Rabu, 23 Oktober 2013

Tidak Semua Hal Punya Penjelasannya

Lagi, saya mendapati orang lain bertanya tentang kebiasaan saya, minum Cappuccino.

"Apa sih kelebihan Cappuccino, sehingga membuat Kak Imam tergila-gila?" seorang siswa bertanya pada saya lewat akun jejaring sosmed.

"Kelebihannya karena bisa diminum," jawab saya asal.

"Aduuhh... Maksudnya yang lainnya... Mungkin ada sesuatu dengan Cappuccino," 

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti itu. Entah bagaimana saya menyukainya. Meski, kapan dan dimana saya menyukainya cukup tergambar jelas dalam memori saya. Saya pun sadar, pada kenyataannya memang tidak semua hal bisa dijelaskan secara pasti.

“Saya pun tidak merasa harus tahu karena memang hanya sedikit perilaku manusia yang dapat direduksi dalam perjalanan sebab-akibat.” --Novel Sheila, Torey Hayden--

Secara psikologis pun ternyata tidak semua perilaku kita bisa dijelaskan sebab-akibatnya. Atas alasan apa kita menyukai sesuatu terkadang muncul begitu saja. Sama halnya ketika kita benar-benar menyukai orang lain. Tanpa penjelasan. 

Untuk setiap kejadian di muka bumi ini, berlaku hal yang sama. Tidak segalanya bisa dijelaskan secara pasti. Kecerdasan manusia yang terbatas hanya berusaha untuk mereka-reka berdasarkan pengetahuan mereka sebelumnya. Saling menghubungkan. Saling membenarkan. 

“…Dan juga karena beberapa hal memang sulit untuk dibicarakan. Aku bahkan tidak tahu mengapa begitu. Kukira karena itu membuat kita takut. Bahkan kami orang-orang yang sudah besar ini, takut. Dan kalau orang besar takut tentang sesuatu, mereka tidak suka membicarakannya. Itulah salah satu kesulitan menjadi orang besar.” --Novel Sheila, Torey Hayden--

Atau mungkin karena kita takut saja??



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar