Sabtu, 30 November 2013

Katniss Menyulut Api Pemberontakan

November 30, 2013
Pagi ini, ini pagi. Yah, saya masih merasakan nuansa-nuansa pagi di tengah hari saya mencoba mengubek-ubek isi “rumah’ saya ini. Semalam, hujan deras mengguyur. Sesekali langit tampak cerah oleh oleh tempias kilat yang sambar-menyambar.

Yah, saking derasnya hujan, parit-parit di sepanjang jalanan meluapkan sampah-sampahnya yang menggenang. Bahkan, saya memprediksikan, rumah kost saya yang berada di daerah rawan banjir saat ini sedang berbenah – entah menguras air, menyingkirkan barang-barang titipan banjir, membersihkan, mengeringkan – akibat hujan semalam. Selalu begitu, setiap tahun.

***

Lama menunggu sejak Oktober lalu (bahkan Agustus) semenjak menyaksikan trailer-nya, membuat saya tidak sabar menyaksikan filmnya secara langsung. Sebenarnya, bukan terdorong oleh trailer-nya semata. Justru karena saya telah membaca trilogi novelnya, The Hunger Games, saya begitu penasaran bagaimana menyaksikan kelanjutannya dari sekuel film sebelumnya.

Saya memang punya kebiasaan “penasaran” dengan film-film yang diangkat dari novel. From book to film. Akan tetapi, untuk trilogi yang satu ini, sejujurnya saya belum pernah membaca serial pertamanya, The Hunger Games. Novel kedua dan ketiganya, Catching Fire dan Mockingjay adalah hasil rasa penasaran saya usai menonton film The Hunger Games-nya.

Setahun silam, saya menonton seri pertamanya, dan kemudian membeli buku kedua, dan selanjutnya dirongrong rasa penasaran di akhir cerita untuk membeli buku ketiga. Great!! Jadi, hingga detik ini saya belum sempat membaca buku pertamanya. :)

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Bersama orang yang, menurut saya, spesial (uhukk!!) dan seorang teman, saya jauh hari telah merencanakan untuk menontonnya tepat di penayangan perdananya, 21 November. Sayangnya, karena beberapa kesibukan, menonton si Catching Fire ini harus ditunda hingga hari Senin. Selain untuk menghemat harga tiket bioskopnya sih. Hahaha

Pun, film itu tidak saya nikmati sejak awal. Saya telat hadir lebih awal sesuai jam pemutaran film. Gara-garanya, saya mesti membagi waktu dan pikiran saya di redaksi atas kejadian yang sempat memporak-porandakan kampus saya.

Bentrokan kampus yang mendadak bergejolak di kampus saya, membuat saya harus bergerak cepat untuk “mengikuti”nya. Sebagai seorang pewarta kampus, kejadian-kejadian insidentil semacam itu menjadi obyek pemberitaan yang informatif kepada para pembaca. Selain itu, saya mesti memastikan beberapa orang teman-teman saya tidak terjebak di tengah-tengah tawuran yang melibatkan dua fakultas itu. Setelah seminggu sebelumnya, bentrok yang nyaris sama, kami sempat dibuat cemas oleh seorang rekan yang terjebak di tengah-tengah penyerangan mahasiswa tersebut.

“Imam…skarng tugasmu, pulang ke redaksi, mandi, kemudian siap2, dn bergegas… Catching Fire menanti..” pesan singkat seorang teman kepada saya.

Azan maghrib sudah berkumandang, dan orang-orang masih ramai berkumpul menyaksikan puing-puing jejak tawuran yang tersisa. Rektor beserta jajaran petinggi kampus juga ada disana.

“Imam… bmana ini?? Jadi tidak?” pesannya lagi setelah saya tidak sempat membalas sms-nya.

Karena sudah ditunggu, dan terlanjur mengiyakan ajakan padanya, maka saya bergegas dan meninggalkan konflik yang tensinya sudah mulai mereda itu. Di samping itu, seorang teman yang lainnya juga sudah mulai memaksa-maksa. Ckck…

Kalau boleh memilih, sebenarnya saya urung meninggalkan lokasi kampus. Berniat menyeahkan saja tiket kepada kedua orang teman saya itu. Akan tetapi, lucu juga sih membiarkan dua orang teman saya yang belum saling mengenal itu beranjak ke bioskop tanpa “katalisator’ seperti saya. Pas mereka bertemu, eh, ternyata mereka malah assik sendiri dengan dunia mereka. Dasar cewek.

***

Peeta dan Katniss yang siap berkompetisi lagi di The
Hunger Games. (Sumber: googling)
Sejatinya, film Catching Fire yang disutradarai oleh Francis Lawrence ini adalah kelanjutan dari kisah perjuangan distrik sebelumnya dalam film The Hunger Games. Karena telah memenangkan The Hunger Games (permainan hidup dan mati yang mengharuskan sepasang sukarelawan terpilih dari 12 wilayah distrik ikut serta. Salah seorang harus bertahan dan dinyatakan sebagai pemenang), Katniss Everdeen dan Peeta Mellark dari Distrik 12 diharuskan untuk melakukan tur kemenangan. Mereka diharuskan untuk mengunjungi 12 Distrik di bawah pemerintahan Capitol.

Semenjak permainan berakhir, sebenarnya sudah mulai tumbuh benih-benih pemberontakan oleh penduduk Panem yang selalu merasa tersiksa dengan Presiden Snow sebagai kepala pemerintahannya. Di setiap distrik, oleh Presiden Snow, Katnis diharuskan membaca skenario teks pidato yang sudah dipersiapkan Capitol untuk meredam amarah penduduk Panem. Akan tetapi, tanpa disadari, Katniss bicara lepas tanpa naskah ketika teringat kematian Rue, seorang anak kecil dari Distrik 11 peserta The Hunger Games. Tanpa terkendali, Katniss berbicara mewakili perasaannya yang sejujurnya.

Tanpa disadarinya, ucapannya itu menjadi penyemangat sekaligus penyulut bagi pemberontakan penduduk Panem atas pemerintahan Capitol di bawah kekuasaan Presiden Snow. Oleh karena itu, Presiden Snow menginginkan Katniss mati agar tidak semakin memberikan kekuatan bagi penduduk Panem untuk memberontak.

Akan tetapi, tentu saja ia tak ingin Katniss mati dengan cara “langsung-dibunuhnya”. Ia juga memprediksikan, jikalau Katniss mati secara kasar, maka hal itu hanya akan membuat rakyat Panem semakin marah dan memberontak padanya. Atas dasar itu, bersama Plutarch Heavensbee penggagas permainan mematikan itu, ia kembali menggelar The Hunger Games yang ke-75, yang disebut Quarter Quell. Dengan cara itu, ia berharap Katniss bisa mati tanpa perlu repot-repot membunuhnya.

Para peserta Quarter Quell dari 12 Distrik. (Sumber: Googling)
Quarter Quell mewajibkan setiap pemenang dari semua distrik untuk kembali ikut serta dalam permainan hidup dan mati itu. Tidak terkecuali Katniss dan juga Peeta, setelah ia mengajukan diri menggantikan Haymitch yang seharusnya terpilih mewakili Distrik 12. Tentunya, Peeta tak ingin Katniss kembali berjuang sendirian tanpa dirinya, yang begitu menyayanginya.

Dan dimulailah Quarter Quell yang melibatkan semua pemenang masa lampau untuk beradu dan bertahan! Tentu saja, dengan permainan yang lebih berbahaya atas instruksi Plutarch sebagai kepala permainan yang baru.

***

Cerita yang dihadirkan dalam film ini sebenarnya jika ditonton hingga selesai tidak benar-benar “selesai”. Di akhri cerita, kita akan dibuat penasaran dengan hancurnya arena The Hunger Games dan kemungkinan adanya Distrik 13, yang dianggap telah lama hilang. Selain itu, Peeta diceritakan tidak berhasil ikut serta dalam pelarian yang telah terskenario diantara beberapa peserta permainan, yang ternyata diprakarsai oleh Haymitch dan Plutarch.

Apa yang membuat setiap penonton penasaran dengan kelanjutan kisah film ini, nyaris sama ketika saya menamatkan bukunya. Saya sudah memprediksikannya. Saya dibuat “menggantung” membaca buku seri keduanya. Mau tak mau, untuk mengatasi rasa penasaran saya, berselang satu hari, saya segera memboyong buku ketiganya, Mockingjay.’

Selain itu, saya juga dibuat penasaran dengan kelanjutan kisah hubungan antara Peeta dan Katniss. Karena tanpa disadari Katniss, ia pun sebenarnya mulai mencemaskan dan peduli dengan Peeta. Ia yang dulu tidak mengharapkannya, lambat laun tersadar bahwa ia lebih menyukai Peeta dibanding Gale, kekasihnya.

Saya juga begitu excited menyaksikan langsung film ini. Kendati berakhir sama dengan bukunya, namun beberapa penggambaran dalam bukunya yang tidak mampu dijangkau oleh imajinasi saya terlihat gamblang. Itulah resiko membaca novel-novel fantasi, dihadapkan pada kondisi-kondisi imajinatif. Membaca novelnya ibarat menggambar sketsa-sketsa, setelah menonton filmnya, sketsa-sketsa itu kemudian berwarna dan menjadi satu gambaran yang utuh.

Untuk menuntaskan penasaran, mari menunggu sekuel film berikutnya, Mockingjay!

Bocoran: Katniss akan bergabung dengan pemberontakan dengan rakyat Panem dan menjadi “maskot” perjuangan mereka. Peeta yang ditangkap berhasil direbut kembali, namun sempat berubah perangai karena telah ditanamkan semacam “lebah” pencuci otak. Adik Katniss pun meninggal di tengah bertugas mengobati korban luka-luka perang.


--Imam Rahmanto--

Senin, 18 November 2013

Apa Kabar Kalian?

November 18, 2013
Alvalor! Bewohner!

“Hei, apa kabar?”

Untuk membuka pesan kerinduan ini, ah agak berlebihan sebenarnya jika saya menyebutnya demikian, saya hanya bisa bertanya kabar kalian. Sementara dari cerita-cerita kalian setiap bertemu di jejaring sosial, saya menyimpulkan: kalian baik-baik saja.

Ya, setiap memasuki dunia jejaring itu, kalian tak pernah lepas menyapa dan bertanya. Sudah saya katakan, bukan? Sejatinya kita tak akan pernah benar-benar berpisah.

“Kak, kapan kesini lagi?” berulang-ulang dengan pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda. Apalagi ketika teman-teman saya hadir tiap minggu mengunjungi kalian dalam beberapa hari belakangan ini.

Adalah pertanyaan yang sulit bagi saya. Entahlah, itu pertanyaan serius atau sekadarnya saja. Dan saya sedikit pun tak memiliki kuasa untuk menggantikannya atau menambahkannya pada setiap waktu yang saya punya. Lihat saja, ketika saya mengabdikan diri di kota kalian, dulu, saya masih saja harus menenggelamkan diri pada kewajiban saya di organisasi kampus saya. Ketika saya disini? Sejatinya saya benar-benar tak punya kesempatan untuk bisa bertemu dengan kalian. Jadilah, saya hanya bisa melepas kerinduan dengan kalian di dunia maya. Semaya-mayanya dunia itu, ia masih tetap menyampaikan pesan yang nyata buat saya.

Sejujurnya, saya pun merindukan kalian, sebagaimana selalu merindukan adik saya. Yah, adik saya yang tepat sepantaran kalian. Lama, saya tak berjumpa dengannya lagi. Hanya suaranya yang pernah saya temui lewat jaringan telepon yang menghubungkan kami. Saya menolak untuk pulang, hingga waktu yang benar-benar siap untuk membawa saya pulang.

Apa kabar adikku? Kau yang merindukanku, jelas terdengar dari isak tangismu di telepon kala itu. Bertanya tentang segala dalihku. Bertanya tentang kabarku. Berujar tentang ayah dan ibu. Bertegur perihal sikapku yang keras kepala telah menyisakan kekosongan lebih dari lima bulan lamanya. Kau masih menunggu, kepulanganku. Janjiku tentang buku-buku untukmu…

Sudahlah, namanya merindu adalah pekerjaan hati. Karena kita semua saling merindukan, maka tak boleh ada air mata yang tertumpah. Oke? Kalau saja kita merindu “bertepuk sebelah tangan”, barulah hal semacam itu yang memedihkan hati. Air mata boleh tertumpah, namun hati tak boleh berkeluh kesah.

Karena kalian bukan murid-murid saya, melainkan adik-adik saya, maka saya sepatutnya memang merindukan kalian.

Apa yang saya rindukan dari kalian? Ahaha…ada banyak hal-hal kecil yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Tentang kelas kalian yang riuh dengan tawa. Tentang wajah-wajah sumringah kalian ketika mendengarkan cerita-cerita saya. Tentang wajah-wajah berkerut kalian ketika tak mengerti pelajaran Matematika. Tentang taruhan-taruhan yang kalian alamatkan buat saya. Tentang catatan-catatan kecil mengenai saya. Ah, tidak! Tentang kertas impian dan cita-cita kalian yang berani kalian bagi kepada saya.

Tentang bully yang menjalar dari mulut ke mulut. Tentang coretan kertas-kertas lipat untuk menilai kepribadian teman-teman kalian. Tentang “dia” yang selalu kalian sandingkan namanya. Tentang wajah-wajah ngantuk yang membuat saya “greget” di depan kelas. Dan lagi, ada banyak “tentang-tentang” itu yang tidak mampu terlukiskan lewat kata-kata. Haha…termasuk tentang topik pembicaraan paling menarik perhatian kalian; cinta.

Kalau berbicara soal cinta, kalian menjadi makhluk paling antusias di dunia. Padahal di zaman saya remaja “unyu-unyu”, saya belum diperbolehkan orang tua untuk mengenal hakikat semacam itu. Belum waktunya, katanya.

Hanya saja, itu salah satu cara “langka” yang bisa menarik perhatian kalian di dalam kelas. Apalagi gosip tentang teman-teman kalian sendiri, atau bahkan dengan kakak-kakak kelas. Apa mau saya sebutkan satu persatu siapa kakak-kakak kelas itu? Ckckck

“Sepelemparan waktu, perpisahan akan menemukan caranya lagi untuk kembali pulang”

Saya dibuat iri melihat teman-teman saya yang begitu leluasanya kesana-kemari bisa menemui kalian disana. Sebenarnya, jarak dari kota kalian dengan Makassar tidak begitu merentang terlalu jauh. Cukup dengan mengendarai motor selama satu setengah jam, saya sudah bisa sampai disana. Akan tetapi, sekali lagi, waktu yang selalu membatasi setiap pertemuan kita.

Suatu waktu, saya ingin menghabiskan waktu dengan kalian. Lama tak berjumpa, pasti ada banyak cerita yang akan terangkum. Satu-dua, patutlah diceritakan untuk saya.

Aljabar, saya masih menyimpan tulisan kertas cita-cita dan impian kalian! Kalau saya sedang kehilangan semangat, saya biasanya membuka satu demi satu kertas yang nyaris usang itu. Entah bagaimana caranya, saya bisa menemukan kembali semangat yang hilang itu. Mungkin karena saya juga tak mau kalah dengan kalian. :D “Masa iya kakak guru yang “Cuttte” ini dikalahkan oleh kalian dalam meraih cita-citanya?” 

Mari menguji daya ingat saya. Nisa, Asri(ana), Hera, Mbesh, Ade (si Putri Indonesia), Ainun, Fia, Syahruni, Gadis, Ameliyah, Citto (C-i-t-t-o), Devi, Wulan, Hajar, Amalia, Zizah, Ulfa, Irna, Widya, Yaya, Anca, Baso, Maman (si pejuang), dan Fadel (montok). Randomly, kalian selalu ingin disebutkan namanya, bukan?

Einstein, hanya tulisan-tulisan tentang saya dari kalian yang menjadi “artefak memori” saya. Tulisan cita-cita dan impian kalian, entah tercecer dimana. Mungkin, di rumah Pak Haji. Akan tetapi, dari pesan-pesan kalian (untuk saya) itulah yang juga selalu menguatkan. Yang selalu membuat saya merindukan kalian. Meskipun kalian begitu “percaya diri” mengharapkan hal-hal di kertas itu terwujud. Kalian harus mengerti, ada hal-hal yang sejatinya tidak bisa dipaksakan. Overall, saya menghargai semangat kalian.

Lalu, ada Fitrah (pujangga kata), Ana, Mayang, Irna, Ifha, Lisa, Abrar (ahli IT dan desain), Erwin, Novi, Ainun, Azizah (semifinalist lomba), Sheila, Idha, Lilla, Diana, Ayu, Icha Ewa, Aslamiyah, Imce, Ridha, Fikri, Reza, Arifin, Arfandi, dan Saeful (kalem). Tahu tidak, saya benar-benar mengetahui gosip diantara kelas kalian. Tentang siapa-suka-siapa, imbas dari permainan yang kalian buat di kelas. Tenang saja, rahasia di tangan saya. :P

Aljabar dan Einstein, kalian, bertetanggalah dengan baik. :)

Dan kepada kalianlah salam yang tak berbatas waktu itu tersampaikan. Semoga saya akan selalu tiba di setiap relung ingatan kalian... ^_^.

Saya pikir setiap kebersamaan akan selalu menemukan tempat terisitimewanya di "memory" kita masing-masing.
Ah, inilah kami.....


--Imam Rahmanto--

NB: saya juga berharap bisa menerima satu atau dua halaman ‘surat’ dari kalian, menumpahkan segalanya dalam secarik tulisan.

Writing is Healing

November 18, 2013
“Writing is healing”
Menulis itu menyembuhkan.

Saya menemukannya dua hari yang lalu, ketika salah seorang penulis menyampaikannya dalam acara yang diprakarsai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kampanye Gerakan Indonesia Menulis. Sejujurnya, meskipun penulis yang menjadi pembincang utama itu adalah salah seorang pendiri Penerbit GagasMedia, namun saya tidak begitu mengenal namanya dalam dunia kepenulisan; Fx Rudy Gunawan.

Ehem... Itu...itu...saya yang ada di sebelah sana itu.... (Foto: Andini) 

Saya menyadari, dunia ini tak selebar daun kelor. Apa yang saya kenal dan ketahui ternyata masih belum sepelemparan batu dari dunia dalam genggaman Tuhan. Tentang para penulis dan dunianya? Ah, masih ada banyak yang perlu saya telusuri.

Menulis itu menyembuhkan…. apa saja…

Beberapa penelitian membuktikan hal itu. Bahwa menulis bisa menyembuhkan tekanan traumatik seseorang. Orang-orang yang menderita trauma akan tertolong dengan kegiatan menulis itu. Kalau orang-orang yang menderita tekanan trauma seperti itu bisa tercerahkan, lantas mengapa tidak dengan orang-orang yang menderita tekanan galau-isme?

“Sebuah studi di Auckland menemukan bahwa latihan menulis memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah menyembuhkan luka batin usai trauma. Hal ini diungkapkan oleh pemimpin penelitian Dr Elizabeth Broadbent. Menurutnya, menulis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sekaligus bisa mempercepat penyembuhan luka akibat trauma.”

Proses penyembuhan terhadap trauma itu bisa dilihat pula melalui film Freedom Writers. Bagi saya, film itu benar-benar menginspirasi. Isinya bercerita tentang seorang guru bahasa Inggris Erin Gruwell yang ditugaskan untuk mengajar anak-anak muda yang berada di lingkungan “texas”, yang sarat dengan isu-isu “warna kulit” kala itu. Mereka memiliki kehidupan yang keras, tawuran antar geng, obat-obatan, dan sejumlah situasi sulit lainnya. Sebagian dari mereka memiliki masa lalu yang kelam terkait diskriminasi tersebut.

Akan tetapi, namanya guru, di kepalanya cuma terukir satu tujuan; mendidik. Nah, lewat kegiatan tulis-menulis diary itulah gurunya “menyembuhkan” luka-luka masa lalu sekaligus trauma anak-anak muda itu. Ia membuktikan kepada guru-guru lainnya yang sejak awal menganggap remeh usahanya mendidik siswa-siswinya. Hasilnya? Tentu saja, menulis benar-benar menyembuhkan…

Atau dalam novel Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil? Torey Hayden yang juga merupakan penulisnya memberikan terapi menulis pada seorang anak kecil berusia 6 tahun. Anak kecil ini mengalami gangguan mental dan emosinya selalu meledak-ledak hingga menakuti siapa saja. Bahkan, ia yang “diisolasi” di kelas Torey, kelas anak-anak disabilitas, pernah membakar seorang anak kecil berumur 3 tahun.

Sebenarnya ada banyak buku dan film (dan fenomena) yang mengindikasikan tentang khasiat menulis itu. Mungkin, hakikatnya dengan menulis, otak dipaksa untuk berpikir. Impuls-impuls dalam sel saraf otak saling berhubungan satu sama lain ketika kita menulis. Sadar atau tidak, menulis, berarti merekam jejak-jejak masa lalu. Setiap puzzle dalam ingatan berusaha dirangkai sedemikian rupa agar menjadi utuh dan bermakna. Bahkan hal-hal yang tak kait-mengait pun bisa menjadi bermakna ketika mulai dipelototi oleh seorang penulis.

Seseorang menulis, berarti ia akan kembali ke ‘memory’ masa lalunya. Mengingat, mengingat, dan mengingat setiap detail ke belakang kunci dalam otaknya. Cabang-cabang dalam otaknya saling terkait untuk membentuk pemahaman baru.

“Journalism is not medicine, but it can heal. It is not law, but it can bring about justice. It is not military, but it can help keep us safe,”  --Mary Mape--

Hal yang sama berlaku pula bagi para pekerja media. Mereka yang benar-benar sering menyibukkan dirinya dengan menulis berita, autodidak akan tersehatkan. Menulis, pada bagian apapun, terkhusus tentang kehidupan, akan benar-benar memberikan efek yang menyembuhkan. Maka berbahagialah para wartawan-wartawan (kampus). Haha…

“Saya biasanya menulis status di facebook,”

Saya agak risih mengelompokkan tulisan yang satu itu ke dalam tulisan-tulisan “penyembuh”. Nyaris semua orang kini telah menikmati perkembangan sosial media. Tulisan-tulisan “status” di akun sosial itu menurut saya hanyalah sebatas penyaluran “narsisme” semata. Sekali-kali, seseorang ingin dilihat hebat oleh orang lain. Sekali waktu, orang ingin pula dikasihani oleh orang lain dengan menuliskan keluh-kesah-resah-gelisah-duka-lara-galau. Come on, jangan terlalu banyak mengumbar kehidupan di akun-akun sosial seperti itu. Pun, jangan menjadi orang yang terlalu mudah dibaca lewat akun-akun pertemanan itu.

“Jangan coba menjadi diri orang lain ketika menulis. Jadilah diri sendiri.” pesan Mas Rudy dalam pemaparannya.

Ya, prinsip menulis pun menurutnya tak pernah berbeda dengan hal-hal lain dalam hidup. Ia seharusnya tetap berjalan dalam kondisi apapun. Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk menulis, sesedikit apapun. Tentu saja, di luar dari meluangkan waktu menulis status-status aneh-bin-galau di sosmed.

“Saya biasa menulis, tapi di buku diary,” ujar salah seorang teman saya.

Hmm…adalah hal wajar ketika menulis diary untuk konsumsi pribadi. Dari sana pula seseorang terkadang menemukan “obat”nya sendiri. Saya terkadang senang (senyum-senyum sendiri) melihat orang lain yang menjadikan blog sebagai ladang tulisannya, bahkan diary-nya. Semangat ya buat siapa saja yang berpacu dengan tulisannya!

Saya menulis. Menulis apa saja yang menurut saya menarik. Disamping bombardir kewajiban menulis berita di lembaga pers kampus saya, sekali-kali saya butuh penyaluran tulisan-sukarela-bukan-berita. Yup, benar-benar sukarela tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun dan apapun…



--Imam Rahmanto--

Minggu, 17 November 2013

Sedikit Hal Tentang Jurnalis

November 17, 2013
Sumber: goodreads.com
“Skeptis itulah ciri khas jurnalisme. Hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat hidup.”

Itulah kutipan yang menjadi pembuka buku yang baru bisa saya selesaikan dua hari yang lalu. Jurnalisme Dasar. Bahkan salah seorang teman saya menjadikannya kenang-kenangan dengan mengabadikannya dalam sebuah foto. Ckck…. Sebuah buku yang bercerita tentang kejurnalistikan dasar. Buku yang memaksa saya untuk banyak belajar, dan banyak tahu tentang seluk-beluk seorang jurnalis. Buku yang juga menjadi bahan bacaan wajib bagi saya, dalam beberapa minggu ini.

Menurut saya, awalnya, buku ini merupakan bacaan yang agak berat. Seperti halnya dengan buku-buku kuliah. Namun, jauh beberapa halaman saya membacanya, tidak ada kesulitan apapun yang membuat saya “pening” untuk membacanya. Ya, kenyataannya ini bukan buku berat. Hanya buku dengan kapasitas 188 halaman dengan bahasa yang cukup populer dan mudah dimengerti.

