Senin, 28 Oktober 2013

Yang MuDA yang Berbagi


“Siapa namamu?” tanya saya pada seorang anak perempuan yang sedari tadi menutup mulutnya dengan kerah bajunya.

“Ima,” Ia menjawab singkat.

“Ima? Oh, berarti hampir mirip dengan nama saya, dong, Imam,”

“Bukan, Kak. Namanya Tima,” seorang teman saya tiba-tiba menyela.

Saya lantas tertawa dan ditertawakan seisi pete-pete. Anak usia 6 tahunan itu hanya ingin duduk di pintu masuk pete-pete. Menurut teman saya, ia takut mual. Ia tidak tahan berjkendara dengan mobil. Oleh karena itu, saya menemaninya duduk di pintu masuk. Mereka masih kecil, makanya butuh pengawasan ketat.

Lewat tengah hari ketika kami tiba di area Rumah Susun itu, menjemput lebih dari 30 anak Sokola Pesisir. Mereka rata-rata berusia 6 hingga 12 tahun. Ada semangat dan kegembiraan yang terpancar dari paras mereka. Dan, hari itu, Jumat, 25 Oktober, dari merekalah kami akan memetik pelajaran tentang arti berbagi.

Inilah mereka yang tak henti-hentinya untuk terus belajar. (Foto: Muajiz Mualim)
Keceriaan hari itu diawali dengan seni melipat kertas ala orang Jepang alias Origami. Bentuk burung bangau. Akan tetapi, banyak juga yang tidak begitu memahami untuk melipat-lipatnya. Bahkan, saya pun agak kesulitan dengan lipatan-lipatan burung itu. Saya sudah lupa. :P

“Kak, kak, bagaimana caranya?” beberapa anak menyodor-nyodorkan kertas hasil lipatannya yang setengah jadi kepada saya.

Ikutan ah! (Foto: Muajiz Mualim)
“Mm..tunggu dulu ya. Begini, begini,” saya sok tahu saja mengikuti instruksi dari salah seorang teman saya yang menjadi pengarahnya, meskipun saya juga hanya bisa menuntun mereka hingga setengah jalan. Hahaha….maaf ya, saya hanya bisa membuat origami dari jenis bunga-bungaan. Itupun ada maksud terkhususnya… :P

Lepas dari origami, kami sudah bisa sedikit rileks. Kegiatan mewarnai yang dilakukan anak-anak itu tidak membutuhkan banyak instruksi dari kami. Mereka cukup antusias dan tenggelam dengan gambar masing-masing. Kami cukup menemani saja sembari sesekali memberikan usulan warna yang tepat pada gambar.

Kegiatan terakhir kami berujung pada games yang melibatkan seluruh anak-anak. Sebenarnya, jikalau waktu tidak berlalu begitu cepat, kami masih memiliki satu agenda kegiatan sebelum memulai games, yakni belajar. Yah, tentang bagaimana kami mengajarkan makna dari Sumpah Pemuda, khususnya Bhineka Tunggal Ika. Kami menggelar games ala-ala Ranking 1, dengan peralatan seadanya yang telah kami siapkan sehari sebelumnya.

“Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia jatuh pada tanggal berapa?”

“Siapa nama presiden Republik Indonesia sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan mudah bagi orang awam, belum tentu bisa dijawab dengan benar oleh mereka yang tidak mengenanyam pendidikan di bangku-bangku formal. Buktinya, beberapa dari mereka pun berguguran dari pertanyaan-pertanyaan sederhana serupa tadi. Lucunya lagi, nama presiden RI pun masih ada yang salah. Hahaha….saya menebak, mereka mengenal Presiden Indonesia hanya dari obrolan-obrolan singkat, tanpa pernah melihat nama yang sebenarnya secara tulisan.

Nah, tanggal berapakah hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia? (Foto: Muajiz Mualim)
Yah, ada banyak kelucuan yang terekam ketika mereka mulai mengangkat jawaban masing-masing. Mulai dari tulisan-tulisan yang melenceng dari jawaban awalnya, anak-anak yang menyontek jawaban teman di sebelahnya, anak-anak kecil yang hanya melongo mendengar pertanyaannya, hingga mereka yang sudah gugur tapi masih saja tidak mau keluar dari barisan pemenang tersisa.

Kegiatan-kegiatan menyenangkan sekaligus melelahkan itu baru berakhir menjelang azan maghrib berkumandang. Kami mengantarkan kembali anak-anak itu pulang setelah membagikan makanan dan bingkisan hadiah Kompas yang telah dipersiapkan sejak awal.

Daaah, Kak Imam. Daah!! Sampai ketemu lagi!”

***

Cukup menyenangkan juga menghabiskan waktu dengan anak-anak itu. Sebandel-bandelnya mereka, dalam hati mereka masih selalu terselip keinginan untuk belajar. Meskipun sebagian besar dari mereka tidak mengenyam pendidikan formal, namun mereka terus berusaha untuk tetap belajar. Belajar tak mengenal tempat. Belajar tak mengenal batas usia. Untuk itulah, Sokola Pesisir menjadi tempat mereka belajar.

Saya mengenal Sokola Rimba setahun lalu ketika mengikuti talkshow mbak Butet Manurung yang hadir di Makassar International Writers Festival. Sokola Pesisir itu sendiri adalah bentuk pengembangan dari Sokola Rimba. Kalau saya tidak salah ingat, Sokola Pesisir digalang oleh mas Riri Riza.

Saya juga menemukan semangat untuk belajar itu ketika mereka mengajak saya untuk menunaikan shalat Ashar dulu di Masjid Terapung sebelum memulai aktivitas belajar.

“Kak, saya tidak dapat sarung. Mauka juga sembahyang,” seorang anak kecil berusia 5 tahunan menghampiri ketika saya bersiap-siap untuk masbuk.

Saya berpikir sejenak. Saya kemudian menyuruhnya untuk mencari sarung di bagian belakang masjid. Biasanya, untuk masjid semegah ini menyediakan perlengkapan shalat lengkap.

“Tapi, Kak. Ndak kutahu sembahyang kalau sendiri ka,” ujarnya lagi.

Kali ini, saya iba mendengarnya. Sementara shalat berjamaah di dalam masjid sudah berlangsung. Akan tetapi, karena tidak ingin menyia-nyiakan semangat anak itu, ya, saya menunda waktu shalat saya, sembari mencari-cari sarung untuknya. Menjelang rakaat terakhir shalat berjamaah, saya baru menemukan sarung untuk digunakannya shalat, meskipun kebesaran untuk ukuran tubuh mungilnya.

Sejatinya, saya menyukai semangat anak-anak itu. Menyaksikan mereka tertawa-tawa, berceloteh, memberikan warna baru pada setiap perjalanan hidup saya. Oh ya, malah saya terkadang membayangkan, seandainya kelak saya punya beban masalah yang benar-benar menghimpit, saya sangat ingin bermain dnegan anak-anak. Karena ketika saya berinteraksi dengan mereka, sejenak saya melupakan segala beban di kepala, berganti dengan kepolosan seorang anak kecil.

Seburuk apapun masa lalu yang mereka miliki, mereka tetap punya kesempatan untuk menjalani waktu sekarang. Bahkan, tanpa perlu mengingat-ingat latar belakang masa lalunya, mereka tetap maju, tetap hidup, tetap mengukir cita-cita dan impian masing-masing. Sangat jauh berbeda dengan kebanyakan orang dewasa yang terkadang sangat sulit keluar dari bayang-bayang masa lalunya…

Ini buatanku. Mana hasil origamimu? (Foto: Muajiz Mualim)

Dan merekalah yang berbagi di tengah-tengah keterbatasan waktunya. (foto: Muajiz Mualim)

#Selamat hari Sumpah Pemuda! ^_^.b


--Imam Rahmanto--

____
NB: Kegiatan ini adalah satu program dari Kompas (media) pusat, yang ditugaskan untuk setiap kru KompasMuDA 9 kota di Indonesia, dengan mengusung tema “yang MuDA yang Berbagi”. Kegiatan sosial yang hanya berlangsung sehari ini mengambil lokasi di Anjungan Pantai Losari dan menghimpun beberapa anak muda yang tergabung dalam Kompas MuDA. Tentu saja, kegiatan sosial tersebut dikhususkan untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda. :D

6 komentar:

  1. Waaaa. Asiknya belajar di pantai.. Yang versi hutan, aku mau nonton di Sokola Rimba ah, November nanti.. Dan, aku belum pernah ke Masjid Terapung -_-
    Imam, Riri Riza itu kan "mas-mas", kok dipanggil "mbak" ya? :D

    BalasHapus
  2. keren. bisa bikin orang lain senang itu keren.

    BalasHapus
  3. @Dian Kurniati Hahaha....lupa, Dih. Namanya juga orang keasikan cerita. :P #ngelesmaksimum

    BalasHapus
  4. @fathir Haha...belum seberapa denga yang dilakukan Mas Fathir. *Kebetulan habis ngecek "rumah"nya. Hehehe...salam kenal. :)

    BalasHapus