Senin, 18 November 2013

Apa Kabar Kalian?

Alvalor! Bewohner!

“Hei, apa kabar?”

Untuk membuka pesan kerinduan ini, ah agak berlebihan sebenarnya jika saya menyebutnya demikian, saya hanya bisa bertanya kabar kalian. Sementara dari cerita-cerita kalian setiap bertemu di jejaring sosial, saya menyimpulkan: kalian baik-baik saja.

Ya, setiap memasuki dunia jejaring itu, kalian tak pernah lepas menyapa dan bertanya. Sudah saya katakan, bukan? Sejatinya kita tak akan pernah benar-benar berpisah.

“Kak, kapan kesini lagi?” berulang-ulang dengan pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda. Apalagi ketika teman-teman saya hadir tiap minggu mengunjungi kalian dalam beberapa hari belakangan ini.

Adalah pertanyaan yang sulit bagi saya. Entahlah, itu pertanyaan serius atau sekadarnya saja. Dan saya sedikit pun tak memiliki kuasa untuk menggantikannya atau menambahkannya pada setiap waktu yang saya punya. Lihat saja, ketika saya mengabdikan diri di kota kalian, dulu, saya masih saja harus menenggelamkan diri pada kewajiban saya di organisasi kampus saya. Ketika saya disini? Sejatinya saya benar-benar tak punya kesempatan untuk bisa bertemu dengan kalian. Jadilah, saya hanya bisa melepas kerinduan dengan kalian di dunia maya. Semaya-mayanya dunia itu, ia masih tetap menyampaikan pesan yang nyata buat saya.

Sejujurnya, saya pun merindukan kalian, sebagaimana selalu merindukan adik saya. Yah, adik saya yang tepat sepantaran kalian. Lama, saya tak berjumpa dengannya lagi. Hanya suaranya yang pernah saya temui lewat jaringan telepon yang menghubungkan kami. Saya menolak untuk pulang, hingga waktu yang benar-benar siap untuk membawa saya pulang.

Apa kabar adikku? Kau yang merindukanku, jelas terdengar dari isak tangismu di telepon kala itu. Bertanya tentang segala dalihku. Bertanya tentang kabarku. Berujar tentang ayah dan ibu. Bertegur perihal sikapku yang keras kepala telah menyisakan kekosongan lebih dari lima bulan lamanya. Kau masih menunggu, kepulanganku. Janjiku tentang buku-buku untukmu…

Sudahlah, namanya merindu adalah pekerjaan hati. Karena kita semua saling merindukan, maka tak boleh ada air mata yang tertumpah. Oke? Kalau saja kita merindu “bertepuk sebelah tangan”, barulah hal semacam itu yang memedihkan hati. Air mata boleh tertumpah, namun hati tak boleh berkeluh kesah.

Karena kalian bukan murid-murid saya, melainkan adik-adik saya, maka saya sepatutnya memang merindukan kalian.

Apa yang saya rindukan dari kalian? Ahaha…ada banyak hal-hal kecil yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Tentang kelas kalian yang riuh dengan tawa. Tentang wajah-wajah sumringah kalian ketika mendengarkan cerita-cerita saya. Tentang wajah-wajah berkerut kalian ketika tak mengerti pelajaran Matematika. Tentang taruhan-taruhan yang kalian alamatkan buat saya. Tentang catatan-catatan kecil mengenai saya. Ah, tidak! Tentang kertas impian dan cita-cita kalian yang berani kalian bagi kepada saya.

Tentang bully yang menjalar dari mulut ke mulut. Tentang coretan kertas-kertas lipat untuk menilai kepribadian teman-teman kalian. Tentang “dia” yang selalu kalian sandingkan namanya. Tentang wajah-wajah ngantuk yang membuat saya “greget” di depan kelas. Dan lagi, ada banyak “tentang-tentang” itu yang tidak mampu terlukiskan lewat kata-kata. Haha…termasuk tentang topik pembicaraan paling menarik perhatian kalian; cinta.

Kalau berbicara soal cinta, kalian menjadi makhluk paling antusias di dunia. Padahal di zaman saya remaja “unyu-unyu”, saya belum diperbolehkan orang tua untuk mengenal hakikat semacam itu. Belum waktunya, katanya.

Hanya saja, itu salah satu cara “langka” yang bisa menarik perhatian kalian di dalam kelas. Apalagi gosip tentang teman-teman kalian sendiri, atau bahkan dengan kakak-kakak kelas. Apa mau saya sebutkan satu persatu siapa kakak-kakak kelas itu? Ckckck

“Sepelemparan waktu, perpisahan akan menemukan caranya lagi untuk kembali pulang”

Saya dibuat iri melihat teman-teman saya yang begitu leluasanya kesana-kemari bisa menemui kalian disana. Sebenarnya, jarak dari kota kalian dengan Makassar tidak begitu merentang terlalu jauh. Cukup dengan mengendarai motor selama satu setengah jam, saya sudah bisa sampai disana. Akan tetapi, sekali lagi, waktu yang selalu membatasi setiap pertemuan kita.

Suatu waktu, saya ingin menghabiskan waktu dengan kalian. Lama tak berjumpa, pasti ada banyak cerita yang akan terangkum. Satu-dua, patutlah diceritakan untuk saya.

Aljabar, saya masih menyimpan tulisan kertas cita-cita dan impian kalian! Kalau saya sedang kehilangan semangat, saya biasanya membuka satu demi satu kertas yang nyaris usang itu. Entah bagaimana caranya, saya bisa menemukan kembali semangat yang hilang itu. Mungkin karena saya juga tak mau kalah dengan kalian. :D “Masa iya kakak guru yang “Cuttte” ini dikalahkan oleh kalian dalam meraih cita-citanya?” 

Mari menguji daya ingat saya. Nisa, Asri(ana), Hera, Mbesh, Ade (si Putri Indonesia), Ainun, Fia, Syahruni, Gadis, Ameliyah, Citto (C-i-t-t-o), Devi, Wulan, Hajar, Amalia, Zizah, Ulfa, Irna, Widya, Yaya, Anca, Baso, Maman (si pejuang), dan Fadel (montok). Randomly, kalian selalu ingin disebutkan namanya, bukan?

Einstein, hanya tulisan-tulisan tentang saya dari kalian yang menjadi “artefak memori” saya. Tulisan cita-cita dan impian kalian, entah tercecer dimana. Mungkin, di rumah Pak Haji. Akan tetapi, dari pesan-pesan kalian (untuk saya) itulah yang juga selalu menguatkan. Yang selalu membuat saya merindukan kalian. Meskipun kalian begitu “percaya diri” mengharapkan hal-hal di kertas itu terwujud. Kalian harus mengerti, ada hal-hal yang sejatinya tidak bisa dipaksakan. Overall, saya menghargai semangat kalian.

Lalu, ada Fitrah (pujangga kata), Ana, Mayang, Irna, Ifha, Lisa, Abrar (ahli IT dan desain), Erwin, Novi, Ainun, Azizah (semifinalist lomba), Sheila, Idha, Lilla, Diana, Ayu, Icha Ewa, Aslamiyah, Imce, Ridha, Fikri, Reza, Arifin, Arfandi, dan Saeful (kalem). Tahu tidak, saya benar-benar mengetahui gosip diantara kelas kalian. Tentang siapa-suka-siapa, imbas dari permainan yang kalian buat di kelas. Tenang saja, rahasia di tangan saya. :P

Aljabar dan Einstein, kalian, bertetanggalah dengan baik. :)

Dan kepada kalianlah salam yang tak berbatas waktu itu tersampaikan. Semoga saya akan selalu tiba di setiap relung ingatan kalian... ^_^.

Saya pikir setiap kebersamaan akan selalu menemukan tempat terisitimewanya di "memory" kita masing-masing.
Ah, inilah kami.....


--Imam Rahmanto--

NB: saya juga berharap bisa menerima satu atau dua halaman ‘surat’ dari kalian, menumpahkan segalanya dalam secarik tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar