Kamis, 05 September 2013

Expecto Patronum!

Expecto patronum! 

Salah satu mantra keajaiban yang dilontarkan oleh tokoh fiksi Harry Potter untuk mengusir Dementor, makhluk penjaga penjara Azkaban yang menghisap keputusasaan manusia. Dari sihir tersebut menjelma seekor kijang bertanduk yang menerjang Dementor. Patronus tiap penyihir berbeda-beda, tergantung dari kepribadian masing-masing yang akan menjelma menjadi karakter-karakter unik hewan tertentu.

Expecto patronum!

Ada Dementor dalam diri saya! Ia menciptakan mimpi-mimpi keputusasaan dalam benak saya. Ia mengambil tiap gambaran kepercayaan saya! Saya ingin mengusirnya!

Untuk beberapa hari ini, saya harus mengorbankan waktu bolak-balik Makassar-Pangkep, lokasi KKN-lokasi kampus. Yah, sudah menjadi konsekuensi yang harus saya pertanggungjawabkan di lembaga pers, tempat saya mengabdikan diri dan menimba ilmu-ilmu jurnalistik. Meskipun, tanpa saya sadari, konsekuensi itu pula yang terkadang membuat saya tak mampu berpikir rasional. Tak bisa mendinginkan kepala. Nyaris meledakkan semua hal-hal yang dikambinghitamkan. Dan butuh sedikit dorongan untuk kembali pada jalur saya…… Mengeluh itu manusiawi, katanya. Selama kita menjaga kuantitas tetap pada batas.

Yah, tentu saja. Segalanya terkadang diperbolehkan selama tetap berada pada jalurnya atau batas-batas yang telah ditentukan.

Ketika Dementor menghisap kenangan dari diri manusia.

Segalanya adalah lahan belajar. Kita bisa belajar apa saja darimana saja. Khususnya di sekolah, tapi bukan pada konteks belajar ilmunya. Seperti halnya ketika saya belajar untuk mengembalikan semangat yang nyaris padam dalam diri saya. Haha…saya senang melihat mereka tertawa. Sekali lagi, tawa itu adalah “virus” menular. Ia menular lebih cepat dari penyakit manapun. Maka ketika ada tawa yang terhimpun dalam kelas mengajar saya, maka tawa itu akan menular mengembangkan tiap inci kulit bibir. Saya berharap, kekecewaan dan beban yang saya pikul dari pekerjaan saya bisa terelaksasi dengan sempurna.

“Ayolah, jangan selalu mengeluh. Orang-orang yang terlalu banyak mengeluh sejatinya tidak bisa menyelesaikan apapun,” ujar saya kepada “murid-murid” saya di sekolah. Kerap kali mereka mengeluh ketika diberikan tugas di akhir pertemuan pembelajaran. Bahkan untuk disodorkan contoh soal Matematika yang “agak sulit” saja mereka pun mengeluh.

Baru rentang beberapa hari saya menganjurkan mereka untuk tidak banyak mengeluh, saya akhirnya harus mendapati diri saya dengan keluhan-keluhan itu.

“Tidak usah banyak mengeluh. Kalau bisa, dikerjakan. Kalau merasa tidak bisa, dicoba dulu,” salah seorang kakak senior saya menegur karena mengeluhkan tugas kerja yang diberikannya.

“Seorang pimpinan yang baik itu, tidak banyak mengeluh. Banyak pekerjaan bukan berarti banyak beban. Selama pekerjaan yang dilakukannya dianggap sebagai tantangan dan dikerjakan dengan senang hati, maka semuanya akan beres,” lanjutnya lagi. Bagaimana caranya saya mengerjakannya dengan senang hati?

Saya merasa kecil ketika tahu diri saya sendiri tenggelam dalam keluhan-keluhan tak berguna itu. Bagaimana tidak, baru beberapa hari yang lalu saya memotivasi adik-adik saya untuk tidak berputus asa, entah bagaimana perihalnya, beberapa hal membuat saya sedikit putus asa. Mungkin, Tuhan ingin memberikan sedikit pelajaran dari sini. :)

Dunia tak selalu buruk. Mendapati diri saya berada di tengah anak-anak remaja bersemangat, lagi-lagi menularkan saya untuk tetap bersemangat. Saya tak peduli ketika mereka meledek sesekali. Pertanda mereka sudah begitu akrabnya dengan saya. Batas antara “orang asing – pribumi” sudah tak nampak lagi diantara kami. Bagi saya, menjalani kelas dengan suasana ceria seperti itu lebih baik dibandingkan harus diam, diam, dan diam. Tapi bukan ceria dengan ribut akan hal-hal di luar pelajaran. 

Expexto patronum!

Saya ingin menciptakan lagi keajaiban-keajaiban seperti itu. Sedikit mempelajari sihir Patronus milik Harry Potter untuk mengusir Dementor. Saya masih belum tahu, karakter hewan seperti apa yang akan menjelma menerjang keputusasaan dalam benak saya. Mungkin, seekor Phoenix…. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar