Jumat, 11 Oktober 2013

Membangun Ulang Arti Kesederhanaan

Cover
Judul Buku : Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis : Yoshici Shimada
Penerbit         : Mahda Book
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Tahun Terbit : 2001 (Jepang), 2011 (Indonesia)
Tebal buku : 270 halaman

…Raporku dinilai bagus ataupun buruk, tentunya tergantung siapa yang melihatnya. Namun ketika aku berkata kepada nenek, “Maaf ya, lebih banyak satu dan dua-nya.”

Nenek berkata sambil tertawa, “Tidak masalah, tidak apa-apa. Satu atau dua kalau ditambahkan bakal jadi lima.”

“Memangnya rapor boleh ditambah-tambah begitu ya?” tanyaku kemudian.

Yang dijawab nenek dengan wajah serius dan kata-kata singkat, “Hidup itu gabungan berbagai kekuatan.”

Tapi saat itu aku tidak terlalu memahami maksud kata-kata nenek.

***

Sepenggal dari rentetan kisah yang diceritakan oleh Yoshici Shimada, penulis dari Jepang, dalam bukunya Sagai no Gabai Bachan. Salah satu buku terbitan negeri Sakura ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk kemudian bisa dinikmati oleh pembaca-pembaca dari Indonesia. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, buku semacam memoar hidup ini sudah terjual lebih dari 100.000 eksemplar di negeri asalnya. Alhasil, buku inipun laris dikonversi menjadi film, games, dan manga. Saya jadi penasaran ingin melihat filmnya. :)

Sedari awal, saya memang mencari-cari bacaan untuk mengisi waktu luang. Akan tetapi, bacaan-bacaan yang tidak begitu banyak menguras pikiran. Akhir-akhir ini kepala saya telah dipenuhi banyak pikiran-pikiran “berat”. Beberapa novel berat (terjemahan) yang sebelumnya banyak saya baca, membuat kepala saya ikut-ikutan berat. Oleh karena itu, untuk me-refresh kembali kesederhanaan “otak” saya, maka bacaan-bacaan ringan menjadi pilihan saya.

Berdasarkan keterangan singkat dalam buku ini, kisah-kisah yang diceritakan Akihiro, nama asli penulis, adalah pengalaman-pengalaman nyata selama ia menjalani kehidupan semasa kecil di Saga, tempat tinggal neneknya. Ia yang sebelumnya hidup di Hiroshima, telah kehilangan ayahnya akibat pengaruh radiasi bom atom pasca Perang Dunia II. Ia hidup bersama ibunya, yang akhirnya memutuskan untuk mendorong Akihiro tinggal bersama neneknya.

Kehidupan Akihiro bersama neneknya tidak jauh lebih baik dari kehidupan sebelumnya bersama ibunya. Hidupnya di Saga jauh lebih miskin. Akan tetapi, neneknya selalu punya cara untuk berbahagia dengan kehidupannya. Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin ceria.

Meskipun buku ini bisa dibaca dalam “sekali lahap”, namun bahasa-bahasa yang digunakan oleh penulis benar-benar mengalir secara alami. Saya tidak perlu memeras otak untuk membacanya. Bahasa-bahasa yang mudah dimengerti, tanpa deskripsi panjang lebar, benar-benar nyaman untuk dibaca “sekali lahap”. Meskipun demikian, tidak mengurangi esensi ceritanya sendiri.

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca buku ini. Kelucuan dari ide-ide hebat sang nenek. Atau sesekali membuat kita terharu dengan perjuangan sang nenek dan cucunya. Dan kenyataannya, kesederhanaan tidak selalu membuat orang terpuruk dan terlantarkan. Ada banyak sisi-sisi kesederhanaan yang bisa dipetik dari setiap cerita-ceritanya. Kehidupan miskin yang dijalani tokoh seakan-akan membangun kembali persepsi kita tentang kemiskinan itu sendiri. Apakah kita akan termasuk miskin muram atau miskin ceria? 

***

“Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan,”

“Benda yang didapat dari memungut sekalipun, belum tentu pantas dibuang,”

“Bukankah hal yang paling penting semasa kita hidup tidak terletak pada barang yang kita miliki, melainkan pada kekuatan hati?”


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar