kau jadi bahan gunjingan. Lebih trending malah dibanding Ratu Atut yang sengaja dibombardir media. Lebih memasyarakat ketimbang Jokowi yang selalu di-capres-kan. Kau dihujat, kau dipuja.

Desember ini, kau mengantarkan mereka menuju peraduannya. Sejuk, sejenak, beranjak menghitung berapa banyak kau terserak dari langit. Sebanyak itu pula mereka akan menghujani masa lalunya. Sedikitnya, kalimat-kalimat tersirat tercipta galau karenamu.

Desember ini, aku selalu menemukanmu. Bahkan ketika aku pongah memandang ke langit. Tak segan kau sudah menyambutku di pagi yang beku. Atau kau terkadang menjadi pengantar atas lelap tidurku.

Desember ini...
Biarkan saja berlalu. Orang menyukaimu, orang membencimu, aku tetap suka padamu.

Karena kau, hujan yang selalu bersenandung menantang tawa si teru-teru bozu yang malang....

Sumber: motuviget.com


Makassar, 23-12-2013
--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 Desember 2013

Tentang Perjalanan dan Petualangan

Desember 22, 2013
“Apa cita-cita dan impianmu?”

Masih lekat dalam ingatan tentang pertanyaan dan pengenalan pertama dari saya kepada siswa-siswa yang menjadi murud-murid PPL saya. Ada beragam jawaban yang saya dapati. Satu-dua memberikan jawaban seadanya. Satu-dua memberikan jawaban seutuhnya. Lainnya, masih berpikir layaknya remaja kebanyakan.

Saya sedang menyusun rencana…

Saya menyusuri setiap ingatan dalam memory otak dan menemukan ada banyak hal yang belum saya selesaikan hingga sekarang ini. Beberapa hal telah saya capai, beberapa lainnya masih terbengkalai. Kadangkala saya berpikir, apakah saya mesti mencoret satu demi satu daftar keinginan itu sebelum terpenuhinya?

Di balik daftar-daftar yang tertera di langit-langit kamar saya itu, saya berharap bisa melakukan perjalanan panjang. Berkeliling ke banyak tempat. Menemukan banyak hal. Berkenalan dengan banyak orang. Mempelajari makna hidup yang baru. Dan selanjutnya, berbagi dengan orang lain.

Hampir sebulan yang lalu, teman saya baru saja pulang dari perjalanannya melintas pulau. Ia melakukan perjalanan ke Nusa Tenggara timur, kalau tidak salah, dengan gaya-gaya seorang backpacking. Ya, hanya bermodalkan sedikit uang dan mengandalkan kaki yang masih berpangkal di badan, ia melakukan perjalanan dan meninggalkan kuliahnya. Mungkin karena ia telah merasakan napas kebebasan usai mengemban jabatan di lembaga pers yang kami geluti.

Sedikitnya, ia menceritakan pengalamannya bertemu dengan dunia luar. Menemukan hal-hal yang dianggapnya baru dan indah. Satu-dua ia mengabadikannya dalam jepretan foto, sebagiannya lagi ia simpan dalam memory otaknya. Saya yakin, perjalanan seperti itu takkan pernah terlupa. Lebih menyenangkan lagi ketika ia mau membagi kisahnya lewat sebuah tulisan. :)

“Saya berencana lagi untuk melakukan perjalanan seperti itu,” begitu antusiasnya ia menceritakan mimpi-mimpinya pada saya. Saya senang mendengarnya.

Saya begitu senang mendengarkan orang lain bercerita tentang mimpi-mimpinya, karena itu menunjukkan betapa mereka tidak ingin terbawa perputaran bumi. Menjalani hidup yang flat dan monoton. Mereka menunjukkan tekad untuk belajar. Mereka sejatinya tidak ingin hanya berdiam menenggelamkan diri dalam kerisauan-kerisauan yang tak beralasan. Bukan hidup dan alasan yang menghampiri kita, melainkan kitalah yang menjalani hidup dan mencari alasan untuk itu.

Selain itu, saya juga bisa memetik sedikit semangat dari mereka yang bersemangat dengan mimpi-mimpinya.

Berceritalah ia tentang mengumpulkan uang untuk perjalanan berikutnya. India, target berikutnya dari perjalanannya itu. Rute-rute yang saban hari ia buka dan periksa satu persatu lewat situs-situs di dunia maya. Tak jarang, untuk mengunjungi banyak tempat, ia berburu tiket-tiket promo pesawat maupun kapal laut.

Demi mendukung tekadnya itu – saya percaya, tekad yang kuat akan menciptakan keajaibannya sendiri – saya menyarankannya untuk membaca buku “Titik Nol” karya Agustinus Wibowo, seorang penjelajah yang telah banyak mengunjungi banyak tempat di dunia. Sebenarnya, lama pula saya mengidamkan buku itu. Saya, setiap berkunjung ke toko buku selalu melirik ke arah buku itu. Hanya saja, bagi ukuran kantong saya, buku itu tergolong cukup mahal.

“Waah, curang sekali! Kau sudah beli bukunya!”

Saya melihatnya ketika mengeluarkan buku itu dari tasnya. Ia menunjukkan dua buku barunya, Titik Nol dan Selimut Debu, yang sama-sama karya Agustinus Wibowo. Juga sama-sama bercerita tentag perjalanannya mengitari beragam tempat. Padahal, baru sehari sebelumnya saya ngetweet tentang mengidamkan buku itu dan mention langsung ke penulisnya. Harapnya sih dikirimkan langsung dari penulisnya. Hehehe….

Akh, ternyata saya sudah tertinggal selangkah darinya. Mm, tidak. Mungkin, malah berpuluh-puluh langkah.

Dan kini, di tengah kelowongan aktivitasnya, ia sedang menyusun rencana untuk bisa mengumpulkan banyak uang demi mencapai tujuan berikutnya.

“Saya akan kumpul sekitar Rp 10 juta-an lah. Kalau cukup, saya akan melakukan perjalanan ke Mekkah. Kalau bisa lewat Afganistan, Irak, dan yang lainnya. Kalau memang sudah tidak mencukupi, minimal saya bisa sampai ke India,” tuturnya sembari menunjukkan rutenya dari Malaysia.

Suatu ketika saya menanyakan alasannya bercerita pada saya. Ia pun hanya menjawab, “Supaya kau menuliskannya dan banyak orang yang akan mendoakan saya.” Lihat, kan saya sudah menuliskannya.

Lain dia, lain pula dua orang teman yang lainnya. Dalam rangka acara yang dipromosikan oleh salah satu provider jaringan ternama di Indonesia, dua orang teman saya mengisi waktu luangnya dengan ikut backpacking hingga ke Tana Toraja. Pun, dua orang itu adalah teman saya yang baru saja meninggalkan masa jabatannya hampir enam bulan yang lalu. Nampaknya mereka tak ingin kalah dengan teman saya yang satunya.

Keduanya menghabiskan waktu hampir dua hari untuk melakukan perjalanan tanpa sepeser uang pun hingga keTana Toraja. Hanya berbekal pulsa dan beberapa paket yang diberikan oleh penyelenggara acara, mereka berlomba dengan tim lainnya menyelesaikan games hingga akhir tujuan. Alhasil, ada banyak cerita seru yang mereka kukuhkan dalam ingatan tentang perjalanan itu.

Baik seorang maupun kedua orang itu, sebagai seorang teman, saya hanya bisa mendukung tekad itu. Mendoakan setiap keberhasilan mereka. Yah, meskipun terkadang diselingi rasa iri melihat kesenangan mereka menjalani kehidupan di luar sana. Belajar banyak hal. Dan saya? Untuk saat ini yang tidak bisa jauh kemana-mana menyimpan banyak hal berjajar di kepala saya. Sedikit lagi, butuh waktu dan pemicu. Biar saya juga bisa mensejajarkan kaki dengan mereka yang telah melangkah jauh ke depan. Bukankah kita 10 orang punya impian masing-masing? Yang tersampaikan maupun yang terkuncikan….

Perubahan besar senantiasa terjadi dalam hidup kita. Hanya saja, kita tidak bisa memaknainya tanpa melakukan perjalanan menyusurinya. Sejatinya, hidup merupakan perjalanan itu sendiri. Merasakan setiap pengalamannya adalah cara untuk belajar.

Hanya saja, realitas dari hidup itu sendiri terkadang membuat kita kembali berpikir. Sejauh mana kita telah belajar? Belajar di tempat yang sama dalam waktu yang lama memberikan warna yang nyaris sama pula. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk melakukan perjalanan ke banyak tempat. Mengunjungi banyak tempat. Dan belajar banyak hal dari tempat-tempat baru itu. Setiap warna baru, memberikan pilihan baru dalam bingkai “lukisan” kehidupan kita.

Saya menyusun, akan menelusuri setiap tempat yang tak berbatas waktu dan berbagi tak terhingga banyak hal ke anak-cucu saya, kelak… Just believe it! ^^.

Ilustrasi: ImamR


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 14 Desember 2013

Ke(Saya)ngan - 2

Desember 14, 2013
Smartphone - Android
Saya menjadi orang yang beruntung kala itu. Pertama kalinya pula saya mendapatkan pekerjaan lepas sebagai guru privat, handphone pun menjadi idaman saya. Maklum, alat komunikasi yang dibekalkan orang tua dari kampung masih ketinggalan zaman waktu itu. Apalagi gangguannya yang terkadang membuat kita lupa untuk membaca sms hari ini. Pesan masuk hari ini, besok baru bisa kebaca.

Saya masih ingat, handphone pertama (yang benar-benar) milik saya. Honor pertama plus kiriman saya ketika itu langsung dikonversikan menjadi Nokia 5200. Kalau kalian tidak tahu merk hape itu, silakan googling sendiri. Mentang-mentang sekarang zamannya Samsung. -_-"

Meskipun bukan barang baru, alias secondhand, namun saya sudah bisa berbangga diri. Sekian lama saya memegang handphone, baru kali itu saya memiliki handphone yang bisa memutar musik, memotret alay, memutar radio FM, hingga internetan. Ckck

Nah, untuk smartphone android yang kini menjadi sahabat setia saya, saya mendapatkannya mungkin karena bejo alias beruntung. Tanpa diminta-minta, datang begitu saja.

Dalam acara blogshop yang digelar Kompasiana lebih dari setahun lalu, saya bersama beberapa orang teman ikut serta. Saking antusiasnya, saya sempat menjadi “bintang” sehari. Haahaha… baca saja artikelnya disini. Masih tersimpan rapi kok. 

Di akhir acara, para pengelola dan panitia acara menggelar lomba untuk memperebutkan hadiah smartphone. Saya yang kala itu tidak tahu-menahu tentang “hape pintar” itu hanya ikut serta untuk mengadu dan menguji kadar tulisan reportase saya. Apalagi saya merasa memiliki wadah untuk menuangkan ketertarikan saya dalam dunia kepenulisan di acara tersebut. “Lumayan lah kalau memang bisa dapat handphone,” pikir saya kala itu.

Sejujurnya, jikalau bukan karena memenangkan lomba tulisan reportase itu, saya tidak akan pernah bisa menikmati touch screen pada Samsung Galaxy Y. Dalam benak saya tidak pernah terlintas untuk membeli perangkat handphone baru menggantikan Nokia 5200 itu. Tuhan nampaknya memberikan barang yang memang saya butuhkan di kemudian hari. Dan lagi, smartphone itu menjadi pemicu bagi teman-teman lain di redaksi saya untuk berganti generasi handphone.

MmNokia 5200 saya? Entahlah bagaimana kabarnya kini. Terakhir kali, saya “menghibahkan” kepada seorang teman yang saat itu sangat membutuhkan perangkat untuk komunikasi. Apalagi dia juga merupakan rekan kerja (organisasi) yang sewaktu-waktu saya butuhkan kesigapannya.


Laptop/ Notebook
Sebagai orang yang ingin memfokuskan diri dalam dunia tulis-menulis (dan desain), notebook menjadi kebutuhan saya. Beberapa kali saya berharap bisa memiliki laptop untuk memudahkan pekerjaan menulis saya. Dengan laptop, saya bisa menulis dimana saja. Sementara waktu, saya menggunakan smartphone untuk bisa menulis dimana saja.

Tentunya, bukan jumlah sedikit mengumpulkan uang untuk membeli barang semacam itu. Saya, yang waktu itu tidak lagi memiliki pekerjaan sebagai guru privat harus memutar otak untuk bisa memperoleh uang hingga bernilai jutaan rupiah.

Keberuntungan kembali menyertai saya. Pada dasarnya, keajaiban itu adalah wujud nyata dari tekad yang sangat kuat, disertai dengan usaha dan doa. Intinya, tekad (keinginan) dulu yang perlu dikuatkan. Tak lama, seorang senior meminta saya untuk membantunya dalam proyek desain yang sementara dikerjakannya. Bukan proyek besar-besaran sekaliber perusahaan. Hanya proyek perorangan.

Meskipun demikian, keterampilan yang dimiliki seorang desainer bisa bernilai hingga ratusan atau jutaan rupiah. Saya yang menyelesaikan “pesanan” itu bahkan bisa memperoleh pendapatan hingga sejuta. Hehe… Itulah penting dan mahalnya keterampilan yang dimiliki. ;)

Tugas saya yang awalnya hanya “membantu” berlanjut menjadi “membuat”. Tentunya, imbalan yang saya peroleh pun meningkat pesat. Dari 3-5 orderan itu, saya akhirnya bisa mengumpulkan uang untuk membeli laptop baru.

Pernah suatu kali, layar laptop saya pecah. Penyebabnya, kami mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor. Saya dibonceng oleh salah seorang teman. Bukan kecelakaan yang parah sih. Namun, laptop di dalam tas ransel yang saya kenakan ringsek oleh berat badan kami berdua. Alhasil, selama sebulan lebih saya hanya bisa menggunakan laptop dengan menyambungkannya pada proyektor.

Hingga kini, laptop adalah “harta karun” bagi saya. Dibanding barang-barang lainnya, “ia” memiliki rating nomor satu. Karena darinya, ide-ide kreatif terkadang muncul begitu saja. Ide-ide terpendam juga saya abadikan dalam laptop itu.

Setiap pagi, jikalau tak membaca buku, maka laptop dan segelas cappuccino-lah yang bakal menemani saya. Entah itu sembari menuangkan tulisan-tulisan reportase, blogging, ataupun sekadar “say Hi” pada akun-akun jejaring-jejaring sosial milik saya di dunia maya.


Simple Backpack 
Satu lagi hal tak penting yang menurut hemat saya penting. Namanya juga kepunyaan saya. Tas ransel yang mungkin bagi sebagian besar orang biasa-biasa saja. Namun, terkhusus buat saya, tas ini spesial. Satu-satunya tas ransel yang saya beli ketika menginjakkan kaki di Jakarta. Tas ransel yang dibeli dengan harga Rp 100ribu. Ha-ha-ha-ha……. Harga itu sudah termasuk mahal loh buat saya… :(

Saya menyukainya modelnya, simple saja. Kemana-mana, saya identik dengan tas ransel ini. Hanya itu. #Simple toh? :)

***

Saya tidak pernah bermaksud membangga-banggakan apa yang diusahakan itu. Setiap orang tentu memiliki apa yang menjadi kesayangan mereka. Hanya saja, dengan mempertahankan barang-barang itu di kehidupan sekarang memberikan nilai historis tersendiri bagi saya. Barang-barang itu mengingatkan saya tentang betapa mahal dan “butuh waktu”nya mendapatkan setiap hal yang kita inginkan. Tanpa diduga, Tuhan terkadang bisa memberikan yang lebih baik dan lebih pantas dari sekadar yang kita inginkan itu.

Bukankah itu sudah menunjukkan bahwa tidak semua hal yang kita inginkan akan dikabulkan? Tuhan selalu memiliki keputusan yang lebih baik.

Di samping barang-barang itu, saya juga memiliki teman-teman yang spesial, meskipun kini kami harus mengejar impian masing-masing. Kelak, kami akan bertemu dan bertukar cerita-cerita spesial di waktu-waktu yang spesial. Pun saya memiliki seseorang yang spesial, menurut saya, meskipun terkadang keras kepala. Dan memiliki keluarga tersayang, seharusnya….



--Imam Rahmanto--

Jumat, 13 Desember 2013

Ke(Saya)ngan

Desember 13, 2013
Seiring kita memperjuangkan sesuatu, keinginan untuk mempertahankannya akan tumbuh sejalan dengan rasa menyayanginya. 

Saya memilikinya. Dalam perjalanan hidup yang mencapai 22 tahun ini, saya punya beberapa hal spesial. Seiring dengan saya menemukan orang-orang yang spesial bagi saya. Hal-hal itu tidak didapat begitu saja. Saya mengusahakannya, saya mendapatkannya, dan saya menghargainya. Seiring dengan penghargaan itu, saya benar-benar menjadikannya sebagai barang kesayangan saya.

Barang-barang ini menurut saya adalah spesial. Tentu saja, ini benar-benar secara harfiah “barang”. Bukan orang, apalagi binatang. Saya menganggapnya spesial karena telah lama menemani perjalanan hidup saya. Saya mendapatkannya dengan usaha dan jerih payah sendiri. Barang-barang yang menjadi penanda bahwa saya bisa mendapatkan sesuatu tanpa perlu merengek kepada orang tua. Barang sebagai identitas yang mungkin akan melekat pada pemiliknya.

Saya memilikinya, dan "mereka" adalah milik saya.

Ini dia!


Buku Kuliah/ Novel
Kegemaran saya membaca bermula dari majalah anak-anak fenomenal Bobo, yang nampaknya masih diterbitkan sampai sekarang. Di bangku sekolah dasar, saya mengoleksinya. Saya ingat betul, harganya kala itu berkisar Rp 5ribu – Rp 10ribu. Harganya melonjak mahal kalau mengikutsertakan semacam bonus di beberapa edisinya. Padahal, setahu saya ketika beranjak gede, seharusnya harganya tetap dipatok normal. Bonus itu hanya akal-akalan pedagang. Akh, dasar pedagang di daerah saya saja yang mau untung banyak.

Betapa saya memuja-muja majalah itu semasa kecil.  Demi bisa membeli majalahnya setiap minggu, saya selalu menyisihkan uang jajan yang hanya Rp 1000 tiap harinya. Saya bisa mendapatkan uang berlebih jikalau membantu ayah berjualan Es Teler di pasar yang hanya buka di hari pasar, Selasa dan Jumat. Usai membantu cuci-cuci mangkuk, saya akan diberikan imbalan Rp 5ribu-7ribu per harinya.

Saya juga beradu siapa-yang-koleksinya-paling-banyak dengan salah seorang teman. Eh, eh, tapi kalau saya atau dia tidak punya cukup uang untuk membeli majalah Bobo edisi khusus, saya akan patungan dengannya, membentuk kongsi. *Hehehe…dasar anak kecil, seperti apapun bermusuhan, bersaing, atau berkelahi, kembali akur dalam sekejap saja.

Semenjak menginjak bangku kuliah, apalagi di kota Makassar yang kaya dengan toko buku maupun perpustakaan, saya semakin suka membaca. Karenanya, saya kemudian tertarik untuk mengoleksi beberapa buku. Bahkan saya bermimpi untuk bisa memiliki perpustakaan kecil sendiri, dengan rak-rak uniknya. Untuk yang satu ini, saya harus dibuat cemburu oleh beberapa teman saya yang telah memiliki perpustakaannya sendiri. 

Kesempatan untuk mengoleksi buku itu pun tak terbendung lagi ketika saya mendapatkan pekerjaan sebagai guru privat di tahun kedua kuliah. Saya tak menyia-nyiakannya. Saya berkomitmen untuk menginvestasikan setiap honor mengajar saya, setiap bulan, untuk sebuah buku. Biasanya novel. Dalam rentang setahun itulah saya kemudian memiliki puluhan buku. Akan tetapi, sebagian buku itu hingga kini entah kemana rimbanya. Saya lupa kepada siapa pula meminjamkannya.

Sayangnya, kebiasaan itu berakhir seiring kesibukan tuntutan saya sebagai pewarta kampus. Saya memutuskan untuk berhenti dan tak lagi mengajar. Fokus pada passion utama saya, meliput menulis = reporting. Semenjak itu (sampai kini), kondisi pengadaan buku saya tak tentu lagi waktunya. Kalau ada uang berlebih, saya beli buku. Kalau uang pas-pasan, saya hanya bisa mengidam-idamkannya.


Gitar Akustik
Saya menganggapnya sebagai barang pertama yang benar-benar membetot perhatian saya. Meskipun saya tidak pandai-pandai amat dalam memainkan gitar, saya masih punya hobi untuk menyanyikan lagu kegemaran saya. Ehm…suara juga pas-pasan.

Bermula dari kekaguman saya ketika melihat seorang teman di bangku sekolah menengah dalam memainkan gitar. Saya juga ngebet untuk memiliki gitar sendiri. Ditambah lagi, dengan pandai memetik gitar, persentase “keren” akan meningkat drastis di hadapan cewek. Hahahahaha……

Awalnya, saya belajar darinya. Beberapa kunci nada, dan lagu-lagu yang memang tidak sulit-sulit amat untuk dimainkan. Bahkan, demi meluluskan keinginan saya belajar gitar itu, saya sampai rela menyalin seisi buku kord gitar yang dibeli teman saya. Pasalnya, saya tidak memiliki uang untuk membeli buku-buku semacam itu.

“Beli majalah Bobo saja agak diwanti-wanti, apalagi kalau saya sudah beli buku kord gitar begitu,” pikir saya.

Keinginan untuk memiliki gitar semakin besar ketika saya sudah mulai pandai memainkan gitar. Satu, dua, tiga, bahkan seisi buku saya hafal persis lagu dan kunci nadanya. Namun, keinginan saya itu tentu saja tidak begitu saja diluluskan oleh ayah saya. Ia menganggap, memainkan musik seperti itu hanya membuang-buang waktu. Maklum, ehem, waktu itu saya terkenal sebagai “anak pintar”. Bagi ayah saya, bermain gitar hanya pekerjaan orang-orang yang saban harinya nongkrong di pinggir gang tanpa melakukan apapun.

“Memangnya kau mau jadi apa kalau pandai main gitar?” tanya ayah saya.

Saya yang terbiasa patuh kepada ayah, tidak bisa menyanggah sepatah kata pun yang diujarkannya. Padahal saya ingin bilang, “Saya juga ingin terlihat keren, tidak melulu culun sebagai orang pintar.”

Meskipun dicekal, keinginan itu masih tetap tumbuh beberapa bulan lamanya. Saya tetap belajar memainkan gitar dengan bergerilya ke rumah teman saya.

Hingga tiba waktunya, saya akhirnya berjodoh dengan gitar. Saya menjuarai acara yang digelar oleh Dinas Pendidikan, Lomba Pelajar Teladan tingkat SMP. Sebagai hadiahnya, saya mendapatkan sejumlah uang dari Dinas Pendidikan selaku penyelenggara kegiatan. Saya ingat, pertama kalinya pula waktu itu saya memiliki rekening bank.

“Pa’, boleh kan saya beli gitar dengan uang saya sendiri?” pinta saya dengan ‘tumbal’ uang hadiah itu.

Tentu saja, meski berat hati, ayah meluluskan keinginan saya. Toh, uang itu adalah uang hasil jerih payah saya. Namun syaratnya, gitar tersebut tidak boleh mengganggu prestasi belajar saya selanjutnya, kata ayah saya. Pada kenyataannya, gitar itu memang tidak pernah mengubah elektabilitas presatasi saya, kok. Hehehe....

...to be continued##

--Imam Rahmanto--

Selasa, 10 Desember 2013

Melarikan yang Dibutuhkan

Desember 10, 2013
Sumber: John Kenn, arts
Saya memandangi kursi-kursi yang basah itu itu. Bekas hujan semalam, atau dini hari. Entahlah, saya terlelap dan berhasil dininabobokan oleh hawa dingin yang ditebarkannya. Apalagi sedikit rutinitas saya menerbitkan tabloid sejenak bisa bernapas lega.

Tanah-tanah basah. Langit masih berawan, mendung. Matahari tidak bersinar begitu terang. Daun-daun yang menggelantung di atas pohon beradu berat dengan air-air bekas hujan yang siap menetes kapanpun. Digoyang sedikit, “hujan kecil” di sekeliling pohon akan membasahi koran yang pagi ini datang sesuai jadwalnya. “Untung saja para loper koran itu tidak salah lempar hingga jatuh di atas permukaan tanah yang basah,” pikir saya.

Saya menyukai suasana-suasana seperti ini. Layaknya bumi yang habis dimandikan. Semuanya basah. Lembab. Dingin. Menyegarkan. Mendamaikan. Menenangkan. Apalagi di waktu orang-orang masih bergelung di selimutnya. Hanya suara: saya, Tuhan, dan satu-dua kendaraan yang kebetulan melintas pagi ini. (oh, bukan kebetulan, namun mereka memang menyiapkan diri untuk mengejar rezekinya pagi ini. Ingat, tidak ada yang namanya kebetulan!)

Saya begitu menyukai pagi. Apalagi dengan pagi yang diwarnai rinai-rinai hujan. Saya lebih suka duduk di teras rumah dan bisa menyaksikan dan merasakannya langsung dibanding mengintipnya dari balik jendela kaca. Kelak, saya mendambakan rumah dengan halaman yang luas, bernuansa alami, rindang, dan memiliki gazebo di halamannya, untuk sesekali menikmati hujan dengan segelas cappuccino panas.

#Ok, sampai disini, saya sudah menyeruput dua gelas cappuccino

Seberapa banyak kita telah “melarikan diri”? Seberapa jauh kita mampu “melarikan diri”? Seberapa lama kita mampu bertahan “melarikan diri”? Dan pada akhirnya, apakah “melarikan diri” itu telah mampu menyelesaiakan titik tolak permasalahan kita? Saya pikir, jawabannya tidak.

Sebenarnya, seperti apapun bentuk melarikan diri kita, tentu fokus utama penyebabnya adalah satu, yakni masalah. Secara awam, masalah adalah segala hal yang berlaku di luar harapan idealis dan kehendak kita.

Dalam menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa dan sedikitnya pewarta kampus, saya telah banyak menemui orang-orang yang ragu dengan dirinya sendiri. Berpikir pesimis tentang dirinya sendiri.

Saya pun tak jarang berpikir hal demikian tentang diri saya. Saya menyalahkan diri sendiri, pesimis, dan tak melakukan apa-apa, dan menunjukkan pada orang lain bahwa “diam” adalah “marah” saya. Padahal, tanpa saya sadari, dengan bersikap demikian, masalah yang mengungkung saya bukannya teratasi. Justru situasinya akan bertambah rumit. Karena orang lain tidak bakal tahu “apa yang saya inginkan” dari mereka. Saya mulai belajar, mengungkapkan segala perasaan secara jujur kepada orang lain…
Dalam banyak perjalanan keseharian, saya mempelajari banyak hal. Dari orang lain, atau dari diri sendiri.

“Maaf, memang saya tidak dibutuhkan, bukan?” suatu waktu saya pernah mendengar kata-kata itu.

Sejatinya, kita dibutuhkan atau tidak, bukan mereka yang menentukan. Akan tetapi, sikap dan pandangan kita yang seharusnya membuat mereka membutuhkan kita. Jangan menunggu bahwa kita dibutuhkan, barulah kita akan merasa bangga. Sebaiknya, berbanggalah ketika kita punya inisiatif untuk berbuat dan menunjukkan bahwa kita memang benar-benar dibutuhkan.

“Saya mengibarkan bendera merah putih saja. Saya tidak kuat lagi,” di lain waktu oleh orang yang berbeda.

Tunggu, saya menghela napas dulu… Ketika besarnya beban yang menghimpit saya diakumulasikan di otak dan pikiran di dalam kepala saya kemudian menghasilkan ekivalensi kerumitan masalah yang saya hadapi (ini juga bahasanya ribet dan rumit), sempat membuat saya juga ingin “turun” saja. Akan tetapi, saya berpikir, bahwa masih banyak orang-orang di sekitar saya yang bisa mengulurkan tangannya. Memberikan bantuan. Dengan kita mengutarakan perasaan, bercerita, berbagi masalah, terkadang bisa meringankan beban, ya kan ya?

Karena pada prinsipnya, apa yang kita anggap berat itu sejatinya hanya berlangsung di kepala. Padahal jika diakumulasikan dan dikalkulasikan dengan tepat di luar kepala, semuanya terasa fine-fine saja. Hanya memang, tidak semua orang punya keberanian untuk menghadapi ketakutannya sendiri.

#Keberanian terbesar adalah menghadapi ketakutan itu sendiri, kan?

Menurut saya, kedewasaan itu diukur dari cara bertindak kita dalam menyelesaikan permasalahan. Mereka yang suka menonton film kartun, membaca komik, bermain bersama anak-anak, suka makan es krim, tidak mengindikasikan bahwa mereka adalah anak kecil. Cara bertindaklah yang membuat orang semakin dewasa. Pengalaman seringkali mengajarkannya. Karena, pengalaman bukanlah sesuatu yang terjadi pada kita. Melainkan pengalaman adalah apa yang kita lakukan terhadap sesuatu yang terjadi pada kita itu.

#Ribet? Jangan dihafal, cukup disimak dan dipahami. Hahaha...

Ternyata, “melarikan diri” bukan penyelesaian yang baik. Hampir enam bulan belakangan saya berusaha mencari jawaban itu. Sejujurnya, saya juga sampai saat ini sedang melarikan diri dari keluarga. Apa yang selama ini saya harapkan berbanding terbalik dengan kenyataannya. Parahnya, saya benar-benar meninggalkan semuanya ketika saya seharusnya benar-benar dibutuhkan mereka.

Entah kebetulan atau kebenaran, namun Tuhan sedikit demi sedikit memperlihatkan jalanNya. Saya yakin, Ia memberikan petunjukNya dengan cara-cara elegan. Mengarahkan saya pada beberapa kejadian-kejadian yang akan menguliti pemikiran saya. Memperlihatkan betapa hidup itu bukan hanya tentang keinginan saya. Bukan tentang Tuhan meng-IYA-kan setiap doa-doa yang saya panjatkan lima waktu sehari. Akan tetapi hidup itu adalah tentang menerima apa yang kita miliki sekarang. Tentang Tuhan yang memberikan apa yang kita butuhkan sekarang, untuk belajar.

“Ma, ma, belikan eskrim itu, dong!” rengek seorang anak kecil yang digandeng ibunya di suatu pusat perbelanjaan. Ibunya hanya menggeleng sembari berujar menenangkan anaknya.

“Tidak boleh, Sayang. Sakit amandelmu nanti tambah parah.”

Hanya saja, si anak dengan polosnya tetap merengek tanpa tahu bahwa sakitnya itu sudah sangat parah dan beberapa kali harus berobat ke rumah sakit.

Mungkin, memang sudah saatnya saya kembali…

Terkadang, “melarikan diri” memang bisa dilakukan sebatas untuk merenungkan apa yang kita perbuat. Tidak elok rasanya jika kita menyelesaikan masalah dengan melarikan diri, dengan maksud melupakannya. Meskipun lupa persoalan waktu, karena waktu bisa menjadi obat yang baik untuk melupakan. Namun pikiran bisa menjadi waktu yang lebih cepat ketimbang waktu itu sendiri. Karena memory, sang mesin waktu di kepala kita, dikendalikan oleh kita sendiri.

Dan tahukah kita, bahwa marah seseorang kepada kita adalah bentuk kepedulian orang itu? Menegur, mengkritik, mitosnya adalah karena orang itu sayang kepada kita. Sebagian besar hal itu benar, karena memang itulah bentuk kepeduliannya kepada kita. Orang itu menginginkan kita menjadi baik, meskipun dalam taraf penilaiannya yang terkadang tidak bisa pula dibenarkan seutuhnya.

Namun, bayangkan saja bila kita tak lagi diurusi, tak lagi ditanyakan kabarnya, atau tak lagi dipandang di setiap kesempatan. Lebih menyakitkan, bukan? Seperti hantu di tengah kerumunan, merasa sepi di tengah keramaian….

--Imam Rahmanto--

Jumat, 06 Desember 2013

Bersabar, Keep Going

Desember 06, 2013
(Sumber: google.com)
Kemarin. Pagi. Saya terbangun dengan pikiran yang agak kalut. Bagaimana tidak, saya harus menemui perwakilan Polda di kantornya yang jaraknya sangat jauh dari redaksi saya. Sementara pukul 09.00 saya harus mengikuti perkuliahan, yang jikalau saya tak mengikutinya, kemungkinan besar “rapor merah” menanti saya.

Sejujurnya, absen saya pada mata kuliah yang bersangkutan sudah mencapai batas maksimumnya. Dosennya pun agak ketat dalam pemberian nilai mata kuliah. Keajaiban bagi saya seandainya bisa lolos dengan nilai “tidak-mengulang” pada mata kuliah itu, semester ini. Come on, miracle always mode on!

Dasar saya lebih menyukai petualangan dan tantangan, saya lebih memilih berangkat meliput ketimbang kuliah di pagi itu. Padahal, “undian” presentasi saya keluar tepat hari itu. Di samping itu, saya telah janjian dengan Kabid Penmas Humas Polda Sulselbar, maka saya kepalang tanggung untuk menemuinya. Sudahlah, soal kuliah akan saya perhitungkan setelah tugas dan tanggung jawab saya rampung.

Tidak mudah menghimpun informasi dari pihak berwajib seperti kepolisian. Pasalnya, mereka cenderung tertutup terhadap orang-orang yang belum dikenalnya untuk memberikan informasi. Bahkan untuk seorang wartawan sekalipun harus beberapa kali bolak-balik dipimpong hanya untuk memperoleh informasi yang sebenarnya tidak penting-penting amat.

“Maaf, saya tidak bisa mengeluarkan informasi langsung. Lalu lintas informasi harus melalui Humas,” tutur ornag-orang yang berada di bagian Krimsus Subdit III yang megurusi masalah Tipikor (Tindak Pidana Korupsi). Baik anggota maupun pimpinannya menolak meskipun saya telah mengeluarkan segala jurus bujuk-rayu.

“Waduh, data-datanya belum sampai disini. Kalau memang sudah pemeriksaan, pasti sudah ada berkasnya yang disampaikan kesini,” ujar staff Humasnya lagi. Maklum, pimpinan Humasnya tidak ada di tempat karena sedang menjalani pendidikan di Jakarta, kalau tak salah.

“Katanya belum ada, Pak. Saya sudah dari bawah,” saya berusaha sedikit memelas dengan harapan bisa diberi keluwesan untuk bertanya lebih banyak. Tetap saja, mereka enggan memberikan informasi. Nampaknya para polisi sudah diberi pelatihan khusus buat “mengunci” mulutnya.

Pun, sehari sebelumnya saya dibuat terlunta-lunta menunggu oleh pihak kepolisian tersebut. Saya bersama salah seorang wartawan Celebes TV yang menunggu sejak pagi tidak diberikan informasi apapun terkait kasus yang sementara kami dalami. Sedikit paksaan hanya bisa mengalirkan nama-nama orang yang diperiksa. Kami hanya mendapatkan itu. Selebihnya, saya berusaha sendiri dengan mengendap-endap dan mencuri-curi pandang. Hahaha…

Dari cara itu, nyatanya bisa menemukan fakta baru terkait kasus yang berlangsung di kampus saya. Tak banyak sih, tapi cukuplah untuk menjadi informasi awal buat ”menggoyang” para pejabat-pejabat yang terlibat kasus tersebut. #sok

Ada pula sebenarnya orang-orang di kepolisian yang cukup welcome dengan kehadiran wartawan. Mereka tanpa berat hati memberikan informasi yang memang dibutuhkan si wartawan.

Saya menemukan seorang lelaki paruh baya yang juga merupakan staff Humas di kantor Polda Sulselbar itu. Saya yang pertama kali hanya duduk-duduk “menyusun rencana” disapanya.

“Mau cari siapa?” tanyanya yang melihat gelagat saya hendak masuk ke kantor Humas.

“Mm…Pak Humas-nya ada ya, Pak?” saya balik bertanya.

“Hm..beliau lagi di Jakarta,” ucapnya dengan anda sedikit kecewa.

“Kalau begitu, boleh tahu, yang berwenang selain Pak Kepala Humas untuk memberikan informasi terkait kasus yang sedang diselidiki di kampus saya siapa ya?” cecar saya kemudian.

“Oiya, coba tanya Pak Siswo. Dia Kabid Humas bagian Penerangan Masyarakat. Dia yang mewakili sementara,” jawabnya, yang kemudian dilanjutkan dengan pertukaran nomor handphone pada saya.

Tanpa perlu bersusah payah, saya bisa mendapatkan akses untuk lebih jauh menggali informasi itu. Meskipun staff itu bukan narasumber yang hendak kita gali informasinya, namun informasi awal bisa kita pelajari lewat orang-orang tak penting seperti itu. Terkadang, bantuan mereka cukup berarti untuk menuntun kita ke langkah selanjutnya.

Beruntung, Kabid Humas itu adalah tipe orang yang terbuka pula dengan wartawan. Meskipun via telepon, ia tak masalah berbicara panjang lebar. Bahkan, ia sempat memberikan saya informasi-informasi off the record untuk menjadi bahan pertimbangan investigasi saya. Ckckck…

Dan hari berikutnyalah saya bermaksud menemuinya, dengan meninggalkan satu mata kuliah saya. Sungguh miris. Padahal sesampai di kantornya pun saya tidak menemukannya. Menurut staffnya, ia sedang menghadiri acara yang dihelat di salah satu hotel Makassar.

“Ah, kalau saya tidak menemuinya, berarti sia-sia mata kuliah yang telah saya korbankan hari ini,” pikir saya.

Dengan sedikit memaksa hati, maka saya bersama seorang teman saya melaju untuk menyusul Bapak Kabid Humas itu ke lokasi acaranya. Tekad ternyata mampu membuktikan segalanya. Kami akhirnya berhasil menemuinya setelah sempat berputar-putar dan hendak “menyusup” ke sebuah acara dialog besar di hotel tersebut.

***

Sejujurnya, ada banyak hal yang berseliweran di kepala saya pagi itu. Semuanya bertumpuk menjadi satu. Saya tidak tahu lagi persoalan mana yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Pikiran saya menumbuhkan cabang-cabangnya. Tak ayal, saya bahkan sempat berpikiran untuk mengibarkan “bendera putih” saja.

Yah, bendera putih pertanda menyerah atas pertarungan saya sendiri. Akan tetapi, prinsip saya yang harus menyelesaikan apapun yang saya mulai memaksa pikiran saya untuk terus berjalan. Layaknya membaca buku, saya harus menyelesaikannya. Pikiran saya memaksa sekujur tubuh saya untuk bergerak. Saya dipaksa untuk bergerak dan melakukan sesuatu.

Sebagai seorang pimpinan, mengeluh menjadi hal yang semestinya tabu. Jikalaupun saya harus mengeluh, saya cukup mengeluh kepada seseorang saja. Sejatinya, keluhan-keluhan yang kita lontarkan mencerminkan pribadi kita yang rapuh. Kita tak kuat, dan kita ingin dikasihani. Tentu saja, kalau saya mengeluh, mereka tidak akan memiliki figur seorang pelindung lagi. Saya tidak perlu memperlihatkan betapa lemahnya saya. Saya ingin mereka tetap bisa berlindung pada kuatnya saya di mata mereka.

Keluh kesah bisa saja muncul dari kejenuhan terhadap sesuatu. Bisa saja hal itu muncul karena kita tidak begitu menikmatinya. Bersabar saja menerimanya, tidak semata-mata tidak berbuat apa-apa terhadap apapun yang terjadi. Saya lebih menyukai mencari hal-hal baru untuk membunuh kejenuhan itu. Untuk itu, tantangan-tantangan baru siap menjadi “guru” kita menemukan hal-hal baru, seharusnya.

Dan saya menemukan hal-hal baru itu dengan meluaskan “area jajahan” liputan berita saya. Hahaha

Seorang teman beberapa kali merasa terpuruk dengan keadaannya sekarang. Menurutnya, ia tak mampu lagi mempertahankan dirinya di lembaga yang sebenarnya dicintainya itu. Ia sedikit lagi akan mengangkat “bendera putihnya”. Bersiap dengan segala kemungkinan yang tak ingin ia hadapi.


Terkadang kita tak pernah sadar, ketika seseorang memutuskan untuk menyerah, sementara ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan tujuan akhirnya.  

Bagi saya, menyerah sama halnya dengan tidak berbuat apa-apa lagi. Kita selalu mendengarkan bahwa Tuhan tak akan pernah memberikan cobaan bagi hambaNya melebihi batas kemampuan hambaNya. Oleh karena itu, yakinkan saja bahwa sebenarnya kita masih kuat.  

Bukannya seorang wartawan itu selalu dipacu untuk bersabar dan tak mudah menyerah - demi menemui narasumber?

Seperti halnya ketika saya berjam-jam lamanya menunggu narasumber. Yang dibutuhkan hanya kesabaran. Meski membosankan, namun saya berharap bisa menyelesaikannya. Meski terkadang saya tak mendapatkan keterangan apa-apa, namun itu membelajarkan. Setidaknya kita sudah berusaha. Dan percayalah, Tuhan tidak pernah sia-sia menilai dan mengkonversikan setiap usaha keras hambaNya. :)




--Imam Rahmanto--.

Senin, 02 Desember 2013

Memajang Tulisan di Etalase Kompasiana

Desember 02, 2013
Sumber: Goodreads.com
Satu lagi buku dari Bang Pepih Nugraha yang nangkring di tangan saya setelah beberapa hari harus “mupeng” di jejaring Kompasiana. Apalagi dengan digelarnya kompetisi me-review buku besutan pendiri Kompasiana tersebut.

Sejujurnya, mendengar nama Pepih Nugraha, pikiran saya langsung tertuju pada Kompasiana. Tak bisa dipungkiri, jatuh-bangunnya Bang Pepih mendirikan dan mengembangkan social blog itu telah memberikan brand image tersendiri bagi dirinya. Tidak heran ketika kita lebih mengenal Bang Pepih di sisi Kompasiana-nya tinimbang sisi Redaktur Pelaksananya, jabatan yang kini diemban di Kompas.com.

Sial bagi saya, karena baru mendapatkan pinjaman bukunya setelah beberapa hari buku tersebut beredar luas di pasaran. Saya merasa ketinggalan momen sepersekian waktu. Itupun karena saya sedikitnya berhasil mempengaruhi (tak kasat mata) teman saya untuk menjadikannya sebagai salah satu koleksi perpustakaan redaksi lembaga kami. Selain karena tingkat proximity saya juga yang cukup besar dengan jejaring Kompasiana.

Buku Kompasiana Etalase Warga Biasa nampaknya menjadi buku kesekian kalinya yang berhasil ditelurkan secara tak langsung dari Kompasiana. Sepengetahuan saya, Bang Pepih sendiri sebagai pendiri Kompasiana sudah menghasilkan 5 buku semasa hidupnya. Beberapa kali ia juga menjadi penyunting atau editor dari buku-buku yang diterbitkan lewat bundling artikel di Kompasiana.

Sejujurnya, saya suka gaya bertuturnya yang renyah dan tidak begitu formal. Flow. Amat berbeda dengan buku-buku serupa yang selama ini saya jumpai. Meskipun lebih banyak saya mengonsumsi novel.

Dalam buku setebal282 halaman ini, secara umum menceritakan tentang pergulatan bagaimana mendirikan sebuah media sosial yang mengusung tema: Menulis. Semua warga harus menulis. Meski secara generalisasi orang-orang menyebutnya sebagai citizen journalism, akan tetapi pada kenyataan dan prakteknya di dunia maya, Kompasiana tidak hanya lahir sebatas media “laporan warga”. Melainkan ia berkembang menjadi media bagi warga yang gemar menulis dalam menyampaikan opini/ pendapat, laporan kejadian, atau bahkan karya sastra.

“Kompasiana adalah media sosial khas Indonesia dengan platform tegas: MENULIS dan tagline jelas “Sharing & Connecting”. Di dalamnya termasuk menulis berita peristiwa yang disebut sebagai citizen journalism, menulis opini, menulis catatan harian, dan bahkan menulis fiksi. Semua konten berupa karya tulis itu diproduksi dan diciptakan sendiri oleh warga pengguna Kompasiana.” --Kompasiana--

Dengan berbekal ilmu ekonomi dan marketing yang dimilikinya, Bang Pepih membangun Kompasiana. Melalui buku ini, saya memahami bahwa ternyata pendiri Kompasiana adalah benar-benar orang yang sangat paham dengan manajemen marketing. Secara tak langsung, saya sebagai pembaca diajarkan bagaimana cara mem”promosi”kan dengan benar. Beberapa istilah-istilah marketing yang selama ini baru saya "kenal-malu-malu", sedikitnya tergambarkan lewat usaha melahirkan bayi blog sosial yang pernah dinobatkan sebagai Kanal Blog Citizen Journalism Terbaik dari Pesta Blogger 2010 dan Markeeters Netizen Champion.

Saya kemudian berpikir, di samping paham tentang kaidah-kaidah jurnalistik (yang akhirnya didobrak sendiri), seorang Pepih Nugraha juga banyak mengetahui seluk-beluk IT, internet, dan marketing. Lewat pengetahuannya itulah yang mengawalinya untuk menelurkan ide tentang konsep blog sosial.

Sesekali, pria yang berulang kali menginjakkan kakinya di kota Makassar ini menyelipkan selingan “motivasi” dalam beberapa bab bukunya.

“Sebenarnya saya ingin menunjukkan kekuatan dari sebuah olok-olok dari orang lain, yang saya tangkap sebagai energy positif yang luar biasa bagi kreativitas, kekuatan yang tak terkirakan dalam menumbuhkan semangat kerja demi mencapai prestasi yang saya tidak tahu persis seperti apa bentuknya.”

Salah satu kutipan artikel tersebut menjadi penanda bahwa Kompasiana memang dibangun dengan susah payah dan penuh tantangan. Hal ini membuktikan, apa yang diusahakan tak selamanya mendapatkan tempat yang cocok di hati orang lain. Blog sosial yang kini harum namanya dimana-mana ternyata dibangun pula dengan cibiran-cibiran dari para pakarnya. Meskipun demikian, saya cukup bangga dengan sikap ”See what other people doesn’t see” pendirinya itu. Excellent!

Artikel-artikel yang pernah dimuat di Kompasiana, baik miliknya maupun postingan Kompasianer lain tak luput menjadi pelengkap bukunya. Hal itu dimaksudkan sebagai bahan rujukan berdasarkan topik yang dibahas oleh setiap bab. Namun, beberapa pemikiran saya yang berkelebat menganggap naskah-naskah itu hanya persoalan taktisi halaman. Bagi Kompasianer yang sudah pernah membacanya, kemungkinan akan melompati naskah yang didapuk dari postingan Kompasiana itu. Saya pribadi tetap membacanya, karena belum pernah membaca semua postingan yang di relaunch di buku ini, meskipun beberapa kali sempat mendengar riuh-rendahnya di perbincangan para Kompasianer.

Etalase Warga Biasa, bukanlah buku how to tentang Kompasiana. Melainkan buku yang menceritakan tentang “babak-belur” Kompasiana semenjak dibenihkannya. Bermula dari blog tampilan “abal-abal” yang hanya menghimpun penulis dari jurnalis Kompas dan blogger tamu. Para jurnalis media itu diharapkan mampu menuangkan cerita “tak tersampaikan” di balik berita yang mereka sajikan ke publik.

Semakin membanjirnya pembaca dan pengunjung Kompasiana, menggunungnya antusiasme pembaca dalam berkomentar, mendorong perubahan yang radikal dalam pengelolaan Kompasiana. Dari “khusus untuk jurnalis” beralih ke “umum bagi siapa saja yang mau menulis”. Tentunya diiringi dengan perubahan sana-sini di sisi tampilannya, publikasinya, lahirnya Freez, dan penerbitan postingan-postingan beberapa Kompasianer dalam bentuk buku.
***

Mengamati dan menyimak kisah yang dituturkan secara mengalir oleh Bang Pepih membuat saya banyak berpikir. Keinginan yang sebenarnya telah lama tercetus di kepala saya.

“Kenapa tidak mengajak teman-teman di redaksi pewarta kampus saya untuk menulis tentang cerita ‘behind the scene’ di balik berita yang mereka liput?”

Tentu menjadi cerita yang menarik sekaligus unik membaca sendiri kisah-kisah mereka dalam menghadapi narasumber yang notabene pejabat-pejabat di kampus. Menulis tanpa perlu diseragamkan oleh editing redaksi tentunya akan menggambarkan ciri khas tersendiri bagi mereka. Selain itu, ada hal-hal melegakan ketika menuliskan sesuatu yang tidak bisa diceritakan langsung lewat berita yang akan diterbitkan di media cetak.

“…berita di balik berita, jauh lebih menarik ketimbang berita itu sendiri.” --Kompasiana--

Yah, saya terinspirasi oleh buku ini untuk bisa menerapkan hal serupa. Sedikitnya, membangun budaya tulis dan ngeblog di tengah-tengah rutinitas liputan. Saya penasaran dan bakal tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana teman-teman saya bakal bercerita dengan gaya bahasa sendiri tentang behind the scene liputan di blognya masing-masing. Wish it!



--Imam Rahmanto--

Minggu, 01 Desember 2013

Teman itu Peduli…

Desember 01, 2013
Berteman itu adalah tentang saling mengerti, saling mengisi, saling mengawasi, dan saling mengasihi. 
Kehidupan yang kita jalani sekarang adalah tentang menjalin komunikasi dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial, dengan konsekuensi tidak bisa hidup tanpa dukungan atau peran serta dari orang lain. Orang introvert sekalipun, tidak akan bisa hidup tanpa sokongan dari orang lain. Teman, menjadi penanda setiap orang yang ingin menjalin keakraban hubungan sosial itu.

“Bagi saya, teman itu luas. Siapa saja yang mengenal saya dan saya mengenalnya, saya menganggapnya teman. Saya tidak pernah peduli dengan anggapan dia itu junior atau senior saya,” teringat akan jawaban saya suatu waktu ketika mengobrol ringan dengan seseorang.

Yah, pada dasarnya, saya menganggap siapa saja yang menjadi “kenalan” saya adalah teman saya. Teramat jarang saya menyebut mereka “junior” atau “senior” atau bahkan “anggota” di tengah-tengah menyebutkan nama mereka kepada orang lain. Bagi saya, mereka adalah teman. Dan semoga apa yang menjadi anggapan kita kepada mereka dikembalikan pula kepada kita. Begitulah “The Law of Attraction” berlaku.

“Beda lagi dengan saya. Entahlah. Tapi, teman itu adalah orang-orang yang benar dekat dengan kita. Kita bisa mengharapkan apa saja dari mereka. Malah saya lebih dekat kepada mereka ketimbang pacar,” ungkap seorang teman mewakilkan perasaannya. “Malah saya bisa menuntut lebih banyak kepada seorang teman,” tambahnya lagi dengan menambahkan emoticon tawa.

Mungkin, “teman” yang dimaksudkannya lebih spesifik lagi, meski dalam pengertian banyak orang yang disebut dengan “sahabat”. Yah, meskipun ia tak ingin mengkotak-kotakkan yang mana sahabat, yang mana teman.

Apapun itu, definisi setiap orang berbeda-beda. Setiap orang memiliki pemikirannya masing-masing. Pemikiran itu tentu saja dibentuk dari pengalaman-pengalaman yang dijalaninya dalam kehidupan. Sama halnya ketika kita membicarakan “cinta”, ada beragam definisi yang akan beterbangan di atmosfer dunia kita.

Sumber: pinterest.com
Apapun itu, saya tidak mempedulikannya. Bagi saya, kenal dan saling mengenal sudah menjadikan orang lain sebagai seorang teman. Sebagaimana orang Jepang sangat menghargai pertemanan itu. Saya mempelajarinya, hampir semua anime (flm animasi), manga (komik) Jepang yang selalu mengajarkan tentang pertemanan itu. Segala cerita yang berkembang di dalamnya didasarkan pada konsep pertemanan itu sendiri.

“Teman adalah hal yang baik, bahkan jika mereka berjalan di arah yang berbeda.”--Naruto--
“Teman itu adalah sesorang yang akan menyelamatkanku dari neraka yang bernama kesepian.”--Naruto--
Bagaimanapun, film atau bacaan anak-anak itu dibuat tidak asal dibuat saja. Selalu ada nilai-nilai (atau doktrin) yang disisipkan di dalamnya. Tidak heran jika jepang meraup perkembangan  yang luar biasa dan diadulat sebagai negara maju.

Saya menemukan tentang pemahaman teman itu sendiri, kemarin. Di tengah-tengah rapat yang menjadi rutinitas mingguan di lembaga jurnalistik kami, air mata berderai. Saya mengamatinya, untuk pertama kalinya, bukan sebagai tangis atas kemarahan-kemarahan saya. Seperti yang biasa ditunjukkan oleh teman-teman (adik) di hadapan saya ketika saya sedang memarahi mereka. Tangis itu, lebih kepada tangis yang membuatnya sesak karena berusaha menegur seorang teman yang ia sendiri tak tega untuk menegurnya, sebagai seorang teman.

Sedikitnya, saya mengerti perasaan itu. Perasaan yang akhirnya tumpah. Begitu lama dipendam, baru sanggup mengatakannya. Begitu lama berkonflik dengan batinnya sendiri, apakah ia akan berbuat benar atau salah. Apakah ia akan menyakiti temannya atau tidak. Apakah ia akan lega atau tidak. Toh, pada dasarnya, teman yang tersakiti akan membuat kita ikut “sakit”. Dan kenyataannya, akan lebih sakit lagi jikalau kenyataannya yang membuatnya sakit adalah diri kita sendiri.

Tak ada maksud untuk menyakiti seorang teman dengan menegur kesalahan-kesalahan yang dianggap telah dilakukannya. Konsekuensinya, memang, kita akan menyakiti diri sendiri. Karena mau tak mau, kita akan menjadi orang pertama yang akan merasa tersakiti jika dirinya tersakiti atas ucapan dan teguran kita. Sebagai figur teman yang baik, kita memang seharusnya menjadi pengawas baginya. Itulah bentuk kita mengasihinya.

Sama saja dengan “menyembuhkan” penyakit. Untuk menyembuhkan, seseorang butuh obat. Pahit atau manis, harus dipaksakan. Imbasnya kan demi kesembuhan.

Saya yakin, hal semacam itu yang akan menembus batas-batas pertemanan yang selama ini masih memberikan dinding-dinding tak tampaknya. Dinding-dinding yang terkadang kita menganggapnya sesuatu yang tak boleh dilewati. Dinding yang seolah-olah bukan bagian kita untuk mengurusinya.

Sebagai bentuk kepedulian seorang teman, adalah wajar ketika saling menegur, saling memperbaiki. Kita tidak akan pernah benar-benar hidup jika tidak ada satupun orang yang mempedulikan kita. Marah, bukan pertanda seseorang membenci kita. Bukan. Marah, hanya sebatas bentuk penyampaian dan kasih sayang tak kasat mata kepada orang-orang yang masih kita pedulikan.

“Kapan seseorang akan mati? Saat dia terkena tembakan? TIDAK!! Saat dia terkena penyakit mematikan? TIDAK!! Saat dia meminum sup dari jamur beracun? Juga TIDAK..
Seseorang akan mati apabila dia telah dilupakan...” --Dr.Hiluluk, One Piece--


--Imam Rahmanto--