Melihat cover-nya, saya sejujurnya tidak begitu berminat untuk membaca buku ini. Kecenderungan saya pada bacaan-bacaan novel terkadang terlalu fanatik. Untuk itu, semenjak setahun silam buku itu bertengger dalam lemari perpustakaan redaksi, saya mengabaikannya. “Toh, saya telah banyak melakukan praktek-praktek dasar jurnalisme,” pikir saya.

Akan tetapi, semenjak saya diberikan amanah untuk memimpin orang lain, saya berpikir untuk banyak belajar. Lebih banyak belajar. “Coba baca-baca ulang buku tentang jurnalistik dasar,” tegur salah seorang senior saya kala mengevaluasi berita-berita  yang diterbitkan oleh lembaga kami. Dalam pandangannya, apa yang kami tulis tidak tidak sesuai dengan harapan. Jauh panggang dari api.

Sebenarnya, saya orang yang benci dikritik. Diarahkan tentang hal-hal yang tidak mampu saya lakukan. Namun, melihat kedudukan saya sekarang, saya harus menerimanya. Saya harus menerima bahwa saya masih harus banyak belajar. Menjadi seorang "kakak" tidak hanya persoalan tugas dan tanggung jawab, tapi juga persoalan sikap.

Alhasil, saya memaksakan diri untuk membaca buku ini. Dan Hei! Pada kenyataannya, buku ini tidak semenakutkan perkiraan saya. Isinya juga tidak begitu padat, seperti buku-buku how-to pada umumnya. Bisa dikatakan, tulisan-tulisan di dalam buku ini begitu “bersahabat”. Sangat jarang saya temukan kata-kata ilmiah yang mewakili isi buku ini. Pada dasarnya, tulisan-tulisan jurnalistik memang tidak menitikberatkan pada kalimat-kalimat intelektual, bukan? Kami paham bahwa mencerdaskan pembaca adalah salah satu tujuan utama penulisan jurnalistik. Pahamkan pembaca.

“Jurnalisme bukanlah tentang menulis saja. Anda belajar tentang ‘apa sesungguhnya mencari itu apa sebenarnya bertanya mengenai hal-hal pelik dengan kegigihan,”

Keseluruhan buku ini memberikan gambaran umum tentang dasar-dasar jurnalistik. Kita-kiat yang mesti diketahui oleh seorang wartawan. Etika seorang wartawan. Bagaimana memperoleh suatu informasi. Bagaimana seorang wartawan bersikap. Bagaimana membuat sebuah berita. Bagaimana menulis sebuah berita. Hingga gaya penulisan feature ke narasi.

“Journalism is not medicine, but it can heal. It is not law, but it can bring about justice. It is not military, but it can help keep us safe,”  --Mary Mapes--

Buku yang ditulis oleh Luwi Ishwara ini benar-benar mengajarkan jurnalistik secara santai. Luwi, seorang wartawan senior yang juga pernah mengepalai Pendidikan jurnalistik Kompas, memperkaya bukunya dengan referensi-referensi lain. Di kepustakaannya saja (daftar isi), ada banyak buku-buku keluaran mancanegara yang menjadi bahan menggarap tulisannya. Meski demikian, tidak serta-merta menjadikan buku ini menjadi bacaan yang berat untuk orang yang awam dunia jurnalistik.

Tentu saja, buku ini menjadi rekomendasi bagi siapa saja yang ingin menenggelamkan dirinya dalam bidang jurnalistik. Saya banyak menemukan hal-hal menarik dalam buku ini. Membacanya, semakin mengukuhkan niat awal saya. Passion saya semakin jelas. Dan lagi, saya semakin tertarik untuk membaca buku-buku “Seri Jurnalistik Kompas” yang lainnya.

“Lain dengan ahli sejarah yang terikat dengan masa lalu, wartawan harus berhubungan dengan masa kini dan kerap dengan masa datang,”

Dia yang bertanya adalah orang bodoh untuk lima menit. Dia yang tidak (bertanya) adalah orang bodoh untuk selamanya, --Pepatah Cina--

Recommended! :D


--Imam Rahmanto--