Senin, 23 September 2013

Sehari Lalu...

Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Dalam catatan Tuhan, semua sudah terencana dengan baik, termasuk kelahiran dan kematian seorang manusia. Setiap kelahiran membawa tawa dan setiap kematian membawa tangis.

Dan hari ini, eh kemarin, adalah hari yang pastinya diwarnai oleh tawa bagi yang memperingati hari lahirnya. Tawa yang semoga tak berkesudahan. Karena kita selalu mengharapkan ada tawa di setiap perjalanan lika-liku kehidupan manusia. Camkan, segala hal selalu punya sisi yang bisa ditertawakan, bahkan untuk diri sendiri. Kamu suka menertawakan diri sendiri, bukan?

Waktu itu melesat bagai tembakan peluru. Tak peduli bagaimana kita melihatnya, ia terus meluncur ke arah ia ditujukan. Terus bergerak maju, tak pernah mundur sekalipun. Menyinkronkan diri dengan waktu yang melekat pada kehidupan kita. Hidup itu perjalanan waktu. Perlahan tapi pasti kita akan mencapai ujungnya.

Tawa-tawa dan senyum-senyum mengejek itu, saya selalu mengingatnya. Saya tidak pernah menyangka pertama kalinya berjumpa dengan seorang perempuan kecil yang ceria, cerewet, dan cengengesan. Haha…ya, pertama kalinya ketika saya merasa asing diantara teman-teman disana, ia menjadi korban ledekan saya. Sudah menjadi kebiasaan saya bercanda dengan teman-teman lain untuk memecah suasana, dalam rapat sekalipun. Saya senang meledeknya, karena senang melihatnya selalu pura-pura merengut . Yang tentu saja dibalas dengan ledekan pada saya. Saya terhibur. Saya tertawa.

Nah, itu kamu yang selalu tak terima dikatakan anak kecil. Hahaha…julukan itu hanya kiasan belaka loh. Bukan bermaksud mengerdilkan kehadiranmu, melainkan menyematkan satu keunikan padamu. Mendewasalah. Saya percaya ketika kau melakukannya. Di dunia ini, tak ada orang yang tak mampu bersikap dewasa. Hanya saja, saya juga percaya, tak selalu perjalanan kehidupan kita harus dilalui dengan sikap-sikap dewasa. Ada masalah-masalah yang perlu diselesaikan oleh sifat kekanak-kanakan.

Ah ya, pertama kali melihatnya, matanya sudah menyiratkan sedikit gurat kesedihan yang dipendam. Menunggu, katanya. Terkadang tawa-tawa yang diperlihatkannya nampak dibuat-buat. Ia ingin mengalihkan dunia dari kesendiriannya.

Kepada kamu yang suka menertawakan kecerobohan-kecerobohanmu sendiri, ingatlah hari dimana kau dilahirkan. Ada banyak doa yang menyertaimu. Peluk dan cium seorang ibu menyemat lingkar tubuhmu. Dan ayah, yang semakin memutar otaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu kelak.

Ya, kepada kamu yang telah merayakan alur kebahagiaannya sehari kemarin. Menyisakan napas-napas bahagia dan sengal semangat untuk menghadapi hari esok. Berdoalah, karena Tuhan Maha Pemurah. Untaian kata oleh orang-orang yang mendoakanmu hari ini, bukan semata basa-basi. Melainkan sebentuk kasih sayang mereka padamu. Kasih sayang itu takkan kunjung habis hanya karena kau memendam segumpal kelam masa silam.

Maaf, saya tak bisa memberikan apa-apa. Saya bukan Doraemon yang punya kantong ajaib untuk memunculkan apa saja. Hanya sebaris doa saja yang bisa saya panjatkan. Doa yang juga biasa-biasa saja, entah akan diijabah Tuhan atau tidak. Saya tidak begitu yakin telah menjalankan segala perintah-Nya dengan benar.

“Tuhan, kabulkanlah doa-doa baik yang terhimpun hari ini untuknya,”

Katamu, masa kelam itu takdir. Tapi bagiku, itu kekonyolan. Menyimpan luka dan membiarkannya bersarang menggerogoti setiap kesepian kita adalah sebenar-benarnya luka. Apa yang terjadi pada kita adalah apa yang selalu kita pikirkan. Kitalah yang menciptakan kesempatan bagi diri kita untuk berubah. Dan kesempatan itu selalu dihadiahkan bagi siapa saja yang ingin menciptakannya.

“Oiya, satu lagi, Tuhan. Mungkin untuk kali ini, biarkan ia menikmati segudang rezeki yang telah kau siapkan untuknya. Semisal segerobak es krim, mungkin,” ^_^.



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar