Senin, 18 November 2013

Writing is Healing

“Writing is healing”
Menulis itu menyembuhkan.

Saya menemukannya dua hari yang lalu, ketika salah seorang penulis menyampaikannya dalam acara yang diprakarsai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kampanye Gerakan Indonesia Menulis. Sejujurnya, meskipun penulis yang menjadi pembincang utama itu adalah salah seorang pendiri Penerbit GagasMedia, namun saya tidak begitu mengenal namanya dalam dunia kepenulisan; Fx Rudy Gunawan.

Ehem... Itu...itu...saya yang ada di sebelah sana itu.... (Foto: Andini) 

Saya menyadari, dunia ini tak selebar daun kelor. Apa yang saya kenal dan ketahui ternyata masih belum sepelemparan batu dari dunia dalam genggaman Tuhan. Tentang para penulis dan dunianya? Ah, masih ada banyak yang perlu saya telusuri.

Menulis itu menyembuhkan…. apa saja…

Beberapa penelitian membuktikan hal itu. Bahwa menulis bisa menyembuhkan tekanan traumatik seseorang. Orang-orang yang menderita trauma akan tertolong dengan kegiatan menulis itu. Kalau orang-orang yang menderita tekanan trauma seperti itu bisa tercerahkan, lantas mengapa tidak dengan orang-orang yang menderita tekanan galau-isme?

“Sebuah studi di Auckland menemukan bahwa latihan menulis memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah menyembuhkan luka batin usai trauma. Hal ini diungkapkan oleh pemimpin penelitian Dr Elizabeth Broadbent. Menurutnya, menulis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sekaligus bisa mempercepat penyembuhan luka akibat trauma.”

Proses penyembuhan terhadap trauma itu bisa dilihat pula melalui film Freedom Writers. Bagi saya, film itu benar-benar menginspirasi. Isinya bercerita tentang seorang guru bahasa Inggris Erin Gruwell yang ditugaskan untuk mengajar anak-anak muda yang berada di lingkungan “texas”, yang sarat dengan isu-isu “warna kulit” kala itu. Mereka memiliki kehidupan yang keras, tawuran antar geng, obat-obatan, dan sejumlah situasi sulit lainnya. Sebagian dari mereka memiliki masa lalu yang kelam terkait diskriminasi tersebut.

Akan tetapi, namanya guru, di kepalanya cuma terukir satu tujuan; mendidik. Nah, lewat kegiatan tulis-menulis diary itulah gurunya “menyembuhkan” luka-luka masa lalu sekaligus trauma anak-anak muda itu. Ia membuktikan kepada guru-guru lainnya yang sejak awal menganggap remeh usahanya mendidik siswa-siswinya. Hasilnya? Tentu saja, menulis benar-benar menyembuhkan…

Atau dalam novel Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil? Torey Hayden yang juga merupakan penulisnya memberikan terapi menulis pada seorang anak kecil berusia 6 tahun. Anak kecil ini mengalami gangguan mental dan emosinya selalu meledak-ledak hingga menakuti siapa saja. Bahkan, ia yang “diisolasi” di kelas Torey, kelas anak-anak disabilitas, pernah membakar seorang anak kecil berumur 3 tahun.

Sebenarnya ada banyak buku dan film (dan fenomena) yang mengindikasikan tentang khasiat menulis itu. Mungkin, hakikatnya dengan menulis, otak dipaksa untuk berpikir. Impuls-impuls dalam sel saraf otak saling berhubungan satu sama lain ketika kita menulis. Sadar atau tidak, menulis, berarti merekam jejak-jejak masa lalu. Setiap puzzle dalam ingatan berusaha dirangkai sedemikian rupa agar menjadi utuh dan bermakna. Bahkan hal-hal yang tak kait-mengait pun bisa menjadi bermakna ketika mulai dipelototi oleh seorang penulis.

Seseorang menulis, berarti ia akan kembali ke ‘memory’ masa lalunya. Mengingat, mengingat, dan mengingat setiap detail ke belakang kunci dalam otaknya. Cabang-cabang dalam otaknya saling terkait untuk membentuk pemahaman baru.

“Journalism is not medicine, but it can heal. It is not law, but it can bring about justice. It is not military, but it can help keep us safe,”  --Mary Mape--

Hal yang sama berlaku pula bagi para pekerja media. Mereka yang benar-benar sering menyibukkan dirinya dengan menulis berita, autodidak akan tersehatkan. Menulis, pada bagian apapun, terkhusus tentang kehidupan, akan benar-benar memberikan efek yang menyembuhkan. Maka berbahagialah para wartawan-wartawan (kampus). Haha…

“Saya biasanya menulis status di facebook,”

Saya agak risih mengelompokkan tulisan yang satu itu ke dalam tulisan-tulisan “penyembuh”. Nyaris semua orang kini telah menikmati perkembangan sosial media. Tulisan-tulisan “status” di akun sosial itu menurut saya hanyalah sebatas penyaluran “narsisme” semata. Sekali-kali, seseorang ingin dilihat hebat oleh orang lain. Sekali waktu, orang ingin pula dikasihani oleh orang lain dengan menuliskan keluh-kesah-resah-gelisah-duka-lara-galau. Come on, jangan terlalu banyak mengumbar kehidupan di akun-akun sosial seperti itu. Pun, jangan menjadi orang yang terlalu mudah dibaca lewat akun-akun pertemanan itu.

“Jangan coba menjadi diri orang lain ketika menulis. Jadilah diri sendiri.” pesan Mas Rudy dalam pemaparannya.

Ya, prinsip menulis pun menurutnya tak pernah berbeda dengan hal-hal lain dalam hidup. Ia seharusnya tetap berjalan dalam kondisi apapun. Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk menulis, sesedikit apapun. Tentu saja, di luar dari meluangkan waktu menulis status-status aneh-bin-galau di sosmed.

“Saya biasa menulis, tapi di buku diary,” ujar salah seorang teman saya.

Hmm…adalah hal wajar ketika menulis diary untuk konsumsi pribadi. Dari sana pula seseorang terkadang menemukan “obat”nya sendiri. Saya terkadang senang (senyum-senyum sendiri) melihat orang lain yang menjadikan blog sebagai ladang tulisannya, bahkan diary-nya. Semangat ya buat siapa saja yang berpacu dengan tulisannya!

Saya menulis. Menulis apa saja yang menurut saya menarik. Disamping bombardir kewajiban menulis berita di lembaga pers kampus saya, sekali-kali saya butuh penyaluran tulisan-sukarela-bukan-berita. Yup, benar-benar sukarela tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun dan apapun…



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar