Kamis, 31 Oktober 2013

Merindukan Bermain yang Sederhana

Oktober 31, 2013
Setiap orang punya masa kecil. Entah itu bahagia atau tidak. Karena manusia memang diciptakan untuk melalui fase itu. Sebuah fase dimana kita tidak banyak berpikir hal-hal rumit. Fase dimana kita hanya ingin tertawa dan bersenang-senang. Fase dimana setiap orang ingin selalu dekat dengan kita.

Tepat sehari sebelum diperingatinya Sumpah Pemuda, saya dan ketiga orang teman saya mencoba mengenang kembali fase-fase itu. Mungkin, kenangan tentang bagaimana riangnya kami sebagai seorang anak kecil dalam menghabiskan waktu dengan bermain. Seakan dipaksa kembali mengingat masa kecil itu, kami mencoba beragam permainan tradisional yang ditawarkan oleh Makassar Traditional Games Festival  (MTGF) 2013 di Benteng SombaOpu.

Ada banyak permainan tradisional yang kembali diangkat kala itu. Saya mengenal permainan-permainan itu, meskipun dalam nama yang berbeda. Ada maccukke, malongga, mallogo, mangasing, mabenteng, tander/ hymen, beklan, massantho, dende, ma’boi, lambasena, magetta, ma’goli.

~~Pak Polisi, pak polisi, numpang tanya..... ~~  Saya lupa nama permainannya apa, tapi ingat dulu sering me-
mainkannya. (Foto: Jane)
Ini main lompat tali, saya lupa namanya. Tapi kalau memainkannya dulu, harus sambil bernyanyi. ~~Mama,
papa, saya sakit. Cepat, cepat, panggil dokter~~ (Sumber: @Jalan2Seru_Mks)

(Sumber: @Jalan2Seru_Mks)
Saya masih ingat ketika dulu sering memainkan beberapa permainan itu. Tidak ada yang bisa mengalahkan keceriaan kami sebagai anak kecil dalam menghabiskan waktu. Dengan peralatan seadanya, kami bisa puas. Tanpa butuh banyak biaya, kami bisa punya banyak teman.

Permainan-permainan tradisional di masa itu wabahnya seperti musim panen buah, satu permainan sedang digemari, semuanya ikut memainkannya. Kalau tiba saatnya Ma’goli atau yang lebih dikenal dengan permainan kelereng, semua anak berlomba dan beradu dengan beragam jenis permainan kelereng. Kalau tiba saatnya magetta atau bermain tali, semua anak perempuan meloncat-loncati tali betapa riangnya. Kalau tiba saatnya bermain layangan, saya dan teman-teman bakal berburu layangan paling bagus atau membuatnya sendiri dengan model kesukaan masing-masing.

Oiya, satu permainan yang nampaknya kurang dalam acara #MTGF 2013 tersebut dan saya benar-benar merindukan memainkannya; ma’wayang (entah versi bahasa Indonesianya apa). Permainan yang menggunakan banyak kartu bergambar yang saling dipertaruhkan dalam beragam sub-gamesnya. Seingat saya, kartu itu dibeli dengan lembaran besar yang berisi 36 lembar dan harus digunting satu persatu.

Dalam banyaknya permainan yang ditawarkan #MTGF 2013, saya mencoba beberapa diantaranya. Salah satu yang paling interested buat saya, ya malongga alias engrang. Sejak kecil saya mengidam-idamkan untuk pandai memainkannya. Alhasil, di acara #MTGF kemarin, selama beberapa menit autodidak, saya sudah mampu berjalan dengan menggunakan engrang. Hahaha….

Memang, di masa kecil saya, ada banyak permainan tradisional yang masih berjaya. Kami, para anak kecil, selalu menghabiskan waktu dengan memainkannya. Selain tak butuh banyak peralatan, permainan-permainan itu bisa mengakrabkan kami dengan teman-teman lainnya. Tak jarang sih kita juga saling bermusuhan kalau tak terima kekalahan. Tapi, namanya anak kecil, selalu ada ruang di hatinya untuk melupakan kesalahan-kesalahan temannya.

Segalanya berbanding terbalik di masa sekarang. Permainan-permainan menyenangkan itu telah terlupakan. Berganti dengan games-games modern yang lebih banyak menghabiskan banyak waktu di tempat, tanpa perlu bergerak kesana kemari. Untuk memainkannya pun bahkan tak butuh teman. Hm…wajar kalau anak-anak zaman sekarang cenderung bersikap individualistik dan jiwa sosialnya tidak terasah. Bahkan, menurut penelitian, sikap kritis anak-anak cenderung terkungkung oleh games-games modern.

Tentu saja, jenis permainan yang merajalela di tahun modern ini benar-benar menggiurkan. Benar-benar berbeda dengan permainan pada umumnya. Serba elektronik. Serba digital. Namun, satu hal yang pasti; membuat kita merindukan permainan-permainan kenangan itu…

Jepret! dulu dong di backdrop MTGF2013 yang unik. (Foto: temannya Jane)


***

“Lagi ngapain?”

“Ndak. Cuma maen facebook,”

Tuh! Main facebook. M-a-i-n f-a-c-e-b-o-o-k. titik. Jejaring sosial pun sudah dianggap permainan oleh kebanyakan anak-anak. :(

#ckckck


--Imam Rahmanto--

Senin, 28 Oktober 2013

Yang MuDA yang Berbagi

Oktober 28, 2013

“Siapa namamu?” tanya saya pada seorang anak perempuan yang sedari tadi menutup mulutnya dengan kerah bajunya.

“Ima,” Ia menjawab singkat.

“Ima? Oh, berarti hampir mirip dengan nama saya, dong, Imam,”

“Bukan, Kak. Namanya Tima,” seorang teman saya tiba-tiba menyela.

Saya lantas tertawa dan ditertawakan seisi pete-pete. Anak usia 6 tahunan itu hanya ingin duduk di pintu masuk pete-pete. Menurut teman saya, ia takut mual. Ia tidak tahan berjkendara dengan mobil. Oleh karena itu, saya menemaninya duduk di pintu masuk. Mereka masih kecil, makanya butuh pengawasan ketat.

Lewat tengah hari ketika kami tiba di area Rumah Susun itu, menjemput lebih dari 30 anak Sokola Pesisir. Mereka rata-rata berusia 6 hingga 12 tahun. Ada semangat dan kegembiraan yang terpancar dari paras mereka. Dan, hari itu, Jumat, 25 Oktober, dari merekalah kami akan memetik pelajaran tentang arti berbagi.

Inilah mereka yang tak henti-hentinya untuk terus belajar. (Foto: Muajiz Mualim)
Keceriaan hari itu diawali dengan seni melipat kertas ala orang Jepang alias Origami. Bentuk burung bangau. Akan tetapi, banyak juga yang tidak begitu memahami untuk melipat-lipatnya. Bahkan, saya pun agak kesulitan dengan lipatan-lipatan burung itu. Saya sudah lupa. :P

“Kak, kak, bagaimana caranya?” beberapa anak menyodor-nyodorkan kertas hasil lipatannya yang setengah jadi kepada saya.

Ikutan ah! (Foto: Muajiz Mualim)
“Mm..tunggu dulu ya. Begini, begini,” saya sok tahu saja mengikuti instruksi dari salah seorang teman saya yang menjadi pengarahnya, meskipun saya juga hanya bisa menuntun mereka hingga setengah jalan. Hahaha….maaf ya, saya hanya bisa membuat origami dari jenis bunga-bungaan. Itupun ada maksud terkhususnya… :P

Lepas dari origami, kami sudah bisa sedikit rileks. Kegiatan mewarnai yang dilakukan anak-anak itu tidak membutuhkan banyak instruksi dari kami. Mereka cukup antusias dan tenggelam dengan gambar masing-masing. Kami cukup menemani saja sembari sesekali memberikan usulan warna yang tepat pada gambar.

Kegiatan terakhir kami berujung pada games yang melibatkan seluruh anak-anak. Sebenarnya, jikalau waktu tidak berlalu begitu cepat, kami masih memiliki satu agenda kegiatan sebelum memulai games, yakni belajar. Yah, tentang bagaimana kami mengajarkan makna dari Sumpah Pemuda, khususnya Bhineka Tunggal Ika. Kami menggelar games ala-ala Ranking 1, dengan peralatan seadanya yang telah kami siapkan sehari sebelumnya.

“Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia jatuh pada tanggal berapa?”

“Siapa nama presiden Republik Indonesia sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan mudah bagi orang awam, belum tentu bisa dijawab dengan benar oleh mereka yang tidak mengenanyam pendidikan di bangku-bangku formal. Buktinya, beberapa dari mereka pun berguguran dari pertanyaan-pertanyaan sederhana serupa tadi. Lucunya lagi, nama presiden RI pun masih ada yang salah. Hahaha….saya menebak, mereka mengenal Presiden Indonesia hanya dari obrolan-obrolan singkat, tanpa pernah melihat nama yang sebenarnya secara tulisan.

Nah, tanggal berapakah hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia? (Foto: Muajiz Mualim)
Yah, ada banyak kelucuan yang terekam ketika mereka mulai mengangkat jawaban masing-masing. Mulai dari tulisan-tulisan yang melenceng dari jawaban awalnya, anak-anak yang menyontek jawaban teman di sebelahnya, anak-anak kecil yang hanya melongo mendengar pertanyaannya, hingga mereka yang sudah gugur tapi masih saja tidak mau keluar dari barisan pemenang tersisa.

Kegiatan-kegiatan menyenangkan sekaligus melelahkan itu baru berakhir menjelang azan maghrib berkumandang. Kami mengantarkan kembali anak-anak itu pulang setelah membagikan makanan dan bingkisan hadiah Kompas yang telah dipersiapkan sejak awal.

Daaah, Kak Imam. Daah!! Sampai ketemu lagi!”

***

Cukup menyenangkan juga menghabiskan waktu dengan anak-anak itu. Sebandel-bandelnya mereka, dalam hati mereka masih selalu terselip keinginan untuk belajar. Meskipun sebagian besar dari mereka tidak mengenyam pendidikan formal, namun mereka terus berusaha untuk tetap belajar. Belajar tak mengenal tempat. Belajar tak mengenal batas usia. Untuk itulah, Sokola Pesisir menjadi tempat mereka belajar.

Saya mengenal Sokola Rimba setahun lalu ketika mengikuti talkshow mbak Butet Manurung yang hadir di Makassar International Writers Festival. Sokola Pesisir itu sendiri adalah bentuk pengembangan dari Sokola Rimba. Kalau saya tidak salah ingat, Sokola Pesisir digalang oleh mas Riri Riza.

Saya juga menemukan semangat untuk belajar itu ketika mereka mengajak saya untuk menunaikan shalat Ashar dulu di Masjid Terapung sebelum memulai aktivitas belajar.

“Kak, saya tidak dapat sarung. Mauka juga sembahyang,” seorang anak kecil berusia 5 tahunan menghampiri ketika saya bersiap-siap untuk masbuk.

Saya berpikir sejenak. Saya kemudian menyuruhnya untuk mencari sarung di bagian belakang masjid. Biasanya, untuk masjid semegah ini menyediakan perlengkapan shalat lengkap.

“Tapi, Kak. Ndak kutahu sembahyang kalau sendiri ka,” ujarnya lagi.

Kali ini, saya iba mendengarnya. Sementara shalat berjamaah di dalam masjid sudah berlangsung. Akan tetapi, karena tidak ingin menyia-nyiakan semangat anak itu, ya, saya menunda waktu shalat saya, sembari mencari-cari sarung untuknya. Menjelang rakaat terakhir shalat berjamaah, saya baru menemukan sarung untuk digunakannya shalat, meskipun kebesaran untuk ukuran tubuh mungilnya.

Sejatinya, saya menyukai semangat anak-anak itu. Menyaksikan mereka tertawa-tawa, berceloteh, memberikan warna baru pada setiap perjalanan hidup saya. Oh ya, malah saya terkadang membayangkan, seandainya kelak saya punya beban masalah yang benar-benar menghimpit, saya sangat ingin bermain dnegan anak-anak. Karena ketika saya berinteraksi dengan mereka, sejenak saya melupakan segala beban di kepala, berganti dengan kepolosan seorang anak kecil.

Seburuk apapun masa lalu yang mereka miliki, mereka tetap punya kesempatan untuk menjalani waktu sekarang. Bahkan, tanpa perlu mengingat-ingat latar belakang masa lalunya, mereka tetap maju, tetap hidup, tetap mengukir cita-cita dan impian masing-masing. Sangat jauh berbeda dengan kebanyakan orang dewasa yang terkadang sangat sulit keluar dari bayang-bayang masa lalunya…

Ini buatanku. Mana hasil origamimu? (Foto: Muajiz Mualim)

Dan merekalah yang berbagi di tengah-tengah keterbatasan waktunya. (foto: Muajiz Mualim)

#Selamat hari Sumpah Pemuda! ^_^.b


--Imam Rahmanto--

____
NB: Kegiatan ini adalah satu program dari Kompas (media) pusat, yang ditugaskan untuk setiap kru KompasMuDA 9 kota di Indonesia, dengan mengusung tema “yang MuDA yang Berbagi”. Kegiatan sosial yang hanya berlangsung sehari ini mengambil lokasi di Anjungan Pantai Losari dan menghimpun beberapa anak muda yang tergabung dalam Kompas MuDA. Tentu saja, kegiatan sosial tersebut dikhususkan untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda. :D

Rabu, 23 Oktober 2013

Tidak Semua Hal Punya Penjelasannya

Oktober 23, 2013
Lagi, saya mendapati orang lain bertanya tentang kebiasaan saya, minum Cappuccino.

"Apa sih kelebihan Cappuccino, sehingga membuat Kak Imam tergila-gila?" seorang siswa bertanya pada saya lewat akun jejaring sosmed.

"Kelebihannya karena bisa diminum," jawab saya asal.

"Aduuhh... Maksudnya yang lainnya... Mungkin ada sesuatu dengan Cappuccino," 

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti itu. Entah bagaimana saya menyukainya. Meski, kapan dan dimana saya menyukainya cukup tergambar jelas dalam memori saya. Saya pun sadar, pada kenyataannya memang tidak semua hal bisa dijelaskan secara pasti.

“Saya pun tidak merasa harus tahu karena memang hanya sedikit perilaku manusia yang dapat direduksi dalam perjalanan sebab-akibat.” --Novel Sheila, Torey Hayden--

Secara psikologis pun ternyata tidak semua perilaku kita bisa dijelaskan sebab-akibatnya. Atas alasan apa kita menyukai sesuatu terkadang muncul begitu saja. Sama halnya ketika kita benar-benar menyukai orang lain. Tanpa penjelasan. 

Untuk setiap kejadian di muka bumi ini, berlaku hal yang sama. Tidak segalanya bisa dijelaskan secara pasti. Kecerdasan manusia yang terbatas hanya berusaha untuk mereka-reka berdasarkan pengetahuan mereka sebelumnya. Saling menghubungkan. Saling membenarkan. 

“…Dan juga karena beberapa hal memang sulit untuk dibicarakan. Aku bahkan tidak tahu mengapa begitu. Kukira karena itu membuat kita takut. Bahkan kami orang-orang yang sudah besar ini, takut. Dan kalau orang besar takut tentang sesuatu, mereka tidak suka membicarakannya. Itulah salah satu kesulitan menjadi orang besar.” --Novel Sheila, Torey Hayden--

Atau mungkin karena kita takut saja??



--Imam Rahmanto--

Kamis, 17 Oktober 2013

Teman Saya dan Keajaibannya

Oktober 17, 2013
Pagi tadi, saya memulai kembali sedikit dari aktivitas kuliah saya. Untuk semester ini, saya hanya memprogramkan dua mata kuliah yang salah satunya harus saya hadiri setiap Kamis pukul 10.00. Yah, saya katakan harus hadir! Karena sudah tiga kali pertemuan  saya absen dari pengamatan dosen pengampu mata kuliah tersebut. Ini mah ulahnya si KKN, dan sebagian ketidaktahuan saya juga sih….

Nyaris saja saya telat menghadiri perkuliahan tadi pagi. Menjelang pukul sepuluh, saya masih bersantai sembari menyeruput “teman” pagi saya, Cappie. Ditemani oleh salah seorang teman yang juga banyak bercerita kepada saya tentang masalah hatinya. Yah, ketika kita bisa berbagi rahasia kepada orang lain, maka orang lain pun akan melakukan hal yang sama dengan kita. Ia bercerita tentang kegundahan-kegundahannya dengan pasangannya. Di samping itu, saya heran, saya yang sebenarnya belum pernah menjalani seperti dia kok saya sok-sok jadi pendengar yang baik ya?? Sementara kan saya mengalami hal yang…ehem…agak "complicated" juga. #eaaa

Akan tetapi, saya tidak ingin bercerita tentang rahasia teman saya itu. Bukan, bukan. Saya ingin bercerita tentang seorang teman lainnya, yang ternyata semakin membenarkan kepercayaan saya terhadap keajaiban Tuhan. Bahwa setiap manusia, bisa menciptakan keajaibannya sendiri. Bahwa keajaiban adalah perwujudan dari tekad dan usaha yang kuat. Tak peduli seberapa sulit dan impossible-nya hal itu.

Adalah hal beruntung ketika saya tak lagi telat masuk kelas pagi. Terhitung lewat beberapa menit saja, maka salah satu dosen saya itu akan mencoret nama saya dari absensinya. Akan tetapi, sungguh tidak beruntungnya saya, mengikuti mata kuliah yang hanya sekadar melihat selintas pemaparan slide-slide yang ditampilkan oleh dosen tersebut. Seperti biasa, jadilah saya“penonton” yang baik. #membosankan

Akan tetapi, saya menemukan pelajaran berharga hari ini. Bukan tentang perkuliahan yang saya jalani di dalam kelas. Lebih dari itu. Saya bertemu kembali dengan salah seorang teman kelas saya (sesama angkatan 2009) yang juga ikut mengulang pada mata kuliah yang sama. Betapa bahagianya saya mempunyai teman senasib-sepenanggungan di mata kuliah ulangan. Hahaha…

Sumber: googling
Di samping bahagia karena tidak merasa tua sendiri di kelas yang sama, saya juga senang sekaligus bangga dengannya. Ada hal-hal yang berubah darinya. Ternyata, selentingan kabar tentang dirinya yang telah menyelesaikan seminar proposal – tahap awal menyelesaikan skripsi – bukanlah kabar angin semata. Ia memang benar-benar telah menyelesaikannya. Dan tentunya, dengan perjuangan yang tak mudah pula.

“Bayangkan bagaimana sulitnya saya menyelesaikan semuanya. Berulangkali saya konsultasi dengan pembimbing saya,” ia bercerita di tengah-tengah perkuliahan kami. Maklum, saya dan dia mengambil kursi agak belakang sehingga tidak begitu menarik perhatian dosen yang sementara menerangkan materinya.

“Bahkan saya pernah berganti pembimbing. Beruntung pembimbing saya sekarang lebih kooperatif dan mau membantu. Jadinya, meskipun saya masih banyak tuntutan SKS yang belum selesai, saya sudah menyelesaikan Seminar Proposal saya,” lanjutnya.

Ya, setahu saya, siapa saja yang berniat untuk melaksanakan seminar proposal, harus memenuhi jumlah kelulusan SKS minimum. Akan tetapi, dia benar-benar menembus “batas” itu. Tanpa perlu mencukupkan jumlah SKS yang diperlukan. That's true! That’s the point!

Dibandingkan dengan saya, IPK teman saya itu jauh di bawah standar. Mungkin, orang-orang tidak akan percaya tentang dia yang telah melaksanakan langkah awal itu. Namun itulah kenyataannya. Ia benar-benar mampu menembus mitos itu, dan melampaui saya yang hingga kini belum terpikirkan satu judul skripsi pun. :(

Sejujurnya, kalau saya bicara SKRIPSI yang terbayang dalam benak saya adalah ayam KRISPI sedang menari-nari di atas kertas kerja saya. #arghh

Disanalah keajaibannya. Dari cerita yang disampaikannya, tentu dengan bersemangat pula, saya bisa melihat tekad dan usaha yang benar-benar kuat dari dirinya. Ia benar-benar memanfaatkan setiap kesempatan yang dimilikinya. Setiap peluang, ia ambil. Setiap langkah, ia jalankan. Tak kenal menyerah. Jika gagal, ia mencoba lagi. Alhasil, ia bisa menjalani seminar itu lebih dulu ketimbang saya. Bahkan lebih dulu ketimbang menyelesaikan belasan mata kuliahnya yang akan dia ulang di semester-semester berikutnya.

“Pada intinya, setiap saya salah pasti saya perbaiki. Yang penting kita tidak lama-lama terpuruk di kondisi itu. Lagipula pembimbing saya juga yang selalu dorong saya,” lanjutnya lagi.

Saya benar-benar kagum dengannya. Apa yang selama ini dianggap remeh oleh teman-teman saya, bisa dibuktikannya. Ia membuktikan bahwa ia pun bisa menyelesaikan segala tuntutan kuliahnya yang dahulu terbengkalai. Ketika saya melihatnya pun, ia nampak lebih siap untuk menghadapi setiap mata kuliah yang diulanginya. Semangatnya telah bangkit. Niat, tekad, dan usahanya cukup untuk menciptakan “keajaiban-keajaiban” baru.

“Saya berpegang teguh, setiap kegagalan itu selalu ada hikmahnya. Yang penting kita bersabar. Tugas kita pula untuk menemukan hikmah yang terkandung di dalamnya. Tidak ada yang jelek buat kita,” tuturnya yang kemudian menularkan seraut senyum mengembang dari wajah saya.

“Ya, saya semakin percaya pada keajaiban-keajaiban yang bisa kita ciptakan dari tekad dan usaha yang kuat,” saya membenarkan ucapan teman saya yang juga termasuk salah satu aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Makassar itu.

Fa Inaa ma’al usri yusra, inna ma’al usri yusra.
---Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan---

The point is…. Poin penting pada ayat (AlQuran) tersebut, di dalam setiap kesulitan ada kemudahan. Bukan malah setelah kesulitan baru ada kemudahan. Tidak! Tetapi, di setiap kesulitan yang datang menghadang, Tuhan telah menyediakan (jawaban) kemudahan di dalamnya. Dan kitalah yang seharusnya menemukannya. Bukan malah menunggu setelahnya... Setahu saya sih begitu…

Nah, ternyata Tuhan senantiasa menunjukkan kuasanya pada manusia lewat cara-cara yang tidak pernah kita duga-duga. Sejatinya, Tuhan yang manganugerahkan keajaiban itu. Dinilai dari niat, tekad, dan usaha yang dijalani oleh hamba-Nya. Sebesar dan selapang apa hati seorang manusia, Tuhan selalu tahu bagaimana cara mengukurnya. Keajaiban seperti apa, daalam kuantitas seperti apa. Usaha berbanding lurus dengan keajaibannya, yang berbanding lurus pula dengan hasil yang akan dicapai. Man Jadda Wa Jada!

Keajaiban.... adalah perwujudan dari tekad dan usaha kita. Saya percaya itu.

Semangat dan usaha yang dilakukan oleh teman saya itu patut dicontoh. Mungkin cara-cara "lolos”nya juga bisa dicontoh. #ehh??

Sayangnya, ia masih belum bisa meninggalkan kebiasaan lamanya; playboy. Namun ia mengaku, persoalan pacar, tidak pernah menjadi beban pikiran sekaligus hambatan bagi kuliahnya. Inginnya, saya membenarkannya pula. Tak lupa, ia bahkan tanpa malu-malu memperlihatkan saya coretan-coretan kecil di handphonenya soal kriteria cewek yang harus didapatkannya. Dimulai dari proses koleksi, seleksi, hingga penyisihan dan kriteria lainnya. Ckckckk….. #tepok jidat.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 16 Oktober 2013

Masa Depan itu Dirahasiakan

Oktober 16, 2013
Lagi, saya telat merapal doa di kala mentari tepat beranjak dari persembunyiannya. Saya baru terjaga menjelang pukul setengah tujuh pagi.

Sebenarnya sedari pukul lima pagi saya telah bangun dan merasakan hawa-hawa sejuk di sekitar saya. Hanya saja, yang namanya malas selalu saja memiliki muatan lebih besar ketimbang mata membuka kelopaknya. Apalagi ketika saya tak punya motivasi apa-apa lagi untuk bangun di waktu sepagi itu…

Saya tak ingin mengingat hal-hal yang akan membuat saya terpuruk. Karena itu sebenar-benarnya luka; membiarkannya bersarang dalam hati.

“Hei, bangun! Belum shalat Subuh, kan?” ujar salah seorang kakak senior mengingatkan saya. Ia sejak semalam belum terlelap. Menjadi kebiasaannya, begadang hingga pagi. Mengganti waktu tidurnya di siang hari. Baru terbangun ketika ia akan beranjak kerja. Sungguh kebiasaan yang buruk.

Ah ya, menjadi kebiasaan buruk pula bagi saya tak lagi bangun di subuh hari. Padahal, sebelumnya saya selalu menghabiskan sisa peraduan malam dengan berjalan-jalan di pagi hari. Yah, saya terbiasa meniti jalan raya yang masih lengang dari arus kendaraan. Sunyi. Hanya nampak satu dua orang maupun kendaraan yang melintas mengejar waktunya di pagi hari. Saya selalu menyukainya.

Saya ingat, kemarin adalah perayaan Idul Adha. Ia berlalu. Berlalu begitu saja. Yang tertinggalkan hanya rasa-rasa daging dan makanan yang menjadi suguhan teman-teman saya di rumahnya masing-masing. Maklum, saya dan beberapa teman-teman yang lainnya memutuskan beranjangsana, kemarin. Hanya dua rumah. Dan jaraknya, ckckck….ditempuh seharian.

Tak butuh waktu lama, saya menyeduh cappuccino yang menjadi teman di pagi ini…

***

Apa yang kita ketahui tentang orang lain belum tentu sepenuhnya benar. Kita tak akan pernah benar-benar bisa memahami orang lain jika kita belum menjadi orang itu. Segala prasangka-prasangka kita bercampur baur dan menyimpulkan tentang orang lain. Seorang Psikolog sekalipun belum tentu tahu secara pasti bagaimana kepribadian objeknya.
#menghela napas

Beberapa hari yang lalu, saya sempat mempertaruhkan perasaan saya. Yah, benar-benar mempertaruhkan semuanya. Hehe… saya, yang sejak dulu tidak pernah tahu cara mengungkapkan yang benar, hanya berusaha menjawab ketidakpastian itu sejujur-jujurnya.

Sebenarnya, jikalau boleh memilih, saya tak pernah ingin menyampaikan sesuatu yang menurut saya benar-benar penting hanya lewat tulisan. Sehebat-hebatnya seseorang dalam menulis, butuh keberanian lebih hebat lagi untuk berkata lisan di depan orang lain tentang sesuatu yang ingin dituliskannya, di samping butuh keberanian hanya sekadar memandang wajahnya…

Saya agak menyesal menyampaikan kejujuran itu. Jika saja tak menyampaikannya bisa tetap membuat saya dalam ketidakpastian dan membuat saya leluasa untuk terus bergerak, saya lebih memilih demikian. Ketidakpastian itu, membuat saya terus berusaha meski sebatas menduga-duga. Ketidakpastian itu membuat saya terus berusaha untuk memperoleh apa yang saya harapkan tanpa perlu diracuni praduga-praduga atas usaha itu. 

Ibarat masa depan. Mengapa Tuhan memilih untuk tidak memperlihatkan masa depan tiap manusia? Karena Tuhan menginginkan agar setiap manusia berusaha di jalannya masing-masing dengan perkiraan terbaik yang mampu diimajinasikannya.

Seandainya saja kita diizinkan Tuhan untuk melihatnya, baik atau buruk, maka kita akan menjadi manusia yang hanya terpaku pada masa depan itu. Kita takkan pernah menghargai proses yang kita jalani.

Ketika masa depan yang diperlihatkan baik, kita menjadi manusia yang pongah. “Masa depan saya baik. Saya tidak perlu melakukan usaha terlalu keras,” 

Ketika masa depan kita nampak buruk, maka setiap usaha kita akan selalu terbayang hasilnya, “Saya melakukan ini pun tidak ada hasilnya. Toh, hasilnya sudah ketahuan buruk.” Secara tak langsung, kita akan menjadi manusia yang minim usaha. Jikalaupun kita ingin berusaha keras, hasil akhir itu akan terus menghantui semangat kita.

Biarkan saja berlalu. Saya tidak ingin menjadi orang yang benar-benar menyakiti diri sendiri dengan memendam luka. Kesabaran itu, saya akan memilikinya sebanyak yang dibutuhkan. Hingga kini, saya telah banyak belajar dari segala hal yang berlaku dalam hidup saya. Meskipun, saya sadar, jawaban di akhir itu adalah pertanda jika saya mungkin bukan orang yang tepat buatnya.

“Dalam cinta, jangan menunggu orang yg tepat menghampiri hidupmu. Lebih baik jadilah orang yg tepat yg menhampiri hidup seseorang.eaeaaaeaeaaea,,,,,” 

Saya meng-copy-nya langsung dari inbox akun sosmed milik saya. Lama terpendam dalam inbox itu, saya mengacuhkannya. Saya tak pernah menyangka, seorang remaja laki-laki yang agak acuh sepertinya langsung mengirimi saya ungkapan demikian. Akan tetapi, saya hanya bisa tersenyum-senyum melihat tingkah mereka. Ah ya, benar-benar tersenyum setulusnya untuk mereka. Bahkan ketika menampilkan inipun saya masih puas tersenyum-senyum sendiri mengingat-ingatnya. 

Hmm…untuk seorang adik yang pernah berbagi pelajaran di sekolah, saya benar-benar menghargai ucapan kala itu. Terima kasih atas semangatnya. Kita seharusnya sadar bahwa rumus kehidupan selalu tak pasti ketika kita tak tahu seperti apa masa depan atau hasilnya. Kadang harapan berbanding lurus dengan kenyataan. Namun, bersiaplah untuk menemukan kemungkinan bahwa kerap kali harapan akan berbanding terbalik dengan kenyataan.

Albert Einstein yang seorang ilmuwan pun pernah mengatakan,

“Gravitation is not responsible for people falling in love” 

Benar. Bahkan gravitasi pun tak berlaku, maka saya tak mungkin memaksakannya juga, kan? Namanya hati tak bisa dipaksakan. Apalagi ketika kita sadar tak ada hal-hal yang pantas dipaksakan dari diri sendiri. Ketika seorang wanita benar-benar mengerahkan seluruh perasaannya untuk berpikir, berpikir, dan terus berpikir. Laki-laki takkan bisa memaksakannya dengan logika. Sedikitnya, butuh waktu untuk mencerna. Perlahan...

Segalanya, yang berlaku di dunia ini adalah atas usaha kita. Kita yang membangun takdir kita. Kuasa Tuhan yang mengarahkannya. We can create our own detiny. Oleh sebab itu, Tuhan berlaku adil dengan tidak memperlihatkan masa depan setiap manusia. Tuhan berharap, manusia mampu belajar untuk menjadi lebih baik. Berimajinasi bahwa hasilnya selalu baik untuknya. Berusaha semaksimal mungkin. Kalau jatuh, maka bangkit berdiri. Sekali lagi, kita bisa membentuk takdir kita sendiri.

Nah, apapun yang telah terjadi, saya hanya bisa belajar. Sejatinya belajar menjadi lebih baik.

“Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning” – Albert Einstein.

***

Beberapa kali melihat semangat seorang teman saya, yang juga akhirnya mulai menenggelamkan diri dalam beberapa tulisannya, membuat saya terpacu untuk mengisi “rumah” lagi. Sayangnya, teman saya itu memulainya tepat ketika hati yang dicintainya memutuskan untuk pergi dari kehidupannya…  *sungguh tragis. Haha...peace! ^_^.V


--Imam Rahmanto--


Selasa, 15 Oktober 2013

Selamat Idul Adha!

Oktober 15, 2013
Design by: ImamR
Dan di hari raya ini, saya memutuskan untuk tetap berada di kota ini. Menantikan daging-daging yang saling dipertukarkan oleh teman-teman saya. Menyapa setiap ucapan yang dialamatkan kepada saya. Memeluk erat siapa saja yang ingin jadi keluarga.

Idul Adha ini, bukan persoalan seberapa besar kita mampu mempersembahkan hewan kurban untuk umat. Akan tetapi, Tuhan menilai setiap hal yang dengan tulusnya kita kurbankan pada hari ini. Apa saja. Terutama sifat-sifat yang tak pantas dimiliki oleh seorang manusia ciptaan Tuhan. Meskipun sulit memangkasnya, mari melakukannya pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Hingga kita menjadi jiwa yang diberkahi oleh Allah SWT.

Selain itu, siapapun yang ingin memohon maaf, akan diberi maaf. Akan tetapi, kita, manusia, seakan menjadi jiwa-jiwa oportunis ketika meminta maaf hanya pada hari ini. Pada kesempatan ini, kita dianjurkan berkurban, bukan meminta maaf. Jikalau Idul Fitri adalah ladangnya kaum Muslim meminta maaf, lantas apa mesti disamakan dengan Idul Adha? Padahal, seyogyanya hari raya ini dimanfaatkan bagi kita umat muslim menjadi pribadi yang ikhlas berkurban, sekaligus mengukur sejauh mana kita rela berbagi.

Tidak hanya hewan saja yang mesti dikurbankan. Terkadang “hati” sendiri pun perlu dikurbankan…. Hehe

*Selamat Hari Raya Idul Adha

***

“Tidak pulang kampung ya?” tanya seorang teman lewat akun jejaring sosialnya. Akh, saya mendadak lupa dengan kampung saya. Haha…Siapa saya? Dimana saya? Kenapa saya? #amnesia

Mungkin, dalam beberapa bulan belakangan, pertanyaan paling mendominasi dari teman-teman lama saya ya seperti itu. Sudah lama saya tak berkumpul lagi dengan teman-teman semasa sekolah. Bercanda dan saling berbagi pengalaman dengan sahabat-sahabat saya. Dan bahkan dengan kedua orang tua saya. Adik saya pun selalu menanyakan kabar serupa… #telan ludah

Sejujurnya, saya rindu berkumpul bersama keluarga. Menikmati daging-daging kurban seperti tahun kemarin. Berkolaborasi dengan ayah saya untuk menemukan resep yang pas buat olahan daging kami. Menantikan ibu yang bekerja dengan ulekan sambalnya. Tentu saja, sesederhana apapun masakan ibu saya, tak ada yang bisa mengalahkan kelezatannya. Makanan di rumah memang selalu tiada duanya. Saya merindukannya…

Saya rindu dengan adik saya. Meski perempuan, seringkali bertengkar dengan saya. Badannya lebih gemuk dibanding  kakaknya seorang. Namun, di usianya yang beranjak SMA, masih saja sangat sulit untuk membantu ibu saya di dapur. Hehe…padahal yang namanya perempuan, sudah harus belajar dari hal-hal kecil di dapur. :D

Sejauh apapun bangau terbang, akan kembali ke asalnya pula. Saya tidak tahu, apakah saya akan mengalami hal seperti itu. Seperti bangau, yang memutuskan terbang begitu jauh. Jauh sekali. Sehingga tak seekor bangau pun lagi yang melihatnya.

“Kapan pulang, Kak?” tanya adik saya.

“Ketika sudah saatnya saya pulang,” jawab saya singkat.


--Imam Rahmanto--

Jumat, 11 Oktober 2013

Membangun Ulang Arti Kesederhanaan

Oktober 11, 2013
Cover
Judul Buku : Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis : Yoshici Shimada
Penerbit         : Mahda Book
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Tahun Terbit : 2001 (Jepang), 2011 (Indonesia)
Tebal buku : 270 halaman

…Raporku dinilai bagus ataupun buruk, tentunya tergantung siapa yang melihatnya. Namun ketika aku berkata kepada nenek, “Maaf ya, lebih banyak satu dan dua-nya.”

Nenek berkata sambil tertawa, “Tidak masalah, tidak apa-apa. Satu atau dua kalau ditambahkan bakal jadi lima.”

“Memangnya rapor boleh ditambah-tambah begitu ya?” tanyaku kemudian.

Yang dijawab nenek dengan wajah serius dan kata-kata singkat, “Hidup itu gabungan berbagai kekuatan.”

Tapi saat itu aku tidak terlalu memahami maksud kata-kata nenek.

***

Sepenggal dari rentetan kisah yang diceritakan oleh Yoshici Shimada, penulis dari Jepang, dalam bukunya Sagai no Gabai Bachan. Salah satu buku terbitan negeri Sakura ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk kemudian bisa dinikmati oleh pembaca-pembaca dari Indonesia. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, buku semacam memoar hidup ini sudah terjual lebih dari 100.000 eksemplar di negeri asalnya. Alhasil, buku inipun laris dikonversi menjadi film, games, dan manga. Saya jadi penasaran ingin melihat filmnya. :)

Sedari awal, saya memang mencari-cari bacaan untuk mengisi waktu luang. Akan tetapi, bacaan-bacaan yang tidak begitu banyak menguras pikiran. Akhir-akhir ini kepala saya telah dipenuhi banyak pikiran-pikiran “berat”. Beberapa novel berat (terjemahan) yang sebelumnya banyak saya baca, membuat kepala saya ikut-ikutan berat. Oleh karena itu, untuk me-refresh kembali kesederhanaan “otak” saya, maka bacaan-bacaan ringan menjadi pilihan saya.

Berdasarkan keterangan singkat dalam buku ini, kisah-kisah yang diceritakan Akihiro, nama asli penulis, adalah pengalaman-pengalaman nyata selama ia menjalani kehidupan semasa kecil di Saga, tempat tinggal neneknya. Ia yang sebelumnya hidup di Hiroshima, telah kehilangan ayahnya akibat pengaruh radiasi bom atom pasca Perang Dunia II. Ia hidup bersama ibunya, yang akhirnya memutuskan untuk mendorong Akihiro tinggal bersama neneknya.

Kehidupan Akihiro bersama neneknya tidak jauh lebih baik dari kehidupan sebelumnya bersama ibunya. Hidupnya di Saga jauh lebih miskin. Akan tetapi, neneknya selalu punya cara untuk berbahagia dengan kehidupannya. Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin ceria.

Meskipun buku ini bisa dibaca dalam “sekali lahap”, namun bahasa-bahasa yang digunakan oleh penulis benar-benar mengalir secara alami. Saya tidak perlu memeras otak untuk membacanya. Bahasa-bahasa yang mudah dimengerti, tanpa deskripsi panjang lebar, benar-benar nyaman untuk dibaca “sekali lahap”. Meskipun demikian, tidak mengurangi esensi ceritanya sendiri.

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca buku ini. Kelucuan dari ide-ide hebat sang nenek. Atau sesekali membuat kita terharu dengan perjuangan sang nenek dan cucunya. Dan kenyataannya, kesederhanaan tidak selalu membuat orang terpuruk dan terlantarkan. Ada banyak sisi-sisi kesederhanaan yang bisa dipetik dari setiap cerita-ceritanya. Kehidupan miskin yang dijalani tokoh seakan-akan membangun kembali persepsi kita tentang kemiskinan itu sendiri. Apakah kita akan termasuk miskin muram atau miskin ceria? 

***

“Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan,”

“Benda yang didapat dari memungut sekalipun, belum tentu pantas dibuang,”

“Bukankah hal yang paling penting semasa kita hidup tidak terletak pada barang yang kita miliki, melainkan pada kekuatan hati?”


--Imam Rahmanto--

Bukan Pandangan Pertama

Oktober 11, 2013
Saya tidak pernah begitu percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Kenapa? Karena terkadang perasaan itu berbohong. Sejatinya, hanya sebatas perasaan suka semata. Kita menganggap indah di awalnya, tanpa menyadari segala hal yang bersembunyi di belakangnya. Katanya, pandangan pertama itu nikmat, namun pandangan kedua itu syahwat. Mungkin saja, atas dasar itu, orang-orang ngotot untuk mempertahankan “pandangan pertama” mereka. Ngotot berkata, “Love is blind”.

Pandangan pertama terkadang menghanyutkan. Nyaris 100 persen orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama hanya melihat rasa “suka” itu dari sisi “cover” saja alias penampilan. Ketika laki-laki itu berwajah ganteng, atau perempuan itu berwajah cantik, lantas orang-orang akan membenarkan dirinya untuk “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Padahal mereka sendiri belum banyak mengubek-ubek isi dari “cover” itu seperti apa.

Saya tidak pernah begitu percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Ketika melihat seseorang pertama kalinya, adalah hal wajar kita mengatakan, “Dia cantik,” atau “Dia manis,” atau, “Dia ganteng”. Pun wajar ketika kita langsung suka. Benar-benar suka. Akan tetapi, keliru ketika kita menyimpulkan perasaan suka itu menjadi “cinta”. Sebenarnya, ketika orang menyamakannya, apa kita sadar perbedaan antara “suka” dengan “cinta”?

Nah, perasaan-perasaan suka itulah yang kemudian mendorong kita untuk mendalami sisi lain orang itu. Entah pada akhirnya kita akan bertambah suka, atau kemudian ilfeel alias kehilangan perasaan itu. Karena pada dasarnya, memang, untuk membangun perasaan suka menjadi sayang menjadi cinta itu harus melalui banyak tahap. Saya tidak mengerti seberapa panjang tahap itu. Seberapa lama menanti waktu yang tepat…

Masih percayakah kita dengan “pandangan pertama” itu? Ayolah, tidak baik menilai segala hal itu dari pertama kali kita melihatnya. Sama halnya menilai orang lain itu pendiam ketika kita baru pertama kali bertemu dengannya. Padahal, ia akan banyak bicara ketika sudah berkumpul dengan orang-orang terdekatnya. Atau ketika kita menilai orang lain buruk hanya karena ia tak pernah menanggapi kita. Padahal mereka adalah orang-orang introvert, yang hanya bisa terbuka dengan orang-orang yang begitu dikenalnya. Come on, ada banyak hal dan orang di dunia ini yang sesungguhnya belum kita pahami secara jelas tanpa kita mau mendalaminya.

“Witing trisno jalaran soko kulino,” sedikit kalimat yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin hal yang berulang berlaku pada kehidupan saya…

Komitmen bisa terjalin ketika orang-orang sudah mengenal satu sama lain. Mungkin dalam waktu yang lama. Dalam intensitas yang tak sedikit pula. Buruk atau baik. Baik atau buruk. Perasaan yang sesungguhnya baru bisa dibangun dari sana; dari kebiasaan.

Saya memahami, bahwa perasaan sayang atau bahkan cinta itu tidak bisa terbangun secara instan melalui pandangan pertama. Orang tua kita tak pernah menyayangi kita dari pandangan pertamanya, bukan? Melainkan kebiasaan mereka menjaga kita dari masa ke masa. Tak peduli seberapa bandelnya kita. Tak peduli seberapa durhakanya kita, mereka selalu menjaga perasaannya buat kita. Karena kasih sayang orang tualah yang paling sejati…

(Sumber: googling)

Dan saya harus menerima, terkadang keyakinan tidak berbanding lurus dengan pengharapan… Mungkin, berbanding sangat terbalik malah… Atas dasar itulah, Tuhan selalu mengajarkan saya untuk belajar menerima dan perlahan melupakan.....


--Imam Rahmanto--

Rabu, 09 Oktober 2013

Seberapa Besar Kita Menghargai Janji itu?

Oktober 09, 2013
“Kalau saya sedang tidak enak mood atau kehilangan semangat, maka saya memutuskan membaca sekumpulan kertas ‘cita-cita dan impian’ yang saya kumpulkan dari kalian. Setidaknya, saya harus lebih baik dari cita-cita yang tak malu-malu kalian tuliskan untuk saya,” #super_serius

***

Beberapa waktu lalu, saya hendak menyelesaikan tugas akhir dari Program Pengalaman Lapangan (PPL). Tahu sendirilah, khasnya dari tugas akhir itu seperti apa. Yeah, laporan yang tebalnya nyaris mengalahkan ketebalan novel-novel yang seringkali saya baca. Ribetnya lagi, saya harus bolak-balik mengumpulkan tanda tangan sebagai salah satu persyaratannya.

Meskipun “pengabdian” saya di tanah KKN dan PPL telah berakhir, namun masih saja ada kerinduan yang membuncah. Akhirnya, saya berkesempatan untuk bersua kembali dengan nuansa SMAN 2 Pangkajene yang menjadi “teaching area” saya tempo hari. Especially, my happily class, Aljabar and Einstein! #prok-prok!! Di samping saya harus menyiapkan paper yang super tebal semalaman suntuk, beberapa pemberitahuan dari adik-adik siswa disana sudah menumpuk perihal kedatangan kami.

Hm…adalah hal wajar ketika masa-masa “labil” seperti mereka begitu antusias dengan kehadiran kami, mahasiswa-mahasiswa yang sebelumnya telah menjadi guru sementara mereka. Bahkan, lebih parahnya lagi, seorang teman saya mendapatkan penghargaan “hall of fame” sebagai  kakak ter-cakep (ceilahh) di mata mereka. Tak tanggung-tanggung, sebuah fans-grup facebook nyaris dibuat oleh mereka. Ckck…saya tak habis pikir, jiwa labil mereka masih menggebu-gebu.

Akan tetapi, seyogyanya, se”labil” apapun tingkah mereka, bukan menjadi satu alasan untuk menganggap setiap ucapan atau omongan mereka adalah basa-basi semata. Siapapun di dunia ini; anak kecil-orang dewasa, tua-muda, laki-laki -perempuan, pandai-terbelakang, pantas untuk memperoleh perhatian dan penghargaan dari kita. Bahkan, untuk setiap janji yang kita ucap pada keterbukaan hati mereka…

Yah, saya baru-baru saja menanggung beban “dosa” atas pengharapan mereka. Ucapan-ucapan kami yang menyiratkan perihal kedatangan kami di sekolah mereka, menjadi pengharapan bagi mereka untuk pertemuan kembali. Dan mungkin, sedikit kejutan yang telah lama mereka persiapkan. Saya tak mungkin menyangkalnya, ada beberapa orang teman saya yang kehadirannya begitu dibutuhkan di sekolah itu. Dielu-elukan malah. Namun, kenyataannya, hal itu tidak menjadi motivasi bagi mereka untuk memenuhi setiap janji yang telah mereka bangun sendiri.

Ketika pengharapan mereka sirna atas “kuasa” kami sebagai mahasiswa dan si pembuat janji. Bukan hanya sekali, melainkan beberapa kali.

“Kenapa tidak datang, Kak?”

Dan betapa mudahnya saya menyaksikan kalimat-kalimat pembelaan meluncur dari mulut kami.

“Gampang. Bilang saja pada mereka seperti biasa. Pasti mereka mengerti, kok,” ujar salah seorang teman saya, ketika untuk ke sekian kalinya kami batal melakukan perjalanan kesana.



Bagaimana ketika janji itu dilanggar? Saya tak pernah tahu, hukuman apa yang akan menimpa. Atau dosa sebesar apa yang akan menjadi tanggungan kita, meskipun itu sebatas berjanji pada anak-anak kecil. Mungkin, sebagian dari kami menganggap mereka adalah anak kecil, yang masih belum banyak tahu apa-apa tentang kehidupan. Masih sebatas remaja yang belum mengenal seperti apa kesibukan-kesibukan orang dewasa. Namun, saya tetap ingin menghargai setiap ucapan yang telah saya rapalkan dari mulut saya.

Mungkin bagi orang lain, hal seperti itu, adalah hal-hal sepele. Hal-hal yang bisa ditinjau berulang-ulang kali. Akan tetapi, bagi saya, kepada siapapun kita mengucapkan janji, kewajiban kita untuk memenuhinya. Bukan soal kita menepatinya atau tidak, melainkan jauh lebih penting pertanggungjawaban kita kepada Sang Maha Pencipta. Setiap ucapan adalah doa, bukan?

Janji, seperti apapun bentuknya, kepada siapapun ditujukan, menjadi suatu kewajiban untuk dipenuhi. Tuhan menilainya. Setiap sikap dan perbuatan kita, Tuhan mengonversinya. Secara Matematis, malaikat-malaikat disana menghitungnya. Menjumlahkan, mengurangkan, mengalikannya. Untuk suatu saat nanti, setiap sikap dan perbuatan yang telah dihitung itu akan kembali kepada kita. The Law of Atrraction.

“Promise ya, Kak…” sedikit pesan singkat yang benar-benar menggugah hati saya. Bukan tanpa alasan pesan itu muncul di layar handphone saya. Beberapa pengharapan dari mereka yang sebelumnya telah dilanggar menjadi “bad effects” bagi mereka. Tidak salah ketika mereka meminta kepastiannya.

Hai, kepada kalian yang telah memenuhi kepalanya dengan pengharapan atas kedatangan kami. Maafkan atas waktu yang sebenarnya berharga bagi kalian. Penantian yang sebenarnya kalian harapkan. Mm…sungguh, tak ada maksud mempermainkan setiap pengharapan kalian. Hanya, saya sebatas orang biasa yang tak punya kekuasaan apa-apa. Terkadang, mengikuti apa yang menjadi kemauan orang banyak menutup setiap inisiatif-inisiatif yang sebenarnya ingin kita jalani lebih baik. Tak peduli benar atau salah.

Hari itu, saya sadar bahwa sesungguhnya kepedulian kita terhadap perjalanan hidup ini dinilai dari seberapa jauh kita mampu menghargai setiap hal yang pernah kita singgahi. Orang. Benda. Pengalaman. Perasaan. Waktu. Ilmu. Seremeh-temeh apapun, selalu ada bagian-bagian terpenting untuk kita memetik pelajaran. Selalu.

Terima kasih atas hadiahnya. Saya menyukai kalian menuliskannya. Mungkin, kelak kalian akan
berkirim surat saja, ya? :D




--Imam Rahmanto--

Ps: Dan pagi ini, lagi, saya lupa atas janji kecil yang saya buat...

Kamis, 03 Oktober 2013

See You Later, Einstein and Aljabar…

Oktober 03, 2013
Waktu, takkan pernah bisa terhenti, atau bahkan terulang. Kita harus mensyukuri itu. Kita hanya manusia. Kita takkan pernah bisa kembali ke masa-masa yang kita inginkan, d an mengulangnya sekali lagi. Akan tetapi, bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada manusia. Justru Tuhan mewujudkan kasih sayangnya dengan memberikan “mesin waktu” terbaik untuk manusia. Setiap manusia sejatinya memiliki mesin waktunya sendiri-sendiri, yakni memory…

Hei… 

Apa kabar kalian? Setelah perpisahan kemarin yang sempat mengharu-biru dan menyita banyak tempat di hati kalian. Sejenak, kalian menyesali perpisahan itu. Akan tetapi, sekejap, kalian melapangkan dada untuk bisa melepas kepergian kami dengan rekahan senyuman. Sempurna. Sepelemparan waktu, perpisahan akan menemukan caranya lagi untuk kembali pulang. Tahukah kalian? Sejatinya tak ada yang benar-benar berpisah di dunia ini… Just believe it! Kita akan bertemu lagi, kelak….

Sehari lagi, saya akan kembali pada dunia saya. Dunia yang benar-benar akan kembali menyita waktu dan pikiran saya. Dunia yang terkadang membuat saya banyak mengeluh, dan banyak berlaku hal-hal di luar batas diri saya. Setelah perjalanan kemarin, bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya menghabiskan waktu tiga bulan lamanya mengabdi dan mengabdi.

Yah, saya dan teman-teman mengabdi pada lokasi yang tidak menghabiskan banyak waktu perjalanan dari kota Makassar. Sebulan lalu, mengabdi kepada sekolah. Lewat salah satu program mata kuliah kami, PPL, kami belajar untuk menjadi guru yang baik. Secara langsung, berinteraksi dengan murid-murid di SMAN 2 Unggulan Pangkajene,

Nama “unggulan” yang disematkan pada sekolah kalian terkadang membuat ketakutan saya atau mungkin teman-teman lain mencuat. Pasalnya, saya bukan orang terbaik yang tahu banyak hal dan sengaja ditempatkan di sekolah kalian. Karena ketidaktahuan itu, saya berusaha untuk tahu. Belajar lebih banyak hal. Dan seperti yang selalu saya katakan pada kalian, kalau kita tidak bisa menjadi orang cerdas, maka jadilah orang berani. Dan di awal menginjakkan kaki di sekolah kalian, saya telah membulatkan tekad untuk belajar menghimpun keberanian lebih banyak menghadapi kalian dan segala warnanya. 

Ada banyak hal yang terangkum rentang sebulan berinteraksi dengan murid-murid di SMADA. Saya benar-benar merasakan, betapa sulitnya menjadi seorang guru yang baik. Apalagi ketika hingga hari ini saya masih belum lepas dari tanggung jawab saya di dunia kampus. Yang setiap saat harus membagi waktunya dengan kalian. Yang nyaris setiap minggu harus merelakan diri bolak-balik Makassar-Pangkep. Di satu sisi, saya merasa lelah. Namun di sisi lain, saya merasa beruntung. Senyum-senyum kecil itu masih selalu saja menghiasi kepala saya…

Dan salah satu hal yang membuat saya tak pernah lelah mengarungi perjalanan hari itu adalah janji-janji dari dasar hati kalian, untuk belajar. Sejujurnya, kepala saya merasa ringan ketika menyaksikan kalian tersenyum, tertawa satu sama lain. Meskipun tawa-tawa itu ditujukan untuk setiap kebodohan-kebodohan yang saya lakukan. Akan tetapi, saya merasa bangga bisa menjadi seorang Imam Rahmanto yang sebenarnya di hadapan kalian. Untuk kalian, saya tidak pernah mengenal nama “jaim” dalam kehidupan saya. 

Dan teruntuk kalian....

Mm…mungkin secara khusus bagi dua kelas kebanggaan saya, kelas terbaik terlucu, teriuh, tergokil, tercakep, terhebat. Kelas X. Einstein dan Kelas X. Aljabar. Yah, meskipun kalian harus membagi rasa sayang kalian untuk kakak-kakak mahasiswa yang lainnya, yang juga mengajar di kelas kalian. Yang bahkan bisa dikatakan lebih pandai dari saya. Lebih cakep dari saya. Lebih imut dari saya. Lebih terampil dari saya. Akan tetapi, bagi saya, dua tetangga kelas itulah yang selalu saya banggakan, dan mungkin kelak akan menjadi bahan cerita ”abadi”  saya kepada teman-teman lainnya. Saya akan katakan pada, “mereka adalah adik-adik kebanggaan saya…”

Einstein dan Aljabar. Ah ya, perpisahan bukan akhir dari segalanya, bukan? Sejatinya, saya selalu menyimpan memory tentang kalian. Waktu-waktu yang sempat kita habiskan bersama. Saya tidak akan pernah menyesali pernah ditempatkan untuk mengajar kalian. Justru, kalianlah yang mengajar saya. 

Saya banyak belajar. Saya belajar untuk berlaku sabar. Menertawai setiap kesulitan yang saya alami. Saya belajar untuk tidak selalu benar. Sebagai guru yang baik, mengakui kesalahan saya. Saya belajar untuk membangun harapan-harapan itu. Saya belajar untuk merekahkan senyum sendiri di tengah-tengah kelelahan saya. Dan saya belajar untuk tetap memperjuangkan sesuatu... :)

Saya tidak berharap apapun dari kalian. Cukup kalian meneruskan dan memperjuangkan hal yang kalian tulis di secarik kertas kemarin. Tentang impian dan cita-cita kalian. Mungkin saja, kelak kita akan bertemu dalam keadaan telah mencapai impian masing-masing. Dan tentu saja, kita akan mengulang kisah-kisah kenangan yang pernah terjalin di sekolah. 

“Jangan lupakan kami!” kata kalian di sela-sela air mata yang berjatuhan.

Hm…saya tidak akan pernah melupakan kalian. Justru, saya yang merasa cemas kalian akan melupakan hari ini, kemarin, atau dulu. Apa yang ada sekarang hanya menumpang lewat dalam kehidupan kalian. Kalian masih memiliki waktu yang panjang. Dan masih ada banyak hal yang menuntut kalian sesakkan di dalam kepala kalian. Saya cemas, kelak, mungkin saja segala hal tentang saya akan tersingkirkan dan terlupakan. 

Di balik kecemasan itu, tentu saja saya takkan pernah melupakan masa-masa “belajar” saya disini. Sudah saya katakan, bukan? Sejatinya, tak ada yang namanya perpisahan. Kita masih akan tetap bertemu, entah bagaimana caranya.

Sampai jumpa untuk sekolah yang menerima kami dengan kehangatan. Especially, sampai jumpa untuk dua kelas yang menjadi kebanggaan saya. Dua kelas yang selalu siap menerima cerita-cerita “tak menarik” dari saya. Dua kelas yang selalu ramai bagi saya. Dua kelas yang berani mengungkapkan cita-cita dan impiannya pada saya. Perjuangkan itu! 


***

Einstein? Bewohner! Mari kita rapalkan mantranya bersama-sama. Semoga, dalam sebulan ini saya bisa tahu dan mengerti seperti apa kalian.  

Ada Ana si sipit juga (?) Fitrah, yang diam-diam menunggu seseorang, yang digoreskannya lewat tulisan-tulisan rahasianya. Ia juga kadangkala suka tertawa sendiri, heboh sendiri. Irna, yang suka membully gurunya, yaitu saya. Dan lagi, suka dipinjam oleh kelas lain. Mayang, yang selalu tersipu-sipu malu ketika ditatap lama-lama. Dan selalu berharap saya merindukannya. Haha…bisa saja.

Ifa, si kacamata yang agak bijak. Tapi, bijak antusias bagaimanapun dengan kahadiran saya, ia juga biasanya ngantuk di kelas. Lisa, yang pernah menghadiahi saya segantung cappuccino. Terima kasih. Saya tidak akan pernah lupa.

Lilla yang kata teman-temannya agak lambat loading dan baru saja sembuh opnamenya di rumah sakit. Idha yang tak pernah rela namanya diganti Jum, dari asal kata Zoom. Hahaha…dan juga punya kakak yang “malu-malu kucing” untuk diakui diidolakannya. Nama tiga huruf, kan? :P

Novi yang ternyata punya keahlian menyanyi dengan gaya rocker. Sayangnya, kemarin tidak tampil di tengah-tengah acara. Tapi, saya sangat suka dnegan gaya “rocker” itu. Azizah si pandai dan banyak bertanya dan antusias dengan blog saya. Ainun yang masih saja terlalu pendiam bagi saya. Sheila yang semenjak diberi kesempatan memperlihatkan kebolehannya menyanyi, menjadi antusias pula. "Because of You", kalau tak salah ingat yang menjadi tembang andalannya.

Icha, yang juga memperlihatkan kebolehannya menyanyi. Tak pernah saya sangka-sangka, loh. Dan lagi, ia juga punya blog seperti saya. Sayangnya, terbengkalai. Ckckck…Diana, yang juga selalu ingin tahu dan banyak tahu. Ayu, yang menjadi buronan kelas Einstein. Menjadi security kelas. Ia juga yang selalu memilih duduk di depan ketika pelajaran saya berlangsung, meskipun tak mencatat apa-apa.  

Ridha atau bocah, yang agak tomboy. Katanya, pandai karate. Biasanya pula, menjadi pengawal setia Saeful, si ketua kelas. Aslamiyah. Imce, yang ternyata merupakan saudara sepupu teman sekelas kuliah sayaErwin, si lelaki yang selalu mencoba melankolis dan “lebay” dengan aktivitas facebooknya. Abrar, si ahli komputer yang terkadang melucu untuk dirinya sendiri. Fikri, yang selalu di-bully teman-temannya sebagai si tua. Arifin. Reza. Arfandi, yang pendiam tapi baik hatinya. Dan Saeful atau Cipul, ketua kelas, yang menjadi lelaki ter-kalem di kelas. Tapi, kata teman-temannya, ketua kelas paling rajin (kalau disuruh-suruh), dan juga cengeng. :p

Kelas X Einstein, dengan formasi siap bully-nya. Ckckck.... (Foto: Amhy)
Aljabar Alvalor! Bagaimana dengan kalian? Maaf, sudah dua kali saya tak masuk di kelas kalian. Namun, kalian paham sendiri, bukan? Ada tugas-tugas yang tak bisa saya jabarkan sepenuhnya untuk kalian.

Ada Ade, yang selalu menciptakan suara-suara menggelegar melengking di dalam kelas. Ade yang lugu, dengan polosnya bermimpi ingin menjadi Miss World 2013. Tetap berusaha! Sukma atau Mbesh, yang pernah ngambek kepada saya, dan akhirnya menangis. Ia juga diam-diam (malu-malu) suka kepada salah seorang teman KKN saya. 

Ainun, yang merupakan kembaran sekaligus teman sebangku Fia. Fia, yang merupakan kembaran sekaligus teman sebangku Ainun. Namun, mereka berdua berbeda wajahnya ketika mengembangkan senyuman. :)

Ada Syahruni. Gadis, yang baru saja sembuh dari sakit cacarnya. Meskipun imut-imut, ia juga punya pacar yang langgeng hingga sekarang. Citto, si sekretaris yang paling besar, dan terkadang ogah-ogahan belajar. Amelia, yang tak kunjung-kunjung mengerti dengan pelajaran saya, namun tetap semangat belajar.

Hera, yang kata teman-temannya punya suara merdu. Sayangnya, saya belum pernah melihat buktinya. Ia juga yang sering tersipu-sipu malu memerah ketika disamakan dengan Humaira, nama kesayangan untuk istri Rasulullah.

Ana, yang tak rela namanya diganti jadi Asri, meskipun namanya sendiri Asriana. Si Sipit yang selalu akrab dan berwajah riang. Tapi, pernah pula menangis hanya gara-gara membaca cerita saya. Oiya, semoga tak menangis pula membaca tulisan ini ya. :).

Lalu Amalia, teman sebangku Nisa yang agak pendiam di kelas, jarang bertanya, dan jarang ribut, dengan muka kejawa-jawaan. Nisa,si petenis meja perempuan. Perempuan kecil yang suka memasang wajah cemberutnya. Padahal, kalau senyum, akan tampak manis, loh. :) Tapi, ia sangat antusias untuk belajar, dan mengejar ketertinggalannya.  

Azizah, yang suka usil dengan Anca. Kata teman-temannya, ia dekat dengan Anca. Hati-hati loh, lama-lama, benci bisa jadi benih-benih cinta. Hajar, si kecil yang punya tulisan paling indah, kata teman-temannya. Oiya, satu-satunya murid di kelas ini yang menolak untuk saya traktir. Iya kan?

Ulfa, yang selalu cepat tanggap dengan pelajaran yang saya berikan, dan merasa dirinya selalu “manis”. Untuk kali ini, biarkan teman-temanmu menilai, ya... ^_^. Devi. Wulan, yang paling antusias juga dengan pelajaran Matematika, gemar bertanya, dan cepat tanggap. 

Irna. Widya, yang katanya suka mencubit teman-temannya, utamanya Citto. Yaya, si drummer yang paling suka bertanya, meskipun tak kunjung mengerti. Saya salut! Meskipun agak lambat mencerna, tapi berani untuk terus kritis bertanya.

Anca, yang paling dewasa diantara teman-teman lelakinya. Baso, yang kata teman-temannya, matanya mirip boneka Barbie. Eaa.... Maman, si calon peneliti yang selalu tak paham dengan Matematika, dan berusaha termotivasi untuk tahu Matematika. Ia punya cita-cita mengembangkan pertanian Indonesia. Berjuang! Dan Fadel, ketua kelas montok. Kata teman-temannya, paling malas disuruh mengerjakan tugas-tugas sebagai ketua kelas.

Kelas X Aljabar, yang tidak begitu paham aljabar. :p (Foto: Son)

You are SMART, absolutely, We are FAMILY!!!



--Imam Rahmanto--