Kamis, 03 Oktober 2013

See You Later, Einstein and Aljabar…

Waktu, takkan pernah bisa terhenti, atau bahkan terulang. Kita harus mensyukuri itu. Kita hanya manusia. Kita takkan pernah bisa kembali ke masa-masa yang kita inginkan, d an mengulangnya sekali lagi. Akan tetapi, bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada manusia. Justru Tuhan mewujudkan kasih sayangnya dengan memberikan “mesin waktu” terbaik untuk manusia. Setiap manusia sejatinya memiliki mesin waktunya sendiri-sendiri, yakni memory…

Hei… 

Apa kabar kalian? Setelah perpisahan kemarin yang sempat mengharu-biru dan menyita banyak tempat di hati kalian. Sejenak, kalian menyesali perpisahan itu. Akan tetapi, sekejap, kalian melapangkan dada untuk bisa melepas kepergian kami dengan rekahan senyuman. Sempurna. Sepelemparan waktu, perpisahan akan menemukan caranya lagi untuk kembali pulang. Tahukah kalian? Sejatinya tak ada yang benar-benar berpisah di dunia ini… Just believe it! Kita akan bertemu lagi, kelak….

Sehari lagi, saya akan kembali pada dunia saya. Dunia yang benar-benar akan kembali menyita waktu dan pikiran saya. Dunia yang terkadang membuat saya banyak mengeluh, dan banyak berlaku hal-hal di luar batas diri saya. Setelah perjalanan kemarin, bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya menghabiskan waktu tiga bulan lamanya mengabdi dan mengabdi.

Yah, saya dan teman-teman mengabdi pada lokasi yang tidak menghabiskan banyak waktu perjalanan dari kota Makassar. Sebulan lalu, mengabdi kepada sekolah. Lewat salah satu program mata kuliah kami, PPL, kami belajar untuk menjadi guru yang baik. Secara langsung, berinteraksi dengan murid-murid di SMAN 2 Unggulan Pangkajene,

Nama “unggulan” yang disematkan pada sekolah kalian terkadang membuat ketakutan saya atau mungkin teman-teman lain mencuat. Pasalnya, saya bukan orang terbaik yang tahu banyak hal dan sengaja ditempatkan di sekolah kalian. Karena ketidaktahuan itu, saya berusaha untuk tahu. Belajar lebih banyak hal. Dan seperti yang selalu saya katakan pada kalian, kalau kita tidak bisa menjadi orang cerdas, maka jadilah orang berani. Dan di awal menginjakkan kaki di sekolah kalian, saya telah membulatkan tekad untuk belajar menghimpun keberanian lebih banyak menghadapi kalian dan segala warnanya. 

Ada banyak hal yang terangkum rentang sebulan berinteraksi dengan murid-murid di SMADA. Saya benar-benar merasakan, betapa sulitnya menjadi seorang guru yang baik. Apalagi ketika hingga hari ini saya masih belum lepas dari tanggung jawab saya di dunia kampus. Yang setiap saat harus membagi waktunya dengan kalian. Yang nyaris setiap minggu harus merelakan diri bolak-balik Makassar-Pangkep. Di satu sisi, saya merasa lelah. Namun di sisi lain, saya merasa beruntung. Senyum-senyum kecil itu masih selalu saja menghiasi kepala saya…

Dan salah satu hal yang membuat saya tak pernah lelah mengarungi perjalanan hari itu adalah janji-janji dari dasar hati kalian, untuk belajar. Sejujurnya, kepala saya merasa ringan ketika menyaksikan kalian tersenyum, tertawa satu sama lain. Meskipun tawa-tawa itu ditujukan untuk setiap kebodohan-kebodohan yang saya lakukan. Akan tetapi, saya merasa bangga bisa menjadi seorang Imam Rahmanto yang sebenarnya di hadapan kalian. Untuk kalian, saya tidak pernah mengenal nama “jaim” dalam kehidupan saya. 

Dan teruntuk kalian....

Mm…mungkin secara khusus bagi dua kelas kebanggaan saya, kelas terbaik terlucu, teriuh, tergokil, tercakep, terhebat. Kelas X. Einstein dan Kelas X. Aljabar. Yah, meskipun kalian harus membagi rasa sayang kalian untuk kakak-kakak mahasiswa yang lainnya, yang juga mengajar di kelas kalian. Yang bahkan bisa dikatakan lebih pandai dari saya. Lebih cakep dari saya. Lebih imut dari saya. Lebih terampil dari saya. Akan tetapi, bagi saya, dua tetangga kelas itulah yang selalu saya banggakan, dan mungkin kelak akan menjadi bahan cerita ”abadi”  saya kepada teman-teman lainnya. Saya akan katakan pada, “mereka adalah adik-adik kebanggaan saya…”

Einstein dan Aljabar. Ah ya, perpisahan bukan akhir dari segalanya, bukan? Sejatinya, saya selalu menyimpan memory tentang kalian. Waktu-waktu yang sempat kita habiskan bersama. Saya tidak akan pernah menyesali pernah ditempatkan untuk mengajar kalian. Justru, kalianlah yang mengajar saya. 

Saya banyak belajar. Saya belajar untuk berlaku sabar. Menertawai setiap kesulitan yang saya alami. Saya belajar untuk tidak selalu benar. Sebagai guru yang baik, mengakui kesalahan saya. Saya belajar untuk membangun harapan-harapan itu. Saya belajar untuk merekahkan senyum sendiri di tengah-tengah kelelahan saya. Dan saya belajar untuk tetap memperjuangkan sesuatu... :)

Saya tidak berharap apapun dari kalian. Cukup kalian meneruskan dan memperjuangkan hal yang kalian tulis di secarik kertas kemarin. Tentang impian dan cita-cita kalian. Mungkin saja, kelak kita akan bertemu dalam keadaan telah mencapai impian masing-masing. Dan tentu saja, kita akan mengulang kisah-kisah kenangan yang pernah terjalin di sekolah. 

“Jangan lupakan kami!” kata kalian di sela-sela air mata yang berjatuhan.

Hm…saya tidak akan pernah melupakan kalian. Justru, saya yang merasa cemas kalian akan melupakan hari ini, kemarin, atau dulu. Apa yang ada sekarang hanya menumpang lewat dalam kehidupan kalian. Kalian masih memiliki waktu yang panjang. Dan masih ada banyak hal yang menuntut kalian sesakkan di dalam kepala kalian. Saya cemas, kelak, mungkin saja segala hal tentang saya akan tersingkirkan dan terlupakan. 

Di balik kecemasan itu, tentu saja saya takkan pernah melupakan masa-masa “belajar” saya disini. Sudah saya katakan, bukan? Sejatinya, tak ada yang namanya perpisahan. Kita masih akan tetap bertemu, entah bagaimana caranya.

Sampai jumpa untuk sekolah yang menerima kami dengan kehangatan. Especially, sampai jumpa untuk dua kelas yang menjadi kebanggaan saya. Dua kelas yang selalu siap menerima cerita-cerita “tak menarik” dari saya. Dua kelas yang selalu ramai bagi saya. Dua kelas yang berani mengungkapkan cita-cita dan impiannya pada saya. Perjuangkan itu! 


***

Einstein? Bewohner! Mari kita rapalkan mantranya bersama-sama. Semoga, dalam sebulan ini saya bisa tahu dan mengerti seperti apa kalian.  

Ada Ana si sipit juga (?) Fitrah, yang diam-diam menunggu seseorang, yang digoreskannya lewat tulisan-tulisan rahasianya. Ia juga kadangkala suka tertawa sendiri, heboh sendiri. Irna, yang suka membully gurunya, yaitu saya. Dan lagi, suka dipinjam oleh kelas lain. Mayang, yang selalu tersipu-sipu malu ketika ditatap lama-lama. Dan selalu berharap saya merindukannya. Haha…bisa saja.

Ifa, si kacamata yang agak bijak. Tapi, bijak antusias bagaimanapun dengan kahadiran saya, ia juga biasanya ngantuk di kelas. Lisa, yang pernah menghadiahi saya segantung cappuccino. Terima kasih. Saya tidak akan pernah lupa.

Lilla yang kata teman-temannya agak lambat loading dan baru saja sembuh opnamenya di rumah sakit. Idha yang tak pernah rela namanya diganti Jum, dari asal kata Zoom. Hahaha…dan juga punya kakak yang “malu-malu kucing” untuk diakui diidolakannya. Nama tiga huruf, kan? :P

Novi yang ternyata punya keahlian menyanyi dengan gaya rocker. Sayangnya, kemarin tidak tampil di tengah-tengah acara. Tapi, saya sangat suka dnegan gaya “rocker” itu. Azizah si pandai dan banyak bertanya dan antusias dengan blog saya. Ainun yang masih saja terlalu pendiam bagi saya. Sheila yang semenjak diberi kesempatan memperlihatkan kebolehannya menyanyi, menjadi antusias pula. "Because of You", kalau tak salah ingat yang menjadi tembang andalannya.

Icha, yang juga memperlihatkan kebolehannya menyanyi. Tak pernah saya sangka-sangka, loh. Dan lagi, ia juga punya blog seperti saya. Sayangnya, terbengkalai. Ckckck…Diana, yang juga selalu ingin tahu dan banyak tahu. Ayu, yang menjadi buronan kelas Einstein. Menjadi security kelas. Ia juga yang selalu memilih duduk di depan ketika pelajaran saya berlangsung, meskipun tak mencatat apa-apa.  

Ridha atau bocah, yang agak tomboy. Katanya, pandai karate. Biasanya pula, menjadi pengawal setia Saeful, si ketua kelas. Aslamiyah. Imce, yang ternyata merupakan saudara sepupu teman sekelas kuliah sayaErwin, si lelaki yang selalu mencoba melankolis dan “lebay” dengan aktivitas facebooknya. Abrar, si ahli komputer yang terkadang melucu untuk dirinya sendiri. Fikri, yang selalu di-bully teman-temannya sebagai si tua. Arifin. Reza. Arfandi, yang pendiam tapi baik hatinya. Dan Saeful atau Cipul, ketua kelas, yang menjadi lelaki ter-kalem di kelas. Tapi, kata teman-temannya, ketua kelas paling rajin (kalau disuruh-suruh), dan juga cengeng. :p

Kelas X Einstein, dengan formasi siap bully-nya. Ckckck.... (Foto: Amhy)
Aljabar Alvalor! Bagaimana dengan kalian? Maaf, sudah dua kali saya tak masuk di kelas kalian. Namun, kalian paham sendiri, bukan? Ada tugas-tugas yang tak bisa saya jabarkan sepenuhnya untuk kalian.

Ada Ade, yang selalu menciptakan suara-suara menggelegar melengking di dalam kelas. Ade yang lugu, dengan polosnya bermimpi ingin menjadi Miss World 2013. Tetap berusaha! Sukma atau Mbesh, yang pernah ngambek kepada saya, dan akhirnya menangis. Ia juga diam-diam (malu-malu) suka kepada salah seorang teman KKN saya. 

Ainun, yang merupakan kembaran sekaligus teman sebangku Fia. Fia, yang merupakan kembaran sekaligus teman sebangku Ainun. Namun, mereka berdua berbeda wajahnya ketika mengembangkan senyuman. :)

Ada Syahruni. Gadis, yang baru saja sembuh dari sakit cacarnya. Meskipun imut-imut, ia juga punya pacar yang langgeng hingga sekarang. Citto, si sekretaris yang paling besar, dan terkadang ogah-ogahan belajar. Amelia, yang tak kunjung-kunjung mengerti dengan pelajaran saya, namun tetap semangat belajar.

Hera, yang kata teman-temannya punya suara merdu. Sayangnya, saya belum pernah melihat buktinya. Ia juga yang sering tersipu-sipu malu memerah ketika disamakan dengan Humaira, nama kesayangan untuk istri Rasulullah.

Ana, yang tak rela namanya diganti jadi Asri, meskipun namanya sendiri Asriana. Si Sipit yang selalu akrab dan berwajah riang. Tapi, pernah pula menangis hanya gara-gara membaca cerita saya. Oiya, semoga tak menangis pula membaca tulisan ini ya. :).

Lalu Amalia, teman sebangku Nisa yang agak pendiam di kelas, jarang bertanya, dan jarang ribut, dengan muka kejawa-jawaan. Nisa,si petenis meja perempuan. Perempuan kecil yang suka memasang wajah cemberutnya. Padahal, kalau senyum, akan tampak manis, loh. :) Tapi, ia sangat antusias untuk belajar, dan mengejar ketertinggalannya.  

Azizah, yang suka usil dengan Anca. Kata teman-temannya, ia dekat dengan Anca. Hati-hati loh, lama-lama, benci bisa jadi benih-benih cinta. Hajar, si kecil yang punya tulisan paling indah, kata teman-temannya. Oiya, satu-satunya murid di kelas ini yang menolak untuk saya traktir. Iya kan?

Ulfa, yang selalu cepat tanggap dengan pelajaran yang saya berikan, dan merasa dirinya selalu “manis”. Untuk kali ini, biarkan teman-temanmu menilai, ya... ^_^. Devi. Wulan, yang paling antusias juga dengan pelajaran Matematika, gemar bertanya, dan cepat tanggap. 

Irna. Widya, yang katanya suka mencubit teman-temannya, utamanya Citto. Yaya, si drummer yang paling suka bertanya, meskipun tak kunjung mengerti. Saya salut! Meskipun agak lambat mencerna, tapi berani untuk terus kritis bertanya.

Anca, yang paling dewasa diantara teman-teman lelakinya. Baso, yang kata teman-temannya, matanya mirip boneka Barbie. Eaa.... Maman, si calon peneliti yang selalu tak paham dengan Matematika, dan berusaha termotivasi untuk tahu Matematika. Ia punya cita-cita mengembangkan pertanian Indonesia. Berjuang! Dan Fadel, ketua kelas montok. Kata teman-temannya, paling malas disuruh mengerjakan tugas-tugas sebagai ketua kelas.

Kelas X Aljabar, yang tidak begitu paham aljabar. :p (Foto: Son)

You are SMART, absolutely, We are FAMILY!!!



--Imam Rahmanto--

3 komentar:

  1. alifia fitrah ridhayani (fia)3 Oktober 2013 19.49

    nice kak :)) ngomong2,fia sama alifia samaji kak.. Haha

    BalasHapus
  2. Alifia: Iya yah?? Hahahaha..... setidaknya saya sudah mencoba kan? ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alifia fitrah ridhayani (fia)14 Oktober 2013 12.32

      oke kak :))

      Hapus