Selasa, 15 Oktober 2013

Selamat Idul Adha!

Design by: ImamR
Dan di hari raya ini, saya memutuskan untuk tetap berada di kota ini. Menantikan daging-daging yang saling dipertukarkan oleh teman-teman saya. Menyapa setiap ucapan yang dialamatkan kepada saya. Memeluk erat siapa saja yang ingin jadi keluarga.

Idul Adha ini, bukan persoalan seberapa besar kita mampu mempersembahkan hewan kurban untuk umat. Akan tetapi, Tuhan menilai setiap hal yang dengan tulusnya kita kurbankan pada hari ini. Apa saja. Terutama sifat-sifat yang tak pantas dimiliki oleh seorang manusia ciptaan Tuhan. Meskipun sulit memangkasnya, mari melakukannya pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Hingga kita menjadi jiwa yang diberkahi oleh Allah SWT.

Selain itu, siapapun yang ingin memohon maaf, akan diberi maaf. Akan tetapi, kita, manusia, seakan menjadi jiwa-jiwa oportunis ketika meminta maaf hanya pada hari ini. Pada kesempatan ini, kita dianjurkan berkurban, bukan meminta maaf. Jikalau Idul Fitri adalah ladangnya kaum Muslim meminta maaf, lantas apa mesti disamakan dengan Idul Adha? Padahal, seyogyanya hari raya ini dimanfaatkan bagi kita umat muslim menjadi pribadi yang ikhlas berkurban, sekaligus mengukur sejauh mana kita rela berbagi.

Tidak hanya hewan saja yang mesti dikurbankan. Terkadang “hati” sendiri pun perlu dikurbankan…. Hehe

*Selamat Hari Raya Idul Adha

***

“Tidak pulang kampung ya?” tanya seorang teman lewat akun jejaring sosialnya. Akh, saya mendadak lupa dengan kampung saya. Haha…Siapa saya? Dimana saya? Kenapa saya? #amnesia

Mungkin, dalam beberapa bulan belakangan, pertanyaan paling mendominasi dari teman-teman lama saya ya seperti itu. Sudah lama saya tak berkumpul lagi dengan teman-teman semasa sekolah. Bercanda dan saling berbagi pengalaman dengan sahabat-sahabat saya. Dan bahkan dengan kedua orang tua saya. Adik saya pun selalu menanyakan kabar serupa… #telan ludah

Sejujurnya, saya rindu berkumpul bersama keluarga. Menikmati daging-daging kurban seperti tahun kemarin. Berkolaborasi dengan ayah saya untuk menemukan resep yang pas buat olahan daging kami. Menantikan ibu yang bekerja dengan ulekan sambalnya. Tentu saja, sesederhana apapun masakan ibu saya, tak ada yang bisa mengalahkan kelezatannya. Makanan di rumah memang selalu tiada duanya. Saya merindukannya…

Saya rindu dengan adik saya. Meski perempuan, seringkali bertengkar dengan saya. Badannya lebih gemuk dibanding  kakaknya seorang. Namun, di usianya yang beranjak SMA, masih saja sangat sulit untuk membantu ibu saya di dapur. Hehe…padahal yang namanya perempuan, sudah harus belajar dari hal-hal kecil di dapur. :D

Sejauh apapun bangau terbang, akan kembali ke asalnya pula. Saya tidak tahu, apakah saya akan mengalami hal seperti itu. Seperti bangau, yang memutuskan terbang begitu jauh. Jauh sekali. Sehingga tak seekor bangau pun lagi yang melihatnya.

“Kapan pulang, Kak?” tanya adik saya.

“Ketika sudah saatnya saya pulang,” jawab saya singkat.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar