Minggu, 29 September 2013

K-E-P-O

Sumber: googling
“Aduh, Kepo banget deh, Kak”

Saya terbiasa mendengar ungkapan semacam itu dari murid-murid saya. Dewasa ini, mereka tahu istilah-istilah itu mungkin dari televisi. Sekadar tahu, tanpa tahu penjabarannya. Knowing Every Particularly Object. Alias KEPO. Secara umum, berusaha mengetahui sesuatu secara mendetail, hingga ke bagian-bagian paling kecilnya.

Maaf yah, saya tidak akan berbicara tentang KEPO yang berusaha mengetahui setiap detail akun sosial media seseorang. Istilah kerennya, stalking. Saya lebih mengacu pada tanggung jawab kami sebagai seorang pelaku media kampus.

Nah, pada dasarnya, kami para pewarta memang dituntut untuk KEPO. Wartawan harus banyak tahu. Setiap menjalankan tugas-tugas liputan, adalah penting ketika menggali informasi hingga ke bagian-bagian terkecilnya. Terkadang, tanpa disangka-sangka, dari informasi-informasi kecil akan menguak informasi-informasi besar.

Tak heran, ketika menjalankan proses wawancara terhadap narasumber, kami dianjurkan untuk banyak bertanya. Senjata utama wartawan adalah bertanya. Pertanyaan yang diajukan pun bisa bermacam-macam. Mulai dari pertanyaan yang berat-berat, hingga pertanyaan yang remeh-temeh, semisal, “Anda berasal darimana?”, atau, “Nama lengkap Anda siapa?”

“Ketika bertemu dan bertatap muka dengan narasumber, tinggallah minimal 15 menit bersama narasumber itu. Kalau pertanyaan tentang topik berita habis, ya coba bangun perbincangan lain. Pokoknya usahakan tinggal agak lama dengan narasumber,” hal-hal yang masih melekat di kepala saya yang pernah disampaikan oleh senior saya.

Karena, pada dasarnya, kami para wartawan tidak hanya dituntut untuk mencari berita saja. Akan tetapi, membangun jaringan dan hubungan atau relasi dengan narasumber menjadi hal yang patut diperhitungkan.

“Wartawan memang harus KEPO,” sanggah saya selalu di sela-sela candaan mereka.

Saking KEPO-nya, mungkin segala hal bisa diketahuinya. Hanya saja, tetap ada batasan-batasan yang perlu dijaga dari informasi-informasi yang digali.

Tak jarang, sifat yang ingin-banyak-tahu menjadikan kami orang-orang yang “serba tahu” di redaksi kami. Hahaha…jangankan informasi tentang kampus, bahkan informasi tentang kehidupan pribadi teman-teman lainnya turut menjadi korban “keganasan” kami. Oleh karena itu, ada mitos yang berkembang di redaksi kami,

“Kalau punya pacar dan belum dibawa ke redaksi, maka pacarnya belum lolos uji verifikasi,”

Verifikasi? Yah, verifikasi. Karena keisengan kami sebagai orang-orang yang ingin-banyak-tahu juga ingin tahu siapa orang beruntung yang berhasil menarik hati salah seorang pewarta kampus seperti kami? Oleh karena itu, perlu diuji verifikasi dulu, apakah ia pantas bertahan dengan teman kami itu. Hahaha…harap maklum, kadangkala seorang wartawan tak punya banyak waktu untuk pasangannya.

Pernah suatu kali seorang teman saya, sesama pengelola, sesumbar tentang pacarnya. Menurut kabar, ia baru saja jadian di hari itu. Entah benar atau tidak. Karena penasaran, kami mencari tahu. Tentu saja, facebook menjadi bahan “penyelidikan” pertama kami. Maklum, masa-masa itu adalah pertama kalinya redaksi kami memasang jaringan wifi. Beramai-ramailah kami menjalankan “misi” verifikasi.

Akun ditemukan!! Komentar dilayangkan! Meski hanya sekadar menyapa awalnya, namun kemudian berlanjut dengan beberapa komentar tentang teman kami beserta pasangannya. Bola panas bergulir. Akun teman-teman yang lain pun mulai menimpali. Padahal, kami hanya berjarak dua-tiga meter di depan komputer atau laptop masing-masing. 

“Hei! Dia komen! Mana, biar saya yang komen lagi! Kau lanjut dengan komen ini yaaa.!!... bla…bla..” teman-teman saya bersahut-sahutan (bersemangat) di dalam redaksi.

“Iya! Tapi, kau yang sanggah ya. Saya yang seolah-olah mendukungnya! Oke?”

Haha…hal-hal seperti itu terkadang membuat saya terpingkal-pingkal. Bahkan, saya pun dulu pernah menjadi korbannya, hanya gara-gara menulis status “rindu”. Ckckck….jumlah komentar yang bersusun sampai 280-an.

Imbasnya, teman saya yang baru sehari jadian itu, esok harinya diputuskan oleh pacarnya. Entah gara-gara apa. Mungkin karena perempuan itu tidak tahan berpacaran dengan seorang wartawan yang punya teman-teman dengan rasa penasaran yang teramat tinggi. Kalau sudah seperti itu, ia tidak lulus uji verifikasi. Seorang perempuan yang baik harus senantiasa percaya pada pasangannya, bukan pada perkataan-perkataan orang lain. Teman saya itu lantas hanya bisa tertawa-tawa menyesali tingkah usil teman-temannya, termasuk saya. Hahaha…

Oleh karena itu, berkembang pula mitos di redaksi kami, jangan sekali-kali menyebut-nyebut tentang pacar kepada teman-teman lain di redaksi. Kalaupun diketahui, pasangannya harus benar-benar siap mental melalui uji verifikasi. Hahahaha

Pada dasarnya, di redaksi, kami saling menjaga, kami saling menertawakan kebodohan masing-masing. :D

Wartawan itu mesti KEPO? Bagi saya, selama apa yang ingin diketahuinya adalah hal-hal yang baik dan bukan suatu aib. Privasi orang lain pun, selama kita sudah kenal dekat atau akrab, hal yang lumrah untuk diperbincangkan. Ketika saya ingin dekat dengan orang lain, maka saya pun harus tahu seperti apa orang tersebut. Saya tidak akan pernah tahu cara memperlakukannya ketika saya tidak betul-betul mengenalnya. Nah, hal semacam itu berlaku pula untuk narasumber-narasumber kami.

Di kalangan kami juga berlaku istilah off the record. Artinya, ketika seorang narasumber tidak ingin perkataannya dipublikasikan, off the record, maka kami tidak berhak untuk menuliskannya. Terkecuali untuk hal-hal yang mengancam kemaslahatan orang banyak, apalagi negara. Simple.

“Jadi wartawan itu sulit, Kak?”

Saya menggeleng. Tidak ada yang sulit di dunia ini ketika kita tahu caranya berusaha. Sedikit demi sedikit. ^_^.


*Menulis itu adalah untuk membekukan setiap momen-momen yang kita miliki. Merangkum pengetahuan yang kelak mungkin saja kita akan melupakannya. Dan menenangkan hati yang sedang dirundung kekalutan dari dunia yang sedang dijalaninya.....



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar